Thursday, September 13, 2018

Yuk Kita Gagal !

Jack Ma pernah berkata "Aset yang paling berharga adalah usia, sebelum 30 tahun lakukan kesalahan sebanyak mungkin, dan belajar darinya" Istilahnya seperti menghabiskan jatah gagal. Mirip Kang Edison mengabiskan 1500 kali jatah gagalnya sebelum menemukan lampu pijar yang mengubah dunia.

Banyak kegagalan yang saya alami, kegagalan cinta tidak usah dihitung 😅.
Kegagalan yang paling keren ketika awal main Bitcoin. Modal 500 rb, dalam 3 hari hilang setengahnya. Gegara salah manajemen risiko.

Belajar analisis teknikal, akhirnya tahu celah mendapatkan rupiah dari Bitcoin.
Dari keuntungan selama itu bisa membiayai kuliah S2 dari uang sendiri. Sampai semester 3 kurang lebih menghabiskan 25-30 juta deh ini kuliah 😅 .

Dan sekarang tampaknya saya mendapatkan jatah gagal lagi. Seminggu lalu kompak 3 instrumen investasi (Saham, Bitcoin, Reksadana) saya jatuh sejatuh-jatuhnya 😅. Hingga uangnya sekadar cukup untuk membiayai kuliah sampai lulus saja. Padahal dulu cukuplah untuk biaya nikah 🤣🤣

Nampaknya harus belajar lagi, jadilah saya mengikuti berbagai acara yang berhubungan dengan dunia saham, Bitcoin dll.

Saya terjun ke dunia Fintech (Finansial Teknologi) karena tahu kalau sepenuhnya jadi pendidik, apalagi guru honorer. Gajinya Horor, pertama kali jadi guru cuma digaji 60 rb/ bulan 🤣 .

Kalau gitu terus kasihan istri nanti nggak bisa beli lipstik 😅.
Berjuang dan belajar di dunia baru ini, gagal, bangun lagi.

Cita-cita saya di dunia Fintech sederhana, bisa ngajak isteri jalan-jalan keliling Indonesia, bisa menyekolahkan anak lebih tinggi dari bapaknya, puas ibadah tanpa memikirkan besok bisa makan atau tidak.

Sekarang bukan gagal, tetapi sedang belajar.

Intinya berada di bidang apapun teman-teman lakukan yang terbaik, jangan takut gagal karena pasti gagal. Seninya bangkit dari kegagalan itu.

Wednesday, August 22, 2018

Belajar Dari Kisah

Sejarah selalu memberi pelajaran paling bermakna. Belajar dari pria paling ikhlas, Nabi Ibrahim. Dia rela melepas anak tercinta, demi patuh kepada perintah Pencipta.

Bercermin dari hal itu seharusnya kita bisa tegar melihat orang yang didamba berganti genggaman, melihat mantan nikah duluan, memiliki mimpi yang dikandaskan.

Cukup merenung sebentar, lalu melangkah dengan tegar. Life must go on. Patah, kecewa dan berbagai hal menyedihkan lainnya tak ubahnya seperti obat, pahit memang tapi dengan kepahitan membentuk diri lebih tegar dari sebelumnya.

Menjadi pribadi yang siap dengan segala kejutan yang sudah Tuhan persiapan.

Saturday, August 11, 2018

Seminggu tanpa suara

Sudah 7 hari badan ini berbaring, hanya bisa merasakan demam, sulit makan dan minum, dan yang paling menyiksa tak bisa bersuara.

Amandel saya membengkak hingga menutupi tenggorokan, untuk makan satu sendok nasi butuh perjuangan ekstra keras. Sakit luarbiasa ketika menelan, sudah tertelan malah termuntahkan, di saat muntah itupun sakit.
Prestasi terbaik dalam urusan makan hanya 2 sendok bubur dan setengah gelas air putih saja.

Bukan itu poin paling menyiksa, tak bisa bersuara menjadi hal menakutkan. Meski saya tidak termasuk bawel tetapi tak enak juga kalau tidak berkomunikasi. Salam hebat untuk teman-teman tunawicara, sibuk berkerja dalam diam.

Mungkin sama menyiksanya ketika dikekang untuk tidak menyuarakan pendapat.
Sekarang memang sudah lebih baikan, makannya bisa mengetik status facebook. Sudah bisa bicara hanya masih terbata-bata.

Banyak hal yang saya ambil ketika hening tanpa suara, semakin hanya bicara maka semakin besar kemungkinan kita untuk salah.

Saya anggap hal ini ujian atau bahkan teguran untuk setiap tulisan dan ujaran saya yang tidak keliru.

Thursday, July 5, 2018

Bosan Tinggal Di Jepang

Perjuangan Jepang yang hampir mengalahkan Belgia, sang favorit juara dunia patut diapresiasi. Sekalipun menyandang status underdog, Jepang sekuat tenaga menghantam Belgia dan tercipta dua gol untuk Jepang, namun bukan favorit juara jika tak mampu membalikan keadaan, akhirnya Belgia unggul 3-2.

Saya tidak akan menulis lebih lanjut tentang sepak bola, nonton juga jarang. Lebih sering lihat ulasannya di Youtube. Maklum anak baik pukul 9 malam sudah bobok.

Berbicara Jepang seolah identik dengan kata "Kerja keras". Saya rasa Jepang terpaksa bekerja keras karena hanya memiliki "Ikan" ditambah momen luluh lantah terkena bom atom menambah alasan mereka.

Di Kampung Inggris, Kediri. Saya punya teman se-asrama yang berasal dari Jepang. Dengan keterbatasan Vocabulary diri ini mencoba menggali tentang Negeri Sakura dari warganya sendiri. Kebetulan saya dengan Mr Cha-cha ( Kok dari Jepang namanya Cha-cha ? mungkin ibunya suka lagu Cha-cha Handika dulu ) dia punya istri orang Bandung, dan Mr Cha-cha ingin bisa belajar bahasa Sunda. Lucu saja membayangkan dia melafalkan kata "Peuyeum".

Kami mengobrol banyak hal dari mulai anime, drama Korea hingga berujung curhatannya tentang ingin kerja di Indonesia. Saya menangkap rasa bosan kerja dan tinggal di Jepang dari pembicaraan panjang kami. Alasannya cukup unik " For a vacation in japan is good but to live and work not" atau jika diterjemahkan ke basa Sunda " Mun keur liburan di Jepang ngeunah. Keur cicing jeung gawe mah henteu".

Dia mengutarakan ingin bekerja di Indonesia, tetapi tak ada pekerjaan yang cocok karena kemampuannya sangat spesifik. Tidak ada pekerjaan serupa di Indonesia. Di akhir percakapan dia berujar bahwa tiga hari ke depan harus kembali ke Jepang. Saya pikir Jepang - Indonesia seperti Bandung-Cimahi yang dengan mudahnya pulang dan pergi.

Di akhir saya meminta foto bareng untuk kenangan dan berharap bertemu Mr Cha-cha di Bandung.


Saya berkata "Mr. cha-cha should try seblak ceker bandung" dia tertawa, entah karena bahasa Inggris saya kacau atau karena dia bingung seblak itu apa.

Sunday, July 1, 2018

Train to Kampung Inggris

Sekilas judul tulisan ini seperti film Korea yang mengisahkan tentang zombie di kereta yang lambat laun menginfeksi seluruh penumpang, tenang saja ini bukan tentang zombie, tetapi tentang jomblo. Eh bukan juga deh.

Tulisan ini tentang perjalanan ke Kampung Inggris yang terletak di Pare, Kediri, Jawa timur.
"Tahukan Kampung Inggris ?" Ituloh sebuah daerah di Kediri yang terdapat banyak sekali tempat kursusan bahasa Inggris.
"Loh kenapa belajar bahasa Inggris mesti ke Kampung Inggris ?" Ini akan terjawab di tulisan terpisah.

Perjalanan saya ke Kampung Inggris sebenarnya sangat terjangkau. Kebetulan rumah saya terletak di ujung kabupaten Bandung barat sehingga memerlukan effort lebih. Pertama harus naik angkot ke stasiun Padalarang, bayar 7 rb. Kedua naik kereta KRD dari Padalarang ke Kiaracondong bayar 7 rb juga. Ketiga dari Kiaracondong naik kereta Kahuripan. "Kenapa memilih kereta Kahuripan ?" Karena yang paling murah hanya 92 rb (Sudah termasuk PPN) bisa sampai stasiun Kediri, tetapi syaratnya harus pesan dari jauh-jauh hari. Wajarlah banyak orang yang memburu kereta ini. Kalau kehabisan bisa naik kereta Malabar dengan konsekuensi 2 atau 3 kali lebih mahal. Perjalanannya tetap sama memakan waktu 14 jam.

Sesampainya di stasiun Kediri, perjalanan belum usai masih harus menempuh 1 jam perjalanan. Saran saja sih pesan gojeg atau grab saja. Mereka sudah familiar kok dengan Kampung Inggris. Jika sudah melihat banyak papan kursusan dan lalu lalang sepeda berarti sudah memasuki wilayah Kampung Inggris.

Setelah sampai di sana bisa mencari tempat kursus yang sesuai, tapi amannya sih booking dulu tempat. "Caranya ?" Goggle aja gampang kok. Hal terpenting rata-rata kursusan di Kampung Inggris itu membuka pendaftaran di dua periode setiap tanggal 10 dan 25 setiap bulannya.

Soal makanan jangan khawatir, hanya dengan 30 rb/ hari sudah bisa makan nasi padang 3 kali sehari 🤣🤣. Hal itu sangat mustahil dilakukan di Bandung.

Lalu hal apa saja yang menarik di Kampung Inggris ? dilanjut di tulisan berikutnya deh, karena saya punya banyak PR. Duh di sini saya seperti anak SMA setiap hari masuk kelas dan mesti mengerjakan PR, bedanya 24 mesti pakai bahasa Inggris. Pegal ini rahang.

Catatan :Foto digunakan untuk mempermanis.

Saturday, June 9, 2018

Doa Mamah Itu Hebat

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebenarnya ingin mengajukan diri sebagai anak bungsu, tetapi mamah menolak mentah-mentah. Tentu, sebagai anak pertama harus menjadi role model bagi adik-adiknya. Bukan model yang berjalan di cat walk, badan saya di atas standar.

Berbicara adik, adik pertama baru semester 2. Adik kedua baru masuk SMP tahun ini. Sekalipun saudara sifat kami sangat berbeda. Saya cenderung panik ketika dihadapkan pada masalah, adik pertama lebih slow bahkan ketika pengumuman UN, dia tidak datang karena sedang naik gunung. Nggak ada tegang-tegangnya dia, padahal kakaknya sampai susah tidur menjelang pengumuman UN. Adik kedua seperti bungsu pada umumnya, dia lebih manja. Itulah alasan kenapa saya ingin jadi anak bungsu agar bisa disuapin mamah.


Biarpun terlahir dengan sifat berbeda, ada satu persamaan terutama dengan adik pertama. Kami sama-sama terbiasa dengan getirnya kehidupan. Waktu kecil sering sekali makan hanya dengan garam yang diulek dengan cabai, istilah Sundanya sambal goang. Kalau ingin jajan terkadang harus memungut cengkih lalu dijual. Pokoknya tak beda jauh dengan cerita anak pinggiran.

Waktu melesat hebat hingga saat ini saya dan dia memiliki status sama sebagai mahasiswa. Dulu tak pernah berpikir bisa kuliah. Bisa lanjut SMA juga sudah berasa mimpi. Meski bapak seorang PNS tapi karena berbagai hal untuk biaya sehari-hari saja terasa sulit.

Saat itu vitamin satu-satunya untuk optimis terhadap kehidupan adalah doa dari mamah. Saat momen terpedih menerpa saya, kandas kuliah di PTN karena masalah UKT (Uang Kuliah Tunggal) sempat mengajukan keringanan tapi terkendala status bapak yang PNS, mungkin karena dinilai mampu, nyatanya jauh.

Akhirnya saya kerja di proyek, pergi tengah malam dan pulang subuh. Sangat ingat gaji pertama dibelikan LKS untuk adik. Entah kenapa saat itu mamah berkata "Semoga kalian bisa dapat uang dari HP," Kala itu belum mengerti maksudnya. Semacam jualan pulsa kali dapat uang dari HP.

Tiga tahun dari itu terbukti. Adik pertama bisa mendapatkan uang dengan nominal luarbiasa hanya dari HP. Di umur belasan sudah bisa beli laptop, kamera DSLR, HP Samsung S8+ dan membiayai kuliah sendiri, eh dia juga punya tabungan dengan nominal keren untuk anak seumurnya. Aku pun belajar "nyari" uang dari HP dan ternyata lumayan bisa buat biaya S2 meski tidak sekeren dia.

Berkat perantara doa mamah setidaknya sudah jarang makan dengan sambal goang. Tidak perlu memungut cengkih untuk dapatkan rupiah lagi, tinggal gerakan HP dan tentu didukung doa mamah, InsyaAllah bisa jajan Richese dan KFC mah. Kita harus berjuang yah adik-adikku, Minimal tidak meminta uang jajan dari mamah.

Sejatinya hidup adalah potongan kisah, ini baru potongan kedua. Semoga kelak ending kami bahagia sehingga mampu menciptakan senyum orangtua.

Saturday, June 2, 2018

Anak Rumahan Keliling Pulau Jawa

Saya tipe anak rumahan yang bisa berdiam di kamar selama tiga bulan tanpa keluar rumah, entah itu sebuah prestasi atau aib.

Sejak bisa menghasilkan uang dari rumah, malas ke "jalan" ditambah kalau naik mobil suka mabokan. Makin memperkuat alasan deh.

Titik tolaknya perubahannya terjadi ketika mendapatkan undangan untuk kumpul bersama komunitas One Day One Post di Yogya.


Saya berangkat sendirian dan hasilnya seru banget dan jadi ketagihan. Walhasil saya memutuskan akhir bulan ini mencoba keliling Pulau Jawa selama sebulan, sembari kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Segala hal dari tiket, biaya kursus dan hotel sudah dipesan. Satu lagi sempat terlewat koper. Kenapa bawa koper ? Sebenarnya agar terlihat seperti Rangga (AADC)


Keren sekali ketika Rangga bertemu cinta sembari membawa koper. Alasan kedua agar bisa menampung baju banyak. Belajar dari pengalaman waktu ke Yogya dan Solo hanya membawa 2 batik, 1 jaket, dan 1 celana hasilnya baju bau dan gatal. Sungguh tidak keren kalau bau.

Sebenarnya perjalanan nanti adalah sebuah pelajaran. Belajar dari orang-orang baru, belajar dari alam.

Bagi sebagian orang perjalanan keliling Pulau Jawa adalah hal biasa, tetapi bagi anak rumahan seperti saya hal ini adalah sebuah langkah besar, sebelum melakukan perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sejatinya kehidupan adalah sebuah perjalanan. Perjalanan dihiasi dengan pengalaman.