Thursday, July 26, 2012

"Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan"


 
Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan kepadaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan kepadaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris, kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Dia pelan-pelan melanjutkan: Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Selama hidupnya, dia tetap dapat melewati kehidupan yang diinginkannya dengan tenang, dia juga tidak belajar hal tidak baik, sebagai orangtua yang memberikan keteladanan sikap dan tutur kata, jika dapat mengasuh anak sampai dewasa dan menjadi orang berguna dalam masyarakat, itu sudah cukup sebagai hal yang menghibur bagi leluhur, kenapa kita masih saja mengharapkan masa depan yang lebih baik lagi? Jika pun nantinya dia bisa menjadi seorang penegak hukum atau seorang arsitek, kalau tidak memiliki niat baik, lain di mulut lain di hati, lalu apa gunanya?

Sumber: Internet

Wednesday, July 25, 2012

10 Kisah Cinta Paling Indah Dalam Islam





1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra


Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”


2. Umar bin Abdul Aziz



Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,"

Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, "Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!"


3. Abdurrahman ibn Abu Bakar


Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.

Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya

Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.


4. Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid


Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa: Rasulullah Saw. Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.

Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar."

Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, "Masih adakah orang lain setelah Khadijah?"

Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw. kepada Khadijah. Subhanallah.





5. Rasulullah Saw. dan Aisyah


Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.

Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.

Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”

Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.


6. Thalhah ibn ‘Ubaidillah


Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

Subhanallah. Mantab.


7. Kisah cinta yang membawa surga


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata, "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'.

Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan.

Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.'

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.'

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo'akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"

Dia menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan."

Pemuda itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."

Pemuda itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."

Si pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar.


8. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah


Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,

"Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?"

"Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah.

"Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas.

"Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" tanya Abu Thalhah.

"Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu Sulaim.

Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya."

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya."

Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.


9. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel


Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Dictengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata "Astagfirullah"

Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini".

Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.

"Assalamualaikum...."

"Waalaikumsalam wr.wb.". Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.

Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai.

"Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua". tanya pemuda itu.

Lalu pak tua itu menjawab. "Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?"

Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan."Baiklah pak, saya mau."

Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.

"Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?"

Pak tua itu diam sejenak. "Belum."

Pemuda itu terhenyak. "Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu."

"Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi."

"Apa itu pak tua?"

"Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?"

"Ya, aku mau." jawab pemuda itu.

Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. "Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?"

Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak...dia akan menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.

"Baiklah pak, aku mau."

Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.

"Ayahanda...siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?"

Pak tua itu tersenyum dan menjawab. "Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu."

Pemuda itu tampak bingung. "Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?

Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?"

Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. "Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat."

Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: "Subhanallah....."

Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.


10. Zulaikha dan Yusuf As. 


Cinta Zulaikha kepada Yusuf As. konon begitu dalam hingga Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Swt. Berikut sedikit ulasan tentang cinta mereka

Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.

Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.

Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya.”

Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.

Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan.

Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya: "Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia."

Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf a.s. Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?”

Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?”

Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkimpoian itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.

Monday, July 23, 2012

9 Anak-anak IBLIS


9 Anak-anak IBLIS

Sebagian ulama mengatakan, Iblis mempunyai sembilan anak dengan tugas yang berbeda-beda di dalam menjerumuskan manusia ke neraka. Kesembilan anak ini terus berkembangbiak dan tidak pernah mati hingga hari akhirat.

1. Khonzab
Khonzab adalah anak Iblis yang bertugas mengganggu shalat manusia, seperti meniupkan rasa waswas saat niat shalat. Diriwayatkan dari Utsman bin Al-Ash رضي الله عنه, beliau berkata; "Wahai Rasulullah, setan telah menghalang-halangi antara shalat dan bacaanku. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

ذَلِكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ إذَا حَسَسْته فَتَعَوَّذْ بِاَللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِك ثَلَاثًا 

Artinya : "Dia adalah setan yang bernama Khonzab. Jika kamu merasakan kehadirannya, maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah kekiri tiga kali"

2. Walhan
Walhan bertugas mengganggu manusia saat melakukan thaharah, seperti wudlu dan mandi, hingga kadang seseorang berlebihan menggunakan air saat bersuci. Rasulullah bersabda :

إنَّ لِلْوُضُوءِ شَيْطَانًا , يُقَالُ لَهُ وَلْهَانُ , فَاتَّقُوا وَسْوَاسَ الْمَاءِ

Artinya : "Sesungguhnya dalam wudlu ada setan yang bernama Walhan. takutlah kalian akan waswas dalam menggunakan air".

3. Zallanbur
Anak Iblis ini bertugas di pasar. Ia mengelabui para penjual untuk melakukan kecurangan dan sumpah palsu. Merayu mereka agar berlebihan dalam memuji barang dagangan, dan mengurangi takaran dan timbangan

4. Al-A'war
Al-A'war adalah setan zina. Ia meniup kemaluan laki-laki dan perempuan untuk melakukan zina. Na'udzubillah

5. Al-Wasnan
Ini setan yang menemani manusia saat tidur. Ia duduk kepala, agar manusia merasakan berat pada kepalanya hingga malas untuk bangun tidur, meniup mata agar tetap terpejam, padahal waktu shalat telah tiba.

6. Tabr
Anak Iblis ini melaksanakan tugasnya saat manusia tertimpa musibah. Ia rayu shohibul musibah untuk merintih-rintih, tidak rela akan takdir Allah. Mendorongnya melakukan sesuatu yang diharamkan, seperti membanting, memukul bahkan bunuh diri.

7. Dasim
Ini nama setan makanan. Ia makan bersama manusia yang tidak membaca bismillah saat mau makan, menghuni rumah, masuk ke dalam pakaian yang tidak dilipat, tidur di atas tempat tidur, menemani saat bersetubuh dan membuat gara-gara agar terjadi pertengkaran dan bahkan perceraian dalam rumah tangga.

8. Mathwun
Ia bertugas memberikan kabar-kabar bohong, dan memunculkan sifat adu domba di antara manusia.

9. Al-Abyadl
Ini dia setan yang paling sakti, dan paling cerdik. Ia menggoda para nabi, rasul, dan para wali. Untuk Nabi dan Rasul atas pertolongan Allah, sudah tentu bebas dari godaannya. Maka setan Al-Abyadl ini menfokuskan diri dan berusaha sekuat tenaga untuk menggoda para wali agar tergelincir dari jalan yang benar.

رب أعوذ بك من همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يحضرون

Saturday, July 21, 2012

Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW ( 2 )


Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW

Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW

Terjemahan sebuah Hadits Rosul,  Foto: Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW

Terjemahan sebuah Hadits Rosul, 

<3 cendy <3 | Jika anda belum pernah membacanya, bacalah dengan cermat dan renungkan.
Jika anda pernah membacanya, bacalah kembali, fahami maknanya dan amalkan.

Sebuah Hadits Rosul yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal R.A dari Ibnu Abbas R.A keduanya berkata : ”Kami bersama Rosulullah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshor (di Madinah) dimana para sahabat sedang berkumpul di rumah tersebut.

“Ketika kami sedang bersama Rosulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba–tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah:

“Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk..? Sebab kalian akan membutuhkanku. “

Rosululloh bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?”

Kami menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”

Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”

Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rosulullah”

Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah SWT memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu para hadirin…”

Rasululloh SAW lalu menjawab: Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”

Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”

” Siapa yang memaksamu?”

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis

Rasululloh SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”

Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.“

“Siapa selanjutnya?”

“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“lalu siapa lagi?”

“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”

“Lalu siapa lagi?”

“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”

“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.“

Tanda Orang Sabar

“Apa tanda kesabarannya?”

“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”

” Selanjutnya apa?”

“Orang kaya yang bersyukur.“

Tanda Orang Syukur

“Apa tanda kesyukurannya?”

“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.“

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”

“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khottob?”

“Demi Alloh setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”

“Usman bin Affan?”

“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

“Ali bin Abi Tholib?”

“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak sholat?”

“aku merasa panas dingin dan gemetar.”

“Kenapa?”

“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Alloh, Alloh mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”

“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”

“Jika ia berhaji?”

“Aku seperti orang gila.”

“Jika ia membaca al-Quran?”

“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”

“Jika ia bersedekah?”

“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”

“Suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”

“Taubat orang yang bertaubat.”

“Apa yang dapat membakar hatimu?”

“Istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”

“Sedekah yang diam–diam.”

“Apa yang dapat menusuk matamu?”

“Shalat fajar.”

“Apa yang dapat memukul kepalamu?”

“Shalat berjamaah.”

“Apa yang paling mengganggumu?”

“Majelis para ulama.”

“Bagaimana cara makanmu?”

“Dengan tangan kiri dan jariku.”

“Dimanakah kau menaungi anak–anakmu di musim panas?”

“Di bawah kuku manusia.”

Bersambung..........Next Post

Jika menurut anda Hadits di atas cukup bermakna, bagikan kepada orang-orang yang cintai dan orang-orang yang anda kenal.

 Jika anda belum pernah membacanya, bacalah dengan cermat dan renungkan.
Jika anda pernah membacanya, bacalah kembali, fahami maknanya dan amalkan.

Sebuah Hadits Rosul yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal R.A dari Ibnu Abbas R.A keduanya berkata : ”Kami bersama Rosulullah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshor (di Madinah) dimana para sahabat sedang berkumpul di rumah tersebut.

“Ketika kami sedang bersama Rosulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba–tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah:

“Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk..? Sebab kalian akan membutuhkanku. “

Rosululloh bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?”

Kami menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”

Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”

Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rosulullah”

Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah SWT memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu para hadirin…”

Rasululloh SAW lalu menjawab: Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”

Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”

” Siapa yang memaksamu?”

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis

Rasululloh SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”

Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.“

“Siapa selanjutnya?”

“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“lalu siapa lagi?”

“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”

“Lalu siapa lagi?”

“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”

“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.“

Tanda Orang Sabar

“Apa tanda kesabarannya?”

“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”

” Selanjutnya apa?”

“Orang kaya yang bersyukur.“

Tanda Orang Syukur

“Apa tanda kesyukurannya?”

“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.“

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”

“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khottob?”

“Demi Alloh setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”

“Usman bin Affan?”

“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

“Ali bin Abi Tholib?”

“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak sholat?”

“aku merasa panas dingin dan gemetar.”

“Kenapa?”

“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Alloh, Alloh mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”

“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”

“Jika ia berhaji?”

“Aku seperti orang gila.”

“Jika ia membaca al-Quran?”

“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”

“Jika ia bersedekah?”

“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”

“Suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”

“Taubat orang yang bertaubat.”

“Apa yang dapat membakar hatimu?”

“Istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”

“Sedekah yang diam–diam.”

“Apa yang dapat menusuk matamu?”

“Shalat fajar.”

“Apa yang dapat memukul kepalamu?”

“Shalat berjamaah.”

“Apa yang paling mengganggumu?”

“Majelis para ulama.”

“Bagaimana cara makanmu?”

“Dengan tangan kiri dan jariku.”

“Dimanakah kau menaungi anak–anakmu di musim panas?”

“Di bawah kuku manusia.”

Bersambung..........Next Post

Jika menurut anda Hadits di atas cukup bermakna, bagikan kepada orang-orang yang cintai dan orang-orang yang anda kenal.

MENCARI SEBUAH MASJID

MENCARI SEBUAH MASJID
Oleh Taufiq Ismail

Aku diberitahu tentang sebuah masjid,
yang tiang-tiangnya dari pepohon di hutan, fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat bersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang,
berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan,
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Qur’an dengan warna platina dan keemasan
bentuk daun-daunan sangat teratur serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas berjalin bergaris-garis gambar putaran angin
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon dan menyeru azan tak habis-habisnya membuat lingkaran mengikat pinggang dunia kemudian nadanya yang
lepas-lepas disulam malaikat jadi renda benang emas yang memperindah ratusan juta sajadah di setiap rumah tempatnya singgah
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang letaknya dimana bila waktu azan lohor engkau masuk kedalamnya
engkau berjalan sampai waktu ashar, tak kan capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini yang besar luar biasa
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan disisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya, di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari, kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk
beraturan ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta terletak disebelah menyebelah masjid kita
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama dan
bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan
namun tanpa pertikaian dan kalaupun ada pertikaian bisalah diuraikan dalam simpul
persaudaraan sejati dalam hangat sajadah yang itu juga terbentang
di sebuah masjid yang sama
Tumpas aku dalam rindu. Mengembara mencarinya
Dimanakah dia gerangan letaknya?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika dipuncak tergelincir sempat lewat seperempat kwadran turun ke barat dan
terdengar merdunya azan di pegunungan, dan akupun melayangkan pandangan
mencari masjid itu kekiri dan kekanan, ketika seorang tak kukenal membawa sebuah
gulungan, dia berkata “Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”
dia menunjuk tanah ladang itu dan di atas lahan pertanian dia bentangkan secarik
tikar pandan kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir teraturan, tanpa kata dia berwudlu duluan.
Akupun di bawah air itu menampungkan tangan, ketika kuusap mukaku,
kali ketiga secara perlahan, hangat air yang terasa bukan dingin
Kiranya demikianlah air pancuran bercampur dengan air mataku yang bercucuran.

Kumpulan Kata Kata Mutiara edisi Ramadhan

Kumpulan Kata Kata Mutiara edisi Ramadhan. 


Marhaban ya Ramadhan.. Bulan suci ramadhan sudah di depan mata. Sebentar lagi kita bertemu dengan bulan suci Ramadhan yang penuh kemulyaan. Ku persiapkan hati untuk bulan yang Engkau Agungkan ini Ya Allah. Marhaban ya Ramadhan..

Buat semua sahabatku, teman temanku dan saudara saudaraku, Mohon dibukakan pintu maaf atas semua kesalahanku, disengaja ataupun tidak. Marhaban ya ramadhan, Mohon maaf lahir batin.

Tak ada kata seindah zikir, Tak ada bulan seindah Ramadhan, Ijinkan kedua tangan bersimpuh maaf untuk lisan yg tak terjaga janji yg terabaikan, hati yang slalu berprasangka dan sikap yang pernah menyakitkan. Maaf lahir batin. Slamat menunaikan ibadah puasa 

Sebentar lagi bulan Ramadhan kan tiba.... Ya Allah... Aku lebih merindukan bulan suci ramadhan di banding kerinduanku kepada seorang kekasih. Ampunilah semua dosa hamba dan semoga ramadhan 1433 H tahun ini merupakan ramadhan yang penuh rahmat untuk bekal ketaqwaan hamba ke pada Engkau di kemudian hari

setitik tinta jadi noda, salah setitik jadi dosa, bulan penuh berkah segera tiba, mari tekun ibadah di bulan puasa marhaban ya ramadhan, sambutlah dengan senyuman yang penuh ikhlas 

Andai semua HARTA adalah RACUN, maka ZAKATlah penawarnya. Jika seluruh UMUR adalah DOSA maka TAQWA TOBAT obatnya, jika semua BULAN adalah NODA maka RAMADHAN adalah pembersihnya, marhaban ya ramadhan.

Assalamualaikum Wr.. Buka hati, dapat CINTA buka fikiran, dapat ILMU buka mata, cari Rizki buka Handphone, ada pesan diterima "selamat menjalankan ibadah puasa, wish Allah give U the Best lives. I Pray N Mohon dimaafin segala kesalahan.. " 

11 bulan sudah berlalu.. aku sangat rindu kepadamu.. kini aku kembali berjumpa denganmu ya ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan 

Dalam kesakitan teruji kesabaran Dalam perjuangan teruji keikhlasan Dalam ukhuwah teruji ketulusan Dalam tawakkal teruji keyakinan Hidup ini amat indah jika Allah menjadi tujuan Selamat menunaikan ibadah Ramadhan 

Ya Allah, muliakan dan sayangilah saudaraku ini, bahagiakan keluarganya, berkahi rizkinya, kuatkan imannya. Berikanlah kenikmatan ibadahnya, jauhkan dari segala fitnah. amiin. mohon maaf lahir dan batin 

Ya Allah Ya Robb,puji syukur telah memberikan kesempatan pada hambamu ini untuk bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan tahun ini. Mudah mudahan hamba bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Tiada kemenangan tanpa zikrullah tiada amal tanpa keikhlasan tiada ampunan tanpa maaf dari sesama marhaban ya ramadhan.. 

Marhaban yang ramadhan.. Bln suci kembali tiba.. saat tepat menyucikan diri dari segala dosa.. tanpa basa basi mhn dimaafkan segala kesalahan Ane ..

Demikian kumpulan kata mutiara ramadhan yang bisa kami berikan kepada pengunjung blog ini. semoga memberikan manfaat dan makna yang mendalam dalam menyambut bulan suci ramadhan tahun ini. Oh iya kata kata mutiara edisi ramadhan diatas bisa juga dikirim sebagaiSMS ucapan ramadhan.
SOURCE :http://rasnix.blogspot.com

Menyambut Ramadhan


Rindu itu begitu menusuk-nusuk kalbuku karena hampir setahun nggak pulang, ketika di bis menuju perjalanan pulang ada sesuatu yang aneh menjalari hatiku. Menjalar pelan seiring laju bis, semakin mendekat kota tujuanku semakin kuat perasaan aneh itu mengalir. Entah, pulang selalu membawa sejuta warna bagi hatiku. Senyum ibu, wajah ayah, tergambar jelas di depanku. Rasanya kangen sekali, mungkin rasa kangen itu yang menimbulkan rasa aneh di hatiku. Aneh tapi rasanya nyaman. Karena kesibukan kuliah dan kerja membuatku menunda kepulanganku. Menunggu momen pas dan longgarnya waktuku. Dan sekarang disaat Ramadhan menjelang, sengaja aku mengambil cuti seminggu dan kebetulan kuliahku selesai ujian. Kesempatan emas tak kusia-siakan. Rasanya lama sekali tak melahap pepes ikan mas bikinan ibu, ditambah sayur asem, dan tempe goreng plus sambel terasi. Uih…nggak terasa aku menelan air liurku. Rasanya kangen ini telah membuncah…!
Tak terasa bus sudah dekat dengan terminal Tulungagung. Aku harus turun untuk berganti bus, karena bus eksekutif yang kutumpangi hanya berakhir di terminal ini. Sementara untuk menuju kampung halamanku di Kamulan, Trenggalek aku harus berganti bus. Untungnya rumahku dipinggir jalan jadi begitu turun dari bus langsung depan rumah. Ah..sebentar lagi rasa penat selama perjalanan dari Jakarta mulai kemaren sore rasanya akan segera tergantikan lunasnya rasa rindu ini.
Kemaren aku sudah menelepon ibu, pasti mereka sudah menunggu kehadiranku. Aku bangkit dari tempat dudukku untuk turun. Rumahku sudah di depan mata
“Warung pojok depan, berhenti pak!” abaku pada sopir. Sekilas kulihat ibu sedang duduk  diteras. Dengan setengah meloncat aku turun sambil menggendong ranselku dan tas plastik besar berisi oleh-oleh buat ibu dan bapak.
“Aduh, Le, akhirnya kamu sampai juga!,” setengah menjerit ibu menyambut kedatanganku. Kupeluk tubuh yang mulai renta termakan usia, namun masih terlihat sehat. Kulepaskan beban rindu yang menggelayuti jiwaku selama ini. “Ah ibu engkau memang muara cintaku.”, desah batinku. Kulihat ada air bening mengaliri pipi yang mulai keriput itu.
“Ayo masuk udah ditunggu sarapan bapakmu itu lho!” kata ibu sambil mengusap air matanya.
“Wah, Cah Nggantheng sudah datang, Ayo Le, sini makan sekalian, sudah laper dari tadi nungguin kamu.” kata Bapak. Kuraih tangan Bapak yang mulai keriput digilas masa dan kucium penuh takzim. Sosok sederhana namun kuat yang akan terus menjadi panutan hidupku.
Setelah meletakkan barang bawaanku, dan mengangsurkan tas oleh-oleh ke ibu segera kususul Bapak ke meja makan.
“Gimana kuliahmu, kapan selesai?,”tanya bapak sambil menyendok nasi dari bakul.
“Alhamdulillah, mulai semester depan sudah menyusun skripsi, do’akan lancar, Pak!, “jawabku.
“Rencana cuti berapa hari?”tanya ibu sambil membuka bungkusan pepes kegemaranku.
“Insyaallah seminggu, Bu sekalian ingin mengawali Ramadhan disini, kangen sama suasana darusan disini.”jawabku mulai memasukkan sendok demi sendok ke mulut. Hmm…tak ada yang menandingi masakan ibu di dunia ini. Nikmat tiada tara. Selesai makan kami ngobrol diruang tengah, meneruskan obrolan di ruang makan.
“Bu, nanti malam mulai tarawih ya?,” tanyaku, “siapa imam musholla sekarang?”
“Iya, untuk hari pertama nanti ya Bapakmu, setelah itu baru bergantian dengan orang-orang.” Kata ibu. Dibelakang rumah memang ada musholla kecil, wakaf dari almarhumah Mbah Yut, ibu dari almarhumah Mbah Ti. Mbah Ti adalah ibu dari ibuku. Musholla kecil itu dibangun semasa hidup Mbah Yut, dan sampai sekarang terawat dengan baik, walaupun tidak ada orang khusus yang merawatnya. Jadi dengan kesadaran orang-orang di sekitar yang ikut merawat keberadaan Musholla itu. Kalau hari biasa setiap sore digunakan Ustadz Hanafi mengajari anak-anak kecil untuk belajar Iqra’, dan setiap minggunya ada saja kegiatan pengajian ibu-ibu atau bapak-bapak di Musholla ini, selain untuk sholat berjama’ah. Jadi wajar sekali jika masyarakat sekitar ikut menjaga kelangsungan musholla karena keberadaannya dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar.
Dulu semasa kecilku aku yang sering menabuh bedug tanda adzan akan berkumandang. Atau bahkan sekalian aku yang mengumandangkan Adzan. Dulu yang mengajari kami ngaji adalah Mbah Imam almarhum. Selesai mengaji kami diajari pencak silat, atau bercerita tentang Nabi-nabi. Dan jika Ramadhan tiba, kami menyalakan obor dan berjalan keliling desa untuk menyambut bulan yang diagungkan itu. Sambil memukul-mukul kenthongan dari bambu. Dan selesai tarawih kami sering memainkan bedug atau jidoran. Kami sering tertidur di musholla, kemudian tengah malam dibangunkan bapak atau Mbah Imam untuk sholat tahajjud. Kemudian pulang kerumah masing-masing untuk makan sahur. Sambil menunggu Subuh kami berkumpul lagi di Musholla untuk sholat berjamaah. Ah…Ramadhan di desa selalu menyisakan asa yang akan kukenang sepanjang hidupku. Sekarang sudah jarang anak-anak yang melakukan aktifitas seperti yang pernah kulakukan dulu. Televisi telah menggantikan ritual yang pernah kulakukan dulu dalam menyambut bulan Ramadhan. Kalaupun ada sudah bukan kenthongan lagi yang mengiringi mereka untuk membangunkan orang sahur, tapi ironisnya malah menggunakan lagu-lagu dangdut, atau rock. Lucu dan nggak nyambung menurutku. Ruh dalam menyambut Ramadhan dulu sangat terasa, apalagi bagi anak-anak seusia kami. Ingatnnya kurasakan hingga kini, kenikmatannya masih terasa sampai duapuluh tahun kemudian. Sehingga setiap menghadapi Ramadhan ada rasa syahdu yang selalu mengiringinya.
Seusai maghrib kulihat banyak anak-anak kecil berkumpul di Musholla, ada beberapa yang kukenal, sepertinya murid-murid TPA Ustadz Hanafi.
“Anak-anak pada ngumpul, ngapain Bu?”tanyaku.
“Ya mau pawai obor, seperti jaman kecilmu dulu.” Jawab ibu.
“Oh ya?, Jadi mereka masih melakukan kegiatan itu Bu?,” tanyaku sedikit heran.
“Iya, karena Ustadz Hanafi ingin menghidupkan lagi ruh menyambut Ramadhan itu, minimal bisa membuat anak-anak bersemangat untuk berpuasa, bisa meningkatkan ghirah mereka, yah ibu pikir bagus juga buat anak-anak, Bapakmu juga mendukung.” Jawab ibu.
Malam itu seusai sholat tarawih pertama di bulan Ramadhan, saya menyempatkan ikut tadarus di musholla, ramai juga bapak-bapak yang ikut. Tadi juga sempat berbincang dengan Ustadz Hanafi, katanya akan dibentuk remus, Remaja Musholla, karena banyak anak-anak ABG di sekitar tempat kami. Ustadz Hanafi adalah pendatang walaupun hampir tujuh tahun menetap di desaku. IA asli Pekalongan tapi mendapat tugas mengajar di desa ini. Akhirnya menikah dengan salah satu putri Mbah Imam. Usianya sekitar 35 tahun, dan dikaruniai seorang putra. Jadilah ia menetap di desa kami. Dari hasil bincang-bincang kami ia juga mengharap agar aku mau pulang ke desa, membangun desa ini. Saya tersenyum, “Saya juga ingin Mas,” jawabku. Aku memang terbiasa memanggil dia Mas, karena hubungan kami memang dekat sejak dulu. Apalagi saya adalah santri kesayangan Mbah Imam.
“Cuma kayaknya dalam waktu dekat belum ada rencana, entahlah kalau besok-besok”, jawabku. “Namun jangan khawatir, saya pasti akan bantu untuk perkembangan musholla ini”, jawabku mantap. “Setiap ada perkembangan baru yang bisa menambah keilmuan untuk anak-anak di sini saya siap bantu, jadi silahkan Mas Hanafi disini dengan anak-anak, nanti saya dukung dari jauh, misalnya buku-buku, kitab-kitab, atau yang lainnya, bahkan nanti kalau memang Remusnya jadi kita saranai dengan komputer pula Mas, saya ada PC di Jakarta yang jarang saya pakai karena sudah ada laptop, “uraiku bersemangat.
“Wah, jadi semangat nih Dik”, jawabnya  tak kalah antusias.
Walaupun tak seberapa semoga bisa jadi amalan yang bisa dicatat malaikat di pundak kanan saya, minimal bisa berbuat sesuatu bagi tanah tempat darah kelahiranku tertumpah.
Malam itu saya sulit sekali tidur, karena sesiang tadi bisa tidur nyenyak. Maklum akumulasi capek perjalanan dengan bus dari Jakarta. Di musholla juga sudah sepi. Jam setengah sebelas tadi orang-orang menghentikan tadarusnya. Kulihat jam di dinding musholla menunjukkan pukul satu dini hari. Kuambil air wudlu disamping musholla, kulaksanakan rakaat pertama sholat tahajjudku. Dengan tartil kubaca bacaan sholat, rasanya nikmat sekali, jauh dari kebisingan, jauh dari hiruk pikuk metropolitan, jauh dari kesibukan kuliah dan kerja. Hmm…kunikmati sekali shalatku malam itu. Sampai salam disholatku yang ketiga baru tersadar ada orang lain di musholla ini. Orang yang sudah tua, terlihat rambutnya yang hampir semua memutih. Memakai baju takwa warna hitam dan sarung batik. Agak jauh dari tempatku sholat.
Kulanjutkan sholatku sampai rakaat ketiga witir. Ketika aku telah selesai berdzikir, kulihat kakek itu masih khusyuk sholat. Aku melangkah keluar meregang penat. Dengan kaki masih di anak tangga kurebahkan tubuhku sekedar meluruskan punggung. Kulihat jam menunjukkan jam dua kurang tiga menit. Karena masih bengong kukeluarkan rokok putih, kunyalakan, rasanya enak saja malem-malem gini menyedot rokok, buat teman biar nggak ngantuk sambil nunggu sahur. Sebenarnya aku bukan perokok sejati, sangat jarang, bahkan dalam sebulan tak lebih dari tiga batang. Tapi kalo pas gini mau juga merokok.
“Assalaamualaikum, “tiba-tiba dari arah belakangku terdengar sapaan dengan suara agak berat.
“Wa’alaaikum salam warah matullahi wabarakaatuh,” kutoleh arah suara sapaan tadi ternyata memang kakek yang kulihat tadi. Wajahnya bersih, bahkan kulihat sinar lain yang menyejukkan terpancar dari wajahnya.
“Maaf, kakek tinggal dimana ya? Baru kali ini saya melihat kakek?, “ tanyaku hati-hati sambil kumatikan rokok, saya tidak terbiasa merokok di depan orang. Kasihan aja aku yang merokok mereka yang terkena getahnya.
“Rumah kakek nggak jauh dari sini dibelakang tegalan itu, memang sejak dulu jarang di rumah,” jawabnya.
“Nggak bisa tidur?”tanyanya, “Suka merokok ya?” sambungnya.
“Iya Kek, tadi siang kecapekan kebanyakan tidur, jadinya kancilen,” jawabku, “kalau masalah rokok ini, ndak juga kok Kek, jarang sekali kecuali menemani kalau saya lagi gak bisa tidur begini, lagian bisa membuat saya betah bangun malam buat shalat tahajjud” lanjutku.
“He..he…kalau masih butuh alat untuk mencintaiNya rasanya itu bukan cinta sesungguhnya ya Le?” katanya datar saja. “Dulu ada seorang putra Kyai yang hanya bisa majdub ketika dia mendengarkan musik yang keras….Dia beralasan, musik ini yang menghantarkan saya padaNya , jawabnya ketika suatu saat ditanya sama Abahnya. Sang Abah yang telah banyak makan asam garam kehidupan itu dengan arif berkata pada anaknya, “Memang tak ada salahnya menggunakan sarana untuk mencapai cintaNya, seperti bayi yang perlu merangkak untuk dapat berjalan, tapi ketika dia sudah mampu berjalan apakah masih akan terus merangkak? Jadi ketika seorang salik telah mencapai taraf cintaNya bila dia masih perlu alat atau sarana untuk mencapaiNya maka cinta itu perlu dipertanyakan karena semestinya Ia ada dimanapun dan kapanpun tanpa harus melalui sarana, terang Abahnya . Dan sejak saat itu kesadaran baru muncul pada anak sang Kyai itu, sehingga ia tinggalkan musik yang ingar bingar itu. Tanpa semua itu Ia memang selalu ada.” Urai Sang Kakek panjang lebar.
Datar sekali bicaranya, namun sungguh menohok ulu hati saya. Saya pikir selama ini gaya merokok saya biasa saja, dan kadang-kadang membantu saya untuk betah melek di malam hari.Tapi hari ini ada seorang Kakek menyentuh sisi kesadaran saya yang lain. Semakin tenggelam saya bicara dengan Kakek ini. Aku hanya bisa manggut-manggut, dan membenarkan pendapatnya.
“Nggak terasa Ramadhan sudah datang lagi ya?, bulan yang sangat dirindukan oleh semua umat. Seandainya mereka tahu kemuliaan bulan ini mereka tak akan terjaga sedetik pun”, katanya sambil matanya menerawang ke depan.
“Menurut kakek apa kemuliaan yang istimewa dari bulan ini kek?” tanyaku.
“Bagi yang mata hatinya terbuka, bagi yang terbuka hijabnya dengan sang penguasa Jagad Raya, setiap desahan nafasnya adalah rezeki tak terkira di bulan ini. Semua pintu rahmatNya dibuka, semua pintu hidayahNya terbuka, semua pintu ampunanNya terbuka, tinggal manusianya, apakah mereka mampu menerima kemuliaan yang luar biasa ini?” urainya, “Tapi kadang puasa ini hanya sebagai penahan lapar dan dahaga saja, tak lebih, hanya sebagai penggugur kewajiban atas bulan ini, sehingga derajat yang kita capai pun tak akan pernah naik dari itu.”desahnya.
Akupun ikut terdiam, sehingga hening sejenak waktu. Malam semakin merambat pagi, suara jengkerik menimbulkan simphoni tersendiri dimalam pertama bulan Ramadhan ini. Dan desau angin malam semakin menambah dingin suasana.
“Puasa tapi masih korupsi, puasa tapi masih mengumbar amarah, puasa tapi masih menyakiti hati orang lain, puasa tapi masih lahap saja ketika berbuka di depan anak-anak peminta-minta. Pertanyaannya kenapa masih seperti itu saja? Padahal puasa kita telah berpuluh-puluh tahun. Kenapa tak ada jejak kenikmatan kita dalam berpuasa. Bahkan tak berbekas. Selesai puasa kita kembali pada rutinitas kemaksiatan kita?Astaghfirullah… .”desahnya, kudengar suaranya sedikit serak.
“Puasa kita masih sekedar puasa fisik, belum menyentuh hati kita, belum menyentuh hakikatnya, apalagi menyentuh cinta kita” lirih suaranya.
Aku semakin tertunduk…seolah terkena daya magis yang sangat kuat. Menyeretku ke sebuah lorong sunyi dan gelap…Kepekatan malam ini seolah ikut memberi nuansa magis dalam dialog-dialog yang terucap dari mulut kakek ini.
“Kita masih sanggup menelantarkan anak-anak yatim walaupun puasa kita telah berbilang tahun, kita masih sanggup melahap nikmatnya buka puasa walaupun didepan kita terlihat orang-orang yang hidup dijalanan dan menadahkan tangan seolah itu hal yang wajar-wajar saja. Dengan sedikit receh serasa habis perkara. Bahkan mungkin berhari-hari mereka tak menemukan makanan sekadar untuk mengganjal perutnya, rasanya mereka lebih mampu menghayati arti puasa dibanding kita yang hanya menahan lapar dari pagi sampai petang, dan begitu bedug Adzan bertalu segera  dapat melahap kenyang buka puasa kita. Bisa jadi mereka telah berpuasa sepanjang masa, karena kemiskinannya.
“Ah kok jadi saya yang banyak ngomong!” kata kakek itu.
“Nggak pa pa Kek, itu malah lebih baik buat saya, buat bekal saya lebih menghayati puasa” kataku sambil sedikit tersentak ke kesadaran semula setelah merasa melayang.
Entah kenapa berdekat-dekat dengan kakek ini seperti ada sesuatu rasa yang sulit kugambarkan.
Tiba-tiba pintu belakang rumahku terbuka, ternyata Bapak sudah bangun dan mau sholat malam. Memang pintu samping dapurku berhubungan langsung dengan teras samping Musholla ini.
“Nak, saya pamit dulu, Insyaallah besok ketemu lagi, Assalaamualaikum…“ tiba-tiba Kakek itu beranjak dari duduknya dan segera berlalu.
“Waalaaikum salam warahmatullah wabarakaatuh, “ jawabku.
“Le, siap-siap sahur, itu Ibumu sudah siapkan,” kalimat Bapak sedikit mengagetkan saya. Konsentrasiku sedikit buyar sehingga tak kulihat Kakek tadi keluar.
“Iya Pak saya sudah selesai sholat kok, sebentar lagi saya masuk.”jawabku. Segera aku bangkit dan masuk rumah untuk ikut membantu ibu menyiapkan sahur.
Malam kedua Ramadhan seperti kemaren seusai tadarusan saya hanya mampu memejam mata sejenak, Kulihat jam dinding di kamar 00.30 WIB. Kubuka pintu dapur untuk mengambil air wudlu di samping musholla. Hhhhmhhh…dingin menusuk sampai ke tulang rasanya, namun terasa segar, sehingga mata yang agak sepet bisa melek dengan sempurna. Kumulai takbirku dengan sepenuh rasa dan kepasrahan total. Sampai pada bacaan Inna sholati wa nusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alaamin kurilekskan seluruh tubuhku, dan kucoba kuhayati kata-demi kata bacaan sholatku, sungguh indah…sungguh nikmat…ringan sekali rasanya tubuh ini. Kuselesaikan sholatku sampai salam di rakaat ketiga Sholat Witirku. Kuteruskan dengan dzikir dengan tartil..perlahan dan penuh penghayatan. Kulibatkan rasa di segenap jiwaku. Kunikmati…setiap desahan nafasku yang kuberati dengan kalimah-kalimah dzikir. Sunyi yang terasa nikmat…disepertiga malam yang merangkak pagi. Kurasakan tubuhku semakin ringan…ringan… bahkan serasa melayang…kubuka pelan mataku karena aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhku. Subhanallah…tubuhku benar-benar melayang..!LAlu siapa yang sedang tertunduk di pojok musholla itu? Itu seperti bajuku, itu…itu tubuhku…Subhanallah. .Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada jasadku? Kesadaranku terjaga penuh, tapi kenapa dengan diriku?!?… Seribu tanya bergelayut di benakku. Untuk beberapa saat saya terbuai oleh sebuah kenikmatan yang tak tergambarkan. Ekstase itu kurasakan hingga sebuah suara sedikit berat namun penuh perbawa memberi salam, sehingga diriku yang melayang perlahan turun menyatu lagi dengan jasadku yang masih terduduk di pojok musholla.
“ Assalaamualaikum ya Akhi?, suara itu kukenal betul, yah suara kakek yang tadi malam.
“Waalaaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!” Kujawab salamnya dengan masih terengah setelah pengalaman ruhani yang luar biasa kualami barusan.
“ Apa yang tengah kau alami, Anakku sehingga wajahmu pucat dan berkeringat di tengah malam yang dingin menusuk seperti ini?” tanyanya. Seolah ia tahu sedang terjadi sesuatu dalam diriku. Tiba-tiba aku hanya mampu tertunduk dan tergugu dalam tangis.
“ Bagi seorang salik yang mendamba cintaNya memang tak perlu sarana untuk meraihnya, baginya cukuplah Allah saja. Kalaupun dengan munajah dan dzikirnya Allah berikan karunia-karunia dalam keghaiban, itu bukanlah tujuan utamanya. Salik tak akan terusik sedikitpun oleh ‘gangguan-gangguan’ berupa kenikmatan sesaat. Karena yang ditujunya hanya Allah semata. Ridho Allah adalah rezeki tak terkira. Karena yang meneranginya mata batinnya hanyalah cahayaNya.” Seperti telah tahu apa yang sedang terjadi padaku Kakek itu berbicara seperti itu.
“Maka jika dalam pencarianmu engkau bertemu dengan hal-hal ghaib…anggaplah itu karunianya seperti kata ulama besar Ibn Athaillah As Sakandary dalam Kitab Al Hikamnya yang masyhur itu,
“Jika Allah membukakan pintu makrifat bagimu, janganlah hiraukan mengapa itu terjadi sementara amalmu amat sedikit. Allah membukakannya bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau mengerti bahwa makrifat itu adalah anugerahNya kepadamu, sedangkan amal adalah pemberianmu? Maka betapa besar perbedaan antara persembahanmu kepada Allah dan karuniaNya kepadamu!”
“Dan teruslah berdzikir menghadapkan segenap jiwamu padaNya.” Kakek itu meneruskan kalimatnya.
Dia menguraikan itu dengan memeluk tubuhku yang semakin tergugu dalam tangis, bahkan tubuhku terguncang.
“Istighfar Anakku, lepaskanlah perlahan-lahan… atur nafasmu…rilekskan tubuhmu, tenangkan dirimu dan jangan berhenti dzikir di hatimu.”perintahnya terdengar pelan ditelingaku namun tegas. Setelah aku mulai agak tenang Kakek itu melepaskan pelukannya.
“Sudah waktu sahur, segera sahur Nak, jangan lewatkan barakah malaikat pada orang-orang yang menyempurnakan puasanya dengan sahur” katanya. Aku mengangguk dan segera bangkit untuk membasuh wajahku dengan air wudlu. Segar sekali…Ketika aku kembali untuk mengajak Kakek itu untuk bersahur di rumahku ia sudah tak ada di tempatnya. Aku dibuat penasaran dengan Kakek satu ini, bahkan aku belum tahu namanya. Semoga besok beliau hadir lagi disini sehingga aku bisa tanyakan siapa dia.
Malam ketiga Ramadhan, seperti telah terprogram aku terbangun pukul 00.30 WIB walaupun tak ada weker yang membangunkanku. Aku hanya mengharap Ia akan menyentuhku di sepertiga malam, karena aku meyakini bukan aku yang bisa bangun tapi karena Ia yang maha berkehendak membangunkanku.
Seperti biasa kumulai tahajjudku malam itu dengan takbir yang kubangun bersama kekhusyu’an. Kuhadirkan segenap jiwa untuk menerjemahkan bacaan tartil sholatku. Kunikmati…dengan segenap khusyu’ dalam keheningan.Kupasrah kan segala rasa ini kehadhiratMu, semoga Engkau ridho. Antara sadar dan tidak aku mendengar suara orang banyak berdzikir. Sehingga terdengar suara mendengung. Kupikir karena pantulan keheningan malam yang membias di telingaku sehingga terdengar seperti jamaah dzikir. Kuteruskan sholatku tanpa meninggalkan kekhusyu’an dalam penghayatan. Justru suara dengungan itu semakin jelas. Tak kuhiraukan…kuselesai kan rakaat ketiga witirku. Kulanjutkan dengan dzikir, suara dengungan itu semakin jelas bahkan mengiringi dzikirku. Aku sedikit bergidik, kucoba menutup telingaku dengan kedua tanganku, justru suara itu lebih jernih…Lailahaillall ah… Lailahaillallah… . Lailahaillallah… Lailahaillallah terus semakin jelas bahkan serasa didepanku. Aku teringat pesan Kakek kemaren, “Teruslah berdzikir jangan hentikan dzikirmu….Ditengah suara dengungan yang sudah tak lagi sekedar dengung namun jelas-jelas sebuah jamaah dzikir, tiba-tiba aku merasa dalam sebuah lorong tak gelap namun juga tak begitu terang, entah tak sanggup aku menggambarkan keadaanku saat itu…dengan suara dzikir yang semakin membahana di telingaku bagaikan kudengar dari sebuah konser live sebuah pertunjukkan. Indah…tak terkira…kurasakan tubuh yang semakin ringan dan melesat dalam lorong yang menakjubkan tadi. Suasana indah …syahdu…nikmat yang tak mampu kugambarkan…. Subhanallah… .Rasanya aku tak ingin kembali. Tiba-tiba ada sebuah suara yang kudengar dari hatiku, “Janganlah berhenti sampai disini, karena ketika Rasulullah selesai berIsra’Mi’raj beliau kembali pada umatnya untuk menyampaikan kabar gembira itu, untuk meyampaikan risalah agung itu.” Aku kenal suara yang kudengar itu, suara Kakek tua itu! “Dan sesungguhnya keinginanmu untuk tidak kembali adalah bagian dari nafsu!, Tugasmu belum selesai Nak, segeralah kembali!” Tiba-tiba kulihat jamaah yang tadi berdzikir adalah anak-anak yang sebagian besar kutahu mereka anak-anak TPA asuhan Ustadz Hanafi. Mereka memandangku dengan tatapan penuh harap dan cinta. Tiba-tiba ingin kupeluk semua, ingin kurengkuh semua…rasa iba berbaur dengan sayang dan cinta seolah membuncah membuat satu energi tersendiri buatku saat itu. Yah memang tugasku belum selesai. Perlahan suara dzikir itu menjauh, kemudian hilang sama sekali bersamaan dengan kembalinya diriku pada kesadaran sepenuhnya. Kembali ke dunia nyata. Kudapati diriku sangat letih dan menggigil dengan peluh yang membasahi tubuhku. Kuedarkan pandangan untuk mencari Kakek yang tadi seolah sedang berbicara denganku.Kosong… tak ada orang…!Kulihat jam dinding 01.40 WIB. Agak lama aku termenung sambil mengatur nafasku, aku mulai rebahan, sambil memandang langit-langit musholla, sambil mencerna kejadian yang barusan kulewati. Kutunggu Kakek itu untuk beberapa saat, sampai Bapak memanggilku dari dalam rumah. Akhirnya kuputuskan masuk rumah karena dingin semakin menyergap tubuhku yang telah basah oleh keringat dingin.
“Bu, kira-kira ibu kenal nggak dengan Kakek yang dua malam ini sholat tahajjud di musholla belakang?”tanyaku.
“Kakek siapa?”tanya Bapak dan Ibu hampir barengan.
“Masak Bapak nggak pernah lihat? Kemaren saat Bapak sholat di musholla beliau ada, Pak?” terangku.
“Rambutnya sudah hampir memutih semua, kira-kira seusia Mbah Imam sebelum meninggal, hanya badannya agak tinggi dan kurus. Tapi wajahnya masih kelihatan segar, dua hari ini bahkan kami mengobrol di musholla?”lanjutku.
Kulihat kedua orangtuaku berpandangan sejenak sambil mengernyitkan kening, “Justru itu yang ingin kami tanyakan pada kamu, beberapa hari ini kamu seperti bercakap-cakap dengan orang tapi ketika bapak lihat nggak ada siapa-siapa.”
“Hmmmhhh…siapa sebenarnya ya?” kata Bapak dengan heran.
“Katanya rumahnya ada di belakang tegal Bu?” aku masih sedikit ngotot.
“ Kamu lupa to Le, kalau dibelakang tegal kita cuma ada sungai, ada dua rumah yang satu rumah mak Isah, yang satunya rumah Kang Roni yang biasa kita mintai tolong ngambil buah kelapa itu.” terang Ibu.
“Kalau mereka aku kenal Bu!”, jawabku.
Siapa Kakek itu? Kenapa dia datang tepat disaat saya sedang mengalami perjalanan ruhani itu. Ia seolah diutus untuk mengiringi perjalanan saya. Khidirkah dia? Entahlah yang jelas saya akan selalu merindukan bimbinganmu, Kakek.
PacarKembang, akhir Sya’ban 1427H
Marhaban Yaa Ramadhan…
Yang hanya ingin bisa merasa di bulan Ramadhan ini
Bi barakatillah
Mohon maaf segala khilaf, Mohon maaf lahir batin
semoga kita masuki gerbang Ramadhan dengan segenap kebeningan jiwa.