Sunday, May 25, 2014

Lahir diantara hujan

   Hujan selalu datang diawal januari, seolah ia tak mau ingkar dari hukum alam yang sudah semestinya terjadi. Aku nychken gilang, aku lahir di tanggal 23 januari. Iya, diantara hujan dan rintik  yang menemani ku lahir ke bumi. Suara adzan dari kakek adalah suara yang pertama kali aku dengar, sesudah suara seorang ibu yang menyapa dengan lirih dan syahdu “alhamdulilah”.

Rintik pertama, rintik kedua, rintik ketiga dan berjuta rintik selanjutnya turun ke bumi, ku tatap satu persatu rintik, ku berpikir sejenak “kenapa hujan tak pernah merasa sakit meski terjatuh dari langit” pikiran polos  bocah berumur 3 tahun pun terlintas.

Aku lahir diantara hujan, hujan adalah suara merdu ketiga yang pernah di dengar telingaku. Aku suka hujan bahkan untuk setiap tetesnya adalah keabadian, seperti yang pernah ku dengar di pelajaran geografi  tentang air dan hujan, “ apakah jumlah air di dunia ini tetap ? “ seru guru, “tetap” timbalku, “ kenapa tetap ? “, ku mencoba menjelaskan dengan pemahaman yang masih terbatas dan mengakhiri dengan kalimat “ hujan adalah makhluk tuhan, yang ketika naik memberi manfaat dan ketika turun pun memberikan manfaat”. Untuk kesekian kalinya ku berkata, aku suka hujan bahkan untuk setiap rintiknya, aku suka. tapi kenapa beberapa orang tidak suka hujan, beberapa orang bahkan mencela hujan, mereka mencela hujan bagai seorang koruptor yang merampas hak-haknya. Apakah karena hujan membuat banjir? , apakah karena hujan jadi sulit beraktifitas?, apakah karena hujan ikan-ikan mereka mati ?. persis seperti ketika tersandung batu, mereka marah dan menyalakan batu. Walaupun hujan dianggap bersalah, apakah setitik ketidaknyamanan yang disebabkan oleh hujan, menghilangkan rasa syukur atas segala manfaat yang telah ia berikan secara ikhlas ?. cukup, jangan hina lagi hujanku.

               Banyak pertanyaan ku tentang hujan bahkan teramat banyak untuk satu kata bernama hujan, kenapa ketika hujan turun kenangan masalalu terlukis kembali dari gemercik airnya ?. kenapa hujan terbagi menjadi beberapa tetesan ketika terjatuh ?. kenapa hujan ketika terjatuh tidak pernah merasa sakit ?. untuk pertanyaan ketiga memang terlihat konyol, tetapi hanya pertanyaan itu yang perlahan mampu ku jawab. Kenapa hujan ketika jatuh tidak pernah merasa sakit ? karena ketika ia terjatuh, ia jatuh bersama tetesan lainnya yang saling menguatkan. Ia jatuh kedunia tidak sendirian, ia jatuh bersama tetes lainnya yang saling menguatkan. Temannya tidak pernah meninggalkannya ketika terjatuh bahkan rela ikut bersamannya. sungguh beruntung kau hujan, aku iri terhadapmu.

               Aku lahir bersama hujan dan aku pun ingin seperti hujan. Seperti hujan yang tak pernah sombong, ketika berada diatas dan menjelma menjadi awan yang mengawasi  setiap manusia. Seperti hujan yang tak pernah mengeluh, ketika disuruh jatuh kebumi untuk memberi manfaat bagi manusia yang terkadang mencela.seperti hujan yang setia berhadap kawan.

N.GILANG

Negeri tanda tanya

aku tersesat dinegeri tanda tanya, dimana setiap rakyatnya hanya bisa bertanya. Seorang anak kecil bertanya “ mamah, Apakah aku bisa sekolah ?”. seorang pemuda bertanya  “masih adakah pekerjaan untukku ? “, Seorang ibu bertanya “harga terus naik, apakah keluarga ku bisa makan besok ?”, Bahkan seorang nenek pun bertanya “masih adakah lahan untuk menguburkan ku nanti ?”.

Wednesday, May 14, 2014

SEMANGAT JANGAN BERKARAT

menemukan kembali makna hidup yang dulu sempat redup
kadang terasa lelah tapi bukan menjadi alasan untuk menyerah
rasanya ingin mengeluh namun keluh tak punya pengaruh
mestinya ada semangat yang begitu membara dan hebat

6 bulan terakhir, semangat menggoreskan tinta mulai tak terasa
bulan kemarin, hampir menyerah karena asa wirausaha tak pernah berlaba
minggu kemarin, sempat terasa kuliah pun kehilangan makna
dan hari ini, semangat mengajar mulai tak terkejar

apa maunya aku ?
kehilangan makna akan diri sendiri
mulai melupakan kata " orang hebat terbiasa dengan tantangan dan nestapa "
mulai menyemati dan kembali fokus

semangat menulis bukan sekedar cari eksis
menyusun kembali jiwa enterpreneur meski ada cercaan yang buat minder
mengumpulkan puzzle semangat untuk kuliah, bukan sekedar cari gengsi namun semangat terkesan berkarat
dan semangat mengajar yang tak mengutamakan bayaran, jiwa ikhlas untuk mendidik salah satu cara investasi di akhirat nanti.

NN GBS

Sunday, May 4, 2014

Catatan guru alay part 1 "mimpi itu apa ? "

Setiap orang punya mimpi, karena aku juga termasuk orang, aku pantas dong punya mimpi ?. Mimpi aku sederhana. waktu kecil, aku bermimpi menjadi tukang cilok yang baik hati. Kalian tahu kan cilok? , cilok itu makanan khas jawa barat yang terbuat dari aci ( tepung) dan disajikan secara dicolok (ditusuk). Mimpi aku untuk jadi tukang cilok bukan tanpa alasan. Ketika aku kecil, aku sering jajan cilok. Lazimnya anak usia 6-8 tahun, ketika di tanya makanan pokok kalian apa ? , kebanyakan menjawab nasi, kecuali orang papua yang makan sagu, tapi aku beda. Ketika ditanya oleh guru makanan pokok kalian apa ? serentak siswa lain menjawab nasi cuma aku sendiri  dengan percaya diri dan keras menjawab “cilok bu ?”. ibu guru pun cuma tersenyum, tanpa penjelasan benar atau tidak. Aku makin yakin bahwa cilok adalah makanan pokok, setidaknya makanan pokok bagi aku sendiri.

Ketika umur ku menginjak 7 tahun, mimpi menjadi tukang cilok makin menggebu. Dipicu pertemuan ku dengan  seorang tukang cilok, namanya mang ocid. Di lihat secara fisik tak ada yang istimewa dari mang ocid, seperti tukang cilok biasanya dengan handuk yang menggantung dileher dan gerobak dorong  menjadi pelengkap, tapi ada hal yang cukup berbeda dari tukang cilok lainnya, Setiap kali aku beli cilok ke mang ocid, ia ga pernah minta bayaran. Sungguh mulia hati mang ocid, layak banget  dapat penghargaan tukang cilok of the year. Dari hari ke hari, aku makin kagum dengan mang ocid. Berapa banyak cilok yang aku makan ia tak pernah meminta bayaran, terharu banget dengan sikap mang ocid yang sungguh baik terhadap ku. andaikan mang ocid seorang wanita akan ku jadikan seorang istri, tapi jika mang ocid  seorang lelaki maka akan ku jadi tukang cilok . Saking sukanya dengan cilok, aku sempat berpikir kalau punya anak nanti  ku beri nama Suci dasli mansip ( Suka Cilok peDAS sekaLI MANtap SIP).

Friday, May 2, 2014

UNTUK KAMI, ORANG-ORANG YANG TERLUPAKAN


Pendidikan sudah menjadi komoditas
Namun saat guru-guru lapar sulit rasanya untuk ikhlas
Menerima uang yang tak layak disebut gaji
Hanya rupiah dengan 4 nominal angka yang diterima

Tak sedikit dari kami
Berkeliling tiap hari
Mengajar beberapa sekolah dari pagi hingga sore hari
Agar perut tak protes lapar lagi

Saat buruh teriak-teriak minta naik gaji karena memproduksi puluhan benda mati
Kami diam karena sudah bosan menyuarakan tapi tak pernah bosan memproduksi generasi terbaik negeri

Bukan kami tak mau teriak dengan lantang, berorasi puluhan keluhan
Tak mau ketika berorasi
Murid-murid kami menjadi saksi
Bahwa guru yah haus akan materi

Andai jika kami tak pernah lapar
Tanpa keluhan kami siap di gaji ribuan
Tapi kami tetap manusia, ada keluarga yang punya perut untuk diberikan makan

Tersemat di dada tulisan pahlawan tanpa tanda jasa
Kami ada dan hanya untuk dilupa

"Salam HARDIKNAS"

NN GBS