Thursday, June 12, 2014

Ini jalanku. bagian satu." mamah, jenderal berdasterku "



"ken, ken, bangun udah jam 4 nih".

teriak mamah dengan nada kaya orang yang kebakaran rumah. membuyarkan mimpi aku yang sedang menunggangi ular naga di hutan amazon.

 " ada apa mah, sekarang kan bukan bulan puasa, jadi ga usah sahur ".

" hari ini,  hari pertama kamu sekolah jadi jangan nyampe telat ".

 " tapi ga usah jam 4 subuh juga mah " memasang muka memelas kaya ibu-ibu yang kehabisan stock beras.
" jangan bantah, cepet mandi".

perintah mamah seperti perintah jenderal bintang lima yang harus dipatuhi tanpa bantah, jika tak mau uang jajan musnah. mamah, satu-satunya jenderal yang pake daster.

            Hari ini adalah hari pertama aku sekolah di SD, tepatnya di SDN 3 Cikalongwetan yang jaraknya cuma 50 meter dari rumah tapi kenapa mamah harus nyuruh bangun jam 4 subuh, setidaknya bangun jam 4 subuh menjadi misteri untuk sejam yang akan datang sebelum dijawab dengan sebuah kejadian yang mengharukan atau lebih condong ke menyeramkan, biar pembaca yang menilai.
jam 5 subuh, aku udah siap dengan seragam merah putih yang bersih tanpa noda, dengan muka cemong hasil modifikasi mamah serta badan yang harum dengan aroma kayu putih, dulu sih masih heran kenapa harus pake kayu putih sebelum berangkat ke sekolah, baru pas kelas dua nyadar bahwa kata mamah kayu putih itu bikin kamu lebih ganteng 50 %, lebih wangi dan yang paling penting biar ga masuk angin. pas kelas 1 SMA baru nyadar aku itu mau sekolah atau mau ngojeg malam, dilumuri kayu putih yang katanya anti masuk angin. Sejak itu aku ga pernah pake kayu putih lagi tapi efeknya suka bilang jelek sama temen-temen. mungkin mamah ada benarnya juga.

aku siap untuk sekolah, dengan gagah menggendong tas berisi buku bertulisankan " rajin pangkal pandai " bersiap menjalani dunia yang keras seorang diri tanpa bantuan siapapun, kecuali bantuan mamah yang menuntun ku untuk bergegas pergi menuju sekolah. sesampainya disekolah tepat jam 5 subuh, puluhan ibu-ibu bersiap memasuki gerbang sekolah dengan memasang muka yang seolah bertulisan " anak ku harus duduk dibangku terdepan, walau nyawa dan darah ini menjadi taruhannya". aku jadi takut setelah menatap puluhan ibu-ibu dengan tatapan muka yang menyeramkan. kutatap wajah mamah, ia tanpa gentar siap bersaing dengan puluhan ibu-ibu lainnya untuk mendapatkan kursi yang terdepan untuk anaknya ini.

" PENJAGA SEKOLAH DATANG" teriak seorang ibu yang sudah siap memasang kuda-kuda untuk berlari menyambut gerbang yang terbuka. gerbang pun dibuka, beberapa ibu-ibu sudah berlari dengan tujuan yang sama merebut kursi terdepan. " mamah" seruku untuk memastikan mamah agar tidak berlari seperti ibu-ibu yang lain karena bagi ku, duduk dibangku yang terdepan tidak menjamin untuk menjadi pintar hanya belajar yang tekun serta bersungguh-sungguh merupakan suatu kunci pasti untuk jadi yang terbaik, namun sebelum kata bijak terlontar, mamah sudah tidak berada disampingku, dari kejauhan nampak mamah sudah berlari tak kalah cepat dengan ibu-ibu yang lain.

" ken lari" teriak mamah seolah perang memperebutkan bangku terdepan sudah dimulai, jika tak mau mati harus lari dengan sekuat tenaga ( tapi mungkin ini terlalu lebay ).
Sungguh haru bercampur malu atas perrjuang seorang ibu yang berlomba memperebutkan bangku terdepan demi masa depan anaknya. MERDEKA.....

Ibu-ibu sudah menduduki bangku-bangku, pertanda perebutan bangku terdepan pun sudah berakhir, dengan hasil yang memuaskan, mamah berhasil mendapatkan bangku terdepan persis didepan meja guru. sungguh bangga punya mamah yang luarbiasa. mamah selalu menjadi jenderal berdasterku. 
pelajaran nampaknya akan segera dimulai, ibu guru sudah mempersilakan orang tua untuk meninggalkan anak-anaknya agar tidak didampingi saat belajar, mungkin itu suatu cara untuk mengajarkan mandiri. mamah menuruti pesan ibu guru meski dengan raut muka sedikit terpaksa, ia meninggalkan ku seorang diri, sebelum itu mamah berpesan kepadaku.

 " ken jadi anak yang rajin, perhatikan apa yang ibu guru sampaikan, berteman dan berprilaku baiklah kepada semua orang, mamah cuma bisa mengantar kamu sampai disini selebihnya itu gimana kerja keras kamu. selalu buat mamah bangga yah ? ".

 pesan mamah seperti pesan seorang jenderal berdaster yang telah siap melepas prajurit terbaiknya untuk menghadapi medan perang yang keras dan mematikan. aku menjawab dengan kesungguhan.

" siap mah, aku akan selalu membuat mamah bangga, sungguh takkan pantas kata kecewa menjadi imbalan atas perjuangan yang telah mamah lakukan, tapi mah sebelum kita berpisah ada satu hal yang aku ingin sampaikan".

 mamah menatapku dengan sungguh-sungguh dan berkata .
" apa ken ? " " dengarkan dengan baik-baik mah ini penting, maaah tambahin uang jajannya atuh, ada tukang cimol yang enak banget diluar gerbang ".

 Dengan senyuman dan diiring sebuah jitakan lembut akhirnya mamah pergi meninggalkan ku sendiri bersama anak-anak lain yang kebanyakan belum ku kenal. inilah percakapan seorang ibu dan anak yang sangat-sangat diluar akal dan terkesan lebay .
setelah mamah pergi, aku baru sadar ternyata aku duduk dengan seorang anak perempuan yang gigi yah masih ompong, dia melihatku dengan senyuman ompongnya ia mengulurkan tangan dan berkata " namaku fitri, umur 6 tahun, rumah depan jalan dekat tukang surabi, nama kamu siapa ". hah fitri, rumahnya dekat tukang surabi, jangan-jangan dia kunti yang sedang menyamar menjadi anak SD untuk menculik aku yang kata mamah ganteng gini.  sambil menutup muka dengan tas bergambar robot, aku berusaha berkenalan dengan fitri.
 " namaku johan, rumahku jauh banget dibelanda, aku orang miskin cuma dikasih uang jajan seribu pliss jangan culik aku  ". 
mamah pernah bilang, hati-hati ken kalau berkenalan dengan orang baru kalau bisa sembunyikan identitas mu dan berpura-pura menjadi orang miskin. tapi mah kita kan memang miskin. iya berpura-pura miskin banget gitu biar kamu ga diculik. kata bijak dari mamah masih ku ingat jelas.

 " oh johan, aku bukan penculik kok, masa penculik masih kecil dan lucu kaya aku, kamu mah kadang-kadang lucu."
 karena fitri belum bisa baca nampaknya penyamaran indentitasku sukses dilakukan.
fitri nampaknya memenuhi beberapa kriteria penculik yang mamah pernah sampaikan kepada aku dulu.

 pertama, fitri suka senyum-senyum sendiri. kata mamah penculik itu menyamarkan kejahatannya dengan senyuman jadi hati-hati ken jika ada orang yang tiba-tiba senyum-senyum mencurigakan.

kedua, fitri suka memberi permen kepada ku. masih kata mamah juga, seorang penculik akan memberikan sesuatu meskipun baru pertama kali bertemu kamu.

ketiga, fitri itu ompong. masih juga kata mamah, ken penculik itu rata-rata ompong karena efek dari dipukul orang ketika dia ketahuan akan menculik anak.

huaaaaa. rasanya pengen cepet istirahat, kemudian jajan cimol dan bilang ke mamah bahwa aku duduk disamping penculik.

Ditengah kegelisahan ku dengan fitri yang positif terindikasi penculik, terdengar suara seorang ibu dan anak perempuannya meminta ijin masuk kepada bu guru. anak itu berambut panjang dengan pita kupu-kupu dirambutnya serta menggendong tas berwarna pink dan kacamata berwarna pink juga. ibu dan anak itu nampaknya sedang berbincang kepada ibu guru, sempat aku dengar beberapa kata maaf dari ibu itu, mungkin minta maaf karena terlambat. Anak itu duduk dibangku paling belakang dari barisan aku, tampaknya ia tersenyum kepadaku.
tetttt,tettt, tettt. akhirnya istirahat juga, aku pun terbebas dari fitri yang dari tadi menampakan jiwa-jiwa seorang penculik. aku menoleh kebelakang, terlihat anak yang telat itu masih menulis dengan wajah yang penuh kesusahan, karena rasa ingin tahu, aku pun mendekatinya untuk memastikan dia bukan seorang penculik seperti fitri.

 " hey kenapa dari tadi belum selesainya nulisnya ? "

 " abis tulisannya ga kelihatan kecil banget gitu "

" kecil banget apanya?, itu besar banget loh"

 " iya, untuk mata kamu yang normal itu besar, tapi bagiku  mah kecil"

 " emang ada yah mata yang ga normal ? mata kamu sama kok ada hitam dan putihnya dan sama-sama bulatnya", " ah kamu mah ga ngerti ".

 " yaudah gini aja, kamu duduk didepan tuh, kebetulan aku mau jajan cimol dulu tapi hati-hati sama fitri, yang nanti duduk disebelah kamu, dia kayanya penculik anak deh"

 " ah kamu mah ada-ada aja masa ada penculik yang masih kecil "

" terserah kamu deh, pokoknya mah aku mau jajan dulu "

            Akhirnya istirahat juga, istirahat adalah momen paling keren buat anak sekolah. istirahat memberikan kebebasan untuk jajan apapun yang aku mau, tentu dengan syarat harus punya uang yang aga banyak, kalau ga ada uang yah terpaksa ngutang dengan resiko jitakan mamah lagi. tak apalah jitakan kasih sayang seorang ibu agar anaknya tidak terbisa ngutang, namun maafkan aku mamah, ini keadaan kepepet, aku lapar banget gara-gara sebangku dengan fitri yang buat aku resah, kalau aku resah, aku kan suka laper dengan mode brutal.
Jadi kepikiran anak baru itu. kalau dilihat-lihat anak itu cantik juga, dengan  kacamata dan pita warna pinknya serta cara bicaranya yang unik, lembut tapi lantang. siapa yah namanya ?, eh kalau pikir-pikir tadi aku suruh dia duduk dengan fitri dan jangan-jangan dia akan diculik fitri, aku harus segera menyelamatkannya sebelum terlambatnya. ini semua salahku telah mengorbankan dia untuk menjadi sasaran baru fitri.
"fitri jangan culik dia, dia anak baik. biarlah aku saja yang menggantikan dia untukmu, bukannya dari awal kamu hanya ingin menculik aku".
Tersirat ingin berkata itu dengan lantang lalu dengan gagah menyelamatkan anak baru itu dan mengorbankan aku sebagai gantinya, mamah pasti bangga kalau aku melakukan itu. nampaknya apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan keadaan. fitri nampak ketakutan melihat anak baru itu.

“ Aku takut dengan orang berkacamata han, dulu aku pernah pake kacamata ayah. Orang-orang terlihat lebih besar ketika aku memakai kacamata itu, sejak itu aku takut dengan kacamata, serem banget pokoknya han”

“ kamu mah ada-ada aja, masa penculik takut dengan kacamata”

“ ada yang salah paham han. Pertama aku bukan penculik, dari tadi aku bilang gitu masa kamu ga yakin ? “

 “ abisnya kamu mirip banget dengan ciri-ciri seorang penculik yang sering mamah bilang ke aku. Eh ada yang salah juga. Namaku bukan johan, nama aku nychken gilang. Maaf tadi aku udah bohong ke kamu. Habisnya aku takut diculik sama kamu.

“ tadi nama kamu siapa ? susah banget nyebutnya, aku panggil gilang aja yah ? . lagian siapa yang mau nyulik kamu ga ada gunanya pula “

“ eh, eh dari tadi kalian ngomong apa sih, aku ga ngerti.Yang ini ngomong penculik, yang ini ngomong takut sama kacamata. Aku jadi bingung deh “ bentak anak baru dengan suara lembut-lembut lantangnya itu.

“ jadi gini fitri takut sama kamu karena kamu berkacama dan dulu tadi aku takut sama fitri karena fitri mirip penculik “.

“ kenapa kamu takut dengan kacamata fit, kacamata cuma alat bantu supaya  bisa melihat lebih jelas, kalau aku ga pake kacamata tulisan itu kelihatan kecil banget”

“ tapi pas aku pake kacamata, semua orang kok kelihatan besar ? “

“ wajarlah, itu kan mata kamu masih normal, jadi semua kelihatan jadi lebih besar “

“ oh begitu. kirain aku, kacamata itu ada hantunya, jadi bisa buat sesuatu kelihatan lebih besar, eh kita belum kenalan. Nama kamu siapa ? aku fitri. Rumahku samping jalan dekat tukang surabi “.

“ kamu lucu, namaku khansa “

“ aku juga mau kenalan dong, nama aku nychken gilang. Nama aku susahnya nyebutnya, jadi panggil aku apa aja, asalkan panggilannya kedengaran keren , hehe “

“ aku khansa, panggil nik aja deh, biar kaya kartun kesukaan aku di acara yang kaya nama kamu “

Tettttt, tettttttt, tetttt

“ iya deh gimana kamu aja, udah masuk tuh. Kamu duduk bareng fitri aja, biar aku yang dibelakang, kasihan mata kamu ga bisa lihat jelas kalau dibelakang. “

“ makasih, nik. Nanti aku kasih cimol deh, kamu suka cimol kan ? “.

“ eh, gilang, tapi kamu ga kasihan dengan mamah kamu, yang tadi aku lihat dengan susah payah mendapatkan bangku paling depan ini”.
“ oh iya, ga apa-apa kok nik, aku masih bisa lihat walau harus berdiri kalau duduk dibelakang juga. “.

“ tenang, tenang aja kawan. Paling aku Cuma digetok mamah doang kok, udah ah kebanyakan ngobrol nanti keburu ada bu guru lagi “.

            Sudah kebayang pas pulang kerumah pasti digetok mamah karena pindah bangku kebelakang. Aku harus siap terlanjur udah bilang begitu ke khansa, ga mungkin dong aku berubah pikiran.
Hari ini adalah hari pertama pulang sekolah, kata temen-temen lain saat pulang sekolah adalah saat yang indah berbagi cerita ke mamah , tentang apa-apa saja yang terjadi di sekolah, tapi bagiku pulang sekolah menjadi hal yang menegangkan harus berkata jujur kemamah bahwa aku tukar kursi dan harus duduk dibelakang.

“ assalamualaikum, mah aku pulang”.

“ walaikumsalam, gimana tadi sekolahnya ken “ . selidik mamah ingin tahu.

“ seru mah, aku punya 2 temen baru. Namanya fitri dan khansa, tapi khansa kasihan mah. Dia duduk paling belakang dan dia pake kacamata pula. Jadi aku tuker duduk sama khansa. Aku duduk paling belakang mah “ dengan sedikit takut akupun akhirnya bicara tentang itu.

“ kamu mah, suka macam-macam aja “. Intonasi tinggi dan tangan mengayun kedepan, seolah mamah mah menjitak aku. aku pasrah aja, tapi ternyata mamah mengusap-ngusap malah mengusap-ngusap rambut aku.

“ mamah bangga punya anak kaya kamu ken, mamah pilih bangku terdepan agar kamu bisa jelas melihat papan tulis, tapi ga apa-apa kok. Mamah ga marah. Berbagi kebaikan dengan hal terbaik yang kamu punya. Itu hebat “.
            Mamah selalu menjadi jenderal berdasterku, selalu mengerti semuanya tentang aku. Mamah memang jenderal berdasterku, dalam semua sikapnya yang tegas, memiliki hati lembut yang menjadi panutanku.


“ berbuatlah kebaikan dengan cara yang terbaik, maka akan ada suatu waktu. Dimana kebaikan itu akan kembali lagi padamu “

NN.GBS

Reactions:

0 comments: