Thursday, December 29, 2016

Pesan Mamah

Mamah pernah berkata, bahwa sebaik-baiknya lelaki bukan yang berotot raksasa. Bukan pula yang memakai dasi serta kemeja. Tapi lelaki yang mampu menghargai kaum hawa seperti menghargai ibunya.

Mamah pernah berkata, pantang bagi lelaki menyakiti kaum Hawa. Setiap manusia yang lahir ke dunia berkat perlindungan rahimnya. Begitu pula surga terletak di telapak kakinya. Menyakitinya sama hal menyakiti pencipta.

Mamah pernah berkata, jangan sakiti hati kaum Hawa sebab dia takkan mudah melupakan kesakitan yang engkau berikan. Hatinya sangat peka, di saat kau mencoba berdusta dia akan tahu sekalipun tak pernah melihatnya.

Mamah pernah berkata, jika kelak kau punya seorang istri. Jangan biarkan airmatanya jatuh ke pipi, karena itu merupakan simbol kegagalan seorang lelaki.

Wednesday, December 28, 2016

Goresan Hitam

Berbagai kisah mewarnai kehidupan manusia selama hidup di dunia, pencapaian luarbiasa hingga kisah kelam penuh darah pernah terjadi. Salah satu catatan hitam ialah Genosida.

Istilah genosida atau pembunuhan massal terus terjadi hingga kini.Tetangga Indonesia, Kamboja pada tahun 1975-1978 pernah menggoreskan kisah kelam genosida. Pelaku utamanya ialah Khmer merah, 2 juta jiwa melayang. Di benua Eropa tepatnya Jerman, pada tahun 1939-1945 dilakukan genosida oleh Nazi dengan puncak pimpinan Adolf Hilter, diperkiraan 11 juta Yahudi jadi korban atas kekejamannya.

Tak kalah sadis yang terjadi di Tiongkok, Revolusi budaya yang dipelopori Mao Zedong memangsa 45-70 juta nyawa. Peristiwa itu menjadi catatan kelam di tahun 1966-1976. Di tanah air, Indonesia. Seolah tak mau kalah mencatatkan peristiwa genosida dengan jumlah korban luarbiasa. Hampir setengah juta warga menjadi korban. Dugaan anggota PKI melatarbelakangi peristiwa ini.

Genosida tak lekang oleh zaman. Banyak yang menduga genosida tengah berlangsung di Korea utara kini. Di belahan bumi lain seperti Gaza dan Aleppo, tengah terjadi perang yang berujung pada kejadian serupa, pemusnahan massal manusia.

Perebutan kekuasaan, politik serta gesekan agama menjadi percikan api paling panas untuk menyulut genosida. Nyawa manusia ibarat sampah yang dengan mudahnya dikorbankan untuk mencapai tujuan tertentu. Kedamaian yang disuarakan sejak dulu hanya menjadi wacana dalam kepala.

Nafsu meniadakan sifat lahiriah manusia. Sejatinya hati nurani menjadi benteng paling kokoh untuk meniadakan alasan menyakiti oranglain. Namun kesalahan di masa lalu tak cukup ampuh untuk menekan nafsu membunuh. Kejadian pembunuhan sadis di Pulomas menjadi goresan lain bahwa ketika manusia kehilangan rasa sayang, ia mampu berubah menjadi sesuatu yang lebih kejam dari binatang.

Sunday, December 25, 2016

Kepingan Rasa

Orang-orang sedang sibuk dengan seragam putih abu disertai dasi dan topi berwarna senada. Mereka berkejaran dengan waktu, karena jika kalah adalah sebuah musibah. Sebelum lagu Indonesia raya berkumandang mereka berupaya sudah berbaris rapi menghadap sang merah putih.

Di saat yang sama aku masih berkutat dengan mimpi. Kata orang mimpi adalah awal kesuksesan. Tak ada salahnya berkutat lama-lama dengan mimpi.

"Gilaaaaaaaaang bangun. Kamu mau sekolah nggak ? " Seru perempuan yang menenteng sapu. Siap memukulku kapan saja.

Namaku Gilang, huruf "A"nya hanya satu tidak seperti yang mamahku ucapkan tadi. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Keluargaku cukup bahagia. Kenapa cukup ? karena yang berlebihan itu tidak baik. Mamah selalu berteriak setiap pagi. Hal itu sudah seperti siklus dalam hidupnya. Mamah selalu berkilah itu semua karena aku malas bangun untuk pergi sekolah.

Sejujurnya aku tidak malas sekolah. Hanya saja di sekolah tidak ada hal yang membuatku bersemangat kecuali bunyi bel istirahat dan pulang. Meskipun tidak bersemangat sekolah aku akan tetap memaksakan diri. Tak mau dikutuk sebagai anak durhaka yang menentang perintah orangtua. Tidak lucu juga kalau aku jadi cerita pengantar tidur untuk menakut-nakuti anak yang malas sekolah.

Dengan keadaan belum mandi, aku memaksakan diri pergi ke sekolah meskipun sudah tahu akan telat. Bukankah lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Di tengah perjalanan bertemu teman lama yang satu profesi dalam segi bolos-membolos. Dia nampak sedang mengobrol di sebuah warung yang secara tidak resmi menjadi tempat nongkrong anak-anak satu ideologi.

"Lang, kamu bolos juga ?"

"Engga dong. Aku baru mau pergi sekolah."

"Yang bener aja. Jam pelajaran kedua udah mulai. Kamu baru datang."

"Biar aja Jhon, lebih baik telat daripada tidak sama sekali. " Aku menampilkan senyuman terbaik kemudian dibalas dengan tatapan aneh dari Jhon.

Jhon adalah teman satu kelasku. Dia terkenal karena dua hal. Yang pertama karena badannya yang tinggi. Yang kedua atas prestasinya sebagai siswa paling sering dipanggil guru BP. Bahkan dia pernah dipanggil 3 kali sehari persis seperti makan obat. Oh yah, nama aslinya bukan Jhon tapi Asep Suparlan, nama khas sunda. Dia ingin dipanggil Jhon agar terlihat seperti keturunan bule. Sekalipun dari struktur wajahnya kurang mendukung.

Aku melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Baru beberapa langkah kaki, disebrang jalan aku melihat Romeo sedang berbincang dengan penjaga apotek. Aku mendekati sekadar menyapa.

"Hai Rom, kamu sedang apa di sini ? "

"Beli obat untuk ibu ?"

"Kamu ngga sekolah ? "

"Engga Lang, aku lagi jagain Ibu. Kamu ngga sekolah juga ? "

"Ini mau loh. Akukan rajin sekalipun telat."

"Ini bukan telat Lang tapi..." Tiba-tiba suara seorang perempuan penjaga apotek menyela.

"Jadi mau beli ngga nih obat ?"

"Mau teh, tapi uang saya kurang."

Aku langsung mengambil uang di saku dan memberikan kepada Romi lalu berkata

"Ambil aja kembaliannya Rom. Aku jalan kaki aja ke sekolah."

Romi mematung sembari tersenyum dan berucap terimakasih sambil berteriak

"Lang, uangnya masih kurang."

Romeo adalah sahabat baikku selain Jhon. Dia paling pintar diantara kami bertiga. Jika aku dan Jhon mendapatkan nilai 3 pada ulangan matematika maka Romeo selalu dapat lebih tinggi yaitu 3,5. Aku pernah bertanya kenapa namanya Romeo. Dia bercerita bahwa Ayahnya penggemar karya William Shakespeare. Ayahnya berharap dia menjadi sejantan Romeo yang akan melakukan apapun untuk orang yang dicinta. Nyatanya benar, Dia rela menggantikanku dihukum hormat bendera. Di saat aku pura-pura pingsan padahal melipir ke kantin jajan es kelapa. Romeo, kau lelaki jantan.

Beberapa menit berlalu akhirnya sampai di sekolah. Ratusan siswa nampak menenteng tas namun berjalan berlawanan arah denganku.

"Pak Satpam ini kok udah pada pulang lagi ?"

"Memang ini sudah waktunya pulang. Belajar hanya setengah hari. Guru-guru sedang rapat."

"Ah sayang sekali. Padahal aku sedang semangat sekolah."

"Semangat apa ? kamu datang di saat orang lain pulang."

"Yaudah aku ikut pulang deh."

"Budak lieur."

Aku memutuskan kembali ke rumah dan berharap esok akan menjadi hari yang menyenangkan di sekolah.

Wednesday, December 21, 2016

Ingkar

Kamu paling ahli menitipkan perih di hati. Ada sesaat lalu pergi tak mengenal kembali.
Cinta bukan seperti bola yang bisa dengan mudahnya kau tendang jauh, lalu dibiarkan sendiri berteman dengan segala bentuk sepi.

Jika Tuhan mengijikan kita berbagi rasa, tentu kau akan paham dengan luka yang ada. Sering kali aku memegang dada, memang tak ada darah. namun perih ini nyata bukan cerita fiksi yang kebanyakan berakhir bahagia.

Kau berhak memilih pergi jika sudah tak lagi nyaman denganku, tapi bukan seperti ini caranya. Kau hilang laksana senja, begitu tiba-tiba. Aku belum sempat menata hati, menyiapkan diri di saat engkau pergi.

Seharusnya kau tak memberikan harapan itu. Aku mengira rasa ini memiliki getaran yang sama. Kau nampak memberikan percikan cinta di setiap pertemuan kita. Hingga aku memberanikan diri untuk mengikat perasaan ini.

Aku tak pernah bermain-main dengan cinta. Bila di suatu hari menemukan gadis yang disuka, sepenuh hati akan menjadikannya seorang istri. Aku datang bersama kedua orangtua, berniat menjadikanmu bagian dari keluarga. Kau menganggukan kepala pertanda setuju dengan semua rencana kita.

Keluarga kita mencari tanggal paling baik menurut mereka. Tanggal itu kelak menjadi saksi sejarah dalam babak baru kisah kita. Kau juga tak kalah sibuk memilih desain undangan paling menarik untuk mengabarkan berita bahagia ke seluruh orang yang kita kenal.

Aku sempat bercanda,

"Apakah kau akan mengundang seluruh mantanmu ?"

"Tentu," Kau jawab dengan lugas sembari mengguratkan senyum.

"Tentu aku akan mengundang mereka. Agar mereka iri."

"Iri karena kau menikah dengan seorang pangeran tampan nan rupawan seperti aku kan ?"

Kau menjawab dengan cubitan pelan di pipi. Saat itu akan ingin sekali memerintahkan waktu untuk berhenti.

Apa daya semua hal yang telah kita rancang berakhir percuma. Dia membawamu pergi dan tak pernah bisa kembali. Kenapa kau tega pergi dengannya, di saat cintaku tumbuh begitu lebat. Kau mengkhianati segala rasa yang kupunya. Bukankah dulu kau pernah berjanji hanya mau menjadi istriku.

KINI KAU INGKAR !!!

Kau lebih patuh kepada maut. Aku diduakan oleh kematian. Sekarang hanya bisa mencium nisan yang bertuliskan namamu.








Memang hakmu untuk memilih pergi

Monday, December 19, 2016

Sudut Ketiga

Sekarang tepat pukul 12 malam. Tidur belum berani menyapa. Ia masih asik berkelana dalam khayalku. Sudah beberapa kali berusaha menghitung domba dalam lamunan namun tidur belum juga menjadi kenyataan. Mencoba cara yang lebih islami, dengan melantunkan ayat suci, tapi bayangan gadis berkacamata itu menari dalam setiap ayat yang kubaca. Ah, apakah aku positif gila ?

Aku masih membayangkan senyummu di saat menanti rintik hujan. Entah kenapa kau begitu ahli menyamar menjadi bidadari. Tawamu hadir ketika ku mencoba menjadi stand comedy amatir. Senyum itu ada ketika ku berkata

"Mungkin bidadari di langit sana akan iri jika melihat kita saat ini."

Segera kau bertanya kenapa

"Mereka iri melihatmu bersama pangeran tertampan di alam mimpi."

Cubitan brutal melayang di pipiku.


**

Dia sering memanggilku gadis berkacamata. Tentu aku tahu alasannya, dua lensa ini selalu menemaniku. Ia berfungsi untuk melihat sesuatu agar lebih jelas, termasuk melihat ketulusan cinta kamu dan dia. Setiap kali bertemu dengannya selalu ada gelak tawa. Andai dia ikut kompetisi standup comedy. Aku yakin dia akan jadi juara pertama, kalau pun tidak dia tetap urutan pertama yang mampu membuatku tertawa.

Dia seorang pria yang sangat percaya diri. Sering kali menyebut dirinya sendiri sebagai sosok pangeran alam mimpi. Dia merasa paling tampan di dalam mimpinya. Aku tertawa, langka bertemu sosok pria seperti dia. Suatu waktu aku menunggu hujan reda bersamanya. Dia bercerita banyak hal. Saat itu aku pertama kalinya berharap hujan jangan dulu reda. Apakah aku jatuh cinta ?
Sulit memastikan, ada sosok lain yang sudah ditentukan.

***

Dari kejauhan aku melihat seorang lelaki dan perempuan sedang berbincang-bincang. Mereka begitu asyik melempar tawa. Aku berada dalam dua rasa, sedih dan bahagia. Bahagia karena seseorang yang nantinya akan menjadi istriku sedang tertawa di seberang sana. Sedih karena tawa itu bukan berasal dari diriku. Aku menyimpulkan bahwa mereka nampaknya saling cinta. Jujur aku tak mau menjadi benteng penghalang cinta mereka. Tapi aku juga tak punya kekuatan untuk menahan segala kesakitan.

Haruskah aku memilih mengikhlaskan ?

Saturday, December 17, 2016

Mampukah Kita ?

Indonesia kini hampir sama dengan Portugal di piala Eropa 2016. Ronaldo Cs tertatih-tatih di penyisihan grup bahkan lolos babak selanjutnya hanya faktor perubahan sistem perbandingan. Setelahnya Portugal menggila hingga masuk final melawan tuan rumah Perancis. Perjuangan Portugal ditutup manis dengan gelar juara untuk pertama kalinya.

Sang garuda bernasib hampir serupa. Tampil kurang gairah di babak awal namun melesat hingga final. Kini Indonesia bertarung di kandang Thailand. Jika kerja keras tanpa kenal lelah dilakukan, bukan tak mungkin Indonesia menjelma Portugal.

Tuhan, semoga Engkau tak keberatan memberi hiburan untuk negaraku. Ditengah situasi politik tak menentu.

Friday, December 16, 2016

Rintik Kala Itu

Andai manusia mampu hentikan waktu
Aku berharap rintik itu abadi
Menunggu reda bersama
Berbagi segala jenis cerita

Saat itu kau tertawa
mendengar cerita paus raksasa
yang mampu terbang di angkasa

Aku kagum dengan ciptaan Tuhan berwujud kamu
Senyumnya saja mampu bertahan belasan bulan di kepala


Sayang rintik itu sudah reda
tawamu ditikam waktu
kita harus berpisah
berjalan ke masing-masing arah

Aku kembali menjalani hidup yang sepi

Thursday, December 15, 2016

Mahasiswa Di Bawah Garis Kejombloan

Sulit mendapatkan dia. Perlu usaha ekstra keras untuk meluluhkan hatinya. Wajar saja, dari segi fisik aku jauh dari rupawan. Kelebihanku cuma hidung yang aerodinamis hanya memerlukan sedikit udara untuk hidup, itu kata halus untuk menyatakan pesek.

Berbicara mengenai harta, sulit diungkapkan lewat kata-kata. Aku makan sehari dua kali dengan nasi setengah porsi + bumbu daging. Kenapa bumbu daging ? karena itu gratis. Hanya perlu menghilangkan rasa malu disertai sedikit mengiba kepada Ibu Warteg.

Mengena IPK, aku termasuk mahasiswa paling konsisten dengan Indeks prestasi di bawah dua koma. Seolah nilai A adalah kemustahilan bagiku. Tiada alasan bagi dia untuk menyukai diri ini sekalipun dengan bantuan pelet dukun tingkat internasional.

Perempuan yang kusuka mahasiswa berprestasi tingkat provinsi. Wajahnya membuat pria enggan mengedipkan mata. Anak tunggal dari pemilik perusahaan terkemuka. Berjiwa humanis tinggi. Idaman semua lelaki untuk dijadikan istri. Dia seperti sisi lain dari diriku.

Suatu hari entah keajaiban datang darimana. Dia menepuk pundakku yang sedari tadi tertidur selama perkuliahan.

"Lang, yuk pulang ? anak-anak udah pada cabut dari tadi,"

Aku tertegun. Apakah diri ini sudah mati lalu masuk surga. Kenapa ada bidadari di depanku.

"Apakah aku sudah mati ? ini surga ?" Sembari berteriak.

"Kamu bukan mati, dari tadi tidur. Ini masih di kelas Lang. "

"Masa sih, aku masih ngantuk deh."

"Jangan tidur terus ini udah sore. Mendingan anterin aku pulang. Nggak ada temen nih."

Serasa dapat undian lotre. Airin mengajak pulang bersama kepada seorang pria itu peristiwa langka. Pernah ada gosip, seorang anak penjabat eksekutif mengajaknya pulang memakai Lamborgini, dia menolak. Sekarang kembang kampus itu mengikhlaskan diri untuk menaiki motor butut. Saking tuanya motorku mungkin ia diproduksi oleh kerajaan Majapahit.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang berbagai hal. Berbicara panjang lebar dengannya aku dapat menyimpulkan bahwa di balik semua kelebihan yang dia punya, Airin termasuk gadis ramah dan enak diajak ngobrol. Di ujung pembicaraan Airin mengajakku bergabung dengan dia untuk mengerjakan proyek penelitian. Tentu aku terkejut, mahasiswa yang sebagian besar kuliahnya dihabiskan dengan tidur siang bekerja sama dengan mahasiswa cantik, pintar nan berprestasi.

Wajahnya yang teduh tak mungkin bisa aku tolak. Dengan segala kegilaan yang kupunya untuk berapa minggu kedepan aku dan Airin akan selalu bersama. Meneliti pengelolaan home industri di suatu desa. Selama penelitian itu Airin menunjukan kapasitasnya sebagai gadis cerdas. Dia mampu merangkul masyarakat yang masih buta tentang keilmuan wirausaha. Peranku di sana hanya sebagai asisten sekaligus tukang ojeg bagi Airin.

Tak hanya masyarakat yang mengerti dengan penjelasannya. Akupun sama. Dia mahir sekali menjelaskan konsep rumit dengan bahasa sederhana. Mataku yang terbiasa ngantuk ketika kuliah berubah 180 derajat. Aku mampu menangkap inti dari penelitian yang kami berdua lakukan.

Di hari terakhir penelitian, aku berencana 
menyatakan cinta kepada Airin. Memang ini ide gila namun tetap harus dicoba. Aku rasa Airin juga suka dengan aku. Dia tak pernah lupa mengingatkanku membaca buku dan belajar. Kata-kata manis itu cukup menjadi landasanku untuk mengungkapkan perasaan, siapa tahu berbalas.

"Airin, aku boleh bicara ?"

"Itu bukan udah bicara, Lang ?"

"Bukan bicara itu."

" Lalu bicara apa ? Kamu mau bicara bahasa hewan ? "

"Iya, petok petok. Eh kenapa aku jadi ayam."

"Haha kamu lucu Lang. Yaudah serius. Kamu mau bicara tentang apa ?"

"Langsung saja yah Airin. Sejujurnya aku suka kamu. Aku ingin nanti kamu jadi istriku. Aku janji rela bekerja 24 jam agar bedak dan segala kosmetik yang kamu gunakan mampu aku belikan. Aku janji akan buatmu bahagia."

"Lang, kalau boleh jujur aku juga suka kamu..."

"Beneran Airin."

"Benar Lang, suka melihat semangatmu dengan proyek ini. Seperti yang diminta wali dosen kita. Agar aku berusaha menumbuhkan semangat belajar kamu. Karena kalau semester ini IPKmu di bawah dua koma terpaksa harus drop out. Aku nggak tega."

"Airin cara kamu itu jahat. Kau berikan harapan begitu tinggi namun dijatuhkan ke dasar bumi. Airin aku mengundurkan diri dari proyek ini."

"Kamu mau kemana Lang ? "

"Mau pulanglah, eh tapi aku minta ongkos deh. nggak punya uang untuk bayar angkot."

Monday, December 12, 2016

Tenda Biru

Janur kuning tampak gagah berdiri. Ia lebih tegak dari anak paskibra yang sedang latihan upacara bendera. Entah sejak kapan simbol ikatan cinta itu berdiri. Sedari tadi aku tertidur, bermimpi makan satai kemudian ngantuk kekenyangan. Aku bermimpi tidur. Aneh memang. Seaneh janur kuning di depan rumahku.

Janur itu ada seperti tukang parkir di minimarket. Di saat memulai parkir tiada, kala pulang meminta dua lembar kertas pattimura. Zaman sekarang banyak hal gaib seperti itu termasuk dengan benda ajaib di depanku. Aku tak tahu siapa yang menikah, tak ada undangan, tak pemberitahuan. Yang ada hanya janur kuning dan tenda biru.

Tenda biru itu bukan tenda pramuka. Tak ada kemping di depan rumahku. Mana mungkin anak pramuka mau tidur di samping kandang ayam. Aku sempat curiga, tenda biru dan janur kuning di depan rumah ialah sabotase mamahku untuk memotivasi anaknya agar segera nikah.

Mamah paling hobby menyuruh nikah. normalnya seorang ibu di pagi hari akan menanyakan sudah sarapan atau belum. Tapi beda dengan mamah, dia akan bertanya mau nikah kapan ?
Mamah punya alasan semakin kamu menundah nikah semakin mahal biayanya apalagi nikah dengan hiburan dangdut itu mahal.

Aku mencari mamah di setiap sudut rumah. Di atas loteng tak ada, di dapur juga sama. Di bawah tempat tidur nihil. Di dalam lemari apalagi. Kemana mamah ? apakah dia pergi karena rasa malu anaknya belum nikah di usia kepala tiga. Aku merasa berdosa.
Ingat film zaman dulu yang berbicara azab tentang anak durhaka. Aku tak mau dikutuk jadi batu apalagi batu akik.

Ternyata mamah sedang bersembunyi di balik pintu. Dia ketakutan melihat film hantu yang seolah-olah akan keluar dari TV.

"Mah, tenang TVnya aku matikan. Jadi hantunya nggak mungkin muncul."

"Syukurlah Lang, mamah takut hantu itu mencekik."

"Yaelah Mah. Itu cuman bohongan."

"Tetap saja menakutkan."

"Eh, Mah di depan siapa sih yang nikah."

"Masa kamu nggak tahu, yang mau nikah mantanmu."

"Masa ? mantan yang mana ?"

"Sombong banget. mantan kamu kan cuma satu itupun dia khilaf ketika nerima. Itu Dewi. Dia nikah dengan pengusaha sapi."

Aku bergegas memakai baju terbaik. Tak lupa mengolesi rambut dengan gel. Kutatap kaca. Sudah cukup rapi. Setibanya di sana, Aku makan sepuasnya. Melepaskan segala bentuk kesal dengan melahap apapun. Setelah itu menyerahkan amplop berisikan tulisan dan selembar uang pattimura sisa parkir. Surat itu berisi kalimat :

"Selamat atas pernikahanmu. Tapi tolong undanglah aku. Jangan sampai hanya tenda biru yang memberitahu. Aku hanya lelaki yang ingin tahu kau bahagia. Jadi tolong rekam malam pertamamu. Biar aku menjadi saksi setiap kebahagianmu. Di amplop ini juga ada uang seribu. Sebagai upah kerelaanmu merekam. Jangan dinilai dari nominalnya. Setidaknya dengan uang itu kamu bisa bayar parkir ilegal di minimarket"

Thursday, December 8, 2016

Langit Mata

Sudah sejak lama kehilangan semangat untuk tidur. Mata lupa akan tugasnya untuk memejamkan kelopak. Ia terjaga sepanjang waktu, mengenang berbagai hal termasuk masa lalu.

Di kehidupan terdahulu aku menjelma menjadi pengagummu, terpana dengan segala pesona cantiknya. Seperti Isaac Newton yang dijejali rasa ingin tahu kenapa apel jatuh ke bawah, dari hal itu hukum Newton pertama lahir. Aku pun melahirkan hukum cinta. Semakin jauh darimu semakin besar gaya untuk merindu.

Mata masih terjaga. Ia tetap amnesia dengan tugasnya. Kali ini ia menerawang jauh ke masa yang lain. Saat itu aku menghubungi seseorang, bertanya tentang persiapan momen bahagia. Dia menjawab dengan semangat. Pernikahan kita hanya menunggu hitungan waktu.

Mata masih dengan keadaan yang sama. Kali ini di langit-langitnya jatuh bulir-bulir bening bernama airmata. Kembali menjelajahi masa lalu. Ucapan penghulu menyatakan aku dan dirinya sah sebagai pasangan baru. Rona bahagia terpancar di wajahmu. Saat itu aku ingin sekali menghentikan waktu agar bahagia kita abadi.

Hujan di langit-langit mata semakin deras. Ia terpacu kenangan memilukan. Aku ingat ketika memberikanmu bunga, namun engkau tak berkata apapun. Bunga itu aku berikan di tempat terakhirmu.

Wednesday, December 7, 2016

Salah Pesan

Sudah tiga tahun hubungan ini terjalin. Suka dan duka mewarnai, bahkan beberapa kejadian berakhir memilukan. Seperti saat itu, aku berniat memberikan kejutan dengan mengajaknya ke restoran mewah. Memesan makanan dengan nama yang sulit kuucapkan.

"Mba, aku pesan menu ini untuk dua porsi. Jangan terlalu banyak esnya," Pelayan itu melongok kemudian mengangguk pelan.

"Aa Gilang, pesan apa ?" Tanya seseorang perempuan berjilbab pink di sebelahku.

"Pesan es krim yang terbuat dari bahan terpilih, pokoknya seger deh."

"Kalau gitu aku suka banget A. Makasih yah udah ngajak ade ke tempat yang mewah banget gini," Sembari tersenyum.

"Apa sih yang engga buat Ade. Cinta selalu perlu pengorbanan De. Zaman dulu aja ada yang permintaannya buat candi. Ade sih enteng cuma pengen es,"

Dia tersipu malu ditandai dengan pipinya yang mulai memerah. Memang ini kali pertama aku dan dirinya makan di restoran mewah. Biasanya hanya di tukang siomay pinggir jalam. Aku berjuang keras menabung untuk saat itu.

"Ade, sebentar lagi esnya datang."

"Iya A. Ade udah ngga sabar makan es. Terakhir kali makan es batu campur susu."

"Eh, itu nggak keras De gigit es batu ?

"Engga A. Es batunya udah ade jemur biar lunak," Aku berpikir keras dengan kekasihku yang pemikirannya sedikit istimewa.

Makananpun datang. Dengan tata letak begitu mewah. Kekasihku sudah tak sabar dengan hidangan spesial. Sedetik kemudian dia buka. Tanpa kuduga dia berteriak histeris kemudian berlari.

"Kenapa sayang ? "

"Aa jahat," Dia berlari meninggalkan aku.

Kubuka hidangan itu. Tersaji beberapa keong dengan bentuk aneh.

"Mba, kok saya pesan es malah dikasih keong ?

"Dicatatan saya, Anda pesan Escargot untuk dua porsi, ini benar escargot."

"Escargot kok keong sih. Kirai es spesial gitu."

"Coba Anda buka google lalu cari escargot."

Benar saja yang muncul adalah keong. Beberapa menit kemudian masuk pesan singkat dari kekasihku.

"A2, Aqyu maoe ptuz Aj4 4h. A2 3m4n9 74h4t. M454 aqyu d'K4sih K3On9."

Wednesday, November 30, 2016

Sosok Ketiga

Tak ada yang mampu bertahan dalam kerinduan. Sekuat apapun aku mencoba akhirnya pertahanan ini jebol juga. Aku lelaki biasa jauh dari Adam yang mampu bertahan ratusan tahun tanpa belahan jiwa bernama Hawa.

Di pernikahan kita dulu. Aku berjanji takkan pernah mendua. Menyerahkan cinta hanya untukmu saja. Begitupun dengan engkau. Wajahmu berseri kala itu, seakan setuju dengan segala janji setia yang kita ikrarkan bersama. Namun semua itu tak mampu bertahan lama.

Entah sejak kapan, diri ini setengah gila karena engkau. Dirimu ibarat candu membuatku ketagihan untuk selalu bertemu. Namun ia menjadi tembok paling kokoh penghalang segala jenis rindu. Ia menjadi sosok ketiga, perusak hubungan kita.

Hidupku hancur ketika kau memutuskan untuk membagi cinta dengan ia. Sekalipun berulang kali kau mengucapkan alasan kenapa rela membagi cinta. dilubuk hatiku tak pernah bisa menerima. Aku lelaki egois yang tak mau diberi cinta setengah rasa.

Engkau tetap bersikukuh membagi perhatian. lelaki mana yang rela dibagi rasa sayangnya. Kau memang tega mengingkari janji setia yang pernah kita ucapkan bersama.

Sekarang aku dibutakan oleh cinta. Ingin menghabisi segala hal penghalang antara kita. Pisau telah aku asah menunjukan sudut kilaunya. Aku rasa jika sudut tajam itu menggores lehernya, ia akan mati seketika. Aku tak banyak berpikir segera bergegas pergi. Didalam hati berkata "Malaikat mautmu akan segera tiba."

Bercak darah menghiasi tanganku. Aku puas telah menghabisi ia. Butuh tenaga memang untuk melupuhkannya. Beberapa kali ia melawan namun tetap saja berhasil aku lumpuhkan. Tenagaku terkuras habis, rasa lapar hadir.

Di saat aku sedang makan. Istriku berteriak histeris. Nampaknya dia sudah tahu perbuatanku.

"Ayah tega, Ia sangatku sayang namun ayah bunuh begitu saja."

"Sudah ah jangan sedih nanti Ayah belikan lagi yang kecil. Tapi jangan campakan aku karena keasyikan mengurusinya."

"Ayah janji yah. Ibu pengen beli yang warna-warni."

"Siap ayah belikan sepuluh ekor," Berkata sembari mengigit daging paha.

Akhirnya keluargaku kembali ceria tanpa sosoknya.

Tuesday, November 29, 2016

Rindu

Rindu itu kejam, jenderal
Ia tak kenal siapa
Ia tak tahu apa

Ada laksana jelangkung
Datang entah darimana
Pergi meninggalkan sesak di dada

Memang benar
hanya orang kuat yang mampu bertahan dalam terpaan kerinduan

Sunday, November 27, 2016

Pink

Aku berada dalam suatu rumah besar. Penghuninya berasal dari berbagai latarbelakang. Mahasiswa, guru, pekerja bahkan ada pula yang aktivitasnya galau saja seperti aku contohnya. Kedipkan mata.

Perbedaan inilah yang memberikan warna cantik bagi setiap penghuninya. Tujuan kami sebenarnya sama menghiaskan setiap sudut rumah dengan berbagai warna kesukaan. Warna kesukaanku ungu. Sssst tunggu dulu bukan warna jomblo loh. Ungu itu keren karena terong aja warna ungu. Ngomong apa sih kamu. Pokoknya ungu keren.

Setiap penghuni rumah mengecat ruangannya dengan warna kesukaannya. Ada yang biru, hijau bahkan pink. Di suatu hari si pink mengecat temboknya dengan cara berbeda. Di tepi-tepi sudutnya banyak cela yang belum tercat. Tibalah si merah yang mengamati tingkah pola si pink. Dia bertanya kenapa mewarnainya acak-acakan. Dia memberikan tips untuk mengecat dengan cara yang benar.

Si pink menolak, dia tak mau ada yang ikut campur tangan di dinding yang dia warnai. Dengan alasan semua itu privasinya. Si merah tampak pasrah, dia beranjak pergi. Di suatu hari dinding yang diwarnai si pink telah kering. Namun dia kecewa dengan hasilnya. Dia melirik karya teman-temannya lain yang begitu indah. Seketika dia marah, tak ada yang memberitahu cara mengecat dinding yang baik.

Si merah berkata bukankah dulu dia pernah memberi tahu. Si pink bersikukuh bahwa itu hanya alasan si merah. Dia merasa si merah hanya iri terhadap dirinya saja. Akhirnya si pink pergi dari rumah itu. Di suatu tempat si pink nampak sedih, kini warna yang ia punya semakin memudar.

Saturday, November 26, 2016

Pencuri

Pukul 4 subuh tempat ini sudah ramai oleh ribuan orang dengan tujuan berbeda di kepala mereka. Sebagian besar ingin berniaga, sebagian lagi memanfaatkan celah keramaian untuk memuluskan perbuatan tercela. Aku berada di kubu negatif, sebagai pencuri kecil.

Selama karirku sebagai pencuri, aku mengharamkan diri untuk mencuri uang. Meski kutahu segala bentuk pencurian itu haram. Aku tidak mau mencuri uang, tepatnya tidak mau disamakan dengan para koruptor, mencuri uang rakyat hingga banyak orang sepertiku lahir.

Aku tidak punya orangtua. Ibu meregang nyawa di tangan bapakku yang doyan berjudi. Saat itu bapakku kalut karena kalah taruhan sehingga rumah harus direlakan. Ibuku tak terima, terjadi pertengkaran hebat. Hingga berujung pisau belati tertancap di rusuk ibuku.

Aku kaget melihat ibu tergelak penuh darah, bergegas membawanya ke rumah sakit. Nasib memang tak selalu baik, ibuku meregang nyawa setelah ditolak rumah sakit dengan alasan ruang UGD penuh. Kalau tidak ada koruptor mungkin saja ayahku tidak berjudi karena tersedianya lapangan kerja, kalau tidak karena koruptor telah dibangun rumah sakit lain untuk merawat ibuku.

Sehari berselang dari kejadian itu ayahku ditangkap. Tidak punya orangtua serta tempat berteduh mengajarkanku satu hal, tiada yang abadi di dunia ini. Begitupun keadaan ini, aku tak mau selamanya jadi pencuri. Sejujurnya terpaksa melakukan ini hanya sekadar memenuhi isi perut saja.

Sebagai pencuri tentu punya incaran favorit, air lahang yang terbuat dari perasan tebu menjadi barang curian paling aku suka. Kue putu berada diurutan kedua. Setelahnya combro dan cireng berada diurutan ketiga. Aku suka sekali mencuri makanan dan minuman khas Sunda.

Kenapa aku suka mencuri kudapan itu tentu ada alasannya, ibuku adalah penjual gula dan gorengan khas Sunda. Barang tentu selalu berurusan dengan tebu, air tebu dan gorengan khas Sunda seperti combro dan cireng meningatkanku kepada sosok Ibu. Tentu dia sedih melihatku menjadi pencuri.

Selama karirku sebagi pencuri, belum sekalipun aku tertangkap. Teman-teman sesama pencuri menjulukiku si gesit. Bergerak bagai ninja yang tak terlihat. Namun hari itu aku apes, gorengan dan air halang yang ku sembunyikan dibalik baju tumpah semuanya. Kakiku tersandung. Belasan orang menatapku dengan sinis, beberapa mengepalkan tangan bersiap menghantam tubuhku.

Berkali-kali pukulan membuatku merintih, sebelum bertambah sakit ada seorang bapak-bapak menengahi. Dia adalah pemilik kedai yang kucuri. Bapakku itu berhasil menyuruh orang-orang untuk segera pergi. Dia bertanya tentang alasanku mencuri. Tentu aku bercerita kejadian pedih yang menimpaku. Bapak itu memberikanku uang bergambar proklamator negeri ini. Nampaknya dia iba.

Aku bersikeras tak mampu menerima uang pemberiannya, namun aku kalah setelah dia mengancam akan melaporkan ke polisi jika aku tak mau menerima uang pemberiannya. Uang merah berpindah tangan. Bapak itu tersenyum kemudian berkata

"Jangan tak enak hati, uang itu pinjaman kalau kau sudah sukses nanti tolong kembalikan." Dia tertawa dengan candaanya sendiri tapi tidak dengan aku. Kata-katanya cambuk sekaligus doa.

Puluhan tahun berselang, ternyata nasibku tak berubah masih saja sebagai pencuri.
Mencuri hati pelanggan agar membeli makanan daganganku. Lahang dan gorengan khas sunda beralih wujud dengan kemasan menarik. Ternyata tak semua kegiatan mencuri itu tercela, aku sekarang sudah menjadi pencuri positif. Jajanan khas Sunda buatanku sudah berkeliling dunia. Satu lagi terlupa, uang yang diberikannya sudah sejak lama dikembalikan. Tapi tetap saja bapak itu aku curi, kali ini mencuri hati anaknya. Iya aku adalah penerus usahanya sekaligus menantunya kini.

Friday, November 25, 2016

Simbol Setia

Aku buta
tak mampu melihat arti bahagia
aku tuli
tak bisa mendengar suara bidadari
bahkan aku bisu
tidak kuasa mengucap rindu

Aku lelaki tuna daksa
tidak mampu berbuat apa-apa
aku lelaki kurang ilmu
tak tahu makna dibalik senyummu

Namun itu dulu
aku berusaha mengenalmu
lewat buku yang kupegang kini
ini buku pertama yang mampu aku baca tuntas dari awal hingga akhir kata

Buku yang sama dengan yang kau punya
buku simbol setia

Tuesday, November 22, 2016

Seni Dalam Membenci

Suka dan benci hanya terhalang benang tipis
Ia jelma air dan minyak
dekat namun tak bisa menyatu

dulu aku menatapmu dengan merona
terpesona dengan cara Tuhan melukis wajahmu

Sekarang rasa itu menjadi buih
Ia menyusut menjelma benci
tak suka segala tentangmu
termasuk sekadar berbagi udara

Aku menyesali masa lalu
kenapa rasa suka tumbuh begitu liar
sehingga mata tak tahu siapa yang benar

Tak peka terhadap berbagai keadaan
bahkan ketika dia mulai berbagi rasa

Kini aku belajar seni dalam membenci
Suka, jangan berlebihan
benci tak boleh keterlaluan

Monday, November 21, 2016

Sebatas Abu

Aku berada di sebuah tempat sempit
tidurpun harus berhimpit
berjajar saling menindih
ini lebih dari sekadar sedih

Aku tak pernah berbicara
dengan penghuni ruangan yang sama
mereka sibuk dengan urusan masing-masing
Ah, aku jengah dan pusing

Ingin rasanya pergi dari ruangan ini
bosan dengan mereka yang diam saja
namun ku tak bisa bergerak
tak punya kaki dan tangan hanya sebatas badan

Satu per satu temanku hilang
lambat laun mereka jadi abu
sekarang tibalah giliranku
tubuh ini bergetar pertanda gentar

Sosok besar memegangku dengan kasar
Kepalaku terbakar bergesekan dengan tembok coklat pekat

Aku tiada, sebatas abu saja

Sunday, November 20, 2016

Mengeja Kata

Sejak kecil aku dilatih untuk memahami segala hal lebih dahulu bahkan mengenai keruntuhan orde baru. Kala itu masih belajar mengeja di koran bekas bungkus bala-bala, makanan khas Sunda yang melegenda.

Entah kenapa aku lebih suka mengeja daripada membaca. Seringkali ditegur guru karena di usia yang tak lagi muda hanya bisa mengeja kata. Teman sebayaku sudah pandai membaca, puluhan buku ia lahap dengan rakus sedangkan aku masih dalam kondisi terbata-bata.

Temanku paham betul undang-undang negara ini, ia hafal di luar kepala karena terlampau sering membaca. Lagi-lagi bertolak belakang dengan aku, selalu sama masih tahap mengeja.

Tahun demi tahun berlalu. Di halaman rumah, aku ditemani makanan khas Sunda, bala-bala. Sembari mengeja koran dengan headline operasi tangkap tangan oleh KPK. Sahabatku yang pandai membaca, bahkan undang-undangpun sudah diluar kepala ditetapkan tersangka. Aku heran kenapa bisa ?

Saturday, November 19, 2016

Kehilangan

Jantungku masih berdetak, mata ini sanggup melihat dengan jelas begitupun dengan kaki, berdiri tegak. Namun ada sesuatu yang tak lagi kupunya. Hal itu dulunya sangat berharga tak bisa nilai dengan uang merah di saku celana. Ia hilang entah kemana ?

Aku mencarinya ke sudut-sudut terkecil rumah ini. Menelusuri setiap bagian, dari pinggiran kursi hingga celah di antara lemari. Hasilnya selalu sama ia entah di mana. Aku sudah lelah mencari. Tenaga sepenuhnya terkuras hingga sebagian orang mengganggapku setengah waras.

Resah memang ketika mencari sesuatu yang hilang. Putus asa sempat terasa. Hingga aku menyimpulkan ia tak mungkin kembali, aku harus belajar mengikhlasnya kini. Saat aku menyerah, setitik sinar ada. Ternyata hal yang kucari tidak kemana-mana, ia bersembunyi di balik selimut bernama alasan.

Penaku berhasil ditemukan, tak ada alasan untuk malas menggoreskannya. Bukankah di mata Tuhan dan manusia menulis adalah pekerjaan mulia ?

Monday, November 14, 2016

Anggapan

Kenapa badanku tak bisa bergerak
tak punya tenaga untuk berontak
lelah dengan segala anggapan
hinaan katanya aku tak punya masa depan

Memang benar rumahku hanya langit
Tak salah lantaiku hanya tanah
Tapi ku tak pernah meminta belas kasihan
Sekalipun hanya untuk makan

Semua orang mengitariku
mengepal tangan menghakimi tanpa penjelasan

Tubuhku berdarah
lungkai tak tahu arah

Kata mereka aku pencopet
aku hanya penemu dompet

Sunday, November 13, 2016

Renda

Benang beragam rupa
akan kurajut menjadi kain istimewa
Merah, kuning, hijau hingga jingga
Bersatu membentuk ragam warna

Susah memang menyatukan beragam corak berbeda
Perlu tenggang rasa luarbiasa

Pada hakikatnya perbedaan itu indah
Bila dipadukan tanpa cela

Kuning tak boleh merasa paling bening
merah tak harus unjuk gigi paling cerah

Perbedaan itu menyatukan

Merenda kain bernama Indonesia

Thursday, November 10, 2016

Pahlawan bertongkat

Dengan pakaian serba orange, ia gagah berdiri menghadang setiap dedaunan yang jatuh. Tugasnya sangat berat menjadi garda terdepan penghilang segala sumber kematian. Tak pandang bulu ia membersihkan segala hal kecuali tikus-tikus istana yang tak bisa disentuhnya.

Sekolahnya tak tinggi, hanya lulus SD bahkan tidak sekolah sama sekali. Namun nasionalismenya tak bisa diragukan, meski gajihnya sering terhambat hingga tiga bulan. Semangatnya tak luntur walau perut memberontak minta jatah makan. Jamnya memang ekstra dari dini hari hingga hilangnya mentari.

Mereka bukan pemuda bahkan tergolong renta diusianya. Di akhir masa hidup, semangatnya tak pernah redup. Membara seperti tentara yang sedang memerangi Belanda. Terkadang orang memandangnya sebelah mata tapi tidak dengan Tuhan. Ia setara pahlawan, tak kenal keluh menyapu jalan. Engkau pahlawan bertongkat, membela negara dengan niat.

Tuesday, November 8, 2016

Suapan Maut

Bayi lugu digendong sang ibu
Ia terkantuk menelan pil pahit
Buaiannya palsu dengan modus tertentu
Ia dijadikan alat memanen rupiah

Belas kasihan ditebar
Tangisan pilu dijual
Berharap rupiah berpindah tangan
Menjadi alas pemuas nafsu

Bayi masih terkantuk
dengan napas terhela
buih dimulut menjadi pertanda
ada sesuatu yang mengancam jiwa

Sang ibu tak peduli
terfokus memanen pundi
akhirnya nyawa bayi
ditukar nafsunya kini

Monday, November 7, 2016

Kamu Jahat

Bagi seorang perempuan, penantian ialah hal paling mendebarkan. Terselip rasa takut bahwa yang dinanti tak menepati janji bahkan dia lupa dengan ikrarnya sendiri. Sudah empat tahun sejak peristiwa itu, pertama kali dia mengucapkan janji setia untuk selalu bersama, berbagi segala rasa dalam bahtera rumah tangga.

Kala itu terlalu dini bagi remaja yang baru lulus SMA untuk membicarakan pernikahan, tapi tidak dengan dia. Di akhir masa putih abu, raut wajahnya berubah serius. Tak biasanya dia memasang mimik seperti itu. Harus diakui sebenarnya diri ini menitipkan rasa pada sosoknya. dia lelaki humoris dengan bakat luarbiasa termasuk keahlian meluluhkan hatiku.

"Rida, sejujurnya sejak lama aku menaruh suka kepadamu," Wajahnya mantap berkata.

Aku hanya menampilkan pipi yang memerah dihadapannya.

"Tapi seminggu kedepan, kita tidak bertemu seleluasa ini. Sejak lama aku mempersiapkan diri agar diterima Al-Azhar, Mesir dan alhamdulilah cita-cita tergapai. Tinggal satu hal yang ingin aku pastikan. Menjadikanmu sebagai pelengkap kalbu. Namun sebelum itu kita harus sama-sama memantaskan diri salah satunya dengan pendidikan. Sepulang dari Mesir nanti aku akan menikahimu." Sembari diiring senyum.

Aku termenung setelah ia berkata itu, di sisi lain bahagia ternyata cintaku berbalas, tapi ada keraguan apakah diri ini kuat menahan berbagai jenis rindu di saat raga tak bisa bertemu.

"Jika di sela-sela penantian. Ada sosok pria yang Rida sukai. Silakan saja. " Wajahnya nampak bersedih.

"Tidak, aku ingin menanti kamu."

Kata yang kuucapkan selalu dijaga walau terpaan cobaan begitu dahsyat menghantam diri. Sempat datang beberapa lelaki ingin menjalin kasih denganku. Aku teguh menolak mereka. Menunggu seseorang yang sehari lagi akan kembali. Di masa penantian aku dengannya sibuk menata diri, tak terlalu sering komunikasi.

Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi sepasang manusia yang tak sabar untuk saling bertatap muka. Aku tak sabar ingin bertemu dia yang baru. Dia yang akan menjadi imamku. Sosok lelaki yang menenteng sesuatu melambaikan tangan kepadaku, ia tidak datang sendirian.

"Assalamu'alaikum Rida, kau tidak berubah tetap memesona." Katanya sembari menatapku.

Aku kembali membalas dengan wajah memerah persis seperti empat tahun lalu.

"Walaikumsalam, kamu datang bersama siapa ? Sembari melirik beberapa orang di dekatnya."

"Aku datang bersama anak."

Aku diam seribu bahasa. Mencerna kata yang baru saja ia lontarkan. Apakah ini mimpi ? begitu teganya dia mengkhianati janji.

"Eh jangan melamun, aku bawa anak kucing untuk kamu, kan kamu suka kucing anggora. Jangan khawatir aku akan menepati janji, seminggu dari sekarang kita menikah. Mereka teman-temanku, ngotot sekali ingin bertemu gadis yang selalu kuceritakan.

Bersamamu, aku selalu merasa menjadi Cleopatra. Diistimewakan dengan berbagai rasa cinta. Kamu jahat telah membuatku jatuh cinta sedalam ini.

Sunday, November 6, 2016

Khalifah

Tuhan berbaik hati menciptakan tempat layak huni
meski berulang kali hamba alfa memuja sang pencipta

Manusia memang tempat salah dan lupa
namun Tuhan tetap percaya mengutus kita sebagai khalifah dunia

Apakah kita sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya manusia ?

Mengutamakan perdamaian bagi sesama
bukan menepuk dada sembari berkata

"Aku paling benar di dunia, kalian penuh dosa."

Saturday, November 5, 2016

Penyangga

Langkah kaki menjejaki tangga
Seorang perempuan dengan baju senada nampak kesulitan menapakinya

Hempusan napas pertanda keluh
lelah membuatnya pasrah
berulang kali ia terjatuh
Diakhir perjuangan, cairan merah menyeruak darah

Tongkat penyangga badannya patah
Ia menghadapi masalah

dari jauh sana seorang pria berlari
membungkukan badan menjadi tumpuan
belasan tangga berhasil terlewati
pria itu menjelma menjadi penyangga tubuhnya

Friday, November 4, 2016

Menjual Cinta

Bangun tidur ku terus wudhu, tidak lupa salat subuh habis itu kubaca berita, tercengang membacanya.
Tepat sejam lalu, aku membaca berita yang cukup unik. Biasanya cinta menjadi pelengkap kehidupan manusia. Cinta ialah muara dari rasa menyayangi sesama.

Hal yang cukup unik terjadi di Tiongkok, seseorang perempuan sebut saja Xiaoli memilik pacar hingga 20 orang. Anda terkejut ? aku juga sama. Jomblo di bagian dunia sana akan merasa tidak memiliki keadilan karena ia tuna asmara, sedangkan Xiaoli bergelimbang cinta bahkan over love (Ini istilah baru tentang kelebihan rasa cinta.)

Tak hanya itu, Setiap pacarnya diminta memberikan Iphone 7 sebagai hadiah untuknya. 200 juta lebih terkumpul dari hasil penjualan iphone. Cerdiknya, 20 Iphone 7 yang terkumpul ia jual untuk dibelikan rumah. Tepatnya untuk mencicil sebuah rumah. Selidik punya selidik, Xiaoli adalah anak pertama yang secara tidak langsung mempunyai tanggungjawab lebih.

Di era modern ini, segala hal bisa dijual termasuk cinta. Menurutku begitu murah sekali cinta dihargai hanya dengan 20 Iphone 7. Sejatinya cinta ialah rasa tak ternilai. Sesuatu itu mahal jika uang takkan pernah mampu membelinya.

Tuesday, November 1, 2016

Tamu

Hei kamu, iya kamu yang sedang duduk cantik sembari ditemani novel serta teh manis. Apakah tahu di sudut ini aku sedang merindu. Merindu sosokmu yang diam-diam hadir di kepala. Ah, kau memang selalu ahli menembus hati.

Sejak pertama kali bertemu. Kau sudah memukauku, entah kenapa saat itu kau memesona dengan pakaian serba senada. Jika ada alat pengukur rasa suka, mungkin saat itu menunjukan angka tertinggi. Kau terlihat anggun dengan diammu. Tak banyak berkata namun pertemuan itu bermakna.

Kali kedua bertemu kamu, aku hadir dengan pakaian terbaikku. Kau juga sama begitu luarbiasa dengan balutan gaun pengantin. Ini peristiwa paling berharga dalam kehidupan kita berdua. Aku tahu kau sangat bahagia, aku pun memiliki perasaan yang sama. Aku hadir sebagai tamu undangan dalam pernikahanmu.

Monday, October 31, 2016

Tertatih

Apakah kau tahu siapa aku ?
Tentu jawabmu tidak
Aku bukan artis di layar kaca
Bukan juga youtuber terkemuka
Tentu bukan penulis dengan karya luarbiasa
Aku hanya bagian dari tiga miliar manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan

Jika orang lain pamer permata
aku hanya bisa berbagi airmata
dengan orang-orang yang merasakan penderitaan yang sama

Sekolah merupakan barang yang mewah
Sejak kelas satu SMP, aku putus sekolah
Bukan tak mau belajar, aku tak mampu membayar
seruan gratis hanya pepesan kosong belaka
LKS dan seragam tak mampu kubeli
Terkadang aku menatap iri kepada mereka yang mampu belajar hingga perguruan tinggi

Sudah sejak lama aku lupa rasanya daging
Terakhir kali ketika berdesakan meminta jatah kurban
Itupun aku hampir mati diinjak pemuda lain yang lebih tinggi

Pintaku tak besar hanya ingin dikenal
sebagai orang yang pernah hidup di dunia

Hampa

Aku berjalan sendirian di jalan sepi penuh ketidakpastian. Jalan yang kulewati tanpa ujung, terus berjalan ialah cara paling baik melawan kesendirian. Berharap di tengah perjalanan menemukan sosok teman, berbagi gundah, lelah bahkan pasrah.

Entah sudah berapa jauh, aku memaksa kaki melangkah. Perbekalan sudah habis tiga hari lalu. Tak ada yang tersisa kecuali semangat. Aku tidak mau menjadi bangkai di sini. Aku enggan menjadi cadangan makanan bagi bakteri. Aku mau mati mulia, setidaknya dihadiri sanak saudara.

Di ujung jalan sana, aku menemukan sosok perempuan. Memberikan senyum terbaik pembangkit semangat yang hampir punah dalam diriku. Ia melambaikan tangan seakan meminta pelukan. Sekuat tenaga kuberlari. Aku sudah berada di hadapannya. Bersiap memeluknya, namun Ia hanya fatamorgana, yang kupeluk sosok kasat mata sekadar udara.

Saturday, October 29, 2016

Melabuhkan

Aku lelaki biasa
dengan harapan membuncah di dada
Ingin berlayar mengarungi luasnya samudra
bermodalkan kapal kayu yang diukir tanganku

lautan terhampar dimataku
aku hadapi tanpa ragu
Kapalku hancur diterjang gelombang biru
Sirna sudah semua anganku

Hanyalah aku yang hidup dengan kepingan kayu
melawan kematian di tengah buasnya samudra hindia

Aku hidup mengandalkan angin
Ia membawaku ke Selat Malaka
Berharap menemukan daratan
tempat melabuhkan segala keresahan

Di Selat Malaka
aku melabuhkan badan dan perasaan
Ditemani senyum manis seorang gadis












Bagai sungai yang merindu
samudra aku tahu tempat melabuhkan cinta

Friday, October 28, 2016

Menghilang

Pemberitaan lenyapnya uang secara tiba-tiba di salah satu bank terkemuka menjadi viral. Bahkan tak sedikit nasabah yang mulai meragu untuk menyimpan uang di bank. Tidak tanggung-tanggung, bank tersebut merugi hingga miliaran. Masyarakat bertanya apa yang terjadi ?
Apakah uangnya dicuri tuyul yang sudah menguasi teknologi kekinian atau memang nasabah tersebut lupa bahwa tabungan sudah sirna digerogori biaya administrasi bulanan bank tersebut ?
Entahlah hanya Tuhan yang tahu.

Tahun 2015 lalu pernah diberitakan kejadian serupa dengan korban mencapai 100 nasabah. Saat itu otoritas jasa keuangan menerima laporan bahwa uang yang dimiliki nasabah sirna tiba-tiba. OJK beranggapan penyebabnya ialah hacker, hacker yang menyebar virus untuk menyasar pengguna E-banking. Ia akan mencuri data berupa ID dan password dengan cara membuat malware, malware adalah aplikasi jahat yang bertugas mengelabui nasabah seakan memasukan ID dan password padahal itu adalah malware.

Cara sederhana melihat apakah transaksi yang kita lakukan aman ialah dengan melihat address bar. Address bar memuat alamat situs yang sedang kita kunjungi. Biasanya situs dengan proteksi kuat diawali Https://. Jika tidak diawali itu maka patut dicurigai. Cara selanjutnya, coba lihat apakah situs yang kita kunjungi telah sesuai dengan yang dituju. Malware mampu menyerupai situs tapi tidak dengan alamatnya. Lagi-lagi kita harus teliti dengan kolom address bar.
Terakhir, Jika hendak melakukan transaksi via E-banking lalu terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya maka lebih baik close dulu.

Namun jika teman-teman sudah terlanjur tidak percaya dengan bank, boleh menggunakan cara tradisional dengan menyimpan uang di celengan atau bahkan di bawah kasur tentu dengan risiko tergilas inflasi dan digerogoti rayap jahat.

Peristiwa menghilangnya uang secara tiba-tiba bukanlah hal aneh. Kunci utamanya kita harus teliti dengan segala modus pencurian. Hilang uang memang menakutkan tapi lebih menakutkan hilang keimanan dan ketakwaan sebagai hamba sehingga uang dianggap dewa.

Wednesday, October 26, 2016

Semut Kecil

Aku berada di dunia lain
menyamar menjadi semut kecil
berjalan dengan ribuan kawan
mengangkat beban yang lebih berat dari badan

Beberapa kawanku mati terinjak
Yang lainnya bersusah payah bertahan untuk sekadar makan

makhluk kecil tertindas
nyawa mereka tak berarti
sudah biasa dijadikan lawakan penghibur hati

Ketika ku menjadi manusia
keadaan ini tak jauh berbeda
orang kecil ditindas
demi kepentingan manusia dengan dompet tanpa batas

Semut kecil, sejatinya kita mampu memperbaiki takdir
melawan setiap ketidakadilan yang menindas orang kecil

Tuesday, October 25, 2016

Murka

Tetesan bening jatuh dari langit
Ia tak datang sendirian
bersama kawannya menghujam daratan pasundan

Kendaraan roda dua menepi
berganti kostum agar tak tertetesi
Roda empat nampak jumawa
menerjang genangan air yang perlahan meninggi

Air murka
tempatnya meresap tak lagi ada
terbendung oleh tumpukan sampah sisa manusia

Perlahan Bandung beralih rupa menjadi lautan
Ikan-ikan besi nampak mati
Tak lagi perkasa diterjang air berwarna coklat tua

Saat itu kita belajar
bahwa alam harus dicinta
sama seperti si dia yang akan marah di saat kita mendua.

Monday, October 24, 2016

Rintihan Palsu

Ia berada di samping jalan
mengadahkan tangan meminta belas kasihan
Belum makan menjadi pamungkas
Beberapa uang recehan lepas dari pria berjas

Sehari berlalu
uang bernominal 500 ribu menjadi imbalan untuk drama yang ia lakukan

Kaki buntungnya palsu
Lukanya palsu
Jeritan belasan kasihannya pun palsu

Di rumah megahnya
Ia menghias wajah seolah peluh luka

Sunday, October 23, 2016

Sajak Linu

Linu, linu, linu
rintihan seorang anak kepada ibu
Nak, pedih bagian dari hidup kita
Jangan mengeluh itu pertanda tanda tak tangguh

Ibu, kakiku membengkak
Seperti ada belatung dalam daging

Biar ibu yang usir belatung itu
kenapa kita tak pergi ke dokter Bu ?
Seperti orang lain yang gatal saja pergi ke pria berjas putih itu ?

Nak, uang kita hanya selembar kapten pattimura.

Saturday, October 22, 2016

Sajak Sakit Kaki

Kau tahu apa itu kaki ?
Bagian tubuh manusia untuk melangkah
Seru seseorang diluar sana

Kini, kakiku luka
luka kakiku
Tak bisa melangkah
Mungkin teguran karena kurang ibadah

Aku nampak tak berdaya
dengan kaki bengkak penuh luka

Butuh senyum seorang gadis sebagai pereda segala kesakitan yang kurasa

Friday, October 21, 2016

Sajak Mantan

Hei, gadis yang pernah hadir di masa lalu
Sekarang apa kabarmu ?

Masih ingat aku ?
atau kau sudah memotong kenangan manis itu

Kalau aku bukan lelaki pelupa
Ingat setiap kejadian yang dilalui bersama
Dulu kau datang laksana Siti Hawa
menenangkan sang Adam yang merasa sepi sendiri

Aku tahu sekarang kau sedang sibuk
Menata masa depanmu
Bersama seseorang selain aku

Lelaki pemberani yang berucap janji setia untuk selalu bersama
Lelaki yang bergelar suami, untuk kamu dan anakmu


Thursday, October 20, 2016

Ilalang

Engkau tumbuh dari sebuah biji yang datang entah darimana
Alam berperan sebagai perantara
menguatkan setiap akar yang engkau punya

Waktu menjawab setiap keraguan
akhirnya kau menjadi seutuhnya ilalang
Bukan lagi biji yang terbuang

Angin menyapamu kembali
mengajak berkelana di kehidupan lainnya
Engkau terbang meninggalkan tempatmu tumbuh
Hendak mengembara mencari lahan baru

Wednesday, October 19, 2016

Memang

Negeri jamrud khatulistiwa yang selalu aku banggakan. Hamparan tanahnya diciptakan Tuhan saat tersenyum. 17.508 pulau menjadikannya negara dengan jumlah kepulauan terbanyak di dunia. 768 bahasa daerah bukti nyata bahwa nusantara kaya akan budaya. Sekitar 260 juta penduduknya menjadikan negeriku masuk empat besar penduduk terpadat dunia, 95 % diantaranya beragama islam. Luarbiasa negeriku.

Rata-rata penduduk Indonesia menguasai dua bahasa atau lebih, fenomena yang sulit ditemukan di negara lain bahkan negara maju sekalipun. Amerika serikat, negara adikuasa sekaligus adidaya berkekuk lutut dihadapan Indonesia. Bangsa besar itu kalah telak dalam kebudayaan terutama bahasa. Amerika memakai bahasa Inggris yang notabennya bahasa negara lain sebagai bahasa utama. Berbeda dengan negeri Pertiwi, walaupun mempunyai 768 bahasa namun dapat disatukan oleh bahasa Indonesia.

Hingga saat ini perbedaanlah yang semakin merekatkan Indonesia. Perbedaan bahasa, agama bahkan warna kulit tidak menjadi masalah untuk senantiasa bersama. Tahun 1995 di Kanada pernah terjadi referendum, menentukan suara setuju atau tidak, keluarnya sebuah provinsi bernama Quebec. Alasannya penduduk Quebec berbeda budaya dan bahasa dengan Kanada. Sebuah ironi jika melihat Indonesia yang tetap berdiri kokoh sekalipun banyak perbedaan budaya di antara suku-sukunya

Memang Timor-Timor atau sekarang biasa disebut Timor Leste sudah keluar dari Indonesia. Memang Indonesia masih harus belajar berbangsa, Memang Indonesia masih banyak huru-hara. Tapi harus kuakui dibalik kekurangan bangsaku tersimpan permata yang tidak dimiliki bangsa lainnya. Aku selalu percaya Indonesia sedang berlari mengejar kemajuan bangsa lain.

Jangan mengutuk kegelapan, marilah menyalakan lilin-lilin kecil.

Tuesday, October 18, 2016

Sajak Printer

Kau mencetak apa saja
Buku hutang
Surat warisan
Bahkan foto mantan

Mesin warisan Guttenberg
Berusaha sekuat tenaga
Ia mematuhi titah tuannya
Untuk menampilkan kata

Decitan dalam lipatan
Menampilkan secarik kertas
Putih dengan hiasan empat huruf
Membentuk suatu kata bermakna

Kamu.

Sunday, October 16, 2016

Bukan Seberapa Lama

kehidupan di dunia punya batas waktu, tak mungkin kekal di dalamnya seperti kenangan mantan. Banyak sekali yang meninggal di usia muda, sebagai contoh nyata seperti sahabatku. Usianya masih 22 tahun, ia baru lulus pelatihan sebagai TNI di kesatuan komando pasukan khusus atau yang lebih dikenal dengan KOPASUS.

Secara riwayat kesehatan yang aku amati, ia selalu menjaga kesehatannya dengan cara berolahraga seperti tergabung dalam komunitas beladiri, aku pun pernah berlatihan bersamanya. Memang staminanya luarbiasa. Namun waktu berkata lain secara tak di duga ia mengidap penyakit yang detailnya aku kurang tahu. Ia meninggal setelah dilakukan operasi pada salah satu bagian tubuhnya.

Umur memang tidak pernah ada yang tahu kecuali Tuhan sebagai pencipta manusia. Terkadang orang yang sakit memiliki jatah hidup lebih lama dibanding orang sehat yang tiba-tiba meninggal. Maut tak pernah mengenal batasan usia, tua atau muda siap dijemput olehnya. Cara terbaik menyiapkan diri ialah menjadi sebaik-baiknya manusia seperti dalam sebuah hadist
(khoirunnas anfa'uhum linnas). 
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

Akan percuma bila seseorang diberikan jatah hidup lebih dari 100 tahun tapi nilai manfaat bagi orang lainnya minim. berbeda dengan beberapa nabi yang diberikan umur pendek oleh allah namun kebaikannya masih dikenang hingga kini. Nabi Sulaiman AS yang meninggal di usia 52 tahun, tergolong muda pada masa itu, di mana umur manusia masih berkisar ratusan tahun. Nabi Muhammad pun meninggal di usia yang terbilang tidak terlalu tua, 63 tahun tetapi jasanya akan selalu terkenang hingga akhir zaman.

Sesungguhnya arti kehidupan bukan seberapa lama ia tinggal di dunia namun seberapa bermanfaatnya bagi orang lain. Kunang-kunang hanya punya jatah umur sehari tapi dikenang sebagai penerang saat gelap datang.

Saturday, October 15, 2016

Hikmah Di Balik Musibah

Entah kenapa aku terbiasa menyiapkan sesuatu dari jauh-jauh hari, misalkan ketika buka puasa. Aku telah menghimpun banyak makanan untuk berbuka padahal saat itu masih waktu sahur. Contoh lainnya ketika akan berpergian jauh, telah bersiap dari beberapa hari sebelumnya untuk mengumpulkan keresek sebagai media menampung pengeluaran karena efek muntah darat. Iya, aku tidak terbiasa berkendara dengan mobil dalam jarak jauh, cupu memang. Haha.

Untuk urusan jodoh pun sudah menyiapkan dari jauh-jauh hari kok, eh tapi tulisan kali ini tidak membahas jodoh. Kali ini akan bercerita tentang skripsi. Berkaitan dengan skripsi, aku menyiapkannya dari satu tahun sebelumnya. Iseng-iseng riset, mencari permasalahn paling aktual, menghimpun berbagai data dan memasukannya ke flashdisk.

Hingga saatnya skripsi, amunisi telah siap di flashdisk tinggal mengolah data saja. Tak terasa saatnya menggarap skripsi tiba, Alhamdulilah selesai sebelum waktu yang telah ditentukan meski hanya draft awal tapi lumayanlah untuk diajukan ke dosen. Kemarin berencana mem-print out semua file dalam flash disk di tempat rental komputer, karena printer yang ku punya telah lama wafat.

Aku menyambut hari itu penuh semangat, selain cukup yakin dengan materi yang kupunya, saat itu bertepatan dengan bimbingan juga. Karena terlalu bersemangat aku memprint data bukan dirental langganan, pikirku sama saja dalam segi harga. Flash disk berwana putih telah ditancapkan ke port USB komputer rental, seperti biasa aplikasi anti virus langsung bekerja. Ternyata komputernya banyak virus. Beberapa fileku ter-hidden, aku tidak panik karena hal ini biasa, tinggal klik unhidden di smadav. Tanpa di duga setelah di unhidden data skripsiku tetap hilang.

Aku berlari ke tempat rental langgannanku. Menancapkan kembali Flashdisk ke port USB. Setelah hampir 30 menit menerapkan berbagai ilmu ternyata filenya tetap hilang. Aku panik bahkan teman disampingku heran. Ia mengira aku kerasukan hantu penunggu pohon salak karena bertindak tak biasa. Di tengah keputusasaan, teman di sampingku mengabarkan bahwa dosen telat, paling datang dua jam lagi. Berita itu ibarat oase di tengah gurun.

Aku mencari flash disk yang satunya lagi, di sana ada sebagian kecil data yang bisa aku olah jadi draft skripsi walau tentu jauh dari kata maksimal. Saat itu diriku bagai pengemudi angkot yang dikejar setoran, mengebut tak karuan. Sialnya di saat aku sibuk, tepat sampingku ada sepasang kekasih yang sedang pacaran. Mereka romantis sekali. Aku gagal fokus meskipun begitu draft super ngawur akhirnya selesai sebelum dosen tiba.

Setelah menunggu dosen beberapa lama diiringi muka lesu karena seluruh file skripsiku entah di mana. Akhirnya dosen datang tapi di waktu yang tidak tepat. Beliau meminta maaf, mobilnya mogok jadi datangnya telat walhasil bimbingan pun diundur. Tambah kusutlah mukaku. Penantian lama berakhir sia-sia. Tanpa membawa jas hujan, aku pulang menembus rintik air dari langit membawa berbagai kesedihan. Aku yakin ada hikmah di balik kejadian pahit kemarin.

Friday, October 14, 2016

Belajar Dari Sepi

Sejatinya aku tak pernah suka kesepian, sebagai makhluk sosial kesepian ibarat ditikam tepat di uluh hati, sakit rasanya. Sering kali terpaksa berhadapan dengan sepi ketika merenung sebenarnya apa arti dari sebuah kehidupan. Di saat bayi, merangkak, berdiri bahkan jatuh berkali-kali. Hari ini hampir sama, merangkak, berdiri serta jatuh juga berkali-kali dalam konteks meraih mimpi.

Teman-teman masa SMA satu persatu menghadapi kehidupan mereka sendiri. Jarang bersua hanya lewat dunia maya. Sungguh berbeda ketika masa putih abu, hampir sebagian besar waktu terpakai dengan berbagai kegiatan sekolah. Mereka sedang mengejar mimpinya masing-masing begitupun dengan diriku.

Tak jauh berbeda dengan teman-temanku di kampus, mereka punya kesibukan yang sama, berkutat dengan skripsi dan pelatihan profesional guru namun di tempat berbeda. Canda tawa perlahan hilang berganti keseriusan untuk menyelesaikan studi. Akhirnya terpaksa aku bertarung lagi dengan kesepian.

Di tengah deraan kesepian, aku merasa ada manfaat dari kemana-mana sendirian. Salah satunya aku lebih mengetahui diri sendiri. Terkadang seseorang lupa diri, terlalu sibuk mengurusi kehidupan oranglain hingga lupa dengan urusan pribadi. Kesepian mengajarkanku untuk peduli dengan diri sendiri, memang terdengar egois namun sebelum belajar peka terhadap orang lain bukankah harus lebih dahulu peka dengan keadaan diri sendiri ?

Sepi terkadang aku benci terhadapmu, namun engkau memberikan pelajaran yang berharga untuk lebih kenal peran aku sebagai manusia. Bukankah suatu saat nanti setiap manusia pasti sendirian di alam kubur sana ?

Thursday, October 13, 2016

Mengawal Pendidikan

Peribahasa zaman dulu mengatakan "Guru kencing berdiri, Siswa kencing berlari"
Aku sebagai orang yang baru belajar menjadi guru tidak mau kencing berlari, malu nanti dilihat orang.

"Please deh, Lang. Esensinya bukan begitu."

"Lalu seperti apa? "

"Lah, kamu yang guru nanya ke aku."

"Nyebelin banget deh."

Okey kali ini akan serius sembari membenarkan posisi kerah. Makna peribahasa di atas ialah sebaiknya guru jangan memberikan contoh yang tidak baik. Kencing di tempat sembarangan adalah sikap yang tidak baik. Kucing aja tahu tempat buang air, misalnya digundukan pasir, tidak di dalam botol bekas air mineral.

Selain itu guru harus menjadi suriteladan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Seyogyanya guru adalah tokoh panutan dalam bersikap. Menjauhi prilaku tidak terpuji sebagai bentuk profesionalitas dalam pekerjaan. Guru bukan hanya perkerjaan tetapi bentuk lain dari pengabadian. Membentuk karakter generasi muda bukan hal mudah. Tidak seperti memproduksi barang. Mendidik memerlukan seni berbeda.

Di tambah lagi di era kekinian, membentuk karakter siswa harus dijauhkan dari cara-cara kekerasan.Terkadang yang cara tegas disalahartikan sebagai bentuk kekerasan bagi orangtua siswa. Puluhan berita sudah menghiasi pemberitaan tentang orangtua bahkan siapa yang bersikap semena-mena terhadap guru dengan dalih perlindungan anak.

Sebagian besar menganggukan kepala jika mengutarakan pendapat bahwa pendidikan ialah pondasi kemajuan bangsa tetapi tidak semua orang mau berperan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Sejati guru adalah makhluk biasa tak bisa mengawasi 24 jam prilaku siswa. Perlu dukungan orangtua untuk turut kerjasama dalam mengawal pendidikan di Indonesia.

Tuesday, October 11, 2016

Bingkisan Terakhir

Maut mengetuk pintu tanpa permisi
Tak peduli siap atau tidak
ia datang menghampiri
Tua atau muda bukan patokan
Jika Tuhan sudah menentukan

Sejatinya hidup adalah seni menata kehilangan
Satu persatu apa yang dipunya akan sirna
Uang, orang yang disayang bahkan nyawa
Itu semua titipan Zat paling kuasa

Manusia, makhluk penuh harap
Berdoa kepada Tuhan
Menempatkan ia di sisi terbaikNya

Seperti seorang guru yang sedang memanggil siswanya satu persatu
Tuhan mendahulukan kamu karena Ia sedang merindu
Aku cemburu, cemburu dengan kamu yang lebih dahulu bertemu pencipta dengan keadaan yang didamba semua hamba

Selamat jalam Serda Agung Purnomo, engkau tetap seorang prajurit yang sedang bertugas di Surga.

Pudarnya Pesona Jujur

Sekarang kita berada di masa modern, teknologi berkembang pesat namun dalam segi karakter manusia berada di titik nadir. Jika dulu janji sudah seperti sumpah yang harus ditepati maka di era ini janji layaknya tulisan anak SD yang dengan mudahnya dihapus. Kita harus menolak lupa dengan seorang petinggi partai politik yang siap digantung di monas jika terbukti korupsi. Waktu menjawab dengan tegas, ia terbukti korupsi. Apakah menempati janji untuk digantung ? tentu tidak.

Di Jepang ada istilah harakiri yaitu seni membunuh diri sendiri karena rasa malu yang tinggi. Biasanya dilakukan seorang samurai yang kalah dalam pertarungan atau tidak mampu menyelesaikan misi. Harakiri sudah dihapus sejak tahun 1873. Indonesia tidak harus meniru harakiri karena bunuh diri menurut agama Islam merupakan dosa besar. Hal yang harus ditiru bangsa ini ialah harakiri politik, rasa malu bila merugikan bangsa. Meletakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

Awal tahun 2016, Akira Amari, menteri perekonomi Jepang meletakan jabatannya karena kasus korupsi yang dilakukan anak buahnya. Ia merasa lalai dalam mengawasi bawahannya. Sungguh kita harus belajar dari negeri sakura. Berbeda hal dengan pelaku korupsi di negeri ini. ketika memakai baju tahanan KPK masih bisa dadah-dadah sembari tersenyum ke arah kamera. Bukankah seseorang disebut manusia karena rasa malunya ?

Orang bijak sering berkata bahwa kejujuran ialah mata uang yang berlaku dimana-mana. Sayangnya bangsa ini sedang krisis nilai jujur. Kantin kejujuran di sekolah favorit yang notabennya tempat bersekolah anak-anak orang kaya pun mengalami kerugian. Ternyata penyebab ketidakjujuran bukan kemiskinan tetapi sikap dan pola pikir yang harus segera diubah. Mulai menanamkan kejujuran dari diri sendiri. Saya percaya bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang senantiasa mau belajar. Generasi berani jujur itu hebat.

Saturday, October 8, 2016

Abai

Gesekan senar biola menciptakan suasa sendu, kau meneteskan bulir airmata. Berucap terimakasih karena aku mengajakmu ke konser penyanyi jazz yang kau damba. Aku bahagia menjadi alasan dibalik senyummu yang memesona. Setiap alunan lagu engkau hayati seolah orang di atas panggung sana hanya menyanyi untukmu. Tetiba di lagu terakhir, penyanyi itu menunjuk engkau naik ke panggung, mengajakmu bernyanyi bersama. Kau menatap wajahku, aku mengangguk pertanda menginjinkanmu.

Kau kembali dengan wajah ceria. Menggengam tanganku sembari bercerita bahwa penyanyi yang kau suka tak hanya mengajak bertukar suara tapi berbicara empat mata. Aku membalas genggaman tanganmu. Senang melihat mata indah berbinar. Suatu hari nanti tatapan mata yang sama akan hadir, saat engkau aku lamar. Biarlah kini bingkai persahabatan menjadi landasan hubungan kita. Aku belum siap untuk menyatakan suka. Mulut terlalu malu sekadar berucap cinta.

Entah kenapa di saat pandangan pertama, engkau menunjukan pesona luarbiasa sehingga dewa asmara lancang mengarahkan panah cinta tepat di dadaku. Aku tak bisa menolak karunia Tuhan berupa rasa suka kepadamu, sekalipun saat ini tak pernah tahu bagaimana perasaanmu, sama ataukah sekadar menganggapku teman biasa, tempat engkau menyandarkan kepala di saat duka.

Teman-teman kita menyimpulkan, antara aku dan kamu ada hubungan tak biasa. Alasan mereka sudah sesuai logika. Di mana engkau berada, akupun di sana. Kita laksana bubur dengan kerupuk selalu bersama diberbagai keadaan. Seperti saat ini, mendadak berada di dunia baru bersama kamu. Aku yang terbiasa hidup dengan sepi sukarela masuk dalam dunia yang ramai. Berusaha menyukai musik jazz dengan alasan sederhana karena kamu suka.

Konsernya telah usai menyisakan rona bahagia di wajah kita. Bahagiaku karena bisa bersama kamu, bahagiamu aku tidak tahu. Yang aku tahu tiga bulan ke depan sudah membulatkan hati untuk melamarmu, di suasana dan tempat yang sama. Kelak ku akan sukarela dengan segala keputusanmu. Menerima ataupun menolak, setidaknya aku tahu jawaban darimu. Kalau boleh sih menerimaku, kalau menolak aku tak tahu harus mencintai siapa lagi selain kamu.

Tiga bulan berselang. Ku persiapkan mawar dan cincin terindah untukmu. Selama tiga bulan lalu tak pernah alfa menabung uang untuk merencanakan memesan tiket VIP di konser penyanyi kesukaanmu. Ku relakan makan dengan seadanya demi hari istimewa ini. Aku terkejut ketika kau seolah bisa membaca hatiku, Kau mencuri start dengan membeli dua tiket VVIP untuk kita berdua.

Bak pasangan kekasih yang dilanda panah cupid, tanpa direncanakan kita berdua memakai pakaian hampir sama. Awalnya engkau menuduhku memasang CCTV dikamarmu karena aku tahu setiap detail dari kebiasaanmu. Tawa kecil menghiasi wajahku.Aku berkata, tidak memasang CCTV tapi menitipkan hati dalam dirimu. Engkau mencubitku pelan.

Warna-warni lampu mampu menyoroti seseorang. Ia adalah penyanyi yang kita tunggu. Engkau teriak histeris seperti kesurupan makhluk halus. Lagu demi lagu telah dibawakan. Di lagu terakhir aku telah menyiapkan segala amunisi, baik itu puisi paling manis serta cincin dan mawar sebagai bukti romantis. Di saat menyiapkan segala hal, aku lupa terhadap sesuatu terpenting. Ia hilang entah kemana sementara lagu terakhir hampir dimulai bahkan orang di atas panggung sudah memegang mic lalu berkata

"Terimakasih untuk kalian semua yang telah hadir. Ini lagu terakhir dari saya. Lagu ini spesial untuk setiap orang yang sedang jatuh cinta, khususnya untuk seseorang yang baru seminggu lalu aku lamar."

Gadis yang kucinta berada tepat disamping penyanyi yang ia suka. Begitu mesra sembari berpegangan tangan, Aku abai terhadap cincin dijari manisnya.

Friday, October 7, 2016

Tertinggal Jauh

Di pagi hari yang cerah ditambah iringan instrumen alam berupa kicau burung menambah syahdu suasana pagi hari. Aku bersyukur tinggal di Indonesia negara tentram tanpa perang sekalipun kondisi ekonomi tak terlalu baik, setidaknya tidak ada dentuman meriam hanya ada dentuman hati yang berharap dicintai. Tiba-tiba ditimpuk warga.

Berbicara cinta tidak asyik rasanya jika tak membahas polemik di dalamnya. Cinta ibarat sambel, terlalu berlebihan buat sakit perut, tidak memakan berasa ada yang kurang. Dari remaja hingga manula pernah merasakan cinta. Bahkan para ahli membagi beragam jenis cinta, dimulai dari cinta buta, cinta monyet, mungkin suatu hari nanti akan ada istilah cinta T-rex, besar dan menakutkan. Siap mencabik siapa saja yang berkhianat. Serem juga cinta T-rex.

Banyak orang yang berkata bahwa cinta ialah fitrah manusia. Seseorang yang tidak memiliki cinta dapat diasumsikan sebagai robot, Kokoh diluar namun sangat rapuh di dalamnya. Seperti para jomblo, berusaha kuat namun rentan untuk roboh. Kali ini ditimpuk jomblo se-Indonesia.

Tak usahlah takut dengan status jomblo karena sesungguhnya jomblo itu suatu cara yang diciptakan Tuhan untuk berlatih menyayangi diri sendiri sebelum diberi kepercayaan untuk berbagi cinta ke orang lain. Hidup jomblo. Tapi jangan terlalu lama jomblo nanti iri ketika melihat teman sudah punya anak dua, kita istri/suami pun tak punya.

Kejadian itu kualami beberapa hari lalu. Sudah menjadi kebiasaan untuk meluangkan waktu setidaknya 15 menit sekadar membuka media sosial. Di sana aku menemukan status alay, keluhan bahkan sebuah ratapan terhadap kerasnya kehidupan. Baru beberapa menit bermain FB, tetiba muncul notifikasi pemberitahun dari seorang teman yang menandai aku.
Ia mengucapkan syukur karena telah dikarunia anak kedua. Tetiba diri seperti disambar petir.

Umurku dengan teman baikku sama hanya terpaut satu bulan, masih kisaran dua puluh tahunan awal. Tetapi prestasi dalam segi cinta harus akui aku tertinggal jauh. Aku belum pernah berprestasi dalam percintaan. Semoga kelak diri ini berprestasi dengan membawa seorang wanita dan bayi dipangkuannya.

Thursday, October 6, 2016

Orang Di Ujung Republik

Ketika Inggris dipimpin perdana menteri Tony Blair, ia menegaskan tiga prioritas pemerintahannya saat itu ialah “ Pendidikan, Pendidikan dan Pendidikan”, Inggris percaya bahwa pendidikan mampu mengantarkan negaranya berjaya di abad 21.  Puluhan tahun setelah itu tanah Brinatia raya kembali berjaya, terbukti dengan digdayanya Universitas Oxford dan Cambridge yang menjadi magnet jutaan manusia untuk berlomba menjadi mahasiswanya.

Di belahan bumi lain tepatnya negeri sakura, Jepang. Pendidikan menjadi prioritas utama bahkan dari puluhan tahun lalu. Ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua, Kaisar Hirohito pernah bertanya tentang jumlah guru yang tersisa. Ia tidak bertanya berapa bangunan roboh, ia juga tidak bertanya berapa kas negara tersisa. Sang Kaisar hanya bertanya jumlah guru yang tersisa.

Terdapat benang merah yang sama antara pemikiran Kaisar Hirohito dan Perdana Menteri Tony Blair, Mereka memiliki sudut pandang sama bahwa pendidikan ialah pondasi suatu bangsa. Membangun negara tak hanya butuh alat-alat baja, membangun negara tidak juga berpatokan dari besarnya pendapat perkapita, membangun negara diawali dari mempupuk pondasi bernama pendidikan. Lalu bagaimana dengan nasib negeri kita tercinta, sudahkah memprioritaskan pendidikan sebagai unsur utama pembangun bangsa ?

Anggaran pendidikan dalam APBN Indonesia menyentuh angka 20 %, persentase yang cukup untuk membangun Nusantara tapi dalam penerapannya maasih banyak cela yang harus segera diperbaiki, terutama pendidikan di tapal batas. Perbatasan ialah etalase Indonesia di mata negara tetangga. Jangan sampai orang di ujung republik ini terkikis rasa nasionalis karena pemerintah terkesan mengacuhkan mereka. Contoh nyata adalah Sebatik. Suatu pulau di kabupaten Nunukan, Kalimantan utara.

Orang di ujung republik, jangan sampai menjadi suatu kalimat memilukan untuk saudara kita yang berada di perbatasan Malaysia. Sarana dan prasana pendidikan di sana dalam kondisi memilukan. Sekolah di Sebatik hampir sama dengan kondisi sekolah-sekolah di tapal batas lainnya, Kuantitas serta kualitas masih terbatas. Banguna sekolah yang hampir rubuh menjadi pemandangan biasa sekalipun semangat belajar anak-anaknya di sana tergolong luarbiasa. Mereka harus menempuh puluhan kilometer untuk sampai di sekolah. Di setiap kecamatan hanya terdapat beberapa sekolah dasar, dan kurang dari 10 sekolah untuk satu pulau Sebatik. Meskipun dalam kondisi keterbatasan, semangat belajar mereka tidak pernah terkikis. Di kepulauan yang kaya dengan komoditas lautnya, mereka berjuang memetik impian lewat pendidikan.


Peran pemerintah diharapkan hadir untuk memfasiltasi orang-orang luarbiasa di ujung republik tercinta. Pemerintah ada untuk menuntaskan janji bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Jangan mematahkan semangat belajar mereka dengan segala keterbatasan yang ada. Kita harus percaya kelak Indonesia akan menjadi negara digdaya asalkan pendidikan menjadi prioritas utama.

Wednesday, October 5, 2016

Tak Punya Judul

Tidak terasa waktu melesat begitu cepat. Rasanya dulu masih kelas satu SD yang 
selalu meminta dimandikan mamah tapi sekarang umurku sudah bertambah hingga menyentuh angka 20 lebih dikit, beneran dikit kok. Seiring bertambahnya usia segala kewajiban pun ikut bertambah. Kewajiban mencari uang. keharusan mandi serta menyegerakan mencari sosok istri (Ini keinginan pribadi)

Dalam hal pendidikan pun tak terasa sudah menyentuh semester tujuh, tahapan keramat menurutku. Angka tujuh menjadi spesial karena banyak hal-hal luarbiasa dilukiskan dalam angka tujuh. Keajaiban dunia, lapisan langit, tingkatan neraka dan surga bahkan di luar sana ada yang punya cita-cita memiliki istri tujuh. Aku engga niat punya istri tujuh beneran deh. Umumnya angka tujuh menunjukan sesuatu yang spesial tapi bagiku tujuh itu berat, eh bukan berat badanku yang menyentuh 70 kg, baru 65 kg kok.

Semester tujuh benar-benar menyita waktu dan tenaga bahkan sempat merasa badan ini sedikit kurusan karena terlampau lelah tapi kenyataannya masih sama aja, sedih sekali. Praktik ngajar, kuliah dan menyusun skripsi menjadi sumber penyita waktu paling utama selain jarak yang cukup jauh untuk menempuh kampus dan lokasi praktik ngajar. Lelah memang tapi semua itu terobati ketika bertatap muka dengan siswi, eh maksudnya siswa duh jadi typo.

Berbicara tentang skripsi, skripsiku membahas pembelajaran menulis puisi padahal aku pun jarang sekali menulis puisi. Seperti seorang penjual mie ayam ingin menjadi ahli dalam masakan padang. Menurutku menulis puisi sulit bahkan lebih sulit daripada menulis cerpen. Ketika menulis puisi dituntut untuk pandai meringkas suatu ide pokok dengan bahasa indah. Sayangnya aku belum terlatih menulis indah lebih prepare ke tulisan tidak jelas seperti ini.

Untuk beberapa bulan ke depan, aku mencoba berlatih menulis puisi karena tak mau menanggung malu, so soan meningkatkan keterampilan siswa dalam hal menulis puisi tetapi aku sendiri belum terlatih berpuisi. Apa kata dunia kalau begitu ?

Puisi mempunyai kekuatan gaib untuk mengubah seseorang. Semoga dengan rutin menulis puisi aku bisa berubah menjadi power rangers.

Tuesday, October 4, 2016

Dendam

Aku Gilang, anak bungsu dari kedua orangtua yang saling cinta. Orangtuaku punya tiga anak, aku dan kedua kakakku yang berwajah sama. Keluarga kami termasuk mapan dalam hal ekonomi, tak pernah kekurangan. Ayahku seorang pengusaha sukses dengan jejaring bisnis luas. Pagi di Bandung, siang hari sudah di Singapur, malam dinner di Tiongkok. Terkadang sebulan penuh bisa berkeliling dunia mengajak kami berlima plus asisten keluarga, Mba atik.

Aku termasuk yang paling dekat dengan mamah berbeda dengan kedua kakakku, mereka lebih dekat dengan ayah. Meskipun kesibukan mendera ayah, namun ia secara tak tertulis mengharuskan seharian penuh seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah. Sekadar untuk bercerita serta memupukan rasa kekeluargaan. Hari itu ayah bercerita kepada ketiga anak lelakinya, bagaimana menjadi seorang lelaki sejati. Aku kagum dengan gaya penuturan ayah, lebih memukau dari motivator terkemuka sekalipun. Kedua kakakku juga nampak setuju, namun sedikit ada wajah yang aneh dari mamah.

Tibalah malam hari, di saat mamah menyiapkan makan malam bersama Mba Atik, asisten rumah tangga yang umurnya lebih muda beberapa tahun dari mamah. Semua anggota keluarga telah berkumpul mengitari meja makan. Kedua kakakku bersemangat sekali menanti makanan buatan mamah yang terkenal lezat tiada dua. Ayah pun menanti hal yang sama. Dengan senyuman mamah membawa beberapa hidangan.

"Bunda, kenapa bukan Atik saja yang membawa makanannya, " Ayah termasuk pria romantis sekalipun umur pernikahan kedua orangtuaku sudah menginjak 20 tahun.

"Engga, Pah. Kasihan Atik kecapean. Ia sudah Bunda suruh beristirahat," Di iringi senyuman.

"Oh, Yaudah, " Ayah menjawab datar.

Tetiba setelah makanan disajikan, kandung kemihku tak bersahabat. Ia diperintahkan otak untuk membuang cairan. Tanpa di komando aku berlari ke toilet.

"Gilang, mau kemana makan dulu, " mamah setengah berteriak melarangku pergi. Namun kali ini aku membangkang, rasa ingin kencing mengalahkan kepatuhan.

"Sudahlah Mah, biarkan saja mungkin dia kebelet."

Rasanya lega telah mengeluarkan cairah yang tak tertahankan. Aku bergegas kembali ke ruang makan namun karena terburu-buru kakiku tersandung sesuatu. Aku mencoba mengamati benda yang membuatku jatuh. Mataku mencoba memfokuskan pandangan tapi tiba-tiba lampu rumah padam. Aku tak kehilangan siasat. Merogoh saku kemudian mengeluarkan HP, menjadikannya sebagai penerangan. Kulanjutkan pengamatanku terhadap benda itu, dengan cahaya terbatas aku menyentuhnya. Bentuknya seperti batok kelapa hanya saja berlumurkan cairan. Aku coba mendekatkan benda itu dengan sumber cahaya dari HP, ternyata mengejutkan.

"Mba Atiiiiiik," Aku berteriak sekuat tenaga. terkejut melihat kepala Mba Atik terpisah dari tubuhnya. Darah segar mengalir dari tempat bola matanya yang sudah hilang.

Sedetik kemudian aku mendengar teriakan mamah diiringi suara tembakan. Di lanjutan dengan rintihan kedua kakakku. Dalam suasana gelap, kepalaku berpikir keras. Ada apa ? Siapa yang tega membunuh Mba Atik begitu kejam. Tubuh Mba Atik bahkan dimutilasi. Peristiwa-peristiwa menyeramkan terjadi tak terduga, aku paling mengkhawatirkan mamah. Ia berteriak penuh ketakutan. Aku mengedap-mengedap menuju ruang makan. Mencoba berpikir jernih terhadap segala kondisi.

Ruang makan tampak lenggang, cahaya dari HP menunjukan kedua kakakku menunduk di meja makan.

"Kak, Mba Atik dibunuh. Sekarang mamah dan ayah dimana ? "

Kedua kakakku terdiam seribu bahasa. Aku mendekati mereka. Mencoba mengguncangkan tubuhnya. Cairan merah mengalir dari kepala. Kedua kakakku telah dibunuh juga.

"Keluar kau pembunuh, jangan menghancurkan keluargaku," Linangan airmata bercampur emosi mengiringi teriakan lirihku.

Aku mencoba mengitari seluruh bagian rumah. Mencari sosok kedua orangtua tercinta. Tibalah di ruang kerja ayah. Aku melihat siluet ayah terduduk ketakutan dihadapannya terlihat bayangan seseorang membawa sesuatu. Ia menarik benda itu, suara bising terdengar.

"Gergaji besi," teriakku dalam hati.

"Hati-Hati ayah, menghindar."

Sebelum teriakanku merambat ke alat pendengarannya, Sabetan gergaji besi memutuskan kepala ayahku. Semburan darah mengalir deras hingga mengenai wajahku. Aku terdiam kaku terlampau takut untuk menyaksikan kejadian ini semua.Tanganku gemetar bahkan tak kuat menggenggam HPku, HPku terjatuh menandai mentalku yang juga jatuh.

Di tengah berbagai ketakutan, terdengar langkah kaki mendekatiku. Aku curiga itu pembunuh ayah. Suara itu semakin dekat bahkan sekarang ia menyentuhku. Ia menggenggam tanganku, aku tak punya kekuatan untuk menolak. Ia memapahku menuju ruang makan.

"Gilang, duduk, " Suara itu sangat akrab di telinga. Suara lembut.

"Mamah," Aku berteriak sembari memeluknya.

"Maaaaah. Kakak, Ayah bahkan Mba Atih telah di bunuh," Sembari mengigil.

"Biarkan saja itu perbuatan setimpal untuk mereka,"

Bagai disengat petir, Aku kaget mendengar ucapan mamah.

"Sudah, jangan dipikirkan Gilang. Mamah masak sayur baso kesukaan kamu. Ini makan." Mamah mengambil nasi dan lauknya.

"Buka mulutmu Gilang, bukannya kamu paling suka disuapin mamah,"

Tetiba lampu menyala, Bola mata terlihat di depan mulutku. Di sisi lain mamah tersenyum penuh luka sembari berkata.

"Atik berselingkuh dengan ayahmu hingga melahirkan dua anak kembar," Sembari melirik ke arah kakak-kakakku yang terduduk kaku.

Monday, October 3, 2016

Kejadian Tak Terduga

Aku pulang ke rumah seperti biasanya, membawa setumpuk ceria. Suasana di sekolah begitu menyenangkan.Aku selalu merasa menjadi pahlawan di saat maju ke depan mengerjakan soal fisika dengan deretan angka di belakang koma. Teman-teman bertepuk tangan, soal dengan level sulit bagi mereka telah mampu aku taklukan. Senyum guru mengiringi seolah menjadi bahan baku sumber bagiku.

Tuhan sangat berbaik hati. Kebahagiaan di sekolah telah disempurnakan dengan kondisi keluarga. Ayahku pemimpin partai politik meskipun ia super sibuk selalu meluangkan waktunya untukku. Ibu seorang manajer rumah tangga super tangguh, mampu mengatasi berbagai keluhan anaknya dengan bijaksana. Kedua adikku yang lucu menjadi pelengkap potongan penyempurna bahagia.

Di saat usai sekolah, aku selalu ingin cepat pulang ke rumah. Menanti senyum sekaligus pelukan seorang mamah. Melihat ayah berkutat dengan puluhan berkas tapi masih sempat memberikan raut wajah terbaiknya untukku. Terbayang keceriaan adikku yang berlomba menyambut sang kakak tertua, namun hari ini terasa berbeda.

Jalan menuju rumahku terlihat sepi, biasanya beberapa ibu-ibu sedang bergosip, membicarakan sesuatu dengan kadar kebenaran belum jelas. Kemudian mereka menyapa dengan wajah cerianya. Hari ini suasana itu tidak aku temukan. Orang-orang lebih memilih berlarian menuju suatu titik yang tak pernah aku tahu. Semakin mendekati rumahku, kumpulan orang semakin ramai. Aku keheranan melihat kejadian yang tak biasa. Di sudut lain, Kulihat kendaraan bak terbuka membawa karangan bunga ekstra besar. Ku amati sekelilingi, beberapa orang menancapkan bendera kuning.

Aku berusaha tetap tenang. Menghilangkan berbagai tanya dan tetap percaya tak ada kejadian apa-apa. Keyakinanku hanya bertahan beberapa menit, dikalahkan pikiran negatif yang datang bertubi-tubi. Semakin dekat dengan rumah semakin besar rasa khawatir. Aku berlari sekuat tenaga, ingin rasanya cepat sampai rumah. Di pekarangan kudapati beberapa saudara terdekat menangis. Aku tanya kenapa, mereka hanya diam saja. Aku bergegas masuk ke rumah. Ku temukan ibuku juga menangis. Aku bertanya kemana ayah, tak ada seorangpun yang menjawab.

Ku mengitari berbagai sudut rumah, tak kutemukan sosok ayah. Ia menghilang bagai ditelan bumi. Tibalah aku di halaman belakang rumah. Aku melihat orang-oramh berkumpul di antara dipan. Mengelilingi ayahku yang kaku.

Kaku dihadapan sorotan kamera, dengan gemetar ia berkata "Semoga amanah menjadi walikota dapat saya emban dengan sebaik-baiknya. Terimakasih yang telah memilih saya. Terimakasih juga partai pendukung yang bekerja keras menguningkan daerah ini, ngomong-ngomong karangan bunganya bagus," Sembari diiringi tawa.

Saturday, October 1, 2016

Generasi Instan

Mie instan menjadi pilihan terakhir di saat darurat ketika lapar mendera secara tiba-tiba. Hanya perlu tiga menit saja untuk menyajikan makanan sejuta itu, maka wajar mie instan menjadi pilihan pertama untuk mahasiswa kos-kosan. Namun di balik praktisnya makanan kemasan berbentuk rambut tersebut mengandung bahaya yang mengintai.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr Braden Kuo dari Massachusetts, Ia menemukan fakta mencengangkan. Penelitian itu dilakukan dengan memasukan kamera super kecil ke organ pencernaan manusia, hasil yang didapatkan menunjukan fakta luarbiasa sebagai berikut :

1. Mie instan membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna

Mie instan tidak mudah "hancur" di dalam pencernaan sehingga organ-organ pencernaan perlu bekerja ekstra keras untuk menghancurkannya, bahkan dalam dua jam mie instan masih terlihat utuh. Lebih berbahayanya lagi pencernaan dipaksa menyerap terlebih dahulu pengawet yang terkandung dalam mie instan, tentu efeknya tidaklah baik.

2. Mie Instan Mengandung Pengawet TBHQ Berbahaya Bagi Tubuh

Orang-orang dengan dasar keilmuan kimia pasti tahu TBHQ. Sebenarnya TBHQ merupakan antioksidan hanya saja bukan berasal dari dalam tubuh. THBQ ialah antioksidan sintetis dari bahan kimia. Zat itu berfungsi untuk mencegah minyak dan lemak agar tidak teroksidasi. Singkatnya berperan sebagai pengawet mie. THBQ sering ditemukan dalam parfum dan kosmetik. Lima gram THBQ sudah mampu membahayakan manusia. Akibat dari terlalu sering mengonsumsi TBHQ adalah mual disertai muntah, terjadi dering di telinga, mengigau, dan sesak napas.

3. Mie Instan Penyebab Gangguan Metabolisme

Seseorang yang mengonsumsi mie instan lebih dari dua kali dalam seminggu berisiko mengalami gangguan metabolisme, yaitu gejala-gelaja tubuh seperti obesitas, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, dan kolesterol. Diketahui wanita 68 persen lebih berisiko dari pria.
Para konsumen mie instan memiliki asupan nutrisi lebih rendah, seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C. Hal tersebut diperparah dengan ditemukannya zat Benzopyrene (zat penyebab kanker) di dalam sejumlah merk mi instan.

Ternyata mie instan menyimpan bahaya yang menakutkan namun ada hal lebih menyeramkan dari mie instan yaitu generasi instan. Generasi instan, berlomba-lomba cari pendapatan tak kenal halal atau haram. Merekalah koruptor.

Generasi instan, membuat sensasi seakan layar kaca miliknya seorang. Kasus tak bernorma tampil di layar kaca guna menaikan pamor sang wayang di panggung sandiwara. Merekalah artis instan, ada untuk dilupakan

Generasi instan yang memperpanjang gelar di depan dan belakang nama. Tanpa usaha, tanpa ilmu, cukup uang belasan juta.
Generasi intelektual instan. Gelar hanya ajang pamer. Merekalah pembeli ijazah.

Friday, September 30, 2016

Tarian Bisu

Hari ini aku dilanda penyakit yang sungguh merepotkan. Bukan penyakit galau seperti biasanya, bukan juga gelaja langsingnya dompet, kalau itu sudah biasa. Amandelku membesar sehingga ketika membuka mulut terasa sangat sakit. Sebenarnya di saat menginjak bangku SMP sempat di landa penyakit serupa bahkan selama dua bulan penuh.

Mamah tetiba menganalisis penyebab membengkaknya amandelku. Memakan mie berlebihan menjadi indikasi yang mamah curigai. Mamah menceramahi dengan berbagai istilah yang tak ku mengerti. Maklum beliau penggemar berat acara dokter Oz. Aku saat itu seperti anak SD yang jajan coklat berlebihan lalu dimarahi orangtuanya. Memang di mata seorang ibu anaknya selalu terlihat seperti anak kecil.

Sebenarnya suara adalah alat utamaku untuk bekerja. Seorang guru tak mungkin mengajar tanpa suara. Saat itu aku mencoba berbicara seperti biasanya namun tenggorokan seperti terbakar, perih sekali. Setelah berpikir keras, aku berusaha melakukan pantomim untuk menyampaikan pembelajadan diiringi beberapa tulisan di papan tulis. Awalnya mereka tertawa tetapi setelahnya terbiasa, pembelajaran berlangsung normal.

Masalah lainnya menghampiri. Besok jadwalku bimbingan skripsi. Kebingungan untuk berkomunikasi dengan dosen. Apakah aku harus kembali berpantomim atau bahkan menari untuk menyampaikan hal-hal penting tentang skripsi ?
Memang tarian memiliki bermacam tujuan seperti menyambut tamu, bentuk syukur, ritual tapi belum ada tarian sebagai media penyampai skripsi. Jika itu terjadi aku akan menjadi orang pertama. Sungguh merupakan suatu penghormatan.

Monyet Pencari Rupiah

Dulu kehidupanku nyaman, hidup di alam bebas. Bebas untuk meloncat, bermain, mencari makanan dan apapun yang aku suka. Aku punya beberapa teman baik, burung yang selalu bernyanyi ketika ku bersedih. Kancil. Si cerdik yang selalu memiliki ide untuk mendapatkan makanan dari berbagai tempat.

Kehidupan sangat nyaman sebelum segerombolan manusia membawa senjata mendatangi tempat tinggalku. manusia-manusia tak bertanggungjawab merusak tempat tinggalku, menebang pohon-pohon yang menjadi tempatku berteduh. Di saat mereka datang, teman-temanku berlari menyelamatkan diri. Burung-burung ditembaki, si kancil tertangkap oleh sebuah jebakan dan aku sendiri terjebak dalam jaring.

Aku tidak tahu akan dibawa kemana, pandanganku gelap tak bisa melihat apapun. Suara-suara bising yang asing menghampiri telingaku, tubuhku sakit dilempar ke berbagai tempat baru. Beberapa hari kemudian, aku berada di tempat asing. Puluhan kandang kulihat, beberapa teman-temanku terperangkap didalamnya, mereka nampak sedih.

Seorang pria kurus menghampiri pemburu yang menangkapku. Ia terlihat berbicara kepadanya, beberapa saat kemudian pria kurus itu membawaku ke tempat yang kotor. Aku dimasukan ke dalam kandang sempit. Leherku dipasangkan tali yang panjang, sakit sekali leher ini. Aku dipaksa bermain dengan alat-alat yang tak ku kenal. Ketika ku menolak, tali yang dileher ditarik sekencang-kencangnya. Aku terpaksa mengikuti perintahnya, beberapa buah pisang ia berikan jika aku bersikap patuh.

Setiap pagi aku dibawa ke tempat yang ramai, benda seukuran temanku bernama gajah sering sekali aku lihat. Ia mengeluarkan asap hitam yang membuat pedih mata. Tiga lampu dengan warna hijau, kuning dan merah menjadi panduanku beraksi. Ketika lampu menampilkan warna merah, pria kurus itu menarik tali dileherku, memerintahkan untuk beraksi seperti saat latihan. Aku mengangkat benda yang mereka sebut payung, menari-nari hingga orang-orang melemparkan benda-benda. Pria kurus menyebutnya benda itu uang. Uang yang dia belikan barang-barang canggih seperti papan tanpa tombol yang ia gunakan berbicara sendirian. Benda yang lebih cepat dari temanku Kuda, ia beli dari uang hasilku beraksi.

Aku rindu masa-masaku di tempat tinggalku dulu. Bermain, meloncat bebas tanpa ada tali di leher. Aku ingin kabur berhenti beraksi di tengah tiga lampu berwarna. Mataku pedih menerima asap dari hewan besi itu. Masa-masa di kandang sama sekali tidak menyenang. Jatah makanku hanya satu pisang dalam sehari.

Pagi hari telah tiba, sebenarnya aku tak berharap matahari datang lebih cepat. Ketika pagi datang itu berarti perjuanganku dimulai. Pria kurus memasangkan tali ke leherku, diri ini pasrah. Aku merenung dalam, Terbayang harus merasakan kesakitan kembali. Tetiba dari kejauhan petugas berseragam putih mengendarai hewan besi. Berbicara keras kepada pria kurus , aku dibawa ke dalam mobil, begitulah mereka menyebut hewan besi itu. Di dalam mobil, seorang dengan benda-benda aneh memeriksaku kemudian memberikan makanan yang sangat enak.
Aku sampai di tempat baru. Tempatnya nyaman serta makanannya pun enak. Satu bulan di sana, aku dilepaskan kembali ke rumah asalku. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman-teman lama di tempat paling nyaman.

Wednesday, September 28, 2016

Mamahku dan Sinetronisme

Seorang ibu memang malaikat tanpa sayap bagi anaknya. Rela melakukan apapun untuk darah daginganya, bahkan ada sebuah kata bijak di belakang truk yang mengatakan

"Kasih ibu sepajang jalan, kasih anak kandas di pengkolan."

Aku tak habis pikir, mengapa mamahku sayang banget dengan anaknya yang bandel ini. Sebelum aku bangun sarapan sudah tersedia (Meski nggak selalu) pakaianku tiba-tiba rapi semua, Aku tahu siapa pelakunya pastilah mamah. Mamahku lebih dari super hero yang mampu mengatasi tiga penjahat berdarah hangat. Iya, mamah menjadi perempuan paling cantik di rumahku. Tiga penduduk lainnya adalah cowok paling pintar kalau urusan makan, cowok paling malas kalau urusan kebersihan. Wajar jika kami disebut penjahat dalam rumah tangga.

Layaknya seorang ibu-ibu, mamahku juga penganut aliran sinetronisme. Teman-teman tahu apa arti bahasa ilmiah di atas ? kalau belum tahu silakan googling pasti hasilnya tidak ada, karena itu teori yang aku ciptakan beberapa menit lalu, belum dimasukan ke dalam jurnal internasional.

"Gayamu Lang bahas jurnal internasional ? biasanya nulis tentang kegaluan terus. "

" Sssst diam kamu. Mau aku timpuk pakai mobil kontener ? "

Okey tadi ada gangguan sebentar. Sinetronisme adalah seperangkat asumsi yang mengarahkan seseorang secara tidak sadar agar mengikuti setiap episode dalam rangakaian cerita sinetron. Mamahku nampak sudah terkena sinetronisme, setiap hari tak pernah alfa menonton "anak jalanan" dan "anugrah cinta". Khusus untuk anugrah cinta, mamah bahkan bisa memarahi TV karena rasa kesal terhadap salah satu tokohnya.

Aku sempat khawatir mamahku melemparkan benda-benda keras ke layar TV. Tak mau TV yang bersejarah itu rusak karena emosi yang disebabkan sinetron. Sebenarnya mamahku termasuk pemain kawakan dalam aliran sinetronisme. Setiap sinetron tidak pernah terlewat ia tonton. Entah punya kekuatan apa sinetron itu sehingga mampu menghipnotis mamahku.

Tayangan sinetron mempunyai zat aditif tersendiri hingga aku pun terkena. Beberapa hal telah aku cermati dari gejala sinetronisme, diantaranya :

1. Merasa bahagia jika sebentar lagi sinetron yang disuka tayang.
2. Terlihat serius menatap televisi bahkan abai dengan lingkungan sekitar.
3. Emosi tidak stabil bahkan bisa bahagia dan menangis bersamaan.
4. Tiba-tiba rasa kesal hadir ketika sinetron menampilkan tulisan bersambung.
5. Memiliki kecenderungan untuk membicarakan sinetron yang telah ditonton dengan teman lainnya yang menghidap sinetronisme juga.

Nah, apakah teman-teman memiliki 3 dari ciri-ciri tersebut ? Kalau iya selamat anda mengidap sinetronisme.