Thursday, March 31, 2016

Kisah Cinta dan Rangga

Puisi Tentang Seseorang 

Karya Rako Prijanto

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku,.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku
Sepi..sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar..
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tidak kau goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai..?

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Coba tebak puisi di atas pernah muncul dalam film apa ? please jangan jawab di film tali pocong perawan.  Okey kamu benar,  Sinema “ Ada Apa dengan Cinta” atau lebih familiar dengan judul AADC. Mari kita bernostalgia, AADC menceritakan sepasang anak SMA bernama Cinta dan Rangga. Pada zaman itu Cinta termasuk tipe cewek paling kece badai jika merujuk kata gaul anak muda, sedangkan Rangga merupakan cowok bertipe cool, puitis, ganteng dan penyuka sastra mirip aku banget pokoknya, jangan muntah pembaca.

Di sekolah mereka diadakan lomba menulis puisi, Cinta Cs sebagai pengurus Mading yakin bahwa Cintalah yang akan menang, tak diduga sosok pria berakta lahir Ranggalah juaranya. Cinta sebagai ketua Mading wajib mewawancarai Rangga, namun cowok penyuka sastra menolak dengan tegas, Cinta terus berusaha bahkan dengan menghampirinya dan memberikan surat bernada kasar, Rangga marah berusaha menjauh dari cinta tapi bukunya berjudul “Aku” jatuh yang kemudian dipungut Cinta, nah itulah awal cinta mereka.  Sutradara menakdirkan 2 sejoli bertemu lalu menjalin cinta tapi akhirnya dipaksa berpisah lagi, jahat bener sutradara dan penulis naskahnya. Rangga harus pindah ke New York, USA dan otomatis kisahnya dengan Cinta dipaksa berakhir. 14 tahun kemudian Rangga mengirimkan pesan via aplikasi jejaring sosial buatan Jepang, mengabari Cinta bahwa ia akan kembali ke Indonesia. Enak banget jadi Rangga memberikan harapan palsu selama 14 tahun lalu datang kembali untuk mempertanyakan kisah Cinta

Beberapa hari ini sering melihat iklan air mineral dengan membawa alur cerita AADC versi 2. Rasanya banyak kemiripan antara aku dan Rangga. Aku seorang pria, Rangga juga. Aku jomblo, Rangga juga. Aku penyuka sastra, Rangga juga. Sayang sekali Rangga ganteng sementara aku belum ganteng, catat belum yah? bukan tidak. Aku akan ganteng pada saatnya tapi rasanya itu masih lama. Andai diri ini pemeran tokoh Rangga tentu akan setia dengannya hingga Cinta merasa jijik lalu pergi meninggalkanku, sulit dibayangkan bila aku jadi Rangga.

Meski takkan pernah bisa mengubah wujud menjadi Rangga, setidaknya aku meniru salah satu kebiasaanya yaitu membawa buku kemanapun pergi. Beberapa minggu lalu berkunjung ke rumah sakit dengan tujuan mengantar mamah, tahu dong antrian di Rumah sakit pemerintah hingga mendapatkan obat itu bisa sampai 5-8 Jam, sering sekali ku menamatkan bacaan di rumah sakit, sensasinya luarbiasa menunggu berjam-jam tak terasa larut dalam dunia cerita. Pantas saja Rangga suka menyendiri bisa jadi ia sedang larut dalam dunia bacaan.

Setiap cerita punya amanat yang terkandung didalamnya. AADC mengajarkanku bahwa budaya litera (Menulis dan membaca) mampu menghantarkan seseorang bertemu dengan cintanya, setidaknya jika belum menemukan cinta yang berwujud, maka ditakdirkan berjodoh dengan cinta kasat mata yaitu ilmu. Ilmu tak pernah berkhianat kepada pencintanya, Ia bukan hanya teman yang memudahkan hidup di dunia, tetapi bekal penambah timbangan pahala. Terimakasih Cinta dan Rangga lewat perantaramu aku mencintai sastra, mencintai ilmu serta mencintai seseorang yang belum Allah tentukan.

Wednesday, March 30, 2016

Berawal Rindu Berakhir Syahdu

Manusia tak pernah bisa hidup dalam kesendirian, sekuat apapun dirinya akan datang sepi yang menghampiri. Jangankan manusia, semut pun tak pernah bisa hidup sendiri. Ia berkumpul dalam koloni untuk saling melengkapi.  Tak pernah ku temukan seseorang yang memenuhi kebutuhannya tanpa memerlukan orang lain, membangun rumah, membuat baju, menciptakan kendaraan dilakukan sendirian itu sebuah kemustahilan.

Kesempurnaan kehidupan tak semata lahir dari harta, orang paling kaya sedunia jika hidup dalam sepi dapat dipastikan bahagia jauh dari dirinya. Nabi Adam pun pernah merasakan perihnya bertahan dalam kesendirian sekalipun ia di berada di Surga, tempat paling didamba seluruh manusia. Allah maha tahu isi hati hambanya, Hawa pun tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam untuk melengkapi kehidupan dan menjauhkannya dari rasa sepi.

Kesepian yang pernah dirasakan Nabi Adam kini mengalir dalam diriku, sejatinya aku mempunyai banyak teman namun kosongnya hati tak pernah alfa menghampiri. Setiap senyuman yang terpancar dari wajah ini sekedar kamuflase untuk menutupi kesedihan. Namaku Gilang, titisan Adam yang mencari penerus Hawa. 22 tahun sudah aku hidup di dunia banyak kejadian pahit dan manis sudah dirasa tapi tak ada peristiwa sepahit kehilangan dirinya.

Setahun lalu, Gedung landmark Braga menjadi saksi perhelatan Book fair terbesar se-Jawa barat. Ribuan buku berjajar dengan rapi seolah meminta untuk dibawa pulang, ku telusuri setiap sudut stand-stand guna mencari “Rindu” novel terbaru Tere Liye saat itu. Mata menemukan titik fokusnya dilanjutkan ke otak yang memerintahkan kaki untuk menghampiri sesuatu yang dicari. Hati bersorak “Rindu” yang dicari akhirnya ditemukan dengan tulisan diskon 35%, sayang “Rindu” tersisa satu tapi aku punya saingan untuk mendapatkannya.

Perempuan berjilbab hijau menatap novel yang ku buru, sepertinya ia mempunyai hasrat sama untuk memiliki. Tanganku bergerak lebih cepat menjangkau novel bercover putih itu, ia terdiam dengan rasa kecewa yang tak bisa ditutupi, ketika tanganku lebih dahulu menggenggam novel yang juga ia buru. Rasa tak tega hinggap di dada, di saat perempuan cantik nampak kecewa. Jiwa lelaki menampakan diri.

“ Teh, mau beli novel rindu juga ?”

“Iya, tapikan hanya tersisa satu yang Aa pegang”

“Yaudah ini untuk Teteh , di tempat lain saja saya belinya”

“Beneran ini Aa ? makasih kalau begitu. Eh Aa juga suka baca karya Tere Liye”

“Kebetulan saya pengoleksi karya Bang Tere hanya 2 lagi karya beliau yang saya belum punya, Pukat dan Rindu”

“Kalau Pukat, kebetulan ada di tas dan saya sudah selesai bacanya. Kalau mau Aa boleh pinjem kok” Diiringi senyum dengan lesung pipi hadir menyertai.

“Teteh orang Bandung juga kan ? kalau begitu saya yang beli novel rindu tapi teteh yang bacanya, jadi kita bertukar buku. Nggak apa-apa kan teh ?”

“Iya saya orang Bandung tak jauh dari sini rumahnya. Dengan senang hati tapi bagaimana cara saya menghubungi Aa kalau sudah selesai baca novel ini ?”

“Kalau berkenan kita bertukar nomber HP aja”

Secarik kertas putih bertuliskan 12 deret angka dengan pemilik bernama Aira. 3 hari sudah wajahnya terus terbayang tak kuasa ingin menghubunginya tapi rasa malu mengalahkan itu semua. Di tengah lamunan yang semakin dalam, suara ringtone pertanda SMS masuk memecahkan semua. Tak sangka pesan yang ditunggu datang juga, Aira menyampaikan bahwa novel rindu sudah selesai dibaca, dirinya ingin bertukar dengan pukat yang juga sudah ku tuntaskan.

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya pun datang, kami selalu bertukar buku apapun. Rasanya tak hanya buku yang sering kami tukar, rasa berbeda bernama cinta sudah Aira ambil dariku. Cintaku kepadanya semakin dalam, aku tak ingin dikendalikan oleh perasaan yang belum halal. Tak mau setan mengambil peran kemudian menjerumuskan kami dalam kenistaan. Diri ini memberanikan nyali untuk melamar Aira, secara tersirat ia menyetujui maksud hati tapi sayang orangtuanya tak sekata dengan Aira. Mereka menolakku mentah-mentah disertai argumen menyakitkan hati.

“Kau hanya mahasiswa yang belum kerja, harta apa yang kau berikan agar anak saya bahagia ?”

Ucapan itu terus menghampiri pikiran, memang saat itu aku tak punya apa-apa. Tak ada harta yang diandalkan sebagai nilai tawar dimata orangtuanya. Aira, anak yang patuh, ketika orangtuanya menyuruh untuk menjauhiku, ia melakukannya sekalipun dengan derai air mata.

Novel rindu selalu mengingatkanku padanya, dalam novel ini masih terasa harum parfumnya. 7 hari yang lalu sakit hati semakin menjadi ketika ku coba mengetikan namanya di jejaring sosial facebook, muncul foto-foto Aira sedang memakai gaun pernikahan sebari memancarkan wajah tersenyum. Sungguh senyum paling pedih yang aku rasakan.

Aku kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup, saat itu tak pernah percaya lagi bahwa cinta sempat datang padaku. Hening malam, tetesan airmata perlahan mengalir ke pipi dalam doa meminta kepada Tuhanku untuk memberikan alasan agar aku dikuatkan.

Allah menjawab doa hambanya. Kala itu temanku mengirimkan file lewat media facebook, tak sepertinya biasanya yang sering menggunakan email untuk berkirim pesan. Jujur saja rasa trauma hadir ketika mendengar facebook, takut foto Aira bersama suaminya tiba-tiba muncul di berandaku. Beberapa menit ku coba amati media sosial buatan mark, tak ada tanda kemunculan Aira.
File yang dikirimkan temanku sudah terunduh, beberapa menit aku gunakan waktu untuk membaca artikel yang di share teman facebookku, hingga tibalah pada suatu artikel yang mengarah ke website beralamat http://www.bangsyaiha.com/. Ku baca artikel dengan judul “Kenal seminggu langsung diajak nikah” hasil karya seseorang bernama Bang Syaiha. Aku terlarut dalam tulisan itu seolah mendengarkan ceritaku sendiri namun dengan ending berbeda. Penulis bernama Bang Syaiha bertemu istrinya Teh Ella Nurhayati secara tak sengaja di  acara Book fair persis seperti diriku dengan Aira.

Menghayati tulisan Bang Syaiha semakin dalam, akhirnya ku mencoba menguatkan diri bahwa jodoh Allah yang tentukan, secinta apapun aku terhadap dia tak pernah bisa bersama jika Allah tak mengijinkannya. Tuhanku maha tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Sekarang aku terus bertekad untuk selalu mendekatkan diri padaNya sebari tak lelah menata keimanan agar dipantaskan. Semoga bisa seperti Bang Syaiha yang tak sengaja bertemu jodohnya, Teh Ella Nurhayati. Ketika Allah sudah berkendak tak ada yang tak mungkin bahkan untuk urusan cinta sekalipun.

Tulisan ini hanya fiksi belaka. Terinspirasi dari tulisan karya Bang Syaiha di http://www.bangsyaiha.com/2016/03/perhatikan-orang-orang-sekitar-karena.html






Tuesday, March 29, 2016

Waktu dan Kegalauanku

Waktu berjalan begitu cepat sekalipun ia tak punya kaki, aku tidur pagi hari kemudian terbangun tengah malam menjadi contoh bahwa  detak jam melaju secepat F1 atau aku tertidur laksana pingsan . Jika bergosip tentang waktu selalu menarik, Al-quran pun membahas waktu secara khusus dalam surat Al- Ashr. Detik walau tak tajam tapi mampu menikam  siapa saja yang lalai dalam menggunakannya. 
Seluruh manusia punya kouta waktu 24 jam dalam sehari, menurut akta kelahiran, spesies bernama Nychken Gilang Bedy S termasuk manusia, jadi dia pun punya waktu yang sama.

Senin, 28 Maret 2016 terasa berbeda, waktu dengan kuota 24 jam tak cukup dan aku tidak pernah bisa menambah koutanya. 
Hari itu terasa sangat peluh setelah begadang untuk menunaikan kewajiban menulis di blog, mencari ide kemudian menuliskan dengan tempo 2 jam cukup menguras tenaga akhirnya anakku bernama  Jarak lahir. Ia bercita-cita menjadi novel, semoga saja mimpinya tercapai serta aku yang berperan sebagai ayahnya bisa dikuatkan untuk terus menuliskan kisah jarak. Tulisan baru telah lahir tapi kantuk tak kunjung hadir walau jam sudah menunjukan waktu dengan angka 1 pada pagi hari, mata mulai dilanda kantuk tepat ketika lingkaran berisikan angka-angka menunjukan nominal 2.

Gaya gravitasi kasur sungguh menarikku dalam kantuk, sulit rasanya berdiri tegak, namun tetiba Malaikat cantik yang sedang tak memakai sayap datang diiringi teriakan

“Gilaaaaaaaang, kamu mau salat nggak ? atau mamah salatkan” teriakan belasan oktaf seketika mengalahkan gaya gravitasi. Aku berdiri dengan cekatan memakai jurus tanpa jejak untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan kewajiban seorang hamba.

Senin atau sebagian orang memanggilnya Mon(ster)day  dijalani dengan jatah tidur hanya  2,5 jam setelah sebelumnya deraan aktivitas meminta untuk diberikan perhatian. Jadwal hari senin mengharuskanku untuk menjadi panitia ujian akhir sekolah  pada jenjang  menengah kejuruan. Membereskan berkas-berkas serta menyiapkan soal ujian merupakan tugas negara yang harus segera dituntaskan, ditambah dengan kegiatan memeriksa lembar jawaban siswa dengan jumlah tak bisa dikatakan sedikit. Di tengah himpitan aktivitas, tetiba seorang guru perempuan menghampiriku dengan selembar kertas dalam hati berkata semoga bukan kertas tagihan hutang.

“Panik, ini undangan pernikahan aku. Hadirnya jangan lupa”
Beberapa detik tertegun sebelum mengangguk sebari berkata “Siap bu”

Bertambah lagi daftar teman yang akan berumah tangga, seketika galau melanda pikiran dengan siapa nanti aku akan menjalani hubungan bernama pernikahan, berharap menemukan titisan hawa seperti Oki Setiana Dewi, wajahnya menenangkan jiwa rasanya ingin selalu pulang ke rumah untuk segera menatapnya.

Galau bertahan cukup lama menemaniku hingga pulang ke rumah, kalau galau begini bawaanya ingin es krim sekalian membeli parfum dan minyak rambut yang stocknya mulai menipis. Tak elok jika seorang single berbau kaos kaki dengan tatanan rambut acak-acakan. Beberapa menit kemudian kaki sudah sampai di sebuah minimarket berinisial “A” dengan akhiran “Mart”, mengambil perlengkapan yang sudah direncakan untuk dibeli kemudian membawanya ke kasir. Kata template khas kasir menerjang diriku.

“ Ini saja Kang ?”
“Iya”
“Mau pakai plastik ?”
“Engga ah, soalnya bayar”
“Nggak sekalian dengan pulsanya ?”
“Engga”
“Minyak sedang diskon, nggak mau beli ?”
“Engga, aku nggak suka minum minyak”

Obrolan mesra berakhir tak bahagia dengan penolakan terlontar dari mulutku. Seharusnya mbak tadi memakai pertanyaan tak biasa misalkan

“ Kang, nggak sekalian mau melamar aku?”

Tak merenung lama untukku segera menjawab dengan antusias. Selain mbak cantik yang menawarkan segala barang, minimarket itu pun menjual hampir semua kebutuhan kecuali satu hal yang tak mereka jual yaitu waktu.

Sekaya apapun manusia tak akan bisa membeli waktu. Waktu, sumber daya tak bisa diperbaharui sama seperti minyak bumi, pemakaiannya harus sebijak mungkin. Seringku membuang percuma waktu dengan kegalauan demi kegalaun tentang masa lalu. Kita punya waktu sama, 24 jam. Tak kece jika membuang karunia Tuhan dengan kegalaun tanpa tindakan.

“Aku dan Chairul Tanjung memiliki waktu sama bernilai 24 jam. Tentu aku pun bisa seperti dia karena memiliki modal yang sama, 24 jam wujud karunia Tuhan.

Catatan Kaki:  # Panik (Panggilan aku di sekolah)
                          #Chairul Tanjung           (Orang terkaya ke 3 di Indonesia     menurut  Finance.detik.com tahun 2014)

                        

Monday, March 28, 2016

Jarak

Saat mentari masih malu-malu menampakan diri, aku sudah bergegas  pergi dengan jas putih menuju suatu tempat yang tak pernah sepi pengunjung, rumah sakit terbesar di Bandung, RSHS (Rumah sakit Hasan Sadikin) menjadi saksi perjuangan untuk melanjutkan kehidupan.  Bandung di pagi hari tak ramah dengan pengendara, kemacetan menjadi murid paling rajin dalam sekolah bernama kehidupan. Benci dan cinta memiliki batas sangat tipis, peribahasa yang cocok untuk keadaanku. Sekarang aku benci sekali dengan kemacetan karena dia hadir sebagai penyebab kekesalan, namun 17 tahun lalu keadaan justru berbalik, kala itu aku sangat suka kemacetan berkat perantaranya  diri ini bisa makan.

2 orang anak sedang berpacu dengan waktu, lampu merah menunjukan detik ke 10 sedangkan mereka masih bernyanyi sebari mengetuk jendela mobil lalu mengulurkan tangan, berharap suara cemprengnya dihargai rupiah. Bentak demi bentakan menjadi balasan untuk nyanyian mereka.

“Gilang, ngamen di lampu merah hasilnya minim banget. Kamu ada usul ngamen di mana lagi ? “  Bocah berumur 10 tahun bertanya sebari memegang ukulele, senjata sakti alat mengumpulkan pundi-pundir rupiah.

“ Kita coba di kereta, Jem. Teguh dan Jurdi bertugas di bus” diiring tepukan ke pundak jem sebagai tanda untuk segera pergi meninggalkan bahu jalan.

Saat itu kehidupan tak seramah sekarang. Bus, kereta bahkan angkot menjadi tempat kami berempat untuk mencari makan. Jem, nama aslinya Jama Saputra, rekan duet terbaik dalam konser jalanan. Sempat aku menanyakan asal-usul nama Jem, ia menjelaskan nama panggilannya berasal dari film James Bond yang ditontonnya. Jem penyuka Film, dia punya banyak kenalan tukang kaset dan DVD bajakan. Alasan berteman dengan mereka agar dapat menonton film gratis serta menambah referensi lagu untuk konser jalanan. Seorang yatim piatu yang titipkan di rumah pamannya, itulah jem, seorang bocah ceria meski tak diperlakukan seperti kebanyakan anak-anak sebayanya.

40 Km lebih jarak yang ditempuh untuk sampai di Stasiun Bandung. Kami berasal dari sebuah desa bernama Cikalongwetan, tempatnya sejuk dengan deretan kebun teh. Truk-truk besar sering melintasinya dari Jakarta menunju Bandung, kesempatan itu menjadi peluang untuk mengantarkan kami berempat menuju tempat pencarian uang. Aku, Jem, Teguh dan Jurdi berasal dari keluarga dengan keadaan jauh dari kata mapan.

Ular besi bernama KRD ekonomi sudah aku dan Jem tumpangi. Kereta ini seperti miniatur Indonesia dari pengamen hinga pengemis yang berpura-pura cacat, semuanya ada. Penuh sesak seolah tak memberikan kesempatan bagi kami untuk melantunkan lagu. 2 jam sudah berlalu namun keadaan tetap sama, penumpang silih berganti naik dan turun. Jem nampaknya sudah kesal, jangankan untuk bernyanyi sekedar memetik ukulele pun tak bisa. Aku mencari celah menuju tempat yang sedikit lapang akhirnya ditemukan sudut samping jendela di dekat seorang Ibu dan anak perempuannya yang berumur tak jauh dari kami. Jem nampak ceria setelah mempunyai ruang untuk memetik ukulele, ia menepuk pundakku untuk menyanyikan sebuah lagu.

“Aku yang lemah tanpamu, aku yang rentan karena cinta yang telah hilang darimu yang mampu menyanjungku”

“Stop, stop. Aku nggak suka lagu cinta-cintaan, kak” Tetiba seruan perempuan seumuranku menghentikan nyanyian.

“Terus kamu mau lagu apa ?” Wajah heran tampak dari raut wajah jem, begitupun denganku.

“Aku mau lagi Indonesia raya” tak ragu menyebutkannya dengan lantang.

“Lagi Indonesia raya ?, ini bukan upacara bendera” Jem menekuk bibirnya.

“ Yah sudah Jem, kita turuti saja kan pelanggan adalah raja”

Petikan ukulele menjadi pengiring lagu kebangsaan negara kita, orang-orang dalam gerbong kereta melirik karena tak biasa mendengarkan lagu nasional dalam kereta penuh sesak. Lagu sudah diakhir lirik, gadis kecil itu memberikan 5 lembar uang bergambar seorang pahlawan yang memegang pedang.

Kereta sudah berada di stasiun terakhir, 18 KM dari rumah kami. Hari melelahkan dengan kejadian mengesankan, kali pertama mengamen membawakan lagu Indonesia raya. Mobil jemputan sudah datang, aku dan jem menempati ruangan VVIP ditemani beberapa puluh sapi berada dalam truk menuju Cikalongwetan. Gadis kecil, apakah kita bertemu lagi, lalu kau memintaku bernyanyi “Maju tak gentar” menghadapi kehidupan penuh kesulitan.

Bersambung...



Friday, March 25, 2016

Sebulan Penuh Kesan

Assalamu'alaikum pembaca yang budiman, budiman di sini bukan seseorang bernama Budi yang digigit oleh cecunguk super, kemudian ia menjadi sosok super hero dengan kekuatan cecunguknya. Pada tulisan kali ini aku tidak akan membahas cecunguk karena merasa trauma pernah dinodai olehnya. Dulu ketika tertidur, cecunguk itu lancang sekali naik ke wajahku sebari mengeluarkan cairan berbau tak sedap. Sejak itu aku merasa sudah tak suci, setelahnya berusaha mandi tapi bau tak sedap tetap bertahan lama.

Dua hari lalu, aku mencoba menantang diri sendiri untuk membuat tulisan yang sedikit berbeda karena biasanya selalu membahas tentang cinta dan kejombloan, namun bukan berarti berhenti dari tema cinta hanya mencari nuansa berbeda. Tak mungkin aku berhenti menulis tentang cinta, sesungguhnya aku pun terlahir dari cinta sekalipun belum menemukan sosok si dia (Kembali ke habitat kegalauan).

Di tengah aktivitas Blog walking, tetiba merasa sangat tertampar setelah membaca postingan "Cas" berjudul "Tulisanku dan catatan Raqib Atid". Berikut kutipannya yang membuatku tersadar

"Semenjak gabung bersama ODOP saya langsung berfikir. Jika dalam satu minggu kita menulis 5 buah tulisan, maka dengan istiqomah dalam satu tahun saja bisa menjadi 2 jilid buku atau lebih. Namun yang jadi permasalahannya kemudian adalah pernahkah kita berfikir ketika kita menulis, malaikat Raqib dan Atid juga ikut menulis? apakah tulisan kita mengajak kebaikan atau mengajak pada yang buruk. Bayangkan saja bagaimana jika 2 jilid buku yang kita tulis itu menjadi 2 jilid catatan amal yang menghantarkan kita ke tepian nerakaNya ?"

Catatan ringkas dengan daya tusuk ekstra, menikam uluh hatiku. Semenit aku merenung, ditengah ribuan kebaikan ada sesuatu yang harus diwaspadai dari menulis. Kita dapat menyebarkan kedengkian, kemusyrikan serta perbuatan lainnya yang berperan sebagai kendaraan jemputan ke neraka. Naudzubillahimindzalik. Tentunya laksana pisau dengan kedua sisi, menulis juga dapat mengantarkan kita menuju ridha Allah dengan cara menyebarkan kebaikan serta berbagai pengetahuan.

Bermodal ilmu dari perantara tulisan "Cas" Akhirnya ku memutuskan untuk menulis cerita mini dengan tema keagamaan. Awalnya sedikit susah mencari ide, wong biasanya menulis ngasal dengan berbagai kegalauan nyaris tanpa amanat. Taraaa, setelah merenung beberapa jam akhirnya tulisan berjudul "Menjelang Kematian" lahir ke dunia, meskipun dengan fisik jauh dari ideal karena "Dia" lahir dari seseorang yang masih terbatas dalam ilmu agama. Berusaha belajar menyematkan amanat nan bermanfaat dalam setiap tulisan.

Hampir sebulan aku bergabung di komunitas menulis One day one post, banyak sekali pelajaran yang dapat dijadikan modal untuk ajang perbaikan diri. Terimakasih tak terhingga untuk Allah yang telah menakdirkan ku untuk bertemu sahabat-sahabat hebat. Ilmu yang saya dapat di ODOP sungguh tak ternilai nominal angka. Semoga menulis menjadi ladang amal bagi kita semua. Sebulan penuh kesan bersama kalian.

"Perbaikan paling baik ketika menyadari kesalahan, lalu berusaha melakukan perbaikan"

Thursday, March 24, 2016

Menjelang kematian

"Ajal yang datang di muka pintu, tiada  siapa yang memberitahu, tiada siapapun dapat hindari, tidak siapa yang terkecuali. lemah jemari napas terhenti tidak tergambar sakitnya mati, cukup sekali tak sanggup untuk ku mengulangi"

Far East - Menanti di Barzakh

Seorang pria berumur 50 tahun hidup dengan keadaan yang hampir semua manusia mendambakannya. Ia pimpinan 15 perusahaan multinasional dengan omset ratusan miliar/bulan. Keluarganya lengkap, 2 orang anaknya sedang melanjutkan program PhD di Harvard Business School, siap untuk melanjutkan tongkat estafet perusahaan. Berbicara tentang pasangan hidup, istrinya laksana bidadari yang sedang menyamar menjadi manusia.

Kesempurnaan di dunia tak lantas menjadikan nikmat, ia pamit pergi kepada keluarganya dengan alasan untuk refreshing dari kehidupan dunia kerja yang sudah 30 tahun dirinya jalani. Semua harta diserahkan kepada istrinya. Ia berkelana mencari arti bahagia, hidup dengan uang asuransi hari tua dengan nominal lebih dari cukup untuk hidup mewah.

Dalam  kehidupannya selalu saja ada yang tak lengkap. kekosongan hati hadir di tengah kekayaan 7 turunan. Hidup dalam keramaian namun merasa sepi sendiri adalah siksaan. Minuman keras bak air putih yang setiap hari rutin masuk ke dalam tubuhnya, Diskotik demi diskotik ia kunjungi guna mencari hiburan sebagai obat sepi. Sudah setahun kasta pimpinkan perusahaan ditinggal, diserahkan kepada kedua anaknya. Istrinya pun tak pernah berusaha mencari bahkan terkesan mengacuhkan, terlena harta serta hal-hal berbau dunia.

Arti bahagia pernah ia rasakan, tepatnya 40 tahun lalu ketika umurnya belia belum punya berbagai kegiatan, salah satu kegiatan yang ia suka adalah mengaji di sebuah surau kecil dengan temannya bernama Teguh. Sakit di dada tak pernah dirasa, entah sudah berapa gelas wine putih yang ia minum, tegukan kali ini membuatnya tak sadar.

"Umurmu tinggal sehari, segera perbaiki diri atau siksaan abadi akan menghampiri", suara itu sungguh menggangu pikirannya, sesak di dada pun terkalahkan oleh suara dengan asal entah darimana. Tetiba dirinya terbangun, masih di diskotik yang sama tak ada yang peduli sekalipun ia harus mati hari itu.

Semakin mencari arti bahagia, maka ia merasa semakin tersiksa. Bahagia tak pernah didapat, berganti dengan suara yang terus menghantui. Suara aneh itu hilang setelah adzan berkumandang, kakinya berjalan mencari sumber suara yang dulu sangat ia hafal. Tibalah di pelataran masjid, menyaksikan 4 shaf berjajar rapi. Dengan melihat saja hatinya mulai terasa tenang, entah sudah berapa tahun ia tak pernah mendekatkan diri dengan sang pencipta. Dunia terlalu menjadi fokus sehingga melupakan apa tujuan hidup sebenarnya.

Akhir salat dzuhur pun selesai, samar-samar ia melihat wajah iman salat itu. Wajahnya tak asing, iman itu mendekatinya 

 "Assalamu'alaikum, apakah bapak bernama Gilang ?"
" Kamu Teguh ?" wajahnya diselimuti tanya hingga lupa membalas salam.
" Iya, aku Teguh, teman mengajimu dulu"
"Teguh, aku ingin kembali belajar salat dan mengaji, bisakah engkau ajariku?"
"Bukankah dulu kau yang mengajariku lang ?"
"Entah sudah berapa puluh tahun, aku jauh dariNya. aku lupa caranya"

Mereka berdua seolah kembali ke masa lalu, belajar mengenal Allah yang sempat Gilang tinggalkan. Ia dengan cepat mampu menangkap yang Teguh ajarkan, hanya lupa bukan berarti tidak bisa. Mirip dengan banyak kasus zaman sekarang, melupakan Tuhannya ketika dalam keadaan bahagia padahal arti bahagia menyertakan pencipta dalam setiap napasnya.

Tak terasa ashar menjelang, Gilang membersihkan diri dan berniat kembali kepada penciptaNya. Dengan pakaian serba putih, ia berada persis dibelakang Teguh yang mengambil peran sebagai imam. Sujud penutup di penghujung salat, tempat mencurahkan doa kepada pemilik raga, pada kesempatan itu Gilang bersujud sangat lama hingga tertinggal satu gerakan, bahkan tak hanya tertinggal satu gerakan, Gilang meninggalkan dunia yang Teguh dan keluarganya tempati. Sujud terindah, idaman semua muslim dunia.

"Bahagia tak selamanya berasal dari harta, menempatkan Allah dalam berbagai keadaan merupakan sumber dari kebahagiaan"

Wednesday, March 23, 2016

Titisan Hawa nan memesona

Sejak balita aku sudah menjadi pengagum perempuan, darinya belajar makan, berjalan bahkan cinta. Rahimnya tempat teraman diseluruh jagat raya, tak pernah dibenarkan jika lelaki melukai hatinya. Perempuan pertama yang terindera mata adalah Mamah, ia perempuan perkasa, membesarkan 3 orang pria dengan jerih payahnya. Tidak hanya anaknya, ia juga meninggikan derajat Ayah, penguat ketika susah.

Aku selalu ditakdirkan akrab dengan perempuan dari yang masih gadis, janda bahkan ibu-ibu beranak banyak, tentunya dalam kolidor normal tak melanggar agama. Populasi penerus hawa memang mendominasi kehidupanku, di kampus mereka adalah mayoritas karena kaum adam hanya belasan, dalam dunia kerja pun sama bahkan di grup One day one post (Komunitas menulis) emak-emak terlihat memegang peranan penting, emak, panggilan sayang dariku untuk kaum hawa yang lahir lebih dahulu.

Di grup kepenulisan bernama ODOP, aku dipertemukan dengan puluhan titisan hawa yang begitu memesona, bukan karena paras tapi semangat menulisnya luarbiasa. Sebagian orang menyebut perempuan makhluk lemah, pernyataan itu sungguh salah karena setiap titisan Hawa memiliki kekuatan unlimited. mengandung serta melahirkan bukan perkara mudah, aku saja dengan perut sedikit buncit merasa sangat tak nyaman tapi mereka sebuncit apapun tetap bahagia.

Di ODOP ada sebuah keharusan untuk menulis setiap hari, tak terbayang perjuangan emak kece untuk meluangkan waktunya di tengah aktivitas mengurus keluarga dan kerja. Aku saja yang hanya seorang pemuda dengan kegiatan tak begitu banyak terkadang keteteran dengan jadwal menulis, bahkan untuk emak Lisa dan Lia selalu hadir pertama di setiap postingan grup kepenulisan, sungguh akupun tak bisa melakukan itu. Emak duo "L"  bukan sekedar hawa biasa tapi seorang pengajar pula tentu saja kegiatannya sangat padat.

Emak Dessy, hawa hebat dengan beragam aktivitas masih sangat eksis di grup dengan keahlian parenting, memanah, berkuda mungkin juga beliau bisa menyetir truk besar. Kak Zakia dan Deasy, Perempuan yang merantau di tanah melayu, tulisan keren mereka selalu menginspirasi aku apalagi anaknya kak Zakia sungguh membuatku ingin berkeluarga.

Tak tertinggal sosok emak Juni yang tak mungkin lahir di bulan desember, ia tak pernah alfa membuat presensi tentang siapa saja yang sudah menulis. Mba Denik, backpacker kece, berkeliling kota untuk kegiatasan sosial adalah hal biasa bagi dirinya.Mamah muda Vinny, seorang sarjana sastra Inggris dengan gaya khas rambut pendeknya yang unyu, ia penyuka karya Dan brown, tulisannya jangan diragukan lagi.  Elsa, Kholifah dan Wiwid, Gerombolan emak yang tak kalah kece, mereka luarbiasa dalam mendidik anaknya. Bunda Maya, Dokter hewan yang menjebloskan ku ke asrama kepenulisan bernama ODOP, tak hanya expert dalam menyayangi hewan, beliau juga ahli dalam merangkai kata.

Selain emak-emak, terdapat pula penghuni ODOP dengan status gadis alias jomblo binti single. Teh Dew, Penulis muda nan berbakat yang sedang berkelana di Malaysia. Ia pernah menulis dengan pendiri Forum Lingkar Pena hingga Afifah Afra. Aku tak mengerti mengapa Teh dew bisa bahasa Sunda, Batak dan Jawa. Cas, sahabat karib Teh Dew yang juga tinggal di tanah Melayu. tulisannya selalu penuh arti, ia penyuka bahasa bahkan bahasa Spanyol sekalipun. Inet, mahasiswi unyu yang sering aku panggil "Ayunda", tulisannya selalu berwarna-warni mirip seperti Cake rainbow, aku selalu suka tulisannya seperti membaca tulisan sendiri.

April bukan sekedar nama bulan, ia penulis dengan banyak komunitas yang diikuti, sudah pasti tulisannya matang dan punya kelas tersendiri. Gadis asal kota hujan sehingga sering ku panggil gadis hujan, Syam namanya, memilih diksi terindah adalah keahliannya. Uni Fika, perempuan asal Padang yang tentunya ahli dalam membuat rendang, dia sedang sakit mari kita doakan. Miftah, Perawat kece alumni Poltekkes Semarang, membaca tulisannya seperti mengarungi kehidupan penuh makna mendalam. sosok Istriable sekali. Kak Cici dan Aira, penyuka Tere Liye, sekalipun penyuka karya yang sama pada dasarnya mereka sangat berbeda. Kak cici punya khas dengan penyampaian santai penuh makna sedangkan Aira seperti Tere Liye versi perempuan, tulisannya detail dan mendalam, goresan tinta mereka berdua salah satu favoritku. Kak Heni, generasi penerus Dewi Lestari, selain rangkaian katanya merdu, suaranya pun tak kalah indah berbalut merdunya. Ciani, Nabela, Sakifah, Nurjannah dan Annisa penulis dalam diam dengan karya luarbiasa, belum punya kesempatan mengobrol lebih lanjut dengan mereka.

Ada 2 hal yang saya suka dari seseorang perempuan, Aktif dalam berbagai aktivitas dan penyuka budaya litera (Menulis dan membaca), hampir seluruh kaum Hawa penghuni ODOP memenuhi kriteria itu, jadi menyukai mereka semua termasuk hal wajar. Teruntuk yang belum disebutkan mohon maaf karena aku hanya manusia yang tak lepas dari kata lupa, mungkin akan butuh kenalan lebih dalam dengan teman-teman lagi.

"Kemajuan suatu bangsa ada di tangan perempuan, karena ia sekolah pertama bagi generasi penerus negeri"

Monday, March 21, 2016

Dokter sayang, Aku malang

Kali ini aku datang membawa keceriaan tidak seperti tulisan-tulisan minggu lalu (Ini semua tentangmu dan Lamborghini, sapu lidi), cukup menguras airmata, air sungai asalkan jangan air memabukkan hasil oplosan, pernah menyaksikan berita tentang seorang pemuda yang mengoplos minuman keras dengan obat nyamuk, balsam dan benda-benda tak lazim lainnya. Aku pun pernah mengoplos air jeruk dengan susu. menurut buku IPA jaman SD, jeruk kaya akan vitamin C sedangkan susu sumber dari zat besi, panduan pas kaya akan gizi. Aku meminum oplosan susu dan air jeruk, kemudian berakhir dengan keracunan dan berbaring selama seminggu. Jika minuman bergizi dicampurkan tanpa didasari ilmu mengakibatkan keracunan, apalagi zat-zat berbahaya dioplos, maka hasilnya sudah pasti, tidak cukup berbaring di tempat tidur tapi harus berbaring dalam tanah. Serem ketika nyawa meninggalkan raga dalam keadaan jauh dari Allah. Na'udzubillahimindzalik, semoga kita dijauhkan dari hal itu.

Tulisan ini akan menceritakan kejadian paling mengesankan selama aku hidup di dunia, sebenarnya setiap hembusan nafas adalah peristiwa mengesankan, terlebih karena aku tak pernah lupa bernafas. Cukup melupakan masa lalu saja, lupa menarik oksigen dapat menyebabkan kematian. Kamu juga jangan lupa bernafas ? nanti kita tak bertemu di pelaminan.
Bicara tentang lupa, kejadian mengesankan ini berhubungan dengan lupa.

Matahari masih malu-malu menunjukan diri, mungkin karena dia belum mandi. Pagi itu jadwal kuliah dengan deretan tugas menumpuk, tapi yang namanya pemuda kece anti mengeluh. Aku adalah aktivis di tempat foto copy, entah kenapa di tempat itu serasa nyaman untuk mengerjakan tugas apalagi iringan musik dangdut menambah semangat. Tugas yang mendera dilahap dengan tempo sesingkat-singkatnya tapi masalah datang, uang di saku tak ada mungkin tertinggal di kelas. Laksana pemuda  yang dikejar masa lalu, aku berlari lebih kencang dari kuda, kuda yang sedang tidur tepatnya.

Bruuuuk, kecepatan lari kilat terhadang sesuatu. Perempuan cantik dengan hijab pink  terkejut karena selain ditabrak, buku beserta kertas-kertasnya pun berjatuhan. Sekilas terlihat kertas itu bertuliskan "Teknik Bedah Lipoma sebagai Penghilang Lemak pada Mayat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung". Ternyata perempuan kece korban tabrak lariku adalah seorang mahasiswa kedokteran kampus sebelah. Pikiranku bergerak cepat berusaha mengingat beberapa adegan sinetron, akhirnya menemukan kesimpulan. Jika seorang pria dan perempuan tabrakan lalu ditolong oleh pria itu kemungkinan besar mereka akan berjodoh serta hidup bahagia hingga maut memisahkannya.

Bayangan sekedar bayangan, sebelum berhasil menyentuh tumpukan kertas untuk diberikan padanya, teriakan tak terduga sampai di telinga.

"Jangan sentuh itu" wajah cantik berubah memerah diselimuti rasa marah.
"Maaf teh, saya sekedar mau bantu" sebari memasang wajah memelas persis seperti kucing yang meminta makan.
"Kamu bisa bantu, jika kamu tidak berlari seperti tadi. Tinggalkan aku sendiri, biar aku sendiri yang membereskan ini". Tegasnya tak sedikit pun tersenyum.

Aku pun pergi menuruti perintahnya karena tidak mau menjadi bahan penelitian dalam skripsinya nanti. Pertama kali merasakan murkanya seorang perempuan, tentunya selain mamah yang sudah ahli memarahiku jika aku tertangkap tangan memakan jatah makan Ayah.

Uang bergambar tokoh proklamator sudah di tangan, tinggal membayar ketikan yang belum sempat di print. Kali ini tidak berlari, berjalan santai tak mau peristiwa tadi terulang kembali. Sesampainya di sana aku terkejut melihat sosok perempuan berjilbab pink duduk di depan komputer yang aku pakai tadi. Ia klik tombol "X" lalu diteruskan "No" untuk intruksi menyimpan,

"File ku hilang" teriakan merdu memancing perempuan itu untuk menoleh
"Kenapa sih kamu ngikutin aku, jangan-jangan mau menculik karena dendam, kan tadi aku marahi"
"Bukan teh, tadi file ku teteh close. aku harus mengetik ulang" memasang wajah memelas.
"Salah kamu sendiri, kenapa belum di save. Aku kan nggak tahu"
"Iya teh, aku yang salah. Biarlah mengetik ulang saja cuma 30 lembar kok". Aku pergi dengan muka lesu, tak mau berdebat dengan perempuan kece nan galak tadi.

Hari itu berakhir dengan peluh tak biasa, jari lemas karena mengetik berulang-ulang. Peristiwa tak terlupakan akan menjadi cerita pengantar tidur untuk anakku nanti.
Terakhir melihat perempuan berjilbab pink itu sedang sendiri sebari fokus dengan laptopnya, ingin sekali menyapa tapi takut disangka penculik yang sedang membuntutinya.

Peribahasa zaman purba mengatakan "Batas benci dan cinta itu tipis, jangan terlalu membenci karena bisa berakhir cinta". Aku berusaha berpikir positif, mungkin dia jatuh cinta kepadaku yang terlihat tampan nan berwibawa ketika berlari, mungkin juga terlihat jijik dan memuakan sehingga dia berusaha sekuat tenaga menahan muntah.

"Pertemuan yang tuhan ciptakan selalu menyimpan alasan"

Friday, March 18, 2016

Lamborghini dan sapu lidi

Kuda besi bernama Lamborghini Aventador tampak perkasa membelah jalan puncak mandala, kota Malang. Mobil senilai 11 miliar yang hanya tersedia 8 unit di Indonesia, memberhentikan lajunya di Pit Stop Cafe, tempat nongkrong anak muda dengan status sosial tinggi. Pria pemilik kuda besi mewah mengangkatkan tangannya, pertanda ingin memesan sesuatu "Civet kopi 1". Bartender mengabulkan permintaannya dengan cekatan hanya beberapa menit kopi luwak yang merupakan nama lain dari Civet sudah tersaji. Perlahan kopi termahal di dunia ia teguk. 1,3 juta di letakan di meja, kemudian pergi memacu kuda besinya lagi.

 Sumber : http://otosister.com/harga-lamborghini-aventador-pirelli-edition/

Di sudut lain kota Malang yang hanya berjarak 10 Km dari Pit Stop Cafe, Seorang Nenek renta sedang memegang perutnya. Sapu lidi yang ia jajakan di pinggir jalan sudah 4 hari selalu utuh, belum ada yang melirik untuk membeli. Di gubuk tuanya tak ada seorang pun menemani hanya lapar berperan sebagai teman sejati. Ketika malam datang, gubuk tuanya seketika gelap tak ada sedikit pun terang, sang Nenek bukan pelanggan setia PLN (Perusahaan listrik negara) memang gubuknya pernah merasakan terang namun hanya bertahan beberapa bulan, setelah negara memutuskan cahayanya, baik cahaya lampu maupun cahaya berupa bernama kepedulian. Lamborghini Aventador dan kopi luwak "Civet" tak pernah akrab ditelinganya yang ia tahu hanya panci, pisau serta piring kaleng berkarat, sesekali benda penuh karat itu digunakan, jika ada uang untuk membeli nasi, iya hanya nasi tanpa ditemani lauk. Kepedihan di hari tua sangat akrab dengannya, meskipun begitu tak ada niat untuk banting setir menjadi peminta-minta. Sapu lidi tak hanya membersihkan debu tapi pembersihkan hati pembuatnya.

Sumber : Viral dari postingan akun https://www.facebook.com/tri.sugiarto.357?pnref=story


Cerita ini terinspirasi dari sebuah viral Facebook yang disebarkan oleh akun Tri Sugiarto, viralnya mencerikan seorang nenek bernama Mbah Gini yang berjuang sendirian sebagai penjual Sapu lidi. Ia tinggal di sebuah gubuk kumuh tanpa penerangan yang penuh kotoran hewan. Bagi siapa pun yang berada di Malang dapat mengunjungi dan memberikan bantuan kepada beliau di alamat desa Sanan Kerto RT 11/ RW 02, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Thursday, March 17, 2016

Ini semua tentangmu

Guru, dulu profesi mulia itu tak pernah terlintas sedikit pun di kepala, meskipun sebagain besar keluargaku merupakan pendidik. Ayahku juga seorang guru, ia sudah mengajar dari umur 19 tahun hingga sekarang masa bakti beliau sudah 27 tahun. Waktu yang tak bisa disebut singkat. Ayahku mengajar di pinggiran kabupaten Bandung barat sekitar 40 KM dari pusat kota Bandung. Perjuangannya dalam dunia pendidikan menjadi cerminan bagi diriku. Sekarang berbagai penyakit menyerang Ayah, namun semangatnya mengajar tak pernah luntur sekalipun harus mengeluarkan suara lirih ketika menyampaikan materi pembelajaran.

Kata Mamah, dulu gaji Ayah sebagai guru hanya 40 ribu, sangat rendah dibandingkan gaji pegawai pabrik yang saat itu berkisar 200 ribu. Lambat laun pemerintah mulai memperhatikan kesejahteraannya hingga banyak sekali yang mendaftar seleski CPNS untuk menjadi seorang guru.

10 tahun lalu, Nenekku terkena tumor ganas di sekitar kaki dan memerlukan biaya ratusan juta untuk pengobatan, tanpa pikir panjang Ayah meminjam uang ke bank dengan menggadaikan SK (surat kerja), Maut menghampiri Nenek lebih cepat, uang ratusan juta tak sedikitpun menolong, ketika takdir tuhan berbicara. Ayah tak menyesali mengeluarkan uang sangat banyak untuk pengobatan Ibunya, sekalipun Mamah harus memutak otak untuk mencukupi kebutuhan dengan gaji yang kembali kecil karena potongan bank.

Sering kali Mamah berhutang ke warung hanya untuk membeli kerupuk, Aku dan adikku seolah sudah terlatih dengan keadaan penuh keterbatasan. Makan hanya dengan garam bukan hal aneh bahkan sudah menjadi kebiasaan. 

Kala itu musim cengkeh, aku dan adikku yang hanya terpaut 4 tahun berinsiatif untuk memungut cengkeh-cengkeh yang berjatuhan dari pohonnya kemudian menjualnya kepada pengepul. Sebulan sudah mengumpulkan cengkeh, tiba saatnya untuk menjualnya, Alhamdulilah hasilnya lumayan. Arti bahagia aku rasakan. Es krim sudah lama tak berkenalan dengan lidah akhirnya aku dan adikku rasakan, uang sisanya kami berikan ke Mamah dan berpesan bahwa kami ingin dimasakan daging ayam.

Hidangan spesial sudah disajikan, Ayah datang setengah terkejut dengan hidangan tak biasa, Mamah menjelaskan apa yang kami lakukan. Tiba-tiba pelukan erat menghampiri aku dan adikku, Ayah memeluk sebari menangis meminta maaf karena belum bisa membahagiakan kami.

10 tahun berlalu, keadaan ekonomi keluarga sudah membaik sekalipun belum bisa dikatakan cukup. Mamah masih sama harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan meskipun tak sepusing dulu. Adikku tahun ini akan lulus SMK dan aku mahasiswa semester 6 yang membiayai kuliah dengan jerih payah sendiri, dulu hampir mendapatkan beasiswa bidik misi (Beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu namun berprestasi) namun Ayah tak menyetujui karena banyak orang yang lebij berhak selain kita, kalimat itu terus terngiang.

Ayahku hingga kini masih mengajar, ditengah terpaan penyakit yang datang silih berganti. sebulan sekali harus berobat rutin, tentu saja dengan uang yang tak bisa dikatakan kecil karena BPJS hanya membiayai sebagian saja. Sering sekali airmata ini harus menetes, ketika Ayah mengerang kesakitan di tengah malam.

Saat ini aku mengikuti jejaknya meskipun dengan status freelance karena kegiatan utama masih berkuliah. Mengajar memang jauh dari kata mudah, sulit sekali membayangkan ketika Ayah mengajar sebari menahan rasa sakit.

Mamah, sosok perempuan paling tabah. Ayah, lelaki perkasa meskipun sesekali penyakit membuatnya renta,

Di tengah hening malam, ku memanjatkan doa, semoga orangtuaku dikuatkan serta diberikan makna bahagia.

"Lang, jadilah orang yang baik hati karena kebaikan akan berbalik kepada dirimu sendiri" Seru Ayah sebari tersenyum dengan tulus.

Wednesday, March 16, 2016

Seleksi alam melanda, hati-hati harus waspada

Zaman dulu kala, tinggalah seorang pria tampan nan baik hati bernama Gilang. Ia hidup bersama Istri yang cantik dan kedua anaknya. Mereka hidup bahagia di sebuah rumah sederhana. Okey  itu khayalan saya jadi mohon jangan ditimpuk, nah dari pada terjadi kekerasaan yang tidak diinginkan, maka saya akan melanjutkan tulisan ini.

Pembaca pernah menonton film jurassic park ?, ituloh film tentang suatu pulau/ daerah konservasi yang ditinggali oleh ribuan dinosaurus. enak yah ? jika tempat itu jadi wisata outbond. Keren juga naik Tyrannosaurus keliling daerah konservasi meski dengan resiko jadi santapan makhluk buas.

Hasil gambar untuk t-rexSumber. Jurassicworld.com
Ada yang minat menaiki binatang lucu ini ?

Hasil gambar untuk tyrannosaurus
Sangat disayangkan dinosaurus telah punah ribuan tahun lalu karena bencana dahsyat, hanya beberapa binatang prasejarah yang bertahan, salah satunya komodo, sisanya harus pasrah kandas oleh seleksi alam menjadi koleksi museum dengan tulang-belulang yang disusun rapi menyerupai masa kejayaanya dulu.

Seleksi alam tak hanya terjadi pada dinosaurus, manusia pun mengalami dengan situasi berbeda-beda. Saya bukti nyata dari seleksi alam. Zaman SMA punya dua orang teman yang selalu bersama, sebut saja namanya Naruto dan Sasuke (Nama mereka mirip tokoh anime jepang). Persahabatan kami sangatlah erat bahkan berbagi segala hal kecuali cinta. Setelah lulus SMA, kami menjalani hidup masing-masing. Tahun lalu, mereka menikah di bulan yang berdekatan dan sekarang sudah mempunyai keturunan lucu-lucu, sementara saya masih sibuk merenungi masa lalu. nah ternyata belum terkena seleksi bernama jodoh.

Seleksi alam hadir di segala aspek termasuk perkuliahan. Awal perkuliahan jumlah mahasiswa di kelas 40 orang lebih, menjelang semester akhir yang mampu bertahan hanya berkisar 70 %, sisanya tumbang dihadang rasa malas, merasa salah jurusan bahkan menikah lalu tak lanjut kuliah karena suami tak mengijinkannya. Alhamdulilah saya masih bertahan walau terpaan badai serta rasa galau menghampiri.

Seminggu lalu, seleksi alam melanda komunitas One day one post (ODOP) yang baru saya ikuti sekitar 2 minggu ini. Mega, Nina, Mba Vera harus tereliminasi padahal mereka cantik, eh maksudnya mereka teman-teman pertama yang saya kenal di ODOP, alasan kandas karena tak mampu bertahan dari ketatnya jadwal menulis. Orang-orang sukses berasal dari mereka yang selalu beristiqomah dalam kebaikan, tentunya menulis adalah bagian dari kebaikan. Sekuat mungkin saya akan bertahan di ODOP sebelum berhasil menemukan jodoh, maaf maaf maksudnya saya akan bertahan hingga akhir masa berlaku ODOP. Semoga saja tidak pernah kenal masa berlaku, agar saya terus menulis hingga nafas terakhir (Kalimat terakhir mulai lebay).

"Istiqomah dalam kebaikan adalah cara terbaik mewarnai kehidupan"


Tuesday, March 15, 2016

Ayah, engkau Bima yang perkasa

"Jika ibu mengasihiku laksana malaikat tanpa sayap, maka seorang ayah adalah penguat ketika ku hampir menyerah dari terpaan masalah"

 
Pagi baru saja menjelang namun sosokmu sudah hilang, padahal aku hanya telat 15 menit dari pukul 7 pagi. Ketika kecil diriku sering bertanya “mengapa Ayah pergi sepagi ini ?‘’ Ibu menjawab sebari tersenyum “ Ayah, cari uang untuk Gilang jajan “. Semakin dewasa maka semakin ku mengerti definisi perjuangannya, Ayah maafkan aku yang selalu membebanimu dengan mulut yang selalu saja menuntut.
1. ketika Ibu mengandungku, perjuangan Ayah tak boleh dianggap angin lalu

Semua orang pasti tahu perjuangan seorang Ibu dari mengandung hingga melahirkan sungguh luarbiasa, tapi dibalik itu ada perjuangan dalam diam yang tak kalah perkasa.
Sebagai suami muda dengan berbagai beban yang sudah terasa, mendengarkan istri hamil merupakan kenikmatan tiada tara, bekerja semakin giat rela mengambil lembur mengorbankan kesehatan yang ada agar Ibu dan aku yang masih dalam kandungan tetap terjaga.
Memasuki bulan kesembilan, Ayah semakin rajin bekerja sekaligus jadi suami siaga, mengumpulan materi dan doa agar aku selamat lahir ke dunia

2. Aku berhasil lahir kedunia, Ayah senang tiara tara


Kali pertama membuka mata, seorang lelaki dengan wajah haru mengumandangkan adzan di telinga, saat itu aku tak tahu betapa syahdu perjuanganya. Jika saat itu aku sudah mampu berbicara terimakasih kedua teruntuk Ayah yang berjuang dengan perkasa.

Ibu masih terlalu lemas untuk melakukan berbagai rutinitas, memasak dan mencuci diambil alih oleh ayah seorang diri. pergi ke pasar membeli bahan makanan dan perlengkapan bayi, ia lakukan walau baru pertama kali, kegiatan itu dilakukan disela waktu kerja. Terbayang betapa capai, belum lagi ketika harus terjaga disaat aku menangis di malam buta.

3. Aku ingin sepeda, Ayah membeli bahkan mengajari walau membolos diwaktu kerja


Layaknya anak kecil yang banyak tuntutan ketika teman sepermainan punya hal baru, kala itu ibu bercerita, kala aku kecil ingin sekali punya sepeda, ia memberitahukan ayah walau Ibu tahu masa itu sulit untuk mengumpulkan rupiah. Ayah mengiyakan dengan  berarti resiko mengajuan pinjaman karena keinginan ku tidak ada di daftar pengeluaran.


Tak hanya sampai di sana, ketika Ibu tak bisa mengajari bersepeda, Ayah meluangkan waktu walau dengan resiko membolos dengan alasan yang bisa saja ditertawakan. Ketika pertama kali mengayuh aku terjatuh, Ayah mengampiri dan menguatkan “Dalam berbagai keadaan menyerah bukan pilihan“ sebari mengelus rambutku.

4. Beranjak SMA aku mulai mengenal cinta, Ayah mengambil peran jadi sahabat yang rela mendengarkan curhat ala remaja


Menyukai lawan jenis adalah fitrah manusia, termasuk aku yang saat itu masih SMA.Mencuri pandangan dan diam-diam menaruh suka, butuh teman untuk berbagi cerita cinta.
Ibu dan ayah adalah pelarianku berbagi cerita, mereka bercerita masa dimana mereka pun saling menaruh suka. Aku tertawa saat Ayah bercerita pengorbanannya mendapatkan ibu.

Cinta seperti pisau, sisi lainnya membuat ku terluka. Ia melihat sikapku yang tak biasa, ia kembali bercerita bahwa sakit hati dalam cinta adalah pelajaran maha berharga.

5. Ku ajukan keinginan untuk kuliah ke luar kota, Ayah mengiyakan walau masalah materi harus ia hadapi


Semangat muda khas remaja, saat itu mengalir deras di dada. Keinginan kuliah di universitas terbaik walau berada di luar kota kuajukan kepada Ibu dan Ayah, Ibu mengiyakan diiring hening karena berpikir butuh biaya yang tak kecil merealisasikan mimpi anaknya ini, tapi Ayah tegas mengiyakan disertai senyuman yang lagi dan lagi menguatkan sekalipun ku tahu tak mudah mengumpulkan uang puluhan juta rupiah.

Dalam hening ku berdoa, semoga mereka berdua selalu dalam lindungan yang kuasa, karena hingga saat ini aku belum bisa membalas, sekalipun memberi uang ratusan juta.
Sayang mereka tiada tara, tidak dapat diukur dengan nominal angka.




Gambar diambil dari Solopos.com dan sithhuwili.blogspot.com

Berdasarkan perbaikan dan pengembangan dari tulisan yang pernah dimuat hipwee.com

OneDayOnePost_Hari_ke_12

Monday, March 14, 2016

Dalam diam penuh kesan

"Bawalah buku kemana pun karena dengan menggenggam saja kau terlihat pintar apalagi membacanya"

Quate di atas terinspirasi dari penjaga toko buku. entah kenapa diri ini selalu kagum dengannya. Di mata saya, dia terlihat pintar dengan tumpukan buku disekitarnya, sekalipun tak pernah tahu apakah dia membaca semua buku yang ia jaga. Diri ini makin bergetar jika bertemu dengan sosok perempuan penyuka buku, tetiba ingin bertemu dengan orangtuanya untuk melampirkan lamaran sebagai imam dari anaknya. Menurut pepatah "buku adalah gudangnya ilmu", sudah dapat dipastikan perempuan penyuka buka adalah sumber ilmu, tempat anaknya bertanya dan belajar. Ingin sekali rasanya punya anak yang pintar dalam berbagai hal, maka perempuan penyuka baca dan tulis adalah calon istri yang sangat tepat. eitsss tapi ada perempuan yang tidak direkomendasikan dijadikan calon istri, perempuan penyuka buku hutang. Saya percaya perempuan kece pembaca tulisan ini tidak punya hutang, kecuali hutang kesetian kepadaku, eh itu bercanda jangan ditimpuk.

Berbicara tentang buku, tentu ada beberapa buku dengan kenangan mendalam bagi kehidupan saya. Hampir sama seperti mantan tak alfa memberikan kenangan nan menyakitkan, bedanya buku hadir tanpa kata sakit bahkan memberikan cahaya untuk menerangi gelapnya kebodohan. Selama diri ini hidup terdapat lima buku yang memberikan kesan mendalam. Yuk kita simak apa saja.

1.Al-quran

Hasil gambar untuk al-quranSumber : arraayah.ac.id
Al-quran bukan sekedar kertas dengan tulisan berbahasa arab, petunjuk hidup manusia tersemat di dalamnya. Buku ciptaan manusia hanya dengan beberapa kali membaca, rasa bosan sudah hinggap di dada tetapi Al-quran tak pernah menghadirkan rasa yang sama. Satu-satunya  buku paling laris di dunia takkan pernah ada saingan dalam hal makna dan kegunaan, Ratusan juta orang berusaha menghapalkannya. Jika terdapat royalti dari setiap pembeliannya, dapat dipastikan ribuan triliun dollar dapat dihasilkan. Penulis maha hebat, pencipta semesta serta pemilik nyawa kita, Allah SWT.

2. Metode Penelitian Pendidikan Karya Prof Sugiyono



Salah satu buku yang setia menemaniku setidaknya 6 bulan ke belakang, lebih setia dari si cinta, cinta entah hilang kemana. Buku ini paling sering dibawa tidur, selain memiliki fungsi sebagai bahan bacaan, selimut dan bantal adalah fungsi lainnya. Entah berapa liter air liur yang sudah membasahi buku ini. Referensi skripsi paling keren dan teman dalam perjuangan meraih impian.

3 Novel "Revolution 2020" Karya Chetan Bhagat



Novel paling berbahaya yang pernah saya baca. Indikasi setelah membaca novel ini, seketika langsung Baper (Bawa perasaan) disertai rasa ngilu di dada. Menceritakan seseorang yang bernama Gopal, Pemuda sukses nan kaya namun sepi karena tak punya cinta. Jika ingin mengetahui cerita utuhnya dapat mengunjungi toko buku kesayangan pembaca, hanya saja harus mempersiapkan baju besi agar dada tidak terlalu tersayat karenanya.

4. Buku Karya Sendiri


Upaya mengabadikan sejarah dengan menuliskannya, tak dipungkiri rasa bahagia hinggap ketika buah pikiran berubah bentuk menjadi buku, sekalipun dicetak bukan oleh penerbit mayor. Dalam setiap lembarnya terdapat perjuangan ekstra memeras ide di kepala. Menulis buku sama susah dengan menulis nama calon di undangan pernikahan, tidak lucu ketika membuat undangan, calonnya dikosongkan. Tak mengapa jika seribu orang menghujat karya kita, setidaknya ada satu orang yang setia mencintai yaitu kita sendiri.

5. Buku Nikah

Hasil gambar untuk buku nikah  Sumber : dcputranto.blogspot.com

Seorang pria yang mempunyai buku nikah kadar kecenya akan naik 20%, kata bijak nan menyakitkan itu saya dapatkan di alam mimpi. Kumpulan kertas dengan cover garuda yang diterbitkan oleh KUA publisher ini adalah buku yang sangat dicari oleh kaum fakir asmara. Tak mudah untuk mendapatnya harus ada calon dan komitmen kuat sebagai syarat. Pernah berniat membeli buku nikah ke Gramedia, sayang seribu sayang tak akan pernah ada.

lima buku paling berkesan yang ingin dan sudah saya miliki, nah buku mana saja yang belum pembaca miliki ?. Bagi yang belum punya buku nikah, yuk kita buat bareng-bareng tapi ada syaratnya kalian single dan berjenis kelamin perempuan.

"Buku ialah teman dalam diam penuh kesan"