Tuesday, March 15, 2016

Ayah, engkau Bima yang perkasa

"Jika ibu mengasihiku laksana malaikat tanpa sayap, maka seorang ayah adalah penguat ketika ku hampir menyerah dari terpaan masalah"

 
Pagi baru saja menjelang namun sosokmu sudah hilang, padahal aku hanya telat 15 menit dari pukul 7 pagi. Ketika kecil diriku sering bertanya “mengapa Ayah pergi sepagi ini ?‘’ Ibu menjawab sebari tersenyum “ Ayah, cari uang untuk Gilang jajan “. Semakin dewasa maka semakin ku mengerti definisi perjuangannya, Ayah maafkan aku yang selalu membebanimu dengan mulut yang selalu saja menuntut.
1. ketika Ibu mengandungku, perjuangan Ayah tak boleh dianggap angin lalu

Semua orang pasti tahu perjuangan seorang Ibu dari mengandung hingga melahirkan sungguh luarbiasa, tapi dibalik itu ada perjuangan dalam diam yang tak kalah perkasa.
Sebagai suami muda dengan berbagai beban yang sudah terasa, mendengarkan istri hamil merupakan kenikmatan tiada tara, bekerja semakin giat rela mengambil lembur mengorbankan kesehatan yang ada agar Ibu dan aku yang masih dalam kandungan tetap terjaga.
Memasuki bulan kesembilan, Ayah semakin rajin bekerja sekaligus jadi suami siaga, mengumpulan materi dan doa agar aku selamat lahir ke dunia

2. Aku berhasil lahir kedunia, Ayah senang tiara tara


Kali pertama membuka mata, seorang lelaki dengan wajah haru mengumandangkan adzan di telinga, saat itu aku tak tahu betapa syahdu perjuanganya. Jika saat itu aku sudah mampu berbicara terimakasih kedua teruntuk Ayah yang berjuang dengan perkasa.

Ibu masih terlalu lemas untuk melakukan berbagai rutinitas, memasak dan mencuci diambil alih oleh ayah seorang diri. pergi ke pasar membeli bahan makanan dan perlengkapan bayi, ia lakukan walau baru pertama kali, kegiatan itu dilakukan disela waktu kerja. Terbayang betapa capai, belum lagi ketika harus terjaga disaat aku menangis di malam buta.

3. Aku ingin sepeda, Ayah membeli bahkan mengajari walau membolos diwaktu kerja


Layaknya anak kecil yang banyak tuntutan ketika teman sepermainan punya hal baru, kala itu ibu bercerita, kala aku kecil ingin sekali punya sepeda, ia memberitahukan ayah walau Ibu tahu masa itu sulit untuk mengumpulkan rupiah. Ayah mengiyakan dengan  berarti resiko mengajuan pinjaman karena keinginan ku tidak ada di daftar pengeluaran.


Tak hanya sampai di sana, ketika Ibu tak bisa mengajari bersepeda, Ayah meluangkan waktu walau dengan resiko membolos dengan alasan yang bisa saja ditertawakan. Ketika pertama kali mengayuh aku terjatuh, Ayah mengampiri dan menguatkan “Dalam berbagai keadaan menyerah bukan pilihan“ sebari mengelus rambutku.

4. Beranjak SMA aku mulai mengenal cinta, Ayah mengambil peran jadi sahabat yang rela mendengarkan curhat ala remaja


Menyukai lawan jenis adalah fitrah manusia, termasuk aku yang saat itu masih SMA.Mencuri pandangan dan diam-diam menaruh suka, butuh teman untuk berbagi cerita cinta.
Ibu dan ayah adalah pelarianku berbagi cerita, mereka bercerita masa dimana mereka pun saling menaruh suka. Aku tertawa saat Ayah bercerita pengorbanannya mendapatkan ibu.

Cinta seperti pisau, sisi lainnya membuat ku terluka. Ia melihat sikapku yang tak biasa, ia kembali bercerita bahwa sakit hati dalam cinta adalah pelajaran maha berharga.

5. Ku ajukan keinginan untuk kuliah ke luar kota, Ayah mengiyakan walau masalah materi harus ia hadapi


Semangat muda khas remaja, saat itu mengalir deras di dada. Keinginan kuliah di universitas terbaik walau berada di luar kota kuajukan kepada Ibu dan Ayah, Ibu mengiyakan diiring hening karena berpikir butuh biaya yang tak kecil merealisasikan mimpi anaknya ini, tapi Ayah tegas mengiyakan disertai senyuman yang lagi dan lagi menguatkan sekalipun ku tahu tak mudah mengumpulkan uang puluhan juta rupiah.

Dalam hening ku berdoa, semoga mereka berdua selalu dalam lindungan yang kuasa, karena hingga saat ini aku belum bisa membalas, sekalipun memberi uang ratusan juta.
Sayang mereka tiada tara, tidak dapat diukur dengan nominal angka.




Gambar diambil dari Solopos.com dan sithhuwili.blogspot.com

Berdasarkan perbaikan dan pengembangan dari tulisan yang pernah dimuat hipwee.com

OneDayOnePost_Hari_ke_12

Reactions:

12 comments:

Deasy Sang Pemimpi said...

Hiks, jd rindu bapak ibuk di KampungšŸ˜­.
Pagi-pagi bc tulisan ini homesick banget nih jdnya.

Aira zakirah said...

Terharu:'(
harus digarisbawahi:Sayang mereka tiada tara, tidak dapat diukur dengan nominal angka.

Cicilia Putri Ardila said...

Gilang bikin baper :'(

Sasmitha A. Lia said...

semoga mereka berdua selalu dalam lindungan yang kuasa, selalu sehat,selalu bahagia.. aamiin...^_^

nur apriliyani said...

Jadi inget bapak dan ibu yg rela bekerja di bawah terik matahati demi anak-anaknya.

nur apriliyani said...

Jadi inget bapak dan ibu yg rela bekerja di bawah terik matahati demi anak-anaknya.

lisa lestari said...

aku menangis Gilang..inget kedua ortu yg dah almarhum..

lisa lestari said...

aku menangis Gilang..inget kedua ortu yg dah almarhum..

Khikmah Al-Maula said...

inget ayah yang udah beristirahat dengan tenang...

btw itu narasi no 2 dan 3 emang sama bang?

Ciani L said...

Hikss.. Instropeksi lg INI

denik said...

Berbahagialah yang masih memiliki orang tua. Sehingga bisa membalas jasa-jasa mereka sepol kemampuan.

khofiyaa rizki said...

ini bikin aku flashback ke 18 tahun yang lalu :(( alhamdulillah makasih mas gilang udah bikin aku merenung