Wednesday, March 30, 2016

Berawal Rindu Berakhir Syahdu

Manusia tak pernah bisa hidup dalam kesendirian, sekuat apapun dirinya akan datang sepi yang menghampiri. Jangankan manusia, semut pun tak pernah bisa hidup sendiri. Ia berkumpul dalam koloni untuk saling melengkapi.  Tak pernah ku temukan seseorang yang memenuhi kebutuhannya tanpa memerlukan orang lain, membangun rumah, membuat baju, menciptakan kendaraan dilakukan sendirian itu sebuah kemustahilan.

Kesempurnaan kehidupan tak semata lahir dari harta, orang paling kaya sedunia jika hidup dalam sepi dapat dipastikan bahagia jauh dari dirinya. Nabi Adam pun pernah merasakan perihnya bertahan dalam kesendirian sekalipun ia di berada di Surga, tempat paling didamba seluruh manusia. Allah maha tahu isi hati hambanya, Hawa pun tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam untuk melengkapi kehidupan dan menjauhkannya dari rasa sepi.

Kesepian yang pernah dirasakan Nabi Adam kini mengalir dalam diriku, sejatinya aku mempunyai banyak teman namun kosongnya hati tak pernah alfa menghampiri. Setiap senyuman yang terpancar dari wajah ini sekedar kamuflase untuk menutupi kesedihan. Namaku Gilang, titisan Adam yang mencari penerus Hawa. 22 tahun sudah aku hidup di dunia banyak kejadian pahit dan manis sudah dirasa tapi tak ada peristiwa sepahit kehilangan dirinya.

Setahun lalu, Gedung landmark Braga menjadi saksi perhelatan Book fair terbesar se-Jawa barat. Ribuan buku berjajar dengan rapi seolah meminta untuk dibawa pulang, ku telusuri setiap sudut stand-stand guna mencari “Rindu” novel terbaru Tere Liye saat itu. Mata menemukan titik fokusnya dilanjutkan ke otak yang memerintahkan kaki untuk menghampiri sesuatu yang dicari. Hati bersorak “Rindu” yang dicari akhirnya ditemukan dengan tulisan diskon 35%, sayang “Rindu” tersisa satu tapi aku punya saingan untuk mendapatkannya.

Perempuan berjilbab hijau menatap novel yang ku buru, sepertinya ia mempunyai hasrat sama untuk memiliki. Tanganku bergerak lebih cepat menjangkau novel bercover putih itu, ia terdiam dengan rasa kecewa yang tak bisa ditutupi, ketika tanganku lebih dahulu menggenggam novel yang juga ia buru. Rasa tak tega hinggap di dada, di saat perempuan cantik nampak kecewa. Jiwa lelaki menampakan diri.

“ Teh, mau beli novel rindu juga ?”

“Iya, tapikan hanya tersisa satu yang Aa pegang”

“Yaudah ini untuk Teteh , di tempat lain saja saya belinya”

“Beneran ini Aa ? makasih kalau begitu. Eh Aa juga suka baca karya Tere Liye”

“Kebetulan saya pengoleksi karya Bang Tere hanya 2 lagi karya beliau yang saya belum punya, Pukat dan Rindu”

“Kalau Pukat, kebetulan ada di tas dan saya sudah selesai bacanya. Kalau mau Aa boleh pinjem kok” Diiringi senyum dengan lesung pipi hadir menyertai.

“Teteh orang Bandung juga kan ? kalau begitu saya yang beli novel rindu tapi teteh yang bacanya, jadi kita bertukar buku. Nggak apa-apa kan teh ?”

“Iya saya orang Bandung tak jauh dari sini rumahnya. Dengan senang hati tapi bagaimana cara saya menghubungi Aa kalau sudah selesai baca novel ini ?”

“Kalau berkenan kita bertukar nomber HP aja”

Secarik kertas putih bertuliskan 12 deret angka dengan pemilik bernama Aira. 3 hari sudah wajahnya terus terbayang tak kuasa ingin menghubunginya tapi rasa malu mengalahkan itu semua. Di tengah lamunan yang semakin dalam, suara ringtone pertanda SMS masuk memecahkan semua. Tak sangka pesan yang ditunggu datang juga, Aira menyampaikan bahwa novel rindu sudah selesai dibaca, dirinya ingin bertukar dengan pukat yang juga sudah ku tuntaskan.

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya pun datang, kami selalu bertukar buku apapun. Rasanya tak hanya buku yang sering kami tukar, rasa berbeda bernama cinta sudah Aira ambil dariku. Cintaku kepadanya semakin dalam, aku tak ingin dikendalikan oleh perasaan yang belum halal. Tak mau setan mengambil peran kemudian menjerumuskan kami dalam kenistaan. Diri ini memberanikan nyali untuk melamar Aira, secara tersirat ia menyetujui maksud hati tapi sayang orangtuanya tak sekata dengan Aira. Mereka menolakku mentah-mentah disertai argumen menyakitkan hati.

“Kau hanya mahasiswa yang belum kerja, harta apa yang kau berikan agar anak saya bahagia ?”

Ucapan itu terus menghampiri pikiran, memang saat itu aku tak punya apa-apa. Tak ada harta yang diandalkan sebagai nilai tawar dimata orangtuanya. Aira, anak yang patuh, ketika orangtuanya menyuruh untuk menjauhiku, ia melakukannya sekalipun dengan derai air mata.

Novel rindu selalu mengingatkanku padanya, dalam novel ini masih terasa harum parfumnya. 7 hari yang lalu sakit hati semakin menjadi ketika ku coba mengetikan namanya di jejaring sosial facebook, muncul foto-foto Aira sedang memakai gaun pernikahan sebari memancarkan wajah tersenyum. Sungguh senyum paling pedih yang aku rasakan.

Aku kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup, saat itu tak pernah percaya lagi bahwa cinta sempat datang padaku. Hening malam, tetesan airmata perlahan mengalir ke pipi dalam doa meminta kepada Tuhanku untuk memberikan alasan agar aku dikuatkan.

Allah menjawab doa hambanya. Kala itu temanku mengirimkan file lewat media facebook, tak sepertinya biasanya yang sering menggunakan email untuk berkirim pesan. Jujur saja rasa trauma hadir ketika mendengar facebook, takut foto Aira bersama suaminya tiba-tiba muncul di berandaku. Beberapa menit ku coba amati media sosial buatan mark, tak ada tanda kemunculan Aira.
File yang dikirimkan temanku sudah terunduh, beberapa menit aku gunakan waktu untuk membaca artikel yang di share teman facebookku, hingga tibalah pada suatu artikel yang mengarah ke website beralamat http://www.bangsyaiha.com/. Ku baca artikel dengan judul “Kenal seminggu langsung diajak nikah” hasil karya seseorang bernama Bang Syaiha. Aku terlarut dalam tulisan itu seolah mendengarkan ceritaku sendiri namun dengan ending berbeda. Penulis bernama Bang Syaiha bertemu istrinya Teh Ella Nurhayati secara tak sengaja di  acara Book fair persis seperti diriku dengan Aira.

Menghayati tulisan Bang Syaiha semakin dalam, akhirnya ku mencoba menguatkan diri bahwa jodoh Allah yang tentukan, secinta apapun aku terhadap dia tak pernah bisa bersama jika Allah tak mengijinkannya. Tuhanku maha tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Sekarang aku terus bertekad untuk selalu mendekatkan diri padaNya sebari tak lelah menata keimanan agar dipantaskan. Semoga bisa seperti Bang Syaiha yang tak sengaja bertemu jodohnya, Teh Ella Nurhayati. Ketika Allah sudah berkendak tak ada yang tak mungkin bahkan untuk urusan cinta sekalipun.

Tulisan ini hanya fiksi belaka. Terinspirasi dari tulisan karya Bang Syaiha di http://www.bangsyaiha.com/2016/03/perhatikan-orang-orang-sekitar-karena.html






Reactions:

30 comments:

Dewi Mariyana said...

Bagus aa.

Aku belum nulis GA

Dewi Mariyana said...

Bagus aa.

Aku belum nulis GA

lisa lestari said...

kereeen emang Gilang, top bgt deh

Wiwid Nurwidayati said...

Keren Gilang. Bacanya sampai terhanyut ..tapi nggak ke sungai

Dessy R said...

Saking kerennya, lagi-lagi, ketepu kebaperan penulisnnya... kirain beneran. Udeh mau kasih calon pengganti tadinya, gak jadilah.. :P

Aira zakirah said...

kehendakNya boleh jadi tak sesuai ekspektasi manusia, tapi apa yg terjadi sudah pasti, itulah yang terbaik versiNya meski kadang tdk demikian menurut kita.. Allah memang lbh tau apa yg terbaik untuk kitaa:)

ceritanya bikin baperrrr...

denik said...

Kapan ada book fair lagi di sana. Mau datang ah.

Bang Syaiha said...

Saya sudah baca..

Bang Syaiha said...

Saya sudah baca..

suparto parto said...

Ceritanya Joss gandhoss mas Gilang...

Sasmitha A. Lia said...

keren mas Gilang.. kirain tadicerita nyata..^^

syam said...

saya pikir itu asli
taunya fiksi

cantik :D

hampir baper karena penghayatan yang terlalu dalam :D

Heni Susilowati said...

Jiah, fiktif. Anda berhasil membuatku salah menerka. :D

Cicilia Putri Ardila said...

Acciieee... Aa Gilang

nurul iman said...

Wow sungguh muantappp nih.

siti janiah said...

Keren!

Kholifah Hariyani said...

ternyata banyak juga yg ketipu... huhu... ternyata fiksi...

Raida said...

Emang yah, kalau dah nulis itu imajinasinya suka kemana-mana kadang sulit membedakan yang real ama khayalan semata hehhehe..

HERU WIDAYANTO said...

Aku jg ketipu, kirain nyata ...
Keren bgt mas Gilang

Fika AJ said...

Untung baca dari bawah, jadinya nggak ketipu. :P

nur apriliyani said...

Gak tau mau komen apa.. #lhoh

nur apriliyani said...

Gak tau mau komen apa.. #lhoh

Lukisan Tinta said...

dalam doa meminta kepada Tuhanku untuk memberikan alasan agar aku dikuatkan.

Bagus...

Audrey Saudjhana said...

APA? Cuma fiksi? Padahal udah terbang kemana-mana imajinasi ini, ah, ya sudahlah.

Indri Mulyani Bunyamin said...

Kalau baca tulisan kang Gilang suka bikin kesengsem dengan gayanya... euleuh-euleuh mantaap...

Indri Mulyani Bunyamin said...

Kalau baca tulisan kang Gilang suka bikin kesengsem dengan gayanya... euleuh-euleuh mantaap...

Vinny Martina said...

Kalau baca tulisan aa gilang selalu berakhir dengan senyum sendirian..

Tety Di Sini said...

Hampir saja air mataku jatuh, tapi akhirnya batal... Aku tertipu dengan keindahan kata yang hanya fiksi belaka.. Keren.. pake banget.. Anda berhasil menipu saya juga, hahahahaha... ^___^ Suka tulisan-tulisannya Kang Gilang..

Ciani L said...

Fiuhh... Senam jantung... Alhamdulillah fiktif

Aisyah As-Salafiyah said...

Masya Allah, awalnya terharu bacanya, eh ternyata fiktif, hehe..
Oya selamat tulisannya menang.. :)