Tuesday, March 1, 2016

Diantara impian, pilihan dan mantan

Setiap manusia akan dihadapkan pada pilihan. Aku pun manusia, kalau tidak percaya bisa dibuktikan. Aku mampu bernafas, mampu makan bahkan sering merebut jatah teman, serta mampu berkembang biak meski dengan cara membelah diri karena hingga saat ini belum menemukan calon istriku untuk bekerja sama membuat anak-anak yang lucu.

Berhubungan dengan anak, jadi ingat ketika SD pernah bertanya ke guru " Bu, aku ingin punya ade, bagaimana membuatnya ? " seketika wajah bu guru memerah dan menjawab dengan ragu " membuat ade itu seperti membuat kue hanya harus di oven selama 9 bulan ". Akhirnya merengek ke mamah ingin punya ade dan setelah 9 bulan lebih mimpiku terwujud tapi ada yang aneh, kapan mamah membuat kuenya. Mungkin ia membuatnya secara sembunyi-sembunyi dan memakannya sendiri terbukti dari perutnya yang semakin buncit.

Aku jadi bisa menyimpulkan, suatu hari nanti harus mencari istri yang pintar memasak terutama dalam urusan kue. Soalnya mamahku kurang ahli membuat kue, buktinya aku dan adikku gosong, mungkin terlalu lama di oven. Pembaca ada yang bisa membuat. kue ? Okey kamu. Mungkin bisa jadi calon istriku.

Kembali lagi ke masalah pilihan karena kalau membahas kue berlebihan jadi lapar. Aku pernah dihadapkan pada pilihan sulit, bukan memilih kue tapi memilih jurusan kuliah.

Ketika SMP hingga SMA, bercita-cita menjadi seorang bidan tapi keinginan kandas setelah dinyatakan tidak lolos padahal baru mendaftar. Timbul curiga, semua kampus kebidanan di Indonesia diskrimasi karena tak ada satupun pria yang lolos.

Hingga akhirnya ku terdampar di jurusan PBSI, PBSI bukan akronim dari persatuan bangsa siluman Indonesia. Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia akronim sebenarnya.

Kata Ayah di jurusan itu bisa menjadi pahlawan, tentu siapa yang tak mau jadi pahlawan. Mungkin setelah lulus kuliah, aku akan menjadi Iron man. ( Sebenarnya sih pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa jubah dan baju besi namun kekuataannya mampu mengubah negeri )

Di jurusan PBSI, banyak hal yang dipelajari dari cara menulis kreatif hingga cara mengombal efektif. Dalam mata kuliah retorika ( seni berbicara ) terdapat bahasan berbicara sugestif atau mempengaruhi, sepertinya aku cukup berbakat dimata kuliah itu terbukti berhasil menyakinkan konsumen untuk membeli sebuah produk, namun itu tak berlaku untuk menyakinkan si cinta yang pergi dan tak mau lagi bersama .

Sekalipun impian menjadi seorang bidan dan mendapatkan si cinta tak mampu menjadi nyata tapi aku yakin Tuhan mengabulkan yang dibutuhkan bukan yang diinginkan.

One day one post hari kedua
posted from Bloggeroid

Reactions:

26 comments:

Dymar Mahafa said...

Tulisannya simple. Cukup menghibur. ^_^
Semoga bisa cepet mengaplikasikan kuliah retorikanya buat menggaet calon istri idaman. (bukan calon istri orang lho) #ups #intermezo ^__^

Riendra siswin Rohmawatiningrum said...

Tulisannya menghibur q yg lg d UGD...hehehe,
Jangan bolos kuliah pelajaran menggaet calon istri idaman yach, biar segera bisa sukses dapet istrinya(*loh...)

Aira zakirah said...

wahh...Tuhan memang mengabulkan yg dibutuhkan bukan yg di inginkan:')
kasusunya Persis juga sama aku cuman cita2 awal aku mau jadi arsitek malah terdampar di Sospol krn tdk ada restu dari mama..*numpang curcol yaa kak*hehe

lisa lestari said...

Asyik bacanya

nurjannah yuliani said...

Semoga lekas ketemu yang pinter bikin kue haha

Indri Mulyani Bunyamin said...

Wow...baca tulisannya ibarat makan donat minies...

Indri Mulyani Bunyamin said...

Wow...baca tulisannya ibarat makan donat minies...

Annisa Fitri Ref said...

Sebenernya aku lebh cocok kuliah PBSI dulu. Haha

Annisa Fitri Ref said...

Sebenernya aku lebh cocok kuliah PBSI dulu. Haha

denik said...

Saya doakan semoga keinginannya terkabul..hehe

Vera TR said...

semoga jodohmu disegerakan bang gilang :D

Sasmitha A. Lia said...

Syukurlah mas Gilang gak jadi bidan.. tak bisa dibayangkan kalau bakat menggombal efektifnya diterapkan kepada ibu-ibu hamil yang kontrol atau check kehamilan padanya..:D mungkin para bapak-bapak akan bersatu bawa golok..hahaha #peace mas gilang.

nur apriliyani said...

Hello Bang.... emang ada ya bidan laki-laki?? Untung kamu gak jdi bidan ya Bang, bisa-bisa memecahkan rekor muri ntar.

Btw, semangat cari calon istrinya bang. Ihirrr..

nur apriliyani said...

Hello Bang.... emang ada ya bidan laki-laki?? Untung kamu gak jdi bidan ya Bang, bisa-bisa memecahkan rekor muri ntar.

Btw, semangat cari calon istrinya bang. Ihirrr..

Heni Susilowati said...

Suka sama tulisanmu Gil, eh Lang.
Bikin ade seperti bikin kue? Jawaban kreatif :D

Dessy R said...

Hahahha... ibunya kelupaan angkat Gilang & ade dr oven.. good job, bro.. terus nulis yg lucu gini ya.. :)

Julia Rosmaya said...

Dengan cara membelah diri...

Wkwkwwk... Nice post Gilang...

Andriyes Malini said...

Semoga tahun ini ketemu si cinta ya *eh. Wkwk

elsarugerifm said...

Saking asyiknya baca, ga kerasa tahu-tahu udah beressss... aduhhh mana lanjutannya nih?

Nychken Gilang said...

Terimakasih semua sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya ini. semoga lain kali bisa berkunjung

juni dwiriyanti said...

Kenapa ya nggak ada bidan laki-laki, padahal dokter sp og malh kebanyakan laki-laki.

nurjannah yuliani said...

Semoga lekas ketemu yang pinter bikin kue haha

Fika AJ said...

Selalu ketawa kalau baca tulisan Kang Gilang. Lucunya alami. :D

Ternyata diajarin cara menggombal yang efektif ya, ooo ... pantes. :p

Fika AJ said...

Nah, ini komentar paling lucu. XD

siti janiah said...

Kelamaan di oven ternyata bisa bikin pinter nulis yaa??wkwkwk
Kue ohh kue..

Wiwid Nurwidayati said...

Ngakak. Kelamaan Di oven..