Monday, March 28, 2016

Jarak

Saat mentari masih malu-malu menampakan diri, aku sudah bergegas  pergi dengan jas putih menuju suatu tempat yang tak pernah sepi pengunjung, rumah sakit terbesar di Bandung, RSHS (Rumah sakit Hasan Sadikin) menjadi saksi perjuangan untuk melanjutkan kehidupan.  Bandung di pagi hari tak ramah dengan pengendara, kemacetan menjadi murid paling rajin dalam sekolah bernama kehidupan. Benci dan cinta memiliki batas sangat tipis, peribahasa yang cocok untuk keadaanku. Sekarang aku benci sekali dengan kemacetan karena dia hadir sebagai penyebab kekesalan, namun 17 tahun lalu keadaan justru berbalik, kala itu aku sangat suka kemacetan berkat perantaranya  diri ini bisa makan.

2 orang anak sedang berpacu dengan waktu, lampu merah menunjukan detik ke 10 sedangkan mereka masih bernyanyi sebari mengetuk jendela mobil lalu mengulurkan tangan, berharap suara cemprengnya dihargai rupiah. Bentak demi bentakan menjadi balasan untuk nyanyian mereka.

“Gilang, ngamen di lampu merah hasilnya minim banget. Kamu ada usul ngamen di mana lagi ? “  Bocah berumur 10 tahun bertanya sebari memegang ukulele, senjata sakti alat mengumpulkan pundi-pundir rupiah.

“ Kita coba di kereta, Jem. Teguh dan Jurdi bertugas di bus” diiring tepukan ke pundak jem sebagai tanda untuk segera pergi meninggalkan bahu jalan.

Saat itu kehidupan tak seramah sekarang. Bus, kereta bahkan angkot menjadi tempat kami berempat untuk mencari makan. Jem, nama aslinya Jama Saputra, rekan duet terbaik dalam konser jalanan. Sempat aku menanyakan asal-usul nama Jem, ia menjelaskan nama panggilannya berasal dari film James Bond yang ditontonnya. Jem penyuka Film, dia punya banyak kenalan tukang kaset dan DVD bajakan. Alasan berteman dengan mereka agar dapat menonton film gratis serta menambah referensi lagu untuk konser jalanan. Seorang yatim piatu yang titipkan di rumah pamannya, itulah jem, seorang bocah ceria meski tak diperlakukan seperti kebanyakan anak-anak sebayanya.

40 Km lebih jarak yang ditempuh untuk sampai di Stasiun Bandung. Kami berasal dari sebuah desa bernama Cikalongwetan, tempatnya sejuk dengan deretan kebun teh. Truk-truk besar sering melintasinya dari Jakarta menunju Bandung, kesempatan itu menjadi peluang untuk mengantarkan kami berempat menuju tempat pencarian uang. Aku, Jem, Teguh dan Jurdi berasal dari keluarga dengan keadaan jauh dari kata mapan.

Ular besi bernama KRD ekonomi sudah aku dan Jem tumpangi. Kereta ini seperti miniatur Indonesia dari pengamen hinga pengemis yang berpura-pura cacat, semuanya ada. Penuh sesak seolah tak memberikan kesempatan bagi kami untuk melantunkan lagu. 2 jam sudah berlalu namun keadaan tetap sama, penumpang silih berganti naik dan turun. Jem nampaknya sudah kesal, jangankan untuk bernyanyi sekedar memetik ukulele pun tak bisa. Aku mencari celah menuju tempat yang sedikit lapang akhirnya ditemukan sudut samping jendela di dekat seorang Ibu dan anak perempuannya yang berumur tak jauh dari kami. Jem nampak ceria setelah mempunyai ruang untuk memetik ukulele, ia menepuk pundakku untuk menyanyikan sebuah lagu.

“Aku yang lemah tanpamu, aku yang rentan karena cinta yang telah hilang darimu yang mampu menyanjungku”

“Stop, stop. Aku nggak suka lagu cinta-cintaan, kak” Tetiba seruan perempuan seumuranku menghentikan nyanyian.

“Terus kamu mau lagu apa ?” Wajah heran tampak dari raut wajah jem, begitupun denganku.

“Aku mau lagi Indonesia raya” tak ragu menyebutkannya dengan lantang.

“Lagi Indonesia raya ?, ini bukan upacara bendera” Jem menekuk bibirnya.

“ Yah sudah Jem, kita turuti saja kan pelanggan adalah raja”

Petikan ukulele menjadi pengiring lagu kebangsaan negara kita, orang-orang dalam gerbong kereta melirik karena tak biasa mendengarkan lagu nasional dalam kereta penuh sesak. Lagu sudah diakhir lirik, gadis kecil itu memberikan 5 lembar uang bergambar seorang pahlawan yang memegang pedang.

Kereta sudah berada di stasiun terakhir, 18 KM dari rumah kami. Hari melelahkan dengan kejadian mengesankan, kali pertama mengamen membawakan lagu Indonesia raya. Mobil jemputan sudah datang, aku dan jem menempati ruangan VVIP ditemani beberapa puluh sapi berada dalam truk menuju Cikalongwetan. Gadis kecil, apakah kita bertemu lagi, lalu kau memintaku bernyanyi “Maju tak gentar” menghadapi kehidupan penuh kesulitan.

Bersambung...



Reactions:

19 comments:

Nabela Atika said...

Mantap bang :D ceritanya ngalir gt aja..

Aira zakirah said...

Tentang kerasnya kehidupan dan perjuangan melanjutkan hidup *sedih bacanya:'(
inspiringstory:)

sperti biasa, aku sukaa cara berceritanyaa^^

lisa lestari said...

bagus ceritanya,

lisa lestari said...

bagus ceritanya,

denik said...

Penasaran sama lanjutannya..hehe

Deasy Windayanti said...

keren...
ada pesan tentang nasionalisme di antara kerasnya kehidupan jalanan.

Nuraeni Adriati said...

ditunggu kelanjutannya. :)

Adiba Damayanti said...

Nunggu cerita selanjutnya.

Nychken Gilang said...

Terimakasih semua udah bacaa

Wiwid Nurwidayati said...

Selalu keren tulisan Dik Gilang ini

Tety Di Sini said...

“Stop, stop. Aku nggak suka lagu cinta-cintaan, kak. Aku pengen lagu Dora Emon aja kak, hehe..” ^___^

Vinny Martina said...

"Aku minta lagu burung kakak tua ya, kak."

HERU WIDAYANTO said...

Mantab ...
Penasaran lanjutannya

nur apriliyani said...

Keren abang Gilang. Suka... sudut kehidupan yang sekarang ini semakin memprihatikan.

nur apriliyani said...

Keren abang Gilang. Suka... sudut kehidupan yang sekarang ini semakin memprihatikan.

Fika AJ said...

Gadis kecil, apakah kita bertemu lagi, lalu kau memintaku bernyanyi “Maju tak gentar” menghadapi kehidupan penuh kesulitan.

Suka banget. :D

Bagi ilmu nulisnya atu, Kang.

Cicilia Putri Ardila said...

Aku suka, Lang. :)

Junaidi Abdillah said...

Ditunggu kelanjutannya...

Samrotul Mahmudah said...

sippp mengalir bahasanya..mw jalan-jalan lagi ke cerita selanjutnya