Thursday, March 31, 2016

Kisah Cinta dan Rangga

Puisi Tentang Seseorang 

Karya Rako Prijanto

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku,.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku
Sepi..sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar..
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tidak kau goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai..?

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Coba tebak puisi di atas pernah muncul dalam film apa ? please jangan jawab di film tali pocong perawan.  Okey kamu benar,  Sinema “ Ada Apa dengan Cinta” atau lebih familiar dengan judul AADC. Mari kita bernostalgia, AADC menceritakan sepasang anak SMA bernama Cinta dan Rangga. Pada zaman itu Cinta termasuk tipe cewek paling kece badai jika merujuk kata gaul anak muda, sedangkan Rangga merupakan cowok bertipe cool, puitis, ganteng dan penyuka sastra mirip aku banget pokoknya, jangan muntah pembaca.

Di sekolah mereka diadakan lomba menulis puisi, Cinta Cs sebagai pengurus Mading yakin bahwa Cintalah yang akan menang, tak diduga sosok pria berakta lahir Ranggalah juaranya. Cinta sebagai ketua Mading wajib mewawancarai Rangga, namun cowok penyuka sastra menolak dengan tegas, Cinta terus berusaha bahkan dengan menghampirinya dan memberikan surat bernada kasar, Rangga marah berusaha menjauh dari cinta tapi bukunya berjudul “Aku” jatuh yang kemudian dipungut Cinta, nah itulah awal cinta mereka.  Sutradara menakdirkan 2 sejoli bertemu lalu menjalin cinta tapi akhirnya dipaksa berpisah lagi, jahat bener sutradara dan penulis naskahnya. Rangga harus pindah ke New York, USA dan otomatis kisahnya dengan Cinta dipaksa berakhir. 14 tahun kemudian Rangga mengirimkan pesan via aplikasi jejaring sosial buatan Jepang, mengabari Cinta bahwa ia akan kembali ke Indonesia. Enak banget jadi Rangga memberikan harapan palsu selama 14 tahun lalu datang kembali untuk mempertanyakan kisah Cinta

Beberapa hari ini sering melihat iklan air mineral dengan membawa alur cerita AADC versi 2. Rasanya banyak kemiripan antara aku dan Rangga. Aku seorang pria, Rangga juga. Aku jomblo, Rangga juga. Aku penyuka sastra, Rangga juga. Sayang sekali Rangga ganteng sementara aku belum ganteng, catat belum yah? bukan tidak. Aku akan ganteng pada saatnya tapi rasanya itu masih lama. Andai diri ini pemeran tokoh Rangga tentu akan setia dengannya hingga Cinta merasa jijik lalu pergi meninggalkanku, sulit dibayangkan bila aku jadi Rangga.

Meski takkan pernah bisa mengubah wujud menjadi Rangga, setidaknya aku meniru salah satu kebiasaanya yaitu membawa buku kemanapun pergi. Beberapa minggu lalu berkunjung ke rumah sakit dengan tujuan mengantar mamah, tahu dong antrian di Rumah sakit pemerintah hingga mendapatkan obat itu bisa sampai 5-8 Jam, sering sekali ku menamatkan bacaan di rumah sakit, sensasinya luarbiasa menunggu berjam-jam tak terasa larut dalam dunia cerita. Pantas saja Rangga suka menyendiri bisa jadi ia sedang larut dalam dunia bacaan.

Setiap cerita punya amanat yang terkandung didalamnya. AADC mengajarkanku bahwa budaya litera (Menulis dan membaca) mampu menghantarkan seseorang bertemu dengan cintanya, setidaknya jika belum menemukan cinta yang berwujud, maka ditakdirkan berjodoh dengan cinta kasat mata yaitu ilmu. Ilmu tak pernah berkhianat kepada pencintanya, Ia bukan hanya teman yang memudahkan hidup di dunia, tetapi bekal penambah timbangan pahala. Terimakasih Cinta dan Rangga lewat perantaramu aku mencintai sastra, mencintai ilmu serta mencintai seseorang yang belum Allah tentukan.

Reactions:

10 comments:

Wiwid Nurwidayati said...

Hai rangga. Jadi saat INI masih bertemu dengan jodoh kasat matamu?

lisa lestari said...

setuju dengan Gilang. Ilmu tak pernah berkhianant keoada pecintanya

lisa lestari said...

setuju dengan Gilang. Ilmu tak pernah berkhianant keoada pecintanya

mual limah said...

Ilmu tak pernah berkhianat kepada pencintanya, 👍👍👍

denik said...

Hehehe...Siiiplah jadi niru yang baiknya dari sifat Rangga. Bawa buku kemana-mana. Bukan PHP-in selama itu...hehe

Junaidi Abdillah said...

Sejujur-jujurnya kawan... adalah buku...

Cicilia Putri Ardila said...

Hai Gilang--yang bukan Rangga.

#apaancoba

Khikmah Al-Maula said...

Terimakasih bang Gilang lewat perantaramu aku juga jadi mencintai..... Ilmu :)

Fika AJ said...

Makin ke sini bukan hanya humoris, tapi juga mengandung nasihat kebaikan.

Like.

Aira zakirah said...

"budaya litera mampu menghantarkan seseorang bertemu dengan cintanya, setidaknya jika belum menemukan cinta yang berwujud, maka ditakdirkan berjodoh dengan cinta kasat mata yaitu ilmu..sukaaa'sama pernyataan yg ini^^