Sunday, March 6, 2016

Tak meminta

Deretan mobil mewah berjajar dengan gagah, tempat ini bukan showroom, bukan juga pameran otomotif dengan SPG cantik nan seksi yang menggoda mata pria untuk menghampiri. Tempat ini bernama Jakarta, ibukota dari 260 juta manusia. Tempat ini adalah Jakarta dengan kemacetan yang luarbiasa.

Bagi sebagian orang kemacetan adalah sumber dari amarah, tapi baginya kemacetan ialah berkah meskipun dalam hati berharap bebas dari macet dan kemiskinan. Berbicara tentang miskin sedari kecil ia sudah terlatih dalam hal itu, bukan berarti tanpa perjuangan untuk menjadi mapan. Ia hanya lulusan SD yang putus sekolah karena ketika SMP harus menjadi tulang punggung keluarga, setelah Ayahnya dipukuli warga hingga tak bernyawa, mencuri beras seolah menjadi alasan pas untuk menghilangkan nyawa. Tak seperti yang terhormat di Senayan sana, ketika tertangkap korupsi, senyumnya masih menghiasi pipi karena dirinya tahu penjara tempatnya nanti tak ubahnya istana yang berubah lokasi. Setelah 6 bulan ia pun akan terbebas sebari menyusun rencana apalagi yang harus di korupsi.

Dulu, Jakarta baginya seperti surga yang menawarkan kesempatan kepada setiap orang untuk  kaya, tapi nyatanya tidak. Selain keterampilan, pendidikan dan keberuntungan, terdapat satu pelengkap yaitu uang sogokan untuk bisa kerja di Jakarta. Sekalipun tidak semua perusahaan menghalalkan cara yang hina. 10 tahun lalu, ia meninggalkan kampungnya untuk mengadu nasib ke Jakarta setelah Ibunya meninggal tanpa tahu penyakitnya apa. Saat itu tak ada yang peduli sekalipun ibunya sakit keras karena warga hanya menganggap mereka keluarga dari pencuri yang pantas dipukuli hingga mati.

Sudah 1 jam lebih kemacetan menghiasi jalan, sudah satu jam pula pemuda berumur 25 tahun itu menawarkan tisu untuk sekedar mengelap keringat pengemudi yang dilanda penat. Hari ini kenyataan pahit harus terima seperti hari-hari sebelumnya juga. bukan saja barang jualnya kurang laku tapi makian harus diterima dengan lapang dada, sebagian orang menganggapnya tak lebih dari pengganggu meskipun ada beberapa orang berbaik hati untuk membeli.

Perjuangan keras hari ini sudah usai, matahari nampaknya sudah lelah menyinari siap berganti dengan gelap pertanda malam akan segera tiba. 20 ribu, uang yang dia dapat hari ini, cukup untuk 2 kali makan dengan satu piring nasi dan 3 potong tempe. Sekalipun penghasilannya sedikit tak pernah terbersit untuk menjadi pengemis, meski uang yang didapat lebih besar dan jelas tanpa modal. meminta-minta tak akan jadi jalan hidupnya, kemiskinan bukan alasan untuk berpangku tangan. Prinsip Ibunya yang terus ia yakini, sekarang menjadi prinsipnya kini.

Berbekal nasi bungkus, ia kembali ke kolong jembatan yang seminggu lagi akan digusur. Dari segala kesusahan yang berada dipelupuk mata, rasa syukur tak pernah sedikitpun kabur. Setidaknya hari ini bisa makan. Sesampainya digubuk yang hanya terbuat dari beberapa triplek, Ia melihat tetangganya yang seorang kakek tua sedari tadi memegang perut, nasi bungkusnya akhirnya berpindah tangan. malam ini harus diisi dengan lapar namun rasa syukur tetap ada, esok ia bisa makan dengan uang 10 ribu yang masih dalam genggaman.

Reactions:

4 comments:

nur apriliyani said...

Selintas cerita yg sangat bermakna meski terkadang kisahnya sering terabaikan dan tak pernah tersorot oleh publik.

nur apriliyani said...
This comment has been removed by the author.
lisa lestari said...

gilaang..jd bapeer euy..kondisi yg selallu buatku sedih..indonesia kaya..tp warganya banyk yg tinggal di kolong

lisa lestari said...

gilaang..jd bapeer euy..kondisi yg selallu buatku sedih..indonesia kaya..tp warganya banyk yg tinggal di kolong