Tuesday, March 29, 2016

Waktu dan Kegalauanku

Waktu berjalan begitu cepat sekalipun ia tak punya kaki, aku tidur pagi hari kemudian terbangun tengah malam menjadi contoh bahwa  detak jam melaju secepat F1 atau aku tertidur laksana pingsan . Jika bergosip tentang waktu selalu menarik, Al-quran pun membahas waktu secara khusus dalam surat Al- Ashr. Detik walau tak tajam tapi mampu menikam  siapa saja yang lalai dalam menggunakannya. 
Seluruh manusia punya kouta waktu 24 jam dalam sehari, menurut akta kelahiran, spesies bernama Nychken Gilang Bedy S termasuk manusia, jadi dia pun punya waktu yang sama.

Senin, 28 Maret 2016 terasa berbeda, waktu dengan kuota 24 jam tak cukup dan aku tidak pernah bisa menambah koutanya. 
Hari itu terasa sangat peluh setelah begadang untuk menunaikan kewajiban menulis di blog, mencari ide kemudian menuliskan dengan tempo 2 jam cukup menguras tenaga akhirnya anakku bernama  Jarak lahir. Ia bercita-cita menjadi novel, semoga saja mimpinya tercapai serta aku yang berperan sebagai ayahnya bisa dikuatkan untuk terus menuliskan kisah jarak. Tulisan baru telah lahir tapi kantuk tak kunjung hadir walau jam sudah menunjukan waktu dengan angka 1 pada pagi hari, mata mulai dilanda kantuk tepat ketika lingkaran berisikan angka-angka menunjukan nominal 2.

Gaya gravitasi kasur sungguh menarikku dalam kantuk, sulit rasanya berdiri tegak, namun tetiba Malaikat cantik yang sedang tak memakai sayap datang diiringi teriakan

“Gilaaaaaaaang, kamu mau salat nggak ? atau mamah salatkan” teriakan belasan oktaf seketika mengalahkan gaya gravitasi. Aku berdiri dengan cekatan memakai jurus tanpa jejak untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan kewajiban seorang hamba.

Senin atau sebagian orang memanggilnya Mon(ster)day  dijalani dengan jatah tidur hanya  2,5 jam setelah sebelumnya deraan aktivitas meminta untuk diberikan perhatian. Jadwal hari senin mengharuskanku untuk menjadi panitia ujian akhir sekolah  pada jenjang  menengah kejuruan. Membereskan berkas-berkas serta menyiapkan soal ujian merupakan tugas negara yang harus segera dituntaskan, ditambah dengan kegiatan memeriksa lembar jawaban siswa dengan jumlah tak bisa dikatakan sedikit. Di tengah himpitan aktivitas, tetiba seorang guru perempuan menghampiriku dengan selembar kertas dalam hati berkata semoga bukan kertas tagihan hutang.

“Panik, ini undangan pernikahan aku. Hadirnya jangan lupa”
Beberapa detik tertegun sebelum mengangguk sebari berkata “Siap bu”

Bertambah lagi daftar teman yang akan berumah tangga, seketika galau melanda pikiran dengan siapa nanti aku akan menjalani hubungan bernama pernikahan, berharap menemukan titisan hawa seperti Oki Setiana Dewi, wajahnya menenangkan jiwa rasanya ingin selalu pulang ke rumah untuk segera menatapnya.

Galau bertahan cukup lama menemaniku hingga pulang ke rumah, kalau galau begini bawaanya ingin es krim sekalian membeli parfum dan minyak rambut yang stocknya mulai menipis. Tak elok jika seorang single berbau kaos kaki dengan tatanan rambut acak-acakan. Beberapa menit kemudian kaki sudah sampai di sebuah minimarket berinisial “A” dengan akhiran “Mart”, mengambil perlengkapan yang sudah direncakan untuk dibeli kemudian membawanya ke kasir. Kata template khas kasir menerjang diriku.

“ Ini saja Kang ?”
“Iya”
“Mau pakai plastik ?”
“Engga ah, soalnya bayar”
“Nggak sekalian dengan pulsanya ?”
“Engga”
“Minyak sedang diskon, nggak mau beli ?”
“Engga, aku nggak suka minum minyak”

Obrolan mesra berakhir tak bahagia dengan penolakan terlontar dari mulutku. Seharusnya mbak tadi memakai pertanyaan tak biasa misalkan

“ Kang, nggak sekalian mau melamar aku?”

Tak merenung lama untukku segera menjawab dengan antusias. Selain mbak cantik yang menawarkan segala barang, minimarket itu pun menjual hampir semua kebutuhan kecuali satu hal yang tak mereka jual yaitu waktu.

Sekaya apapun manusia tak akan bisa membeli waktu. Waktu, sumber daya tak bisa diperbaharui sama seperti minyak bumi, pemakaiannya harus sebijak mungkin. Seringku membuang percuma waktu dengan kegalauan demi kegalaun tentang masa lalu. Kita punya waktu sama, 24 jam. Tak kece jika membuang karunia Tuhan dengan kegalaun tanpa tindakan.

“Aku dan Chairul Tanjung memiliki waktu sama bernilai 24 jam. Tentu aku pun bisa seperti dia karena memiliki modal yang sama, 24 jam wujud karunia Tuhan.

Catatan Kaki:  # Panik (Panggilan aku di sekolah)
                          #Chairul Tanjung           (Orang terkaya ke 3 di Indonesia     menurut  Finance.detik.com tahun 2014)

                        

Reactions:

19 comments:

suparto parto said...

Beberapa gadis sudah menunggumu Mas...

Miftahul Rohmah said...

Semangat mas gilang, jodoh pasti bertemu #eh 😀😀😀

E Caswatie Sodikin said...

dan beberapa gadis hanya menunggu agil sedikit untuk peka wkwk

Deasy Windayanti said...

Cie.. cie...
Itu mba Miftah udah komen ngasih semangat..
Jgn2 cerita bersambungnya jd fakta.. 😄😄😄
Eh?

Deasy Windayanti said...

Cie.. cie...
Itu mba Miftah udah komen ngasih semangat..
Jgn2 cerita bersambungnya jd fakta.. 😄😄😄
Eh?

Aira zakirah said...

wahh,,likee bangett^^

Setiap orang punya modal yg sama 24 jam dalam sehari namun apa yg kita lakukan itulah yang akan membuat sebuah "perbedaan".. so, pilihan ada pada kita, ingin menjadi biasa2 saja atau menjadi luar biasa dgn memanfaatkan waktu sebaik mungkin...

tulisannya membuat aku tambah semangatt^^

lisa lestari said...

tenang, Panik, sudah disiapkan pasanganmu,
nama panggilannya unik

lisa lestari said...

tenang, Panik, sudah disiapkan pasanganmu,
nama panggilannya unik

Sasmitha A. Lia said...

Sukaaaaa banget ma komentarnya mbak lisa di atas..😅😅😅#ehh..
As always tulisannya mas Gilang selalu menghibur..

Wiwid Nurwidayati said...

Waktu berlalu lebih sering Ku sesali. Btw sebenarnya ada gadis yang Sudan menantimu. Akan tiba masanya

Junaidi Abdillah said...

Akan tiba pada masanya.. akan indah pada waktunya....

Keren...

nur apriliyani said...

Nah ini kenapa tema postingan kita sama yg Bang Gilang???

nur apriliyani said...

Nah ini kenapa tema postingan kita sama yg Bang Gilang???

Adiba Damayanti said...

Sabar aja, kang Gilang... bidadari utk kamu udh di siapkan, tunggu waktu yang tepat aja.

Dewi Mariyana said...

Ihh postingannyw hmpir sma sama pnya April jangan2...

Bagus panik

Dewi Mariyana said...

Ihh postingannyw hmpir sma sama pnya April jangan2...

Bagus panik

Fika AJ said...

Top Comment

Fika AJ said...

Sama. Saya kadang juga suka ngerasa nggak cukup dengan waktu 24 jam.
Padahal orang-orang hebat waktunya juga 24 jam. -_-"

denik said...

Tetap semangaaaattt...hehehe