Thursday, April 28, 2016

Tere Liye

Sudah seminggu ini, aku mengurangi aktivitas bersosialisasi dengan manusia. Tentunya memiliki alasan, bukan sedang patah hati. Hatiku sudah sejak dulu patah karenamu, eh. Aku sedang tak ingin menulis kegalauan. Terpaan tugas dan kepercayaan memegang beberapa kewajiban membuatku terpaksa mengurangi aktivitas bersosialisasi terutama yang dilakukan di dunia maya. Selain itu seminggu ini punya target untuk menuntaskan dua dari empat novel serial anak-anak Mamak karya Tere Liye.

Sahabat pasti tahu siapa Tere Liye ?. Seorang penulis berbakat nan produktif. 24 buku sudah diterbitkan dan menyebalkannya laku semua hingga dicetak berkali-kali. Aku menulis satu novel saja bertahun-tahun tidak selesai, tepok jidat. Novel terbarunya berjudul "Hujan" menegaskan bahwa ia penulis berbagai genre. Buku Bang Tere yang pertama ku baca berjudul "Sunset bersama Rosie," novel bergenre percintan dengan latar pengeboman di Jimbaran, Bali. Rasa suka terhadap karyanya sudah terasa. Dilanjutkan dengan karya lain, hingga hari ini 20 novelnya sudah aku lahap menyisakan empat lainnya yang sedang ku buru.

Jika harus memilih dari 24 karya Bang Tere, aku paling suka empat buku serial anak-anak Mamak. Dikerucutkan lagi menjadi satu yaitu "Burlian". Serial anak-anak Mamak berisi empat novel dengan judul sesuai nama empat bersaudara yakni Amelia, Burlian, Pukat dan Eliana. Novel ini bukan tetralogi seperti Harry Potter atau Twilight, tapi sebuah cerita berdasarkan empat sudut pandang. Amelia, sang putri bungsu dijuluki anak kuat. Burlian, anak ke tiga dengan julukan anak spesial. Pukat, anak ke dua memiliki panggilan anak cerdas. Terakhir Eliana, kakak sulung si anak pemberani. Julukan-julukan tersebut memiliki alasan tersendiri, selengkapnya baca di ke empat novelnya.

Aku memiliki alasan sehingga terpaut dengan serial anak-anak Mamak ini, terutama novel "Burlian". Ke empat novel ini cocok untuk semua usia karena menceritakan suasana sebuah perkampungan di pedalaman Sumatera dengan sejuta problemanya. Selain itu, banyak sekali suriteladan yang dapat kita ambil. Menurutku novel-novel dalam serial anak-anak Mamak sangat cocok dijadikan bahan bacaan anak. 

Tak ada gading yang tak retak. Peribahasa yang pas untuk Bang Tere. Di balik ribuan penyuka karyanya. Ada beberapa yang berada di sisi sebaliknya. Menghina bahkan mencaci karya beliau dengan berbagai alasan. Sebenarnya simple sekali, jika tak menyukai karya seseorang maka tunjukanlah karya yang lebih baik. Menghujat adalah indikator lemahnya rasa menghargai terhadap orang lain. Masalah terbesar bangsa Indonesia salah satunya itu.

Jangan menghujat kegelapan, lebih baik menyalakan lilin-lilin kecil.

posted from Bloggeroid

Jam

Sekarang pukul berapa yah, ada yang tahu ? Kalau saat aku menulis sekitar pukul 7 WIB. Pernah ngga sahabat memperhatikan jam?, jangan-jangan hanya memberi perhatian ke si dia saja, jam pun perlu hatian loh.

Benda bernama jam sering kali diabaikan, padahal dia berperan penting bagi kehidupan kita. Ia akan dilihat hanya dalam keadaan darurat misalkan di saat telat melakukan sesuatu.

Contohnya nyata orang yang selalu mengabaikan jam ialah aku. Kemarin malam mengatur alarm agar bangun pukul tiga dini hari. Ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan. Disetlah alarm. Ternyata ketika saatnya tiba, alarm ku matikan. Alasannya masih ngantuk, tetiba bangun pukul lima. Sibuk sana sibuk sini, walhasil kegiatan yang telah diagendakan terbengkalai.

Jam menunjukan sesuatu hal yang sangat terbatas bagi kita, yaitu waktu. Manusia diberikan jatah waktu merata 24 jam seluruh dunia. Tidak ada orang kaya di belahan dunia manapun, bisa beli waktu.

Beralih ke sisi lain. Ada yang perlu aku tafakuri dari benda bernama jam. Ia tak pernah lelah berdenting, menunjukan setiap detik waktu berharga bagi manusia. Tapi apa yang ia terima? Terpaan pengabaikan. Aku contoh nyatanya. Sekalipun tak diperhatikan ia terus memutari angka-angka. Tidak pernah berhenti karena merasa pekerjaan yang dilakukannya sia-sia.

Aku mulai berpikir untuk meneladani jam, menebarkan manfaat tanpa berharap pujian. Menembar kebaikan sekalipun dibalas pengabaikan bahkan cacian. Belajar dari jam yang tak lelah menunjukan waktu, sekalipun ribuan pengacuhan ia dapatkan.
posted from Bloggeroid

Wednesday, April 27, 2016

Untuk Seseorang

Kehidupan melatih banyak hal termasuk kesabaran. Kesabaran menanti orang yang Tuhan pantaskan. Manusia tak terlatih hidup sendiri dalam sepi, perlu seseorang yang menemani sebagai sandaran ketika gundah menghampiri. Sebagai pria, aku tak bisa selamanya berdiri gagah. Bertarung dengan ribuan masalah tanpa kenal lelah. Ada saatnya butuh sandaran dari seorang perempuan yang penuh kelembutan.

Aku pria biasa dengan segala keterbatasan. Jauh dari kesan pangeran yang mungkin pernah engkau tonton dalam serial drama Korea. Tak tampan, tidak juga hartawan. Hanya seseorang yang sekuat tenaga memberikan makna bahagia untukmu, calon ibu dari anak-anakku.

Diri ini tak punya nilai tawar kuat, sebagai alasan bahwa akulah pria yang tepat. Aku hanya punya rencana untuk selalu menghadirkan tawa disimpul senyum adinda, takkan biarkan tangis hadir di pelupuk matamu.

Untuk adinda yang entah berada di mana. Aku punya puisi, puisi terpanjang yang pernah ku buat, entah kenapa diri ini tak pernah kehabisan kata untuk menggoreskan setiap sudut kecantikan dari makhluk terindah ciptaan Tuhan.

Sempat bermimpi ketika tua nanti, saat kerut di wajahmu mulai bertambah. Kita duduk bersama melihat buah cinta mulai tumbuh. Seorang gadis dengan wajah meneduhkan, di saat mata tertuju padanya. Gadis itu memanggilmu mamah. Wajahnya mirip sekali denganmu, sama-sama menawan hati. Aku tersenyum ketika engkau memarahi seorang remaja pria, anak kedua kita. Ia sangat suka berlama-lama dengan buku, bahkan wajah cantikmu memerah, di saat berulang kali menyuruhnya meninggalkan bahan bacaan untuk sekedar makan. Perlakuan sama yang engkau tujukan untukku. Sesungguhnya engkau dalam mode terindah ketika marah, marah tanda perhatian yang aku rindukan.

Untuk jodohku yang entah berada di mana. Jaga kesehatan jangan lupa makan. Jika engkau masih sekolah, bolehlah sesekali berlelah-lelah menuntaskan tugas kuliah tapi jangan sampai sakit. Namun jika engkau sudah bekerja jangan terlalu lelah, kasihan badanmu. Aku belum bisa menjagamu, tepatnya belum tahu siapa dirimu.

Sayang, jangan terlalu sering selfie, aku cemburu ketika kecantikanmu dinikmati pria selain aku. Jaga auratmu yah? Engkau cantik dengam rasa malumu.

Aku di sini sedang berusaha memantaskan diri agar bisa bersanding dengan engkau nanti. Meniadakan lelah mengumpulkan Ilmu dan rupiah, berusaha menjadi imam terbaik dalam kehidupanmu.

Adinda yang entah berada di mana, sempatkan lima menitmu untuk membaca tulisanku. Aku selalu berdoa agar kesehatan dan kebaikan selalu Tuhan titipkan kepada dirimu yang aku rindukan. Aku berharap semoga kita segera dipertemukan.

Salam sayang dari Gilang.
posted from Bloggeroid

Tuesday, April 26, 2016

Arus zaman

Media sosial selalu menghasilkan tren baru. Beberapa minggu lalu tren mencium ketek pasangan menjadi simbol kesetiaan. Terbayang ketek sendiri saja menghasilkan aroma yang membuat tanaman layu. Parahnya itu dilakukan generasi muda yang belum terikat pernikahan. Semakin aneh saja penghuni dunia, eh semakin aneh juga aku yang tiba-tiba membahas ketek.

Bicara tren, tiga hari ini fenomena baru hadir di media sosial. Generasi muda berbondong-bondong memosting foto dengan dua frame, satu frame menampilkan sosoknya ketika dulu (mungkin semasa ia hidup berdampingan dengan dinosaurus), satu frame lainnya memuat foto terbaru dengan tampilan lebih kece menurutnya. Dua frame itu dilengkapi sebuah kalimat "Dear mantan, maafkan aku yang dulu," kalimat yang menyiratkan "Ini aku loh lebih baik secara penampilan dan wajah, pasti kamu menyesal tak lagi menjalin ikatan denganku."

Ada beberapa teman-teman baik di BBM atau Facebook memosting foto tersebut, pengen sih ikutan biar kekinian tapi masalahnya susah nyari foto yang jelek untuk dibandingkan dengan foto sekarang yang jauh lebih bagus. Kata mamah, aku selalu ganteng dimatanya, mungkin maksudnya ganteng-ganteng seringalau. Padahal nyatanya jauh dari tampan.

Tidak selamanya tren itu selalu baik. Tren ibarat arus hanya ikan mati yang mengikuti arus air. Jadilah ikan salmon yang menantang arus, kemudian ia menjadi komoditas mahal. Jadilah manusia yang melawan arus zaman, zaman yang mengarah kepada ketidakbaikan.
Berani beda itu baik. Ciptakan tren terbaik, misalkan tren One day one post jauh lebih baik dari pada booming remaja nyium ketek.

#TulisanTanpaMicWord #JadiTakBisaMemiringkan #TulisandalamBahasaAsing
#OneDayOnePost
#GerakanKebaikan
posted from Bloggeroid

Monday, April 25, 2016

Jarak Bagian Kelima "Darah"

Jika ada yang belum membaca bagian sebelumnya silakan klik jarak bagian keempat. Jarak adalah cerita bersambung.

Gubuk kumuh dengan pintu yang sudah tak sesuai dengan fungsinya. Maling jenis apapun akan mudah memasuki tapi sudah dipastikan tidak ada benda berharga di dalamnya. Radio butut, yang tak memiliki kemampuan menangkap siaran.Tikar dengan berbagai sobekan menghiasi sudut-sudutnya menambah kesan kumuh

Tikar dan radio butut itulah harta berharga bagi penghuni di dalamnya. Lima orang berdesak-desakan menempati gubuk sempit itu. Dua orang berperan menjadi orangtua, tiga orang lainnya sebagai anak. Gilang, salah satu dari anak tersebut.

Banyak orang mewariskan berbagai hal kepada anak-anaknya, ilmu dan harta paling banyak dijadikan warisan. Beda hal dengan Gilang, ia diharuskan mewarisi kemiskinan. Kakeknya seorang penjaga kuburan, ayahnya kuli bangunan serabutan, Gilang pengamen jalanan. Lengkap sudah menjadi kesatuan yang tak layak dibanggakan.

Matahari sudah di atas kepala. Sepulang kerja kelompok dari rumah Fika. Gilang menuju stasiun Bandung, membawa ukulele di dampingi Jama di sampingnya. Sedangkan Teguh lebih memilih ikut ayahnya berperan sebagai asisten yang memunguti sisa sampah. Mereka bertiga disatukan oleh kemiskinan.

"Jem naik, keretanya udah mau jalan," teriak Gilang setengah marah.

"Sorry,sorry. Tadi gue kebelet lang," hembusan napas menyamarkan permintaan maaf Jama.

Kereta melaju konstan, tak cepat tidak pula terlampau lambat. Sudah Tiga jam Gilang dan Jama berkeliling di setiap gerbong kereta. 50 ribu dikantongi, nominal lumayan cukup membeli beberapa kilogram beras.

Gilang memutuskan untuk pulang, beberapa PR sekolah menantinya. Dua bocah beraut gembira melewati sudut sepi stasiun. Empat orang pria dewasa menegak minuman berkadar alkohol tinggi tepat di depan Gilang dan Jama. Gilang sudah punya firasat tidak mengenakan tetapi Jama tetap teguh ingin melewati mereka. Orang mabuk tidak bisa berbuat apapun, pikir Jama saat itu.

Dua dari empat pria berbadan kekar penuh tato menghampiri Gilang dan Jama. Sedetik kemudian mereka mendekatkan pisau ke sisi perut Jama, dingin ia rasakan dari pisau yang menembus pakaiannya.

"Kadieu keun duit maneh mun henteu ku urang tusuk," Bahasa sunda dilafalkan dengan nada mengancam memiliki makna agar kedua bocah menyerahkan uangnya.

Sontak Gilang melancarkan pukulan lewat tangan kecil, menuju bagian genital pria kekar itu. Preman bertato tampak kesakitan. Pisau tajamnya terjatuh kemudian di pungut jama. Pria bertato lainnya memukul Gilang hingga terpelanting. Jama masih mencoba melawan dengan pisau ditangannya. Pria yang kesakitan telah pulih menghadangnya di depan sedangkan temannya mengawasi di belakang. Dua lainnya mabuk berat hanya berkata "Hajar hajar."

Jama berteriak
"Gilang bangun, lari kau," pria bertato yang berada di depan Jama hendak menghadang Gilang. Secepat kilat Jama menusuk perut pria bertato dengan pisau miliknya. Darah mengalir.

"Jangan berhenti lang, lari," Jama menyusul dengan napas tersedat.

Masalah besar akan menanti mereka.


#TantanganODOP #TulisanSekaliDuduk
posted from Bloggeroid

Friday, April 22, 2016

Hampir Menyerah


"Aku meriang, aku meriang, aku meriang. Merindukan kasih sayang."

Kurang lebih begitulah lagu dangdut yang tak sengaja ku dengar di toko kaset bajakan sebelah tukang fotocopy langganan yang biasa aku kunjungi ketika terpaan tugas kuliah menghujam saraf kepala.

Dua minggu ini waktu 24 jam terasa tak cukup. Amanah-amanah yang ku emban mencapai titik puncaknya. Di MTS (Setingkat SMP) menjadi panitia Ujian akhir sekolah (UAS) sekaligus merangkap pengawas, jika ada pengawas yang berhalangan hadir. Ternyata setiap hari selalu saja ada penjaga ruang yang tak menunjukan wajahnya. Aku terpaksa jadi korban. Setelah pulang badan tidak langsung istirahat, amanah lain menanti untuk dituntaskan. Mengajar di SMK yang kebanyakan siswanya berlatar belakang broken home, butuh tenaga ekstra sekedar mengarahkannya saja.

Biasanya rumah menjadi pelepas lelah, kali ini tidak. Kewajiban meningkatkan kualitas diri hadir di depan mata. Sudah tiga minggu mengikuti sekolah TOEFL berbasis pembelajaran online. Di sana aku diberikan modul setiap minggunya yang berisikan materi dan soal-soal latihan. Tiga hingga empat jam lebih waktu yang dibutuhkan untuk mencerna materi serta mengerjakan latihan soalnya, memang aku tidak berbakat dalam penguasaan bahasa asing namun tetap percaya bahwa bakat bisa dikalahkan oleh kerja keras. Sebenarnya aku pun tidak berbakat menulis tapi seiring dengan usaha mengupayakan diri untuk bisa.

Mengisi tenaga hanya dilakukan 30 menit saja. Setelah menuntaskan amanah di sekolah TOEFL berlanjut membereskan penilaian hasil UAS MTS. Tak kurang puluhan lembar harus diperiksa, menentukan pencapaian siswa dengan berbagai rumusnya. Tak terasa magrib tiba, menunaikan kewajiban sebagai hamba harus segera dilakukan. Setelahnya dilanjut dengan tugas kuliah yang luarbiasa. Membuat serta merancang buku pelajaran bahasa Indonesia dengan jumlah minimal 150 lembar sekaligus mendesain sampul serta layoutnya, tak hanya itu saja. Tugas merancang aplikasi pembelajaran menjadi pelengkap perjuangan yang nikmat

Kepala sudah berat, lelah menyapa meminta badan untuk istirahat saja. Terdapat satu amanah yang belum aku tuntaskan menulis di blog dalam rangka kegiatan one day one post. Biasanya aku menulis dari jam 11- 12 tengah malam lalu segera mempostingnya. Sebenarnya tak niat menulis semalam itu namun apalah daya ketika siang hingga sore hari tak bisa meluangkan waktu untuk menulis. Mengajar dan tugas kuliah saling bertarik-tarikan belum lagi harus belanja untuk konter dan warung kecil-kecilan yang sedang dirintis.

Setidaknya siklus itu sudah dijalani semenjak libur kuliah tidak boleh diperpanjang. Jatah tidurku hanya dua jam, walhasil mata panda menghiasi wajah. Menambah kesan jomblo yang haus perhatian. Iya, harus ku akui diri ini jarang diperhatikan seseorang kecuali mamah yang tak lelah memerintahkan ku tidur. SMS atau telepon tak pernah hinggap di layar 4,5 inci ku ini, jika pun ada hanya sms dari teman kuliah yang menanyakan tugas. Biasa kehidupan jomblo itu pedih.

Ketika menuliskan curhatan ini, kondisi tubuh sedang didera rasa meriang, panas dan dingin menyerang. Nampaknya Allah memerintahkanku untuk sejenak beristirahat.

Sakit sudah menghampiri tapi tugas kuliah belum diakhiri. Sementara esok harus menempuh 40 KM untuk sekedar menginjakan kaki di kampus tercinta. Terkadang sempat ingin mengeluh tapi keluhan menunjukan tanda tak tangguh.

Tersirat untuk berhutang tulisan di komunitas One day one post untuk pertama kalinya, seketika ingat slogan penyemangat di Sekolah TOEFL "Let's break the limit".

Aku tak mau menyerah pada keterbatasan. Masa muda hanya sekali, waktunya memaksimalkan potensi. Ketika roh meninggalkan raga, aku tak mau hanya dikenang sebagai mayat tanpa jejak kebaikan dan karya.

Tulisan ini aku persembahkan untuk sahabat-sahabat tercinta yang tak lagi bersama di gerakan one day one post, Di antaranya: Mba Dessy, mamah kece dari Bekasi yang multitalenta dari memanah hingga menyupir truk ia bisa.
Mba Tety, penulis keren asal Bali, pertahankan nama penanya yang kita buat bersama di grup WA Mba.
Nurjannah, perempuan cantik asal Yogya. Jangan lupakan aku, nanti bertemu di Yogya yah Jannah ?.
Mba Veniy, Penulis aktif asal Pontianak. Kita tetap bersama di sekolah TOEFL Mba.
Fika, Penulis muda berbakat asal Padang. Kamu tetap abadi dalam cerita bersambungku berjudul "Jarak" Serta untuk teman lainnya yang tak bisa aku sebutkan satu per satu. Tetap menulis, semoga bersua ketika kesuksesan sudah tiba.

Semangat penuh cinta untuk sahabat yang masih bertahan digerakan penuh kebaikan, one day one post. Kita bersama hingga tak ada lagi alasan untuk menulis, tapi sejatinya menulis tak butuh alasan selain berbagi kebaikan. Semangat.

Thursday, April 21, 2016

Kenangan Abadi.

Di era kekinian gadget ibarat anggota badan tambahan, sulit sekali untuk dilepaskan. Zaman dahulu kala teknologi diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia. Tidak terbayang bila kita masih menulis melalui media batu, tak ada status galau, online shop atau pria gombal penebar kata maut. Terbayang sukarnya update status di media batu, memahat kepingan kata mengeluarkan ekstra tenaga. Menulis novel pun menjadi pekerjaan mematikan,  menorehkan kata dalam ratusan bongkah batu, novel selesai nyawa melayang.

Penemuan demi penemuan tercipta hingga tibalah masa digital. Menulis tidak lagi menjadi pekerjaan sulit, bongkahan sedimen keras bukan lagi media menggoreskan kata. Tak hanya memudahkan menulis, teknologi hadir menyederhanakan segala hal. File atau data, kosakata biasa. Berbagai bentuk “Kebutuhan pokok” era digital terangkum dalam bentuk file.

Dulu ketika aku SMP, penyimpanan data masih berbentuk disket yang memiliki kapasitas 1,2 Mega Byte cukup untuk menampung ratusan halaman data berbentuk tulisan namun sangat kurang untuk menyimpan koleksi lagu galau kalian, eh lagu galau aku saja 8 Giga Byte loh. Maaf maaf, rasa galau tidak untuk disombongkan. Teknologi melesat cepat, media penyimpanan file sudah menyampai satuan Yotta Byte. 1 YB =  1 juta Giga Byte. 150 juta drama korea akan tertampung dengah mudah.

Di balik kelebihan penyimpanan data luarbiasa, ada celah bahaya mengintai. Terutama jika menyimpan data rahasia bersifat pribadi. Sesungguhnya setiap file/data dalam berbagai gadget  tidak bisa terhapus secara permanen. Menghapus data jika diibaratkan hanya menyobekan judul buku tapi isi bukunya tetap ada tak akan bisa hilang. Pakar teknologi tak kesulitan untuk mengembalikan data yang sudah terhapus, bahkan central intelligence agency (CIA) Amerika untuk menghilangkan file rahasianya dengan cara menghancurkan hardisk lalu membuangnya. Apakah itu menghilangkan file di dalamnya?, tenyata tidak. Seseorang yang ahli dalam bidang teknologi mampu mengembalikan file tersebut secara utuh.

Manusia pun punya penyimpanan file-file kehidupan bernama otak, kisah mantan, keburukan masa lalu tersimpan rapi di dalamnya. Hanya Allah yang mampu menghilangkan file di otak hambanya. Orang amnesia tak kehilangan file, ia hanya lupa menyimpannya karena suatu kejadian. Perlakuan tidak mengenakan terpatri jelas dalam ingatan, tentunya kita tak ingin tersimpan sebagai kenangan buruk dalam “hardisk” setiap orang.


Menjadi kenangan manis dalam file manusia tentu baik namun lebih baik menjadi catatan indah di mega serverNya.

Tuesday, April 19, 2016

Jadilah Tangguh

Seiring bertambahnya usia tak hanya tinggi dan berat badan bertambah tapi beban di kepala ikut mengiringinya. Setiap orang pasti punya beban yang bernama masalah, bohong jika ada yang mengatakan "Aku manusia tanpa masalah" sejatinya hidup tanpa masalah adalah masalah, Nah loh.

Ketika dihadapkan pada masalah, sebagian orang telah siap dengan mode tergagah untuk mengatasinya. Sebagian lagi membuat benteng pertahanan bernama keluhan. Selayaknya benteng, suatu saat akan ditembus dan hancur oleh musuh. Keluhan pun punya sifat sama, tidak bisa memperbaiki keadaan hanya meninggalkan penyesalan kemudian menghancurkan logika maka jadilah mereka gila.

Koruptor adalah orang yang tak bisa menghadapi masalahnya dengan bijak, mencari jalan pintas untuk memeroleh uang bernominal fantastis dengan sekejap. Mereka sudah dibuat gila oleh masalah dalam bentuk uang. Tak ubahnya orang gila di pinggiran jalan yang memakan apapun tanpa merasa jijik. Mereka pun sama memakan uang yang bukan haknya tanpa bersalah bahkan senyuman sempat hadir ketika mereka diamankan KPK.

Berlian dan dan arang tersusun dari unsur yang sama bernama karbon. Tapi kenapa berlian lebih mahal?. Ia mampu bertahan dari masalah bernama suhu dan tekan dahsyat jadilah ia salah satu benda termahal. Beda hal dengan arang, ia menyerah kemudian rapuh dan hancur.

Kehidupan menawarkan dua pilihan, menyerah atau bersikap gagah menghadapi masalah sekalipun menyelesaikannya tak mudah.

Kegiatan one day one post menghadirkan masalah karena harus membuat tulisan setiap hari. Menjelang pekan kedua banyak yang menyerah lalu kalah terhadap masalah. Aku pun hampir angkat tangan namun kembali terpacu dengan semangat luarbiasa teman-teman one day one post. Marilah tetap menulis, berkaca dari sastrawan melegenda. Pramoedya. Ia menghasilkan karya dahsyatnya "Bumi manusia" dalam pengasingan di pulau buru. Jika Pramoedya menyerah pada saat itu, kini ia dikenang hanya sebagai mayat bukan penulis hebat

Jangan mengeluh jadilah tangguh.
posted from Bloggeroid

Monday, April 18, 2016

Jarak Bagian Keempat "Di Antara Rindu"

Sebelum membaca ini terlebih dahulu membaca jarak bagian tiga yuk ? agar tak kehilangan benang merah ceritanya.

Rumah mewah dengan halaman  tertata rapi di depannya menyajikan keindahan tak biasa bagi orang yang pertama kali melihatnya. Tiga bocah kecil menatap kagum bangunan megah bernomor 45. Lima menit sudah mereka terpaku saling menatap satu sama lain, bingung bagaimana caranya masuk. Tiga bebek desa tak tahu cara mengabari Fika bahwa mereka sudah di depan rumahnya. Saat itu handphone masih langka, jika pun ada uang mereka tak akan cukup membelinya. Rumah Fika berbanding terbalik dengan Gilang,  laksana langit dengan kerak bumi terdalam. Kata rumah sungguh tak layak untuk bangunan semi permanen tempat Gilang dan keluarganya melepas penat. Ketika hujan datang gubuk itu bagai kolam renang penuh lumpur, seolah menyempurnakan ketidaknyamanannya. Tidak seperti rumah Fika yang terjaga dengan keamanan berlapis, gubuk Gilang bahkan tak punya kunci, pintu pun tak ada berganti kain yang membebaskan angin masuk sebebas-bebasnya. Di tengah ketidaknyamanan, ada satu hal yang disyukuri, Gilang selalu bisa melihat bintang di balik genteng bocornya.

Teguh naik ke punggung Jama berupaya meraih tombol dengan bulatan merah khas. Teguh dan Jama sedikit lebih berpengalaman dari pada Gilang untuk urusan hal-hal berkategori mewah. Mereka mengupdate pengetahuan melalui sinetron yang disaksikan di pos ronda. Sinetron berlatarkan percintaan remaja, selalu saja menampilkan berbagai kemewahan jauh berbeda dengan keadaan ekonomi sebagian besar penonton setianya. Tombol merah itu sebentar lagi diraih Teguh namun Jama teralihkan fokus oleh sosok gadis kecil di ujung gerbang, ia menghampiri melupakan Teguh yang berada di pungguknya, “Brug” suara yang membuat gadis kecil itu memasang senyum simpul.

“Tega lu Jam, hampir aja tombol itu gue pencet lu malah gerak-gerak nggak jelas,” sembari memegang punggungnya yang masih sakit.

“Lihat tuh di depan,”Senyuman Fika mengalihkan rasa sakit Teguh.

“Fikaaa,”Suara Gilang dan Teguh bersautan mengucapkan kata sama.

“Kalian sedang apa di luar, ayo masuk ke dalam?” gerbangnya pun dibukan Fika.

Tiga serangkai itu  mengangguk bersedia memasuki pelantaran rumah Fika. Keindahan rumahnya tidak hanya nampak di luar tapi ketika masuk pun nuansa mewah makin terasa. Lukisan berlatar pedesaan nampak di dinding kiri serta kanan, hiasan guci berjajar rapi. Beberapa foto keluarga menghiasi  sudut-sudutnya, tapi aneh foto-foto hanya menampilkan Fika dan ibunya tanpa menyertakan ayahnya. Gilang sempat ingin bertanya namun seseorang dengan wajah teduh menghampiri mereka.

“Assalamu’alaikum, ini yah teman-teman di sekolah baru Fika, siapakah namanya?,”

Tiga serangkai menyebutkan nama mereka sembari berkenalan, setelah itu ibu Fika pergi namun beberapa menit kemudian kembali membawa cemilan disertai empat gelasan minuman. Fika menatap sendu ke arah foto yang berukuran besar sejajar dengan home theater gagahnya.

“Bu may memberikan kita tugas untuk mengamati suatu lingkungan sosial, kira-kira tempat apa yah yang cocok ada usul nggak?, ” Gilang mengawali diskusi mengenai tugas Bu May.

“Sebaiknya tempat yang tidak jauh dari sini, kan Bu May juga menyarankan begitu.”

“Padahal yang jauh kan lebih menantang,” Teguh memberi usul dengan suara tak jelas karena makanan berada di mulutnya.

“Aku sih dimanapun setuju aja,” usul Jama sembari mengambil jus jeruk di sampingnya
.
“Bukannya diskusi kalian malah makan terus, bagaimana kalau di Rumah sakit seberang aja?.”

“Aku setuju,” Jama dan teguh mengangguk, masih sibuk dengan makanan di tangannya.

“Bagaimana dengan Fika ?,” Gilang beberapa kali mengulang ucapannya namun Fika masih terfokus melihat sesuatu di depannya.

“Iya,iya aku setuju,”

Gurauan demi gurauan menghiasi ruang tamu mewah itu, suasana tak biasa hadir di hati Fika. Sudah lama sekali tidak pernah merasakan kebahagian dengan simpul tawa di bibirnya. Semenjak satu-satunya pria dalam keluarga pergi entah kemana.

Kerja kelompok mereka menghasilkan sebuah kesimpulan, tugas meliput kegiatan lingkungan sosial sudah ditentukan bertempat di sebuah rumah sakit yang tak jauh dari sekolah mereka. Tiga serangkai itu pulang, melanjutkan kegiatan untuk mencari sepeser uang makan.

Di kamar luasnya, Fika merenung memikirkan sesuatu, kemudian ia membuka jendela menatap setiap bintang-bintang terang. Dari kejauhan ia merasakan rindu kepada seorang pria yang dipanggilnya ayah. Seperti bintang diluar sana kerinduan itu tak mampu ia jangkau. Di tempat lain dengan suasana jauh berbeda, Gilang melihat bintang dari genteng bocornya. Suasana dingin mengantarkan rasa kantuk, ia tertidur bersiap menghadapi hari berat berikutnya.

Friday, April 15, 2016

Sisi Lain Dunia

Assalamu'alaikum pembaca.
Dua minggu ini aku selalu berbagi kisah tentang cinta atau segala hal yang mewarnainya. Pada postingan kali ini akan menceritakan sesuatu yang sedikit berbeda, bosen juga di panggil Raja Baper padahal sih baru putra mahkota, haha abaikan saja. Sebenarnya dalam dunia menulis, aku punya ketertarikan dalam genre komedi dan romantisme cinta. Semoga tulisan di luar kebiasaan ini dapat diterima oleh teman-teman pembaca yang InsyaAllah kece.

Selepas lulus SMA, sempat bekerja proyek di bagian instalasi listrik. Nggak nyambung sih lulusan SMA kerja di lahan anak-anak SMK tapi yang namanya butuh uang semua bisa terjadi. Di sana aku bekerja bareng sepupu yang umurnya terpaut 10 tahun, kurang lebih aku berperan seperti asistennya.

Saat itu tempatku bekerja lumayan jauh sekitar 45-50 KM atau bisa di tempuh dengan waktu 1,5 - 2 Jam perjalanan. Lokasinya perbatasan Purwakarta dengan Cikampek, sebuah pabrik Garmen. Pekerjaan yang dilakukan di luar normal terutama dalam hal jam kerja, berangkat pukul 3 sore dan selesai pukul 11 malam. Hari pertama bekerja dilalui dengan cukup sukses, tugasku di sana hanya memeriksa instalasi listrik apakah sudah sesuai atau belum. Sama halnya seperti pabrik garmen kebanyakan, pabriknya luas untuk tim yang beranggota 20 orang. Sempat merasakan takut ketika meliwati bagian ujung sisi pabrik, takut tiba-tiba muncul sesosok bayangan. Benar saja sesosok bayangan muncul menepuki pundakku.

"Lang, Aa pulang duluan yah? bisakan kamu pulang sendirian," sepupuku menyapa, aku yang masih terkaget-kaget tanpa sadar berkata "Iya".

Alamaaak, keputusan yang ku ambil nampaknya salah. Baru pertama kali ke sini plus disuruh pulang sendirian dalam waktu yang tidak bersahabat. Tak apalah aku harus berani jadi pria tangguh anti ngeluh.

Lingkaran dengan 3 jarum sudah menunjukan pukul 12 malam kurang beberapa menit. Aku yang buta arah berusaha mengingat jalan pulang, tak lucu rasanya jika harus tersesat di tengah malam.

Kuda besi buatan Jepang telah aku pacu dengan kecepatan sedang karena sembari menghafal jalan pulang. Mengikuti setiap papan petunjuk jalan yang sudah tertutup gelap. Rute pulang sangat gelap sehingga membutuhkan keahlian mengemudi tingkat mahir. Jalan berkelok dengan cahaya minim aku lalui, sempat terbersit rasa takut akan begal yang sedang marak.

Tak terasa perjalanan pulang menemukan titik tengahnya, sekarang motorku melaju di jalanan Gunung hejo, menurut mitos yang berkembang wilayah itu tempat orang-orang meminta kekayaan lewat pesugihan, sungguh cara tak logis menurut benakku saat itu. 

Di depan jembatan motor ku jalankan pelan karena melihat sosok tak biasa dengan pakaian serba putih, pikiranku berusaha positif mungkin seseorang yang sedang menunggu kendaraan untuk pulang. Motorku semakin mendekati sosok itu, ia menunduk dan seketika melayang menuju ke atas jembatan. Sontak saja aku kaget tak menduga yang baru saja  dilihat, memang sebelumnya pernah melihat hal-hal tak biasa tapi tak sejelas itu. Beberapa detik berusaha menenangkan diri sembari melihat ke atas jembatan, sosok wanita berpakaian serba putih itu tetap ada malah dengan santainya duduk di pinggiran pegangan jembatan. Gas motor ku tarik, logika berusaha mencerna bahwa itu bukan manusia. Jantung berdegup amat kencang motor dipacu ke dalam mode kecepatan maksimal, takut sosok itu berada di jok belakang motorku. 35 menit berselang aku sampai ke rumah dengan perasaan tak menentu. Segera mengambil wudhu kemudian menarik selimut tanpa menghiraukan rasa lapar.

Esoknya aku tetap bekerja hingga proyek perbaikan instalasi itu selesai, beberapa kali sempat melihat sosok itu kembali namun tak ku hiraukan. Toh sosok itu hanya Jin yang berusaha menakuti manusia agar takut kepada selain Allah.

#Tulisan ini dibuat dalam tempo singkat jadi maaf jika di luar kaidah dan banyak typo bertebaran

posted from Bloggeroid

Thursday, April 14, 2016

Kirai

Deretan kursi berjajar rapi menemani pejuang ilmu yang sedang mencari pengetahuan baru. Satu jam sudah pembelajaran berlangsung, tak kurang ribuan kata terlontar menceritakan kisah Siti Nurbaya dari seorang dosen cantik nan berwibawa bernama Ika Mustika. Sebagian besar mahasiswa memerhatikan setiap kata dengan saksama, sebagian lagi berkelana dalam dunia khayalnya. Gilang adalah salah satunya, sesuatu masalah sedang menggangu pikirannya.  Bayangan akan masa lalu menembus batas ruang dan waktu. Sekatan tembok tebal di kampusnya tak mampu menghentikan goresan kenangan yang sedang ia pikirkan.

Tiga tahun sudah Bandung menjadi tempat rantaunya. Tanah Pasundan laksana Surga di sisi lain dunia, menawarkan segala bentuk kenikmatan dari makanan hingga pendidikan. Seharusnya tak ada alasan untuk berkata tidak nyaman namun tiga bulan lalu alasan itu hadir. Gilang resah raganya ingin meninggalkan “Surga” menjemput seseorang yang selalu ahli sebagai penghilang sepi.

18 tahun bukan waktu yang singkat untuk memahat kenangan. Tempatnya lahir, Padang menggoreskan banyak sejarah, tak hanya melahirkan Hamka, sang maestro sastra dengan karya melegenda. Kota rendang menghadirkan kisah cinta khas remaja. Terpisah jarak sejauh 1.470,6 KM menciptakan kata yaitu rindu. Enam bulan lalu surat tak biasa datang menghampiri Gilang. Zaman boleh saja maju tapi untuk urusan cinta ia lebih suka hal-hal peninggalan masa lalu, merawat rindu melalui surat cinta dengan seseorang yang jauh di mata. Ia tak suka kepraktisan media sosial dalam mengumbar kerinduan.

Surat dengan nama pengirim Kirai sudah dipegangya, sedetik kemudian ia tersenyum, lima menit kemudian kelopak mata mengeluarkan titik sedihnya. Kirai, sosok perempuan yang sangat ia kenal. Tak hanya kenal sebagian hatinya ia titipkan.

Lamunan masih menghanyutkan pikiran. Kisah Siti Nurbaya yang diceritakan Bu Ika tak Gilang dengarkan, ia sudah tahu cerita sastra itu yang telah menjelma menjadi kisah Kirai dan dirinya. Surat yang menceritakan perjodohan Kirai dengan seseorang dari tanah Jawa masih dipegangnya. Keresahan hati ia simpan rapat-rapat tak ada orang yang tahu kecuali dirinya dan Tuhan. Tiga hari lagi Kirainya akan dimiliki orang lain. 

Tuhan menghadirkan banyak masalah untuk menguji ketakwaan hambanya, ujian terberat bagi Gilang yang berada di dua persimpangan. Menjemput cintanya atau melarikan diri melupakan cinta yang sudah bertahun-tahun dijalani. Satu pilihan sudah Gilang tentukan, meminta izin kepada Bu Ika untuk menjemput Siti Nurbayanya.

Perjalanan Bandung-Padang kali ini terasa panjang. Burung besi yang ia tumpangi menghadirkan pemandangan indah, mata ia palingkan ke jendela melihat gumpalan awan yang seolah melukiskan wajah Kirai. Gilang tak menghiraukan seseorang di sampingnya yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Suara sopan seorang pria memulai percakapan.

“Mas, sejak tadi melihat jendela. Ada seseorang yang dirindu yah?,” Gilang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Perkenalkan Nama saya Rais, saya sama seperti Mas merindukan seseorang juga,” Rais mencoba mengakrabkan diri sembari mengulurkan tangan.
“Nama saya Gilang,” jawaban singkat selalu terlontar dari mulut Gilang, pikirannya sudah tak ada di pesawat, melayang jauh ke sudut lain kota Padang berharap Kirai menolak keinginan orangtuanya.

Burung besi akhirnya mendarat, Rais berpamitan dibalas oleh anggukan. Hati Gilang sudah tak jelas bentuknya. Ia ingin segera menemui Kirai untuk menanyakan kelanjutan kisah cinta mereka.
Undangan bermotif merah menyambut kedatangan Gilang di rumahnya, entah sudah seperti apa bentuk hatinya. Lebih dari remuk jika menatap wajahnya, esok kirai akan bersanding dengan seseorang. Kesedihan harus segera Gilang hilangkan berganti keikhlasan untuk menerima kenyataan.

Di persimpangan jalan rumah Kirai, janur kuning berdiri tegak nan gagah. Pernikahan mewah dan bersejarah akan dilangsungkan. Langkah pelan disertai kesabaran dalam setiap jejaknya menuju panggung keikhlasan tempat Kirai bersanding dengan suaminya.  Hanya menundukan wajah yang Gilang bisa lakukan, berharap pemandangan di depan mata sekedar ilusi saja. Ini semua nyata. Seseorang yang menjadi suami Kirai, sehari lalu tepat berada di sampingnya dalam pesawat menuju Padang. Rais dan Kirai menjadi pasangan halal yang harus Gilang pandang.

Wednesday, April 13, 2016

AKU DAN PEREMPUAN BERMATA BIRU

Ini tentang aku yang tak lelah menjadi pengagum rahasiamu
Di balik kaca kusam pandangan terarah tajam 
Menemukan titik fokus dari retina perempuan bermata biru

Muka sayu dengan tatapan malu-malu
masih kupandangi lewat jendela di samping pintu

Dari kaca kusam pikiran ku menerawang masa depan
Andai bisa bersanding diantara aku, kamu dan penghulu
Rasa bahagia tak lagi jadi impian semata
Sayangnya cinta hanya tumbuh 3 hari meski benihnya ku jaga selalu di hati.

 Kau begitu tega memangkas benih-benih cinta,
 Di saat ia mulai tumbuh menjadi bunga cantik

Bunga beragam rupa dari putih hingga jingga
Kini itu semua tak lagi ada
Berganti dengan muara luka bernama kesedihan

Selain matamu yang tak berwarna biru
Cintamu juga Palsu
Namun tiada rasa benci yang hadir untuknya 
meski luka- luka yang tertinggal cukup dalam

Setidaknya bukan kematian yang memisahkan kita tapi pendirian yang berubah haluan mencari pria idaman selain aku

Diujung penantian, perempuan dengan softlens berwarna biru
Dengan seluruh luka yang kau beri, tiada benci terhadapmu

Tuesday, April 12, 2016

Perpisahan

Tuhan menciptakan segala hal berpasang-pasangan meskipun ada beberapa  yang belum memiliki pasangan, pengelola tunggal blog ini pun belum memiliki belahan jiwa loh barangkali minat. Pernyataan tersebut dapat diabaikan. Pertemuan memiliki teman sejati yaitu perpisahan. Jika pertemuan memberikan hiasan baru bagi kehidupan, perpisahan memiliki sisi yang bertolak belakang. Aku tak pernah suka dengan kata “Selamat tinggal” karena darinya kesedihan lahir.
Selama 20 tahun lebih hidup di dunia, beberapa perpisahan yang Tuhan takdirkan cukup menyesakan dada. Terkadang air dari kelopak mata menjadi pelengkap kata pisah. Tiga  perpisahan paling menguatkan sekaligus menyakitkan yang telah dan akan aku alami terangkum dalam tulisan ini.

Perpisahan pertama terjadi ketika mamah melepaskan gelar perempuan tercantik di keluargaku. Empat tahun lalu, adik pertamaku lahir ke dunia dengan berat tak lebih dari 2 Kg. Aku terkesima melihat kandidat yang akan menggeserkan gelar perempuan paling kece versi keluargaku. Goresan keindahan Tuhan sudah tampak di wajahnya, sudut-sudut kecantikan terpancar dari parasnya. Ayah menangis haru menyaksikan bidadari kecil memberikan tangis pertamanya, sudah 17 tahun ayah mengharapkan anak perempuan namun yang lahir selalu pria yang InsyaAllah tampan. Keceriaan hanya berlangsung sehari, bidadari kecil dipanggil penciptanya. Ayah menangis tanpa air mata terlampau sedih yang ia rasa. Mamah nampak tegar menghadapi kejadian menyedihkan, sudah terlatih letih untuk mengeluarkan kesedihan. Aku dan kedua adikku tak tahu apa yang harus dilakukan, lupa lagi caranya menangis karena kebahagiaan dan kesedihan terlalu berdekatan. Diri ini percaya bidadari kecil sedang bahagia di pangkuan sang pencipta, ia menanti orangtua dan ketiga kakaknya di Surga.

Perpisahan kedua terjadi setahun lalu, di saat perempuan yang ku cinta memutuskan untuk tak lagi bersama. Awalnya kesedihan sempat hinggap cukup lama seiring berjalannya jarum jam rasa tak mengenakan menguap begitu saja. Tuhan sayang kepadaku, tak mengijinkan hambanya untuk berhubungan dalam ikatan yang tak dihalalkan. Memutuskan rantai ketidakbaikan melalui tragedi perpisahan. Akhirnya aku menyandang status tanpa pasangan, hingga kini berusaha memantaskan diri. Mendekatkan hati kepada sang pemilik cinta agar dipantaskan mencintai salah satu hamba terbaiknya. Perpisahan yang menjadi titik tolak kebaikan.

Perpisahan ketiga belum terjadi tapi siap mengintai kapan pun. Tak memandang tua atau muda, tak melihat kaya atau miskin. Perpisahan yang sudah ditakdirkan jauh sebelum adanya kehidupan. Malaikat diutus menjadi perantara pemisah roh dengan dunia, perpisahan itu disebut kematian.  Keelokan rupa yang sudah dirawat dengan uang ratusan juta harus ditinggalkan. Pasangan hidup laksana bidadari tak bisa dibawa mati. Segala bentuk kebahagiaan wajib dilepaskan hanya amal kebaikan bekal sejati pengganti sepi. Perpisahan maha dahsyat, setiap makhluk hidup akan mengalaminya. Tak tahu kapan dengan kondisi apa, nyawa meninggalkan raga. Semoga hadir di kala ketakwaan berada di puncak ketaatan.


Kematian adalah perpisahan paling pasti meski tak pernah tahu kapan dan di mana ia menghampiri.

Monday, April 11, 2016

Jarak Bagian Ketiga “Satu Angsa dan Tiga Bebek”

Hai, kawan. Kali ini aku akan bercerita tentang bebek dan angsa.  Dalam kelanjutan kisah "Jarak", jarak adalah cerita bersambung jadi mohon dibaca jarak bagian 2. Tinggal klik yah bagi yang belum membacanya. Selamat menikmati

Lonceng pertanda jam masuk sekolah sudah berbunyi satu jam lalu. Tiga siswa yang teracuhkan dari dunia pendidikan baru saja datang melewatkan kewajiban warga negara untuk mengikuti upacara bendera. Selayaknya kumpulan bebek yang tak mengikuti kelompoknya, mereka terabaikan dari kesatuan. Mencari jalan lain akan sisi kehidupan. Jika teman-teman sebayanya menghabiskan waktu hanya dengan belajar dan bermain, mereka punya kewajiban lain untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Bagi mereka makan adalah hal yang mewah harus ditebus dengan nyawa. Sehari yang lalu sahabatnya harus mengembalikan nyawa kepada Tuhan, tusukan pisau tepat menghujam dada sebagai perlawanan agar rupiah tak direbut gerombolan preman terminal. Jurdi sudah tiada beritanya menghiasi sudut kecil koran lokal dikalahkan oleh pemberitaan artis yang sedang sakit perut.

Tiga bebek yang terpisah dari kelompoknya berusaha kembali namun mereka tertinggal terlalu jauh, tak ada yang mengenali, lebih tepatnya tidak ada yang mau kenal lagi. Seragam putih merah sebagai ciri anak sekolah sudah tak nampak di pinggiran jalan, berpindah ke ruang kelas mempelajari banyak hal tentang keilmuan. Di balik gerbang tiga orang bocah berumur tak lebih dari sepuluh tahun mengenakan baju putih yang tak lagi putih, celana merah yang tak lagi merah sudah pudar berganti warna. Seragam hasil pemberian, entah sudah berapa generasi seragam itu beralih badan.

Tiga bebek berusaha kembali ke kelompoknya setelah berkelana dalam ganasnya hutan bernama kehidupan. Mereka mencoba menjadi bebek patuh dengan perintah pengembala. Pengembala nampak tak senang dengan kehadiran tiga bebek yang sudah seminggu tak mengikuti rombongannya. Rasa kesal sempat nampak namun kerendahan hati Sang Guru mengizinkan mereka masuk tentunya dengan berbagai syarat, sebenarnya Bu Mey sudah tahu bahwa ada kehidupan keras diluar sekolah menghadang mereka.

Tatapan penuh arti terfokus kepada tiga sejoli, sudut mata heran terlihat sepanjang jalan menuju kelas. Pandangan itu tak hilang meskipun sudah memasuki ruangan bertuliskan kelas 4B. Sedikit sekali yang kenal mereka di kelas itu, tepatnya acuh serta tak mau peduli. Kursi paling belakang menjadi tujuan tiga sekawan, kursi yang kesepian karena sudah seminggu ditinggalkan tiga penghuninya. Debu di meja dihilangkan, buku lusuh dikeluarkan.

Bu Mey memulai kembali pelajaran setelah mengajak siswa lain untuk berbagi pengetahuan kepada tiga orang lama tetapi baru kembali bersekolah. Lama dan baru adalah kata membingungkan, tiga tahun sudah 30 siswa bersama menjadi teman lama namun tetap saja tatapan tak bersahabat seolah menjadi hal baru bagi mereka.

“Lang, seru yah kalau kita di sekolah beda banget dengan di jalan ?,” Jama antusias terhadap tatapan siswa lain, sedari tadi tertuju kepada mereka.
“Bedanya apa sih Jemz ?, kadang-kadang omongan kamu nggak jelas,” menyambar pertanyaan  Jama
“Kalian berdua bukannya memperhatikan Bu Mey, kita di sini untuk belajar”

Ketika mengamen di acuhkan, ketika di sekolah mereka di perhatikan, diperhatikan dengan tatapan tak suka namun pada akhirnya kembali terabaikan. tiga bebek liar harus mengejar ketertinggalan pelajaran dalam rombongan yang tak pernah peduli ada atau tidaknya mereka.

“Tugas untuk minggu depan, bentuk kelompok beranggotakan 4 orang. Tugasnya Ibu beritahu setelah kelompoknya terbentuk”

Penolakan demi penolakan menghampiri tiga bebek liar. Bebek normal mana yang mau bergabung dengan spesies terbuang seperti mereka, setidaknya itu anggapan sebagian besar siswa kelas 4B. Hampir saja tiga sejoli menyerah sembari mengusulkan untuk membentuk kelompok beranggotakan tiga orang. Bu May menolak memerintahkan harus ada satu orang lagi agar masuk ke kelompok mereka. Hening sempat terjadi sebelum keheranan menyebar begitu cepat.

Seorang anak perempuan mengangkat tangan sebagai tanda kesediaan bergabung bersama tiga bebek liar. Teman-temanya sempat mengingatkan agar tidak bergabung dengan kelompok itu. Gadis kecil yang baru seminggu teguh untuk bergabung dengan mereka. Tanggapan sinis dari siswa lain lahir terlontar.

“Kamu belum tahu siapa mereka,  mereka berandalan sebagai anak baru jangan sampai kau bergaul dengan kelompok itu.”

Ucapan sinis tak pernah ditanggapi, gadis itu tetap teguh untuk bergabung dengan tiga bebek liar. Ia tahu siapa mereka, dirinya sempat bertemu Gilang dan Jama. Beberapa menit pertemuan itu cukup menjadi alasan bahwa tiga sejoli itu tak seperti yang dibicarakan kebanyakan siswa lain.

“Gilang, Jama, Teguh dan Fika, kalian satu kelompok,” seru Bu Mey sembari menegaskan bahwa jam pelajaran sudah selesai.

Fika, gadis kecil yang meminta dinyanyikan lagu Indonesia raya saat mereka mengamen di kereta, kini resmi bergabung dengan tiga bebek liar. Fika sebenarnya adalah angsa yang melawan kebiasaan untuk bergabung dengan tiga orang di luar habitatnya.
Satu Angsa dan tiga bebek liar bersama membentuk koloni dengan bermacam ketidaksamaan. Perbedaan diantara mereka menjadi bahan pembicaraan. Selalu saja hal-hal tak biasa menjadi buah bibir banyak orang. Menghujat sana-sini, menanggapi perbedaan dengan hujatan. Hakikatnya perbedaan awal dari sebuah keindahan sekalipun kisah memilukan siap dihadapi sebagai ujian dari sebuah kebersamaan tak biasa.

Angsa dan bebek bersama menghadapi kisah memilukan yang sebentar lagi hinggap di pelupuk mata.

Thursday, April 7, 2016

Tak seperti Sangkuriang


Kali ketiga menginjakan kaki di tempat Sangkuriang merasakan sakitnya patah cinta, aku juga merasakan hal yang sama. Luka di dada seolah menjadi personifikasi dari kaldera yang sedang dituju mata.

Tangkuban perahu, menurut cerita rakyat Sunda merupakan bentuk kekecewaan Sangkuriang karena ketidakmampuan mengambulkan permintaan dayang sumbi untuk membuatkannya telaga dan perahu, karena rasa kecewa yang begitu besar Sangkuring menendang perahunya dan membentuk sebuah gunung yang menjadi simbol cinta terlarang. Iya, Dayang sumbi adalah ibu Sangkuriang.
Teringat peristiwa 5 tahun lalu, kekecewaan besar melanda diriku. Satu-satunya wanita yang pernah ku sayang harus pergi ke alam yang berbeda, ibu terkena penyakit jantung dan meninggal bertepatan dengan hari wisudaku. Sekarang aku tinggal dengan ayah, pria yang jarang ku sapa bukan karena kita bermusuhan tetapi rasa canggung untuk bercerita sering kali hinggap di dada.

Tangkuban perahu adalah tempat menumpahkan segala kesedihanku, tempat bercerita kepada Tuhan bahwa aku sebagai hamba sedang merasakan kesakitan yang luarbiasa. Memandangi keindahan kaldera dari setiap sudutnya  seolah menjadi obat akan kesedihan semenjak ibu tiada.
Saat itu adalah pertama kali menginjakan kaki di Tangkuban perahu, tepatnya 4 tahun lalu. Di tempat yang sama dengan ku berdiri sekarang. Aku menemukan cinta pengganti ibu, dia sosok yang ramah, berjilbab dan seorang mahasiswi doktoral jurusan psikologi meskipun umurku terpaut 5 tahun tapi kedewasaannya membuatku merasa nyaman.

**
Pertama kali bertemu dengannya, aku sedang meratapi kesedihan dengan memandangi kaldera.
“Tangkuban perahu, bukti cinta yang tak tersampaikan,“ celotek seorang wanita yang membuyarkan lamunanku.
“ Iya, terkadang cinta harus berakhir dengan cara tak terduga,“ timpalku
“Cinta seperti apa yang membuatmu terluka begitu dalam. ? “
“Cinta seorang ibu yang dipanggil tuhan terlebih dahulu.
“Cinta mampu berenkarnasi, aku doakan semoga engkau mendapatkan cinta pengganti.
“Terimakasih kasih atas sarannya, perkenalkan namaku Gilang.“ sebari mengulurkan tangan
“ Namaku Indah, salam kenal.“

Pertemuan yang singkat tetapi indah, seperti namanya. Aku percaya cinta ibu mampu berenkarnasi dalam diri Indah. Semenjak itu berusaha tidak akan pernah meratapi kehilangan ibu, karena ku selalu percaya cinta yang terdalam mampu tersampaikan lewat doa di setiap malam.
Setelah bertukar nomber handphone, pertemuanku dengannya semakin sering. Getaran cinta semakin terasa nyata. Tak perlu waktu lama untuk menyakinkan hati bahwa aku positif jatuh cinta terhadapnya dan aku pun merasa bahwa ia memiliki getaran yang sama.

Dalam berbagai hal kita memiliki kesamaan, menyukai musik jazz, penggemar cerita Sherlock Holmes dan penyuka segala hidangan mie. hanya satu perbedaan, indah adalah tipe wanita yang sangat dekat dan penurut dengan orangtuanya berbeda 180o dengan diriku. Aku tidak pernah berbagi cerita bahkan untuk sekedar bertegur sapa dengan ayah, mungkin itu yang harus ku ubah. Ayah tidak pernah punya salah hanya aku yang terlalu menutup diri semenjak meninggalnya ibu.

Cinta ku kepada Indah semakin tak tertahan, rasanya ia sosok yang pas untuk melabuhkan hati dari sekian pencarian. Aku mantap untuk melamarnya sekalipun tidak di dampingi ayah karena ia tak tahu sedikit pun tentang hubunganku dengan Indah ditambah ia sedang berada diluar kota mengurus beberapa bisnisnya menjadi pelengkap alasan untuk tidak didampinginya . Rencananya setelah proses lamaran diterima aku akan memberi tahu ayah dan mendiskusikan berbagai persiapan serta tanggal yang pas untuk pernikahanku, semoga rencana ini menjadi awal kedekatan kembali dengannya.

Namun yang direncanakan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, orang tua indah menolakku dengan alasan sudah menjodohkan putrinya dengan seorang pengusaha yang mapan. Ku melirik wajah Indah, ia menunduk pertanda sebuah kesedihan yang mendalam. Aku pun merasakan hal yang sama, kesakitan kedua yang ku alami serasa menusuk tepat di dada. Aku tahu Indah tidak akan mampu menolak keinginan orangtuanya namun disisi lain aku pun ragu apakah sanggup bertahan dengan luka yang begitu dalam.

Ketika berpamitan kepada Indah dan kedua orangtuanya, aku tak sanggup menatap wajahnya, wajah wanita yang ku cinta akan bersanding dengan pria selain aku, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ku pulang dengan hati yang tak berbentuk, hancur hingga kepingan terkecil. Tak tahu kapan akan kembali utuh.

Sesampainya dirumah, kesedihan masih menguasai diri. ku rebahkan badan berharap bisa terlelap tidur dan ketika terbangun kejadian malam ini hanya bagian dari mimpi. handphone berdering pertanda sebuah pesan singkat masuk, ku raih handphone dan ku buka pesan itu. Sebuah nama tertera dan entah kenapa masih meninggalkan sesak di dada, Indah meminta maaf atas ketidakmampuan menyakinkan orang tuanya dan mengabarkan bahwa 3 bulan lagi ia akan menikah, ternyata kejadian semalam tetaplah sebuah kenyataan yang kembali menyesakan. Semenjak kejadian itu, hampir 2 bulan aku tak pernah pulang ke rumah lebih memilih berkelana ke tempat-tempat yang mampu meredakan sakit di dada dan berakhir ke tempat pertama kali aku dan indah bertemu.

***
 Kali kedua menginjakan kaki di Tangkuban perahu. suasananya tetap sama, keriuhan pengunjung dan suasana alam begitu kentara tapi tak mampu meramaikan hatiku yang sedang dirundung duka. Entah sudah beberapa lama aku menatap kaldera yang khas dengan kepulan asapnya, hingga ku tak sadar belasan telepon dan sms masuk. Beberapa teman terdekat menanyakan aku dimana. ayah yang menyuruhku pulang karena ada hal yang ingin dibicarakan dan sms terakhir dari indah :

“Gilang, aku pun merasakan apa yang kau rasakan. Begitu sakit ketika cinta tak bisa disatukan tapi akan semakin sakit jika tak mampu menerima kenyataan. Bukan tanpa usaha untuk menyakinkan orangtua agar mampu menerima dirimu. Orangtuaku terlalu teguh untuk menjodohkanku. Tak mampu rasanya berbuat banyak karena restunya adalah titah yang tak bisa ku tolak. Semoga engkau mendapatkan cinta pengganti selain aku.

Berulang kali ku membaca pesan dari Indah, mencari celah keikhlasan agar mampu menerima keadaan, tapi selalu menemukan jalan buntu karena perasaan selalu saja mengambil peran. Tak terasa air mata kedua jatuh ditempat yang sama. Jika dulu hati ini remuk karena kehilangan sosok ibu, sekarang hati ini kembali tak berbentuk karena kehilangan sosok Indah.

“Gilang, ternyata kau disini,
Suara wanita membuyarkan lamunan, suara yang sangat ku kenal. Perlahan ku tenggokan kepala dan ternyata  wanita itu indah.
“Indah kenapa kamu disini ? “
“Aku mencarimu kemana-mana dan akhirnya menemukanmu disini.
“Ada perlu apa kau mencariku ?, bukankah sudah jelas bahwa kita tidak bisa bersama.
“Kita bisa bersama namun dengan hubungan yang berbeda.
“ Apa maksudmu, indah? “
Mungkin kau akan mengerti bila membaca ini, Indah pergi sebari menyeka air matanya.
Surat undangan pernikahan ungu dengan aksen mewah terjatuh di tanah, kemudian ku baca dengan seksama. Tersirat di kepala rasa penasaran, dengan siapa Indah akan menikah. Perlahan ku baca dan ternyata...
“ Gilang, sedang apa kau disana ? Ayo kita segera pulang sudah mulai sore,“ . Suara Ayah membuyarkan nostalgia singkat tentang cinta terdahulu.
Iya yah, sebentar lagi,
“Ayah dan Ibu menunggu kamu dimobil, jangan terlalu lama. Ibumu sedang hamil tak baik jika kita pulang terlalu malam “

Dari kejauhan ku lihat Ayah pergi menggandeng wanita yang harus ku panggil ibu. Dia cinta pertamaku, Indah.

Masa lalu mengajarkanku bahwa cinta akan pergi dan kembali, sekalipun dalam keadaan yang jelas berbeda. Tangkuban perahu merupakan bukti bahwa ada beberapa cinta yang tak mungkin bersatu , namun tidak harus dijadikan penyesalan tetapi pahami sebagai sebuah pelajaran kehidupan.

Wednesday, April 6, 2016

Tak Sekedar Ujian

Ujian Nasional selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. tak hanya menjadi penyimak, kali ini aku berkesempatan menjadi pelaku yang berperan sebagai pengawas ruangan. Sebenarnya sudah  2 kali diamanahi negara untuk mengawasi peserta UN agar tidak terjadi kebocoran dalam bentuk apapun.

Dulu kala di saat aku masih muda dan lucu, ujian Nasional seperti monster menakutkan yang siap menerkam siapa saja. Dag dig dug jantung berdera di hari pelaksanaan ujian terakhir masa SMA. Perlengkapan perang sudah tersedia, pelajaran pertama bahasa Indonesia. Secara keseluruhan tak ada kendala hingga 15 menit terakhir sebelum tragedi datang. Hampir  semua soal sudah terjawab menyisakan satu  nomor dengan penalaran lebih. Tidak sengaja pensil salah membulati, tangan refleks mengambil penghapus yang nampak berbeda. Gosok gosok gosok, tak di duga noda hitam bukannya hilang malah semakin menyebar ke bagian lain lembar jawaban komputer (LJK). Di gosok dengan kekuatan maksimal kertas LJK akhirnya sobek. Waktu menyisakan 5 menit, rasanya tak mungkin untuk meminta kertas baru. Dengan rasa pasrah bercampur sedih LJK yang robek pada bagian sisinya dikumpulkan ke pengawas. Perasaan tak menentu ingin bergegas pulang untuk mencurahkan isi hati ke mamah. Setibanya di rumah malaikat tanpa sayapku ikut bersedih, sembari memeluk ia berpesan

“Sekalipun Allah menakdirkan anakku belum diberikan kesempatan lulus, Gilang tetap anak terbaik mamah. Sudah jangan terlalu dipikirkan masih ada hari esok untuk memperbaiki”
Kata penyemangat masih ku ingat. Hasilnya UN cukup memuaskan. Robeknya kertas seolah tak berpengaruh tertutupi doa mamah yang luarbiasa.

Beberapa tahun berselang. Kemeja panjang berdasi telah ku kenakan siap menjadi agen kejujuran dalam pelaksanaan UN tahun 2016. Kuda besi ku naiki, segera bergegas menempuh jarak 25 KM menuju lokasi pelaksanaan ujian pamungkas masa putih abu. Sesampainya di lokasi ternyata masih lenggang, beberapa panitia sekolah setempat mempersilakan menuju ruangan pengawas. 20 menit berselang dibagilah name tag sebagai tanda pengenal pengawas hingga proses pembagian selesai aku tak kunjung dipanggil. Namaku belum terdaftar sebagai pengawas, sempat berpikir salah tempat mengawas namun beberapa menit kemudian kepala sekolah menjelaskan ada kesalahan administrasi. Akhirnya, diputuskan tetap menjalankan tugas di sekolah tersebut dengan name tag bertuliskan Nia Kurniasih, sejak kapan namaku berubah menjadi Nia.

20 orang pengawas siap bertugas, masing-masing ruangan diawasi 2 orang berarti akan ada seseorang yang menjadi partner kerjaku. Seseorang gadis muda nan cantik berkisar 22-25 tahun tanpak kebingungan mencari seseorang sembari berbicara

“Disini ada yang bernama Bu Nia, ?” sambil menoleh kanan dan kiri.
“Aku, aku Bu,” mendekati ibu guru muda itu.
“Aa, namanya Bu Nia ?” wajah herannya tak bisa disembunyikan.
“Bukan nama saya Gilang.”
“ Ya sudah Aa Gilang, kita mengawasnya di Ruang 1.”

Entah kenapa selalu terbawa perasaan jika ada seseorang yang memanggil Aa (Panggilan khas Sunda untuk seorang pria, hampir mirip Kang namun lebih syahdu). Ruang 01 berisikan semua pria, satu-satunya perempuan tercantik yaitu Bu Novi, partner kerjaku saat itu. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mengawali sesuatu dengan doa dan motivasi semangat.

“Nak, Manfaat terbaik dari sekolah bukan hanya nilai yang kalian torehkan, tetapi sikap berani jujur yang kalian jalankan. Nilai UN hanya mengantarkanmu memeroleh ijazah, berbeda dengan nilai kejujuran yang mengantarkan menuju tempat bermanfaat. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.”

Siswa nampak bersemangat mengerjakan soal bahasa Indonesia, sementara aku dan Bu Novi asyik menulis administrasi UN yang cukup banyak. Entah kenapa Bu Novi selalu memanggilku Aa, begitupun ketika ia meminta bantuan untuk menyelesaikan administrasi yang lain.

Bu Novi menghampiriku sembari tersenyum seperti biasanya, ia meminta untuk membubuhkan tanda tangan. Sesekali kami mengobrol dan ternyata rumahnya tak jauh dariku. Sulit menemukan perempuan cantik nan ramah seperti dirinya, entah kenapa senyumannya tak mampu aku pandang walau hanya 3 detik. Takut ada getaran berbeda ketika beradu mata. Aku lebih memilih menunduk meski sesekali menoleh wajahnya. Figur perempuan yang ku cari sejauh ini terpampang dari sosok Bu Novi.

Tak terasa waktu 120 menit telah usai. Siswa secara tertib meninggalkan kelas, menyisakan aku dan Bu Novi membereskan lembar jawaban beserta soal untuk diantarkan ke ruang panitia. Di ujung perpisahan sempat menawarkan untuk pulang bersama karena satu arah jalan pulang, sebenarnya hanya berbasa-basi saja. Seketka Bu Novi menjawab dengan pernyataan biasa namun sarat makna.

“Makasih Aa Gilang, tapi sayangnya hari ini aku dijemput suami,” masih diringi senyuman khasnya.

Aku hanya mengangguk setengah shock mendengar kata suami yang terucap dari mulut Bu Novi. Beberapa menit kemudian suaminya datang, Ia berpamitan sembari memegang pinggang kekasih halalnya kemudian melaju dengan motornya. Sungguh romantis, bisa juga tragis bagiku.

Ujian terberat bukan ujian Nasional tetapi ujian kehidupan yang di dalamnya terdapat bahagia, kecewa bahkan airmata, itu semua penguat dada agar siap menghadapi berbagai kemungkinan  dari ujian lain yang menyesakan jiwa.


#Kisah nyata dengan beberapa penyesuaian cerita. Nama tokoh disamarkan.

Tuesday, April 5, 2016

Jarak Bagian 2 "Seseorang Dari Masa Lalu"

Sebelum membaca tulisan ini. Dianjurkan membaca bagian pertamanya dari jarak

Tempat yang tak pernah mengenal sepi akhirnya berhasil  dikunjungi setelah berjibaku dengan kemacetan panjang, fenomena biasa bagi 250 juta lebih penduduk Indonesia. Tak mudah mengelola bangsa dengan peringkat keempat penduduk terbanyak di dunia, perlu kesabaran serta ilmu bijaksana luarbiasa untuk merangkul ribuan suku tanpa mengakibatkan konflik. Beda kepala beda juga pemikiran manusia, jangan sampai saling sikut untuk berebut isi perut.

Pendidikan dan kesehatan, kebutuhan primer manusia. Tercermin dari antrian yang sudah mencapai deret 600, sekalipun waktu baru menyentuh pukul 7 pagi.  Jas putih sudah aku kenakan sedari tadi, kaki bergegas menuju ruangan bertulisan poli psikiatri. Pasien dengan raut wajah istimewa selalu saja aku temui, pandangan kosong tanpa ekspresi seolah menyimpan masalah dengan berat berton-ton.

Tamu pertama menghampiri, seorang gadis kecil berumur 10 tahun dengan jilbab motif bunga yang memesona, sulit untuk menahan diri agar tangan tak mencubit pipinya. Sudah tiga kali ibunya Dewi berkonsultasi tentang “Kelebihan” putrinya yang mengkhwatirkan. Segala kemungkinan dari data yang sudah aku kumpulkan merujuk kepada satu kesimpulan. Dewi terserang penyakit skizofrenia, penyakit psikologis yang menyerang fungsi sistematik dan impuls syaraf otak. Kondisi ini mengakibatkan kegagalan fungsi otak dalam mengolah informasi dari dan ke panca indera, sehingga timbul proyeksi yang tidak seharusnya.

Perkataan menyakitkan sering diterima ibu dari gadis lucu itu. Kebanyakan orang menganggap Dewi gila. Menyendiri di sudut pohon besar seolah berbicara dengan seseorang sembari tertawa, semenit kemudian menangis. Di balik sikap istimewanya tersimpan sesuatu hal yang sulit dimengerti orang lain. Secara kasat mata tak ada yang berbeda dari anak kecil seumurannya, pembeda paling nyata terlihat dari luka di sekitar tangan dan kaki. Ibunya bercerita bahwa Dewi hampir saja memotong jarinya sendiri, jika telat beberapa detik, jari anaknya dipastikan sudah tak utuh.

Entah sudah berapa banyak air mengalir di kelopak mata, seorang ibu muda bernama Vinny. Tak lelah mengikuti kemana pun Dewi pergi untuk memastikan ia terlindung dari ancaman dirinya sendiri. Perasaan menghilangkan logika, Vinny yang berprofesi sebagai dosen sarat akan segala keilmuan sempat menumpulkan jaringan neuron otaknya sehingga ia memutuskan untuk membawa anaknya ke orang pintar agar bisa disembuhkan. Harapan pudar, orang pintar menyerah setelah digigit Dewi dengan sekuat tenaga.

“Pak dokter, tolong sembuhkan Dewi,” diiringi tangisan.
“Saya akan berusaha sekuat tenaga, Dewi anak yang luarbiasa,” sembari melirik Dewi yang sedang asyik berbicara entah dengan siapa.
“Dewi sering sekali berbicara dengan sesuatu yang kasat mata, ketika saya tanya ia sedang mengobrol dengan siapa, tetiba dia menangis. Kejadian itu terjadi berulang-ulang Dok.”
“Bolehkah saya berbicara berdua dengan Dewi, Bu ?” Vinny mengiyakan dengan berjalan keluar meninggalkan aku dan Dewi.

Ku tatap dalam-dalam wajah Dewi, wajah yang nampaknya tak asing bagiku. Ia masih berbicara dengan sesuatu tak terlihat mata. Aku terus mengamati pembicaraan yang sama sekali tak ku mengerti. Tetiba Dewi menyapaku.

“Pak dokter, Pak dokter namanya siapa ?” raut wajahnya seketika berubah ceria.
“Gilang, Gilang Setiawan. Kalau teman Dewi namanya siapa ?”
“Perkenalkan Pak dokter, temanku namanya Fika, asal Padang tapi sudah lama tinggal di Bandung. Katanya dia kenal dengan Pak dokter.”

Sulit rasanya untuk tidak mengenal Fika. Dia memang seseorang yang sangat aku kenal.