Monday, April 25, 2016

Jarak Bagian Kelima "Darah"

Jika ada yang belum membaca bagian sebelumnya silakan klik jarak bagian keempat. Jarak adalah cerita bersambung.

Gubuk kumuh dengan pintu yang sudah tak sesuai dengan fungsinya. Maling jenis apapun akan mudah memasuki tapi sudah dipastikan tidak ada benda berharga di dalamnya. Radio butut, yang tak memiliki kemampuan menangkap siaran.Tikar dengan berbagai sobekan menghiasi sudut-sudutnya menambah kesan kumuh

Tikar dan radio butut itulah harta berharga bagi penghuni di dalamnya. Lima orang berdesak-desakan menempati gubuk sempit itu. Dua orang berperan menjadi orangtua, tiga orang lainnya sebagai anak. Gilang, salah satu dari anak tersebut.

Banyak orang mewariskan berbagai hal kepada anak-anaknya, ilmu dan harta paling banyak dijadikan warisan. Beda hal dengan Gilang, ia diharuskan mewarisi kemiskinan. Kakeknya seorang penjaga kuburan, ayahnya kuli bangunan serabutan, Gilang pengamen jalanan. Lengkap sudah menjadi kesatuan yang tak layak dibanggakan.

Matahari sudah di atas kepala. Sepulang kerja kelompok dari rumah Fika. Gilang menuju stasiun Bandung, membawa ukulele di dampingi Jama di sampingnya. Sedangkan Teguh lebih memilih ikut ayahnya berperan sebagai asisten yang memunguti sisa sampah. Mereka bertiga disatukan oleh kemiskinan.

"Jem naik, keretanya udah mau jalan," teriak Gilang setengah marah.

"Sorry,sorry. Tadi gue kebelet lang," hembusan napas menyamarkan permintaan maaf Jama.

Kereta melaju konstan, tak cepat tidak pula terlampau lambat. Sudah Tiga jam Gilang dan Jama berkeliling di setiap gerbong kereta. 50 ribu dikantongi, nominal lumayan cukup membeli beberapa kilogram beras.

Gilang memutuskan untuk pulang, beberapa PR sekolah menantinya. Dua bocah beraut gembira melewati sudut sepi stasiun. Empat orang pria dewasa menegak minuman berkadar alkohol tinggi tepat di depan Gilang dan Jama. Gilang sudah punya firasat tidak mengenakan tetapi Jama tetap teguh ingin melewati mereka. Orang mabuk tidak bisa berbuat apapun, pikir Jama saat itu.

Dua dari empat pria berbadan kekar penuh tato menghampiri Gilang dan Jama. Sedetik kemudian mereka mendekatkan pisau ke sisi perut Jama, dingin ia rasakan dari pisau yang menembus pakaiannya.

"Kadieu keun duit maneh mun henteu ku urang tusuk," Bahasa sunda dilafalkan dengan nada mengancam memiliki makna agar kedua bocah menyerahkan uangnya.

Sontak Gilang melancarkan pukulan lewat tangan kecil, menuju bagian genital pria kekar itu. Preman bertato tampak kesakitan. Pisau tajamnya terjatuh kemudian di pungut jama. Pria bertato lainnya memukul Gilang hingga terpelanting. Jama masih mencoba melawan dengan pisau ditangannya. Pria yang kesakitan telah pulih menghadangnya di depan sedangkan temannya mengawasi di belakang. Dua lainnya mabuk berat hanya berkata "Hajar hajar."

Jama berteriak
"Gilang bangun, lari kau," pria bertato yang berada di depan Jama hendak menghadang Gilang. Secepat kilat Jama menusuk perut pria bertato dengan pisau miliknya. Darah mengalir.

"Jangan berhenti lang, lari," Jama menyusul dengan napas tersedat.

Masalah besar akan menanti mereka.


#TantanganODOP #TulisanSekaliDuduk
posted from Bloggeroid

Reactions:

11 comments:

Indri Mulyani Bunyamin said...

Wow... keren euy tulisan sekali duduknya... bisaan geuningan...

lisa lestari said...

kereeeen..

Ciani L said...

Hebat bang gilang, tantangan terlewati.

Sasmitha A. Lia said...

Ihh.. sekali duduk tanpa cela.. keren..

Wiwid Nurwidayati said...

Pads hebat2 euy..typo nya cuma 1 Gilang..keren

denik said...

Bahasa sundanya asyiiiikk...diselipkan dalam tulisan jadi kereeenn.

Kholifah Hariyani said...

fiksi sekali duduk... ah, nyerah deh saya... gilang emang keren...

Khikmah Al-Maula said...

Aku penasaran itu bahasa sunda artinya apa ya?
Typonya cuma dikit soal EYD, secara keseluruhan mantap...

Miftahul Rohmah said...

Tulisan duduk aja begini apa lagi bisa edit edit,
Ditunggu kelanjutannya mas gilang, nice bahasa sundanya diperbanyak boleh lah yaa 😀😀

mual limah said...

👍👍👍
*menunggu kelanjutan cerita..

Fika AJ said...

Pengen banget bisa sekali duduk begini.