Thursday, April 21, 2016

Kenangan Abadi.

Di era kekinian gadget ibarat anggota badan tambahan, sulit sekali untuk dilepaskan. Zaman dahulu kala teknologi diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia. Tidak terbayang bila kita masih menulis melalui media batu, tak ada status galau, online shop atau pria gombal penebar kata maut. Terbayang sukarnya update status di media batu, memahat kepingan kata mengeluarkan ekstra tenaga. Menulis novel pun menjadi pekerjaan mematikan,  menorehkan kata dalam ratusan bongkah batu, novel selesai nyawa melayang.

Penemuan demi penemuan tercipta hingga tibalah masa digital. Menulis tidak lagi menjadi pekerjaan sulit, bongkahan sedimen keras bukan lagi media menggoreskan kata. Tak hanya memudahkan menulis, teknologi hadir menyederhanakan segala hal. File atau data, kosakata biasa. Berbagai bentuk “Kebutuhan pokok” era digital terangkum dalam bentuk file.

Dulu ketika aku SMP, penyimpanan data masih berbentuk disket yang memiliki kapasitas 1,2 Mega Byte cukup untuk menampung ratusan halaman data berbentuk tulisan namun sangat kurang untuk menyimpan koleksi lagu galau kalian, eh lagu galau aku saja 8 Giga Byte loh. Maaf maaf, rasa galau tidak untuk disombongkan. Teknologi melesat cepat, media penyimpanan file sudah menyampai satuan Yotta Byte. 1 YB =  1 juta Giga Byte. 150 juta drama korea akan tertampung dengah mudah.

Di balik kelebihan penyimpanan data luarbiasa, ada celah bahaya mengintai. Terutama jika menyimpan data rahasia bersifat pribadi. Sesungguhnya setiap file/data dalam berbagai gadget  tidak bisa terhapus secara permanen. Menghapus data jika diibaratkan hanya menyobekan judul buku tapi isi bukunya tetap ada tak akan bisa hilang. Pakar teknologi tak kesulitan untuk mengembalikan data yang sudah terhapus, bahkan central intelligence agency (CIA) Amerika untuk menghilangkan file rahasianya dengan cara menghancurkan hardisk lalu membuangnya. Apakah itu menghilangkan file di dalamnya?, tenyata tidak. Seseorang yang ahli dalam bidang teknologi mampu mengembalikan file tersebut secara utuh.

Manusia pun punya penyimpanan file-file kehidupan bernama otak, kisah mantan, keburukan masa lalu tersimpan rapi di dalamnya. Hanya Allah yang mampu menghilangkan file di otak hambanya. Orang amnesia tak kehilangan file, ia hanya lupa menyimpannya karena suatu kejadian. Perlakuan tidak mengenakan terpatri jelas dalam ingatan, tentunya kita tak ingin tersimpan sebagai kenangan buruk dalam “hardisk” setiap orang.


Menjadi kenangan manis dalam file manusia tentu baik namun lebih baik menjadi catatan indah di mega serverNya.

Reactions:

15 comments:

Nuraeni Adriati said...

makin keren 👍

lisa lestari said...

Menjadi catatan terindah di mega serverNya..setuju banget

lisa lestari said...

Menjadi catatan terindah di mega serverNya..setuju banget

Sakifah Ismail said...

Wow, jaman dulu ada cerita penulis novel selesai nyawa melayang? 0-(

Ainayya Ayska said...

Keren, yah... hehehe menarik...

Ciani L said...

Baiklah... Sekarang saya merupakan salah satu file di otakmu ya bang, hhaa

denik said...

Wiiihhh...siap-siap mengisi file kehidupan dengan yang baik-baiklah.

Wiwid Nurwidayati said...

Kalimat terakhir penutup tulisan.. Setuju banget

HERU WIDAYANTO said...

Betul ... Mpu Kanwa mati terbunuh setelah menulis kisah Baratayudha yg dianggap menyindir perang saudara di lingkup kerajaannya.

Sasmitha A. Lia said...

Ngakak banget pas bagian menulis novel diatas batu..😅😅😅

Khikmah Al-Maula said...

Wow.... keren loh bang Gilang dan mas Heru

Cicilia Putri Ardila said...

Menjadi kenangan indah :)

Vinny Martina said...

Wah.. mas heru ahli sejarah..

Rahim dani said...

Untung sy belum lahir waktu menulis masih di batu ...
Ternyata bisa mati setelah menulis.. Ha..

suparto parto said...

Apik tenan mas Gilang..