Thursday, April 14, 2016

Kirai

Deretan kursi berjajar rapi menemani pejuang ilmu yang sedang mencari pengetahuan baru. Satu jam sudah pembelajaran berlangsung, tak kurang ribuan kata terlontar menceritakan kisah Siti Nurbaya dari seorang dosen cantik nan berwibawa bernama Ika Mustika. Sebagian besar mahasiswa memerhatikan setiap kata dengan saksama, sebagian lagi berkelana dalam dunia khayalnya. Gilang adalah salah satunya, sesuatu masalah sedang menggangu pikirannya.  Bayangan akan masa lalu menembus batas ruang dan waktu. Sekatan tembok tebal di kampusnya tak mampu menghentikan goresan kenangan yang sedang ia pikirkan.

Tiga tahun sudah Bandung menjadi tempat rantaunya. Tanah Pasundan laksana Surga di sisi lain dunia, menawarkan segala bentuk kenikmatan dari makanan hingga pendidikan. Seharusnya tak ada alasan untuk berkata tidak nyaman namun tiga bulan lalu alasan itu hadir. Gilang resah raganya ingin meninggalkan “Surga” menjemput seseorang yang selalu ahli sebagai penghilang sepi.

18 tahun bukan waktu yang singkat untuk memahat kenangan. Tempatnya lahir, Padang menggoreskan banyak sejarah, tak hanya melahirkan Hamka, sang maestro sastra dengan karya melegenda. Kota rendang menghadirkan kisah cinta khas remaja. Terpisah jarak sejauh 1.470,6 KM menciptakan kata yaitu rindu. Enam bulan lalu surat tak biasa datang menghampiri Gilang. Zaman boleh saja maju tapi untuk urusan cinta ia lebih suka hal-hal peninggalan masa lalu, merawat rindu melalui surat cinta dengan seseorang yang jauh di mata. Ia tak suka kepraktisan media sosial dalam mengumbar kerinduan.

Surat dengan nama pengirim Kirai sudah dipegangya, sedetik kemudian ia tersenyum, lima menit kemudian kelopak mata mengeluarkan titik sedihnya. Kirai, sosok perempuan yang sangat ia kenal. Tak hanya kenal sebagian hatinya ia titipkan.

Lamunan masih menghanyutkan pikiran. Kisah Siti Nurbaya yang diceritakan Bu Ika tak Gilang dengarkan, ia sudah tahu cerita sastra itu yang telah menjelma menjadi kisah Kirai dan dirinya. Surat yang menceritakan perjodohan Kirai dengan seseorang dari tanah Jawa masih dipegangnya. Keresahan hati ia simpan rapat-rapat tak ada orang yang tahu kecuali dirinya dan Tuhan. Tiga hari lagi Kirainya akan dimiliki orang lain. 

Tuhan menghadirkan banyak masalah untuk menguji ketakwaan hambanya, ujian terberat bagi Gilang yang berada di dua persimpangan. Menjemput cintanya atau melarikan diri melupakan cinta yang sudah bertahun-tahun dijalani. Satu pilihan sudah Gilang tentukan, meminta izin kepada Bu Ika untuk menjemput Siti Nurbayanya.

Perjalanan Bandung-Padang kali ini terasa panjang. Burung besi yang ia tumpangi menghadirkan pemandangan indah, mata ia palingkan ke jendela melihat gumpalan awan yang seolah melukiskan wajah Kirai. Gilang tak menghiraukan seseorang di sampingnya yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Suara sopan seorang pria memulai percakapan.

“Mas, sejak tadi melihat jendela. Ada seseorang yang dirindu yah?,” Gilang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Perkenalkan Nama saya Rais, saya sama seperti Mas merindukan seseorang juga,” Rais mencoba mengakrabkan diri sembari mengulurkan tangan.
“Nama saya Gilang,” jawaban singkat selalu terlontar dari mulut Gilang, pikirannya sudah tak ada di pesawat, melayang jauh ke sudut lain kota Padang berharap Kirai menolak keinginan orangtuanya.

Burung besi akhirnya mendarat, Rais berpamitan dibalas oleh anggukan. Hati Gilang sudah tak jelas bentuknya. Ia ingin segera menemui Kirai untuk menanyakan kelanjutan kisah cinta mereka.
Undangan bermotif merah menyambut kedatangan Gilang di rumahnya, entah sudah seperti apa bentuk hatinya. Lebih dari remuk jika menatap wajahnya, esok kirai akan bersanding dengan seseorang. Kesedihan harus segera Gilang hilangkan berganti keikhlasan untuk menerima kenyataan.

Di persimpangan jalan rumah Kirai, janur kuning berdiri tegak nan gagah. Pernikahan mewah dan bersejarah akan dilangsungkan. Langkah pelan disertai kesabaran dalam setiap jejaknya menuju panggung keikhlasan tempat Kirai bersanding dengan suaminya.  Hanya menundukan wajah yang Gilang bisa lakukan, berharap pemandangan di depan mata sekedar ilusi saja. Ini semua nyata. Seseorang yang menjadi suami Kirai, sehari lalu tepat berada di sampingnya dalam pesawat menuju Padang. Rais dan Kirai menjadi pasangan halal yang harus Gilang pandang.

Reactions:

17 comments:

Nabela Atika said...

Itu jaraknya sampai ada koma2 nya ya...:D

(Malas komentar soal cerita. Selalu keren khas bang gilang. Hihihi)

lisa lestari said...

jaraknya dhitung dgn njlelimet, makanya pake koma, hehehe, kereeen pkok e

lisa lestari said...

jaraknya dhitung dgn njlelimet, makanya pake koma, hehehe, kereeen pkok e

denik said...

Kisah Siti Nurbaya yang selalu menghantui setiap pasangan kekasih.

Wiwid Nurwidayati said...

Kisah Gilang selalu membuatku kepo. Kisah nyata kah?

Adiba Damayanti said...

Berhasil membuat sy menghayal

Fika AJ said...

Ending ketebak. :D

Andai dilengkapi dengan sedikit deskripsi tentang Kirai yang mengenakan sunting, pasti lebih keren.

Tapi tetep dan selalu keren kok tulisannya. ^^

Ciani L said...

Ahh bang gilang... Pengen denger cerita yang happy ending dong...

Kebawa sedih ini...hiksss

Rahim dani said...

Versi lain dari Zainuddin dan Hayati...
Lagi2 endingnya sad ... Hmn... Teruslah dgn kegalauanmu bang... Ha...

Dymar Mahafa said...

Awalnya saya pikir 'Kirai' itu ada hubungannya dengan hal-hal yang berbau Jepang. Karena mirip seperti bahasa Jepang. he3x..
Kisahnya sedih. Ini non-fiksi kah?

Indri Mulyani Bunyamin said...

Ahlinya tulisan baperrr... saya mah mending nggak usah datang...

Indri Mulyani Bunyamin said...

Ahlinya tulisan baperrr... saya mah mending nggak usah datang...

Sakifah Ismail said...

Heuu...aa gilang pakar cerita baper :-|

HERU WIDAYANTO said...

Gilang emg jagonya membuat ide yg beginian.

Cicilia Putri Ardila said...

1.405,6
Ini diukur, Lang?

Nychken Gilang said...

Diukur dengan google map hihi

Nychken Gilang said...

Hayooo tebak hehe