Wednesday, April 6, 2016

Tak Sekedar Ujian

Ujian Nasional selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. tak hanya menjadi penyimak, kali ini aku berkesempatan menjadi pelaku yang berperan sebagai pengawas ruangan. Sebenarnya sudah  2 kali diamanahi negara untuk mengawasi peserta UN agar tidak terjadi kebocoran dalam bentuk apapun.

Dulu kala di saat aku masih muda dan lucu, ujian Nasional seperti monster menakutkan yang siap menerkam siapa saja. Dag dig dug jantung berdera di hari pelaksanaan ujian terakhir masa SMA. Perlengkapan perang sudah tersedia, pelajaran pertama bahasa Indonesia. Secara keseluruhan tak ada kendala hingga 15 menit terakhir sebelum tragedi datang. Hampir  semua soal sudah terjawab menyisakan satu  nomor dengan penalaran lebih. Tidak sengaja pensil salah membulati, tangan refleks mengambil penghapus yang nampak berbeda. Gosok gosok gosok, tak di duga noda hitam bukannya hilang malah semakin menyebar ke bagian lain lembar jawaban komputer (LJK). Di gosok dengan kekuatan maksimal kertas LJK akhirnya sobek. Waktu menyisakan 5 menit, rasanya tak mungkin untuk meminta kertas baru. Dengan rasa pasrah bercampur sedih LJK yang robek pada bagian sisinya dikumpulkan ke pengawas. Perasaan tak menentu ingin bergegas pulang untuk mencurahkan isi hati ke mamah. Setibanya di rumah malaikat tanpa sayapku ikut bersedih, sembari memeluk ia berpesan

“Sekalipun Allah menakdirkan anakku belum diberikan kesempatan lulus, Gilang tetap anak terbaik mamah. Sudah jangan terlalu dipikirkan masih ada hari esok untuk memperbaiki”
Kata penyemangat masih ku ingat. Hasilnya UN cukup memuaskan. Robeknya kertas seolah tak berpengaruh tertutupi doa mamah yang luarbiasa.

Beberapa tahun berselang. Kemeja panjang berdasi telah ku kenakan siap menjadi agen kejujuran dalam pelaksanaan UN tahun 2016. Kuda besi ku naiki, segera bergegas menempuh jarak 25 KM menuju lokasi pelaksanaan ujian pamungkas masa putih abu. Sesampainya di lokasi ternyata masih lenggang, beberapa panitia sekolah setempat mempersilakan menuju ruangan pengawas. 20 menit berselang dibagilah name tag sebagai tanda pengenal pengawas hingga proses pembagian selesai aku tak kunjung dipanggil. Namaku belum terdaftar sebagai pengawas, sempat berpikir salah tempat mengawas namun beberapa menit kemudian kepala sekolah menjelaskan ada kesalahan administrasi. Akhirnya, diputuskan tetap menjalankan tugas di sekolah tersebut dengan name tag bertuliskan Nia Kurniasih, sejak kapan namaku berubah menjadi Nia.

20 orang pengawas siap bertugas, masing-masing ruangan diawasi 2 orang berarti akan ada seseorang yang menjadi partner kerjaku. Seseorang gadis muda nan cantik berkisar 22-25 tahun tanpak kebingungan mencari seseorang sembari berbicara

“Disini ada yang bernama Bu Nia, ?” sambil menoleh kanan dan kiri.
“Aku, aku Bu,” mendekati ibu guru muda itu.
“Aa, namanya Bu Nia ?” wajah herannya tak bisa disembunyikan.
“Bukan nama saya Gilang.”
“ Ya sudah Aa Gilang, kita mengawasnya di Ruang 1.”

Entah kenapa selalu terbawa perasaan jika ada seseorang yang memanggil Aa (Panggilan khas Sunda untuk seorang pria, hampir mirip Kang namun lebih syahdu). Ruang 01 berisikan semua pria, satu-satunya perempuan tercantik yaitu Bu Novi, partner kerjaku saat itu. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mengawali sesuatu dengan doa dan motivasi semangat.

“Nak, Manfaat terbaik dari sekolah bukan hanya nilai yang kalian torehkan, tetapi sikap berani jujur yang kalian jalankan. Nilai UN hanya mengantarkanmu memeroleh ijazah, berbeda dengan nilai kejujuran yang mengantarkan menuju tempat bermanfaat. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.”

Siswa nampak bersemangat mengerjakan soal bahasa Indonesia, sementara aku dan Bu Novi asyik menulis administrasi UN yang cukup banyak. Entah kenapa Bu Novi selalu memanggilku Aa, begitupun ketika ia meminta bantuan untuk menyelesaikan administrasi yang lain.

Bu Novi menghampiriku sembari tersenyum seperti biasanya, ia meminta untuk membubuhkan tanda tangan. Sesekali kami mengobrol dan ternyata rumahnya tak jauh dariku. Sulit menemukan perempuan cantik nan ramah seperti dirinya, entah kenapa senyumannya tak mampu aku pandang walau hanya 3 detik. Takut ada getaran berbeda ketika beradu mata. Aku lebih memilih menunduk meski sesekali menoleh wajahnya. Figur perempuan yang ku cari sejauh ini terpampang dari sosok Bu Novi.

Tak terasa waktu 120 menit telah usai. Siswa secara tertib meninggalkan kelas, menyisakan aku dan Bu Novi membereskan lembar jawaban beserta soal untuk diantarkan ke ruang panitia. Di ujung perpisahan sempat menawarkan untuk pulang bersama karena satu arah jalan pulang, sebenarnya hanya berbasa-basi saja. Seketka Bu Novi menjawab dengan pernyataan biasa namun sarat makna.

“Makasih Aa Gilang, tapi sayangnya hari ini aku dijemput suami,” masih diringi senyuman khasnya.

Aku hanya mengangguk setengah shock mendengar kata suami yang terucap dari mulut Bu Novi. Beberapa menit kemudian suaminya datang, Ia berpamitan sembari memegang pinggang kekasih halalnya kemudian melaju dengan motornya. Sungguh romantis, bisa juga tragis bagiku.

Ujian terberat bukan ujian Nasional tetapi ujian kehidupan yang di dalamnya terdapat bahagia, kecewa bahkan airmata, itu semua penguat dada agar siap menghadapi berbagai kemungkinan  dari ujian lain yang menyesakan jiwa.


#Kisah nyata dengan beberapa penyesuaian cerita. Nama tokoh disamarkan.

Reactions:

12 comments:

elviyanti said...

Semoga besok Aa masih bisa berteman baik dgn bu novi, jangan lama2 patah hati, namanya ujian kehidupan..

lisa lestari said...

Bu Nia, sabaar, masih ada yang lain, hehehe, empat hari ganti nama ya, nggak pake bubur merah?

lisa lestari said...

Bu Nia, sabaar, masih ada yang lain, hehehe, empat hari ganti nama ya, nggak pake bubur merah?

HERU WIDAYANTO said...

Udah ... gebet aja Lang
Heheeee

denik said...

Ujian terberat bukan ujian nasional tapi ujiann kehidupan. Weh...mantap!

Wiwid Nurwidayati said...

Hahaha ketawa. Bayangin Gilang jasi Bu nia

Ciani L said...

Berarti harus berteman sama pengawas ujian kehidupan, biar dipasangkan sama bu novi yg lain ;)

syam said...

aa gilang :D :v

sampe ngakak untuk engga sambil guling-guling :v

nur apriliyani said...

Ya Allah Bang Gilang kasihan bgt... hehehehe
Yang sabar Bang... yang tabah itu istri orang. Ngelirik yang belum punya suami saja.

Aira zakirah said...

suka skali sama kalimat trakhir yg digaris miring..
aku jadi mikir bhwa salah satu tolak ukur penulis yg baik adalah yg bisa menuliskan sebuah peristiwa (entah fiksi atw nonfiksi) komplit dengan pembelajar ttng kehidupan yg bisa kita petik, dan itu ada dalam tulisan ini..
likeee^^
wahh,,makinn kesini tulisannya makin kece aja nih Aa gilang (jangan baper yaa), hehe

Nabela Atika said...

apa jadinya klo pemeran bu novi baca tulisan ini a? hehe

Lukisan Tinta said...

Ehm, Aa gilang atau bu Nia nih, ahihii

Bu nia keren tulisannya... ngalir gitu aja...