Tuesday, May 31, 2016

Kita Adalah Pemenang

Entah mengapa aku tidak dikaruniai kemampuan yang hebat dalam hal berhitung. Sejak SD matematika menjadi masalah utama dalam belajar. Berlanjut hingga SMP namun mencapai puncak saat SMA. Masa putih abu memang menyisakan kenangan paling berkesan tapi sedikit meninggalkan trauma ketika berurusan dengan pelajaran matematika.

Ketika SMA, aku mengambil jurusan IPA yang sarat dengan hitungan nol koma. Sebenarnya masuk jurusan IPA karena desakan dari guru-guru bukan keinginan pribadi. Sebagai siswa penurut, baik hati dan rajin menabung di rumah makan Padang akhirnya aku menurut saja. Tak mau durhaka kemudian dikutuk menjadi setampan Afgan. Eh kalau dikutuk tampan seperti Afgan aku mau.

Bagiku masuk jurusan IPA memiliki kengerian tersendiri seperti masuk hutan belantara yang dipenuhi binatang buas. Satu kata yang tersirat, menakutkan. Setelah dijalani ternyata tak semenakutkan seperti yang dikira. Sekalipun matematika tetap menyiksa raga. Beberapa kali aku terpaksa harus mengulang pelajaran. Meminta guru untuk menjelaskan kembali. Beberapa teman sempat protes. Ketika mengulang materi yang sudah mereka pahami. Beberapa dari mereka berkata sinis.

"Lang, materi sederhana gitu aja kamu ngga ngerti. Otak kamu banyak virusnya kali.

Ingin rasakan menyumbat mulut mereka namun apadaya memang benar adanya perkataan mereka. Satu hal yang salah. Otakku bebas virus setidaknya belum mengenal virus cinta. Cacian dari teman sekelas membuatku semakin terpacu. Seharian berkutat dengan soal berisikan angka-angka. Sempat ingin muntah saking pusingnya. Aku mencoba belajar ekstra untuk mempersiapan ulangan harian. Ternyata setelah belajar ekstra nilaiku mengalami perubahan. Angka 50 menghiasi kertas selembar kepunyaanku. Kenaikan yang lumayan karena biasanya aku hanya mendapatkan nilai telur yang tak pernah pecah.

Tuhan mendesain makhluknya dengan ribuan kelebihan. Tak mengapa aku paling lemah di matematika tapi dalam pelajaran biologi bolehlah merasa berbangga diri. Membaca buku pelajaran biologi ibarat membaca komik bagiku. Menghadirkan keasyikan tersendiri. Otomatis dalam pelajaran itu nilaiku selalu sempurna. Bahkan sempat menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade biologi tingkat kabupaten. Bagi sebagian orang hal itu terkesan biasa saja. Bagiku berbeda menjadi perwakilan olimpiade sekolah memupuk rasa percaya diri. Memperbaiki citraku di mata guru. Entah kenapa aku terkenal dengan julukan raja remedial matematika. Dengan keikut sertaan sebagai peserta dalam ajang olimpiade sedikit mengubah citra raja remedial.

Layaknya seorang pria yang sedang menyukai gadis kece. Aku tak henti bercengkrama dengan materi biologi. Bab favoritku tentang reproduksi. Entah mengapa tetiba sangat senang bab itu. Serasa sedang memahami kekuasaan Tuhan. Setetes sperma mampu tumbuh menjadi manusia. Sungguh keajaiban luarbiasa.

Terngiang sekali pesan Bu Siti (Guru biologi) saat menerangkan bab reproduksi.

"Apakah kalian tahu anak-anak. Sesungguhnya setiap manusia adalah pemenang dari sebuah kompetisi maha dashyat."

Seketika aku mengacungkan jari pertanda ingin mengajukan pertanyaan.

"Juara bagaimana Bu ? Lomba balap karung aja aku kalah," Ujarku memecah keheningan kelas.

"Gilang. Hanya orang terpilih yang bisa lahir ke dunia. Dalam rahim 100 - 700 juta sperma berlomba membuahi sang telur. Mereka saling sikut, saling makan serta harus melawan prajurit anti bodi yang kuat untuk bisa membuahi sang telur. Dari 700 juta sperma hanya tersisa satu yang berhak menjadi bakal manusia. Perjuangan belum selesai. Ia harus berkembang hingga 9 bulan untuk utuh menjadi manusia. Bukankah kalian adalah pemenang yang mampu mengalahkan 700 juta sperma lainnya."

"Ternyata aku hebat sekali Bu . mampu menjadi juara dari 700 juta peserta lainnya."

"Benar sekali pernyataan Gilang. Kalian jangan pernah merasa rendah diri atau bahkan putus asa. Sejatinya yang lahir kedunia adalah pemenang. Hanya saja terkadang kita meremehkan diri sendiri. Berkata tidak bisa sebelum mencoba."

Tamparan ekstra keras menghujam telak. Sering kali saat pelajaran matematika aku menyerah sebelum berusaha. Kata tidak bisa menjejali kepala. Memang benar manusia terlahir sebagai pemenang maka pantang mati sebagai pecundang. Selagi bisa kita berusaha Mengubah ketidakmampuan menjadi celah untuk melakukan perbaikan.

posted from Bloggeroid

Monday, May 30, 2016

Goku dan Islam.

Zaman dahulu kala. Ketika aku masih SD. Tentu masih imut serta polos belum diracuni doktrin-doktrin duniawi. Saat itu kegiatan favoritku hanya tiga. Mengaji, main mobil tamiya, dan nonton dragon ball.

Mengaji tentu kegiatan wajib jika tidak mamah akan mengomel 20 menit tanpa jeda mirip penyanyi yang sedang ngeraff. Sungguh luarbiasa malaikatku di dunia ini.

Aku pernah bolos ngaji gara-gara keasyikan main mobil tamiya di irigasi air yang dijadikan trek balap mobil tamiya dadakan. Saking asyik tak terasa matahari sudah kelelahan lalu menunjukan sisi gelapnya. Bersamaan dengan itu datanglah mamah. Aku bersiap memasang muka memelas. Tahu bahwa mamah akan segera ngeraff. Kenyataannya tidak demikian. Ia datang kemudian memelukku begitu erat.

"Gilang, kamu kemana aja. Mamah cari di mana-mana ngga ada. Zaman sekarang banyak banget kasus penculikan. Mamah khawatir kamu di culik,"

Sedih bercampur lucu menyusup di dada. Ingin rasanya berkata

"Mana ada yang mau nyulik aku Mah. Aku makanannya banyak. Bisa tekor nanti penculiknya," ku urungkan untuk berkata demikian menghargai mamah yang seharian mencariku.

Semenjak kejadian itu. Aku jarang bermain mobil tamiya. Pensiun dini menjadi pembalap itu menyesakan. Apadaya keinginan orangtua bertentangan dengan jalan karierku. Okey kalimat ini lebay. Aktivitas bermain mobil-mobilan sudah diblack list terpaksa mencari kegiatan lain. Tertujulah mata pada acara kartun ngehits banget pada zamannya. Dragon ball.

Dragon ball menceritakan seorang bernama Goku. Seorang Saiya (Manusia super) yang diperintahkan untuk menghancurkan Bumi. Suku Saiya entah kenapa paling suka bertarung dan menguasai planet-planet di berbagai galaksi termasuk Bumi. Suku Saiya tinggal di planet Bezita. Saat itu Goku yang masih kecil ditugaskan menghancurkan Bumi. Mereka menilai makhluk Bumi kekuatannya lemah hanya dengan mengutus bayi, planet itu mampu dihancurkan.

Singkat cerita diberangkatlah Goku yang masih bayi dengan pesawat kapsul autopilot menuju Bumi. Sesampainya di Bumi Goku bayi bertemu dengan pria bernama Son Gohan, yang kelak akan menjadi kakek angkatnya. Sikap Goku sangat buruk. Semua benda dihancurkan. Sang kakek menghadapi dengan sabar. Hingga suatu waktu Goku terjatuh dari jurang. Kepalanya terbentuk keras. Sejak itu berubahlah sikapnya menjadi baik. Bagian ini memang diluar logika. Kalau terbukti benturan bisa mengubah sikap seseorang maka mari benturkan saja semua koruptor di negeri ini.

Sikap Goku yang berubah total membuat kakeknya senang. Ia mengajarkan berbagai jenis beladiri kepada cucu angkatnya. Dasarnya Goku manusia super, ia mampu menyerap segala latihan dengan cepat. Tak ada lagi yang bisa kakeknya ajarkan kepada Goku. Goku tumbuh menjadi anak perkasa yang baik hati hingga tibalah bulan purnama. Tanpa diduga Goku berubah menjadi monyet raksasa akibat efek sinar bulan purnama. Kekuatannya meningkat berkali-kali lipat karena kekuatan dashyat ia hilang kesadaran lalu membunuh kakeknya.

Bulan purnama sudah kehilangan sinarnya. Goku kembali ke wujud semula. Ia kaget melihat kakeknya meninggal. Sepeninggalan kakeknya ia berkelana ke berbagai tempat hingga bertemu Bulma. Seorang ilmuan muda yang mencari tujuh bola naga. Konon jika ketujuh bola naga itu dikumpulkan semua keinginan yang diajukan akan dikabulkan Shenlong. Goku tertarik dimulailah perjalanannya.

Selama perjalanannya ribuan musuh ia hadapi ada kalanya memang mudah, ada saatnya ia kalah. Namun Goku tak pernah menyerah. Ketika ia dikalahkan musuhnya. Goku berlatih ribuan kali lebih keras. Sehingga mampu mengalahkan musuhnya. Musuh terkuat selalu berdatangan dan sekuat tenaga Goku melawannya dengan alasan ingin melindungi Bumi.

Suatu saat tibalah kakaknya dari planet Bezita. Radith mencari Goku untuk menagih tugas sang adik. Kenapa ia tak segera menghancurkan Bumi. Goku menolak menghancurkan Bumi. Ia lebih memilih melawan kakaknya Radith. Goku berjibaku hingga hampir kalah. Kerja keras tak pernah menipu hasil karena semangatnya melindungi Bumi. Goku berhasilkan mengalahkan Radith.

Tak terbayang seseorang yang diutus menghancurkan Bumi malah bersikap sebaliknya membela dengan segala tumpah darahnya. Zaman rasul. Sikap itu pernah dimiliki Umar bin Khattab. Sebelum masuk Islam. Ia sangat benci rasul dan Islam. Allah berkata lain karena suatu kejadian Umar disentuh hatinya. Berubah drastislah sikapnya. Yang tadinya pembenci menjadi tameng terkuat Islam.

Jika Allah berkehendak sekeras apapun hati manusia mampu diluluhkan. Selalu berdoa mengharapkan hati kita yang terkadang sekeras batu selalu mengacuhkan setiap perintahnya.  Segera mendapatkan kasihNya. Sesungguhnya Allah maha pembolak-balik hati manusia. Semoga kita mampu meneladani segala kebaikan dari berbagai cerita yang Allah sajikan.

posted from Bloggeroid

Sunday, May 29, 2016

Jatuh Cinta Berulang Kali

Hayo siapa di sini yang belum pernah jatuh cinta? Aku sih sering jatuh cinta malah berulang kali. Ssst bukan hanya jatuh cinta dalam konteks menyukai lawan jenis. Nanti akan ada postingan khusus membahas cinta yang itu tuh. Cinta yang membuat dada berdebar kencang akan dibahas secara tajam setajam silet. Duh ketahuan aku suka nonton gosip.

Mamahku pernah bilang bahwa jatuh cinta mampu meniadakan logika. Manusia yang sedang dilanda cinta bisa berpikir di luar akal sehatnya. Contoh sederhana, ketika aku berangkat sekolah beberapa barang lupa dibawa termasuk handphone yang tergeletak manis di samping meja belajar. Sesampainya di angkot, aku baru sadar HPku tertinggal. Sebenarnya bukan perkara penting kalau HP tertinggal karena tak pernah ada yang menghubungiku. Kalaupun ada nggak akan aku balas. Alasannya klasik tidak ada pulsa. Begitulah kegetiran hidup masa SMA.

Di tengah lamunan. Tetiba aku melihat seorang ibu berlari mengejar angkot yang perlahan mulai melaju meninggalkan masa lalu, eh maksudnya meninggalkan tempat awalnya berada. Ibu itu semakin mendekat. Dalam hati berpikir

"Ngapain sih ibu-ibu itu ngga punya kerjaan ngejar angkot yang sudah melaju. Sebenarnya kan banyak angkot lain, ngetem cantik di dekatnya."

Lamun itu sirna berganti rasa haru menyeruak. Semakin dekat ibu itu dengan angkot semakin tahu siapa dia sebenarnya dia.

"Mamaaaah, ngapain mamah lari-lari," seruku kaget melihat mamah bermandikan keringkat.

"Ini Gilang Hp kamu ketinggalan," Sembari tersenyum mamah menyodorkan HPku.

Ingin rasanya memeluk mamah jika aku tak segera sadar bahwa di sekitarku banyak teman-teman sekolah. Mereka bertukar bisikan mungkin membicarakan aku. Seorang anak SMA yang dikejar mamahnya karena lupa membawa HP. Luarbiasa biasa memang cinta perempuan yang telah melahirkanku. Seolah tanpa batas. Meniadakan logika dan rasa malunya. Contoh rasa cinta yang meniadakan logika dalam arti positif.

Cinta seolah mempunyai tenaga luarbiasa untuk menembus segala keterbatasan manusia. Sebulan lalu aku jatuh cinta kepada sebuah Smartphone cantik. Merknya sedang booming. Spesifiknya gahar menakjubkan. Pokoknya tidak ada alasan untuk menolak Smartphone itu. Sayang di Indonesia Gadget yang aku inginkan belum release secara resmi. Rasa cinta sudah menggebu. Kukunjungi beberapa situs online yang kebetulan menjualnya meskipun masih garansi impor dari tiongkok. Garansi impor tidak bisa melakukan perbaikan di service center resmi harus ke negara asal pengimpornya.

Singkat cerita tibalah Smartphone yang kudamba. Aku elus dia seperti rasa sayang kakak kepada adiknya. Ah saat itu memang momen paling lebay. Kubuka pembungkusnya lalu kita saling bertatapan. Retina mataku menatatap layar 5,5 Incnya dengan penuh cinta. Positif aku suka. Setelah beberapa lama baru aku sadari ada kecacatan fatal di Gadget kesayangku. Beberapa titik putih sangat kecil terlihat. Rasanya saat itu hati ini remuk. Aduh lebay lagi. Uang yang sudah diberikan kepada penjual tidak bisa refund. Mau memperbaiki ke service center lokal tidak bisa. Apakah aku harus nekad pergi ke Tiongkok hanya untuk memperbaikinya. Tentu tidak.

Jatuh cinta memang memberikan tenaga tak terduga. Menobrak segala keterbatasan manusia. Rasa cinta seorang ibu kepada anaknya mampu meniadakan lelah seperti yang mamahku alami. Mengejar angkot yang sedang melaju bukan perkara mudah. Jatuh cinta kedua membuatku meniadakan logika. Berpikir terlalu cepat tanpa memperhatikan risiko di dalamnya. Terjadi ketika aku membeli Smartphone idaman.

Sebenarnya jatuh cinta paling baik. Tak mengenal kata rugi. Ketika kita memiliki rasa cinta tak terhingga kepada pemberi nyawa. Jatuh cinta kepadaNya selalu menghadirkan kedamaian. Mampu meniadakan peluh di saat lelah dengan perkasa tiba. Jatuh cinta kepadaNya menjadikan airmata berubah tetesan surga. Jatuh cinta kepadaNya bentuk paling sempurna dari segala cinta yang ada.

Jika boleh bercerita. Sekarang aku sedang jatuh cinta kepada salah satu hambaNya yang berada jauh di sisi lain pulau Jawa. Semoga rasa cinta ini mampu menghadirkan takwa yang lebih besar dari sebelumnya. Aku menyerahkan berbagai kemungkinan kepada Tuhan. Bila berjodoh ucapan syukur mengiringnya. Jika tidak, aku selalu percaya Tuhanku menghadirkan hal terbaik untuk setiap hambaNya.

Setiap cinta yang tercipta selalu memiliki makna yang berbeda-beda tergantung seperti apa menerjemahkannya. Bagiku cinta adalah kamu. Iya kamu yang telah Tuhan takdirkan di langit sana.

posted from Bloggeroid

Friday, May 27, 2016

Jarak belum berakhir

Dahulu kala di saat kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya. Hiduplah seorang pemuda biasa bernama Gilang.
Sssst tunggu dulu. Sepertinya aku salah setting cerita. Biasanya yang mengangkat tema sejarah itu Mas Heru (Salah satu sahabatku di grup one day one post). Kalau aku sih biasanya menceritakan berbagai kejadian dengan tokoh yang sama yaitu Gilang, namaku sendiri. Tetiba wartawan datang, entah datang darimana.

"Kenapa selalu membuat cerita dengan tokoh kamu sendiri Lang ? Apakah itu bukan bentuk lain dari kepedean,"

"Sebenarnya sederhana aku pengen terkenal seperti Rangga di cerita AADC."

"Apakah kamu merasa mirip Rangga ?"

" Ada satu kemiripan mendasar antara aku dan Rangga. Setidaknya sama berjenis kelamin pria, meskipun struktur wajah jauh berbeda. Kamu tentu tahu siapa yang lebih ganteng."

"Lang, saya mau bertanya. Bagaimana kelanjutan cerita bersambung " Jarak" apakah akan tamat hari ini."

"Bukankah dari tadi kamu bertanya. Sejujurnya aku berharap bisa berakhir hari ini. Tetapi rasanya sulit untuk berpisah dengan tokoh-tokohnya (padahal belum menemukan cara untuk mengakhiri cerita)"

"Kalau begitu. Cerbung jarak akan kamu bawa kemana ?"

" Tidak akan dibawa kemana-mana cukup tersimpan dalam file laptopku."

"Maksud saya. Apakah cerbung yang kamu buat berniat dikembangkan menjadi novel ?"

"Tentu saja. Aku berniat sekali menjadikannya novel. Sekalipun novel teraneh selama peradaban manusia."

"Saya tunggu ketika sudah menjadi novel. Ide awal jarak datangnya darimana sih Lang ? "

" Sederhana sebenarnya. Di saat aku menyaksikan banyak teman-temanku yang tertawa sembari memegang HP. Mungkin ia sedang berkomunikasi dengan seseorang yang terhalang jarak tapi tetap merasakan bahagia."

" Oh, iya. Sebentar Lang. Saya tidak mengerti maksud kamu."

"Aku juga tidak mengerti. Mungkinkah kesamaan kita merupakan takdir Tuhan bahwa kita sebenarnya berjodoh."

"Jijik kamu Lang."

Akhirnya wartawan itu pun pergi mengendarai kuda. Tunggu dulu kok dia naik kuda. Mungkin dia salah satu prajurit kerajaan Majapahit.

Intinya cerbung jarak tidak akan berakhir hari ini. Aku akan memperbaiki cerita dan meluruskan berbagai kejadian yang masih ngawur. Terimakasih yang sudah membaca cerbung jarak selama satu bulan ini. Di bulan depan cerbung jarak akan tetap lanjut. Semoga teman-teman berkenan meluangkan waktu untuk membaca kelanjutan kisah jarak.

Terimakasih, salam sayang Gilang.

posted from Bloggeroid

Thursday, May 26, 2016

Coretan

Mentari sudah tumbang di pelupuk barat. Lukisan langit berwarna oranye perlahan berganti pekat. Seorang pria muda menatap penuh harap ke arah sumber cahaya yang perlahan gelap. Kerinduan paling dalam menyelinap lancang ke hati seorang pria bernama Gilang. Iya, aku Gilang. Seorang pria yang sedang merasakan getirnya cinta

Sudah beberapa bulan ini aku menyimpan perasaan kepada seseorang yang tak mampu kutemui . Bentangan jarak begitu perkasa memaksa kami untuk menjalin cinta jarak jauh. Tak pernah sekalipun aku bertatap muka secara nyata dengannya namun aneh cinta tetap bisa menyebar ke berbagai celah perasaan ini.

Tuhan menggariskan segala bentuk pertemuan manusia. Termasuk pertemuanku dengan seorang gadis cantik yang biasa ku panggil Aya. Gadis asal kudus yang sedari kecil terbiasa hidup di pondok pesantren itu begitu menawan hatinya. Gejolak tak menentu selalu saja dirasa jika bersua dengannya di media sosial. Sekalipun gadis pesantren ia tak menutup diri dengan perkembangan teknologi, salah satunya sosial media.
Awal pertemuanku dengannya pun melalui jejaring tanpa batas bernama facebook.

Cinta selalu punya cara mempertemukan orang-orang yang sedang mengharapkannya. Perjumpaan tak sengaja aku dengan Aya pun bagian dari skenario cinta yang Tuhan sudah tulisan di langit sana. Pekerjaanku sebagai staf salah satu toko online menjadi perantara bersua dengannya di dunia maya. Melalui fanspage facebook Aya memesan kerudung ungu bermotif bunga yang kala itu sedang digandurungi kaum hawa. Aku langsung merespon serta menindaklanjuti pesanan Aya.

Tak ada yang spesial dari pesanan kerundung ungu bermotif bunga yang Aya pesan. Baru tiga hari kemudian notifikasi pesan muncul di akun toko online yang aku kelola.

"Assalamu'alaikum. Alhamdulillah barangnya telah sampai Admin. Bagus sekali kerudungnya akan tetapi mohon maaf tidak sesuai warnanya dengan yang saya pesan. Waktu itu saya pesan warna merah tetapi yang datangnya biru. Terimakasih atas perhatiannya Admin. Semoga pesan ini segera ditindaklanjuti. Wassalamu'alaikum.

Seringkali aku menerima komplain dari pelanggan. Akan tetapi kebanyakan dari mereka menyampaikan dengan nada keras bahkan cenderung marah. Tetapi kali ini berbeda seorang wanita menyampaikan keluhan secara halus. Rasa penasaran menghampiri seperti apakah sosok wanita yang bertutur kata begitu halusnya.

Rasa penasaran bergelayut di kepala. Akhirnya ku memutuskan menyapa gadis itu melalui akun pribadi.

" Assalamu'alaikum. Perkenalkan saya Gilang. Staf dari dari toko online tempat Mba membeli kerudung merah bermotif bunga. Saya mengirim pesan dengan akun pribadi sebagai permintaan maaf. Kesalahan pengiriman tersebut murni keteledoran saya. Besok saya kirimkan penggantinta. Sebagai permohonan maaf kerudung biru yang salah kirim. Silakan untuk Mba saja. Terimakasih. Wassalamu'alaikum."

Pesan yang ku kirimkan melalui media sosial melesat cepat sampai kepada penerima. Tak dipungkiri ketika aku menggerakan jari mengetik setiap kata permohonan maaf hadir rasa gemetar di dada. Takut pesan yang telah ku kirim diabaikam begitu saja. Pikiran jauh dari kenyataan. Setelah menunggu beberapa menit. Pesan yang telah aku kirim dibalas dengan kata-kata yang begitu manis.

"Wasalamu'alaikum Mas Gilang. Tidak apa-apa Mas. Manusia tak luput dari lupa. Terimakasih sudah berkenan menggantikan bahkan memberikan hadiah yang menarik sekali. Semoga kebaikan Mas Gilang dibalas dengan berlipat-lipat oleh Allah. Aamiin."

Ingin rasanya teriak menyaksikan pesan manis dari seorang gadis yang begitu menawan sekalipun baru pertama kali bertukar pesan. Tetapi ada yang aneh kenapa dia tahu namaku.

"Aamiin Mba. Eh tapi kon Mba tahu nama saya ?"

"Tahu dong, kan tadi Mas memperkenalkan diri dulu. Coba scroll ke atas pesannya hehe."

"Mohon maaf Mba Aya. Saya kurang fokus. Hehe."

"Nah, sekarang giliran Mas yang tahu nama saya. Hayo tahu darimana ?"

"Nama Mba kan Yanti Handayani. Saya cari saja panggilan uniknya. Mungkin dipanggil Aya. Hehe."

"Betul sekali. Kebanyakan teman-teman dekat di Kudus memanggil Aya."

"Mudah-mudahan kita juga bisa menjadi teman dekat," Timpalku sembari diiringi emotion tawa. Aya pun membalas dengan emotion yang sama.

Tak butuh waktu lama akhirnya aku menjadi teman dekat Aya. Berbagi berbagai cerita dari hal-hal penting hingga kisah remeh-temeh. Kebiasaan berkirim pesan akhirnya menumbuhkan cinta mendalam. Perlahan tapi pasti aku mengucapkan rasa suka kepada Aya. Ia merasakan hal yang sama juga.

Benang-benang cinta terajut indah. Bahagia selalu menjadi kosata yang dinikmati kami berdua. Sekalipun terpisah jarak ratusan Kilometer tak menyurutkan sedikit pun kadar cinta. Beberapa bulan rutin bertukar pesan berbagi rasa suka. Indah sekali dunia serasa milik berdua.

Tak ada kebahagian yang kekal. Kalimat tepat untuk kisah cinta aku dan Aya. Di sore hari kuterima secarik kertas tak biasa dengan nama pengirim seseorang yang sangat ku kenal. Ku buka perlahan, aku mencoba mencermati tiap kata seolah tak percaya dengan secarik kertas yang kini kubaca. Aya kenapa kau sangat tega.

posted from Bloggeroid

Jarak Bagian 22 "Buah Cinta"

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 21"

Cinta mampu menembus dan meniadakan segala keterbatasan. Setidaknya kalimat itu pernah Nina dan Soleh alami. Cinta mereka menemui benteng tinggi bernama penolakan dari Orangtua. Keluarga Nina tak mau menodai garis keturunan dengan menikahkan anaknya kepada seseorang yang tak jelas asal-usulnya.

Soleh jelas tak kaya. Tidak juga tampan seperti artis korea. Ia hanya seorang pemuda miskin dari desa yang percaya bahwa cinta harus diperjuangkan. Perjuangannya memang membuahkan hasil. Nina luluh dengan pengorbanan yang Soleh lakukan. Akhirnya mereka menjadi sepasang suami istri sekalipun dengan risiko besar yang harus mereka bayar. Nina diusir paksa oleh orangtuanya.

Nina terpaksa berhenti kuliah. Prestasi gemilangnya pupus sudah. Cinta yang ia rasa membutakan apapun. Sebenarnya Soleh berbesar hati jika Nina tak mau membangun bahtera rumah tangga dengannya. Ia merelakan kisah cinta mereka harus diakhiri. Bukan Nina jika tak teguh dengan keputusannya. Risiko apapun ia hadapi agar bisa hidup bersama Soleh. Kali ini cinta sudah di luar logika.

Beberapa minggu setelah mereka menikah. Soleh membawa Nina ke sebuah rumah kontrakan sederhana, bahkan sangat sederhana untuk disebut rumah. Di sanalah pengantin baru membangun cinta. Cinta yang begitu syahdu sekalipun terpaan kesulitan ekonomi datang tiap hari.

Cinta mereka begitu mendalam meski keterbatasan ekonomi menghampiri. Tiap bulannya Nina memeras otak bagaimana caranya mengelola uang terbatas yang diberikan Soleh. Tentu saja tak mudah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan uang yang hanya cukup seminggu. Terkadang Nina harus menghilangkan urat malunya untuk berutang ke warung sekadar membeli beras serta kebutuhan pokok lainnya.

Kebahagian tak melulu berkutat pada harta. Itu yang Nina yakini hingga kini. Pernikahan mereka melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Gilang. Semakin beranjak besar Gilang semakin mengerti keterbatasan orangtuanya. Tak pernah meminta hal yang macam-macam. Ketika ia bersekolah pun seragamnya hasil lungsuran dari seseorang yang kasihan melihatnya.

Baru kali ini Gilang menjadi bahan pikiran orangtuanya. Jelas mereka tak mau Gilang berhenti sekolah karena dengan sekolah rantai kemiskinan bisa terputus.

Di tempat lain Fika, Teguh dan Jama sedang mendiskusikan sesuatu. Mereka terlihat serius sekali membahas masalah yang sedang meninmpa temannya. Dengan anggukan akhirnya rencana yang disusun telah disepakati.

"Teguh, kenapa kamu melamun," bentak Fika menyadarkan lamunan Teguh.

"Gini, Fik. Tadi kalian menyusun rencana panjang lebar serta detail. Tapi sayangnya aku sama sekali nggak ngerti," Teguh nampak serius menyampaikan masalahnya.

"Bagian mana yang kamu nggak ngerti Teguh. Ini rencana penting setiap kata kamu harus pahami. Jangan ragu bertanya” Jama menimpali dengan raut wajah serius.

" Gini Jama, Fika. Jujur saja dari awal aku nggak ngerti rencana kalian untuk apa. Memangnya Gilang kenapa ?

Jama dan Fika memasang wajah kesal. Memandang Teguh penuh arti. Mereka sudah punya rencana untuk menyelamatkan teman baiknya dari kemungkinan berhenti sekolah.


Wednesday, May 25, 2016

Langkah Indonesia

Waktu melesat cepat sudah 154 tahun Indonesia merdeka. Melewati berbagai fase kepemimpinan. Gejolak politik begitu kentara, perebutan kekuasaan sudah selesai 20 tahun lalu. Reformasi jilid dua beserta keganasan alam di tahun 2079 berhasil menggulingkan pemimpin dzalim yang menjual Indonesia ke antek-antek asing.

Saat itu gelombang demonstrasi lebih dahsyat daripada penggulingan rezim orde baru. Jutaan mahasiswa "mengepung Istana negara". Balikpapan bergemuruh dikepung mahasiswa yang membawa semangat perubahan. 20 tahun sudah Balikpapan menjadi ibukota negara menggantikan Jakarta yang beralih fungsi menjadi kota bisnis.

Awalnya terjadi banyak pertentangan ketika pemerintah memutuskan untuk memindahkan ibukota negara ke Balikpapan. Selentingan sumbang mengarah tajam kepada pemerintah. Tujuan sebenarnya memang baik mengurangi kepadatan  di pulau Jawa serta mengantisipasi kejadian paling tak ingin seperti Jakarta tenggelam.

Saat itu, ayahku adalah pemimpin gerakan mahasiswa yang menuntut keadilan. Cara demonstrasi yang berbeda dengan tahun 1998. Mereka tak turun ke jalan. Jutaan mahasiswa ditempat yang berbeda saling terkoneksi melalui mega server . Mereka mendiskusikan cara terbaik mengembalikan negeri tercinta dari cengkraman asing. Tahun 2075, krisis besar melanda Indonesia. Hutang asing menyentuh 1.500 triliun dollar, tertinggi semenjak republik ini berdiri. Nilai tukar rupiah terpuruk menuju titik nadir, 100 ribu per dollar.

Masyarakat semakin tercekik dengan harga kebutuhan pokok kian tinggi. Belum lagi sumber daya alam yang semakin berkurang.
Pemerintah menyiasati dengan menaikan pajak yang terlampau tinggi. Kalangan kaya berubah jadi kelas menengah. Kelas menengah menjadi miskin. Orang miskin terpaksa meninggalkan dunia menghadap ke Illahi Robbi. Meninggal karena kelaparan sudah menjadi hal yang biasa.

Seolah tak mau belajar dari sejarah. Pemindahan ibukota menjadi ladang baru bagi antek-antek asing. Beralibi ingin memajukan Indonesia dengan cara memberikan pinjaman bernilai triliunan dollar. Pemimpin saat itu tergiur oleh nominal angka luarbiasa lalu menyetujuinya dengan mengadaikan puluhan aset negara. Pemerintah ingin memperlihatkan ibukota baru berdampak besar pada kemajuan Indonesia. Tak ada kemajuan instan. Pola berpikir instan akan mengakibatkan kehancuran. Benar saja, kurang dari 20 tahun kejadian yang lebih buruk dari reformasi 1998 menghantui negeri tercintai.

Gerakan-gerakan solidaritas mahasiswa terhimpun lewat dunia virtual reality. Dunia maya berbasis tiruan dunia nyata. Tak hanya sekedar kata atau video, tetapi memungkinkan seseorang masuk ke dunia virtual untuk bercakap-cakap dan bertukar informasi secara langsung. Solidaritas tanpa batas menjadi server utama virtual reality untuk gerakan mahasiswa. STB sebuah server besar yang memfasilitas berbagai pertemuan mahasiswa melalui dunia virtual. Keputusan-keputusan penting diambil di sana.

Saat itu, Ayahku masih seorang mahasiswa tingkat akhir di jurusan hubungan virtual Internasional. Ayah yang pertama kali menggagas gerakan solidaritas tanpa batas (SBT) guna mengambil tindakan paling baik untuk mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah tanpa melalui cara arogansi. Bakar ban serta berkumpul mengepung pemerintah secara fisik rawan sekali menimbulkan korban di kedua pihak. Gagasan yang tercipta di forum akan segera dilakukan. Ayah mencoba mengajak komponen pemerintah untuk bergabung dengan server SBT mengajak berdiskusi tentang masalah disertai solusi agar Indonesia mampu keluar dari jeratan kehancuran.

Lewat berbagai cara tak kenal menyerah akhirnya pemerintah bersedia masuk ke server SBT untuk mendiskusikan segala bentuk permasalahan. Diskusinya berlangsung alot, pemerintah teguh tak mau berubah arah kebijakannya. Mengambil mode kepemimpinan tangan besi untuk bertindak tanpa memperhatikan aspirasi. Di server SBT hujan instruksi melayang menuju perwakilan pemerintah. Delegasi dari Padang berteriak paling kencang tak setuju investor asing mendirikan mega proyek yang secara perlahan akan penghancurkan tempatnya. Sama halnya dengan perwakilan dari Papua. Dengan logatnya khasnya ia mengutarakan tak setuju dengan rencana pemerintah membangun pusat pelatihan antariksa untuk beberapa negara adidaya. Hutan sekali lagi akan menjadi korban keserakahan manusia jika proyek pembangunan pusat pelatihan antariksa di bangun di tanah Papua.

Hampir semua delegasi dari 100 provinsi menyatakan berbagai ketidaksetujuan dengan proyek-proyek pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Kebijakan yang cenderung hasil dikte antek asing. Delegasi mahasiswa seluruh provinsi di Indonesia semakin meradang. Pemerintah tak mau mendengar apapun usukan mereka. Pertemuan paling panas selama forum SBT didirikan. Sebagain besar perwakilan besar delegasi memilihn log out karena percuma jika diskusi itu diteruskan hasilnya tetap sama. Pemerintah terlampau egois.

Geraman mahasiswa tak biasa lagi dibendung. Diskusi di dunia virtual reality tak menghasilkan apapun selain kejelasan bahwa pemerintah sudah tak berpihak kepada rakyat. Cara masa lampau menjadi pilihan efektif untuk menghentikan arogansi pemerintah. Gerakan mahasiswa tak terbendung. Sudah puluhan bus terbang milik perusahaan pemerintah dibakar mahasiswa. Hal itu dilakukan sebagai bentuk ketidaksetujuan mahasiswa atas sebuah bentuk kebijakan ngawur pemerintah.

Gempuran mahasiswa semakin dahsyat. Pemerintah berusaha meredam. Pemerintah melakukan gerakan sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang dianggap sebagai pencetus gerakan perubahan diasingkan ke pulau terpencil bahkan sebagian lagi dibunuh. Gerakan perlawanan mahasiswa sempat terhenti setelah ribuan teman-teman mereka lenyap tanpa ada yang tahu. Pemerintah berkilah tak melakukan apapun kepada Mahasiswa.

Ayahku adalah bagian yang diasingkan ke sebuah pulau terpencil di timur laut sulawesi. Pulau yang diperuntukan untuk pembuangan segala bentuk limbah. Dengan ratusan temannya ia berjuang untuk hidup mengolah apapun yang bisa dimasak. Lambat laun mahasiswa tahu bahwa temannya yang hilang diasingkan bahkan dibunuh oleh pemerintah. Setelah ayah mengakses SBT kemudian menghubungkan dengan jutaan mahasiswa. Menceritakan berbagai tindakan sewenang-wenang yang dilakukan kepada mereka.

Semangat perubahan berada pada titik maksimalnya. Jutaan mahasiswa berangkat menuju Balikpapan berniat mengepung istana negara dengan fisik mereka. Setelah diskusi virtual berlangsung alot. Ribuan mahasiswa berorasi kembali seperti pada masa lampau. Tak disangka ribuan tentara bersengkatan AKA 47 berpeluru laser menghadang mahasiswa. Peluru laser pertama melesat menembus dada seorang mahasiswi dari Bandung. Mahasiswa geram menyerang balik tentara. Tumpahan darah tak bisa dielakkan. Akhirnya jutaan korban berjatuhan dari kedua belah pihak, paling banyak jumlah korban dari mahasiswa. Setengah dari mahasiswa tewas tertembak peluru laser. Sebagian lagi menyerah sehingga tak mau berpartisipasi dalam demo selanjutnya.

Gejolak politik di Indonesia semakin dahsyat. Pemberitaan melalui dinding televisi selalu menampilan berbagai kerusuhan. Pemerintah dan kaum intelektual lupa akan keadaan dunia yang semakin menua rawan sekali terjadi bencana besar. Benar saja gunung Tambora kembali menunjukan aktivitas vulkaniknya. Rakyat dan pemerintah tak peduli dengan keadaan gunung Tambora yang akan meletus. Mereka berkutat dengan segala kegiatan politiknya.

Beberapa penduduk yang sadar akan terjadinya bencana dahsyat mencoba mengungsi diberbagai tempat. Meninggalkan segala kemewahan teknologi agar terbebas dari bencana. Setahun sudah terlewat tak ada kemajuan berarti dari pihak pemerintah. Mereka teguh untuk kembali berhutang ke negara asing sebagai persediaan agar terlepas dari krisis. Mahasiswa punya pendapat lain. Semakin tinggi pinjaman semakin besar efek kerugiaan yang menimpa Indonesia. Pemerintah kembali tutup mata.

Di sisi lain, gunung Tambora bersiap mengeluarkan energi maha dahsyatnya. Gempa dengan kekuatan 9,9 skala richter mengguncang Indonesia. Kekuatan gempa yang sebanding dengan 15 ribu bom atom raksasa. Peradaban canggih terkoyak hancur. Ratusan juta manusiswa meregang nyawa. Belum lagi gelombang tsunami setinggi 100 meter menghantam Indonesia. Hanya 5 juta penduduk Indonesia yang mampu bertahan. Orang-orang yang Indonesia berkarier diberbagai penjuru dunia pulang ke kampung halamannya yang sudah luluh lantah. Ribuan mahasiswa yang diasingkan pemerintah berhasil selamat karena efek bencana tidak mengenai mereka. 1 miliar penduduk Indonesia menjadi korban keganasan alam yang murka akan tingkah lalu manusia.

Mereka yang selamat mencoba kembali membangun Indonesia dari nol. 50 juta penduduk Indonesia saling berpegangan tangan membangkitkan lagi negaranya. Sudah 20 tahun sudah kejadian mengerikan itu terjadi. Itulah yang aku dengar dari guru sejarah Indonesia di kampusku. Beliau menyampaikan perkuliahan melalui program virtual reality hasil eksprimen ayahku.
 2099 menjadi tolak ukur kebangkitan Indonesia. Generasiku tak mau membuat Tuhan marah lagi dan memberikan bencana maha dahsyat yang akan berakibat kepunahan manusia.

Perkuliahan sejarah Indonesia telah selesai. Aku memasuki sebuah lorong untuk menuju pintu teleport. Aku harus menemui temanku dari Jerman pukul 2 siang nanti. Ia mengajak berdiskusi  tentang pelestarian lingkungan. Setelah itu aku harus kembali ke Indonesia, pukul 3 siang ada rapat mengenai penjelahan Saturnus dan meneliti mineral yang terkandung di dalamnya. Rekaman virtual reality dosen tentang sejarah Indonesia telahku simpan. Sekarang dihadapanku sudah ada pintu teleport. Aku membukanya pintunya, sedetik kemudian seorang pria berambut pirang menyapaku dalam bahasa Jerman.

Terinspirasi dari Novel "Hujan" karya Tere Liye

Tuesday, May 24, 2016

Jarak Bagian 21 "Dua Hati'

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 20"

Kenangan masa lalu hadir kembali. Soleh terbaring dengan dengan luka tusukan. Nina panik tak tahu hal apa yang harus dia perbuat. Keharuan menyelinap di dadanya, berharap sahabat baiknya Mey datang cepat membawa bantuan. Saat itu sudah terlampau larut. Matahari sudah tumbang lebih dari 5 jam lalu. Jam tangan Nina menunjukan angka 11. Beberapa temannya kampusnya memilih pulang duluan setelah merasakan terlalu larut untuk pulang. Beda hal dengan mey yang memilih menyelesaikan paper ilmiahnya.

Nina, seorang mahasiswa yang aktif. Banyak sekali komunitas yang ia ikuti. Baik komunitas yang berada di kampus maupun luar kampus. Gairah dan semangatnya belajar seolah tanpa batas. Deretan tugas kampus yang berat tak menyurutkan niat mengikuti berbagai perlombaan. Saat itu Nina menghabiskan waktu hingga malam berkutat dengan paper ilmiah untuk perlombaan karya ilmiah tingkat nasional. Ia sama sekali tak menyangka kejadian yang akan mengubah hidupnya 180 derajat baru akan dimulai.

Akhirnya Mey datang dengan tergesa-gesa, Nina menghampirinya. Tak butuh penjelasan panjang. Mereka berdua memapah Soleh menuju mobil yang dibawa Mey. Di dalam hati berbagai kebingungan sempat ingin ditanyakan mey tetapi urung dilakukan karena waktunya tak tepat. Saat itu Nina menatap Soleh penuh rasa khawatir. Berbalik 180 derajat dengan pertama kali mereka bertemu.

Seakan De Javu, peristiwa belasan tahun lalu kembali terulang. Soleh terkapar dihadapan Nina dan Mey. Bedanya, sekarang Nina sudah menjadi istrinya Soleh. Seperti biasa Mey bergerak cepat meminta bantuan Gilang dan Nina untuk memapah Soleh menuju mobilnya. Wajah cemas Nina kembali hadir. Rasa cinta begitu besar terhadap suaminya. Ia rela meninggalkan berjuta impian yang hampir tergapai hanya untuk Soleh.

Dua tahun sebelum kelahiran Gilang. Keberanian Soleh menyelamatkannya meluluhkan hati Nina. Benih-benih cinta sudah tumbuh begitu lebat. Tatapan kebencian menguap begitu saja berganti rasa saling suka. Setelah Soleh dibawa ke rumah sakit hampir setiap hari Nina menjenguk berharap pahlawannya cepat pulih seperti sedia kala. Lomba karya ilmiah Ia tinggalkan demi menjaga Soleh. Entah darimana datangnya cinta itu, Tuhan memang punya cara tersendiri menyatukan dua hati.

Perjuangan kisah cinta Soleh dan Nina baru saja dimulai. Benteng tinggi akan menghadang mereka. Orangtua Nina tak pernah setuju dengan hubungan anaknya dengan pemuda miskin bernama Soleh. Beberapa kali Nina membujuk hanya ia anggap angin lalu. Ultimatum keras keluar dari mulut orangtuanya. Nina dihadapkan pada dua pilihan. Meninggalkan Soleh atau meninggalkan rumah dan takkan pernah dianggap anak oleh orangtua.

Pilihan yang mengubah kehidupan sudah Nina ambil. Soleh sudah beberapa kali mengingatkan bahwa memilih hidup dengannya adalah sebuah kesalahan jika itu dinilai dari segi kemapanan. Nina kukuh dengan pilihannya. Biarlah ia hidup dengan segala keterbatasaan asalkan bersama dengan pria yang dicinta. Naif memang pilihan Nina meninggalkan segala bentuk kemapanan untuk hidup bersama Soleh.

Orangtua Nina sedikit berbaik hati mau menikahkan putri sekalipun dengan raut wajah masam. Pernikahan yang jauh dari meriah hanya dihadiri beberapa saksi dan keluarga dekat Soleh. Tak terlihat wajah gembira yang terpancar dari keluarga Nina. Seminggu kemudian sesuai dengan kesepakatan Nina meninggalkan kedua orangtuanya untuk hidup bersama lelaki pilihannya.


Monday, May 23, 2016

Jarak Bagian 20 "Batas Lelah"

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 19"

Soleh datang dengan penuh kehangatan. Mencoba menyembunyikan rasa sakit akibat pukulan Pak Adnan, namun naluri seorang istri tak bisa dibohongi. Nina memperhatikan hal tak biasa di raut wajah Soleh. Seolah menahan kesakitan ditubuhnya. Soleh mencoba mengalihkan perhatian istrinya dengan penyapa Bu Mey.

"Eh Bu Mey sudah lama singgah di gubuk kami ? " senyum Soleh mengembang menandakan hormatnya kepada teman masa lalu istrinya.

"Baru tadi Pak Soleh. Sekali kunjungan ke teman lama dan hal yang mau diperbincangkan tentang Gilang," Mey membalas senyum Soleh. Berusaha memulai menyampaikan masalah Gilang.

"Apakah di sekolah Gilang nakal, Bu Mey ? Ceritakan saja kami akan berusaha menasehatinya nanti," Nina berusaha menimpali percakapan tentang anaknya.

"Sebenarnya tadi pagi Gilang berkelahi, Bu Nina, Pak Soleh. Berkelahi dengan Adli, anaknya ketua komite," Bu Mey mengawali cerita dengan nada berhati-hati.

"Ketua komite, Pak Adnan. Mey ?" saking terkejutnya Nina lupa bahwa percakapan ini bukan percakapan antara teman lama, tetapi percakapan seorang wali kelas dengan orangtua siswa.

"Iya Nin, kita bicara dalam konteks sahabat lama saja yah ? Bukan guru dan orangtua siswa," Mey seolah bisa membaca kekhwatiran Nina.

"Aku, khawatir Nina, Soleh jika Adli melebih-lebihkan perkelahiannya Gilang. Ayahnya pasti bertindak. Bukan suatu hal mustahil kejadian terburuk diterima Gilang," Mey kembali mengatur nada bicara agar sahabat lamanya bisa langsung mengerti maksudnya.

"Maksudmu kejadian terburuk seperti apa. Gilang bisa dikeluarkan ?" Nina menarik napas dalam dikata terakhir berharap agar anaknya tetap bisa sekolah.

"Lebih buruk dari itu Nin," Bu mey menampilkan raut wajah khawatir sembari berharap prediksinya tidak menjadi kenyataan.

Soleh melamun berusaha memahami setiap kata yang dikeluarkan Mey. Mencermati hal-hal apa saja yang dapat terjadi. Soleh sudah tahu seperti apa watak Bosnya, Pak Adnan. Ia sosok tangan besi tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Anak satu-satunya bernama Adli, tentu anak yang paling ia sayang segala kemauannya akan Pak Adnan penuhi.

Teringat ketika Soleh dipukuli Pak Adnan. Rasa marahnya tak terbendung. Perasaan tak mengenakan kembali hinggap di dada Soleh. Khawatir dengan keadaan anaknya nanti. Titik lelah Soleh tak bisa disembunyikan. Paduan lelah fisik dan psikis membuat kondisinya sangat drop. Seketika pandangan Soleh berubah gelap. Ia tersungkur dihadapan Nina dan Mey.

Friday, May 20, 2016

Jarak Bagian 19 "Berubah Rasa"

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 18"

Jarum jam berputar mundur dipikiran Mey. Ia sangat ingat 15 tahun lalu Nina datang padanya dengan derai air tak berhenti mengalir di pelupuk mata. Cinta selalu menemukan jalannya yang aneh. Tidak terduga sebelumnya seorang pria pengangguran bernama Soleh mampu meluluhkan hati gadis berpendidikan yang berasal dari keluarga kaya raya, Nina.

Sejak peristiwa penyiraman air yang dilakukan Nina. Benih-benih cinta bergejolak di hati Soleh. Belum pernah ia merasakan sesak di dada pertanda cinta. Awalnya Nina benci dengan Soleh. Banyak alasan yang melatarbelakingi kebenciannya. Ia tidur di depan tokonya, tersenyum menggelikan ketika di siram. Membuntuti kemanapun Nina pergi. Kesal itulah yang dirasakan Nina tapi semua rasa bencinya seketika hilang setelah peristiwa yang mengubah benci jadi cinta.

Malam itu Nina pulang sendiri. Kegiatan Unit mahasiswa memaksanya pulang larut. Di gerbang kampus yang sepi. Nina mendengar suara langkah kaki. Pikiran melayang ke pria yang mengesalkannya akhir-akhir ini

"Pasti dia mengikutiku," Ketus Nina.

Langkah kaki semakin mendekat menghampiri Nina. Ternyata yang muncul bukan Soleh. Pria berbadan tegap tersenyum penuh arti. Membawa pisau seolah akan menguliti Nina. Ia sudah tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Neng geulis. Minta duitlah," masih senyum sembari memainkan pisau.

Nina bergetar. Ia merogoh sakunya mencari uang bernilai paling kecil. Sepuluh ribu diberikan kepada preman itu.

"Maneh, ngahina, " Teriakan keras tanda tak terima dengan nominal rupiah yang diberikan.

"Hoyong sabaraha Kang ?" dengan suara terbata-bata Nina meminta preman itu menyebutkan nominal yang ia mau.

"Kabeh duit maneh, plus Neng geulis temenin Akang malam ieu," ekspresi marah berubah menjadi menggoda.

Tendangan dari Nina menjadi jawaban atas perkataan kotor preman. Lesakan tendangan membuat pria kekar itu mundur beberapa langkah. Preman tersenyum tendangan Nina dianggap seperti sentuhan romantis.

Pria kekar itu menyergap Nina. Memegang tangannya. Perbuatan tercela sebentar lagi akan preman itu lakukan. Secepat kilat pemuda kurus mengarahkan kepalan tangan dengan kecepatan luarbiasa. Cengkraman tangan preman terlepas dari Nina.

Nina berlari sekilas melihat wajah Pria juru selamatnya. Pria yang ia benci sekarang menyelamatkan harga dirinya.
Soleh berhadapkan dengan pria kekar. Tampak tak sebanding memang, namun dibalik tubuh kurusnya Soleh sudah terlatih menghadapi perkelahian. Kerasnya kehidupan membuatnya harus bermain dengan pukulan.

Kali ini preman menggunakan pisau untuk melawan Soleh. Ia menerjang mengarahkan pisau ke perut Soleh. Soleh menghindar berbalik badan kemudian mengeluarkan tendangan keras tepat di tangan preman tersebut. Pisaunya terlepas. Perkelahian tangan dimulai.

Preman itu kesulitan menghadapi paduan kekuatan dan kelincahan Soleh. Pria kekar terdesak. Nina kagum dengan beladiri yang dikuasai Soleh. Pria yang selalu mengikutinya kemanapun. Soleh tersenyum melihat ke arah Nina. Cinta membuatnya lengah. Tanpa diduga preman itu sudah memegang pisau melesakan ke perut Soleh. Soleh terkapar, preman gemetar tujuannya bukan membunuh orang. Ia lari sekencang-kencangnya tak mau dihukum karena membunuh.

Nina panik, ia mendekati Soleh yang sedang kesakitan. Nina berpikiran cepat menelpon sahabatnya Mey untuk membawa kendaraan. Mengantar Soleh ke rumah sakit terdekat.

Kenangan yang diceritakan Nina kepada Mey terlintas begitu saja. Sejenak berhenti ketika ketukan pintu menghampiri rumah Nina.

Pria yang dibayangkan datang dengan wajah peluh pertanda lelah luarbiasa yang dirasa. Soleh pulang dari tempatnya bekerja.


Thursday, May 19, 2016

Jarak Bagian 18 "Harga Diri"

Jarak adalah cerita bersambung. Bagian sebelumnya dapat dibaca dengan cara mengklik "Jarak 17"

Soleh terkapar menatap kebingungan ke arah mandornya. Sakit menyesakan terasa diperut. Ia tak tahu apa yang menjadi alasan Pak Adnan memukulnya. Bosnya masih menatap dengan galak tak sedikit pun rasa bersalah mampir ke relung hatinya.

"Hey, Soleh didik anakmu itu agar tahu batasannya," Tatapan kebencian mengarah tajam.

"Saya tidak mengerti apa yang Bapak katakan," tatapan heran tercermin di wajah Soleh.

"Anakmu itu sok jagoan. Memukul anakku hingga pingsan," Geram Pak Adnan tidak bisa lagi disembunyikan.

"Sungguh saya tidak tahu Pak. Dengan rasa hormat saya meminta maaf sebagai Ayahnya Gilang," Sembari terduduk Soleh berkata lirih.

"Pukulan tadi sebagai peringatan untuk kamu dan anakmu. Kalian harus tahu batasan."

"Baik Pak sekali lagi saya minta maaf."

"Kamu pergi sana bekerja lagi. Ingatkan anakmu," Pak Adnan berbalik melangkah pergi menaiki mobil mewah.

"Baik Pak," Soleh berkata pelan sembari menatap punggung Pak Adnan.

Dalam hati Soleh ingin sekali membela anaknya. Membalas pukulan Pak Adnan namun itu terlalu berisiko. Dengan mudah ia bisa dipecat bahkan dipidanakan Bosnya. Soleh tidak mau Nina dan anak-anaknya bersedih. Tak apalah ia menelan sendiri penghinaan menyakitkan ini.

Soleh sangat tahu sifat-sifat anaknya. Tak mungkin Gilang memukul seseorang tanpa alasan. Anak sulungnya lebih memilih berdiam diri daripada menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Namun jika seseorang menghina keluarganya Gilang akan murka. Ketika marah tak ada seseorang pun yang menyangka. Wajah teduhnya berubah memerah.


**

Gilang pulang ke rumah memasang wajah lesu di sampingnya berdiri Bu Mey yang mengantarnya pulang sekaligus ingin bertemu Ibunya Gilang. Nina teman lama Bu mey semasa kuliah.

Nina sudah 30 menit berada di rumah. Dagangannya sisa banyak hanya beberapa orang yang membeli jualannya. Sungguh sangat berbeda dengan 15 tahun lalu. Dulu Nina seorang mahasiswi jurusan pendidikan sahabat karib Bu mey, Guru Gilang kini.

Ucapan salam mengalir halus dari mulut Bu Mey. Dibukalah pintu oleh Nina. Beberapa saat ia termenung melihat Mey. Sudah enam bulan semenjak Ia menangis memohon Mey agar mendidik anak sulungnya.

Pelukan hangat Mey dibalas Nina. Sahabat karib semasa kuliah bertemu kembali. Melepas haru dengan keadaan berbeda. Gilang nampak heran. Kenapa Bu Mey sangat akrab dengan Ibunya. Pikiran itu seketika hilang. Gilang lebih fokus memikirkan perbuatan yang telah ia lakukan di sekolah tadi pagi.

Memukul Adli, anak seorang ketua komite sekolah bukan perkara sederhana. Adli anak orang paling kaya di daerahnya. Tentu saja Gilang tahu itu. Tapi siapapun Adli tak akan Gilang biarkan menghina keluarga. Siapa pun akan ia lawan jika menyangkut harga diri orang yang ia cinta. Memang keluarganya miskin tapi kemiskinan bukan alasan untuk melegalkan hinaan semaunya mereka.

Nina menyuruh Gilang untuk mengasuh keduanya adiknya. Memintanya pergi karena ada hal penting yang akan Bu Mey ceritakan.

"Bu Nina," wajah Bu Mey terlihat serius.

"Sudahlah Bu Mey. Panggil saja saya Nina," Ibu Gilang tersenyum menatap teman lamanya.

"Kamu sendiri memanggil saya Ibu, Nina si gadis cerdas," kali ini Bu mey memasang senyum.

"Sudahlah, perjalanan hidup mengajarkanku banyak hal Mey. Julukan itu tertinggal jauh di masa lalu."

"Tapi engkau masih sosok yang sama Nina. Seseorang yang tangguh. Pantaslah Gilang itu anak kau. Engkau dulu paling tak suka dihina apalagi menyangkut orang yang kau cinta. Soleh misalnya." Mey tersenyum mengajak Nina mengenang masa lalu.

"Aku sekarang berbeda Mey. Tak lagi tangguh. Sekarang aku pasrah menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Mungkin ini hukuman karena dulu aku tak menuruti kemauan orangtua."

Mey tersenyum getir. Curhatan Nina 15 tahun lalu kembali ia ingat. Misinya menceritakan sikap Gilang di sekolah terlupakan.
d

Wednesday, May 18, 2016

Jarak bagian 17 "Kisah Masa Lalu"

Jarak adalah cerita bersambung agar mengetahui benang merah cerita. Silakan klik bagian sebelumnya di sini "Jarak 16"

Soleh, pemuda kampung yang perkasa meluluhkan hati seorang wanita terpandang asal kota bernama Nina. Nina jatuh hati kepada Soleh tentu bukan karena hartanya. Sang pujaan hati jauh dari kata kaya hanya satu tingkat lebih beruntung dari gelandangan. Gelandangan yang tidur di mana saja, termasuk di depan toko besar milik keluarga Nina. Meski sesekali Soleh sempat menjadi Tuna wisma yang tidur di mana saja.

Soleh pun pernah tidur di depan toko milik keluarga Nina bersama teman-teman senasibnya. Kala itu ia kehabisan ongkos untuk pulang setelah beradu nasib di kota. Mencari peruntungan dengan secarik ijazah SMP miliknya.

Nina terkenal sebagai gadis tercantik di kampusnya, IKIP Bandung. Institut yang mengkhususkan mencetak pendidik-pendidik terampil dalam hal mengajar. Nina ingin sekali menjadi Guru. Menjadi saksi tumbuhnya generasi penerus negeri. Sekalipun orangtuanya bersikeras ingin anaknya menjadi seorang dokter. Saat itu mempunyai anak seorang dokter adalah sebuah kebanggaan tak terhingga. Nina menolak tegas, ia ingin menjadi Guru. Orangtuanya luluh setelah Nina mengancam meninggalkan rumah.

Sebenarnya Nina sosok wanita yang baik. Halus hati dan lembut tutur katanya hanya jika menyangkut kemauan dirinya tak ada yang bisa melarang bahkan orangtuanya. Egois satu-satu celah keburukan sifat Nina.

Pertemuan Nina dan Soleh sungguh tidak romantis. Jauh dari bayangan film remaja. Kala itu Nina bertugas menjaga Toko menggantikan orangtuanya yang sedang mengurus bisnis lain. Sudah menjadi rahasia umum bisnis keluarga Nina menggurita ke segala bidang.

Gelandangan yang melepas lelah di depan toko keluarga Nina masih berkelana di alam mimpi mereka termasuk Soleh. Ia kelelahan setelah menerima belasan penolakan dari tempatnya melamar kerja. Dunia nyata begitu kejam terhadap orang yang tidak mempunyai Ijazah dengan gelar dibelakang nama, paling tidak begitulah pikir Soleh. Saat itu jumlah sarjana masih hitungan jari, mudah sekali mendapat kerja untuk seorang sarjana. Soleh hanya lulusan SMP tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah sekalipun seluruh kampungnya tahu ia anak paling cerdas.

Di dunia mimpinya Soleh boleh Jumawa. Makan enak, bidadari setia menyuapinya. Sekarang ia menuju kolam susu untuk berenang.

"Byuurrr," Soleh terbangun badannya basah kuyup. Di depannya memang ada bidadari bernama Nina.

Pertemuan yang menjadi awal dari kisah cinta mereka. Kelak akan  cerita tersendiri mengapa mereka mampu saling suka walau benteng bernama kasta menjulang tinggi.

15 tahun berselang. Nina berubah banyak, Ia nampak kusam dengan beberapa uban menghiasi rambutnya. Berdagang makanan keliling ditemani kedua anaknya, Dika dan Putra. Perasaan tak mengenakan tetiba ia rasakan. Khawatir dengan Soleh yang 13 tahun sudah menjadi suaminya. Memberikan tiga buah hati. Suami sedang sakit tapi memasakan bekerja untuk biaya sekolah anak sulung mereka.

"Soleh, kamu dipanggil Pak Adnan," seorang teman sesama kuli bangunan menghampiri Soleh.

Dengan jalan terpincang ia mendekati Pak Adnan. Mandor proyek pembangunan perumahan mewah yang sedang ia kerjakan.

"Soleh, Kadieu maneh," Pak Adnan menunjuk Soleh untuk segera menghampiri. Wajah marah tak bisa disembunyikan. Jarak Soleh dengan Pak Adnan hanya dua meter. Tanpa diduga Pak Adnan mengepal tangannya lalu melesakan pukulan keras ke perut Soleh. Soleh terkapar tanpa tahu kesalahannya.

Gelora Baca di Islamic Book Fair

"Buku teman duduk paling setia."

Kata bijak yang sering kita temui di perpustakaan serta toko buku termuka. Membaca cara termudah melihat dunia dan buku adalah media terbaiknya. Tak terhitung manfaat membaca yang sudah disosialisasikan pemerintah, komunitas, pengiat budaya, litera.

Islamic book fair 2016 menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan budaya litera (menulis dan membaca). Ikatan penerbit Indonesia wilayah Jawa barat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa barat menjadi penyelenggara kegiatan yang berlangsung di masjid Pusdai (pusat dawah Islam).

Acara Islamic book fair yang berlangsung selama satu pekan dari tanggal 3 hingga 10 Mei 2016 dimeriahkan oleh puluhan stand buku dari berbagai penerbit, tentunya menjual buku dengan diskon hingga 70%. Potongan harga yang menggiurkan pembaca. Cukup mudah untuk menemukan buku bagus hanya dengan label harga 10 hingga 20 ribu rupiah.

Pembukaan Islamic book fair diawali pidato sekaligus ajakan Sekda Pemprov Jabar, Pak Iwa untuk mengajak sanak saudara untuk membeli buku di ajang Islamic book fair. Beliau juga mewakafkan 100 buku yang akan dibeli di ajang tersebut.

Tidak hanya dimeriahkan oleh bazar buku murah. Pameran replika mummy firaun pun banyak diminati pengunjung untuk dijadikan bahan tafakur diri. Bahwa kesombongan manusia membawanya pada kehancuran. 10 ribu rupiah nilai yang harus dibayarkan untuk melihat pemutaran video sejarah firaun serta menyaksikan mummy replika yang terbaring di beberapa sudut. Membayar dengan nominal 10 ribu cukup sepadan dengan ilmu yang didapatkan.

Di podium utama rentetan kegiatan bedah buku, workshop dan hiburan berupa nasyid menjadi pelengkap kemeriahan Islamic book fair 2016. Di hari terakhir pun ratusan pengunjung dari berbagai golongan memadati stand-stand dan pameran mummy. Beberapa lainnya sedang asyik menyimak acara workshop bertemakan parenting.

Kegiatan Book fair skala besar selalu dilaksanakan empat kali dalam setahun atau pertiga bulan sekalian di kota Bandung. Sinergi pemerintah dengan Ikatan penerbit Indonesia (IKAPI) mengadakan acara yang membudayakan minat membaca. Sebagai bentuk real dari upaya meningkatan minat membaca di kalangan masyarakat yang masih rendah

Survei yang dipublikasikan lembaga Programmme for International Student Assessment (PISA) di 2015 tentang kemampuan membaca siswa.
Hasil survei menyebutkan, kemampuan membaca siswa di Indonesia menduduki urutan ke 69 dari 76 negara yang disurvei. Hasil tersebut lebih rendah dari Vietnam yang menduduki urutan ke 12 dari total negara tersebut.

Rendahnya minat baca di Indonesia juga diberdasarkan hasil survei yang menyebutkan, rata-rata orang Indonesia menonton televisi per hari selama 300 menit. Padahal negara-negara yang memiliki kemampuan membaca tinggi, hanya menonton televisi 60 menit.

Islamic book fair 2016 di masjid Pusdai menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan minat baca sekaligus menjawab survei dari PISA bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya punya potensi untuk membudayakan kegiatan membaca.

Pesimisme budaya baca masyarakat Indonesia dalam kegiatan itu tak terlihat. Banyak sekali anak SMA berlomba membeli buku favoritnya. Sering ditemukan seorang anak membawa kantong yang dipenuhi tumpukan buku hasil buruannya. Fakta membanggakan yang saya saksikan.

Semoga minat baca masyarakat Indonesia terus meningkat sekalipun acara book fair telah usai. Kemajuan suatu bangsa diukur dari seberapa banyak masyarakatnya mencintai budaya membaca dan menulis. Jika ingin mengetahui seluruh isi dunia maka membacalah. Jika ingin diketahui seluruh dunia maka menulisnya.

posted from Bloggeroid

Tuesday, May 17, 2016

Jarak Bagian 16 "Muslihat"

Sebelum membaca cerbung jarak alangkah baiknya membaca bagian sebelumnya untuk menelusuri benang merah cerita. Klik di sini "Jarak 15"

Adli terkapar pukulan telak dari Gilang menghujam pelepis dan hidungnya. Darah segar mengalir. Adli pingsan setelah menyadari hidungnya mengeluarkan cairan merah. Sakit jelas terasa tapi sebenarnya Adli tak sepenuhnya pingsan. Ia berusaha memperkeruh suasana dengan pura-pura tak berdaya

Setelah meluapkan emosi. Gilang kembali duduk di bangkunya. Menatap tak peduli anak ketua komite yang sedang berakting pingsan. Fika, Jama serta Teguh menatap heran ke Gilang. Mereka tahu belum saatnya menghakimi perbuatan sahabatnya. Amarah tidak stabil. Nasihat apapun tak akan Gilang dengar.

Sebagian besar siswa mengelilingi Adli kecuali tiga sahabat Gilang. Beberapa berinisiatif membawanya ke UKS. Sebelum sempat mengangkat tubuh Adli, Bu Mey sudah datang seketika memasang muka terkejut.

"Cepat bawa Adli ke UKS," wajah keibuann Bu mey berubah ke dalam raut tegasnya.

Tiga orang siswa sudah bersiap mengangkat tubuh Adli dan membawanya ke UKS. Bu Mey memasang mode amarah bersiap mencari dalang dari kejadian pemukulan Adli.

"Siapa yang...," sebelum tuntas mulut Bu Mey melafalkan kata selanjutnya. Gilang dengan berani berdiri mengakui segala bentuk kekhilafannya.

Wajah Bu Mey seketika berubah. Menatap dengan sendu kepada seorang anak yang sangat ia sayang. Teringat ketika Ibunya Gilang berkaca-kaca meminta bantuan Bu Mey untuk menjaga Gilang seperti anaknya sendiri. Ketika tiga hari Gilang tak masuk sekolah perasaan khawatir hinggap di dada Bu Mey. Kemungkinan paling buruk sempat menghampiri pikirannya, takut Gilang berhenti sekolah.

Bu Mey dan Ibunya Gilang, Dulu adalah sahabat karib. Layaknya gerombolan tiga bebek satu angsa. Selalu bersama kemana pun kakinya melangkah. Gilang sudah Bu Mey anggap seperti anaknya.

Di ruang UKS. Adli terbangun mengakhiri aktingnya yang layak mendapatkan piala citra. Ketiga temannya terkejut melihat Adli tampak sehat setelah mengusap darah dari hidungnya.

"Keterlaluan Gilang. Pukulannya lumayan," setengah meringis ia berucap kemudian tersenyum licik.

Ketiga temannya diancam untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada siapapun. Tiga kepala menangguk pertanda setuju dengan kesepakatan yang Adli buat. Lembar uang rupiah Adli berikan sebagai kompensasi kebohongan mereka. Begitu licik untuk ukuran anak SD.

Adli merogok sakunya mengeluarkan benda paling ajaib saat itu. Handphone dengan dimensi tebal sudah ia pegang. Jarinya lincah mengetik beberapa kata. Tak perlu menunggu lama. Pak Adnan menerima pesan penuh kebohongan anaknya. Ia bergegas menuju proyek pembangunan perumahan.

Keringat mengucur deras. Ayah Gilang berjibaku dengan tumpukan bata merah menyusunnya hingga berbuku-buku. Tetiba tumpukan bata merah jatuh menimpa kakinya. Teriakan kesakitan ia pendam. Tidak mau membuat teman-temanya panik. Kakinya membiru menyisakan luka linu. Andai tak ada istri dan ketiga anaknya sudah dari lama ia menyerah terhadap takdir.

Kesan mendalam

Menulis mengajarkanku merekam semua kejadian melalui kata. Kelak tulisan-tulisan itu akan menjadi bukti sejarah bahwa aku pernah hidup di dunia. Bukan hanya menumpang makan serta menghabiskan jatah usia tanpa karya.

Super writer 6. Gerakan penuh kebaikan yang digagas oleh Kang Yovie Kyu. Penulis berbakat asal Bandung. Ia mempunyai visi untuk membina penulis-penulis hebat yang mampu menyebarkan kebaikan melalui tulisan. Visi mulai memang. Melahirkan penulis untuk menyemai bibit kebaikan melalui rangkaian kata.

Awalnya saya sempat ragu untuk mengikuti pelatihan berbasis online di Super writer 6. Itu dikarenakan alasan klasik. Kesibukan dan ketidakmampuan membagi waktu menjadi dasar alasan itu muncul. Seketika keyakinan untuk mengikuti pelatihan itu muncul entah darimana. Saya hubungi kontak penyelenggara lalu mengisi formulir dan memenuhi beberapa persyaratan.

Beberapa hari setelah itu. Sebuah pemberitahuan dari WhatsApp bahwa saya sudah resmi menjadi bagian dari sebuah pelatihan menulis yang kelak akan sangat berguna nantinya. Tak terguna saya adalah peserta pertama yang menghuni grup bersama beberapa mentor yang tentunya nanti akan bertindak sebagai penyelenggara.

Waktu pelatihan tiba. Jantung saya berdetak lebih kencang menandakan sebuah ketegangan. Genderang petang terhadap alasan untuk malas menulis sudah ditabuh. Saya dalam hati berkata untuk terus bertahan hingga akhir pelatihan.

Tantangan pertama telah disuguhkan. Menulis diary menjadi pembuka pelatihan. Saya menulis dengan cepat tanpa berpikir kesalahan dalam tanda baca. Kala itu hanya punya dua jam waktu untuk menyelesaikan tulisan karena amanah-amanah lainnya menanti untuk dikerjakan. Akhirnya dengan perjuangan tantangan pertama selesai. Ternyata saya orang pertama yang berhasil menyelesaikan tantangan pertama. Tentunya semangat semakin membara.

Tantangan dua. Saya kerjakan dengan srmangat yang masih sama. Membara di saat mengetik kata. Tantangan kedua sudah diselesaikan. Sehati setelah itu, Kang Yovie memberikan koreksi dalam hal tata bahasa. Pastinya banyak kesalahan karena saya menulis tanpa memikirkan Ejaan Bahasa Indonesia (EIB) yang benar.

Tantangan ketiga mengharuskan aku melakukan wawancara terhadap tokoh agama. Awalnya sedikit kesusahan menyesuaikan waktu dengan Ibu Ustadzah tetapi itu semua bisa dikikis dengan kemauan serta rasa pantang menyerah. Tulisan ketiga sudah selesai. Seperti biasa sehari setelah itu koreksi dari Kang Yovie tiba. Kali ini masih sama membahas tata bahasa yang memang menjadi kekurangan yang harus segera aku perbaiki.


Tantangan empat menjadi tantangan paling berkesan. Salah informasi menjadi tokoh utama. Di saat perjalanan menuju rumah. Saya melirik WhatsApp grup super writer yang memberitahukan tantangan berikut. Fatalnya saya hanya membahas sekilas lalu bergegas menulis. Sehari setelah itu saya tersentak kaget. Kritikan dari Kang Yovie tidak membahas tata bahasa tetapi menyoroti kecerobohan yang menulis diluar perintah. Malu mendera. Meminta maaf untuk tidak mengulangi sudah aku ucapkan. Kang Yovie berbesar hati itu memaafkan kesalahan fatal dan memalukan yang telah saya perbuat.

Tantangan demi tantangan telah diselesaikan. Hingga tibalah tantangan untul menulis puisi di sosial media yang harus mendapatkan komentar dari teman-teman di dunia maya. Sebenarnya sudah lama tidak menulis puisi serta tidak yakin akan mendapatkan komentar. Maklum akhir-akhir ini saya tidak terlalu aktif di sosial media. Seorang teman di grup super writer mengusulkan ide untuk saling menambahkan teman di akun facebook serta saling berkomentar terhadap puisi yang diterbitkan dalam sebuah status facebook. Tantangan delapan itu sungguh mengasyikan saling berkomentar serta mengkritisi dengan cara santun menjadikannya menyenangkan. Tentu dengan nilai plus lebih kenal rekan seperjuangan dalam pelatihan super writer.

Kesan paling indah dihadirkan gerakan penuh kebaikan bernama super writer. Di sana saya ditempa untuk menjadi pribadi yang menghargai waktu. Beberapa teman yang belum mampu menyesuaikan ritme menulis terpaksa dikeluarkan dan saya tidak ingin kejadian itu menimpa. Banyak nilai kehidupan yang saya dapat dari super writer. Semoga bisa bertahan hingga akhir.

posted from Bloggeroid

Monday, May 16, 2016

Jarak bagian 15 "Pukulan"

Hai pembaca. Selamat datang di cerbung jarak. Jika ada yang belum membaca jarak bagian sebelumnya tinggal klik



Suasana sekolah sedikit berbeda kali ini. Gilang yang sedari tadi mengangkat kerah baju Adli, kini positif berada di puncak marah. Jantungnya berdetak lebih kencang. Wajah merah menyala.
Mata melotot seolah akan meloncat dan melumat Adli.

Belum pernah Teguh dan Jama melihat Gilang semarah itu. Setajam apapun mulut orang lain menghinanya ia berusaha tetap sabar.
Terkadang mereka berdua heran terbuat dari apa hati Gilang. Pernah sewaktu hari, ketika mereka beristirahat di samping trotoar jalan. Seorang bocah melintas seperti kilat membuang tisu dengan balutan lendir hidung tepat mengenai wajah Gilang.

Teguh berujar "Nggak punya sopan santun tuh manusia. Buang sampah di muka orang."

"Aku kejar Lang," Jama melangkahkan kaki sembari mengepal tangan.

"'Udah Jama, biarin aja. Aku nggak kenapa-kenapa kok," Gilang tersenyum.

Gilang yang mereka lihat kali ini sungguh berbeda. Kesabarannya sudah jebol diterobos mulut sampah Adli.

"Ayo Lang, pukul aku. Katanya kamu hebat ?" Wajah memuakkan Adli kembali menyulut emosi.

"Ah pecundang. Dasar anak kuli bangunan," Adli tersenyum bangga.

Gilang melepaskan pegangan tangan dikerah baju Adli. Bersiap mengambil ancang -ancang melancarkan pukulan.

"Puuuuk," Pukulannya kena tapi bukan mengenai Adli. Tangan Jama tangkas memegang pukulan penuh kemarahan Gilang.

Hanya berjarak dua meter. Adli tertawa melihat amarah Gilang yang sedang menyala tertahan oleh temannya sendiri.

"Dasar bebek-bebek miskin. Nggak punya nyali. Nyalinya cuma buat ngutang.
 Contohnya orangtua kalian yang hutanganya setumpukan gunung." Adli berkata begitu jumawa.

 Memang benar hampir semua orang yang keterbatasaan ekonomi meminta pinjaman ke Pak Adnan, ayahnya Adli.

Gilang hanya bisa menunduk beberapa detik. Meratapi perkataan Adli. Seketika ia melesat tak sempat ditahan Teguh dan Jama.

"Puuuug," pukulan keras mengenai Adli. Darah segar mengalir dari hidungnya.

Suasana kelas berakhir rusuh. Adli pingsan sebelum mengucapkan kata ancaman. Tak perlu menunggu lama Bu Mey akhirnya tiba.

Friday, May 13, 2016

JANGAN TERJADI LAGI

Degradasi moral kian terasa. Kepedulian terhadap sesama perlahan mulai pudar. Semboyan gotong royong seperti pepesan kosong. Berbagai permasalahan hadir di negeri pertiwi. Kasus korupsi semakin menjadi. Narkoba menyasar segala lapisan. Belum lagi teroris, lambat laun menunjukan taji. Kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur pun seolah tak mau kehilangan pamor.

Negeri sejuta keindahan bernama Indonesia sedang diuji oleh terpaan masalah. Lewat media pemberitaan negatif terus mengalir deras. Baru seminggu berita bahagia pembebasan tawanan di filipina menjadi penyegar mata, namun itu semua hanya bertahan beberap hari. Peristiwa yang menguras airmata kembali hadir. Di sudut lain Indonesia, gadis berusia 14 tahun harus kehilangan nyawa. Pilu memang ketika pemberitaan tersebut menjadi viral di dunia maya. Awalnya tak percaya menyangka berita itu hanya hoax semata. Tidak memerlukan waktu 24 jam. Pemberitaan di televisi menyiarkan kejahatan paling keji. Di mata dunia, Indonesia yang terkenal dengan penduduk ramahnya harus menelan pil pahit menyaksikan peristiwa memilukan. Kejadian tersebut semakin menambah deretan citra negatif di tanah air.

Generasi muda Indonesia berperan mengurai benang kusut permasalahan yang terjadi di bumi pertiwi. Tapi sungguh disayangkan. Oknum penerus negeri bertindak sebaliknya. Kasus pelecehan berujung pembunuhan oleh 14 pemuda merusak semangat memperbaiki negeri. Tamparan keras bagi semua komponen bangsa. Bahwa kejahatan seperti itu selayaknya dibumi hanguskan.

Bengkulu menjadi saksi biadabnya anak manusia yang merenggut harga diri sekaligus nyawa seorang gadis berumur 14 tahun. Pelecehan terhadap anak di bawah umur terus berulang, pemerintah seakan tutup mata tidak berupaya melakukan pencegahan.

Kasus asusila yang menyeret artis dangdut ibukota bukan ending dari deretan kejahatan keji berbentuk pedofil. Wacana pemberian hukum berat kepada pelaku tak kunjungi menemukan kepastian. Payung hukumnya pun belum jelas. Media menyiarkan berbagai perdebatan alot mengenai hukuman paling layak untuk pelaku pedofil.

Peran pemerintah sebagai pelindung warga negaranya kembali dipertanyakan. Dulu, pemberitaan kasus Angline marak sekali menghiasi media. Ia dibunuh oleh ibu angkatnya. Masyarakat berharap itu kasus keji terakhir terhadap anak namun impian hanya sekedar impian. Semoga peristiwa YY bukan sekedar kehebohan media guna mencari rating saja. Tindak lanjut penanganan kasusnya  harus diikuti sampai menemukan titik terang berupa keadilan.

Tak berselang setahun dari peristiwa Angline. Kasus bombastis muncul lagi. Kali ini korbannya berinisial YY. Seorang gadis berprestasi asal bengkulu. Menurut penuturan keluarga dekatnya. YY selalu masuk lima besar selama bersekolah ditingkat SMP. Sungguh disayangkan. Gadis potensial itu harus meregang nyawa dengan cara paling biadab.

Tak terbayang setan jenis apa yang merasuk ke dalam tubuh 14 pemuda tanggung tersebut. Sehingga tega melakukan perbuatan tercela kepada siswi SMP. Bukan hanya moralnya telah hancur tapi rasa kemanusiaan mereka patuh dipertanyakan. Pengaruh minuman keras dan video porno menjadi alasan di balik kasus yang menimpa gadis jelita.

Sesungguhnya yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Apakah layak 14 tersangka itu disebut manusia ? Hukuman tegas bagi pelaku pedofil tak bisa ditawar lagi. Kekejaman tersebut sudah selayaknya diberantas bahkan seharusnya dicegah sebelum merenggut korban lagi.

Entah berapa banyak YY lainnya yang mengalami kasus serupa hanya tidak diangkat media. Mari kita berpegangan tangan membentuk benteng terkuat agar peristiwa keji tidak terjadi lagi. Semua komponen negeri bersatu bersama mengatasi masalah bangsa. Jangan biarkan kasus serupa muncul kembali.