Friday, May 13, 2016

JANGAN TERJADI LAGI

Degradasi moral kian terasa. Kepedulian terhadap sesama perlahan mulai pudar. Semboyan gotong royong seperti pepesan kosong. Berbagai permasalahan hadir di negeri pertiwi. Kasus korupsi semakin menjadi. Narkoba menyasar segala lapisan. Belum lagi teroris, lambat laun menunjukan taji. Kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur pun seolah tak mau kehilangan pamor.

Negeri sejuta keindahan bernama Indonesia sedang diuji oleh terpaan masalah. Lewat media pemberitaan negatif terus mengalir deras. Baru seminggu berita bahagia pembebasan tawanan di filipina menjadi penyegar mata, namun itu semua hanya bertahan beberap hari. Peristiwa yang menguras airmata kembali hadir. Di sudut lain Indonesia, gadis berusia 14 tahun harus kehilangan nyawa. Pilu memang ketika pemberitaan tersebut menjadi viral di dunia maya. Awalnya tak percaya menyangka berita itu hanya hoax semata. Tidak memerlukan waktu 24 jam. Pemberitaan di televisi menyiarkan kejahatan paling keji. Di mata dunia, Indonesia yang terkenal dengan penduduk ramahnya harus menelan pil pahit menyaksikan peristiwa memilukan. Kejadian tersebut semakin menambah deretan citra negatif di tanah air.

Generasi muda Indonesia berperan mengurai benang kusut permasalahan yang terjadi di bumi pertiwi. Tapi sungguh disayangkan. Oknum penerus negeri bertindak sebaliknya. Kasus pelecehan berujung pembunuhan oleh 14 pemuda merusak semangat memperbaiki negeri. Tamparan keras bagi semua komponen bangsa. Bahwa kejahatan seperti itu selayaknya dibumi hanguskan.

Bengkulu menjadi saksi biadabnya anak manusia yang merenggut harga diri sekaligus nyawa seorang gadis berumur 14 tahun. Pelecehan terhadap anak di bawah umur terus berulang, pemerintah seakan tutup mata tidak berupaya melakukan pencegahan.

Kasus asusila yang menyeret artis dangdut ibukota bukan ending dari deretan kejahatan keji berbentuk pedofil. Wacana pemberian hukum berat kepada pelaku tak kunjungi menemukan kepastian. Payung hukumnya pun belum jelas. Media menyiarkan berbagai perdebatan alot mengenai hukuman paling layak untuk pelaku pedofil.

Peran pemerintah sebagai pelindung warga negaranya kembali dipertanyakan. Dulu, pemberitaan kasus Angline marak sekali menghiasi media. Ia dibunuh oleh ibu angkatnya. Masyarakat berharap itu kasus keji terakhir terhadap anak namun impian hanya sekedar impian. Semoga peristiwa YY bukan sekedar kehebohan media guna mencari rating saja. Tindak lanjut penanganan kasusnya  harus diikuti sampai menemukan titik terang berupa keadilan.

Tak berselang setahun dari peristiwa Angline. Kasus bombastis muncul lagi. Kali ini korbannya berinisial YY. Seorang gadis berprestasi asal bengkulu. Menurut penuturan keluarga dekatnya. YY selalu masuk lima besar selama bersekolah ditingkat SMP. Sungguh disayangkan. Gadis potensial itu harus meregang nyawa dengan cara paling biadab.

Tak terbayang setan jenis apa yang merasuk ke dalam tubuh 14 pemuda tanggung tersebut. Sehingga tega melakukan perbuatan tercela kepada siswi SMP. Bukan hanya moralnya telah hancur tapi rasa kemanusiaan mereka patuh dipertanyakan. Pengaruh minuman keras dan video porno menjadi alasan di balik kasus yang menimpa gadis jelita.

Sesungguhnya yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Apakah layak 14 tersangka itu disebut manusia ? Hukuman tegas bagi pelaku pedofil tak bisa ditawar lagi. Kekejaman tersebut sudah selayaknya diberantas bahkan seharusnya dicegah sebelum merenggut korban lagi.

Entah berapa banyak YY lainnya yang mengalami kasus serupa hanya tidak diangkat media. Mari kita berpegangan tangan membentuk benteng terkuat agar peristiwa keji tidak terjadi lagi. Semua komponen negeri bersatu bersama mengatasi masalah bangsa. Jangan biarkan kasus serupa muncul kembali.



Reactions:

3 comments:

E Caswatie Sodikin said...

menyala untuk yuyun agil :(

Deasy Windayanti said...

Aku selalu nangis tiap kali membaca berita ttg Yuyun.
Tak terbayang betapa sakit fisik gadis kecil itu menjelang ajal. Pun betapa pedih hati keluarga yg ditinggalkannya.😭.

Bang Gilang, salut deh bisa nulis sekeren ini.
Udah ala2 jurnalis gitu bahasanya 😊.

Deasy Windayanti said...

Aku selalu nangis tiap kali membaca berita ttg Yuyun.
Tak terbayang betapa sakit fisik gadis kecil itu menjelang ajal. Pun betapa pedih hati keluarga yg ditinggalkannya.😭.

Bang Gilang, salut deh bisa nulis sekeren ini.
Udah ala2 jurnalis gitu bahasanya 😊.