Wednesday, May 11, 2016

Jarak Bagian 12 "Meregang Nyawa"


 Hai pembaca. Selamat datang di cerbung jarak. Jika ada yang belum membaca jarak bagian sebelumnya tinggal klik

Jarak bagian kesatu
Jarak bagian kedua
Jarak bagian ketiga
jarak bagian keempat
Jarak bagian kelima
Jarak bagian keenam
Jarak bagian ketujuh
Jarak bagian kedelapan
Jarak bagian kesembilan
Jarak bagian kesepuluh
Jarak bagian kesebelas

Selamat membaca


Nyala api memakan apapun yang disentuh. Menghanguskan segala bentuk kehidupan. Sama hal dengan api di sisi lain kehidupan. Amarah, bentuk api tak terlihat namun mampu membakar segala termasuk rasa kemanusiaan. Orang-orang berjubahkan amarah tak bisa berpikir jernih. Segala sesuatu ia selesaikan dengan kekerasaan dengan sponsor utama yaitu dendam.

Gubuk kumuh perlahan terbakar. tiga pria kekar menebar tawa dengan tega. Segala bentuk kehidupan terpaksa meninggalkan raganya dibakar api dendam yang terlanjur sudah membara. Dendam telah merasuk ke hati gerombolan preman berbadan besar. Sekalipun mereka besar, ternyata perasaan mereka kerdil. Begitu tega menghancurkan kehidupan makhluk lain

"Tuman teuing budak teh," Pria kekar bertato berujar bahasa Sunda sembari menebar senyuman penuh kepuasaan.

"Nggak akan pernah lagi mereka menggangu kita," temannya berujar tak kalah sengit.

"Mereka sudah kena batunya," seketika gerombolan itu tertawa penuh kepuasan.

Asap hasil pembakaran membumbung tinggi meninggalkan gumpalan hitam di langit malam. Masyarakat sekitar mulai tersadar bahwa ada yang tidak beres di lingkungan mereka. Belasan mata tersentak kaget melihat gubuk rapuh sudah diselimuti api. Beberapa dari warga bergegas membawa ember untuk menghentikan api agar tidak terus menjalar. Termasuk Ibunya Fika yang jarak rumahnya kurang dari 20 meter dari lokasi gubuk terbakar.

Gerombolan preman yang tadi bertukar tawa sekarang mulai panik. Kesalaham fatal telah mereka lakukan. Tidak bergegas pergi terlalu sibuk dengan euforia membalaskan dendam sehingga lupa bahwa sudah banyak warga mendekati lokasi pembakaran. Satu dua warga merasa curiga ada kejadian tak biasa membakar gubuk tersebut. Benar saja. Ketika pandangan seorang warga tertuju kepada gerombolan preman yang di dekatnya masih ada jerigen minyak tanah. Tak perlu waktu lalu untuk menyimpulkan bahwa merekalah pelaku. Gerombolan preman sudah tahu bahwa sorot mata warga menuduh mereka.

Secepat kilat mobil jeep sudah mereka masuki meninggalkan tempat pembalasan dendam. Beberapa warga berteriak dengan basa sunda kental

"Etah pelakuna kabur,"

Sebelum teriakan makin gabuh, timah panas sudah melesat menembus ban mobil jeep yang ditumpangi gerombolan preman. Beberapa polisi bergegas melumpuhkan mereka dengan cekatan. Di balik kegelapan Fika muncul dengan senyuman.

Senyuman dari bibir Fika tak mampu bertahan lama. Ia merenung sedih melihat gubuk di depannya hanya menyisakan bongkahan hitam. Semua makhluk yang berada di gubuk itu sudah meregang nyawa.

40 menit yang lalu Joni masih berlari. Hendak menyampaikan sesuatu yang penting pada Gilang dan Jama. Apa yang hendak ia sampaikan hanya dirinya yang tahu.

Reactions:

12 comments:

lisa lestari said...

Aku nangis bacanya. Ibu dan adiknya Gilang bagaimana?

lisa lestari said...

Aku nangis bacanya. Ibu dan adiknya Gilang bagaimana?

Ciani L said...

Tegaa... T_T

Wiwid Nurwidayati said...

Iya IBU Dan adiknya Gilang bagaimana?

Na said...

Itu gubuk jama atau gilang ya yg dibakar?

denik said...

Duh...merinding ngebayangin korban kebakaran itu.

HERU WIDAYANTO said...

Trenyuh baca nasib penghuni gubuk itu ...
Duhhh

Ainayya Ayska said...

Iya nih, mba Na... diriku juga bingung hendak bertanya.

Samrotul Mahmudah said...

duhh gmana nasibnya ya

E Caswatie Sodikin said...

wish Allah protect u always huhu

mual limah said...

fika dan Joni... penasaran sm mrk, ,

Miftahul Rohmah said...

Fikaa keren banget,