Thursday, May 12, 2016

Jarak bagian 13 "Tipuan"

Hai pembaca. Selamat datang di cerbung jarak. Jika ada yang belum membaca jarak bagian sebelumnya tinggal klik


Selamat membaca

Suasana malam semakin mencekam. Sesekali terdengar suara jangkrik beradu gema dengan hening tiada surya. Dalam kegelapan malam terlihat sesosok bocah yang teramat peluh, menguras seluruh tenaga untuk sampai di sebuah gubuk tua.

Di tempat lain, Fika menangis terisak-isak. Menatap nanar puing-puing sisa kebakaran hebat. Sebulir air bening menetes perlahan.
Beberapa menit setelahnya isaknya semakin keras. Polisi berusaha menenangkan bahwa penjahatnya akan di hukum berat. Perkataan polisi tidak Fika hiraukan. Suara tangisnya naik beberapa oktaf. Ibu Fika menghampiri sembari memeluknya kemudian berbisik

"Setidaknya kamu sudah merawatnya dengan baik," tangisan Fika perlahan mereda. Pelukannya semakin erat. Malam penuh airmata menemukan titik lelahnya.

Beberapa jam lalu, di tempat berbeda. Bocah yang sedari tadi berlari telah kehabisan tenaga. Joni pingsan setelah mengetuk pintu. Jama keluar menatap Joni dengan ribuan pertanyaan. Sontak Jama berteriak

"Toloooooong,"

Keluarga Jama menghampiri sumber suara. Memapah Joni untuk beristirahat di dipan rumahnya. Mereka menunggu dengan cemas. Beberapa saat setelahnya Joni mulai berangsur siuman berkata terbata-bata.

"Jama, Kamu dan Gilang dalam bahaya. Preman itu akan mengejar kalian," Jama perlu beberapa saat memahami suara terbata-bata temannya. Sebelumnya akhirnya mengerti.

"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu Jon," sebenarnya Jama ingin sekali mendengar kelanjutan cerita Joni, namun dirinya terlalu iba melihat kondisi temannya yang penuh luka.

"Aku kabur dari sekapan mereka setelah memberitahukan sesuatu. Aku telah...," Tetiba Joni kembali kehilangan kesadarannya.

Di tengah puing sisa kebakaran. Fika duduk termenung didampingi Ibunya. Sudah sejak lama Ibunya berkata agar ia segera pulang. Namun kali ini Fika terlihat emosional sesuatu hal berharga harus ia melepas begitu saja. Garis police line sudah tuntas melingkari lokasi pembakaran. Kali ini polisi berusaha membujuk gadis kecil itu untuk segera pulang. Gagal dan gagal, bujukan semanis apapun tak meluluhkan hati Fika.

"Fika, pulang yuk ? Besok kita sekolah," suara seseorang membuat Fika melirik.

"Gilang, Kamu di sini ?"

"Iya, tadi aku di suruh Ibu membeli obat. Adikku sedang sakit panas. Katanya ada
kebakaran di dekat rumahmu. Aku khawatir lalu pergi kesini."

"Iya, Lang. Preman jahat itu tega membakar gubuk tempat tiga kucing ku tinggal," Kali ini wajah sedih sangat kentara terlihat lewat kelopak mata Fika.

Gubuk tua tanpa penghuni telah terbakar menyisakan kepedihan mendalam untuk Fika. Joni berbohong menyebutkan gubuk tanpa penghuni sebagai rumah Jama. Pasal percobaan pembunuhan menjadi landasan untuk menjebloskan gerombolan preman ke dalam penjara.
Hening malam makin syahdu, Fika merenung dalam rumah. Tetiba suara ganjil mendekatinya.

"Meooow,"

"Meooow,"

Satu kucing dewasa menghampri diikuti kedua kucing kecil berwajah lucu. Fika kembali berseri menampakan paras tercantiknya.

Reactions:

7 comments:

Ciani L said...

Yuhuu... Joni asal ga sih nunjukin gubug itu? Tau ga sih klo itu tempat kucingnya fika??

*hhee.... Napas lega dulu, semua aman.

Ainayya Ayska said...

Ternyata oh ternyata.. hehehe

lisa lestari said...

Hahahah, Gilaaang, gemes jadinya, lega, seneng, bukan gubuk gilang ataupun jama yg dibakar

denik said...

Hehehe...sesuai dengan judulnya.

Wiwid Nurwidayati said...

Syukurlah.lega membacanya

Na said...

Humornya itu loh yang bikin betah ngikutin ceritanya.
serasa didorong ke parit, habis itu di tangkap sebelum jatuh beneran. hehehe

Miftahul Rohmah said...

Huuuaa kirain gubuk gilang 😂 hmmm ini penulisnya kece niih 😀