Tuesday, May 17, 2016

Jarak Bagian 16 "Muslihat"

Sebelum membaca cerbung jarak alangkah baiknya membaca bagian sebelumnya untuk menelusuri benang merah cerita. Klik di sini "Jarak 15"

Adli terkapar pukulan telak dari Gilang menghujam pelepis dan hidungnya. Darah segar mengalir. Adli pingsan setelah menyadari hidungnya mengeluarkan cairan merah. Sakit jelas terasa tapi sebenarnya Adli tak sepenuhnya pingsan. Ia berusaha memperkeruh suasana dengan pura-pura tak berdaya

Setelah meluapkan emosi. Gilang kembali duduk di bangkunya. Menatap tak peduli anak ketua komite yang sedang berakting pingsan. Fika, Jama serta Teguh menatap heran ke Gilang. Mereka tahu belum saatnya menghakimi perbuatan sahabatnya. Amarah tidak stabil. Nasihat apapun tak akan Gilang dengar.

Sebagian besar siswa mengelilingi Adli kecuali tiga sahabat Gilang. Beberapa berinisiatif membawanya ke UKS. Sebelum sempat mengangkat tubuh Adli, Bu Mey sudah datang seketika memasang muka terkejut.

"Cepat bawa Adli ke UKS," wajah keibuann Bu mey berubah ke dalam raut tegasnya.

Tiga orang siswa sudah bersiap mengangkat tubuh Adli dan membawanya ke UKS. Bu Mey memasang mode amarah bersiap mencari dalang dari kejadian pemukulan Adli.

"Siapa yang...," sebelum tuntas mulut Bu Mey melafalkan kata selanjutnya. Gilang dengan berani berdiri mengakui segala bentuk kekhilafannya.

Wajah Bu Mey seketika berubah. Menatap dengan sendu kepada seorang anak yang sangat ia sayang. Teringat ketika Ibunya Gilang berkaca-kaca meminta bantuan Bu Mey untuk menjaga Gilang seperti anaknya sendiri. Ketika tiga hari Gilang tak masuk sekolah perasaan khawatir hinggap di dada Bu Mey. Kemungkinan paling buruk sempat menghampiri pikirannya, takut Gilang berhenti sekolah.

Bu Mey dan Ibunya Gilang, Dulu adalah sahabat karib. Layaknya gerombolan tiga bebek satu angsa. Selalu bersama kemana pun kakinya melangkah. Gilang sudah Bu Mey anggap seperti anaknya.

Di ruang UKS. Adli terbangun mengakhiri aktingnya yang layak mendapatkan piala citra. Ketiga temannya terkejut melihat Adli tampak sehat setelah mengusap darah dari hidungnya.

"Keterlaluan Gilang. Pukulannya lumayan," setengah meringis ia berucap kemudian tersenyum licik.

Ketiga temannya diancam untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada siapapun. Tiga kepala menangguk pertanda setuju dengan kesepakatan yang Adli buat. Lembar uang rupiah Adli berikan sebagai kompensasi kebohongan mereka. Begitu licik untuk ukuran anak SD.

Adli merogok sakunya mengeluarkan benda paling ajaib saat itu. Handphone dengan dimensi tebal sudah ia pegang. Jarinya lincah mengetik beberapa kata. Tak perlu menunggu lama. Pak Adnan menerima pesan penuh kebohongan anaknya. Ia bergegas menuju proyek pembangunan perumahan.

Keringat mengucur deras. Ayah Gilang berjibaku dengan tumpukan bata merah menyusunnya hingga berbuku-buku. Tetiba tumpukan bata merah jatuh menimpa kakinya. Teriakan kesakitan ia pendam. Tidak mau membuat teman-temanya panik. Kakinya membiru menyisakan luka linu. Andai tak ada istri dan ketiga anaknya sudah dari lama ia menyerah terhadap takdir.

Reactions:

7 comments:

denik said...

Jadi membayangkan kerja keras seorang ayah demi keluarga.

lisa lestari said...

Waduh,.apa yang akan dilakukan Adli terhadap Gilang? Dag dig dug bacanya...serasa ada di dalam cerita

HERU WIDAYANTO said...

Licik bgt Adli ..
Sok kaya

Wiwid Nurwidayati said...

Harap harap cemas nasib gilang

Na said...

Jangan-jangan bapaknya Gilang mau di pecat sama Pak Adnan.

Ainayya Ayska said...

Sd saja liciknya macam tu. Gimana gedenya... hahaha

Ciani L said...

Yaahhh... Pingsan beneran dong dli..