Thursday, May 19, 2016

Jarak Bagian 18 "Harga Diri"

Jarak adalah cerita bersambung. Bagian sebelumnya dapat dibaca dengan cara mengklik "Jarak 17"

Soleh terkapar menatap kebingungan ke arah mandornya. Sakit menyesakan terasa diperut. Ia tak tahu apa yang menjadi alasan Pak Adnan memukulnya. Bosnya masih menatap dengan galak tak sedikit pun rasa bersalah mampir ke relung hatinya.

"Hey, Soleh didik anakmu itu agar tahu batasannya," Tatapan kebencian mengarah tajam.

"Saya tidak mengerti apa yang Bapak katakan," tatapan heran tercermin di wajah Soleh.

"Anakmu itu sok jagoan. Memukul anakku hingga pingsan," Geram Pak Adnan tidak bisa lagi disembunyikan.

"Sungguh saya tidak tahu Pak. Dengan rasa hormat saya meminta maaf sebagai Ayahnya Gilang," Sembari terduduk Soleh berkata lirih.

"Pukulan tadi sebagai peringatan untuk kamu dan anakmu. Kalian harus tahu batasan."

"Baik Pak sekali lagi saya minta maaf."

"Kamu pergi sana bekerja lagi. Ingatkan anakmu," Pak Adnan berbalik melangkah pergi menaiki mobil mewah.

"Baik Pak," Soleh berkata pelan sembari menatap punggung Pak Adnan.

Dalam hati Soleh ingin sekali membela anaknya. Membalas pukulan Pak Adnan namun itu terlalu berisiko. Dengan mudah ia bisa dipecat bahkan dipidanakan Bosnya. Soleh tidak mau Nina dan anak-anaknya bersedih. Tak apalah ia menelan sendiri penghinaan menyakitkan ini.

Soleh sangat tahu sifat-sifat anaknya. Tak mungkin Gilang memukul seseorang tanpa alasan. Anak sulungnya lebih memilih berdiam diri daripada menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Namun jika seseorang menghina keluarganya Gilang akan murka. Ketika marah tak ada seseorang pun yang menyangka. Wajah teduhnya berubah memerah.


**

Gilang pulang ke rumah memasang wajah lesu di sampingnya berdiri Bu Mey yang mengantarnya pulang sekaligus ingin bertemu Ibunya Gilang. Nina teman lama Bu mey semasa kuliah.

Nina sudah 30 menit berada di rumah. Dagangannya sisa banyak hanya beberapa orang yang membeli jualannya. Sungguh sangat berbeda dengan 15 tahun lalu. Dulu Nina seorang mahasiswi jurusan pendidikan sahabat karib Bu mey, Guru Gilang kini.

Ucapan salam mengalir halus dari mulut Bu Mey. Dibukalah pintu oleh Nina. Beberapa saat ia termenung melihat Mey. Sudah enam bulan semenjak Ia menangis memohon Mey agar mendidik anak sulungnya.

Pelukan hangat Mey dibalas Nina. Sahabat karib semasa kuliah bertemu kembali. Melepas haru dengan keadaan berbeda. Gilang nampak heran. Kenapa Bu Mey sangat akrab dengan Ibunya. Pikiran itu seketika hilang. Gilang lebih fokus memikirkan perbuatan yang telah ia lakukan di sekolah tadi pagi.

Memukul Adli, anak seorang ketua komite sekolah bukan perkara sederhana. Adli anak orang paling kaya di daerahnya. Tentu saja Gilang tahu itu. Tapi siapapun Adli tak akan Gilang biarkan menghina keluarga. Siapa pun akan ia lawan jika menyangkut harga diri orang yang ia cinta. Memang keluarganya miskin tapi kemiskinan bukan alasan untuk melegalkan hinaan semaunya mereka.

Nina menyuruh Gilang untuk mengasuh keduanya adiknya. Memintanya pergi karena ada hal penting yang akan Bu Mey ceritakan.

"Bu Nina," wajah Bu Mey terlihat serius.

"Sudahlah Bu Mey. Panggil saja saya Nina," Ibu Gilang tersenyum menatap teman lamanya.

"Kamu sendiri memanggil saya Ibu, Nina si gadis cerdas," kali ini Bu mey memasang senyum.

"Sudahlah, perjalanan hidup mengajarkanku banyak hal Mey. Julukan itu tertinggal jauh di masa lalu."

"Tapi engkau masih sosok yang sama Nina. Seseorang yang tangguh. Pantaslah Gilang itu anak kau. Engkau dulu paling tak suka dihina apalagi menyangkut orang yang kau cinta. Soleh misalnya." Mey tersenyum mengajak Nina mengenang masa lalu.

"Aku sekarang berbeda Mey. Tak lagi tangguh. Sekarang aku pasrah menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Mungkin ini hukuman karena dulu aku tak menuruti kemauan orangtua."

Mey tersenyum getir. Curhatan Nina 15 tahun lalu kembali ia ingat. Misinya menceritakan sikap Gilang di sekolah terlupakan.
d

Reactions:

7 comments:

Ciani L said...

Bu mey baik banget yahh... Persahabatan sejati mesti sudah banyak yang berubah.

Wiwid Nurwidayati said...

Itu satu paragraph sebelum paragraph akhir yg berbunyi " aku sekarang berbeda Nina." Nina harusnya mey bukan ya?

Ainayya Ayska said...

Ikut haru baca paragraf2 akhir...

Sakifah Ismail said...

Persahabatan..tak lekang zaman

lisa lestari said...

Bagaimana ceritanya Nina bisa jadi seperti sekarang? Sediih

HERU WIDAYANTO said...

Mbrebes mili baca episode ini Lang.

Na said...

Kalau gilang tau ttg keluarga ibunya bagaimana ya? Pasti seru tuh.
Bisa gigit jari bapaknya Adli nanti. Gantian ditonjok sama kakeknya gilang. Hehehe.😀😀