Friday, May 20, 2016

Jarak Bagian 19 "Berubah Rasa"

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 18"

Jarum jam berputar mundur dipikiran Mey. Ia sangat ingat 15 tahun lalu Nina datang padanya dengan derai air tak berhenti mengalir di pelupuk mata. Cinta selalu menemukan jalannya yang aneh. Tidak terduga sebelumnya seorang pria pengangguran bernama Soleh mampu meluluhkan hati gadis berpendidikan yang berasal dari keluarga kaya raya, Nina.

Sejak peristiwa penyiraman air yang dilakukan Nina. Benih-benih cinta bergejolak di hati Soleh. Belum pernah ia merasakan sesak di dada pertanda cinta. Awalnya Nina benci dengan Soleh. Banyak alasan yang melatarbelakingi kebenciannya. Ia tidur di depan tokonya, tersenyum menggelikan ketika di siram. Membuntuti kemanapun Nina pergi. Kesal itulah yang dirasakan Nina tapi semua rasa bencinya seketika hilang setelah peristiwa yang mengubah benci jadi cinta.

Malam itu Nina pulang sendiri. Kegiatan Unit mahasiswa memaksanya pulang larut. Di gerbang kampus yang sepi. Nina mendengar suara langkah kaki. Pikiran melayang ke pria yang mengesalkannya akhir-akhir ini

"Pasti dia mengikutiku," Ketus Nina.

Langkah kaki semakin mendekat menghampiri Nina. Ternyata yang muncul bukan Soleh. Pria berbadan tegap tersenyum penuh arti. Membawa pisau seolah akan menguliti Nina. Ia sudah tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Neng geulis. Minta duitlah," masih senyum sembari memainkan pisau.

Nina bergetar. Ia merogoh sakunya mencari uang bernilai paling kecil. Sepuluh ribu diberikan kepada preman itu.

"Maneh, ngahina, " Teriakan keras tanda tak terima dengan nominal rupiah yang diberikan.

"Hoyong sabaraha Kang ?" dengan suara terbata-bata Nina meminta preman itu menyebutkan nominal yang ia mau.

"Kabeh duit maneh, plus Neng geulis temenin Akang malam ieu," ekspresi marah berubah menjadi menggoda.

Tendangan dari Nina menjadi jawaban atas perkataan kotor preman. Lesakan tendangan membuat pria kekar itu mundur beberapa langkah. Preman tersenyum tendangan Nina dianggap seperti sentuhan romantis.

Pria kekar itu menyergap Nina. Memegang tangannya. Perbuatan tercela sebentar lagi akan preman itu lakukan. Secepat kilat pemuda kurus mengarahkan kepalan tangan dengan kecepatan luarbiasa. Cengkraman tangan preman terlepas dari Nina.

Nina berlari sekilas melihat wajah Pria juru selamatnya. Pria yang ia benci sekarang menyelamatkan harga dirinya.
Soleh berhadapkan dengan pria kekar. Tampak tak sebanding memang, namun dibalik tubuh kurusnya Soleh sudah terlatih menghadapi perkelahian. Kerasnya kehidupan membuatnya harus bermain dengan pukulan.

Kali ini preman menggunakan pisau untuk melawan Soleh. Ia menerjang mengarahkan pisau ke perut Soleh. Soleh menghindar berbalik badan kemudian mengeluarkan tendangan keras tepat di tangan preman tersebut. Pisaunya terlepas. Perkelahian tangan dimulai.

Preman itu kesulitan menghadapi paduan kekuatan dan kelincahan Soleh. Pria kekar terdesak. Nina kagum dengan beladiri yang dikuasai Soleh. Pria yang selalu mengikutinya kemanapun. Soleh tersenyum melihat ke arah Nina. Cinta membuatnya lengah. Tanpa diduga preman itu sudah memegang pisau melesakan ke perut Soleh. Soleh terkapar, preman gemetar tujuannya bukan membunuh orang. Ia lari sekencang-kencangnya tak mau dihukum karena membunuh.

Nina panik, ia mendekati Soleh yang sedang kesakitan. Nina berpikiran cepat menelpon sahabatnya Mey untuk membawa kendaraan. Mengantar Soleh ke rumah sakit terdekat.

Kenangan yang diceritakan Nina kepada Mey terlintas begitu saja. Sejenak berhenti ketika ketukan pintu menghampiri rumah Nina.

Pria yang dibayangkan datang dengan wajah peluh pertanda lelah luarbiasa yang dirasa. Soleh pulang dari tempatnya bekerja.


Reactions:

6 comments:

lisa lestari said...

Benci jadi cinta,

Ciani L said...

Cinta akan menemukan jalannya...

Na said...

Hati-hati dengan benci.

Sakifah Ismail said...

benci berbalik cinta

Wiwid Nurwidayati said...

sholeh = hero

HERU WIDAYANTO said...

Soleh sang pahlawan, kasihan Lang.
Gimana lukanya?