Monday, May 23, 2016

Jarak Bagian 20 "Batas Lelah"

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 19"

Soleh datang dengan penuh kehangatan. Mencoba menyembunyikan rasa sakit akibat pukulan Pak Adnan, namun naluri seorang istri tak bisa dibohongi. Nina memperhatikan hal tak biasa di raut wajah Soleh. Seolah menahan kesakitan ditubuhnya. Soleh mencoba mengalihkan perhatian istrinya dengan penyapa Bu Mey.

"Eh Bu Mey sudah lama singgah di gubuk kami ? " senyum Soleh mengembang menandakan hormatnya kepada teman masa lalu istrinya.

"Baru tadi Pak Soleh. Sekali kunjungan ke teman lama dan hal yang mau diperbincangkan tentang Gilang," Mey membalas senyum Soleh. Berusaha memulai menyampaikan masalah Gilang.

"Apakah di sekolah Gilang nakal, Bu Mey ? Ceritakan saja kami akan berusaha menasehatinya nanti," Nina berusaha menimpali percakapan tentang anaknya.

"Sebenarnya tadi pagi Gilang berkelahi, Bu Nina, Pak Soleh. Berkelahi dengan Adli, anaknya ketua komite," Bu Mey mengawali cerita dengan nada berhati-hati.

"Ketua komite, Pak Adnan. Mey ?" saking terkejutnya Nina lupa bahwa percakapan ini bukan percakapan antara teman lama, tetapi percakapan seorang wali kelas dengan orangtua siswa.

"Iya Nin, kita bicara dalam konteks sahabat lama saja yah ? Bukan guru dan orangtua siswa," Mey seolah bisa membaca kekhwatiran Nina.

"Aku, khawatir Nina, Soleh jika Adli melebih-lebihkan perkelahiannya Gilang. Ayahnya pasti bertindak. Bukan suatu hal mustahil kejadian terburuk diterima Gilang," Mey kembali mengatur nada bicara agar sahabat lamanya bisa langsung mengerti maksudnya.

"Maksudmu kejadian terburuk seperti apa. Gilang bisa dikeluarkan ?" Nina menarik napas dalam dikata terakhir berharap agar anaknya tetap bisa sekolah.

"Lebih buruk dari itu Nin," Bu mey menampilkan raut wajah khawatir sembari berharap prediksinya tidak menjadi kenyataan.

Soleh melamun berusaha memahami setiap kata yang dikeluarkan Mey. Mencermati hal-hal apa saja yang dapat terjadi. Soleh sudah tahu seperti apa watak Bosnya, Pak Adnan. Ia sosok tangan besi tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Anak satu-satunya bernama Adli, tentu anak yang paling ia sayang segala kemauannya akan Pak Adnan penuhi.

Teringat ketika Soleh dipukuli Pak Adnan. Rasa marahnya tak terbendung. Perasaan tak mengenakan kembali hinggap di dada Soleh. Khawatir dengan keadaan anaknya nanti. Titik lelah Soleh tak bisa disembunyikan. Paduan lelah fisik dan psikis membuat kondisinya sangat drop. Seketika pandangan Soleh berubah gelap. Ia tersungkur dihadapan Nina dan Mey.

Reactions:

6 comments:

lisa lestari said...

Ayahnya Gilang pingsan...sedih.bacanya

lisa lestari said...

Ayahnya Gilang pingsan...sedih.bacanya

Ainayya Ayska said...

Komite sekolah ko macam tu, ya... hmm engga abis pikir, hihi

Ciani L said...

Ayo pak soleh, bicarakan... Tenang saja, istrimu akan merubah segalanya menjadi lbh mudah... Juga bu mey yg baik hati.

Na said...

Kasihan pak soleh.. 😢😢

Wiwid Nurwidayati said...

semoga Gilang masih tetap bisa bersekolah