Tuesday, May 24, 2016

Jarak Bagian 21 "Dua Hati'

Jarak adalah cerita bersambung. Agar mengetahui benang merah cerita silakan baca bagian sebelumnya "Jarak 20"

Kenangan masa lalu hadir kembali. Soleh terbaring dengan dengan luka tusukan. Nina panik tak tahu hal apa yang harus dia perbuat. Keharuan menyelinap di dadanya, berharap sahabat baiknya Mey datang cepat membawa bantuan. Saat itu sudah terlampau larut. Matahari sudah tumbang lebih dari 5 jam lalu. Jam tangan Nina menunjukan angka 11. Beberapa temannya kampusnya memilih pulang duluan setelah merasakan terlalu larut untuk pulang. Beda hal dengan mey yang memilih menyelesaikan paper ilmiahnya.

Nina, seorang mahasiswa yang aktif. Banyak sekali komunitas yang ia ikuti. Baik komunitas yang berada di kampus maupun luar kampus. Gairah dan semangatnya belajar seolah tanpa batas. Deretan tugas kampus yang berat tak menyurutkan niat mengikuti berbagai perlombaan. Saat itu Nina menghabiskan waktu hingga malam berkutat dengan paper ilmiah untuk perlombaan karya ilmiah tingkat nasional. Ia sama sekali tak menyangka kejadian yang akan mengubah hidupnya 180 derajat baru akan dimulai.

Akhirnya Mey datang dengan tergesa-gesa, Nina menghampirinya. Tak butuh penjelasan panjang. Mereka berdua memapah Soleh menuju mobil yang dibawa Mey. Di dalam hati berbagai kebingungan sempat ingin ditanyakan mey tetapi urung dilakukan karena waktunya tak tepat. Saat itu Nina menatap Soleh penuh rasa khawatir. Berbalik 180 derajat dengan pertama kali mereka bertemu.

Seakan De Javu, peristiwa belasan tahun lalu kembali terulang. Soleh terkapar dihadapan Nina dan Mey. Bedanya, sekarang Nina sudah menjadi istrinya Soleh. Seperti biasa Mey bergerak cepat meminta bantuan Gilang dan Nina untuk memapah Soleh menuju mobilnya. Wajah cemas Nina kembali hadir. Rasa cinta begitu besar terhadap suaminya. Ia rela meninggalkan berjuta impian yang hampir tergapai hanya untuk Soleh.

Dua tahun sebelum kelahiran Gilang. Keberanian Soleh menyelamatkannya meluluhkan hati Nina. Benih-benih cinta sudah tumbuh begitu lebat. Tatapan kebencian menguap begitu saja berganti rasa saling suka. Setelah Soleh dibawa ke rumah sakit hampir setiap hari Nina menjenguk berharap pahlawannya cepat pulih seperti sedia kala. Lomba karya ilmiah Ia tinggalkan demi menjaga Soleh. Entah darimana datangnya cinta itu, Tuhan memang punya cara tersendiri menyatukan dua hati.

Perjuangan kisah cinta Soleh dan Nina baru saja dimulai. Benteng tinggi akan menghadang mereka. Orangtua Nina tak pernah setuju dengan hubungan anaknya dengan pemuda miskin bernama Soleh. Beberapa kali Nina membujuk hanya ia anggap angin lalu. Ultimatum keras keluar dari mulut orangtuanya. Nina dihadapkan pada dua pilihan. Meninggalkan Soleh atau meninggalkan rumah dan takkan pernah dianggap anak oleh orangtua.

Pilihan yang mengubah kehidupan sudah Nina ambil. Soleh sudah beberapa kali mengingatkan bahwa memilih hidup dengannya adalah sebuah kesalahan jika itu dinilai dari segi kemapanan. Nina kukuh dengan pilihannya. Biarlah ia hidup dengan segala keterbatasaan asalkan bersama dengan pria yang dicinta. Naif memang pilihan Nina meninggalkan segala bentuk kemapanan untuk hidup bersama Soleh.

Orangtua Nina sedikit berbaik hati mau menikahkan putri sekalipun dengan raut wajah masam. Pernikahan yang jauh dari meriah hanya dihadiri beberapa saksi dan keluarga dekat Soleh. Tak terlihat wajah gembira yang terpancar dari keluarga Nina. Seminggu kemudian sesuai dengan kesepakatan Nina meninggalkan kedua orangtuanya untuk hidup bersama lelaki pilihannya.


Reactions:

2 comments:

lisa lestari said...

tragis...kenapa ortu nina tidak.berbaik hati memberikan biaya untuk sholeh?

lisa lestari said...

tragis...kenapa ortu nina tidak.berbaik hati memberikan biaya untuk sholeh?