Friday, May 6, 2016

Jarak bagian sepuluh "Jama"

Hai pembaca. Selamat datang di cerbung jarak. Jika ada yang belum membaca jarak bagian sebelumnya tinggal klik

Jarak bagian kesatu
Jarak bagian kedua
Jarak bagian ketiga
jarak bagian keempat
Jarak bagian kelima
Jarak bagian keenam
Jarak bagian ketujuh
Jarak bagian kedelapan
Jarak bagian kesembilan

Selamat membaca


Pendidikan, ujung tombak kemajuan bangsa itulah ucapan andalan Jama yang dikatakan kepada Gilang dan Teguh. Gilang pernah berada di titik terendah, ia hampir kehilangan semangat sekolah. Kondisi ekonomi menjadi alasan utama. Saat itu ibunya sakit sehingga tak mampu berdagang. Kondisi ayahnya pun jauh mengenaskan, Infeksi paru menyerang tubuhnya. Batuk disertai darah sering Gilang lihat walaupun ayahnya kukuh menyembunyikan.

Tanpa sepengetahuan orangtuannya. Gilang sering bolos sekolah, lebih memilih mengamen seharian penuh. Mencari uang untuk membiayai pengobatan orangtuanya. Tak diduga Jama datang, ia berbicara panjang lebar tentang impian dan pendidikan. Di tengah pembicaraan Jama bertanya kepada Gilang.

"Lang, cita-citamu ingin menjadi apa ketika besar nanti ?" memasang wajah seriusnya.

"Dokter, aku ingin menyembukan orangtuaku," Gilang menjawab diiringi tangisan.

Jama mengeluarkan kalimat andalannya.

"Lang, pendidikan itu pemutus rantai kemiskinan. Boleh saja kita terlahir miskin tapi jangan sampai mati dalam keadaan miskin. Terutama miskin ilmu. Aku nggak mau kamu berhenti sekolah. Aku mau kita mengejar mimpi bersama. Aku memang nggak pintar dalam hal pelajaran, lebih sering mendapatkan nilai merah diraport. Tapi aku yakin bahwa kerja keras takkan membohongi hasil. Kita kerja keras belajar bersama. Besok pelajaran IPA loh. Itukan pelajaran favorit kamu," Wajah Jama yang tegas kini kembali ceria dihiasi simpul tawa.

Gilang mengangguk tanda setuju dengan Jama. Sejak kejadian itulah mereka selalu bersama. Gilang tetap mengamen ditemani Jama. Mengamen seusai pulang sekolah.

Seolah keadaan berbalik. Kali ini Gilang tidak melihat Jama di sekolah. Mungkinkah ia kehilangan semangat belajar ? Seketika pikiran itu ditepis. Bukankah Jama yang paling rajin. Mungkin saja ia masih memikirkan kejadian semalam. Alasan paling logis datang ke otak Gilang.

Gilang mengajak Teguh dan Fika untuk pergi ke rumah Jama. Melihat apakah dia baik-baik saja. Dalam perjalanan sesekali Teguh bercanda bahwa Jama tidak sekolah karena lupa hari. Seperti yang dilakukan Teguh. Memutuskan tidak sekolah karena di kalendernya hari minggu. Ia kurang teliti kalender yang dipercayainya sudah kadaluarsa lima tahun lalu.

Gilang sama sekali tak tertawa dengan cerita Teguh. Meskipun dulu ia sempat terbahak-bahak ketika mendengar Teguh tidak sekolah gara-gara salah melihat kalender. Fika yang baru mendengar cerita Teguh hanya tersenyum.

Gubuk yang bentuknya tak lebih bagus daripada milik Gilang, memperlihatkan Seseorang berseragam yang sedang melamun.

"Itu Jama," teriak Gilang sembari berlari menghampiri. Diikuti oleh Teguh dan Fika.

Tatapan Jama kosong menyiratkan beban di kepala begitu besar. Gilang tak banyak bertanya begitu pun dengan Teguh dan Fika.

"Joni, ditangkap preman Lang," suara Jama memecah keheningan.

"Preman yang semalem ?" ekpresi kaget tak bisa Gilang sembunyikan.

"Iya Lang, mereka mencari kita. Waktu berangkat sekolah. Aku lihat Joni didatangi tiga preman. Mereka mencari kita, Lang. Dia ditangkap karena mereka tahu Joni teman kita. Beruntung aku berada di belakangnya. Masih sempat memutar arah kembali ke rumah," Jama tampak panik sekali.

Joni, teman satu sekolah mereka. Hanya saja ia tidak naik kelas tahun lalu. Tak jauh beda dengan Gilang, Jama dan Teguh. Joni pun sepulang sekolah selalu mengamen.

Asap rokok mengepul. Tiga pria kekar merasa paling perkasa. Melingkari bocah kecil yang sedari tadi menangis. Kesebelas kalinya titik terpanas rokok ditekankan ke kulit Joni. Dia merintih kesakitan. Dengan suara terbata-bata akhirnya Joni memberitahukan alamat rumah Jama dan Gilang.


Reactions:

9 comments:

Na said...

Oh tidaak..! tamatlah sudah ketenangan jama dan gilang. Semoga yg di infokan joni adalah alamat palsu.

Ciani L said...

Aaarrrggggghhhh.... Semoga jama dan gilang sudah mempersiapkan sesuatu.

lisa lestari said...

Aduuuhhh, bagaimana nasib gilang dan jama nanti?

mual limah said...

makin seru.. :)

Fika AJ said...

Aku tertipu. -_-

Benar-benar penuh emosi. Sedih, tegang, sampai sempat-sempatnya terkekeh.

Gilang dan Jama harus meninggalkan rumah. :(

HERU WIDAYANTO said...

Cepat lapor Pak Polisi!
Kasihan.

Ainayya Ayska said...

Kasihan si joni...

Inet Bean said...

Eh kasihan Joni...

Jama dan Gilang gimana nasibnya? Duh...

Wiwid Nurwidayati said...

Kisah kisah anak anak seperti ini sungguh menyedihkan