Wednesday, May 25, 2016

Langkah Indonesia

Waktu melesat cepat sudah 154 tahun Indonesia merdeka. Melewati berbagai fase kepemimpinan. Gejolak politik begitu kentara, perebutan kekuasaan sudah selesai 20 tahun lalu. Reformasi jilid dua beserta keganasan alam di tahun 2079 berhasil menggulingkan pemimpin dzalim yang menjual Indonesia ke antek-antek asing.

Saat itu gelombang demonstrasi lebih dahsyat daripada penggulingan rezim orde baru. Jutaan mahasiswa "mengepung Istana negara". Balikpapan bergemuruh dikepung mahasiswa yang membawa semangat perubahan. 20 tahun sudah Balikpapan menjadi ibukota negara menggantikan Jakarta yang beralih fungsi menjadi kota bisnis.

Awalnya terjadi banyak pertentangan ketika pemerintah memutuskan untuk memindahkan ibukota negara ke Balikpapan. Selentingan sumbang mengarah tajam kepada pemerintah. Tujuan sebenarnya memang baik mengurangi kepadatan  di pulau Jawa serta mengantisipasi kejadian paling tak ingin seperti Jakarta tenggelam.

Saat itu, ayahku adalah pemimpin gerakan mahasiswa yang menuntut keadilan. Cara demonstrasi yang berbeda dengan tahun 1998. Mereka tak turun ke jalan. Jutaan mahasiswa ditempat yang berbeda saling terkoneksi melalui mega server . Mereka mendiskusikan cara terbaik mengembalikan negeri tercinta dari cengkraman asing. Tahun 2075, krisis besar melanda Indonesia. Hutang asing menyentuh 1.500 triliun dollar, tertinggi semenjak republik ini berdiri. Nilai tukar rupiah terpuruk menuju titik nadir, 100 ribu per dollar.

Masyarakat semakin tercekik dengan harga kebutuhan pokok kian tinggi. Belum lagi sumber daya alam yang semakin berkurang.
Pemerintah menyiasati dengan menaikan pajak yang terlampau tinggi. Kalangan kaya berubah jadi kelas menengah. Kelas menengah menjadi miskin. Orang miskin terpaksa meninggalkan dunia menghadap ke Illahi Robbi. Meninggal karena kelaparan sudah menjadi hal yang biasa.

Seolah tak mau belajar dari sejarah. Pemindahan ibukota menjadi ladang baru bagi antek-antek asing. Beralibi ingin memajukan Indonesia dengan cara memberikan pinjaman bernilai triliunan dollar. Pemimpin saat itu tergiur oleh nominal angka luarbiasa lalu menyetujuinya dengan mengadaikan puluhan aset negara. Pemerintah ingin memperlihatkan ibukota baru berdampak besar pada kemajuan Indonesia. Tak ada kemajuan instan. Pola berpikir instan akan mengakibatkan kehancuran. Benar saja, kurang dari 20 tahun kejadian yang lebih buruk dari reformasi 1998 menghantui negeri tercintai.

Gerakan-gerakan solidaritas mahasiswa terhimpun lewat dunia virtual reality. Dunia maya berbasis tiruan dunia nyata. Tak hanya sekedar kata atau video, tetapi memungkinkan seseorang masuk ke dunia virtual untuk bercakap-cakap dan bertukar informasi secara langsung. Solidaritas tanpa batas menjadi server utama virtual reality untuk gerakan mahasiswa. STB sebuah server besar yang memfasilitas berbagai pertemuan mahasiswa melalui dunia virtual. Keputusan-keputusan penting diambil di sana.

Saat itu, Ayahku masih seorang mahasiswa tingkat akhir di jurusan hubungan virtual Internasional. Ayah yang pertama kali menggagas gerakan solidaritas tanpa batas (SBT) guna mengambil tindakan paling baik untuk mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah tanpa melalui cara arogansi. Bakar ban serta berkumpul mengepung pemerintah secara fisik rawan sekali menimbulkan korban di kedua pihak. Gagasan yang tercipta di forum akan segera dilakukan. Ayah mencoba mengajak komponen pemerintah untuk bergabung dengan server SBT mengajak berdiskusi tentang masalah disertai solusi agar Indonesia mampu keluar dari jeratan kehancuran.

Lewat berbagai cara tak kenal menyerah akhirnya pemerintah bersedia masuk ke server SBT untuk mendiskusikan segala bentuk permasalahan. Diskusinya berlangsung alot, pemerintah teguh tak mau berubah arah kebijakannya. Mengambil mode kepemimpinan tangan besi untuk bertindak tanpa memperhatikan aspirasi. Di server SBT hujan instruksi melayang menuju perwakilan pemerintah. Delegasi dari Padang berteriak paling kencang tak setuju investor asing mendirikan mega proyek yang secara perlahan akan penghancurkan tempatnya. Sama halnya dengan perwakilan dari Papua. Dengan logatnya khasnya ia mengutarakan tak setuju dengan rencana pemerintah membangun pusat pelatihan antariksa untuk beberapa negara adidaya. Hutan sekali lagi akan menjadi korban keserakahan manusia jika proyek pembangunan pusat pelatihan antariksa di bangun di tanah Papua.

Hampir semua delegasi dari 100 provinsi menyatakan berbagai ketidaksetujuan dengan proyek-proyek pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Kebijakan yang cenderung hasil dikte antek asing. Delegasi mahasiswa seluruh provinsi di Indonesia semakin meradang. Pemerintah tak mau mendengar apapun usukan mereka. Pertemuan paling panas selama forum SBT didirikan. Sebagain besar perwakilan besar delegasi memilihn log out karena percuma jika diskusi itu diteruskan hasilnya tetap sama. Pemerintah terlampau egois.

Geraman mahasiswa tak biasa lagi dibendung. Diskusi di dunia virtual reality tak menghasilkan apapun selain kejelasan bahwa pemerintah sudah tak berpihak kepada rakyat. Cara masa lampau menjadi pilihan efektif untuk menghentikan arogansi pemerintah. Gerakan mahasiswa tak terbendung. Sudah puluhan bus terbang milik perusahaan pemerintah dibakar mahasiswa. Hal itu dilakukan sebagai bentuk ketidaksetujuan mahasiswa atas sebuah bentuk kebijakan ngawur pemerintah.

Gempuran mahasiswa semakin dahsyat. Pemerintah berusaha meredam. Pemerintah melakukan gerakan sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang dianggap sebagai pencetus gerakan perubahan diasingkan ke pulau terpencil bahkan sebagian lagi dibunuh. Gerakan perlawanan mahasiswa sempat terhenti setelah ribuan teman-teman mereka lenyap tanpa ada yang tahu. Pemerintah berkilah tak melakukan apapun kepada Mahasiswa.

Ayahku adalah bagian yang diasingkan ke sebuah pulau terpencil di timur laut sulawesi. Pulau yang diperuntukan untuk pembuangan segala bentuk limbah. Dengan ratusan temannya ia berjuang untuk hidup mengolah apapun yang bisa dimasak. Lambat laun mahasiswa tahu bahwa temannya yang hilang diasingkan bahkan dibunuh oleh pemerintah. Setelah ayah mengakses SBT kemudian menghubungkan dengan jutaan mahasiswa. Menceritakan berbagai tindakan sewenang-wenang yang dilakukan kepada mereka.

Semangat perubahan berada pada titik maksimalnya. Jutaan mahasiswa berangkat menuju Balikpapan berniat mengepung istana negara dengan fisik mereka. Setelah diskusi virtual berlangsung alot. Ribuan mahasiswa berorasi kembali seperti pada masa lampau. Tak disangka ribuan tentara bersengkatan AKA 47 berpeluru laser menghadang mahasiswa. Peluru laser pertama melesat menembus dada seorang mahasiswi dari Bandung. Mahasiswa geram menyerang balik tentara. Tumpahan darah tak bisa dielakkan. Akhirnya jutaan korban berjatuhan dari kedua belah pihak, paling banyak jumlah korban dari mahasiswa. Setengah dari mahasiswa tewas tertembak peluru laser. Sebagian lagi menyerah sehingga tak mau berpartisipasi dalam demo selanjutnya.

Gejolak politik di Indonesia semakin dahsyat. Pemberitaan melalui dinding televisi selalu menampilan berbagai kerusuhan. Pemerintah dan kaum intelektual lupa akan keadaan dunia yang semakin menua rawan sekali terjadi bencana besar. Benar saja gunung Tambora kembali menunjukan aktivitas vulkaniknya. Rakyat dan pemerintah tak peduli dengan keadaan gunung Tambora yang akan meletus. Mereka berkutat dengan segala kegiatan politiknya.

Beberapa penduduk yang sadar akan terjadinya bencana dahsyat mencoba mengungsi diberbagai tempat. Meninggalkan segala kemewahan teknologi agar terbebas dari bencana. Setahun sudah terlewat tak ada kemajuan berarti dari pihak pemerintah. Mereka teguh untuk kembali berhutang ke negara asing sebagai persediaan agar terlepas dari krisis. Mahasiswa punya pendapat lain. Semakin tinggi pinjaman semakin besar efek kerugiaan yang menimpa Indonesia. Pemerintah kembali tutup mata.

Di sisi lain, gunung Tambora bersiap mengeluarkan energi maha dahsyatnya. Gempa dengan kekuatan 9,9 skala richter mengguncang Indonesia. Kekuatan gempa yang sebanding dengan 15 ribu bom atom raksasa. Peradaban canggih terkoyak hancur. Ratusan juta manusiswa meregang nyawa. Belum lagi gelombang tsunami setinggi 100 meter menghantam Indonesia. Hanya 5 juta penduduk Indonesia yang mampu bertahan. Orang-orang yang Indonesia berkarier diberbagai penjuru dunia pulang ke kampung halamannya yang sudah luluh lantah. Ribuan mahasiswa yang diasingkan pemerintah berhasil selamat karena efek bencana tidak mengenai mereka. 1 miliar penduduk Indonesia menjadi korban keganasan alam yang murka akan tingkah lalu manusia.

Mereka yang selamat mencoba kembali membangun Indonesia dari nol. 50 juta penduduk Indonesia saling berpegangan tangan membangkitkan lagi negaranya. Sudah 20 tahun sudah kejadian mengerikan itu terjadi. Itulah yang aku dengar dari guru sejarah Indonesia di kampusku. Beliau menyampaikan perkuliahan melalui program virtual reality hasil eksprimen ayahku.
 2099 menjadi tolak ukur kebangkitan Indonesia. Generasiku tak mau membuat Tuhan marah lagi dan memberikan bencana maha dahsyat yang akan berakibat kepunahan manusia.

Perkuliahan sejarah Indonesia telah selesai. Aku memasuki sebuah lorong untuk menuju pintu teleport. Aku harus menemui temanku dari Jerman pukul 2 siang nanti. Ia mengajak berdiskusi  tentang pelestarian lingkungan. Setelah itu aku harus kembali ke Indonesia, pukul 3 siang ada rapat mengenai penjelahan Saturnus dan meneliti mineral yang terkandung di dalamnya. Rekaman virtual reality dosen tentang sejarah Indonesia telahku simpan. Sekarang dihadapanku sudah ada pintu teleport. Aku membukanya pintunya, sedetik kemudian seorang pria berambut pirang menyapaku dalam bahasa Jerman.

Terinspirasi dari Novel "Hujan" karya Tere Liye

Reactions:

5 comments:

lisa lestari said...

Gilaaang..syereemm...palagi pas kalimat, yang kaya jadi menemgah, menemgah jadi miskin, yang miskin menghadap ilahi robbi...wooww..

lisa lestari said...

Gilaaang..syereemm...palagi pas kalimat, yang kaya jadi menemgah, menemgah jadi miskin, yang miskin menghadap ilahi robbi...wooww..

HERU WIDAYANTO said...

Keren!!
Luar biasa idenya aa.
Sejarah melompat ke dimensi masa depan?

Na said...

keren Aa..itu juga mirip-murip dengan Novel Bumi lho a'. ada hal berbau teknologi canggih di dimensi kehidupan lain. Saluuutt..sudut pandang yang jelas berbeda.

suleman asep said...

Aduh rasanya, serem syekalih. Walau ada beberapa typo yang mengganggu, secara keseluruhan tetap bagus.

Titip jempol tiga,