Friday, June 24, 2016

Meriang Ganda

Selama bulan ramadan terhitung sudah tiga kali aku diserang demam tinggi. Sudah pantas rasanya dapat piring cantik atas prestasi tersebut. Bulan ini aktivitasku sungguh diluar dugaan. Berangkat pagi lalu pulang menjelang berbuka dengan menempuh jarak puluhan KM menjadi hal biasa. Setelahnya begadang sampai malam mengerjakan kewajiban lainnya.

Nampaknya aku bukan super hero yang mempunyai mobilitas luarbiasa. Pagi di Barcelona menolong remaja. Siang di Turki menghadang pencuri. Malam hari di Indonesia nonton dangdut mania, eh super hero kok nonton dangdut. Mendadak goyang dumang.

Ketika sakit teman-temanku perhatian banget. Saat itu sedang berlangsung pembelajaran di kampus. Tetiba aku yang duduk tepat berhadapan dengan dosen diserang demam tinggi, seluruh badan mengigil. Dosen nampaknya peka.

"Gilang, kamu kenapa ?"

"Menggigil Bu " masih memasang wajah memelas.

"Kamu mau pulang atau mau istirahat di ruang dosen."

"Kalau boleh jujur sih Bu. Aku mau rendang dan sate padang. Terus minumnya jus alkupat."

Percakapan terakhir hanya berlangsung di otak. Tak diduga seorang teman rela memberikan jaketnya untukku namun sayangnya dia cowok. Walhasil momen romantis sedikit menjijikan.

Perkuliahan selesai, waktu pulang tiba. Aku kembalikan jaket pinjaman temanku. Kasihan juga dia rumahnya jauh. Masa ia harus berkendara dengan memakai sehelai baju saja. Setelah aku berikan. Dingin kembali menyergap. Teman-teman hampir semuanya sudah pulang. Tinggallah aku yang masih mengumpulkan kesadaran sekaligus mengusir rasa menggigil.

"Lang, kamu masih kedinginan. Ini pakai mantelku. Kebetulan aku dijemput tunanganku pakai mobil. Jadi nggak perlu mantel." ia tersenyum lalu membuka mantelnya.

Bisa dikatakan bahwa gadis yang menawariku mantel adalah bunga kampusku. Semacam gadis tercantik gitu. Ia telah bertunangan dengan seorang dokter muda. Sering kali aku disuruh ikut mereka jalan-jalan. Katanya aku harus menjadi hijab antar mereka. Eh kok aku yang dikorbankan. Beruntunglah mereka pengertian memberikanku makanan yang menggiurkan. Kok aku mudah sekali diperalat.

Temanku sudah membuka mantelnya. Mantel ala korea dengan warna pink yang menyilaukan mata. Sedikit ragu untuk memakainya. Rasa menggigil kembali mendera aku coba mantel itu dan ternyata tidak muat. Memang ketika sakit logika hilang begitu saja. Badan temanku tergolong langsing sedangkan aku ? Yah semua sudah tahu.

Ia menawari untuk pulang bersama tunangannya. Di mobil tidak akan terlalu kedinginan katanya. Ah, tentu saja aku tidak mau harus menjadi penonton dikisah cinta mereka. Alasan lainnya motorku bagaimana. Tak mungkin disuruh pulang sendiri.

Sekuat tenaga memaksakan diri untuk pulang. Allah memberikan kekuatan kepadaku. Aku sampai dirumah dengan selamat. Namun kondisi tubuh tak bisa dibohongi. Malamnya badan berontak. Suhu tubuh diluar normal. Aku panggil malaikatku. Ia dengan sabar mengobatiku yang cenderung manja ketika sakit.

Peristiwa itu terulang lagi semalam. Deman tinggi menyerangku. Rasanya badan sudah tidak kuat. Beberapa pesan di HP aku abaikan termasuk pesan dari si dia yang nampak khawatir. Apa daya melihat hp saja aku mual. Untuk kesekian kali mamah mengobatiku dengan kasih sayang tanpa batasnya. Memijit badanku serta mengkompres kening menjadi aktivitasnya hingga tengah malam.

Saat ini aku sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter. Tak diduga dokter yang memeriksa ialah tunangan dari temanku. Nampaknya hari ini aku akan kembali jadi penonton kisah cinta mereka. Temanku pun ada di sana. Duduk manis di sampingnya. Entah berperan sebagai apa dia di rumah sakit. Yang jelas aku meriang ganda. Meriang karena demam serta meriang karena iri dengan mereka. Ah ingin rasanya bertemu belahan hatiku juga. Eh chat dia aja deh sedari tadi belum kubalas.

Wednesday, June 22, 2016

Keluarga Rimba

"Lang di atas foto keluarga siapa ?"

"Foto keluargaku dong. Biar begini aku juga punya keluarga." Sembari menepuk dada.

"Eh, itu pasti keluarga sewaanyah ? Kok nggak ada yang mirip. Kamu mirip tetangga Lang ? Hayo ngaku."

"Enak aja. Punya uang darimana aku nyewa keluarga. Tapi bisa juga sih sebenarnya aku anak raja Yordania yang tertukar di posyandu. By the way kamu siapa tiba komentari fotoku ?"

"Aku masa lalumu Lang yang meminta engkau ingat."

"Husss huss. Masa lalu pergi aja. Aku masih punya masa depan kok. Lirik foto seseorang."

Kali ini aku bercerita tentang keluarga.
Aku adalah anak pertama dari pasangan manusia yang saling jatuh cinta. Mamahku berasal dari suku Sunda begitupun dengan ayahku. Tetapi takdir kehidupan membesarkanku di kebudayaan Jepang. Eh edit deh. Aku lahir dan besar di Bandung. Kurang kekinian sih belum bisa menjelajah dunia. Suatu saat harus mampu berkelana di bumi yang Kuasa tentunya bersama seseorang tercinta. Tengok kamu. 

Di keluargaku Mamah menjadi ratu paling cantik, tak seorangpun wanita yang menandinginya. Tentu karena keluargaku di dominasi lelaki tampan. Setidaknya definisi tampan bagi mamahku. Efek samping dihuni kebanyakan lelaki, rumah menjadi seperti sebuah hutan.

Di rumahku hidup beberapa spesies binatang. Tikus, kecoa, kucing bahkan Lumba-Lumba. Binatang terakhir berbentuk boneka tidak bernyawa. Otomatis semua binatang itu semakin memeriahkan keluargaku. Terkadang ketika nonton sinetron favorit kucing duduk manis menemani. Di saat mandi pasukan kecoa ikut berenang di bak mandi. Tak lupa berbagi makanan dengan tikus. Pernah suatu hari stok mie rebus ludes diserbu pasukan tikus. Sungguh indah sekali nikmat berbagi meski sesekali gondok.

Bulan ramadan semakin meriah sekali. Berebut makan di saat adzan menjadi agenda wajib. Mamah sudah tentu kebagian porsi paling sedikit. Aku pun sama pernah kehabisan jatah berbuka. Saat itu sedang asyik berchat ria dengan seseorang tak terasa waktu berbuka terlewat beberapa menit. Walhasil makanan yang tersisa hanya cukup untuk kucing. Harus diakui memang ketat persaingan berebut jatah makan dikeluargaku. Telat beberapa detik makanan lenyap. Seperti kondisi di hutan. Lengkah sedikit buruan diambil.

Mamah selalu menjadi korban dalam persaingan keluarga rimba. Untunglah mamah cerdik. Ia selalu menyimpan sedikit makanan untuk siapa saja yang tidak kebagian jatah makan. Sekalipun selalu berebut jatah perut, entah kenapa  senyum selalu menghiasi raut wajah kami. Memang keluarga sumber bahagia yang tak terukur oleh harta.


Monday, June 20, 2016

Untumu Waktu

Sang waktu berputar tanpa rasa lelah. 24 jam dalam sehari menjadi jatah. Terserah mau dipakai apa. Berleha-leha di kasur empuk atau banting tulang memperjuangkan mimpi. 20 tahun lalu aku masih ditimang ibu. Diasuh dengan penuh kasih sayang. Terkadang kencing di celana masih dianggap hal yang wajar. Sekarang jika melakukan hal yang sama dianggap kurang ajar.

Tak terasa memang ketika berbicara tentang waktu. Setiap detik berlalu tak terduga bahkan ketika kita menarik napas detik waktu berlalu begitu saja. Hanya ada di film-film seseorang yang mampu menghentikan jarum jam. Pada kenyataanya tak pernah ada yang bisa kecuali atas kehendakNya.

Jika boleh berandai-andai. Aku ingin meminta mempunyai kekuatan untuk menghentikan waktu. Menghalau detik jam di saat engkau tersenyum agar ku mampu melihat rona bahagiamu lebih lama. Ah jadi terbawa perasaan.
Aku juga ingin meminta waktu berhenti ketika ibuku beranjak menua. Tidak ingin rasanya melihat orangtuaku termakan usia. Memang tak ada yang abadi termasuk Orang-Orang tersayang di sekitarku. Pedih terasa di kala melihat mereka yang kucinta pergi karena faktor usia.

Waktu salah satu makhluk Tuhan paling patuh. Ia terus berjalan tak kenal lelah. Apapun yang terjadi dirinya tak pernah berhenti bahkan hanya sedetik. Terkadang aku tak suka salah satu dari bagian detikmu. Sungguh maafkanku waktu, sejujurnya aku tak suka ketika engkau menunjukan pukul 11 malam. Saat itu aku harus berpisah dengan seseorang yang kucinta. Maafkanku juga waktu, sejujurnya aku tak suka ketika engkau mengubah rambut ibuku menjadi putih. Sekali lagi maafkan aku waktu, sering sekali berleha-leha padahal dalam Al-quran, Tuhanku sudah memberi peringatan bahwa sesungguhnya merugi bagi orang yang mengabaikanmu.

Darimu waktu aku belajar banyak hal. Engkau tak pernah bisa dibeli sekalipun oleh orang terkaya di dunia. Detik-Detikmu hanya datang sekali tidak pernah bisa terulangi. Aku tak mau lagi menyesal berulang kali karena mengacuhkanmu. Engkau makhluk Tuhan yang patuh. Harusnya akupun begitu.

Friday, June 17, 2016

Rahasia-Rahasia Tuhan

Banyak hal yang menjadi rahasia Tuhan di muka bumi ini. Misalkan kapan terjadinya kiamat. Pernah ada yang meramalkan bahwa kiamat akan terjadi di penghujung 2012 bahkan filmnya pun laku keras. Kita tahu bersama kiamat di tahun itu tidak pernah terjadi.

Entah kenapa orang-orang kepo banget dengan akhir peradaban manusia. Jujur di saat booming kiamat 2012 aku sih ngeri. Saat itu bertepatan dengan ujian nasional. Masa UN aja belum kiamat sudah datang. Aku tidak akan pernah merasakan indahnya masa kuliah kalau tahun 2012 menjadi akhir dunia. Padahal kuliah juga nggak Indah-Indah banget. Pedih malah harus begadang tiap hari untuk mengerjakan tugas. Eh kok aku jadi curhat. Maafkan kawan.

Rahasia Tuhan yang kedua yaitu surga dan neraka. Kalau boleh aku bertanya teman-teman memilih jadi penghuni surga atau neraka ? Aku sih memilih jadi penghuni hatimu. Duh mulai baper. Kebanyakan tentu akan menjawab surga. Di surga segala sumber kenikmatan tersedia. Kita hanya meminta maka langsung tersedia. Kalau begitu di surga nanti aku akan meminta kamu saja deh. Baper lagi. Bicara surga dan neraka jadi inget lagu om chrisye yang liriknya begini "Jika surga dan neraka tak pernah ada. Masihkah engkau bersujud kepadaNya." dalam banget lirik lagu itu. Apakah kita beribadah hanya mengharapkan terhindar dari neraka serta diberikan kenikmatan surga ? Mari kita renungkan kembali.

Rahasia Tuhan yang ketiga ialah jodoh. Membahas tentang jodoh memang selalu asyik apalagi ditemani secangkir kopi dan senyuman manis dari si dia akan terasa dunia milik kita berdua. Yang lain kasihan diusir. Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan seperti sandal yang kemanapun bersama, romantis sekali. Jodoh ialah hak prerogratif Tuhan. Tak ada yang tahu. Mungkin saja aku berjodoh dengan pangeran dari Zimbabwe. Tunggu Lang ada dua ketidakmungkinan. Pertama kamu cowok nggak mungkin berjodoh dengan pangeran. Kedua Zimbabwe bukan kerajaan. Okey aku salah tapi intinya jodoh adalah cerminan diri. Jika ingin jodoh terbaik maka perbaikilah diri.

Rahasia Tuhan yang terakhir ialah kematian. Memang kematian selalu datang tak terduga. Kematian tak pernah mengetuk pintu. Menghampiri siapa saja yang sudah dikehendaki. Bukti nyata kematian sungguh tak terduga terjadi pada ikan piaraanku. Seminggu lalu ikanku mati tanpa sebab yang jelas. Ajal menghampirinya sebelum ia berpamitan kepadaku. Sedih memang ditinggalkan sesuatu yang kita sayang. Aku percaya engkau ikan yang baik hati. Tuhan akan menyapamu dengan panggilan paling lembut. Berkat perantaramu keluargaku terhindar dari nyamuk demam berdarah. Kau memakan Jentik-Jentiknya. Andai aku boleh meminta semoga ikanku bahagia di surga. Seminggu lalu ikanku yang mati. Mungkin besok lusa giliran kita. Mari siapkan bekal terbaik.

Thursday, June 16, 2016

Wajah Muram Sang Guru

Jadwal tidurku sepekan ini makin tak beraturan. Mungkin efek banyak hal yang mulai dirisaukan. Setahun lagi aku akan menamatkan kuliah. Jika orang lain menyambutnya dengan suka cita tapi aku malah sebaliknya. Ada keresahan bersemayam di kepala berputar memikirkan banyak hal, salah satu tentang masa depan.

Banyak rencana terangkai di kepala tentang apa yang harus aku lakukan selepas lulus kuliah. Apakah akan terus menjadi guru honorer dengan masa depan yang tak jelas. Tak dipungkiri kehidupan zaman sekarang menuntut untuk punya uang. Faktanya kebanyakan kasus perceraian berawal dari ketiadaan rupiah. Terbayang jika aku terus menjadi guru honerer dengan upah jauh dari nominal satu juta. Anak dan istriku akan makan apa ? . Aduh Gilang sudah mikirin anak istri aja. Biarin daripada mikirin mantan. Kita nggak akan beranjak dari masa lalu jika memikirkan mantan melulu. Akhirnya aku ngomong sendiri. Benar-benar banyak pikiran deh.

Pemberitaan media yang menceritakan guru dengan gaji 200rb perbulan benar adanya. Bahkan beberapa temanku lebih parah. Hanya menerima upah 70rb/bulan. Kalau saja tidak menjalankan bisnis mungkin untuk makan sendiri saja upah mengajar yang kulakukan tidak akan pernah cukup. Memang benar guru adalah pekerjaan kemanusiaan tapi tidak manusiawi juga dibayar dengan upah yang tak seberapa.

Bayangkan, jika kelak aku menikah dengan Raisa tetapi pekerjaanku masih guru honorer. Membeli bedaknya saja harus kredit dengan 12 kali angsuran. Aku punya teman yang juga seorang guru honorer. Umurnya sudah lebih dari 40 tahun tapi belum menikah. Tentu alasannya sudah bisa ditebak. Belum ada orangtua yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada seseorang dengan penghasilan tak menentu. Padahal cara mengajarnya sungguh aku kagumi. Totalitasnya dalam dunia pendidikan tak bisa diragukan. Ia sempat mengajar 6 bulan tanpa gaji. Begitu memilukan nasibmu pahlawan tanpa tanda jasa.

Tentu aku tidak ingin bernasib seperti itu. Tak ingin melihat istriku kelak menahan lapar karena sang suami memberikan uang yang tak kunjung cukup. Setahun lagi gelar sarjana pendidikan akan kurengkuh. Tak elok rasanya bila putus asa dengan dunia pendidikan yang kucinta. Selepas lulus S1 aku akan menikah denga si dia, eh salah maksudnya aku berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sembari terus mengajar. Semoga Allah mempercayakanku menduduki jabatan yang bisa mengubah wajah pendidikan Indonesia. Baik dari kualitas murid maupun kesejahteraan gurunya.

Pendidikan ialah pondasi awal kemajuan suatu bangsa, dan guru merupakan ujung tombaknya. Jangan sampai tak ada lagi yang tertarik menjadi guru karena melihat nominal angka yang diterima. Jangan sampai pemuda yang memilih profesi guru seolah diambang kejombloan karena tak ada mertua yang mau menikahkan anaknya dengan dia.

Maju terus pendidikan Indonesia. Maju terus Raisa.

Tuesday, June 14, 2016

Hawa Yang Perkasa

Zaman jahiliyah menjadi simbol kebodohan paling kentara di negeri padang pasir. Kelakuan di luar logika sudah menjadi kebiasaan penduduknya. Salah satu budaya mengubur anak perempuan mempertegas guratan yang meniadakan akal.

Di zaman jahiliyah perempuan diperlakukan secara tidak manusiawi. Mereka dianggap makhluk kasta dua yang tidak bisa berperang serta mewarisi kejayaan orangtuanya. Bahkan melahirkan bayi perempuan adalah aib besar. Tak jarang bayi-bayi tak berdosa harus dikubur hidup-hidup demi sebuah harga diri. Masa itu menjadi titik tolak diutusnya Nabi Muhammad untuk memperbaiki negeri Arab yang moral penduduknya sudah di ujung titik nadir.

Ribuan tahun setelahnya. Perempuan punya kedudukan setara dengan pria bahkan dibeberapa aspek kemampuan kaum Hawa tidak bisa diragukan. Contoh keperkasaannya telah kusaksikan beberapa hari yang lalu.

Di suatu pagi aku bergegas berangkat ke kampus untuk menguruskan beberapa kepentingan. Perjalanan ke kampus berkisar 35-40 KM atau jika dikonversikan ke dalam bentuk waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam. Tergantung kondisi jalan. Kebetulan saat itu jalanan macet apalagi ketika memasuki wilayah pasar.

Aku mengedarkan mata beberapa detik sebelum menyadari sesosok pengemudi motor membelah jalan dengan lincah. Aku tersentak. Pengendara lincah itu adalah seorang ibu muda bersama ketiga bocah kecil. Satu anak duduk di depan yang lainnya terlihat nyaman di belakang sang ibu muda. Membonceng tiga bocah dengan kecepatan di atas rata-rata dalam kondisi jalan macet hampir mustahil kulakukan. Memang adegan berbahaya namun tetap saja aku kagum dengan skill pengemudi ibu muda tersebut. Semasa gadis bisa saja ia seorang pembalap Moto GP yang bersaing ketat dengan Valentino Rossi.

Tak hanya sampai di sana. Kekagumanku kepada perempuan semakin menjadi ketika melihat mamahku. Di keluargaku mamah adalah orang paling cantik karena hanya ia satu-satunya titisan Hawa paling rajin sedunia. Memuji emak sendiri wajar kali daripada menyanjung janda sebelah nanti takut timbul fitnah

Suatu hari rumahku sangat berantakan setelah di tinggal mamah selama tiga hari. Debu kaca sudah tebal. Cucian tertumpuk sembarangan. Piring berserakan tak karuan. Persis seperti kapal yang habis dihantam obak setinggi puluhan meter. Kedua adikku malas sekali untuk sekadar merapihkan kamarnya. Begitu pun dengan aku, terlanjur lelah dengan terpaan aktivitas sehingga tak ada waktu merapihkan rumah. Eh padahal hanya alasan untuk menutupi rasa malas.

Keadaan rumah sudah kronis. Tumpukan mayat kecoa mengisi bak mandi. Aku tak tega melihat kecoa yang meregang nyawa. Ia nampak sudah lelah dengan kondisi rumah yang tak kunjung bersih. Aku pun lelah beberapa kali mencoba menguatkan niat untuk merapihkan rumah namun selalu kalah dengan rasa malas. Aku akhirnya memilih cara paling bijak yaitu tidur. Berharap sesosok peri cantik datang dan mengayunkan tongkatnya lalu tetiba rumahku bersih bersinar.

Impianku terwujud. Ketika aku terbangun dari tidur panjangku seketika rumah terlihat rapi. Wah, akhirnya ada seorang peri cantik mengabulkan permintaanku. Tanpa diduga sapu mendarat di kepalaku.

"Gilang, kamu ngapain aja rumah berantakan banget gini."

"Bukan aku Mah. Ini semua perbuatan Dika," sembari melirik adikku yang asyik memainkan HPnya.

Dua kejadian yang mengantarkanku pada sebuah kesimpulan. Pada zaman jahiliyah kasta perempuan berada di bawah pria. Sesungguhnya itu salah. Pria dan perempuan ibarat sepasang sandal. Berbeda langkah namun mengarah ke tempat sama. Jangan menganggap perempuan tak bisa melakulan apa-apa. Aku belajar arti kelembutan yang menguatkan dari seorang perempuan. Aku lahir ke dunia berkat perantaranya. Menghormati kaum hawa bukti keperkasaan seorang pria.

Thursday, June 9, 2016

Mendaki

Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke Samudra
Bersama teman bertualang

Hayo siapa yang masih ingat lirik lagu di atas. Betul sekali itu sound track AADC 2. Eh salah deh, lirik lagu di atas adalah opening dari kartun ninja Hatori. Tahu dong ninja Hatori ? Ayo ngangguk aja. Kalau pembaca tahu berarti kalian termasuk generasi tua. Duh maaf, maksudnya generasi yang tak lagi muda.

"Apa bedanya tua dan tak lagi muda, Lang? "

Pokoknya beda aja yah. Jangan banyak tanya. Nanti aku pusing mau mulai cerita darimana. Kalau aku pusing suka ingin makan. Nah, jika aku makan puasaku batal. Nggak mau dong kalian kebagian dosa karena aku nggak puasa.

Kali ini aku akan bercerita tentang gunung. Sejak film 5 cm meter booming banyak anak muda berlomba-lomba naik gunung. Kesan keren menempel di pundak para pendaki. Bahkan ada yang berujar pendaki gunung itu menantu idaman menaklukan ribuan MDPL (Meter di atas permukaan laut) aja bisa apalagi menaklukan hati si dia uhuuuk pasti bisa banget.

Jauh sebelum film 5 cm booming. Aku sudah beberapa kali mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia. Sebutkan saja gunung Godwin Austen, Makalu, Annapurna bahkan puncak tertinggi dunia, Everest. Telah ku kunjungi hanya dalam hitungan jam. Banyak yang mengira aku ke sana memakai pesawat atau kendaraan super cepat, tidak sama sekali. Aku mengunjungi Gunung-Gunung tertinggi itu dengan menggunakan laptop. Cukup search via google. Taraaa sampailah di puncak tertinggi dunia.

"Lang kamu pengen di tabok ?"

Okey kali ini aku serius. Setahun lalu aku pernah mendaki sebuah bukit yang lumayan tinggi. Cukup lelah memang mendaki bukit itu. Aku bersama beberapa teman datang laksana Genta dan kawan-kawannya yang perkasa menaklukan Semeru dalam film 5 Cm. Di tengah lelahnya mendaki. Aku berujar dengan nada menggema.

"Teman-Teman untuk mendaki puncak bukit ini. Kita hanya perlu kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, Otak yang selalu akan berpikir, bagaimana caranya agar cepat lulus kuliah. Kemudian dompet yang harus lebih tebal karena setelah turun dari sini, kita pasti haus dan lapar."

Setelah aku membacakan ikrar tersebut. Langit tampak menghitam, guntur silih berganti menyambar. Seperti Patih Gajah Mada yang berucap sumpah palapa untuk menyatukan Nusantara. Di tengah kengerian itu temanku menepuk punggung.

"Lang, kayanya ini mau hujan kita turun yuk ?"

"Kitakan belum sampai puncak kok udah turun aja. Ayolah bentar lagi."

Bujukanku berhasil. Akhirnya kami mencapai puncak tertinggi. Dengan wajah berseri aku tertawa bahagia. Setelah melakukan ritual foto-foto. Aku mengecek semua perbekalan. Ternyata ada yang tertinggal. Dompetku hilaaaaang. Tanpa dikomando. Aku menuruni bukit itu dengan cepat tanpa banyak bicara. Melebarkan mata mencari di setiap sudut semak. Barangkali dompetku terjatuh di sana. Nyatanya nihil.

Sudah tiga kali aku naik dan turun bukit. Tak menemukan sedikitpun tanda di mana dompetku jatuh. Aku putus asa membayangkan kehilangan kartu-kartu penting di dompet dan bagaimana repotnya mengurus kartu yang hilang. Nominal uang sudah tak dipikirkan karena isinya tak seberapa.

Di saat hampir menyerah. Allah memberikan cahaya lewat temanku. Ia berkata dompetku telah ditemukan. Ingin sekali memeluknya namun aku mengurungkan niat. Bau tidak sedap tercium dari tubuhnya. Memang benar, sahabat di saat mendaki ketinggian adalah teman terbaik. Mereka ada di saat lelah mendera.

Catatan : Karya ini berdasarkan kisah nyata hanya beberapa peristiwa dibawakan dengan penuturan fiksi,

Dokumentasi :


Wednesday, June 8, 2016

Aku, Ayah dan Ayam.

Apa yang teman-teman pikirkan jika mendengarkan kata ayam ? Jelas akan beragam. Ayam bagiku tak hanya unggas dengan rasa khas ketika dimasak. Ayam memiliki kesan mendalam. Sosoknya yang menghantarkanku hingga bisa sukses seperti sekarang.

"Eh Lang, emang kamu udah sukses. Makan aja masih ngutang di warteg."

" Okey, okey aku ralat. Ngeselin banget sih kamu," Aku tiba-tiba bicara dengan diri sendiri. Tidaaak apakah ini indikasi aku gila. Gila karena mencintaimu. Uhuuuk. Dilanjut lagi bercerita tentang ayamnya.

Aku lahir dari seorang ayah yang memiliki hobi berternak ayam. Menurut ceritanya, ayah memelihara ayam sejak SD hingga SPG (Sekolah pendidikan guru) setara SMA. Berkat perantara rezeki dari berternak ia mampu bersekolah hingga jenjang tertinggi di keluarganya. Iya, Ayahku satu-satunya sarjana dari lima bersaudara. Selebihnya hanya mampu bersekolah hingga tingkat SMA.

Berkat jasa ayam. Ayah bisa kuliah dan mencukupi kehidupan keluargaku. Semenjak kuliah ayah mulai mengurangi intensitas mengurus ayam hanya ada beberapa ayam hias saja. Kesibukan kuliah dan mengajar menjadi alasannya. Seusai menyelesaikan kuliah. Barulah ia kembali berternak ayam. Tak kurang ratusan ayam kampung ia pelihara hingga seringkali aku harus berbagi tempat tidur dengan ayam. Maklum rumah dinas keluarga kami kecil untuk menampung 5 orang pun terkadang tak cukup. Ayah membuat kandang ayam dibelakang rumah, tentunya dengan lahan terbatas.

Saat itu kapasitas ayam sudah mencapai puncaknya. Mamah mulai resah dengan bau ayam yang sudah menyengat. Aku pun sama, baju-bajuku terasa bau ayam. Aku bingung semua keluargaku jadi bau ayam. Mamah bau ayam, adik-adikku bau ayam, ayah apalagi dan yang paling aneh ayam bau ayam. Positif, keluarga menjadi keluarga ayam.

Sempat beberapa kali ayah menyimpan ayamnya di dapur. Kebetulan dapur dan kamarku jaraknya tidak begitu jauh. Ketika aku sedang terlelap dalam mimpi. Seolah sedang berbicara dengan artis idola, dian sastro.

"Mba Dian, jika engkau lelah menunggu Rangga. Maukah denganku saja? " Dian sastro hanya mengangguk pelan.

"Mba Dian, please jawab. Aku akan berusaha lebih baik dari Rangga. Engkau tak usah khawatir." Wajahku berseri memasang rona terbaiknya.

Sedetik kemudian Dian mulai membuka mulutnya pertanda ia akan berbicara.

"Ketooook, keketoook." Tetiba Dian Sastro berbicara layaknya ayam. Aku curiga jangan-jangan dia siluman ayam. Akhirnya aku terbangun dari mimpi mengerikan itu. Tak terduga lima ayam menatapku dengan kesal. Kemudian naik ke kasur. Ternyata aku telah dinodai ayam. Iya, kotoran ayam berserakan dikasur dan kakiku.

Semua kejadian itu hanya tinggal kenangan. Semenjak sakit ayah tidak lagi mengurus ayam. Aktivitas ayah hanya mengajar kemudian istrirahat. Penyakitnya secara perlahan mengoyak daya tahan tubuhnya. Beberapa kali ia sempat terbaring di rumah sakit. Sekarangpun masih sama tak banyak aktivitas yang dilakukannya. Dalam hatiku seolah merindukan ayah yang dulu. Berternak ayam, kambing, itik bahkan lele. Sekarang sungguh berbeda, ia tergolek lemas di kamar.

Saat ini keluargaku hanya punya tiga ekor ayam. Semuanya di bawah kendali mamah. Mamahnya yang memberi makan, mamah yang mencari mereka di saat telat pulang. Ayam seolah menjadi saudaraku. Sedikit berbeda memang keluargaku dengan keluarga normal lainnya. Sekadar untuk persiapan Ramadan. Mamah akan membeli daging ayam di pasar. Uang untuk membeli daging itu diperoleh dari hasil menjual ayam peliharaan. Aku pernah bertanya perihal itu ke mamah. Mamah berusaha tak memakan ayam peliharaannya, sedih katanya. Menjualnya pun terkadang tak tega.

Tak bisa dipungkiri hidupku selalu bersinggungan dengan ayam. Ayahku peternak ayam. Mamahku penyayang ayam. Mungkin istriku kelak seseorang yang berkecimpung dalam dunia perayaman. Uhuuuuk. Semoga.

posted from Bloggeroid

Tuesday, June 7, 2016

Sayang, Kamu Berbeda

Akhir-akhir ini terasa ada yang berbeda di kehidupanku. Si dia tidak sama seperti biasanya. Cepet banget panas lalu ngambek deh. Parahnya seminggu lalu dia nggak mau sama sekali disentuh. Terasa kesiksa banget. Jujur saja ia seperti belahan jiwaku. Tak terhitung berapa kali kami tidur bersama berbagi duka serta lara. Takdir dengan perkasa memisahkan kami. Maaf sayang aku terpaksa menjualmu ke lelaki lain. Semoga bersamanya engkau bisa bahagia.

Taraaaaaa. HP yang baru berumur sebulan tetiba rusak. Ketika main game, ia terasa panas lalu ngambek dan restart sendiri. Kesel banget padahal kan lagi chat dengan seseorang yang di... Ssssst jangan dilanjutkan lagi bulan ramadan.

Menyayangi sesuatu kemudian kehilangan itu sungguh menyakitkan. Di saat awal membeli sudah jatuh hati. Semahal apapun ia, saat itu aku rela menebusnya. Aku timang-timang gawai berwarna grey itu, aku elus dengan lembut. Aku beri makan pulsa terbaik walau seharga lima ribu. Maklum dompet anak kuliahan. Lebih banyak kertas daripada duit.

Suatu hari yang cerah. Awal dari sebuah petaka, mengubah si dia untuk selamanya. Pagi itu burung-burung sedang bertukar kicau. Awan nampak biru mengkilap. Seorang anak terlihat memasang senyum terbaiknya guna membujuk sang ibu agar memberikan uang jajan lebih banyak. Aku dalam kondisi yang sama. Berkutat dengan segala persiapan. Saat itu sedang musim UAS. Kebetulan aku ditugaskan jadi panitia. Telat sudah dipelupuk mata. Aku tergesa-gesa menyiapkan semua.

Memang benar tergesa-gesa awal dari bencana. Gawai berwarna grey itu terjatuh dari ketinggian yang cukup untuk membuat hati berdebar. Secara fisik tak ada kerusakan berarti kecuali sedikit goresan kecil di casing. Namun tampaknya HPku amnesia karena benturan itu. Terkadang mati dan nyala sendiri. Dia nampak terkena penyakit berbahaya.

Saat itu aku kalut. Tak mampu berpikir jernih. Beberapa jam kemudian mencoba menjajakan HP kesayanganku di OLX.com. Tak lama dari kejadian mengenaskan itu. Gawai yang kudamba sudah berpindah tangan. Ada rasa bersalah di hati. Aku tega menyakiti lalu mencampakannya begitu saja.

Di kala ku sedih karena merasa bersalah mencampakan si dia. Mamah dari belakang menepuk punggungku kemudian berkata

"Sudah Lang, beli aja lagi. Nanti mamah tambahin. Rusak HP aja seperti orang putus cinta. Jangan terlalu dipikirin nanti kamu gila. Kalau kamu gila nanti nggak ada yang mau sama kamu. Kalau kamu nggak laku kapan mamah punya cucu." Mamah pergi sembari tertawa. Nasihatnya mamah membuatku berpikir. Serem juga efek rusak HP bisa jadi jomblo selamanya.

posted from Bloggeroid

Thursday, June 2, 2016

Kapal Kehidupan

Manusia takkan pernah bisa hidup sendiri bahkan nabi Adam pun merasa sepi ketika ia seorang diri. Padahal tempatnya saat itu ialah Surga. Tempat paling didamba seluruh manusia. Allah maha tahu apa yang diperlukan hambanya. Pemilik semesta menciptakan Hawa sebagai penyempurna Adam. kehidupan Nabi Adam lebih berwarna setelah kedatangan Hawa.

Begitulah potongan cinta dari pendahulu kita. Apakah di era kekinian definisi cinta berubah haluan ?. Aku rasa tidak. Pernah dikisahkan seorang pemuda dengan kekayaan melimpah, pendidikan tinggi serta dikarunia wajah tampan merasa hidupnya belum sempurna tanpa hadirnya getaran berbeda di dada.

Sejak dulu cinta fitrah manusia. Ada masanya memutuskan memilih seseorang yang akan dicintai hingga maut memisahkan diri. Menyatukan dua hati dalam ikatan cinta memang tak mudah. Banyak sekali yang awalnya sangat mencintai namun setelah menikah cinta mereka kandas hanya dengan beberapa hari. Perceraian menjadi pilihan menakutkan.
Aku belum menikah namun suatu saat insyaAllah akan menunaikan seruan Rasul Allah.

Ayah pernah berkata

"Gilang, setiap lelaki pada dasarnya adalah pemimpin. Kelak engkau pun akan menjadi pemimpin setidaknya memimpin rumah tangga yang akan engkau bina," Aku mengangguk menatap raut wajah Ayah dengan serius.

"Lang, tugas pemimpin itu tak mudah. Engkau bertanggungjawab atas setiap perut keluargamu kelak. Tak hanya itu. Engkau pun bertanggungjawab atas setiap perbuatan istri dan anak-anakmu juga. Ayah percaya engkau akan menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang selalu bisa memberikan suriteladan, " Aku mengangguk pertanda setuju.

"Satu lagi Lang. Kelak jika memilih seorang istriku. Pastikan ia yang selalu bangun disaat yang lain terlelap tidur. Meminta kepada Allah agar suami diberikan segala kemudahan. Kalau pun tidak bimbinglah ia menjadi surga terbaik untuk anak-anakmu . 

Sebelumnya Ayah tak pernah membicarakan hal seserius itu. Biasanya ia hanya terdiam dan sesekali tertawa. Petuah dari seorang Ayah sangat bermanfaat.

Kelak aku akan menjadi kapten kapal yang mengarungi laut kehidupan bersama seseorang yang telak ku pilih untuk setia menemani. Dalam kehidupan pasti akan ada ombak, badai bahkan terjangan tsunami. Beberapa kapal akan bertahan, beberapa lagi hancur berantakan. Semoga aku adalah bagian dari yang bertahan. Mengarungi kerasnya kehidupan dengan partner terbaik yang kelak ku panggil sayang.

posted from Bloggeroid

Rahasia Maut

Saat aku menuliskan catatan sederhana ini. Sang waktu sudah menunjukan pukul 23:38 WIB. Semua sepakat bahwa detik ini akan segera berganti hitungan. Angka satu berubah menjadi dua di bulan Juni dalam hitungan masehi.

Tidak terasa waktu berputar begitu cepat laksana maling yang sedang dikejar warga karena mencuri ayam untuk bekal dia menghadapi bulan puasa. Ramadhan lalu beberapa orang terdekat denganku sudah dipanggil Allah lebih dahulu. Aku pun sama hanya menunggu giliran dipanggil Sang kuasa. Terkadang waktu begitu melenakan. Menyusun jutaan rencana duniawi sehingga aku lalai mempersiapkan bekal untuk dunia abadi setelah mati.

Empat tahun lalu. Aku hanya anak SMA yang tak terlalu mengerti makna hidup di dunia. Sekadar tahu belajar dengan baik agar bisa diterima di perguruan tinggi negeri untuk memudahkan mencari kerja nanti. Di penghujung masa kuliah. Barulah aku tersadar rencana-rencana dunia terlalu menjejali isi kepala. Setelah lulus kuliah diharuskan mencari kerja atau buka usaha. Setelah itu mencari sosok ibu untuk penerus keturunanku. Selanjutnya membesarkan mereka. Jika beruntung aku mampu melihat mereka menikah kemudian bangga dipanggil kakek.

Bisa juga sebelum semua itu terjadi ragaku sudah tiada. Segala kemungkinan masih bisa hadir tanpa diduga.
Maut tak mengenal batasan usia. Tua atau muda siap dia jemput kapan saja. Tiga hari lalu maut datang tanpa seorang pun kan menduga.

Tempatku mengajar merupakan yayasan Islami yang dipimpin oleh seorang Kyai. Hari minggu lalu. Kyai bersama santri (Sekaligus siswa tempatku mengajar) beserta rengrengan guru dan ibu-ibu pengajian berangkat berziarah ke suatu tempat. Tak banyak hanya enam angkutan kota, berjumlah sekitar 60 orang. Awalnya aku berniat ikut sekalian berwisata rohani karena suatu hal terpaksa membatalkannya.

Senin pagi semua berlalu seperti biasa. Membaca buku, menikmati sarapan sembari membuka media sosial. Tak diduga beberapa teman mengajar membuat status bela sungkawa. Aku penasaran mencoba mencari tahu. Inalillahi, salah satu rombongan ziarah tabrakan. Lima orang tewas seketika. Kebetulan juga menimpa mobil yang ditumpanginya Kyai. Semua penumpang yang duduk di depan tewas seketika termasuk supir. Penumpang yang berbeda dibelakang mengalami luka parah bahkan Kyai kakinya patah. Sungguh maut datang tak diduga.

Kyai dengan wajah sendu menahan sakit dan rasa bersalah, memulai memaparkan kronologi. Beliau awalnya duduk di samping supir namun kemudian pindah ke belakang menemani istrinya. Beberapa jam kemudian tabrakan maut menghampiri. Kematian begitu rahasia menghampiri siapa saja. Kita hanya menunggu giliran untuk dijemput Izrail. Kita berharap ketika Izrail datang menjemput. Kita sudah membawa sebaik-baiknya bekal yaitu keimanan dan takwa.

posted from Bloggeroid