Wednesday, June 22, 2016

Keluarga Rimba

"Lang di atas foto keluarga siapa ?"

"Foto keluargaku dong. Biar begini aku juga punya keluarga." Sembari menepuk dada.

"Eh, itu pasti keluarga sewaanyah ? Kok nggak ada yang mirip. Kamu mirip tetangga Lang ? Hayo ngaku."

"Enak aja. Punya uang darimana aku nyewa keluarga. Tapi bisa juga sih sebenarnya aku anak raja Yordania yang tertukar di posyandu. By the way kamu siapa tiba komentari fotoku ?"

"Aku masa lalumu Lang yang meminta engkau ingat."

"Husss huss. Masa lalu pergi aja. Aku masih punya masa depan kok. Lirik foto seseorang."

Kali ini aku bercerita tentang keluarga.
Aku adalah anak pertama dari pasangan manusia yang saling jatuh cinta. Mamahku berasal dari suku Sunda begitupun dengan ayahku. Tetapi takdir kehidupan membesarkanku di kebudayaan Jepang. Eh edit deh. Aku lahir dan besar di Bandung. Kurang kekinian sih belum bisa menjelajah dunia. Suatu saat harus mampu berkelana di bumi yang Kuasa tentunya bersama seseorang tercinta. Tengok kamu. 

Di keluargaku Mamah menjadi ratu paling cantik, tak seorangpun wanita yang menandinginya. Tentu karena keluargaku di dominasi lelaki tampan. Setidaknya definisi tampan bagi mamahku. Efek samping dihuni kebanyakan lelaki, rumah menjadi seperti sebuah hutan.

Di rumahku hidup beberapa spesies binatang. Tikus, kecoa, kucing bahkan Lumba-Lumba. Binatang terakhir berbentuk boneka tidak bernyawa. Otomatis semua binatang itu semakin memeriahkan keluargaku. Terkadang ketika nonton sinetron favorit kucing duduk manis menemani. Di saat mandi pasukan kecoa ikut berenang di bak mandi. Tak lupa berbagi makanan dengan tikus. Pernah suatu hari stok mie rebus ludes diserbu pasukan tikus. Sungguh indah sekali nikmat berbagi meski sesekali gondok.

Bulan ramadan semakin meriah sekali. Berebut makan di saat adzan menjadi agenda wajib. Mamah sudah tentu kebagian porsi paling sedikit. Aku pun sama pernah kehabisan jatah berbuka. Saat itu sedang asyik berchat ria dengan seseorang tak terasa waktu berbuka terlewat beberapa menit. Walhasil makanan yang tersisa hanya cukup untuk kucing. Harus diakui memang ketat persaingan berebut jatah makan dikeluargaku. Telat beberapa detik makanan lenyap. Seperti kondisi di hutan. Lengkah sedikit buruan diambil.

Mamah selalu menjadi korban dalam persaingan keluarga rimba. Untunglah mamah cerdik. Ia selalu menyimpan sedikit makanan untuk siapa saja yang tidak kebagian jatah makan. Sekalipun selalu berebut jatah perut, entah kenapa  senyum selalu menghiasi raut wajah kami. Memang keluarga sumber bahagia yang tak terukur oleh harta.


Reactions:

5 comments:

Ciani L said...

Depan rumah tinggal kasih loket, "selamat datang di kebun binatang mini"..

Anak-anaknya payah ni ga ada yg mo bebenah, hhaa

lisa lestari said...

Hahaha..kasihan mama gilang

Vinny Martina said...

Lucu ceritanya aa gilang..

Wiwid Nurwidayati said...

selalu lucu kalau bikin cerita

HERU WIDAYANTO said...

Kocak ...
Anak2 Rimba
Heheee