Thursday, June 9, 2016

Mendaki

Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke Samudra
Bersama teman bertualang

Hayo siapa yang masih ingat lirik lagu di atas. Betul sekali itu sound track AADC 2. Eh salah deh, lirik lagu di atas adalah opening dari kartun ninja Hatori. Tahu dong ninja Hatori ? Ayo ngangguk aja. Kalau pembaca tahu berarti kalian termasuk generasi tua. Duh maaf, maksudnya generasi yang tak lagi muda.

"Apa bedanya tua dan tak lagi muda, Lang? "

Pokoknya beda aja yah. Jangan banyak tanya. Nanti aku pusing mau mulai cerita darimana. Kalau aku pusing suka ingin makan. Nah, jika aku makan puasaku batal. Nggak mau dong kalian kebagian dosa karena aku nggak puasa.

Kali ini aku akan bercerita tentang gunung. Sejak film 5 cm meter booming banyak anak muda berlomba-lomba naik gunung. Kesan keren menempel di pundak para pendaki. Bahkan ada yang berujar pendaki gunung itu menantu idaman menaklukan ribuan MDPL (Meter di atas permukaan laut) aja bisa apalagi menaklukan hati si dia uhuuuk pasti bisa banget.

Jauh sebelum film 5 cm booming. Aku sudah beberapa kali mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia. Sebutkan saja gunung Godwin Austen, Makalu, Annapurna bahkan puncak tertinggi dunia, Everest. Telah ku kunjungi hanya dalam hitungan jam. Banyak yang mengira aku ke sana memakai pesawat atau kendaraan super cepat, tidak sama sekali. Aku mengunjungi Gunung-Gunung tertinggi itu dengan menggunakan laptop. Cukup search via google. Taraaa sampailah di puncak tertinggi dunia.

"Lang kamu pengen di tabok ?"

Okey kali ini aku serius. Setahun lalu aku pernah mendaki sebuah bukit yang lumayan tinggi. Cukup lelah memang mendaki bukit itu. Aku bersama beberapa teman datang laksana Genta dan kawan-kawannya yang perkasa menaklukan Semeru dalam film 5 Cm. Di tengah lelahnya mendaki. Aku berujar dengan nada menggema.

"Teman-Teman untuk mendaki puncak bukit ini. Kita hanya perlu kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, Otak yang selalu akan berpikir, bagaimana caranya agar cepat lulus kuliah. Kemudian dompet yang harus lebih tebal karena setelah turun dari sini, kita pasti haus dan lapar."

Setelah aku membacakan ikrar tersebut. Langit tampak menghitam, guntur silih berganti menyambar. Seperti Patih Gajah Mada yang berucap sumpah palapa untuk menyatukan Nusantara. Di tengah kengerian itu temanku menepuk punggung.

"Lang, kayanya ini mau hujan kita turun yuk ?"

"Kitakan belum sampai puncak kok udah turun aja. Ayolah bentar lagi."

Bujukanku berhasil. Akhirnya kami mencapai puncak tertinggi. Dengan wajah berseri aku tertawa bahagia. Setelah melakukan ritual foto-foto. Aku mengecek semua perbekalan. Ternyata ada yang tertinggal. Dompetku hilaaaaang. Tanpa dikomando. Aku menuruni bukit itu dengan cepat tanpa banyak bicara. Melebarkan mata mencari di setiap sudut semak. Barangkali dompetku terjatuh di sana. Nyatanya nihil.

Sudah tiga kali aku naik dan turun bukit. Tak menemukan sedikitpun tanda di mana dompetku jatuh. Aku putus asa membayangkan kehilangan kartu-kartu penting di dompet dan bagaimana repotnya mengurus kartu yang hilang. Nominal uang sudah tak dipikirkan karena isinya tak seberapa.

Di saat hampir menyerah. Allah memberikan cahaya lewat temanku. Ia berkata dompetku telah ditemukan. Ingin sekali memeluknya namun aku mengurungkan niat. Bau tidak sedap tercium dari tubuhnya. Memang benar, sahabat di saat mendaki ketinggian adalah teman terbaik. Mereka ada di saat lelah mendera.

Catatan : Karya ini berdasarkan kisah nyata hanya beberapa peristiwa dibawakan dengan penuturan fiksi,

Dokumentasi :


Reactions:

3 comments:

Ciani L said...

Cantik..

lisa lestari said...

Hahaha, aku generasi tuaaa...hafal ninja hatori

febie pranolosa said...

Peres bgt mendaki gunung everest. ternyata via Google . 😜😜😜😜😜😜

by the way gilang yg mana sih di foto itu