Thursday, June 16, 2016

Wajah Muram Sang Guru

Jadwal tidurku sepekan ini makin tak beraturan. Mungkin efek banyak hal yang mulai dirisaukan. Setahun lagi aku akan menamatkan kuliah. Jika orang lain menyambutnya dengan suka cita tapi aku malah sebaliknya. Ada keresahan bersemayam di kepala berputar memikirkan banyak hal, salah satu tentang masa depan.

Banyak rencana terangkai di kepala tentang apa yang harus aku lakukan selepas lulus kuliah. Apakah akan terus menjadi guru honorer dengan masa depan yang tak jelas. Tak dipungkiri kehidupan zaman sekarang menuntut untuk punya uang. Faktanya kebanyakan kasus perceraian berawal dari ketiadaan rupiah. Terbayang jika aku terus menjadi guru honerer dengan upah jauh dari nominal satu juta. Anak dan istriku akan makan apa ? . Aduh Gilang sudah mikirin anak istri aja. Biarin daripada mikirin mantan. Kita nggak akan beranjak dari masa lalu jika memikirkan mantan melulu. Akhirnya aku ngomong sendiri. Benar-benar banyak pikiran deh.

Pemberitaan media yang menceritakan guru dengan gaji 200rb perbulan benar adanya. Bahkan beberapa temanku lebih parah. Hanya menerima upah 70rb/bulan. Kalau saja tidak menjalankan bisnis mungkin untuk makan sendiri saja upah mengajar yang kulakukan tidak akan pernah cukup. Memang benar guru adalah pekerjaan kemanusiaan tapi tidak manusiawi juga dibayar dengan upah yang tak seberapa.

Bayangkan, jika kelak aku menikah dengan Raisa tetapi pekerjaanku masih guru honorer. Membeli bedaknya saja harus kredit dengan 12 kali angsuran. Aku punya teman yang juga seorang guru honorer. Umurnya sudah lebih dari 40 tahun tapi belum menikah. Tentu alasannya sudah bisa ditebak. Belum ada orangtua yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada seseorang dengan penghasilan tak menentu. Padahal cara mengajarnya sungguh aku kagumi. Totalitasnya dalam dunia pendidikan tak bisa diragukan. Ia sempat mengajar 6 bulan tanpa gaji. Begitu memilukan nasibmu pahlawan tanpa tanda jasa.

Tentu aku tidak ingin bernasib seperti itu. Tak ingin melihat istriku kelak menahan lapar karena sang suami memberikan uang yang tak kunjung cukup. Setahun lagi gelar sarjana pendidikan akan kurengkuh. Tak elok rasanya bila putus asa dengan dunia pendidikan yang kucinta. Selepas lulus S1 aku akan menikah denga si dia, eh salah maksudnya aku berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sembari terus mengajar. Semoga Allah mempercayakanku menduduki jabatan yang bisa mengubah wajah pendidikan Indonesia. Baik dari kualitas murid maupun kesejahteraan gurunya.

Pendidikan ialah pondasi awal kemajuan suatu bangsa, dan guru merupakan ujung tombaknya. Jangan sampai tak ada lagi yang tertarik menjadi guru karena melihat nominal angka yang diterima. Jangan sampai pemuda yang memilih profesi guru seolah diambang kejombloan karena tak ada mertua yang mau menikahkan anaknya dengan dia.

Maju terus pendidikan Indonesia. Maju terus Raisa.

Reactions:

7 comments:

Ciani L said...

Semangat pak guruu....

lisa lestari said...

guru honor, gaji horor ya, lang....sediiih liatnya...

lisa lestari said...

guru honor, gaji horor ya, lang....sediiih liatnya...

Wiwid Nurwidayati said...

semangat para guru .....

nur apriliyani said...

Maju terus Bang Gilang...

denik said...

Mengajar itu memang pekerjaan hati. Kalau sudah pakai hati, meskipun nominalnya tak mencukupi...Melihat mata anak-anak berbinar-binar mendengar cerita kita...rasanya...bahagia sekali.

HERU WIDAYANTO said...

Go ahead Aa!!
Hidup Guru :)