Wednesday, July 6, 2016

Di Antara Lebaran, Mantan dan Gemukan

Lebaran tiba lebaran tiba. Nyanyi sembari minta THR. Tak terasa sebulan penuh kita ditempa dalam kuliah kehidupan bernama puasa. Gelora nafsu harus dipenjara tak dibiarkan menggelora. Layaknya baju kotor, kita sedang dibersihkan dari segala dosa yang sudah berkarat penuh noda.

Bulan penuh rahmat Allah sudah berlalu. Tibalah saatnya kita diwisuda. Orang Indonesia menyebutnya lebaran atau hari raya. Sejak puasa usai gema takbir menggema di setiap sudutnya. Rasa pilu menyergap begitu saja. Ramadan berakhir meninggalkan kesan mendalam.

Ketika pertama kaliku berpuasa. Rasa haus sering menghampiri. Kala itu beberapa kali meminum air wudhu. Bisa sampai dua gelas kalau ditakar. Tanpa berdosa mengaku ke orangtua tamat puasa agar diberi uang semacam imbalan. Sungguh nakal aku semacam kecil.

Sekarang tentu berbeda. Tak lagi penuh tipu muslihat dalam berpuasa. Alhamdulilah lulus dari tahap menahan haus serta dahaga. Namun untuk bertarung dengan nafsu memang perlu kerja keras. Sering khilaf apalagi di saat baper menyerang. Jauhkan hambaMu dari godaan perasaan yang sering menyergap.

Banyak perbedaan yang kurasa ketika kecil hingga besar sekarang ini. Salah satunya pasokan uang imbalan berpuasa yang dari tahun ke tahun semakin berkurang. Tahun ini alhamdulilah sudah mampu berbagi rezeki dengan keluarga. Tidak lagi meminta jatah uang namun berganti dengan pertanyaan "Kapan nikah Lang ?" duh please deh aku masih belia belum cukup umur untuk nikah. Baru 17 + tapi plusnya banyak sekali.

Selain pertanyaan kapan nikah. Sapaan lainnya "Lang, kamu gemukan yah ?" menjadi populer. Dari zaman purbakala di saat T-rex berburu ubur-ubur aku nggak mau disebut gemukan. Gemuk seolah menjadi kata terlarang yang haram didengar telingaku. Rasanya ingin memberikan hadiah kopi luwak dengan oplosan sianida untuk orang yang berani berkata gemukan. Teman-Teman jangan bilang aku gemukanyah ? Sembari meracik sianida.

Entah kenapa sanak saudara di waktu lebaran tingkat kepedulian mereka meningkat pesat termasuk terhadap hal pribadi. Di sisi lain senang sih masih ada yang peduli. Sekalipun dengan rentetan pertanyaan yang menyesakan dada.

Hari raya memang memiliki kekuatan luarbiasa untuk menyatukan berbagai kerinduan. Saudara jauh seolah menjadi akrab meskipun sudah tak bertemu bertahun-tahun. Opor dan sajian khas lebaran lainnya turut berperan mempersatukan persaudaraan sekalipun dengan efek takut melihat timbangan.

Selamat libur panjang. Berhati-hati di perjalanan bagi yang mudik. Berhati-hati juga terhadap gerak-gerik mantan yang awalnya berucap mohon maaf lahir dan batin padahal punya misi rahasia untuk mendaur ulang cinta lama. Gilang out mau makan rendang dulu.

Reactions:

3 comments:

Ciani L said...

Aa Gilang gemukan yah? Hhaa

#mlipirkabur

lisa lestari said...

ga papa lang gemuk...yang penting sehat...hehehe

Sasmitha A. Lia said...

Entah kenapa sanak saudara di waktu lebaran tingkat kepedulian mereka meningkat pesat termasuk terhadap hal pribadi. Di sisi lain senang sih masih ada yang peduli. Sekalipun dengan rentetan pertanyaan yang menyesakan dada.



Aku pun memiliki pertanyaan yang sama... huhuhu