Friday, July 8, 2016

Tak Seindah Rumput Tetangga

Beberapa hari setelah lebaran biasanya dimanfaatkan untuk liburan. Aku sebagai makhluk yang kekinian turut berpartisipasi dalam memeriahkan jalan. Jika boleh sombong liburanku sungguh berbeda dengan orang kebanyakan. Tidak ke daerah Jawa ataupun luar pulau. Kali ini aku menyempatkan diri berlibur ke luar negeri. Tepatnya ibukota Francis yaitu Paris.

Paris terkenal dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan menjulang menjadi bukti sejarah bahwa negara ini sungguh eksotis dari setiap sudutnya. Landmark utama yang bisa terlihat di setiap jengkal Paris menjadi ciri khas. Menarik puluhan juta turis pertahun menjadi ganjaran pas. Piramida ialah bukti kedigdayaan Francis.

"Bentar Lang, kamu pernah belajar geografi nggak sih ? "

"Pernah dong. Dulu aku paling ahli main badminton."

"Yah. Kayanya otak kamu kena virus deh. Landmark Francis bukan piramida tahu !"

"Ah kamu seperti yang tahu aja."

" Tahu dong. Menara Pisa kan ?. Nggak usah muji Lang. Aku sih sekadar berbagi ilmu ke kamu."

Sebenarnya aku tidak pergi ke Francis hanya melihat film berbau Francis berjudul "Wassalamu'alaikum Paris" menceritakan gadis sunda yang menikah dengan bule asal Francis. Dia menikahi bule bernama Clement atau disingkat Emen karena ingin selfie serta shopping di Paris. Tetapi api jauh dari panggang. Khayalan berbeda dengan kenyataan.

Rumah Emen terletak jauh dari kota Paris dan parahnya suaminya itu hanya seorang petani anggur bukan bule kaya seperti yang ia bayangkan. Wanita itu stress karena tak kunjung diajak ke Paris. Ditambah dengan sosok wanita dari masa lalu Emen mengusik kehidupan mereka. Singkat cerita ia kabur bersama seorang pria kenalannya.

Tak diduga sesampainya di Paris tasnya dicopet. Iya dicopet. Mungkin banyak yang tidak percaya bahwa Paris pusat copet dunia. Kesimpulan tersebut aku cari di google. Puluhan referensi menguatkan fakta itu. Bahkan objek menara Eiffel pernah ditutup saking banyaknya copet yang berkeliaran. Awalnya aneh memang pusat kota dunia menjadi sarang pencopet.

Kesenjangan ekonomi menjadi dasar penyebabnya. Banyak imigran yang sulit mendapatkan pekerjaan di sana lalu mereka mengkoordinir Anak-Anak di bawah umur untuk menjadi pencopet. Di Francis hukuman untuk pencopet ringan apalagi pelakunya anak di bawah umur. Diberi peringatan lalu langsung dibebaskan. Parahnya mereka tak pernah kapok.

Balik lagi ke cerita yang selalu berakhir bahagia. Kenapa bahagia ? Detailnya simak saja filmnya seru kok. Intinya di balik keindahan kota Paris yang selalu diagungkan terdapat ketidaknyamanan. Semua hal akan terlihat indah di luar. Setelah memasuki keindahan tersebut belum tentu sesuai kenyataan. Kita mungkin melihat Indonesia penuh kekurangan dan terkadang membandingkan negara ini dengan negara lain yang lebih maju. Tak jarang ada yang sesumbar ingin pindah negara.

Di lubuk hati terdalam seindah apapun negeri orang. Aku tetap cinta Indonesia. Airnya aku minum, tumbuhannya aku makan bahkan tanahnya selalu aku injak. Tak elok rasanya mencela negeri yang kucinta dengan makian. Daripada mencela dan sesumbar pindah negara. Lebih baik berupaya memajukan Indonesia. Mendoakan para pemimpin negeri ini agar digerakan hatinya oleh Allah untuk sekuat tenaga memajukan Indonesia.

Reactions:

4 comments:

Ciani L said...

Masih banyak pesona Indonesia yang lebih Indah daripada luar negeri... Ga percaya? Yuk keliling Indonesi.

*serasa duta wisata :)

lisa lestari said...

Aku bangga dengan Indonesia...

lisa lestari said...

Aku bangga dengan Indonesia...

Indri Mulyani Bunyamin said...

Seneng baca tulisan Kang Gilang. Aku termasuk yg blm banyak mencicipi Indonesia.