Tuesday, August 30, 2016

Gadis Di Balik Pintu

Engkau mengintip malu-malu
Di balik lubang kunci pintumu
Berharap pada Tuhan setiap mimpimu jadi kenyataan
Termasuk mimpi tentang dia yang selalu kau lafalkan dalam doa

Kau masih setia menunggu di balik pintu
Berharap sosok pangeran datang bersama orangtuanya menemuimu

Engkau menanti dengan kecantikan yang siap dipersembahkan
Balutan jilbab ungu berpadu frame kaca mata biru menegaskan bahwa kau pantas menjadi idaman pria

Berjuta detik berlalu
Engkau masih menunggu di balik pintu
Berharap pada seseorang yang tak jua datang

Wajah cantikmu mulai termakan waktu
Jilbab ungumu berbentuk tak menentu
Kaca matamu mulai berdebu
sehingga kau tak mampu membedakan nyata atau semu

Andai dulu kau memilihku
Takkan ku biarkan percuma jutaan detik milikmu

Sunday, August 28, 2016

Di Balik Skripsi

Aku manusia biasa yang lahir dengan segala keterbatasan. Begitupun keterbatasan dalam hal mencintai hanya sebatas kamu saja.

Detik berlalu tak terasa sudah di penghujung waktu engkau menuntaskan status mahasiswa. Aku masih ingat saat dirimu bersusah payah merampungkan skripsi. Hatiku ikut berdebar kala wanita yang ku cinta menunjukan wajah lelahnya. Ia berkutat dengan buku yang tak satu pun ku mengerti. Wajarlah, diri ini tak pernah merasakan menjadi mahasiswa. Tidak mengerti apa itu skripsi. Bahkan ketika engkau mengeluh kurang referensi, sungguh aku tak paham. Yang ku tahu mengenai referensi hanya sebatas bumbu dapur yang terbuat dari udang. Setidaknya sama akhirannya.

Tugasku hanya mengantarkanmu ke toko buku atau mengujungi tempat favoritmu yaitu perpustakaan kampus. Aku sempat heran dengan raut wajahmu yang bisa berubah dalam hitungan detik. Rona bahagia mampu hadir namun seketika hilang entah kemana. Diri ini tak banyak bicara hanya mampu mengikuti perintahnya. Entah kenapa cinta ini meniadakan logika. Beberapa kali bolos kerja hanya sekadar menjadi ojek cinta.

Aku bahagia ketika skripsimu sudah rampung. Dengan wajah berbinar-binar ku buka setiap halaman tugas akhirmu. Hingga sampai di lembaran ucapan terimakasih. Mataku haru melihat namaku tertulis di skripsimu. Kata terindah yang pernah aku baca.

Tiga hari menjelang wisudamu, waktu tak memberikanku kesempatan untuk sekadar bertatap muka. Sudah terlalu sering izin tak bekerja. Aku punya rencana setelah engkau lulus wisuda ingin segera menjadikanmu istriku. Tabunganku nampak sudah cukup untuk membangun bahtera cinta kita

Kelak aku akan membeli rumah sederhana dengan cat merah muda seperti warna yang kau suka. Di depan terdapat kolam kecil dengan belasan ikan koi. Bukankah kau senang berlama-lam di kolam ikan. Melemparkan pakan lalu bersorak ketika beberapa ikan memakan umpan yang kau lempar. Saat itu kau seperti gadis kecil yang ingin senantiasa aku jaga.

Semenjak engkau merampungkan skripsi tak pernah lagi menghubungiku. Aku berusaha berpikir positif, mungkin engkau larut dalam euforia bahagia atau berbagi kebahagiaan dengan teman seperjuangan. Hingga menjelang hari bahagia, engkau tak mengabari aku sedikit pun. Ah sayang dirimu memang peramal paling cantik, tanpa dikabari sekalipun kau sudah menduga aku pasti akan datang.

Langit hari itu begitu cerah. Aku sibuk mencari pakaian paling mewah. Jas hitam dengan dasi warna merah sudah aku kenakan. Terbayang betapa kagetnya kamu melihatku serapi ini. Biasanya aku bersamamu dengan pakaian seadanya. Kaos polos berpasangan jin lusuh. Di hari istimewa, aku tak boleh berpenampilan seadanya. Sengaja menyewa mobil untuk menjaga penampilan ini tetap rapi sekaligus agar kau tak malu mengenalkanku dengan teman-temanmu.

Setelah berjibaku menerjang kemacetan akhirnya aku tiba di depan gedung tempat engkau wisuda. Tampak ramai dengan berbagai orang yang larut dalam kebahagiaan, namun sayang aku datang terlambat. Terpaksa kehilangan momen di saat engkau berjalan ke podium menyalami setiap dosen yang sempat kau buru tanda tangannya. Beberapa saat aku menunggu sembari memegang buket bunga yang kau suka. Belasan mawar putih sudah siap aku serahkan kepadamu.

Dari kejauhan terlihat engaku begitu cantik dengan balutan toga. Rona bahagia terpancar jelas diwajahmu. Setengah berlari aku hendak menghampirimu. Ingin rasanya memegang tanganmu lalu memberikan bunga pertanda rasa bahagia yang sama. Sayang sungguh sayang, aku telat lagi. Seorang pria dengan jas lebih mewah tepat berada dibelakangmu lalu memegang tangan mungil itu begitu erat. Engkau melangkah ke arahku tanpa sepatah kata lalu pergi tanpa menyapa.

Dua bulan setelah itu. Aku sekarang berada di tempat yang sering kita kunjungi, perpustakaan kampusmu. Diri ini masih hafal buku mana saja yang pernah engkau baca. Satu persatu aku pegang, buku yang juga pernah engkau pegang. Hingga sampai di rak yang menampung deretan tugas akhir mahasiswa. Tak perlu waktu lama untuk menemukan skripsimu. Aku buka halaman demi halaman persis seperti dulu. Tak ada yang berbeda kecuali namaku yang hilang dari skripsimu. Bukan hanya tugas akhirmu yang engkau revisi, tapi juga aku yang engkau ganti.

Wednesday, August 24, 2016

Dahulu Vs kini

Kenangan itu kembali menghampiri. Menikam uluh hati tepat dititik vital kini. Aku terniang kebiasaan indah masa lalu. Dulu sebelum pasukan malas menyerang, menulis sudah menjadi kebutuhan primer. Ada yang kurang jika tidak mengoreskan pena, eh tepatnya menekan tombol-tombol berisikan deretan alfabet.

Sekarang kebiasaan itu tergerus jutaan alasan. Malas, banyak kegiatan bahkan bayangan si dia pun turut disalahkan. Duh kasihan si dia menjadi kambing guling dalam keengganan menulis. Maksudnya kambing hitam. Maklum menulis ini sembari membayangkan kambing bakar. Enak sepertinya makan kambing disertai jus alpukat.

Ah, kan aku mau menulis malah gagal fokus bahas makanan. Kembali pada bahasan utama deh. Sejujurnya hampir sebulan lebih aku cuti dalam dunia kepenulisan. Bukan cuti melahirkan loh tapi cuti karena terserang penyakit. Menurut dokter spesialis kealayan, aku terserang penyakit galaunisme. Galaunisme ialah keadaan di mana seseorang merasa waktu 24 jam tidak cukup sedangkan banyak kegiatan yang harus diselesaikan.

Tak hanya terserang pengakit galaunisme, dokter spesialis yang ternyata adalah aku sendiri, memvonis bahwa diri ini terserang penyakit komplikasi. Galaunisme tingkat lanjut bergabung dengan lelahisme. Lelahisme ialah keadaan di saat pulang ke rumah malas melakukan apapun. Mungkin, kalau tak bernapas tidak menyebabkan kematian, aku pun akan malas bernapas.

Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW sempat berdoa agar dijauhkan dari rasa malas. Memang benar malas menggerogoti berbagai sendi kreativitas. Membekukan otak hingga seperti es batu. Keras sekali untuk sekadar membuka aplikasi word. Dengan ucapan basmalah serta kekuatan super layaknya Bima X, aku ingin memaksakan diri untuk menuangkan keresahan hati dalam bentuk tulisan.

Malu rasanya bila mengingat masa lalu. Aku yang masih bersemangat menulis bahkan lebih sering menulis daripada jajan (padahal alasan saja tidak punya uang). Kini bertolak belakang, menulis ibarat mengangkat seekor bebek.

"Bentar lang, bukannya bebek itu ringan? "

Siapa bilang bebek ringan. Bebek itu berat karena bebek yang aku maksud sedang naik kereta. Untuk saat ini menulis ibarat mengangkat kereta, sangat berat. Ingin rasanya menjadi hercules yang mampu mengangkat beban ribuan ton. Aku juga harus bisa menjadi super hero dengan tugas membasmi rasa malas. kenangan saat giat menulis tidak hanya kenangan tetapi sudah menjadi visi ke depan. Semangat menulis, mari buat catatan untuk anak cucu kita bahwa nenek moyangnya pernah alay, eh maksudnya pernah menulis.

Wednesday, August 10, 2016

Semangat dari Mekarrahayu

Pendidikan ialah ujung tombak kemajuan bangsa. Tak pernah ada cerita negara yang perkasa tanpa peran pendidikan sebagai unsur utama. Telah menjadi rahasia umum, Jepang sempat terpuruk setelah kalah dalam perang dunia kedua. Kotanya hancur, ribuan tentaranya meregang nyawa. Namun yang pertama kali dikhwatirkan kaisar Hirohito adalah guru. Ia bertanya seberapa banyak jumlah guru yang tersisa. Luarbiasanya peran pendidikan bagi sang kaisar saat itu. Ternyata terbukti, tak perlu waktu lama Jepang kembali digdaya.

Bila Jepang memahami pentingnya pendidikan sebagai pondasi memajukan negeri. Lalu apa kabar Indonesia ?
Negara dengan sejuta potensi yang punya kesempatan besar untuk ujuk gigi dipaksa gigit jari, karena di sebagian daerahnya pendidikan layak hanya sekadar mimpi di siang hari. Sering terdengar cerita miris pendidikan di suatu daerah yang masih berbendera Indonesia. Bangunan tua berlantaikan tanah dengan jumlah guru yang hanya satu menjadi pemandangan teramat biasa di sudut terluar nusantara.

Kami pun punya cerita yang tak jauh berbeda. Tentang mirisnya pendidikan di negeri pertiwi. Ceritaku bukan berasal dari pedalaman Papua, bukan juga dari kepulauan terkecil di nusantara. Ceritaku terangkai dari pinggiran kota yang seharusnya punya sarana untuk memberikan pendidikan layak bagi penerus negeri. Namun nyatanya hanya mimpi di siang hari.

Desa Mekarrahayu, kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung menjadi saksi bahwa pernah ada belasan mahasiswa yang peduli dengan pendidikan Indonesia. Dalam rangka merealisasikan tridharma pendidikan, kampusku menyebar mahasiswanya ke berbagai pelosok Jawa Barat. Program kuliah kerja nyata mahasiswa (KKNM) menjadi sarana untuk berkontribusi lebih banyak di bidang pendidikan. Sekalipun peran kami

Pertama kali yang terbayang tentang KKNM ialah ditempatkan di suatu pedesaan yang jauh dari akses jalan. Seketika bayangan itu sirna setelah tiba di lokasi. Bangunan mewah terpampang di pelupuk mata. Tulisan kantor desa mekarrahayu menyambut kami yang masih termanggu. Seolah ingin berkata "Kok tempat KKNMnya bernuansa kota". Raut kecewa tergambar. Harapan ditempatkan di suatu daerah bernuansa pedesaan hilang begitu saja.

Rasa kecewa tak dibiarkan bertahan lama. Kami segera mengambil langkah merombak program kerja yang dulu sempat dirumuskan. Meninjau hal apa saja yang mampu dilakukan dengan cara melakukan observasi. Kesimpulan akhirnya diperoleh, beberapa masalah akan menjadi prioritas untuk diselesaikan selama kami mengabdi di desa Mekarrahayu.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasaan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyapa kami. Anak-anak terlihat gembira ditengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. Ketika kami mengedarkan mata mengamati tiap sudut sekolah yang jauh dari kata mewah. Seorang anak kecil menghampiri, ia menarik sudut baju kami sembari berkata

" Kak, kak aku mau difoto " bujuknya disertai lirik yang mengarah ke sisi lensa kamera.

Sedetik kemudian salah satu temanku mengarahkan kameranya ke arah bocah kecil berpakaian putih lusuh. Ia memasang senyum terindah bergaya bak model papan atas. Jepretan kamera berhasil mengabadikan moment itu. Iringi tawa terlihat jelas di wajah seorang bocah yang bernama Fauzan. Setelah merasa puas dirinya telah diabadikan lewat lensa. Seketika ia berteriak memanggil teman-teman.

"Barudak kadieu urang difoto bareng "

Ia berteriak dengan bahasa Sunda fasih. Beberapa detik berlalu teman-temanya mengelilingi kami merajuk untuk difoto bersama. Senyum-senyum tulus tergambar dari wajah mereka. Melalui cara sederhana puluhan bocah kecil mampu bahagia. Selfie akhirnya dapat dituntaskan, mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi pertanda masuk kelas.

Seorang pria berwajah meneduhkan kami temui. Beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah. Termasuk tentang keterbatasaan ruang kelas yang tak mampu menampung 300 lebih siswa. Sekolah siang menjadi cara agar semua siswa bisa belajar ditengah himpitan keterbatasan. Tak hanya itu seorang pria yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah menyeritakan jumlah guru di sekolahnhya pun terbatas.

Seolah gayung bersambut. Kami menawarkan diri untuk membantu dalam proses belajar mengajar sekaligus berusaha mensosialisasikan penting membudayakan minat membaca kepada siswa. Tak hanya sampai di sana, keinginan kami untuk membuat taman bacaan masyarakat sudah dibicarakan dengan pihak desa. Banyak kendala yang menghadang di depan mata tapi balik kanan bukan pilihan. Di desa Mekarrahayu sebenarnya terdapat perpustakaan namun mati suri. Bukunya tercecer tak karuan, tak ada pengkodean, tak administrasi pinjaman. Kami harus memulainya dari nol persis seperti slogan petugas SPBU yang selalu diiringi senyuman. Kami menghadapi persoalan ini dengan senyuman merekah. Ladang pahala di depan mata.

Selain menyasar sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sebagai pembanding kami mengunjungi sekolah dengan kualitas "wah". Di sana pembelajaran berlangsung baik dengan jumlah siswa yang sudah di atur sedemikian rupa agar pembelajaran berjalanan menyenangkan. Teknologi dalam pembelajaran hadir secara lengkap, tak ada yang terlewat. Pengajarnya pun berasal dari perguruan tinggi terbaik. Pantaslah nilai ujian nasional terbaik mampir di sekolah itu. Fasilitas yang " wah" dengan pengajar kompeten sebanding dengan uang yang harus ditukar agar bisa belajar di sana.

Keadaan itu seolah langit dan bumi. Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas "wah" di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi rentakan-rentakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. Guru nampak kesulitan mengatur siswa yang muridnya diluar batas normal.

Di saat kami pembantu pembelajaran. Senyum berseri menghiasi raut wajah mereka. Teriakan kakak menghiasi seisi kelas. Kami mencoba menghadirkan pembelajaran bernuansa berbeda. Mengajak siswa untuk bermain namun pada kenyataan mereka belajar. Saat itu mencoba menumbuhkam rasa percaya diri siswa untuk bercerita apapun yang ingin ia ceritakan. Awalnya sulit, kebanyakan dari mereka malu berbicara di depan. Berbagai cara kami coba guna membujuk siswa agar berani tampil di depan banyak orang. Tetiba seorang bocah kecil dengan seragam lusuhnya maju ke depan.

"Kak, kak aku mau bercerita".
" Silakan Fauzan. Mau cerita apa ? " sembari penepuk pundaknya.
"Pokoknya nanti kakak dengarkan yah ? "
"Pasti dong Fauzan ".

Fauzan berdiri di depan menatap teman-temannya.

"Aku Fauzan Nurjaman. Murid kelas empat. Cita-citaku ingin menjadi pesepak bola terkenal seperti Christiano Ronaldo. Aku ingin seperti dia agar bisa membantu keluargaku dan teman-teman terdekatku. Ronaldo punya banyak uang untuk membantu orang lain. Aku pun ingin punya banyak uang agar mamahku tidak kebingungan membeli beras. Pernah aku disuruh berutang beras ke warung, tapi malah diusir. Katanya ibu sudah terlalu banyak berutang. Pekerjaan ayahku hanya seorang kusir kuda. Ia berangkat subuh serta pulang menjelang magrib. Kuda yang ayahku gunakan sebenarnya milik orang lain. Sering aku lihat ayah berwajah sedih, begitu pula ibuku. Malam harinya ibu tidak masak apapun. Aku dan kedua adikku terpaksa tidak makan.

Aku ingin membantu ayah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Kasihan adik-adik selalu menahan lapar ketika malam. Sempat berpikir untuk berbenti sekolah sekadar meringankan beban ibu dan ayah. Tapi orangtuaku melarang. Mereka ingin aku sekolah setinggi-tingginya jadi orang hebat yang baik hati. Kelak aku ingin membantu oranglain. Membantu oramg yang lapar ketika malam. Membantu temanku yang berhenti sekolah karena kekurangan uang. Aku ingin membantu teman-temanku.

Fauzan mengakhiri cerita dengan bulir bening di pelipis mata. Keterbatasan yang ia punya tak menyurutkan sedikit pun semangatnya untuk terus belajar. Memang benar, rata-rata siswa yang bersekolah di SD itu berasal dari keluarga dengan ekonomi lelah. Terkadang ada siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu orangtua. Miris memang, ditengah hiruk-piruk perkotaan masih ada beberapa orangtua yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekedar menyekolahkan anaknya. Pendidikam gratis yang digelontorkan pemerintah memang membantu namun harus diakui belum cukup optimal. Masih banyak sekolah yang memiliki bangunan seadanya berlantaikan tanah, tak jarang bangunan itu pun hampir roboh.

Ketimpangan pendidikan tergambar jelas di tempat kami KKNM. Ada sekolah dengan fasilitas mewah ada juga sekolah dengan sarana seadanya. Apakah pendidikan yang baik hanya untuk orang kaya ?
Apakah pendidikan yang berkelas diukur dari isi domper orangtua ?
Kami ingin setiap sekolah punya fasilitas yang sama, karena setiap anak berhak pintar bukam hanya anak orang kaya. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Itu harga mutlak.

Tak terasa pengabadian kami di desa Mekarrahayu hampir usai. Alhamdulilah, pembiasaan gemar membaca sudah berjalan. Minat siswa terhadap buku naik tajam. Perpustakaan masyarakat hampir tuntas. Sebagai sentuhan akhir kami berencana menghadirkan dosen untuk memberikan penyuluhan pentingnya budaya baca. Kamk harap kelak akan hadir sosok pemimpin dari desa Mekarrahayu yang mengerti pentingnya peran pendidikan. Ia akan berkata lantang seperi kaisar Hirohito, bahwa jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan adalah pendidikan.












Pendidikan ialah ujung tombak kemajuan bangsa. Tak pernah ada cerita negara yang perkasa tanpa peran pendidikan sebagai unsur utama. Telah menjadi rahasia umum, Jepang sempat terpuruk setelah kalah dalam perang dunia kedua. Kotanya hancur, ribuan tentaranya meregang nyawa. Namun yang pertama kali dikhwatirkan kaisar Hirohito adalah guru. Ia bertanya seberapa banyak jumlah guru yang tersisa. Luarbiasanya peran pendidikan bagi sang kaisar saat itu. Ternyata terbukti, tak perlu waktu lama Jepang kembali digdaya.

Bila Jepang memahami pentingnya pendidikan sebagai pondasi memajukan negeri. Lalu apa kabar Indonesia ?
Negara dengan sejuta potensi yang punya kesempatan besar untuk ujuk gigi dipaksa gigit jari, karena di sebagian daerahnya pendidikan layak hanya sekadar mimpi di siang hari. Sering terdengar cerita miris pendidikan di suatu daerah yang masih berbendera Indonesia. Bangunan tua berlantaikan tanah dengan jumlah guru yang hanya satu menjadi pemandangan teramat biasa di sudut terluar nusantara.

Kami pun punya cerita yang tak jauh berbeda. Tentang mirisnya pendidikan di negeri pertiwi. Ceritaku bukan berasal dari pedalaman Papua, bukan juga dari kepulauan terkecil di nusantara. Ceritaku terangkai dari pinggiran kota yang seharusnya punya sarana untuk memberikan pendidikan layak bagi penerus negeri. Namun nyatanya hanya mimpi di siang hari.

Desa Mekarrahayu, kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung menjadi saksi bahwa pernah ada belasan mahasiswa yang peduli dengan pendidikan Indonesia. Dalam rangka merealisasikan tridharma pendidikan, kampusku menyebar mahasiswanya ke berbagai pelosok Jawa Barat. Program kuliah kerja nyata mahasiswa (KKNM) menjadi sarana untuk berkontribusi lebih banyak di bidang pendidikan. Sekalipun peran kami

Pertama kali yang terbayang tentang KKNM ialah ditempatkan di suatu pedesaan yang jauh dari akses jalan. Seketika bayangan itu sirna setelah tiba di lokasi. Bangunan mewah terpampang di pelupuk mata. Tulisan kantor desa mekarrahayu menyambut kami yang masih termanggu. Seolah ingin berkata "Kok tempat KKNMnya bernuansa kota". Raut kecewa tergambar. Harapan ditempatkan di suatu daerah bernuansa pedesaan hilang begitu saja.

Rasa kecewa tak dibiarkan bertahan lama. Kami segera mengambil langkah merombak program kerja yang dulu sempat dirumuskan. Meninjau hal apa saja yang mampu dilakukan dengan cara melakukan observasi. Kesimpulan akhirnya diperoleh, beberapa masalah akan menjadi prioritas untuk diselesaikan selama kami mengabdi di desa Mekarrahayu.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasaan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyapa kami. Anak-anak terlihat gembira ditengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. Ketika kami mengedarkan mata mengamati tiap sudut sekolah yang jauh dari kata mewah. Seorang anak kecil menghampiri, ia menarik sudut baju kami sembari berkata

" Kak, kak aku mau difoto " bujuknya disertai lirik yang mengarah ke sisi lensa kamera.

Sedetik kemudian salah satu temanku mengarahkan kameranya ke arah bocah kecil berpakaian putih lusuh. Ia memasang senyum terindah bergaya bak model papan atas. Jepretan kamera berhasil mengabadikan moment itu. Iringi tawa terlihat jelas di wajah seorang bocah yang bernama Fauzan. Setelah merasa puas dirinya telah diabadikan lewat lensa. Seketika ia berteriak memanggil teman-teman.

"Barudak kadieu urang difoto bareng "

Ia berteriak dengan bahasa Sunda fasih. Beberapa detik berlalu teman-temanya mengelilingi kami merajuk untuk difoto bersama. Senyum-senyum tulus tergambar dari wajah mereka. Melalui cara sederhana puluhan bocah kecil mampu bahagia. Selfie akhirnya dapat dituntaskan, mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi pertanda masuk kelas.

Seorang pria berwajah meneduhkan kami temui. Beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah. Termasuk tentang keterbatasaan ruang kelas yang tak mampu menampung 300 lebih siswa. Sekolah siang menjadi cara agar semua siswa bisa belajar ditengah himpitan keterbatasan. Tak hanya itu seorang pria yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah menyeritakan jumlah guru di sekolahnhya pun terbatas.

Seolah gayung bersambut. Kami menawarkan diri untuk membantu dalam proses belajar mengajar sekaligus berusaha mensosialisasikan penting membudayakan minat membaca kepada siswa. Tak hanya sampai di sana, keinginan kami untuk membuat taman bacaan masyarakat sudah dibicarakan dengan pihak desa. Banyak kendala yang menghadang di depan mata tapi balik kanan bukan pilihan. Di desa Mekarrahayu sebenarnya terdapat perpustakaan namun mati suri. Bukunya tercecer tak karuan, tak ada pengkodean, tak administrasi pinjaman. Kami harus memulainya dari nol persis seperti slogan petugas SPBU yang selalu diiringi senyuman. Kami menghadapi persoalan ini dengan senyuman merekah. Ladang pahala di depan mata.

Selain menyasar sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sebagai pembanding kami mengunjungi sekolah dengan kualitas "wah". Di sana pembelajaran berlangsung baik dengan jumlah siswa yang sudah di atur sedemikian rupa agar pembelajaran berjalanan menyenangkan. Teknologi dalam pembelajaran hadir secara lengkap, tak ada yang terlewat. Pengajarnya pun berasal dari perguruan tinggi terbaik. Pantaslah nilai ujian nasional terbaik mampir di sekolah itu. Fasilitas yang " wah" dengan pengajar kompeten sebanding dengan uang yang harus ditukar agar bisa belajar di sana.

Keadaan itu seolah langit dan bumi. Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas "wah" di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi rentakan-rentakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. Guru nampak kesulitan mengatur siswa yang muridnya diluar batas normal.

Di saat kami pembantu pembelajaran. Senyum berseri menghiasi raut wajah mereka. Teriakan kakak menghiasi seisi kelas. Kami mencoba menghadirkan pembelajaran bernuansa berbeda. Mengajak siswa untuk bermain namun pada kenyataan mereka belajar. Saat itu mencoba menumbuhkam rasa percaya diri siswa untuk bercerita apapun yang ingin ia ceritakan. Awalnya sulit, kebanyakan dari mereka malu berbicara di depan. Berbagai cara kami coba guna membujuk siswa agar berani tampil di depan banyak orang. Tetiba seorang bocah kecil dengan seragam lusuhnya maju ke depan.

"Kak, kak aku mau bercerita".
" Silakan Fauzan. Mau cerita apa ? " sembari penepuk pundaknya.
"Pokoknya nanti kakak dengarkan yah ? "
"Pasti dong Fauzan ".

Fauzan berdiri di depan menatap teman-temannya.

"Aku Fauzan Nurjaman. Murid kelas empat. Cita-citaku ingin menjadi pesepak bola terkenal seperti Christiano Ronaldo. Aku ingin seperti dia agar bisa membantu keluargaku dan teman-teman terdekatku. Ronaldo punya banyak uang untuk membantu orang lain. Aku pun ingin punya banyak uang agar mamahku tidak kebingungan membeli beras. Pernah aku disuruh berutang beras ke warung, tapi malah diusir. Katanya ibu sudah terlalu banyak berutang. Pekerjaan ayahku hanya seorang kusir kuda. Ia berangkat subuh serta pulang menjelang magrib. Kuda yang ayahku gunakan sebenarnya milik orang lain. Sering aku lihat ayah berwajah sedih, begitu pula ibuku. Malam harinya ibu tidak masak apapun. Aku dan kedua adikku terpaksa tidak makan.

Aku ingin membantu ayah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Kasihan adik-adik selalu menahan lapar ketika malam. Sempat berpikir untuk berbenti sekolah sekadar meringankan beban ibu dan ayah. Tapi orangtuaku melarang. Mereka ingin aku sekolah setinggi-tingginya jadi orang hebat yang baik hati. Kelak aku ingin membantu oranglain. Membantu oramg yang lapar ketika malam. Membantu temanku yang berhenti sekolah karena kekurangan uang. Aku ingin membantu teman-temanku.

Fauzan mengakhiri cerita dengan bulir bening di pelipis mata. Keterbatasan yang ia punya tak menyurutkan sedikit pun semangatnya untuk terus belajar. Memang benar, rata-rata siswa yang bersekolah di SD itu berasal dari keluarga dengan ekonomi lelah. Terkadang ada siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu orangtua. Miris memang, ditengah hiruk-piruk perkotaan masih ada beberapa orangtua yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekedar menyekolahkan anaknya. Pendidikam gratis yang digelontorkan pemerintah memang membantu namun harus diakui belum cukup optimal. Masih banyak sekolah yang memiliki bangunan seadanya berlantaikan tanah, tak jarang bangunan itu pun hampir roboh.

Ketimpangan pendidikan tergambar jelas di tempat kami KKNM. Ada sekolah dengan fasilitas mewah ada juga sekolah dengan sarana seadanya. Apakah pendidikan yang baik hanya untuk orang kaya ?
Apakah pendidikan yang berkelas diukur dari isi domper orangtua ?
Kami ingin setiap sekolah punya fasilitas yang sama, karena setiap anak berhak pintar bukam hanya anak orang kaya. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Itu harga mutlak.

Tak terasa pengabadian kami di desa Mekarrahayu hampir usai. Alhamdulilah, pembiasaan gemar membaca sudah berjalan. Minat siswa terhadap buku naik tajam. Perpustakaan masyarakat hampir tuntas. Sebagai sentuhan akhir kami berencana menghadirkan dosen untuk memberikan penyuluhan pentingnya budaya baca. Kamk harap kelak akan hadir sosok pemimpin dari desa Mekarrahayu yang mengerti pentingnya peran pendidikan. Ia akan berkata lantang seperi kaisar Hirohito, bahwa jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan adalah pendidikan.