Wednesday, August 10, 2016

Semangat dari Mekarrahayu

Pendidikan ialah ujung tombak kemajuan bangsa. Tak pernah ada cerita negara yang perkasa tanpa peran pendidikan sebagai unsur utama. Telah menjadi rahasia umum, Jepang sempat terpuruk setelah kalah dalam perang dunia kedua. Kotanya hancur, ribuan tentaranya meregang nyawa. Namun yang pertama kali dikhwatirkan kaisar Hirohito adalah guru. Ia bertanya seberapa banyak jumlah guru yang tersisa. Luarbiasanya peran pendidikan bagi sang kaisar saat itu. Ternyata terbukti, tak perlu waktu lama Jepang kembali digdaya.

Bila Jepang memahami pentingnya pendidikan sebagai pondasi memajukan negeri. Lalu apa kabar Indonesia ?
Negara dengan sejuta potensi yang punya kesempatan besar untuk ujuk gigi dipaksa gigit jari, karena di sebagian daerahnya pendidikan layak hanya sekadar mimpi di siang hari. Sering terdengar cerita miris pendidikan di suatu daerah yang masih berbendera Indonesia. Bangunan tua berlantaikan tanah dengan jumlah guru yang hanya satu menjadi pemandangan teramat biasa di sudut terluar nusantara.

Kami pun punya cerita yang tak jauh berbeda. Tentang mirisnya pendidikan di negeri pertiwi. Ceritaku bukan berasal dari pedalaman Papua, bukan juga dari kepulauan terkecil di nusantara. Ceritaku terangkai dari pinggiran kota yang seharusnya punya sarana untuk memberikan pendidikan layak bagi penerus negeri. Namun nyatanya hanya mimpi di siang hari.

Desa Mekarrahayu, kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung menjadi saksi bahwa pernah ada belasan mahasiswa yang peduli dengan pendidikan Indonesia. Dalam rangka merealisasikan tridharma pendidikan, kampusku menyebar mahasiswanya ke berbagai pelosok Jawa Barat. Program kuliah kerja nyata mahasiswa (KKNM) menjadi sarana untuk berkontribusi lebih banyak di bidang pendidikan. Sekalipun peran kami

Pertama kali yang terbayang tentang KKNM ialah ditempatkan di suatu pedesaan yang jauh dari akses jalan. Seketika bayangan itu sirna setelah tiba di lokasi. Bangunan mewah terpampang di pelupuk mata. Tulisan kantor desa mekarrahayu menyambut kami yang masih termanggu. Seolah ingin berkata "Kok tempat KKNMnya bernuansa kota". Raut kecewa tergambar. Harapan ditempatkan di suatu daerah bernuansa pedesaan hilang begitu saja.

Rasa kecewa tak dibiarkan bertahan lama. Kami segera mengambil langkah merombak program kerja yang dulu sempat dirumuskan. Meninjau hal apa saja yang mampu dilakukan dengan cara melakukan observasi. Kesimpulan akhirnya diperoleh, beberapa masalah akan menjadi prioritas untuk diselesaikan selama kami mengabdi di desa Mekarrahayu.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasaan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyapa kami. Anak-anak terlihat gembira ditengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. Ketika kami mengedarkan mata mengamati tiap sudut sekolah yang jauh dari kata mewah. Seorang anak kecil menghampiri, ia menarik sudut baju kami sembari berkata

" Kak, kak aku mau difoto " bujuknya disertai lirik yang mengarah ke sisi lensa kamera.

Sedetik kemudian salah satu temanku mengarahkan kameranya ke arah bocah kecil berpakaian putih lusuh. Ia memasang senyum terindah bergaya bak model papan atas. Jepretan kamera berhasil mengabadikan moment itu. Iringi tawa terlihat jelas di wajah seorang bocah yang bernama Fauzan. Setelah merasa puas dirinya telah diabadikan lewat lensa. Seketika ia berteriak memanggil teman-teman.

"Barudak kadieu urang difoto bareng "

Ia berteriak dengan bahasa Sunda fasih. Beberapa detik berlalu teman-temanya mengelilingi kami merajuk untuk difoto bersama. Senyum-senyum tulus tergambar dari wajah mereka. Melalui cara sederhana puluhan bocah kecil mampu bahagia. Selfie akhirnya dapat dituntaskan, mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi pertanda masuk kelas.

Seorang pria berwajah meneduhkan kami temui. Beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah. Termasuk tentang keterbatasaan ruang kelas yang tak mampu menampung 300 lebih siswa. Sekolah siang menjadi cara agar semua siswa bisa belajar ditengah himpitan keterbatasan. Tak hanya itu seorang pria yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah menyeritakan jumlah guru di sekolahnhya pun terbatas.

Seolah gayung bersambut. Kami menawarkan diri untuk membantu dalam proses belajar mengajar sekaligus berusaha mensosialisasikan penting membudayakan minat membaca kepada siswa. Tak hanya sampai di sana, keinginan kami untuk membuat taman bacaan masyarakat sudah dibicarakan dengan pihak desa. Banyak kendala yang menghadang di depan mata tapi balik kanan bukan pilihan. Di desa Mekarrahayu sebenarnya terdapat perpustakaan namun mati suri. Bukunya tercecer tak karuan, tak ada pengkodean, tak administrasi pinjaman. Kami harus memulainya dari nol persis seperti slogan petugas SPBU yang selalu diiringi senyuman. Kami menghadapi persoalan ini dengan senyuman merekah. Ladang pahala di depan mata.

Selain menyasar sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sebagai pembanding kami mengunjungi sekolah dengan kualitas "wah". Di sana pembelajaran berlangsung baik dengan jumlah siswa yang sudah di atur sedemikian rupa agar pembelajaran berjalanan menyenangkan. Teknologi dalam pembelajaran hadir secara lengkap, tak ada yang terlewat. Pengajarnya pun berasal dari perguruan tinggi terbaik. Pantaslah nilai ujian nasional terbaik mampir di sekolah itu. Fasilitas yang " wah" dengan pengajar kompeten sebanding dengan uang yang harus ditukar agar bisa belajar di sana.

Keadaan itu seolah langit dan bumi. Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas "wah" di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi rentakan-rentakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. Guru nampak kesulitan mengatur siswa yang muridnya diluar batas normal.

Di saat kami pembantu pembelajaran. Senyum berseri menghiasi raut wajah mereka. Teriakan kakak menghiasi seisi kelas. Kami mencoba menghadirkan pembelajaran bernuansa berbeda. Mengajak siswa untuk bermain namun pada kenyataan mereka belajar. Saat itu mencoba menumbuhkam rasa percaya diri siswa untuk bercerita apapun yang ingin ia ceritakan. Awalnya sulit, kebanyakan dari mereka malu berbicara di depan. Berbagai cara kami coba guna membujuk siswa agar berani tampil di depan banyak orang. Tetiba seorang bocah kecil dengan seragam lusuhnya maju ke depan.

"Kak, kak aku mau bercerita".
" Silakan Fauzan. Mau cerita apa ? " sembari penepuk pundaknya.
"Pokoknya nanti kakak dengarkan yah ? "
"Pasti dong Fauzan ".

Fauzan berdiri di depan menatap teman-temannya.

"Aku Fauzan Nurjaman. Murid kelas empat. Cita-citaku ingin menjadi pesepak bola terkenal seperti Christiano Ronaldo. Aku ingin seperti dia agar bisa membantu keluargaku dan teman-teman terdekatku. Ronaldo punya banyak uang untuk membantu orang lain. Aku pun ingin punya banyak uang agar mamahku tidak kebingungan membeli beras. Pernah aku disuruh berutang beras ke warung, tapi malah diusir. Katanya ibu sudah terlalu banyak berutang. Pekerjaan ayahku hanya seorang kusir kuda. Ia berangkat subuh serta pulang menjelang magrib. Kuda yang ayahku gunakan sebenarnya milik orang lain. Sering aku lihat ayah berwajah sedih, begitu pula ibuku. Malam harinya ibu tidak masak apapun. Aku dan kedua adikku terpaksa tidak makan.

Aku ingin membantu ayah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Kasihan adik-adik selalu menahan lapar ketika malam. Sempat berpikir untuk berbenti sekolah sekadar meringankan beban ibu dan ayah. Tapi orangtuaku melarang. Mereka ingin aku sekolah setinggi-tingginya jadi orang hebat yang baik hati. Kelak aku ingin membantu oranglain. Membantu oramg yang lapar ketika malam. Membantu temanku yang berhenti sekolah karena kekurangan uang. Aku ingin membantu teman-temanku.

Fauzan mengakhiri cerita dengan bulir bening di pelipis mata. Keterbatasan yang ia punya tak menyurutkan sedikit pun semangatnya untuk terus belajar. Memang benar, rata-rata siswa yang bersekolah di SD itu berasal dari keluarga dengan ekonomi lelah. Terkadang ada siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu orangtua. Miris memang, ditengah hiruk-piruk perkotaan masih ada beberapa orangtua yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekedar menyekolahkan anaknya. Pendidikam gratis yang digelontorkan pemerintah memang membantu namun harus diakui belum cukup optimal. Masih banyak sekolah yang memiliki bangunan seadanya berlantaikan tanah, tak jarang bangunan itu pun hampir roboh.

Ketimpangan pendidikan tergambar jelas di tempat kami KKNM. Ada sekolah dengan fasilitas mewah ada juga sekolah dengan sarana seadanya. Apakah pendidikan yang baik hanya untuk orang kaya ?
Apakah pendidikan yang berkelas diukur dari isi domper orangtua ?
Kami ingin setiap sekolah punya fasilitas yang sama, karena setiap anak berhak pintar bukam hanya anak orang kaya. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Itu harga mutlak.

Tak terasa pengabadian kami di desa Mekarrahayu hampir usai. Alhamdulilah, pembiasaan gemar membaca sudah berjalan. Minat siswa terhadap buku naik tajam. Perpustakaan masyarakat hampir tuntas. Sebagai sentuhan akhir kami berencana menghadirkan dosen untuk memberikan penyuluhan pentingnya budaya baca. Kamk harap kelak akan hadir sosok pemimpin dari desa Mekarrahayu yang mengerti pentingnya peran pendidikan. Ia akan berkata lantang seperi kaisar Hirohito, bahwa jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan adalah pendidikan.












Pendidikan ialah ujung tombak kemajuan bangsa. Tak pernah ada cerita negara yang perkasa tanpa peran pendidikan sebagai unsur utama. Telah menjadi rahasia umum, Jepang sempat terpuruk setelah kalah dalam perang dunia kedua. Kotanya hancur, ribuan tentaranya meregang nyawa. Namun yang pertama kali dikhwatirkan kaisar Hirohito adalah guru. Ia bertanya seberapa banyak jumlah guru yang tersisa. Luarbiasanya peran pendidikan bagi sang kaisar saat itu. Ternyata terbukti, tak perlu waktu lama Jepang kembali digdaya.

Bila Jepang memahami pentingnya pendidikan sebagai pondasi memajukan negeri. Lalu apa kabar Indonesia ?
Negara dengan sejuta potensi yang punya kesempatan besar untuk ujuk gigi dipaksa gigit jari, karena di sebagian daerahnya pendidikan layak hanya sekadar mimpi di siang hari. Sering terdengar cerita miris pendidikan di suatu daerah yang masih berbendera Indonesia. Bangunan tua berlantaikan tanah dengan jumlah guru yang hanya satu menjadi pemandangan teramat biasa di sudut terluar nusantara.

Kami pun punya cerita yang tak jauh berbeda. Tentang mirisnya pendidikan di negeri pertiwi. Ceritaku bukan berasal dari pedalaman Papua, bukan juga dari kepulauan terkecil di nusantara. Ceritaku terangkai dari pinggiran kota yang seharusnya punya sarana untuk memberikan pendidikan layak bagi penerus negeri. Namun nyatanya hanya mimpi di siang hari.

Desa Mekarrahayu, kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung menjadi saksi bahwa pernah ada belasan mahasiswa yang peduli dengan pendidikan Indonesia. Dalam rangka merealisasikan tridharma pendidikan, kampusku menyebar mahasiswanya ke berbagai pelosok Jawa Barat. Program kuliah kerja nyata mahasiswa (KKNM) menjadi sarana untuk berkontribusi lebih banyak di bidang pendidikan. Sekalipun peran kami

Pertama kali yang terbayang tentang KKNM ialah ditempatkan di suatu pedesaan yang jauh dari akses jalan. Seketika bayangan itu sirna setelah tiba di lokasi. Bangunan mewah terpampang di pelupuk mata. Tulisan kantor desa mekarrahayu menyambut kami yang masih termanggu. Seolah ingin berkata "Kok tempat KKNMnya bernuansa kota". Raut kecewa tergambar. Harapan ditempatkan di suatu daerah bernuansa pedesaan hilang begitu saja.

Rasa kecewa tak dibiarkan bertahan lama. Kami segera mengambil langkah merombak program kerja yang dulu sempat dirumuskan. Meninjau hal apa saja yang mampu dilakukan dengan cara melakukan observasi. Kesimpulan akhirnya diperoleh, beberapa masalah akan menjadi prioritas untuk diselesaikan selama kami mengabdi di desa Mekarrahayu.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasaan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyapa kami. Anak-anak terlihat gembira ditengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. Ketika kami mengedarkan mata mengamati tiap sudut sekolah yang jauh dari kata mewah. Seorang anak kecil menghampiri, ia menarik sudut baju kami sembari berkata

" Kak, kak aku mau difoto " bujuknya disertai lirik yang mengarah ke sisi lensa kamera.

Sedetik kemudian salah satu temanku mengarahkan kameranya ke arah bocah kecil berpakaian putih lusuh. Ia memasang senyum terindah bergaya bak model papan atas. Jepretan kamera berhasil mengabadikan moment itu. Iringi tawa terlihat jelas di wajah seorang bocah yang bernama Fauzan. Setelah merasa puas dirinya telah diabadikan lewat lensa. Seketika ia berteriak memanggil teman-teman.

"Barudak kadieu urang difoto bareng "

Ia berteriak dengan bahasa Sunda fasih. Beberapa detik berlalu teman-temanya mengelilingi kami merajuk untuk difoto bersama. Senyum-senyum tulus tergambar dari wajah mereka. Melalui cara sederhana puluhan bocah kecil mampu bahagia. Selfie akhirnya dapat dituntaskan, mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi pertanda masuk kelas.

Seorang pria berwajah meneduhkan kami temui. Beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah. Termasuk tentang keterbatasaan ruang kelas yang tak mampu menampung 300 lebih siswa. Sekolah siang menjadi cara agar semua siswa bisa belajar ditengah himpitan keterbatasan. Tak hanya itu seorang pria yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah menyeritakan jumlah guru di sekolahnhya pun terbatas.

Seolah gayung bersambut. Kami menawarkan diri untuk membantu dalam proses belajar mengajar sekaligus berusaha mensosialisasikan penting membudayakan minat membaca kepada siswa. Tak hanya sampai di sana, keinginan kami untuk membuat taman bacaan masyarakat sudah dibicarakan dengan pihak desa. Banyak kendala yang menghadang di depan mata tapi balik kanan bukan pilihan. Di desa Mekarrahayu sebenarnya terdapat perpustakaan namun mati suri. Bukunya tercecer tak karuan, tak ada pengkodean, tak administrasi pinjaman. Kami harus memulainya dari nol persis seperti slogan petugas SPBU yang selalu diiringi senyuman. Kami menghadapi persoalan ini dengan senyuman merekah. Ladang pahala di depan mata.

Selain menyasar sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sebagai pembanding kami mengunjungi sekolah dengan kualitas "wah". Di sana pembelajaran berlangsung baik dengan jumlah siswa yang sudah di atur sedemikian rupa agar pembelajaran berjalanan menyenangkan. Teknologi dalam pembelajaran hadir secara lengkap, tak ada yang terlewat. Pengajarnya pun berasal dari perguruan tinggi terbaik. Pantaslah nilai ujian nasional terbaik mampir di sekolah itu. Fasilitas yang " wah" dengan pengajar kompeten sebanding dengan uang yang harus ditukar agar bisa belajar di sana.

Keadaan itu seolah langit dan bumi. Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas "wah" di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi rentakan-rentakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. Guru nampak kesulitan mengatur siswa yang muridnya diluar batas normal.

Di saat kami pembantu pembelajaran. Senyum berseri menghiasi raut wajah mereka. Teriakan kakak menghiasi seisi kelas. Kami mencoba menghadirkan pembelajaran bernuansa berbeda. Mengajak siswa untuk bermain namun pada kenyataan mereka belajar. Saat itu mencoba menumbuhkam rasa percaya diri siswa untuk bercerita apapun yang ingin ia ceritakan. Awalnya sulit, kebanyakan dari mereka malu berbicara di depan. Berbagai cara kami coba guna membujuk siswa agar berani tampil di depan banyak orang. Tetiba seorang bocah kecil dengan seragam lusuhnya maju ke depan.

"Kak, kak aku mau bercerita".
" Silakan Fauzan. Mau cerita apa ? " sembari penepuk pundaknya.
"Pokoknya nanti kakak dengarkan yah ? "
"Pasti dong Fauzan ".

Fauzan berdiri di depan menatap teman-temannya.

"Aku Fauzan Nurjaman. Murid kelas empat. Cita-citaku ingin menjadi pesepak bola terkenal seperti Christiano Ronaldo. Aku ingin seperti dia agar bisa membantu keluargaku dan teman-teman terdekatku. Ronaldo punya banyak uang untuk membantu orang lain. Aku pun ingin punya banyak uang agar mamahku tidak kebingungan membeli beras. Pernah aku disuruh berutang beras ke warung, tapi malah diusir. Katanya ibu sudah terlalu banyak berutang. Pekerjaan ayahku hanya seorang kusir kuda. Ia berangkat subuh serta pulang menjelang magrib. Kuda yang ayahku gunakan sebenarnya milik orang lain. Sering aku lihat ayah berwajah sedih, begitu pula ibuku. Malam harinya ibu tidak masak apapun. Aku dan kedua adikku terpaksa tidak makan.

Aku ingin membantu ayah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Kasihan adik-adik selalu menahan lapar ketika malam. Sempat berpikir untuk berbenti sekolah sekadar meringankan beban ibu dan ayah. Tapi orangtuaku melarang. Mereka ingin aku sekolah setinggi-tingginya jadi orang hebat yang baik hati. Kelak aku ingin membantu oranglain. Membantu oramg yang lapar ketika malam. Membantu temanku yang berhenti sekolah karena kekurangan uang. Aku ingin membantu teman-temanku.

Fauzan mengakhiri cerita dengan bulir bening di pelipis mata. Keterbatasan yang ia punya tak menyurutkan sedikit pun semangatnya untuk terus belajar. Memang benar, rata-rata siswa yang bersekolah di SD itu berasal dari keluarga dengan ekonomi lelah. Terkadang ada siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu orangtua. Miris memang, ditengah hiruk-piruk perkotaan masih ada beberapa orangtua yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekedar menyekolahkan anaknya. Pendidikam gratis yang digelontorkan pemerintah memang membantu namun harus diakui belum cukup optimal. Masih banyak sekolah yang memiliki bangunan seadanya berlantaikan tanah, tak jarang bangunan itu pun hampir roboh.

Ketimpangan pendidikan tergambar jelas di tempat kami KKNM. Ada sekolah dengan fasilitas mewah ada juga sekolah dengan sarana seadanya. Apakah pendidikan yang baik hanya untuk orang kaya ?
Apakah pendidikan yang berkelas diukur dari isi domper orangtua ?
Kami ingin setiap sekolah punya fasilitas yang sama, karena setiap anak berhak pintar bukam hanya anak orang kaya. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Itu harga mutlak.

Tak terasa pengabadian kami di desa Mekarrahayu hampir usai. Alhamdulilah, pembiasaan gemar membaca sudah berjalan. Minat siswa terhadap buku naik tajam. Perpustakaan masyarakat hampir tuntas. Sebagai sentuhan akhir kami berencana menghadirkan dosen untuk memberikan penyuluhan pentingnya budaya baca. Kamk harap kelak akan hadir sosok pemimpin dari desa Mekarrahayu yang mengerti pentingnya peran pendidikan. Ia akan berkata lantang seperi kaisar Hirohito, bahwa jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan adalah pendidikan.

Reactions:

1 comments:

Wiwid Nurwidayati said...

Mbrebes mili bacanya
Indonesiaku tercinta, beginikah wajahmu?