Friday, September 30, 2016

Tarian Bisu

Hari ini aku dilanda penyakit yang sungguh merepotkan. Bukan penyakit galau seperti biasanya, bukan juga gelaja langsingnya dompet, kalau itu sudah biasa. Amandelku membesar sehingga ketika membuka mulut terasa sangat sakit. Sebenarnya di saat menginjak bangku SMP sempat di landa penyakit serupa bahkan selama dua bulan penuh.

Mamah tetiba menganalisis penyebab membengkaknya amandelku. Memakan mie berlebihan menjadi indikasi yang mamah curigai. Mamah menceramahi dengan berbagai istilah yang tak ku mengerti. Maklum beliau penggemar berat acara dokter Oz. Aku saat itu seperti anak SD yang jajan coklat berlebihan lalu dimarahi orangtuanya. Memang di mata seorang ibu anaknya selalu terlihat seperti anak kecil.

Sebenarnya suara adalah alat utamaku untuk bekerja. Seorang guru tak mungkin mengajar tanpa suara. Saat itu aku mencoba berbicara seperti biasanya namun tenggorokan seperti terbakar, perih sekali. Setelah berpikir keras, aku berusaha melakukan pantomim untuk menyampaikan pembelajadan diiringi beberapa tulisan di papan tulis. Awalnya mereka tertawa tetapi setelahnya terbiasa, pembelajaran berlangsung normal.

Masalah lainnya menghampiri. Besok jadwalku bimbingan skripsi. Kebingungan untuk berkomunikasi dengan dosen. Apakah aku harus kembali berpantomim atau bahkan menari untuk menyampaikan hal-hal penting tentang skripsi ?
Memang tarian memiliki bermacam tujuan seperti menyambut tamu, bentuk syukur, ritual tapi belum ada tarian sebagai media penyampai skripsi. Jika itu terjadi aku akan menjadi orang pertama. Sungguh merupakan suatu penghormatan.

Monyet Pencari Rupiah

Dulu kehidupanku nyaman, hidup di alam bebas. Bebas untuk meloncat, bermain, mencari makanan dan apapun yang aku suka. Aku punya beberapa teman baik, burung yang selalu bernyanyi ketika ku bersedih. Kancil. Si cerdik yang selalu memiliki ide untuk mendapatkan makanan dari berbagai tempat.

Kehidupan sangat nyaman sebelum segerombolan manusia membawa senjata mendatangi tempat tinggalku. manusia-manusia tak bertanggungjawab merusak tempat tinggalku, menebang pohon-pohon yang menjadi tempatku berteduh. Di saat mereka datang, teman-temanku berlari menyelamatkan diri. Burung-burung ditembaki, si kancil tertangkap oleh sebuah jebakan dan aku sendiri terjebak dalam jaring.

Aku tidak tahu akan dibawa kemana, pandanganku gelap tak bisa melihat apapun. Suara-suara bising yang asing menghampiri telingaku, tubuhku sakit dilempar ke berbagai tempat baru. Beberapa hari kemudian, aku berada di tempat asing. Puluhan kandang kulihat, beberapa teman-temanku terperangkap didalamnya, mereka nampak sedih.

Seorang pria kurus menghampiri pemburu yang menangkapku. Ia terlihat berbicara kepadanya, beberapa saat kemudian pria kurus itu membawaku ke tempat yang kotor. Aku dimasukan ke dalam kandang sempit. Leherku dipasangkan tali yang panjang, sakit sekali leher ini. Aku dipaksa bermain dengan alat-alat yang tak ku kenal. Ketika ku menolak, tali yang dileher ditarik sekencang-kencangnya. Aku terpaksa mengikuti perintahnya, beberapa buah pisang ia berikan jika aku bersikap patuh.

Setiap pagi aku dibawa ke tempat yang ramai, benda seukuran temanku bernama gajah sering sekali aku lihat. Ia mengeluarkan asap hitam yang membuat pedih mata. Tiga lampu dengan warna hijau, kuning dan merah menjadi panduanku beraksi. Ketika lampu menampilkan warna merah, pria kurus itu menarik tali dileherku, memerintahkan untuk beraksi seperti saat latihan. Aku mengangkat benda yang mereka sebut payung, menari-nari hingga orang-orang melemparkan benda-benda. Pria kurus menyebutnya benda itu uang. Uang yang dia belikan barang-barang canggih seperti papan tanpa tombol yang ia gunakan berbicara sendirian. Benda yang lebih cepat dari temanku Kuda, ia beli dari uang hasilku beraksi.

Aku rindu masa-masaku di tempat tinggalku dulu. Bermain, meloncat bebas tanpa ada tali di leher. Aku ingin kabur berhenti beraksi di tengah tiga lampu berwarna. Mataku pedih menerima asap dari hewan besi itu. Masa-masa di kandang sama sekali tidak menyenang. Jatah makanku hanya satu pisang dalam sehari.

Pagi hari telah tiba, sebenarnya aku tak berharap matahari datang lebih cepat. Ketika pagi datang itu berarti perjuanganku dimulai. Pria kurus memasangkan tali ke leherku, diri ini pasrah. Aku merenung dalam, Terbayang harus merasakan kesakitan kembali. Tetiba dari kejauhan petugas berseragam putih mengendarai hewan besi. Berbicara keras kepada pria kurus , aku dibawa ke dalam mobil, begitulah mereka menyebut hewan besi itu. Di dalam mobil, seorang dengan benda-benda aneh memeriksaku kemudian memberikan makanan yang sangat enak.
Aku sampai di tempat baru. Tempatnya nyaman serta makanannya pun enak. Satu bulan di sana, aku dilepaskan kembali ke rumah asalku. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman-teman lama di tempat paling nyaman.

Wednesday, September 28, 2016

Mamahku dan Sinetronisme

Seorang ibu memang malaikat tanpa sayap bagi anaknya. Rela melakukan apapun untuk darah daginganya, bahkan ada sebuah kata bijak di belakang truk yang mengatakan

"Kasih ibu sepajang jalan, kasih anak kandas di pengkolan."

Aku tak habis pikir, mengapa mamahku sayang banget dengan anaknya yang bandel ini. Sebelum aku bangun sarapan sudah tersedia (Meski nggak selalu) pakaianku tiba-tiba rapi semua, Aku tahu siapa pelakunya pastilah mamah. Mamahku lebih dari super hero yang mampu mengatasi tiga penjahat berdarah hangat. Iya, mamah menjadi perempuan paling cantik di rumahku. Tiga penduduk lainnya adalah cowok paling pintar kalau urusan makan, cowok paling malas kalau urusan kebersihan. Wajar jika kami disebut penjahat dalam rumah tangga.

Layaknya seorang ibu-ibu, mamahku juga penganut aliran sinetronisme. Teman-teman tahu apa arti bahasa ilmiah di atas ? kalau belum tahu silakan googling pasti hasilnya tidak ada, karena itu teori yang aku ciptakan beberapa menit lalu, belum dimasukan ke dalam jurnal internasional.

"Gayamu Lang bahas jurnal internasional ? biasanya nulis tentang kegaluan terus. "

" Sssst diam kamu. Mau aku timpuk pakai mobil kontener ? "

Okey tadi ada gangguan sebentar. Sinetronisme adalah seperangkat asumsi yang mengarahkan seseorang secara tidak sadar agar mengikuti setiap episode dalam rangakaian cerita sinetron. Mamahku nampak sudah terkena sinetronisme, setiap hari tak pernah alfa menonton "anak jalanan" dan "anugrah cinta". Khusus untuk anugrah cinta, mamah bahkan bisa memarahi TV karena rasa kesal terhadap salah satu tokohnya.

Aku sempat khawatir mamahku melemparkan benda-benda keras ke layar TV. Tak mau TV yang bersejarah itu rusak karena emosi yang disebabkan sinetron. Sebenarnya mamahku termasuk pemain kawakan dalam aliran sinetronisme. Setiap sinetron tidak pernah terlewat ia tonton. Entah punya kekuatan apa sinetron itu sehingga mampu menghipnotis mamahku.

Tayangan sinetron mempunyai zat aditif tersendiri hingga aku pun terkena. Beberapa hal telah aku cermati dari gejala sinetronisme, diantaranya :

1. Merasa bahagia jika sebentar lagi sinetron yang disuka tayang.
2. Terlihat serius menatap televisi bahkan abai dengan lingkungan sekitar.
3. Emosi tidak stabil bahkan bisa bahagia dan menangis bersamaan.
4. Tiba-tiba rasa kesal hadir ketika sinetron menampilkan tulisan bersambung.
5. Memiliki kecenderungan untuk membicarakan sinetron yang telah ditonton dengan teman lainnya yang menghidap sinetronisme juga.

Nah, apakah teman-teman memiliki 3 dari ciri-ciri tersebut ? Kalau iya selamat anda mengidap sinetronisme.

Tuesday, September 27, 2016

Bahagia, Nasi padang dan Uang

"Uang bukan sumber kebahagiaan tapi tanpa uang tak bisa membeli nasi padang"

Itulah peribahasa yang baru saja aku ciptakan. Memang benar uang bukan faktor utama penghasil bahagia, masih ada hal-hal lain yang bisa menjadi sumber bahagia misalnya cinta, iya cinta kamu. Kedipin mata lalu dilempar piring karena gombal. Aku punya cara sederhana untuk merasakan bahagia, salah satunya makan nasi padang ditemani teh manis, hidup berasa di istana dikipasi dayang cantik bernama Raisa.

"Tapikan Lang beli nasi padang harus pake uang, katanya sumber bahagia bukan hanya uang."

"Bisa kok beli nasi padang pakai daun ? "

"Yang bener Lang, aku coba ah."

"Silakan aja, setelah makan kamu cuci piring selama tiga hari."

"Kalau gitu bayar makannya pakai kerja. ngga bahagia dong."

" Makannya punya uang dan cinta agar kamu bahagia."

Kebutuhan hidup semakin meningkat. Jika dulu satu hari cukup dengan uang lima ribu, sekarang jauh berbeda. Lima ribu hanya cukup beli gorengan lima. Kebanyakan orang berlomba-lomba mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak-banyaknya agar memenuhi segala kebutuhan. Tak hanya cara halal yang dilakukan bahkan cara harampun ditempuh.

Korupsi, memuja makhluk halus atau cara ekstrim memelihara tuyul dilakukan dengan pendapat kertas bergambar pahlawan proklmasi. Aku sempat berpikir daripada memelihara tuyul yang kecil nan menyeramkan lebih baik melihara ayam. Siapa tahu ayamnya bertelur emas seperti kisah zaman dulu. Bisakan telur emasnya digoreng terus jadi telur dadar emas. Pasti harganya mahal melebihi nasi padang spesial, Mulai ngaco.

Ada seseorang yang pernah berkata bahwa uang bisa membutakan mata dan akupun setuju. Contoh nyata ketika banyak orang berbondong-bondong menemui seseorang yang dianggap mampu melihat gandakan uang. Hellllooo, kalau uang dilipat gandakan nanti negara terkena inflasi. Kita punya banyak uang tapi barang yang diperlukan terbatas walhasil harga barang meninggi dan tetap saja tidak terjangkau.

Baru-baru ini di daerah Probolinggo, Jawa tengah ditangkap seorang pria paruh baya bernama Taat Pribadi atau lebih dikenal dengan sebutan Kanjeng Dimas. Ia dipercaya memiliki kemampuan untuk melipat gandakan uang bahkan muncul video yang menjadi viral, beberapa orang sedang menghitung tumpukan uang ekstra banyak, mereka diawasi oleh Kanjeng Dimas yang sudah dianggap seperti Kyai.

Dalam penangkapan Taat Pribadi, polisi mengerahkan 600 personilnya untuk menangkap pemimpin yayasan dimas kanjeng. Sebelum menangkap Taat Pribadi, ratusan orang yang mengaku santri dari yayasan itu menghalangi polisi untuk menangkap pimpinan mereka. Tak tanggung-tanggung ratusan orang menghalangi pengaman orang nomber satu di yayasan tersebut.

Uang memang bisa mengubah manusia menjadi bentuk paling menyeramkan. Tak jarang karena uang logika manusia hilang. Saling curiga, saling melukai bahkan saling menghilangkan nyawa menjadi hal biasa. Tak ubahnya patah hati, uang pun punya kekuatan untuk menghilangkan nurani.

Selamat apapun, Happy nice day

Ini Bukan Puisi

Aku lelaki penyendiri yang terlatih dengan sepi
Pagi makan nasi
Siang minum kopi
Malam merindukan sosok seorang istri

Aku tak pernah gentar datang ke nikahan mantan untuk sekadar bersalaman
Memasang wajah ceria kemudian berbisik
Gantengan aku daripada suamimu

Aku lelaki penyuka budaya baca
Baca novel karya Andrea Hirata
Baca puisi karya Sapardi
Baca buku hutang karya pedagang

Aku Gilang, orang Bandung
meski hujan mendung tetap bersenandung
Seperti film India yang doyan menyanyi di masa saja

Aku hobi makan
Tapi tidak makan beling
takut disangka kuda lumping
tidak juga makan teman
karena aku bukan hewan

Ini bukan puisi hanya curahan hati
Curahan hati manusia ganteng versi mamahnya saja

Sunday, September 25, 2016

3A Untuk Ibukota

Aku sebenarnya bukan pemerhati politik yang tahu betul peta kekuatan seorang calon. Aku hanya orang yang menanggapi keramaian tiga hari ini. Politik menyuguhkan drama dengan menarik layaknya film India, Uttaran. Masyarakat menyoroti PDIP, partai dengan jumlah kursi terbesar di DKI mengusung Ahok sebagai calon Gubernur. Tiga partai lain membangun koalisi dengan partai pimpinan Megawati, termasuk partai penguasa di zaman Orba, Golongan karya.

Pengusung Ahok begitu digdaya namun takkan menang mudah. Mantan menteri pendidikan sekaligus mantan pimpinan tertinggi universitas Paramdina, mencoba menantang petahana dengan duet bersama pengusaha Sandiga Uno. Lawan sepadan untuk memperebutkan tahta ibukota.

Tak hanya dua calon saja, mayor muda mencari peruntungan dengan gagah perkasa berniat melawan kekuatan raksasa. Secara darah ia punya modal. Putra mahkota presiden keenam Indonesia. Hebatnya ia rela melepaskan seragam loreng hanya untuk berebut kursi orang nomor satu Jakarta.

Semoga tujuan 3A bukan hanya berebut kuasa tetapi niat tulus memperbaiki Jakarta. Persembahanku untuk mereka terangkum dalam puisi

3A Untuk Ibukota

Pemuda terbaik bangsa berebut tahta ibukota
Yang pertama ialah petahana
Seorang tangan besi keturunan Tionghoa

Yang kedua, mantan rektor paramadina
orang Yogya yang terkenal santun berbahasa

Ketiga, putra makhota mantan presiden Indonesia
Mayor muda dengan deretan penghargaan di dada

Warga tinggal memilih sesuai selera yang terpenting terbaik untuk Jakarta. Jangan saling hina karena kita tetap satu untuk Indonesia.

Pemenang nanti tak boleh jumawa karena tugas berat di depan mata

Yang kalah harus berlapang dada tetap bersama membangun Jakarta

Saturday, September 24, 2016

Pendidikan Di Negeri Digdaya

Ketika Jepang kalah total dalam perang dunia kedua Kaisar Hirohito pernah bertanya kepada seorang panglima "Berapa jumlah guru yang masih hidup ?" Kenapa yang ditanya pertama kali adalah guru ? Kenapa tidak jumlah bangunan dan devisa negara yang tersisa. Kaisar Jepang saat itu memahami bahwa pendidikan ialah pondasi membangun negeri. Tanpa pendidikan takkan ada bangunan pencakar langit, tanpa seorang guru takkan ada arsitek yang menata Jepang dari kehancuran.

Hanya perlu beberapa tahun untuk Jepang kembali digdaya menjadi macan Asia. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang menurut sebagian besar penduduk masih berjalan di tempat, belum ada kemajuan signifikan. Sebenarnya Indonesia punya modal luarbiasa. Kekayaan alamnya istimewa, luas wilayahnya terbentang yang bahkan mampu menutupi Eropa. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Jepang yang terbatas dalam sumber daya alam.

Sebenarnya untuk sistem pendidikan berjenjang dari SD hingga perguruan tinggi mengadopsi pendidikan Jepang, hanya saja aktualisasinya jauh api daripada panggang. Di negeri kita tercinta pendidikan masih menjadi alat politik. Bahkan sering ada guyonan, ketika menteri pendidikan berganti maka berubah juga kurikulumnya dan itu merupakan realita. Akibatnya siswa dan guru menjadi korban. Yang harusnya belajar dengan nyaman malah berkutat memahami kurikulum baru yang pada kenyataannya tak jauh berbeda.

Saya percaya kelak Indonesia akan menjadi macan Asia. Tak lagi diremehkan di forum dunia. Bangsa lain akan gentar mendengar nama Indonesia. Negeri kita punya modal luarbiasa seharusnya bisa menjadi panutan dunia.

Friday, September 23, 2016

Cinta Dua Penulis Part 2

Pagi hari sudah ku dapati handphoneku kelelahan dengan sisa tenaganya berwarna merah. Wajar saja tiap malam ia menjadi teman paling setia menyampaikan ribuan terpaan kerinduan yang menghujam dada. Bandung dan tempatku berada cukup jauh berkisar 550 KM atau jika dikonversi dengan waktu berdasakan asumsi tanpa kemacetan saja menyentuh angka 9 jam.

Namun jarak tak berarti apa-apa bagiku meski diawal merasa cemas, deretan keraguan selalu meragu dapatkan ia menjaga makna setia sebelum bertatap muka lalu mengungkap janji menjadi selalu bersama hingga maut memisahkan kita. Entah kenapa setiap kali bertukar kata dengannya aku seolah menjelma bidadari yang selalu ia kagumi dari kaki hingga ujung peniti jilbabku.

Seandainya Aa tahu aku tak sempurna seperti yang Aa sering ucapkan. Aku hanya wanita biasa dengan berbagai titik lemah yang mungkin engkau tak suka di saat kita bersua. Kelemahan paling kentara dalam diriku, entah kenapa selalu jatuh cinta oleh setiap kata yang engkau goreskan. Aa juga harus tahu sering kali wajahku memerah oleh segala tingkahmu. Terakhir kau ciptakan lagu yang hanya untukmu. Andai Aa bisa melihat wajahku sudah seperti udang rebus.

Aku tahu Aa tak mau hubungan ini tak menentu, tapi jangan nekad mengorbankan perjuanganmu di sana hanya untuk bertemu aku. Entah sudah berapa kali aku berkata tuntaskan kuliahmu lalu kita bertemu. Aku tak mengerti lelaki macam apa yang nekad membeli tiket kereta Bandung-Solo hanya sekedar membuktikan bahwa engkau sangat ingin bertatap muka. Aku tak mau bertemu bila kau datang hanya untuk pergi kembali. Aku mau engkau datang dan membawaku ke Bandung menjadikanku supervisior yang mengawasi segala tingkah lelaki nakalku, Aku mau engkau memanggilku Bunda ketika berkata di depan anak kita.

Wednesday, September 21, 2016

Tak Mampu Sendiri.

Pikiran melayang kemudian mendarat ke zaman SMA. Ketika kelas 1 SMA dalam kondisi aku masih imut dan senantiasa langsing, pernah belajar sosiologi dengan pokok bahasan manusia. Hayo siapa yang termasuk spesies manusia ? Jangan-jangan ada sebagian makhluk astral yang meluangkan waktunya membaca tulisan ini, ah serem juga. Hantu zaman sekarang sudah main internet.

Kembali lagi ke sosiologi yuk ? dalam salah satu materinya pernah menerangkan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri maka disebutlah manusia sebagai makhluk sosial atau bahasa kerennya zoo politicion (Bener ngga sih nulisnya) Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia akan sangat kesusahan bila hidup tanpa orang lain. Terbayang ia harus membuat bajunya sendiri, memasak sendiri bahkan berkembang biak sendiri dengan cara membelah diri.

Takdirnya sebagai makhluk sosial membawa manusia pada sebuah realita. Realita yang merasakan kesepian hati bila hidup sendiri. duh jadi baper. Jangankan untuk hal besar seperti membuat rumah sendiri bahkan untuk memotong kuku bagian jari kiri, kita akan merasa kesulitan membutuhkan oranglain untuk memotongnya. Silakan coba gunting kuku kelingking kiri, apakah bisa dilakukan sendiri ?

Berbicara tentang manusia, rasanya tak komplit jika tidak membahas cinta. Manusia dan cinta ibarat kaos kaki dengan sepatu tak indah jika tidak bisa bersatu, duh baper lagi. Setiap manusia punya kecenderungan untuk ingin dicintai terlepas akan berbalas maupun tidak. Hampir mustahil ada manusia yang mampu bertahan dalam kesepian seumur hidupnya. Penjara paling rahasia di Amerika bernama
Communication Management Units atau disingkat CMU "Menyiksa" tahanannya dengan melarang mereka berkomunikasi. Larangan berkomunikasi merupakan hukuman paling sadis untuk makhluk sosial bernama manusia .

Pesannya, sehebat apapun manusia tak bisa hidup sendirian akan ada hati yang menuntut untuk dilengkapi. Akan ada perasaan yang tak tahan bila terlampau lama sendiri. Yuk cari pelengkap hati lalu bawa ia ke penghulu agar hidup tak galau mulu seperti aku.

Tuesday, September 20, 2016

Misteri Jerawat

Aku terbangun dengan mimik terkejut. Di daerah muka tepatnya dagu, ada sensasi tak biasa. Dengan kekuatan super aku berlari menuju kamar mandi sembari bercermin, ternyata berujung tragis. aku positif terkena penyakit menyebalkan yaitu jerawat. Entah sejak kapan tiga bulir jerawat tumbuh subur di daguku. Rasanya sebelum tidur selalu membiasakan diri mencuci muka. sungguh masih menjadi sebuah misteri tak terpecahkan kemunculan tiga onggok jerawat secara tiba-tiba.

Mamah pernah berkata bahwa jerawat simbol kerinduan yang tak terungkapkan, tapi aku jadi penasaran. Di daguku ada tiga jerawat dalam artian secara matematis terdapat tiga orang yang aku rindukan. Perasaan aku cuma rindu si dia saja, dua lagi siapa yah. Sepertinya tidak mungkin kalau aku merindukan tukang baso tahu sebelah, toh tiap hari kami bertemu sekadar bertatap mata lalu melakukan transaksi layaknya penjual dan pembeli.

Mencoba berpikir keras sosok siapa saja yang sedang aku rindukan sehingga muncul jerawat ini secara tiba-tiba. Setelah aku berusaha mencari jawaban, membuka berbagai kenangan dari memori otak dengan kapasitas puluhan giga akhirnya aku menemukan jawaban bahwa yang aku rindu memang tiga yaitu kamu, kamu dan kamu.

Salam Gemilang dari Gilang di sudut Bandung. Happy nice day.

Monday, September 19, 2016

Jessica Sidang, Jessica Malang

Indonesia tak hanya dihebohkan dengan kasus Aa Gatot yang dicurigai memakai sabu dalam ritual di padepokannya. Serta kisruh Mario Teguh dengan seseorang yang mengaku anak kandunganya. Setidak pedulinya aku dengan berbagai intrik tersebut terpaksa mengkonsumsi informasi itu sebagai bentuk masyarakat kekinian.

Di kampusku entah kenapa teman-teman lebih asyik membahas kasus Aa Gatot dan Mario Teguh dibanding berdiskusi tentang materi kuliah. Bukankah mahasiswa adalah agen perubahan yang menghendaki Indonesia lebik baik ke depan. Alangkah baiknya mahasiswa menyoroti kasus Jessica sebagai bentuk solidaritas. Terlepas dari penghormatan terhadap keluarga Mirna.

Jessica didakwa membunuh Mirna, sahabat dia ketika di Australia. Kasus Jessica tak kunjung menemui titik temu. Semua praduga tertuju padanya. Andai kata Jessica bukan pelaku pembunuhan Mirna, entah sudah seperti apa bentuk hatinya difitnah dari berbagai sisi. Jikalau pun Jessica memang benar yang menghilangnya nyawa Mirna, teramat kasihan dia harus terus berpura-pura di setiap detiknya.

Seperti yang tadi dibahas di awal. Harusnya mahasiswa membantu Jessica sebagai bentuk solidaritas. Kasihan Jessica 20 kali lebih sidang tak kunjung wisuda. Semoga hati mahasiswa seluruh Indonesia terketuk untuk membantu Jessica agar lulus sidang dan segera wisuda.

Semoga tulisan yang tidak berbobot ini memiliki manfaat untuk kita semua. Salam Gemilang dari Gilang di sudut terjauh Bandung

Sunday, September 18, 2016

Harapan Yang Dikandaskan.

Hello heloooooooooooo

"Hei, Lang nggak kepanjangan O yah ? "

"Engga, aku lagi semangat banget."

" Hayo, semangat pasti udah dapat arisan yah ? "

"Tidak, malah sebaliknya aku sedang sedih. Harapanku terkandaskan."

Berbicara tentang harapan dapat dipastikan semua manusia punya harapan, eh tapi tak hanya manusia, hewan pun memiliki harapan. Siapa tahu ayam yang kita pelihara punya harapan menjadi seorang pilot pesawat tempur namun malang ia hanya berakhir menjadi ayam goreng. Poinnya tak semua harapan mampu jadi kenyataan apalagi berharap kepada manusia. Terkadang harapan kita yang telah terbang tinggi ke angkasa akan menukik tajam ke dasar bumi.

Wajar sekali bila manusia memiliki keinginan namun tak wajar bila hanya disandarkan pada sesama. Misalkan kita sudah janjian dengan teman untuk nonton warkop DKI, tapi dihari yang sudah ditentukan tetiba ia membatalkannya karena alasan ada meteor jatuh dirumahnya. Apa yang kita rasa ? Sakit banget seperti hati ini ditusuk-tusuk lalu diberi garam kemudian digoreng, taraaa hati yang tersakiti siap disajikan.

Mang Udin (Tukang sate dekat rumahku) pernah berkata "Semakin banyak harapan kepada manusia semakin besar kemungkinan menjadi luka."

Super sekali kata bijak dari Mang Udin. Memang benar harapan-harapan yang dikandaskan akan terasa perih sekali. Berharap hanya pada Tuhan jalan terbaik yang harus kita tentukan. Selain berharap tentunya harus berusaha sekuat tenaga merealisasikan harapan agar jadi kenyataan.

Salam gemilang dari Gilang di sudut terjauh kota Bandung. Happy nice day

Thursday, September 15, 2016

Sejarah Lahirnya Dukun

Larry Page dan Sergey Brin (Bener ngga sih nulisnya) mungkin tak pernah berpikir bahwa mereka akan menciptakan sesuatu hal yang fenomenal dalam dunia teknologi.

"Eh tunggu dulu Lang, Siapa sih Larry Page dan Sergey Brin ? "

"Siapa yah aku juga lupa, tunggu bentar Google dulu."

"Lama banget sih Lang, Niat ngga nulis tentang mereka ? "

"Nah ketemu, mereka pencipta Google"

Dua sejoli Larry Page dan Sergey Brin adalah CEO dari dukun yang sering kita tanya. Misalkan mencari resep masak, mencari referensi tugas, mencari jodoh juga bisa. Satu hal yang tidak bisa Google lakukan mengembalikan waktu yang telah terbuang percuma karena mencintai seseorang yang salah. Duh jadi baper gini.

Google lahir di tempat sederhana. Garasi mobil pada tahun 1998 menjadi saksi menetasnya mesin mencari yang kini menjadi raja internet. Ia dilahirkan dari pasangan Larry Page dan Sergey Brin, mahasiswa Phd universitas Stanford. Awalnya mereka bertemu tak sengaja bahkan sering berdebat tentang segala hal namun seiring berjalannya waktu terdapat suatu kesamaan visi. Pertemuan mereka mirip kisah FTV yang awalnya benci menjadi cinta.

Larry Page dan Sergey Brin pertamanya hanya berniat melakukan penelitian tentang mesin pencari, proyek perdana mereka diberi BackRub. Tak perlu waktu lama BackRub ciptaan mereka menjadi gosip hangat seantero kampus mengalahkan kepopuleran Aa Gatot jika saat ini. Akhirnya mereka menyempurnakan BackRub yang kelak bernama Google.

Pemberian nama Google pun sebenarnya tidak sengaja. Setelah BackRub meraih sukses, dua sejoli itu kekurangan dana untuk mengembangkan "Anak" ciptaannya. Mereka terpaksa ngutang ke seorang teman bernama Andy Bechtolsheim (Semoga bener nulisnya, kalau salah mohon maaf om Andy) dari hasil ngutang tersebut diberikanlah cek dengan nominal 100 ribu dollar atas nama Google. Padahal saat itu Larry dan Sergey belum memberikan nama Google pada proyek mereka. Dengan ikhlas bercampur kaget akhirnya google pun lahir secara tak sengaja.

Di sisi lain mereka dilema. Cek yang diberikan Andy bertuliskan perusahaan Google sedangkan mereka belum sama sekali mendirikan perusahaan tersebut. Kalau terjadi di era kekinian hampir mirip dengan situasi disuruh nikah tapi belum punya calonnya, pedih banget. Mereka mencari cara sekuat tenaga untuk mendirikan perusahaan Google dengan cara mencari investor.

Di awal menghimpun investor, penolakan demi penolakan selalu mereka rasa. Aku tahu benar pedihnya ditolah, eh baper lagi. Sekalipun sering ditolak mereka tak pernah menyerah. Penolakan adalah cambuk untuk berjuang lebih keras. Setelah mereka mengumpulkan dana ke teman, keluarga, mantan pacar akhirnya terkumpul uang senilai satu juta dollar. Kepercayaan tersebut tak mereka sia-sia hingga terciptalah Google sebagai perusahaan paling diminati di dunia. Kedigdayaan Google merambah berbagai aspek. Gmail, Google maps, Youtube, sistem operasi android. Bahkan saat ini aku menulis memanfaatkan fasilitas Google yaitu Blogger.com

Om Larry dan Om Sergey mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada kegagalan. Terbayang jika mereka menyerah terhadap berbagai penolakan dalam upaya mengumpulkan dana, dapat dipastikan Google tak akan pernah lahir. Dua sejoli itu tidak hanya melihat peluang tapi menjemput peluang lalu mengeksekusinya menjadi kenyataan. Tak ada kesuksesan yang lahir dari kemalasan. Terus berinovasi karena berhenti berpikir adalah mati. Salam Gemilang dari Gilang di sudut terjauh Bandung.

Monday, September 12, 2016

Aku dan Bang Ipul

Kesibukan mendera diriku. Tujuh hari dalam seminggu seakan tidak cukup untuk menuntaskan berbagai kewajiban. Perkuliahan semester tujuh baru saja dimulai otomatis menambah padat jadwal. Belum lagi kewajiban praktik mengajar yang harus dilakukan beriringan. Seakan belum cukup, agenda mengajar juga turut serta memusingkanku untuk memanajemen waktu.

Puncaknya karena terlalu sering izin mengajar gajiku dipotong. Sedih banget memang di tengah gencarnya mengumpulkan pundi-pundi uang sebagai persiapan menempuh S2. Menetapkan skala prioritas memang tak mudah apalagi sebagai mahasiswa yang nyambi kerja. Terkadang ingin menikah saja lalu hidup bahagia dengan si dia. Duh malah ngebahas nikah jadi ingin segera saja.

Ada yang berkata bahwa hidup adalah pilihan. Di hari libur kemarin pun aku harus memilih di antara berlibur atau mengerjakan tugas kuliah, akhirnya aku memilih berlibur. Liburan kali ini cukup berbeda tidak berkendara menuju tempat hiburan. Cukup menyiapkan gitar dan secarik kertas serta mengajak seorang teman untuk bergabung bersama. Aku berniat menciptakan lagu, sekalian nostalgia zaman SMA.

Ketika SMA entah kenapa aku mirip Syaipul Jamil. Eitsst tunggu dulu bukan dalam perbuatan yang menyeretnya ke jeruji besi. Aku anak baik kok setidaknya menurut mamahku. Kegiatan Bang Ipul yang aku tiru adalah kebiasaan menyanyi di segala kondisi. Bahkan ketika Bang Ipul di penjara ia menyanyi. Terbayang jiwa menyanyi sudah menjadi darah dagingnya.

Saat SMA sahabatku sering membawa gitar ke kelas sekadar untuk mencairkan suasana di tengah kejenuhan belajar. Sering kali kami bernyanyi-nyanyi hingga memberanikan diri untuk mengikuti lomba musikalisasi puisi antar kelas. Singkat cerita selama masa SMA kami menjadi juara bertahan dalam lomba musikalisasi puisi. Hingga diperkenankan mengikuti perlombaan lanjutan tingkat kabupaten namun sayang kala itu aku sakit akhirnya teman-temanku memutuskan tidak mengikuti perlombaan itu. So sweet banget mereka.

Beberapa tahun berselang sebagai obat dari kepenatan akut. Aku memutuskan untuk sejenak banting setir ke jalur musik. Sekadar iseng membuat lagu dari puisi yang dulu pernah kubuat berjudul "Mengintip Bidadari."

"Lang, kok judulnya mengintip bidadari sih ?"

"Daripada mengintip orang mandi kan bisa berabe."

"Benar juga sih Lang, gih lanjutkan tulisannya."

Tak perlu waktu lama akhirnya nada dan chord gitar lagu mengintip bidadari berhasil ditemukan sekalipun belum sempurna untuk beberapa nada. Selain berdoa dan mengaji setidaknya kegiatan bermusik mampu menghilangkan sedikit kepenatan. Jadi paham kenapa Bang Ipul doyan menyanyi mungkin ia ingin menenangkan diri dari berbagai kepenatan hidup. Jika ada yang ingin mendengarkan teaster lagu mengintip bidadari bisa berkunjung ke instagram saya @Nychken. Terimakasih untuk seseorang di sana yang telah menjadi inspirasi dalam pembuatan lagu mengintip bidadari. Lagu ini spesial untuk kamu, iya kamu yang selalu mendoakan dalam diammu.

Esensi Berbagi

Ribuan tahun lalu Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya Ismail. Tanpa sedikitpun keraguan Nabi Ibrahim rela mengikhlaskan anaknya sebagai bentuk rasa taat kepada pemilik raga. Iblis berusaha menggagalkan usaha Nabi Allah tersebut namun keteguhan imannya tak tergoyahkan sedikitpun. Di tengah keheningan Nabi Ibrahim sudah bersiap menyembelih anaknya. Tanpa penolakan Ismail rela disembelih. Keajaiban Allah mulai mengabil peran, sosok sang anak beralih wujud menjadi seekor kambing maka disembelihlah kambing itu sebagai bentuk pengorbanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim.

Sejak itu tonggak sejarah dimulai. Meskipun terpaut ribuan tahun dari peristiwa keikhlasan sang ayah menyembelih anaknya sebagai bentuk pengorbanan terhadap ketetapan pencipta. Hari ini umat islam merayakan kemenangan kedua selain idul fitri. Momentum idul adha tidak hanya menyembelih hewan kurban saja. Jika di idul fitri berlatih hidup dengan rasa lapar maka idul adha merelakan sebagian harta untuk dibagikan kepada sesama.

Pengorbanan adalah bentuk lain dari rasa cinta. Seseorang yang sedang jatuh cinta akan merelakan mengorbankan apapun demi orang tercinta. Esensi cinta tak hanya terbatas pada lawan jenis. Cinta hakiki terukir cantik untuk pemilik diri. Pengorbanan manusia yang tak seberapa akan diganjar kebaikan luarbiasa oleh pemilik semesta.

Keshalehan spiritual dan keshalehan sosial menjadi nilai berharga di momentum idul adha. Keshalehan spiritual tercermin dalam pengabadian manusia pada pemilik semesta, mengorbankan sebagian harta terkadang tak mudah bagi orang kikir, hanya orang berlapang dada yang mampu melakukannya. Keshalehan sosial tercermin dari hakikat berbagi, di sisi lain negeri banyak orang tak bisa merasakan kenikmatan daging. Di idul adha hampir semua bercuka cita memakan makanan spesial sekalipun hanya pada momentum idul adha.

Tak hanya berkorban perasaan untuk si dia. Berkurban harta, waktu dan ilmu lebih bermakna bagi pemilik semesta.

Friday, September 9, 2016

Lebih Dari Renta

Tercipta sebuah negeri dengan keindahan bak potongan surga. Alamnya indah berhiaskan deretan gunung sebagai penyempurna kekuasaan Tuhan.

Hanya perlu melempar benih untuk menumbuhkan pohon besar nan kokoh. Bukti nyata bahwa negeri itu sempat menjadi surga.

Ribuan tahun berselang, negeri dengan ratusan pulau tak bernama perlahan mulai dirusak penghuninya. Tubuhnya disayat oleh alat baja yang katanya untuk kebutuhan manusia.

Lambungnya dibenah demi mengeluarkan zat langka sebagai sarana kesombongan pemakainya. Emas, berlian, permata atau apapun namanya.

Tak salah jika alam mulai marah. memuntahkan rasa kecewa terhadap makhluk yang hidup dipungguhnya.

Di usia yang lebih dari renta, ia terus saja menderita. Kerukan di lambung, tusukan di jantung adalah kesakitan biasa yang ia rasa dari manusia.

Bandung, 9 September 2016

Thursday, September 8, 2016

Hotspot Cinta

Kala itu kampus telah sepi. Hanya beberapa mahasiswa hilir mudik untuk pergi sedangkan aku masih sibuk dengan urusan duniawi. Skripsi yang ku kerjakan sejak pagi tak kunjungi bertemu titik. Terus saja berkutat pada aktivitas tulis dan hapus lagi. pikiranku sudah kacau. Lebih baik ku menjelajah internet, siapa tahu ada ide setelah berkunjung ke dunia maha luas. Sayang, kali ini aku malang. Hotspot kampus tak menunjukan reaksi setelah aku klik sana-sini.

Entah dosa apa diriku, skripsi tak tuntas, mau hiburan di dunia maya tak bisa padahal dosa terbesarku hanya ngutang ke kantin saja. Aku tak pernah menyekutukan Tuhan apalagi durhaka pada orangtua. Selalu bersikap ramah ke mamah terutama di saat momen minta uang kuliah dan pulsa, senyum terindah selalu ditampilkan untuk mamah.

Beberapa menit sudah berkutat dengan hotspot kampus namun kendalanya masih sama, sulit terhubung. Aku sempat berpikir begitu sulit menghubungkan jaringan internet ke laptopku, hampir sama dengan sulitnya menghubungkan getaran cinta yang kurasa dengan si dia. Aku ingin berinternet ria tak hanya melihat beberapa jurnal sebagai bahan referensi tetapi juga melihat si dia di dunia maya.

Almira, gadis cantik berkacamata. Anak kedokteran semester akhir. Senyumnya saja bisa membuatku gila apalagi ketika ia menatapku. Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang tak terduga. Ketika pertama kali kuliah, ia bertanya kepadaku.

"Pak, di mana toilet ? " Sembari memasang senyum yang mampu membuatku pingsan seketika.

" Yang paling dekat di gedung FMIPA," Aku berkata seperti Aziz Gagap. Entah kenapa tiba-tiba diserang rasa gugup.

"Terimakasih," Gadis yang akhirnya kutahu bernama Almira pergi tapi ada satu hal yang ia tinggalkan. Panah cintanya tertinggal dihatiku. Ah, bagian ini sangat lebay. By the way, tadi Almira memanggilku Bapak. Duh aku disangka office boy kampus.

Beberapa menit berselang setelahku melamun sana-sini akhirnya hotspot baru tiba-tiba muncul. Hotspot imut dengan nama virus zika, beruntungnya hotspot itu tidak dikunci seolah berbaik hati memberi koneksi kepada seorang fakir kouta. Aku berselancar mengarungi dunia maya menuju media sosial bernama facebook, setelahnya mengetikan nama Almira. Munculah seorang gadis berjilbab biru dengan kacamata frame ungu. Almira, engkau cantiknya keterlaluan.

Aku hanya fokus ke layar laptop tanpa melihat keadaan sekitar. Ternyata sejak tadi gadis yang kulamunkan berada tak jauh dariku. Almira menampilkan wajah kesalnya. Aku tak tahu apa yang menyebabkan ia marah, mungkin saja karena aku yang mencintainya tanpa permisi. duh, semakin gila saja diri ini.

Semenit kemudian seolah mimpi jadi kenyataan. Perlahan Almira berjalan ke arahku. Apakah ia juga merasakan getaran cinta yang sama. Menghampiri untuk menanyakan kepastian akan cinta. Kemudian ia mengajakku menemui orangtuanya untuk menentukan tanggal pernikahan. Di akhir cerita cinta, Aku dan Almira hidup bahagia. Rasanya diri ini sudah memasuki dunia khayal.

Sekarang Almira tepat di depan melihat penuh tanya ke wajahku.

"Pak, boleh pinjem laptopnya. Saya mau cek nilai kuliah. Dari tadi susah koneksi," Almira masih saja mengiraku office boy kampus tapi tak apa.

"Memang dari tadi juga susah tersambung ke hotspot kampus. Untung saja ada orang yang berbaik hati berbagi koneksi,"

"Nama hotspotnya apa pak ?" Almira bertanya keheranan.

"Namanya lucu virus zika, pasti yang punya jaringan wifinya orang aneh deh. Masa wifi dikasih nama virus zika, " Tuturku sembari tertawa.

Entah kenapa wajah Almira berubah merah membara seakan menahan amarah.

"Pantesan jaringanku lelet ternyata gara-gara kamu yang pake koneksiku, Cepet matikan, aku teledor lagi sembarangan menyalakan hotspot"

Termanggu melihat perubahan sikap Almira. Tanpa banyak berkata segera mematikan koneksi. Gadis yang kupuja pun bergegas meninggalkanku dengan raut kesalnya. Almira, engkau jahat, membuka koneksi lalu memutuskannya secara tiba-tiba di saat aku sedang jatuh cinta.

Monday, September 5, 2016

Sisi Lain Aku

Umurku sudah tak pantas disebut remaja, merengek minta uang jajan untuk beli pulsa. Aku bukan lagi anak SMA yang mendefinisikan bahagia dengan kata sederhana, semisal guru matematika lupa menanyakan PR logaritma. Makna bahagia semakin sulit dicipta, ketika umur sudah beranjak menua. berbagai keinginan seolah datang tiada henti. Hari ini ingin handphone berwarna merah, esok berganti ingin mobil mewah. Mencipta bahagia semakin rumit saja. Tetiba arti bahagia kembali menjadi sederhana, Di saat Handphone berdering penanda pesan dari si dia sudah tiba.

Aku Gilang, Pemuda yang sudah hidup selama 22 tahun. Setiap hari sibuk menukar waktu dengan kuliah dan kegiatan mengajar. Aku bukan pengajar ilmu sihir seperti dalam cerita Harry potter. Bukan juga Voldemort, sesosok makhluk yang penuh rasa percaya diri meski tanpa hidung.

"Pa Gil, Pa Gil," teriak seorang murid yang berlari menghampiri. Gadis remaja dengan jilbab putih tersenyum manis sembari mengulurkan tangan, lalu meraih tanganku untuk diletakan di dahinya. Ia bercerita lirih. Aku mencium bau curhat di sini. Dia bercerita tentang seorang pria yang mengirimkan puisi tanda cinta. Ia bingung menerima atau menolak cintanya. Sisi lain diriku berubah menjadi Mario Teguh berkata dengan pilihan diksi yang berima. Menyampaikan kepadanya lebih baik mengejar cita lalu sejenak mengabaikan cinta. Belum saatnya engkau menyapa cinta, Mungkin setelah disapa cinta yang kau punya, kemudian bisa saja cinta itu menusuk kemudian menimbulkan bekas luka. Ia mengangguk perlahan, berucap terimakasih lalu pergi memasuki kelasnya.

Sosok guru tak hanya dituntut mampu menyampaikan materi tapi harus menjadi wajan tempat menampung keluh-kesah siswa. Aku sempat merasa menjadi pria dewasa dengan beragam kata bijak untuk mengobati berbagai keluhan siswa. Tanpa diduga semua sifat lelakiku sirna. bertekuk lutut dihadapan seorang wanita. Ia mampu mencipta simpul senyum di wajahku begitupun sebaliknya.

Hari itu tak ada satupun pesan dari dia. Aku gusar tak tahu harus berbuat apa. Andai jika jarak di antara kami dekat, mungkin sudah mengetuk pintu rumahnya. Menanyakan pada Ibunya, apakah anaknya baik-baik saja ?

Beberap jam berlalu pesanku masih belum dibaca. Sifatku berubah drastis seperti anak remaja yang baru putus cinta. Belasan pesan WA aku kirim namun tak ada satupun berubah tanda menjadi dua ceklis berwarna biru. Rasa curiga datang tiba-tiba, berbisik mungkin saja dia sedang sibuk dengan pria idaman lain. Hati ini sudah terlampau panas hampir saja meledak jika tidak ada pesan balasan dari dia.

HPku berdering, pesan dari seseorang yang ku tunggu akhirnya tiba. Ku mulai mengeja mencermati setiap kata

" Aku jagain ponakan seharian. kalau dengan mereka nggak bisa pegang HP. maafkan yah sayang."

"Aku tak memaafkanmu, karena kau tega membuatku rindu."

Diri ini bergegas menghapus pesan di atas mengganti dengan kata lain yang lebih alay khas orang kasmaran. Merajuk bak anak kecil, meminta kasih sayang ibunya.

Di hadapanmu aku tak ubahnya bocah yang haus akan kasih sayang.

Sunday, September 4, 2016

Obrolan Beda Dunia

"Lang, kenapa sih kamu cemberut terus ? "

Suara merdu yang entah datang darimana menyapaku tiba-tiba. Belum sempatku menemukan sumber suara, audio lain menyusul dengan nada hampir sama.

"Pake acara mogok makan segala, kamu lagi diet atau sedang patah hati ? "

Nampaknya suara itu sangatku kenal namun keengganan untuk berbalik badan dari kasur nyaman mengalahkan rasa ingin tahu.

lesakan peluru berbentuk guling menyasar bagian kepalaku. Aku berbalik badan seolah akan melempar amunisi yang sama. sebelum guling melesak sebagai serangan balasan. Aku sempat menatap wajah sasaran, seketika tubuh ini terdiam dan menunduk tak mampu menatap lebih lama.

"Mah, ngapain sih ngelempar bantal segala ? "

"Kamunya sih Lang dari tadi diem mulu di kasur. makan engga, mandi engga, untung nafas ngga lupa juga."

" Iya, mah, " Aku menjawab seadanya enggan berdebat dengan orangtua takut dikutuk jadi tampan mirip Irwansyah.

"Tumben lang, kamu jadi pendiem. Pasti ada masalah yah ? hayo ngaku, " Selidik mamahku yang mulai kepo.

"Aku nggak kenapa-kenapa mah hanya sedikit nggak enak perasaan."

"Whaaa, kamu pasti lagi patah hati ? "

"Engga juga mah, so tahu deh."

Mamah menghela sebentar nafasnya lalu berteriak.

"Jangan-jangan kamu ingin nikah cuma belum ada calonnya. kasihan sekali anakku."

"Dih, mamah so tahu lagi. Kalau calonnya InsyaAllah ada."

"Jujur saja kalau belum punya calonnya, ada anak temen mamah. Dia cantik, shalehah, pinter, RAMnya 4 Giga, kamera depan belakang 20 Megapixel."

"Bentar mah, itu cewek atau HP. Ada kamera dan RAM segala."

"Oh iya lupa jadi kebawa jiwa sales. "

"Ah, mamah ini lagi serius juga."

"Apapun masalah kamu Lang, apalagi jika itu masalah tentang cinta. Pokoknya jangan pernah sia-siakan yang kamu punya sebab setelah kehilangan pasti akan ada rasa sakit luarbiasa. Satu lagi, Perempuan itu ingin diperjuangkan. Sekuat tenaga kamu tunjukan rasa cinta agar dia nyaman bersamamu. "

"Super sekali nasihat mamah. Mamah dulu pasti jadi inceran cowok-cowok yah ? "

" Tentu dong Lang, ada 10 cowok deh "

" Wow luarbiasa, pasti mamah sembunyikan sepatu mereka jadi pada ngejar deh."

Obrolan sederhana seorang anak dan ibu berakhir tragis. Sang anak terkena jitakan ibunya karena berkata sesuai fakta.

Saturday, September 3, 2016

Mengintip Bidadari

Aku di sini hanya bisa mengintip bidadari
Mengintip lewat layar lima inci
Gerakan jari mengukir kerinduan selama ini
Berbagi segala rasa termasuk pedih di dalamnya

Dari dadaku munculah secerca harapan kita
Sekadar tuk bersua
Bertukar rindu dan air matamu Adinda

Namun jarak begitu perkasa
Memisahkan arti bahagia
Membentengi berbagai rasa
Hingga luka yang hanya tercipta

Saat bidadari terlelap
Aku hanya bisa berharap 
Dalam mimpinya 
Hanya aku saja