Saturday, September 24, 2016

Pendidikan Di Negeri Digdaya

Ketika Jepang kalah total dalam perang dunia kedua Kaisar Hirohito pernah bertanya kepada seorang panglima "Berapa jumlah guru yang masih hidup ?" Kenapa yang ditanya pertama kali adalah guru ? Kenapa tidak jumlah bangunan dan devisa negara yang tersisa. Kaisar Jepang saat itu memahami bahwa pendidikan ialah pondasi membangun negeri. Tanpa pendidikan takkan ada bangunan pencakar langit, tanpa seorang guru takkan ada arsitek yang menata Jepang dari kehancuran.

Hanya perlu beberapa tahun untuk Jepang kembali digdaya menjadi macan Asia. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang menurut sebagian besar penduduk masih berjalan di tempat, belum ada kemajuan signifikan. Sebenarnya Indonesia punya modal luarbiasa. Kekayaan alamnya istimewa, luas wilayahnya terbentang yang bahkan mampu menutupi Eropa. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Jepang yang terbatas dalam sumber daya alam.

Sebenarnya untuk sistem pendidikan berjenjang dari SD hingga perguruan tinggi mengadopsi pendidikan Jepang, hanya saja aktualisasinya jauh api daripada panggang. Di negeri kita tercinta pendidikan masih menjadi alat politik. Bahkan sering ada guyonan, ketika menteri pendidikan berganti maka berubah juga kurikulumnya dan itu merupakan realita. Akibatnya siswa dan guru menjadi korban. Yang harusnya belajar dengan nyaman malah berkutat memahami kurikulum baru yang pada kenyataannya tak jauh berbeda.

Saya percaya kelak Indonesia akan menjadi macan Asia. Tak lagi diremehkan di forum dunia. Bangsa lain akan gentar mendengar nama Indonesia. Negeri kita punya modal luarbiasa seharusnya bisa menjadi panutan dunia.

Reactions:

4 comments:

Ciani L said...

Baiklah pak guru.. Saya juga percaya..

nur apriliyani said...

Sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia bisa diubah lebih baik lagi, tapi karena yang di atas masih saja dicampuri dengan politik maka sulit sekali membawa ke arah itu.

Semoga bisa lebih baik kelak, Amiin.

lisa lestari said...

Hiks..hiks..bener itu..saya jadi korban, kurikulum kita ribet,

lisa lestari said...

Hiks..hiks..bener itu..saya jadi korban, kurikulum kita ribet,