Monday, October 31, 2016

Tertatih

Apakah kau tahu siapa aku ?
Tentu jawabmu tidak
Aku bukan artis di layar kaca
Bukan juga youtuber terkemuka
Tentu bukan penulis dengan karya luarbiasa
Aku hanya bagian dari tiga miliar manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan

Jika orang lain pamer permata
aku hanya bisa berbagi airmata
dengan orang-orang yang merasakan penderitaan yang sama

Sekolah merupakan barang yang mewah
Sejak kelas satu SMP, aku putus sekolah
Bukan tak mau belajar, aku tak mampu membayar
seruan gratis hanya pepesan kosong belaka
LKS dan seragam tak mampu kubeli
Terkadang aku menatap iri kepada mereka yang mampu belajar hingga perguruan tinggi

Sudah sejak lama aku lupa rasanya daging
Terakhir kali ketika berdesakan meminta jatah kurban
Itupun aku hampir mati diinjak pemuda lain yang lebih tinggi

Pintaku tak besar hanya ingin dikenal
sebagai orang yang pernah hidup di dunia

Hampa

Aku berjalan sendirian di jalan sepi penuh ketidakpastian. Jalan yang kulewati tanpa ujung, terus berjalan ialah cara paling baik melawan kesendirian. Berharap di tengah perjalanan menemukan sosok teman, berbagi gundah, lelah bahkan pasrah.

Entah sudah berapa jauh, aku memaksa kaki melangkah. Perbekalan sudah habis tiga hari lalu. Tak ada yang tersisa kecuali semangat. Aku tidak mau menjadi bangkai di sini. Aku enggan menjadi cadangan makanan bagi bakteri. Aku mau mati mulia, setidaknya dihadiri sanak saudara.

Di ujung jalan sana, aku menemukan sosok perempuan. Memberikan senyum terbaik pembangkit semangat yang hampir punah dalam diriku. Ia melambaikan tangan seakan meminta pelukan. Sekuat tenaga kuberlari. Aku sudah berada di hadapannya. Bersiap memeluknya, namun Ia hanya fatamorgana, yang kupeluk sosok kasat mata sekadar udara.

Saturday, October 29, 2016

Melabuhkan

Aku lelaki biasa
dengan harapan membuncah di dada
Ingin berlayar mengarungi luasnya samudra
bermodalkan kapal kayu yang diukir tanganku

lautan terhampar dimataku
aku hadapi tanpa ragu
Kapalku hancur diterjang gelombang biru
Sirna sudah semua anganku

Hanyalah aku yang hidup dengan kepingan kayu
melawan kematian di tengah buasnya samudra hindia

Aku hidup mengandalkan angin
Ia membawaku ke Selat Malaka
Berharap menemukan daratan
tempat melabuhkan segala keresahan

Di Selat Malaka
aku melabuhkan badan dan perasaan
Ditemani senyum manis seorang gadis












Bagai sungai yang merindu
samudra aku tahu tempat melabuhkan cinta

Friday, October 28, 2016

Menghilang

Pemberitaan lenyapnya uang secara tiba-tiba di salah satu bank terkemuka menjadi viral. Bahkan tak sedikit nasabah yang mulai meragu untuk menyimpan uang di bank. Tidak tanggung-tanggung, bank tersebut merugi hingga miliaran. Masyarakat bertanya apa yang terjadi ?
Apakah uangnya dicuri tuyul yang sudah menguasi teknologi kekinian atau memang nasabah tersebut lupa bahwa tabungan sudah sirna digerogori biaya administrasi bulanan bank tersebut ?
Entahlah hanya Tuhan yang tahu.

Tahun 2015 lalu pernah diberitakan kejadian serupa dengan korban mencapai 100 nasabah. Saat itu otoritas jasa keuangan menerima laporan bahwa uang yang dimiliki nasabah sirna tiba-tiba. OJK beranggapan penyebabnya ialah hacker, hacker yang menyebar virus untuk menyasar pengguna E-banking. Ia akan mencuri data berupa ID dan password dengan cara membuat malware, malware adalah aplikasi jahat yang bertugas mengelabui nasabah seakan memasukan ID dan password padahal itu adalah malware.

Cara sederhana melihat apakah transaksi yang kita lakukan aman ialah dengan melihat address bar. Address bar memuat alamat situs yang sedang kita kunjungi. Biasanya situs dengan proteksi kuat diawali Https://. Jika tidak diawali itu maka patut dicurigai. Cara selanjutnya, coba lihat apakah situs yang kita kunjungi telah sesuai dengan yang dituju. Malware mampu menyerupai situs tapi tidak dengan alamatnya. Lagi-lagi kita harus teliti dengan kolom address bar.
Terakhir, Jika hendak melakukan transaksi via E-banking lalu terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya maka lebih baik close dulu.

Namun jika teman-teman sudah terlanjur tidak percaya dengan bank, boleh menggunakan cara tradisional dengan menyimpan uang di celengan atau bahkan di bawah kasur tentu dengan risiko tergilas inflasi dan digerogoti rayap jahat.

Peristiwa menghilangnya uang secara tiba-tiba bukanlah hal aneh. Kunci utamanya kita harus teliti dengan segala modus pencurian. Hilang uang memang menakutkan tapi lebih menakutkan hilang keimanan dan ketakwaan sebagai hamba sehingga uang dianggap dewa.

Wednesday, October 26, 2016

Semut Kecil

Aku berada di dunia lain
menyamar menjadi semut kecil
berjalan dengan ribuan kawan
mengangkat beban yang lebih berat dari badan

Beberapa kawanku mati terinjak
Yang lainnya bersusah payah bertahan untuk sekadar makan

makhluk kecil tertindas
nyawa mereka tak berarti
sudah biasa dijadikan lawakan penghibur hati

Ketika ku menjadi manusia
keadaan ini tak jauh berbeda
orang kecil ditindas
demi kepentingan manusia dengan dompet tanpa batas

Semut kecil, sejatinya kita mampu memperbaiki takdir
melawan setiap ketidakadilan yang menindas orang kecil

Tuesday, October 25, 2016

Murka

Tetesan bening jatuh dari langit
Ia tak datang sendirian
bersama kawannya menghujam daratan pasundan

Kendaraan roda dua menepi
berganti kostum agar tak tertetesi
Roda empat nampak jumawa
menerjang genangan air yang perlahan meninggi

Air murka
tempatnya meresap tak lagi ada
terbendung oleh tumpukan sampah sisa manusia

Perlahan Bandung beralih rupa menjadi lautan
Ikan-ikan besi nampak mati
Tak lagi perkasa diterjang air berwarna coklat tua

Saat itu kita belajar
bahwa alam harus dicinta
sama seperti si dia yang akan marah di saat kita mendua.

Monday, October 24, 2016

Rintihan Palsu

Ia berada di samping jalan
mengadahkan tangan meminta belas kasihan
Belum makan menjadi pamungkas
Beberapa uang recehan lepas dari pria berjas

Sehari berlalu
uang bernominal 500 ribu menjadi imbalan untuk drama yang ia lakukan

Kaki buntungnya palsu
Lukanya palsu
Jeritan belasan kasihannya pun palsu

Di rumah megahnya
Ia menghias wajah seolah peluh luka

Sunday, October 23, 2016

Sajak Linu

Linu, linu, linu
rintihan seorang anak kepada ibu
Nak, pedih bagian dari hidup kita
Jangan mengeluh itu pertanda tanda tak tangguh

Ibu, kakiku membengkak
Seperti ada belatung dalam daging

Biar ibu yang usir belatung itu
kenapa kita tak pergi ke dokter Bu ?
Seperti orang lain yang gatal saja pergi ke pria berjas putih itu ?

Nak, uang kita hanya selembar kapten pattimura.

Saturday, October 22, 2016

Sajak Sakit Kaki

Kau tahu apa itu kaki ?
Bagian tubuh manusia untuk melangkah
Seru seseorang diluar sana

Kini, kakiku luka
luka kakiku
Tak bisa melangkah
Mungkin teguran karena kurang ibadah

Aku nampak tak berdaya
dengan kaki bengkak penuh luka

Butuh senyum seorang gadis sebagai pereda segala kesakitan yang kurasa

Friday, October 21, 2016

Sajak Mantan

Hei, gadis yang pernah hadir di masa lalu
Sekarang apa kabarmu ?

Masih ingat aku ?
atau kau sudah memotong kenangan manis itu

Kalau aku bukan lelaki pelupa
Ingat setiap kejadian yang dilalui bersama
Dulu kau datang laksana Siti Hawa
menenangkan sang Adam yang merasa sepi sendiri

Aku tahu sekarang kau sedang sibuk
Menata masa depanmu
Bersama seseorang selain aku

Lelaki pemberani yang berucap janji setia untuk selalu bersama
Lelaki yang bergelar suami, untuk kamu dan anakmu


Thursday, October 20, 2016

Ilalang

Engkau tumbuh dari sebuah biji yang datang entah darimana
Alam berperan sebagai perantara
menguatkan setiap akar yang engkau punya

Waktu menjawab setiap keraguan
akhirnya kau menjadi seutuhnya ilalang
Bukan lagi biji yang terbuang

Angin menyapamu kembali
mengajak berkelana di kehidupan lainnya
Engkau terbang meninggalkan tempatmu tumbuh
Hendak mengembara mencari lahan baru

Wednesday, October 19, 2016

Memang

Negeri jamrud khatulistiwa yang selalu aku banggakan. Hamparan tanahnya diciptakan Tuhan saat tersenyum. 17.508 pulau menjadikannya negara dengan jumlah kepulauan terbanyak di dunia. 768 bahasa daerah bukti nyata bahwa nusantara kaya akan budaya. Sekitar 260 juta penduduknya menjadikan negeriku masuk empat besar penduduk terpadat dunia, 95 % diantaranya beragama islam. Luarbiasa negeriku.

Rata-rata penduduk Indonesia menguasai dua bahasa atau lebih, fenomena yang sulit ditemukan di negara lain bahkan negara maju sekalipun. Amerika serikat, negara adikuasa sekaligus adidaya berkekuk lutut dihadapan Indonesia. Bangsa besar itu kalah telak dalam kebudayaan terutama bahasa. Amerika memakai bahasa Inggris yang notabennya bahasa negara lain sebagai bahasa utama. Berbeda dengan negeri Pertiwi, walaupun mempunyai 768 bahasa namun dapat disatukan oleh bahasa Indonesia.

Hingga saat ini perbedaanlah yang semakin merekatkan Indonesia. Perbedaan bahasa, agama bahkan warna kulit tidak menjadi masalah untuk senantiasa bersama. Tahun 1995 di Kanada pernah terjadi referendum, menentukan suara setuju atau tidak, keluarnya sebuah provinsi bernama Quebec. Alasannya penduduk Quebec berbeda budaya dan bahasa dengan Kanada. Sebuah ironi jika melihat Indonesia yang tetap berdiri kokoh sekalipun banyak perbedaan budaya di antara suku-sukunya

Memang Timor-Timor atau sekarang biasa disebut Timor Leste sudah keluar dari Indonesia. Memang Indonesia masih harus belajar berbangsa, Memang Indonesia masih banyak huru-hara. Tapi harus kuakui dibalik kekurangan bangsaku tersimpan permata yang tidak dimiliki bangsa lainnya. Aku selalu percaya Indonesia sedang berlari mengejar kemajuan bangsa lain.

Jangan mengutuk kegelapan, marilah menyalakan lilin-lilin kecil.

Tuesday, October 18, 2016

Sajak Printer

Kau mencetak apa saja
Buku hutang
Surat warisan
Bahkan foto mantan

Mesin warisan Guttenberg
Berusaha sekuat tenaga
Ia mematuhi titah tuannya
Untuk menampilkan kata

Decitan dalam lipatan
Menampilkan secarik kertas
Putih dengan hiasan empat huruf
Membentuk suatu kata bermakna

Kamu.

Sunday, October 16, 2016

Bukan Seberapa Lama

kehidupan di dunia punya batas waktu, tak mungkin kekal di dalamnya seperti kenangan mantan. Banyak sekali yang meninggal di usia muda, sebagai contoh nyata seperti sahabatku. Usianya masih 22 tahun, ia baru lulus pelatihan sebagai TNI di kesatuan komando pasukan khusus atau yang lebih dikenal dengan KOPASUS.

Secara riwayat kesehatan yang aku amati, ia selalu menjaga kesehatannya dengan cara berolahraga seperti tergabung dalam komunitas beladiri, aku pun pernah berlatihan bersamanya. Memang staminanya luarbiasa. Namun waktu berkata lain secara tak di duga ia mengidap penyakit yang detailnya aku kurang tahu. Ia meninggal setelah dilakukan operasi pada salah satu bagian tubuhnya.

Umur memang tidak pernah ada yang tahu kecuali Tuhan sebagai pencipta manusia. Terkadang orang yang sakit memiliki jatah hidup lebih lama dibanding orang sehat yang tiba-tiba meninggal. Maut tak pernah mengenal batasan usia, tua atau muda siap dijemput olehnya. Cara terbaik menyiapkan diri ialah menjadi sebaik-baiknya manusia seperti dalam sebuah hadist
(khoirunnas anfa'uhum linnas). 
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

Akan percuma bila seseorang diberikan jatah hidup lebih dari 100 tahun tapi nilai manfaat bagi orang lainnya minim. berbeda dengan beberapa nabi yang diberikan umur pendek oleh allah namun kebaikannya masih dikenang hingga kini. Nabi Sulaiman AS yang meninggal di usia 52 tahun, tergolong muda pada masa itu, di mana umur manusia masih berkisar ratusan tahun. Nabi Muhammad pun meninggal di usia yang terbilang tidak terlalu tua, 63 tahun tetapi jasanya akan selalu terkenang hingga akhir zaman.

Sesungguhnya arti kehidupan bukan seberapa lama ia tinggal di dunia namun seberapa bermanfaatnya bagi orang lain. Kunang-kunang hanya punya jatah umur sehari tapi dikenang sebagai penerang saat gelap datang.

Saturday, October 15, 2016

Hikmah Di Balik Musibah

Entah kenapa aku terbiasa menyiapkan sesuatu dari jauh-jauh hari, misalkan ketika buka puasa. Aku telah menghimpun banyak makanan untuk berbuka padahal saat itu masih waktu sahur. Contoh lainnya ketika akan berpergian jauh, telah bersiap dari beberapa hari sebelumnya untuk mengumpulkan keresek sebagai media menampung pengeluaran karena efek muntah darat. Iya, aku tidak terbiasa berkendara dengan mobil dalam jarak jauh, cupu memang. Haha.

Untuk urusan jodoh pun sudah menyiapkan dari jauh-jauh hari kok, eh tapi tulisan kali ini tidak membahas jodoh. Kali ini akan bercerita tentang skripsi. Berkaitan dengan skripsi, aku menyiapkannya dari satu tahun sebelumnya. Iseng-iseng riset, mencari permasalahn paling aktual, menghimpun berbagai data dan memasukannya ke flashdisk.

Hingga saatnya skripsi, amunisi telah siap di flashdisk tinggal mengolah data saja. Tak terasa saatnya menggarap skripsi tiba, Alhamdulilah selesai sebelum waktu yang telah ditentukan meski hanya draft awal tapi lumayanlah untuk diajukan ke dosen. Kemarin berencana mem-print out semua file dalam flash disk di tempat rental komputer, karena printer yang ku punya telah lama wafat.

Aku menyambut hari itu penuh semangat, selain cukup yakin dengan materi yang kupunya, saat itu bertepatan dengan bimbingan juga. Karena terlalu bersemangat aku memprint data bukan dirental langganan, pikirku sama saja dalam segi harga. Flash disk berwana putih telah ditancapkan ke port USB komputer rental, seperti biasa aplikasi anti virus langsung bekerja. Ternyata komputernya banyak virus. Beberapa fileku ter-hidden, aku tidak panik karena hal ini biasa, tinggal klik unhidden di smadav. Tanpa di duga setelah di unhidden data skripsiku tetap hilang.

Aku berlari ke tempat rental langgannanku. Menancapkan kembali Flashdisk ke port USB. Setelah hampir 30 menit menerapkan berbagai ilmu ternyata filenya tetap hilang. Aku panik bahkan teman disampingku heran. Ia mengira aku kerasukan hantu penunggu pohon salak karena bertindak tak biasa. Di tengah keputusasaan, teman di sampingku mengabarkan bahwa dosen telat, paling datang dua jam lagi. Berita itu ibarat oase di tengah gurun.

Aku mencari flash disk yang satunya lagi, di sana ada sebagian kecil data yang bisa aku olah jadi draft skripsi walau tentu jauh dari kata maksimal. Saat itu diriku bagai pengemudi angkot yang dikejar setoran, mengebut tak karuan. Sialnya di saat aku sibuk, tepat sampingku ada sepasang kekasih yang sedang pacaran. Mereka romantis sekali. Aku gagal fokus meskipun begitu draft super ngawur akhirnya selesai sebelum dosen tiba.

Setelah menunggu dosen beberapa lama diiringi muka lesu karena seluruh file skripsiku entah di mana. Akhirnya dosen datang tapi di waktu yang tidak tepat. Beliau meminta maaf, mobilnya mogok jadi datangnya telat walhasil bimbingan pun diundur. Tambah kusutlah mukaku. Penantian lama berakhir sia-sia. Tanpa membawa jas hujan, aku pulang menembus rintik air dari langit membawa berbagai kesedihan. Aku yakin ada hikmah di balik kejadian pahit kemarin.

Friday, October 14, 2016

Belajar Dari Sepi

Sejatinya aku tak pernah suka kesepian, sebagai makhluk sosial kesepian ibarat ditikam tepat di uluh hati, sakit rasanya. Sering kali terpaksa berhadapan dengan sepi ketika merenung sebenarnya apa arti dari sebuah kehidupan. Di saat bayi, merangkak, berdiri bahkan jatuh berkali-kali. Hari ini hampir sama, merangkak, berdiri serta jatuh juga berkali-kali dalam konteks meraih mimpi.

Teman-teman masa SMA satu persatu menghadapi kehidupan mereka sendiri. Jarang bersua hanya lewat dunia maya. Sungguh berbeda ketika masa putih abu, hampir sebagian besar waktu terpakai dengan berbagai kegiatan sekolah. Mereka sedang mengejar mimpinya masing-masing begitupun dengan diriku.

Tak jauh berbeda dengan teman-temanku di kampus, mereka punya kesibukan yang sama, berkutat dengan skripsi dan pelatihan profesional guru namun di tempat berbeda. Canda tawa perlahan hilang berganti keseriusan untuk menyelesaikan studi. Akhirnya terpaksa aku bertarung lagi dengan kesepian.

Di tengah deraan kesepian, aku merasa ada manfaat dari kemana-mana sendirian. Salah satunya aku lebih mengetahui diri sendiri. Terkadang seseorang lupa diri, terlalu sibuk mengurusi kehidupan oranglain hingga lupa dengan urusan pribadi. Kesepian mengajarkanku untuk peduli dengan diri sendiri, memang terdengar egois namun sebelum belajar peka terhadap orang lain bukankah harus lebih dahulu peka dengan keadaan diri sendiri ?

Sepi terkadang aku benci terhadapmu, namun engkau memberikan pelajaran yang berharga untuk lebih kenal peran aku sebagai manusia. Bukankah suatu saat nanti setiap manusia pasti sendirian di alam kubur sana ?

Thursday, October 13, 2016

Mengawal Pendidikan

Peribahasa zaman dulu mengatakan "Guru kencing berdiri, Siswa kencing berlari"
Aku sebagai orang yang baru belajar menjadi guru tidak mau kencing berlari, malu nanti dilihat orang.

"Please deh, Lang. Esensinya bukan begitu."

"Lalu seperti apa? "

"Lah, kamu yang guru nanya ke aku."

"Nyebelin banget deh."

Okey kali ini akan serius sembari membenarkan posisi kerah. Makna peribahasa di atas ialah sebaiknya guru jangan memberikan contoh yang tidak baik. Kencing di tempat sembarangan adalah sikap yang tidak baik. Kucing aja tahu tempat buang air, misalnya digundukan pasir, tidak di dalam botol bekas air mineral.

Selain itu guru harus menjadi suriteladan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Seyogyanya guru adalah tokoh panutan dalam bersikap. Menjauhi prilaku tidak terpuji sebagai bentuk profesionalitas dalam pekerjaan. Guru bukan hanya perkerjaan tetapi bentuk lain dari pengabadian. Membentuk karakter generasi muda bukan hal mudah. Tidak seperti memproduksi barang. Mendidik memerlukan seni berbeda.

Di tambah lagi di era kekinian, membentuk karakter siswa harus dijauhkan dari cara-cara kekerasan.Terkadang yang cara tegas disalahartikan sebagai bentuk kekerasan bagi orangtua siswa. Puluhan berita sudah menghiasi pemberitaan tentang orangtua bahkan siapa yang bersikap semena-mena terhadap guru dengan dalih perlindungan anak.

Sebagian besar menganggukan kepala jika mengutarakan pendapat bahwa pendidikan ialah pondasi kemajuan bangsa tetapi tidak semua orang mau berperan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Sejati guru adalah makhluk biasa tak bisa mengawasi 24 jam prilaku siswa. Perlu dukungan orangtua untuk turut kerjasama dalam mengawal pendidikan di Indonesia.

Tuesday, October 11, 2016

Bingkisan Terakhir

Maut mengetuk pintu tanpa permisi
Tak peduli siap atau tidak
ia datang menghampiri
Tua atau muda bukan patokan
Jika Tuhan sudah menentukan

Sejatinya hidup adalah seni menata kehilangan
Satu persatu apa yang dipunya akan sirna
Uang, orang yang disayang bahkan nyawa
Itu semua titipan Zat paling kuasa

Manusia, makhluk penuh harap
Berdoa kepada Tuhan
Menempatkan ia di sisi terbaikNya

Seperti seorang guru yang sedang memanggil siswanya satu persatu
Tuhan mendahulukan kamu karena Ia sedang merindu
Aku cemburu, cemburu dengan kamu yang lebih dahulu bertemu pencipta dengan keadaan yang didamba semua hamba

Selamat jalam Serda Agung Purnomo, engkau tetap seorang prajurit yang sedang bertugas di Surga.

Pudarnya Pesona Jujur

Sekarang kita berada di masa modern, teknologi berkembang pesat namun dalam segi karakter manusia berada di titik nadir. Jika dulu janji sudah seperti sumpah yang harus ditepati maka di era ini janji layaknya tulisan anak SD yang dengan mudahnya dihapus. Kita harus menolak lupa dengan seorang petinggi partai politik yang siap digantung di monas jika terbukti korupsi. Waktu menjawab dengan tegas, ia terbukti korupsi. Apakah menempati janji untuk digantung ? tentu tidak.

Di Jepang ada istilah harakiri yaitu seni membunuh diri sendiri karena rasa malu yang tinggi. Biasanya dilakukan seorang samurai yang kalah dalam pertarungan atau tidak mampu menyelesaikan misi. Harakiri sudah dihapus sejak tahun 1873. Indonesia tidak harus meniru harakiri karena bunuh diri menurut agama Islam merupakan dosa besar. Hal yang harus ditiru bangsa ini ialah harakiri politik, rasa malu bila merugikan bangsa. Meletakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

Awal tahun 2016, Akira Amari, menteri perekonomi Jepang meletakan jabatannya karena kasus korupsi yang dilakukan anak buahnya. Ia merasa lalai dalam mengawasi bawahannya. Sungguh kita harus belajar dari negeri sakura. Berbeda hal dengan pelaku korupsi di negeri ini. ketika memakai baju tahanan KPK masih bisa dadah-dadah sembari tersenyum ke arah kamera. Bukankah seseorang disebut manusia karena rasa malunya ?

Orang bijak sering berkata bahwa kejujuran ialah mata uang yang berlaku dimana-mana. Sayangnya bangsa ini sedang krisis nilai jujur. Kantin kejujuran di sekolah favorit yang notabennya tempat bersekolah anak-anak orang kaya pun mengalami kerugian. Ternyata penyebab ketidakjujuran bukan kemiskinan tetapi sikap dan pola pikir yang harus segera diubah. Mulai menanamkan kejujuran dari diri sendiri. Saya percaya bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang senantiasa mau belajar. Generasi berani jujur itu hebat.

Saturday, October 8, 2016

Abai

Gesekan senar biola menciptakan suasa sendu, kau meneteskan bulir airmata. Berucap terimakasih karena aku mengajakmu ke konser penyanyi jazz yang kau damba. Aku bahagia menjadi alasan dibalik senyummu yang memesona. Setiap alunan lagu engkau hayati seolah orang di atas panggung sana hanya menyanyi untukmu. Tetiba di lagu terakhir, penyanyi itu menunjuk engkau naik ke panggung, mengajakmu bernyanyi bersama. Kau menatap wajahku, aku mengangguk pertanda menginjinkanmu.

Kau kembali dengan wajah ceria. Menggengam tanganku sembari bercerita bahwa penyanyi yang kau suka tak hanya mengajak bertukar suara tapi berbicara empat mata. Aku membalas genggaman tanganmu. Senang melihat mata indah berbinar. Suatu hari nanti tatapan mata yang sama akan hadir, saat engkau aku lamar. Biarlah kini bingkai persahabatan menjadi landasan hubungan kita. Aku belum siap untuk menyatakan suka. Mulut terlalu malu sekadar berucap cinta.

Entah kenapa di saat pandangan pertama, engkau menunjukan pesona luarbiasa sehingga dewa asmara lancang mengarahkan panah cinta tepat di dadaku. Aku tak bisa menolak karunia Tuhan berupa rasa suka kepadamu, sekalipun saat ini tak pernah tahu bagaimana perasaanmu, sama ataukah sekadar menganggapku teman biasa, tempat engkau menyandarkan kepala di saat duka.

Teman-teman kita menyimpulkan, antara aku dan kamu ada hubungan tak biasa. Alasan mereka sudah sesuai logika. Di mana engkau berada, akupun di sana. Kita laksana bubur dengan kerupuk selalu bersama diberbagai keadaan. Seperti saat ini, mendadak berada di dunia baru bersama kamu. Aku yang terbiasa hidup dengan sepi sukarela masuk dalam dunia yang ramai. Berusaha menyukai musik jazz dengan alasan sederhana karena kamu suka.

Konsernya telah usai menyisakan rona bahagia di wajah kita. Bahagiaku karena bisa bersama kamu, bahagiamu aku tidak tahu. Yang aku tahu tiga bulan ke depan sudah membulatkan hati untuk melamarmu, di suasana dan tempat yang sama. Kelak ku akan sukarela dengan segala keputusanmu. Menerima ataupun menolak, setidaknya aku tahu jawaban darimu. Kalau boleh sih menerimaku, kalau menolak aku tak tahu harus mencintai siapa lagi selain kamu.

Tiga bulan berselang. Ku persiapkan mawar dan cincin terindah untukmu. Selama tiga bulan lalu tak pernah alfa menabung uang untuk merencanakan memesan tiket VIP di konser penyanyi kesukaanmu. Ku relakan makan dengan seadanya demi hari istimewa ini. Aku terkejut ketika kau seolah bisa membaca hatiku, Kau mencuri start dengan membeli dua tiket VVIP untuk kita berdua.

Bak pasangan kekasih yang dilanda panah cupid, tanpa direncanakan kita berdua memakai pakaian hampir sama. Awalnya engkau menuduhku memasang CCTV dikamarmu karena aku tahu setiap detail dari kebiasaanmu. Tawa kecil menghiasi wajahku.Aku berkata, tidak memasang CCTV tapi menitipkan hati dalam dirimu. Engkau mencubitku pelan.

Warna-warni lampu mampu menyoroti seseorang. Ia adalah penyanyi yang kita tunggu. Engkau teriak histeris seperti kesurupan makhluk halus. Lagu demi lagu telah dibawakan. Di lagu terakhir aku telah menyiapkan segala amunisi, baik itu puisi paling manis serta cincin dan mawar sebagai bukti romantis. Di saat menyiapkan segala hal, aku lupa terhadap sesuatu terpenting. Ia hilang entah kemana sementara lagu terakhir hampir dimulai bahkan orang di atas panggung sudah memegang mic lalu berkata

"Terimakasih untuk kalian semua yang telah hadir. Ini lagu terakhir dari saya. Lagu ini spesial untuk setiap orang yang sedang jatuh cinta, khususnya untuk seseorang yang baru seminggu lalu aku lamar."

Gadis yang kucinta berada tepat disamping penyanyi yang ia suka. Begitu mesra sembari berpegangan tangan, Aku abai terhadap cincin dijari manisnya.

Friday, October 7, 2016

Tertinggal Jauh

Di pagi hari yang cerah ditambah iringan instrumen alam berupa kicau burung menambah syahdu suasana pagi hari. Aku bersyukur tinggal di Indonesia negara tentram tanpa perang sekalipun kondisi ekonomi tak terlalu baik, setidaknya tidak ada dentuman meriam hanya ada dentuman hati yang berharap dicintai. Tiba-tiba ditimpuk warga.

Berbicara cinta tidak asyik rasanya jika tak membahas polemik di dalamnya. Cinta ibarat sambel, terlalu berlebihan buat sakit perut, tidak memakan berasa ada yang kurang. Dari remaja hingga manula pernah merasakan cinta. Bahkan para ahli membagi beragam jenis cinta, dimulai dari cinta buta, cinta monyet, mungkin suatu hari nanti akan ada istilah cinta T-rex, besar dan menakutkan. Siap mencabik siapa saja yang berkhianat. Serem juga cinta T-rex.

Banyak orang yang berkata bahwa cinta ialah fitrah manusia. Seseorang yang tidak memiliki cinta dapat diasumsikan sebagai robot, Kokoh diluar namun sangat rapuh di dalamnya. Seperti para jomblo, berusaha kuat namun rentan untuk roboh. Kali ini ditimpuk jomblo se-Indonesia.

Tak usahlah takut dengan status jomblo karena sesungguhnya jomblo itu suatu cara yang diciptakan Tuhan untuk berlatih menyayangi diri sendiri sebelum diberi kepercayaan untuk berbagi cinta ke orang lain. Hidup jomblo. Tapi jangan terlalu lama jomblo nanti iri ketika melihat teman sudah punya anak dua, kita istri/suami pun tak punya.

Kejadian itu kualami beberapa hari lalu. Sudah menjadi kebiasaan untuk meluangkan waktu setidaknya 15 menit sekadar membuka media sosial. Di sana aku menemukan status alay, keluhan bahkan sebuah ratapan terhadap kerasnya kehidupan. Baru beberapa menit bermain FB, tetiba muncul notifikasi pemberitahun dari seorang teman yang menandai aku.
Ia mengucapkan syukur karena telah dikarunia anak kedua. Tetiba diri seperti disambar petir.

Umurku dengan teman baikku sama hanya terpaut satu bulan, masih kisaran dua puluh tahunan awal. Tetapi prestasi dalam segi cinta harus akui aku tertinggal jauh. Aku belum pernah berprestasi dalam percintaan. Semoga kelak diri ini berprestasi dengan membawa seorang wanita dan bayi dipangkuannya.

Thursday, October 6, 2016

Orang Di Ujung Republik

Ketika Inggris dipimpin perdana menteri Tony Blair, ia menegaskan tiga prioritas pemerintahannya saat itu ialah “ Pendidikan, Pendidikan dan Pendidikan”, Inggris percaya bahwa pendidikan mampu mengantarkan negaranya berjaya di abad 21.  Puluhan tahun setelah itu tanah Brinatia raya kembali berjaya, terbukti dengan digdayanya Universitas Oxford dan Cambridge yang menjadi magnet jutaan manusia untuk berlomba menjadi mahasiswanya.

Di belahan bumi lain tepatnya negeri sakura, Jepang. Pendidikan menjadi prioritas utama bahkan dari puluhan tahun lalu. Ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua, Kaisar Hirohito pernah bertanya tentang jumlah guru yang tersisa. Ia tidak bertanya berapa bangunan roboh, ia juga tidak bertanya berapa kas negara tersisa. Sang Kaisar hanya bertanya jumlah guru yang tersisa.

Terdapat benang merah yang sama antara pemikiran Kaisar Hirohito dan Perdana Menteri Tony Blair, Mereka memiliki sudut pandang sama bahwa pendidikan ialah pondasi suatu bangsa. Membangun negara tak hanya butuh alat-alat baja, membangun negara tidak juga berpatokan dari besarnya pendapat perkapita, membangun negara diawali dari mempupuk pondasi bernama pendidikan. Lalu bagaimana dengan nasib negeri kita tercinta, sudahkah memprioritaskan pendidikan sebagai unsur utama pembangun bangsa ?

Anggaran pendidikan dalam APBN Indonesia menyentuh angka 20 %, persentase yang cukup untuk membangun Nusantara tapi dalam penerapannya maasih banyak cela yang harus segera diperbaiki, terutama pendidikan di tapal batas. Perbatasan ialah etalase Indonesia di mata negara tetangga. Jangan sampai orang di ujung republik ini terkikis rasa nasionalis karena pemerintah terkesan mengacuhkan mereka. Contoh nyata adalah Sebatik. Suatu pulau di kabupaten Nunukan, Kalimantan utara.

Orang di ujung republik, jangan sampai menjadi suatu kalimat memilukan untuk saudara kita yang berada di perbatasan Malaysia. Sarana dan prasana pendidikan di sana dalam kondisi memilukan. Sekolah di Sebatik hampir sama dengan kondisi sekolah-sekolah di tapal batas lainnya, Kuantitas serta kualitas masih terbatas. Banguna sekolah yang hampir rubuh menjadi pemandangan biasa sekalipun semangat belajar anak-anaknya di sana tergolong luarbiasa. Mereka harus menempuh puluhan kilometer untuk sampai di sekolah. Di setiap kecamatan hanya terdapat beberapa sekolah dasar, dan kurang dari 10 sekolah untuk satu pulau Sebatik. Meskipun dalam kondisi keterbatasan, semangat belajar mereka tidak pernah terkikis. Di kepulauan yang kaya dengan komoditas lautnya, mereka berjuang memetik impian lewat pendidikan.


Peran pemerintah diharapkan hadir untuk memfasiltasi orang-orang luarbiasa di ujung republik tercinta. Pemerintah ada untuk menuntaskan janji bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Jangan mematahkan semangat belajar mereka dengan segala keterbatasan yang ada. Kita harus percaya kelak Indonesia akan menjadi negara digdaya asalkan pendidikan menjadi prioritas utama.

Wednesday, October 5, 2016

Tak Punya Judul

Tidak terasa waktu melesat begitu cepat. Rasanya dulu masih kelas satu SD yang 
selalu meminta dimandikan mamah tapi sekarang umurku sudah bertambah hingga menyentuh angka 20 lebih dikit, beneran dikit kok. Seiring bertambahnya usia segala kewajiban pun ikut bertambah. Kewajiban mencari uang. keharusan mandi serta menyegerakan mencari sosok istri (Ini keinginan pribadi)

Dalam hal pendidikan pun tak terasa sudah menyentuh semester tujuh, tahapan keramat menurutku. Angka tujuh menjadi spesial karena banyak hal-hal luarbiasa dilukiskan dalam angka tujuh. Keajaiban dunia, lapisan langit, tingkatan neraka dan surga bahkan di luar sana ada yang punya cita-cita memiliki istri tujuh. Aku engga niat punya istri tujuh beneran deh. Umumnya angka tujuh menunjukan sesuatu yang spesial tapi bagiku tujuh itu berat, eh bukan berat badanku yang menyentuh 70 kg, baru 65 kg kok.

Semester tujuh benar-benar menyita waktu dan tenaga bahkan sempat merasa badan ini sedikit kurusan karena terlampau lelah tapi kenyataannya masih sama aja, sedih sekali. Praktik ngajar, kuliah dan menyusun skripsi menjadi sumber penyita waktu paling utama selain jarak yang cukup jauh untuk menempuh kampus dan lokasi praktik ngajar. Lelah memang tapi semua itu terobati ketika bertatap muka dengan siswi, eh maksudnya siswa duh jadi typo.

Berbicara tentang skripsi, skripsiku membahas pembelajaran menulis puisi padahal aku pun jarang sekali menulis puisi. Seperti seorang penjual mie ayam ingin menjadi ahli dalam masakan padang. Menurutku menulis puisi sulit bahkan lebih sulit daripada menulis cerpen. Ketika menulis puisi dituntut untuk pandai meringkas suatu ide pokok dengan bahasa indah. Sayangnya aku belum terlatih menulis indah lebih prepare ke tulisan tidak jelas seperti ini.

Untuk beberapa bulan ke depan, aku mencoba berlatih menulis puisi karena tak mau menanggung malu, so soan meningkatkan keterampilan siswa dalam hal menulis puisi tetapi aku sendiri belum terlatih berpuisi. Apa kata dunia kalau begitu ?

Puisi mempunyai kekuatan gaib untuk mengubah seseorang. Semoga dengan rutin menulis puisi aku bisa berubah menjadi power rangers.

Tuesday, October 4, 2016

Dendam

Aku Gilang, anak bungsu dari kedua orangtua yang saling cinta. Orangtuaku punya tiga anak, aku dan kedua kakakku yang berwajah sama. Keluarga kami termasuk mapan dalam hal ekonomi, tak pernah kekurangan. Ayahku seorang pengusaha sukses dengan jejaring bisnis luas. Pagi di Bandung, siang hari sudah di Singapur, malam dinner di Tiongkok. Terkadang sebulan penuh bisa berkeliling dunia mengajak kami berlima plus asisten keluarga, Mba atik.

Aku termasuk yang paling dekat dengan mamah berbeda dengan kedua kakakku, mereka lebih dekat dengan ayah. Meskipun kesibukan mendera ayah, namun ia secara tak tertulis mengharuskan seharian penuh seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah. Sekadar untuk bercerita serta memupukan rasa kekeluargaan. Hari itu ayah bercerita kepada ketiga anak lelakinya, bagaimana menjadi seorang lelaki sejati. Aku kagum dengan gaya penuturan ayah, lebih memukau dari motivator terkemuka sekalipun. Kedua kakakku juga nampak setuju, namun sedikit ada wajah yang aneh dari mamah.

Tibalah malam hari, di saat mamah menyiapkan makan malam bersama Mba Atik, asisten rumah tangga yang umurnya lebih muda beberapa tahun dari mamah. Semua anggota keluarga telah berkumpul mengitari meja makan. Kedua kakakku bersemangat sekali menanti makanan buatan mamah yang terkenal lezat tiada dua. Ayah pun menanti hal yang sama. Dengan senyuman mamah membawa beberapa hidangan.

"Bunda, kenapa bukan Atik saja yang membawa makanannya, " Ayah termasuk pria romantis sekalipun umur pernikahan kedua orangtuaku sudah menginjak 20 tahun.

"Engga, Pah. Kasihan Atik kecapean. Ia sudah Bunda suruh beristirahat," Di iringi senyuman.

"Oh, Yaudah, " Ayah menjawab datar.

Tetiba setelah makanan disajikan, kandung kemihku tak bersahabat. Ia diperintahkan otak untuk membuang cairan. Tanpa di komando aku berlari ke toilet.

"Gilang, mau kemana makan dulu, " mamah setengah berteriak melarangku pergi. Namun kali ini aku membangkang, rasa ingin kencing mengalahkan kepatuhan.

"Sudahlah Mah, biarkan saja mungkin dia kebelet."

Rasanya lega telah mengeluarkan cairah yang tak tertahankan. Aku bergegas kembali ke ruang makan namun karena terburu-buru kakiku tersandung sesuatu. Aku mencoba mengamati benda yang membuatku jatuh. Mataku mencoba memfokuskan pandangan tapi tiba-tiba lampu rumah padam. Aku tak kehilangan siasat. Merogoh saku kemudian mengeluarkan HP, menjadikannya sebagai penerangan. Kulanjutkan pengamatanku terhadap benda itu, dengan cahaya terbatas aku menyentuhnya. Bentuknya seperti batok kelapa hanya saja berlumurkan cairan. Aku coba mendekatkan benda itu dengan sumber cahaya dari HP, ternyata mengejutkan.

"Mba Atiiiiiik," Aku berteriak sekuat tenaga. terkejut melihat kepala Mba Atik terpisah dari tubuhnya. Darah segar mengalir dari tempat bola matanya yang sudah hilang.

Sedetik kemudian aku mendengar teriakan mamah diiringi suara tembakan. Di lanjutan dengan rintihan kedua kakakku. Dalam suasana gelap, kepalaku berpikir keras. Ada apa ? Siapa yang tega membunuh Mba Atik begitu kejam. Tubuh Mba Atik bahkan dimutilasi. Peristiwa-peristiwa menyeramkan terjadi tak terduga, aku paling mengkhawatirkan mamah. Ia berteriak penuh ketakutan. Aku mengedap-mengedap menuju ruang makan. Mencoba berpikir jernih terhadap segala kondisi.

Ruang makan tampak lenggang, cahaya dari HP menunjukan kedua kakakku menunduk di meja makan.

"Kak, Mba Atik dibunuh. Sekarang mamah dan ayah dimana ? "

Kedua kakakku terdiam seribu bahasa. Aku mendekati mereka. Mencoba mengguncangkan tubuhnya. Cairan merah mengalir dari kepala. Kedua kakakku telah dibunuh juga.

"Keluar kau pembunuh, jangan menghancurkan keluargaku," Linangan airmata bercampur emosi mengiringi teriakan lirihku.

Aku mencoba mengitari seluruh bagian rumah. Mencari sosok kedua orangtua tercinta. Tibalah di ruang kerja ayah. Aku melihat siluet ayah terduduk ketakutan dihadapannya terlihat bayangan seseorang membawa sesuatu. Ia menarik benda itu, suara bising terdengar.

"Gergaji besi," teriakku dalam hati.

"Hati-Hati ayah, menghindar."

Sebelum teriakanku merambat ke alat pendengarannya, Sabetan gergaji besi memutuskan kepala ayahku. Semburan darah mengalir deras hingga mengenai wajahku. Aku terdiam kaku terlampau takut untuk menyaksikan kejadian ini semua.Tanganku gemetar bahkan tak kuat menggenggam HPku, HPku terjatuh menandai mentalku yang juga jatuh.

Di tengah berbagai ketakutan, terdengar langkah kaki mendekatiku. Aku curiga itu pembunuh ayah. Suara itu semakin dekat bahkan sekarang ia menyentuhku. Ia menggenggam tanganku, aku tak punya kekuatan untuk menolak. Ia memapahku menuju ruang makan.

"Gilang, duduk, " Suara itu sangat akrab di telinga. Suara lembut.

"Mamah," Aku berteriak sembari memeluknya.

"Maaaaah. Kakak, Ayah bahkan Mba Atih telah di bunuh," Sembari mengigil.

"Biarkan saja itu perbuatan setimpal untuk mereka,"

Bagai disengat petir, Aku kaget mendengar ucapan mamah.

"Sudah, jangan dipikirkan Gilang. Mamah masak sayur baso kesukaan kamu. Ini makan." Mamah mengambil nasi dan lauknya.

"Buka mulutmu Gilang, bukannya kamu paling suka disuapin mamah,"

Tetiba lampu menyala, Bola mata terlihat di depan mulutku. Di sisi lain mamah tersenyum penuh luka sembari berkata.

"Atik berselingkuh dengan ayahmu hingga melahirkan dua anak kembar," Sembari melirik ke arah kakak-kakakku yang terduduk kaku.

Monday, October 3, 2016

Kejadian Tak Terduga

Aku pulang ke rumah seperti biasanya, membawa setumpuk ceria. Suasana di sekolah begitu menyenangkan.Aku selalu merasa menjadi pahlawan di saat maju ke depan mengerjakan soal fisika dengan deretan angka di belakang koma. Teman-teman bertepuk tangan, soal dengan level sulit bagi mereka telah mampu aku taklukan. Senyum guru mengiringi seolah menjadi bahan baku sumber bagiku.

Tuhan sangat berbaik hati. Kebahagiaan di sekolah telah disempurnakan dengan kondisi keluarga. Ayahku pemimpin partai politik meskipun ia super sibuk selalu meluangkan waktunya untukku. Ibu seorang manajer rumah tangga super tangguh, mampu mengatasi berbagai keluhan anaknya dengan bijaksana. Kedua adikku yang lucu menjadi pelengkap potongan penyempurna bahagia.

Di saat usai sekolah, aku selalu ingin cepat pulang ke rumah. Menanti senyum sekaligus pelukan seorang mamah. Melihat ayah berkutat dengan puluhan berkas tapi masih sempat memberikan raut wajah terbaiknya untukku. Terbayang keceriaan adikku yang berlomba menyambut sang kakak tertua, namun hari ini terasa berbeda.

Jalan menuju rumahku terlihat sepi, biasanya beberapa ibu-ibu sedang bergosip, membicarakan sesuatu dengan kadar kebenaran belum jelas. Kemudian mereka menyapa dengan wajah cerianya. Hari ini suasana itu tidak aku temukan. Orang-orang lebih memilih berlarian menuju suatu titik yang tak pernah aku tahu. Semakin mendekati rumahku, kumpulan orang semakin ramai. Aku keheranan melihat kejadian yang tak biasa. Di sudut lain, Kulihat kendaraan bak terbuka membawa karangan bunga ekstra besar. Ku amati sekelilingi, beberapa orang menancapkan bendera kuning.

Aku berusaha tetap tenang. Menghilangkan berbagai tanya dan tetap percaya tak ada kejadian apa-apa. Keyakinanku hanya bertahan beberapa menit, dikalahkan pikiran negatif yang datang bertubi-tubi. Semakin dekat dengan rumah semakin besar rasa khawatir. Aku berlari sekuat tenaga, ingin rasanya cepat sampai rumah. Di pekarangan kudapati beberapa saudara terdekat menangis. Aku tanya kenapa, mereka hanya diam saja. Aku bergegas masuk ke rumah. Ku temukan ibuku juga menangis. Aku bertanya kemana ayah, tak ada seorangpun yang menjawab.

Ku mengitari berbagai sudut rumah, tak kutemukan sosok ayah. Ia menghilang bagai ditelan bumi. Tibalah aku di halaman belakang rumah. Aku melihat orang-oramh berkumpul di antara dipan. Mengelilingi ayahku yang kaku.

Kaku dihadapan sorotan kamera, dengan gemetar ia berkata "Semoga amanah menjadi walikota dapat saya emban dengan sebaik-baiknya. Terimakasih yang telah memilih saya. Terimakasih juga partai pendukung yang bekerja keras menguningkan daerah ini, ngomong-ngomong karangan bunganya bagus," Sembari diiringi tawa.

Saturday, October 1, 2016

Generasi Instan

Mie instan menjadi pilihan terakhir di saat darurat ketika lapar mendera secara tiba-tiba. Hanya perlu tiga menit saja untuk menyajikan makanan sejuta itu, maka wajar mie instan menjadi pilihan pertama untuk mahasiswa kos-kosan. Namun di balik praktisnya makanan kemasan berbentuk rambut tersebut mengandung bahaya yang mengintai.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr Braden Kuo dari Massachusetts, Ia menemukan fakta mencengangkan. Penelitian itu dilakukan dengan memasukan kamera super kecil ke organ pencernaan manusia, hasil yang didapatkan menunjukan fakta luarbiasa sebagai berikut :

1. Mie instan membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna

Mie instan tidak mudah "hancur" di dalam pencernaan sehingga organ-organ pencernaan perlu bekerja ekstra keras untuk menghancurkannya, bahkan dalam dua jam mie instan masih terlihat utuh. Lebih berbahayanya lagi pencernaan dipaksa menyerap terlebih dahulu pengawet yang terkandung dalam mie instan, tentu efeknya tidaklah baik.

2. Mie Instan Mengandung Pengawet TBHQ Berbahaya Bagi Tubuh

Orang-orang dengan dasar keilmuan kimia pasti tahu TBHQ. Sebenarnya TBHQ merupakan antioksidan hanya saja bukan berasal dari dalam tubuh. THBQ ialah antioksidan sintetis dari bahan kimia. Zat itu berfungsi untuk mencegah minyak dan lemak agar tidak teroksidasi. Singkatnya berperan sebagai pengawet mie. THBQ sering ditemukan dalam parfum dan kosmetik. Lima gram THBQ sudah mampu membahayakan manusia. Akibat dari terlalu sering mengonsumsi TBHQ adalah mual disertai muntah, terjadi dering di telinga, mengigau, dan sesak napas.

3. Mie Instan Penyebab Gangguan Metabolisme

Seseorang yang mengonsumsi mie instan lebih dari dua kali dalam seminggu berisiko mengalami gangguan metabolisme, yaitu gejala-gelaja tubuh seperti obesitas, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, dan kolesterol. Diketahui wanita 68 persen lebih berisiko dari pria.
Para konsumen mie instan memiliki asupan nutrisi lebih rendah, seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C. Hal tersebut diperparah dengan ditemukannya zat Benzopyrene (zat penyebab kanker) di dalam sejumlah merk mi instan.

Ternyata mie instan menyimpan bahaya yang menakutkan namun ada hal lebih menyeramkan dari mie instan yaitu generasi instan. Generasi instan, berlomba-lomba cari pendapatan tak kenal halal atau haram. Merekalah koruptor.

Generasi instan, membuat sensasi seakan layar kaca miliknya seorang. Kasus tak bernorma tampil di layar kaca guna menaikan pamor sang wayang di panggung sandiwara. Merekalah artis instan, ada untuk dilupakan

Generasi instan yang memperpanjang gelar di depan dan belakang nama. Tanpa usaha, tanpa ilmu, cukup uang belasan juta.
Generasi intelektual instan. Gelar hanya ajang pamer. Merekalah pembeli ijazah.