Friday, October 14, 2016

Belajar Dari Sepi

Sejatinya aku tak pernah suka kesepian, sebagai makhluk sosial kesepian ibarat ditikam tepat di uluh hati, sakit rasanya. Sering kali terpaksa berhadapan dengan sepi ketika merenung sebenarnya apa arti dari sebuah kehidupan. Di saat bayi, merangkak, berdiri bahkan jatuh berkali-kali. Hari ini hampir sama, merangkak, berdiri serta jatuh juga berkali-kali dalam konteks meraih mimpi.

Teman-teman masa SMA satu persatu menghadapi kehidupan mereka sendiri. Jarang bersua hanya lewat dunia maya. Sungguh berbeda ketika masa putih abu, hampir sebagian besar waktu terpakai dengan berbagai kegiatan sekolah. Mereka sedang mengejar mimpinya masing-masing begitupun dengan diriku.

Tak jauh berbeda dengan teman-temanku di kampus, mereka punya kesibukan yang sama, berkutat dengan skripsi dan pelatihan profesional guru namun di tempat berbeda. Canda tawa perlahan hilang berganti keseriusan untuk menyelesaikan studi. Akhirnya terpaksa aku bertarung lagi dengan kesepian.

Di tengah deraan kesepian, aku merasa ada manfaat dari kemana-mana sendirian. Salah satunya aku lebih mengetahui diri sendiri. Terkadang seseorang lupa diri, terlalu sibuk mengurusi kehidupan oranglain hingga lupa dengan urusan pribadi. Kesepian mengajarkanku untuk peduli dengan diri sendiri, memang terdengar egois namun sebelum belajar peka terhadap orang lain bukankah harus lebih dahulu peka dengan keadaan diri sendiri ?

Sepi terkadang aku benci terhadapmu, namun engkau memberikan pelajaran yang berharga untuk lebih kenal peran aku sebagai manusia. Bukankah suatu saat nanti setiap manusia pasti sendirian di alam kubur sana ?

Reactions:

6 comments:

Sakifah Ismail said...

sabar ya a..besok ngga kesepian kalau sudah nikah
#eh

Ciani L said...

Nyanyi gih A, biar ga sepi :)

lisa lestari said...

Wkwkwk..saran de cili bagus

lisa lestari said...

Wkwkwk..saran de cili bagus

el rina laila said...

sepi mengingatkanku pada . . .

moch akbar maulana said...

apalagi kesepian ketika menunggu, tambah kesel hati