Monday, October 31, 2016

Hampa

Aku berjalan sendirian di jalan sepi penuh ketidakpastian. Jalan yang kulewati tanpa ujung, terus berjalan ialah cara paling baik melawan kesendirian. Berharap di tengah perjalanan menemukan sosok teman, berbagi gundah, lelah bahkan pasrah.

Entah sudah berapa jauh, aku memaksa kaki melangkah. Perbekalan sudah habis tiga hari lalu. Tak ada yang tersisa kecuali semangat. Aku tidak mau menjadi bangkai di sini. Aku enggan menjadi cadangan makanan bagi bakteri. Aku mau mati mulia, setidaknya dihadiri sanak saudara.

Di ujung jalan sana, aku menemukan sosok perempuan. Memberikan senyum terbaik pembangkit semangat yang hampir punah dalam diriku. Ia melambaikan tangan seakan meminta pelukan. Sekuat tenaga kuberlari. Aku sudah berada di hadapannya. Bersiap memeluknya, namun Ia hanya fatamorgana, yang kupeluk sosok kasat mata sekadar udara.

Reactions:

5 comments:

Ciani L said...

Memilukaan...

Ainayya Ayska said...

Kasihan nian....
Ahaha

Sakifah Ismail said...

Oho...fatamorgananya ikut perkembangan zaman ya..kalau dulu bayangan berupa air sekarang rupa wanita jelita

Ran Ran said...

ohh.. malang nian hidupnya.. piss kak Gilang.. :P

Wiwid Nurwidayati said...

Kok jalan..bukannya kakinya sedang sakit