Thursday, October 6, 2016

Orang Di Ujung Republik

Ketika Inggris dipimpin perdana menteri Tony Blair, ia menegaskan tiga prioritas pemerintahannya saat itu ialah “ Pendidikan, Pendidikan dan Pendidikan”, Inggris percaya bahwa pendidikan mampu mengantarkan negaranya berjaya di abad 21.  Puluhan tahun setelah itu tanah Brinatia raya kembali berjaya, terbukti dengan digdayanya Universitas Oxford dan Cambridge yang menjadi magnet jutaan manusia untuk berlomba menjadi mahasiswanya.

Di belahan bumi lain tepatnya negeri sakura, Jepang. Pendidikan menjadi prioritas utama bahkan dari puluhan tahun lalu. Ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua, Kaisar Hirohito pernah bertanya tentang jumlah guru yang tersisa. Ia tidak bertanya berapa bangunan roboh, ia juga tidak bertanya berapa kas negara tersisa. Sang Kaisar hanya bertanya jumlah guru yang tersisa.

Terdapat benang merah yang sama antara pemikiran Kaisar Hirohito dan Perdana Menteri Tony Blair, Mereka memiliki sudut pandang sama bahwa pendidikan ialah pondasi suatu bangsa. Membangun negara tak hanya butuh alat-alat baja, membangun negara tidak juga berpatokan dari besarnya pendapat perkapita, membangun negara diawali dari mempupuk pondasi bernama pendidikan. Lalu bagaimana dengan nasib negeri kita tercinta, sudahkah memprioritaskan pendidikan sebagai unsur utama pembangun bangsa ?

Anggaran pendidikan dalam APBN Indonesia menyentuh angka 20 %, persentase yang cukup untuk membangun Nusantara tapi dalam penerapannya maasih banyak cela yang harus segera diperbaiki, terutama pendidikan di tapal batas. Perbatasan ialah etalase Indonesia di mata negara tetangga. Jangan sampai orang di ujung republik ini terkikis rasa nasionalis karena pemerintah terkesan mengacuhkan mereka. Contoh nyata adalah Sebatik. Suatu pulau di kabupaten Nunukan, Kalimantan utara.

Orang di ujung republik, jangan sampai menjadi suatu kalimat memilukan untuk saudara kita yang berada di perbatasan Malaysia. Sarana dan prasana pendidikan di sana dalam kondisi memilukan. Sekolah di Sebatik hampir sama dengan kondisi sekolah-sekolah di tapal batas lainnya, Kuantitas serta kualitas masih terbatas. Banguna sekolah yang hampir rubuh menjadi pemandangan biasa sekalipun semangat belajar anak-anaknya di sana tergolong luarbiasa. Mereka harus menempuh puluhan kilometer untuk sampai di sekolah. Di setiap kecamatan hanya terdapat beberapa sekolah dasar, dan kurang dari 10 sekolah untuk satu pulau Sebatik. Meskipun dalam kondisi keterbatasan, semangat belajar mereka tidak pernah terkikis. Di kepulauan yang kaya dengan komoditas lautnya, mereka berjuang memetik impian lewat pendidikan.


Peran pemerintah diharapkan hadir untuk memfasiltasi orang-orang luarbiasa di ujung republik tercinta. Pemerintah ada untuk menuntaskan janji bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Jangan mematahkan semangat belajar mereka dengan segala keterbatasan yang ada. Kita harus percaya kelak Indonesia akan menjadi negara digdaya asalkan pendidikan menjadi prioritas utama.

Reactions:

5 comments:

Ciani L said...

Setujuuu...

lisa lestari said...

aku sepatuuuuu...

Ainayya Ayska said...

MasyaAllah, luar biasa, ka Gilang.

Pingin bisa nulis macam ni. Tapi agaknya perlu baaanyaaak belajar dan membaca lagi. Hehe

Wiwid Nurwidayati said...

setuju...

EstinaLa said...

setujuuuu