Wednesday, October 5, 2016

Tak Punya Judul

Tidak terasa waktu melesat begitu cepat. Rasanya dulu masih kelas satu SD yang 
selalu meminta dimandikan mamah tapi sekarang umurku sudah bertambah hingga menyentuh angka 20 lebih dikit, beneran dikit kok. Seiring bertambahnya usia segala kewajiban pun ikut bertambah. Kewajiban mencari uang. keharusan mandi serta menyegerakan mencari sosok istri (Ini keinginan pribadi)

Dalam hal pendidikan pun tak terasa sudah menyentuh semester tujuh, tahapan keramat menurutku. Angka tujuh menjadi spesial karena banyak hal-hal luarbiasa dilukiskan dalam angka tujuh. Keajaiban dunia, lapisan langit, tingkatan neraka dan surga bahkan di luar sana ada yang punya cita-cita memiliki istri tujuh. Aku engga niat punya istri tujuh beneran deh. Umumnya angka tujuh menunjukan sesuatu yang spesial tapi bagiku tujuh itu berat, eh bukan berat badanku yang menyentuh 70 kg, baru 65 kg kok.

Semester tujuh benar-benar menyita waktu dan tenaga bahkan sempat merasa badan ini sedikit kurusan karena terlampau lelah tapi kenyataannya masih sama aja, sedih sekali. Praktik ngajar, kuliah dan menyusun skripsi menjadi sumber penyita waktu paling utama selain jarak yang cukup jauh untuk menempuh kampus dan lokasi praktik ngajar. Lelah memang tapi semua itu terobati ketika bertatap muka dengan siswi, eh maksudnya siswa duh jadi typo.

Berbicara tentang skripsi, skripsiku membahas pembelajaran menulis puisi padahal aku pun jarang sekali menulis puisi. Seperti seorang penjual mie ayam ingin menjadi ahli dalam masakan padang. Menurutku menulis puisi sulit bahkan lebih sulit daripada menulis cerpen. Ketika menulis puisi dituntut untuk pandai meringkas suatu ide pokok dengan bahasa indah. Sayangnya aku belum terlatih menulis indah lebih prepare ke tulisan tidak jelas seperti ini.

Untuk beberapa bulan ke depan, aku mencoba berlatih menulis puisi karena tak mau menanggung malu, so soan meningkatkan keterampilan siswa dalam hal menulis puisi tetapi aku sendiri belum terlatih berpuisi. Apa kata dunia kalau begitu ?

Puisi mempunyai kekuatan gaib untuk mengubah seseorang. Semoga dengan rutin menulis puisi aku bisa berubah menjadi power rangers.

Reactions:

12 comments:

Vinny Martina said...

Paragraph pertama curhat sampe tangah, pake bilang mau nikha, terus ngeluh sibuk. Kemudian ngayal jadi power ranger. Agil luar biasa. Hahahaha. Pantes dik cili kesemsek, bukan kesemek yak.. kesemsem.

Vinny Martina said...

Paragraph pertama curhat sampe tangah, pake bilang mau nikha, terus ngeluh sibuk. Kemudian ngayal jadi power ranger. Agil luar biasa. Hahahaha. Pantes dik cili kesemsek, bukan kesemek yak.. kesemsem.

lisa lestari said...

Ranger warna apa Gilang?

lisa lestari said...

Ranger warna apa Gilang?

Muhamad Septian Wijaya said...

jangan ranger merah ya kang, soalnya aku udah milih duluan

Wiwid Nurwidayati said...

Masak nulis puisi bisa jadi power ranger

Ciani L said...

Hhaa... Terus abis jadi power ranger mau apa?

Sasmitha A. Lia said...

Mau nikh ma kamu lah ci..#ehh๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Wiwid Nurwidayati said...

Wkwkwk

Wiwid Nurwidayati said...

Wkwkwk

Ainayya Ayska said...

Ahaha. Typo disengaja

Ran Ran said...

judulnya kaya lagunya bang OI a Gilang