Wednesday, November 30, 2016

Sosok Ketiga

Tak ada yang mampu bertahan dalam kerinduan. Sekuat apapun aku mencoba akhirnya pertahanan ini jebol juga. Aku lelaki biasa jauh dari Adam yang mampu bertahan ratusan tahun tanpa belahan jiwa bernama Hawa.

Di pernikahan kita dulu. Aku berjanji takkan pernah mendua. Menyerahkan cinta hanya untukmu saja. Begitupun dengan engkau. Wajahmu berseri kala itu, seakan setuju dengan segala janji setia yang kita ikrarkan bersama. Namun semua itu tak mampu bertahan lama.

Entah sejak kapan, diri ini setengah gila karena engkau. Dirimu ibarat candu membuatku ketagihan untuk selalu bertemu. Namun ia menjadi tembok paling kokoh penghalang segala jenis rindu. Ia menjadi sosok ketiga, perusak hubungan kita.

Hidupku hancur ketika kau memutuskan untuk membagi cinta dengan ia. Sekalipun berulang kali kau mengucapkan alasan kenapa rela membagi cinta. dilubuk hatiku tak pernah bisa menerima. Aku lelaki egois yang tak mau diberi cinta setengah rasa.

Engkau tetap bersikukuh membagi perhatian. lelaki mana yang rela dibagi rasa sayangnya. Kau memang tega mengingkari janji setia yang pernah kita ucapkan bersama.

Sekarang aku dibutakan oleh cinta. Ingin menghabisi segala hal penghalang antara kita. Pisau telah aku asah menunjukan sudut kilaunya. Aku rasa jika sudut tajam itu menggores lehernya, ia akan mati seketika. Aku tak banyak berpikir segera bergegas pergi. Didalam hati berkata "Malaikat mautmu akan segera tiba."

Bercak darah menghiasi tanganku. Aku puas telah menghabisi ia. Butuh tenaga memang untuk melupuhkannya. Beberapa kali ia melawan namun tetap saja berhasil aku lumpuhkan. Tenagaku terkuras habis, rasa lapar hadir.

Di saat aku sedang makan. Istriku berteriak histeris. Nampaknya dia sudah tahu perbuatanku.

"Ayah tega, Ia sangatku sayang namun ayah bunuh begitu saja."

"Sudah ah jangan sedih nanti Ayah belikan lagi yang kecil. Tapi jangan campakan aku karena keasyikan mengurusinya."

"Ayah janji yah. Ibu pengen beli yang warna-warni."

"Siap ayah belikan sepuluh ekor," Berkata sembari mengigit daging paha.

Akhirnya keluargaku kembali ceria tanpa sosoknya.

Tuesday, November 29, 2016

Rindu

Rindu itu kejam, jenderal
Ia tak kenal siapa
Ia tak tahu apa

Ada laksana jelangkung
Datang entah darimana
Pergi meninggalkan sesak di dada

Memang benar
hanya orang kuat yang mampu bertahan dalam terpaan kerinduan

Sunday, November 27, 2016

Pink

Aku berada dalam suatu rumah besar. Penghuninya berasal dari berbagai latarbelakang. Mahasiswa, guru, pekerja bahkan ada pula yang aktivitasnya galau saja seperti aku contohnya. Kedipkan mata.

Perbedaan inilah yang memberikan warna cantik bagi setiap penghuninya. Tujuan kami sebenarnya sama menghiaskan setiap sudut rumah dengan berbagai warna kesukaan. Warna kesukaanku ungu. Sssst tunggu dulu bukan warna jomblo loh. Ungu itu keren karena terong aja warna ungu. Ngomong apa sih kamu. Pokoknya ungu keren.

Setiap penghuni rumah mengecat ruangannya dengan warna kesukaannya. Ada yang biru, hijau bahkan pink. Di suatu hari si pink mengecat temboknya dengan cara berbeda. Di tepi-tepi sudutnya banyak cela yang belum tercat. Tibalah si merah yang mengamati tingkah pola si pink. Dia bertanya kenapa mewarnainya acak-acakan. Dia memberikan tips untuk mengecat dengan cara yang benar.

Si pink menolak, dia tak mau ada yang ikut campur tangan di dinding yang dia warnai. Dengan alasan semua itu privasinya. Si merah tampak pasrah, dia beranjak pergi. Di suatu hari dinding yang diwarnai si pink telah kering. Namun dia kecewa dengan hasilnya. Dia melirik karya teman-temannya lain yang begitu indah. Seketika dia marah, tak ada yang memberitahu cara mengecat dinding yang baik.

Si merah berkata bukankah dulu dia pernah memberi tahu. Si pink bersikukuh bahwa itu hanya alasan si merah. Dia merasa si merah hanya iri terhadap dirinya saja. Akhirnya si pink pergi dari rumah itu. Di suatu tempat si pink nampak sedih, kini warna yang ia punya semakin memudar.

Saturday, November 26, 2016

Pencuri

Pukul 4 subuh tempat ini sudah ramai oleh ribuan orang dengan tujuan berbeda di kepala mereka. Sebagian besar ingin berniaga, sebagian lagi memanfaatkan celah keramaian untuk memuluskan perbuatan tercela. Aku berada di kubu negatif, sebagai pencuri kecil.

Selama karirku sebagai pencuri, aku mengharamkan diri untuk mencuri uang. Meski kutahu segala bentuk pencurian itu haram. Aku tidak mau mencuri uang, tepatnya tidak mau disamakan dengan para koruptor, mencuri uang rakyat hingga banyak orang sepertiku lahir.

Aku tidak punya orangtua. Ibu meregang nyawa di tangan bapakku yang doyan berjudi. Saat itu bapakku kalut karena kalah taruhan sehingga rumah harus direlakan. Ibuku tak terima, terjadi pertengkaran hebat. Hingga berujung pisau belati tertancap di rusuk ibuku.

Aku kaget melihat ibu tergelak penuh darah, bergegas membawanya ke rumah sakit. Nasib memang tak selalu baik, ibuku meregang nyawa setelah ditolak rumah sakit dengan alasan ruang UGD penuh. Kalau tidak ada koruptor mungkin saja ayahku tidak berjudi karena tersedianya lapangan kerja, kalau tidak karena koruptor telah dibangun rumah sakit lain untuk merawat ibuku.

Sehari berselang dari kejadian itu ayahku ditangkap. Tidak punya orangtua serta tempat berteduh mengajarkanku satu hal, tiada yang abadi di dunia ini. Begitupun keadaan ini, aku tak mau selamanya jadi pencuri. Sejujurnya terpaksa melakukan ini hanya sekadar memenuhi isi perut saja.

Sebagai pencuri tentu punya incaran favorit, air lahang yang terbuat dari perasan tebu menjadi barang curian paling aku suka. Kue putu berada diurutan kedua. Setelahnya combro dan cireng berada diurutan ketiga. Aku suka sekali mencuri makanan dan minuman khas Sunda.

Kenapa aku suka mencuri kudapan itu tentu ada alasannya, ibuku adalah penjual gula dan gorengan khas Sunda. Barang tentu selalu berurusan dengan tebu, air tebu dan gorengan khas Sunda seperti combro dan cireng meningatkanku kepada sosok Ibu. Tentu dia sedih melihatku menjadi pencuri.

Selama karirku sebagi pencuri, belum sekalipun aku tertangkap. Teman-teman sesama pencuri menjulukiku si gesit. Bergerak bagai ninja yang tak terlihat. Namun hari itu aku apes, gorengan dan air halang yang ku sembunyikan dibalik baju tumpah semuanya. Kakiku tersandung. Belasan orang menatapku dengan sinis, beberapa mengepalkan tangan bersiap menghantam tubuhku.

Berkali-kali pukulan membuatku merintih, sebelum bertambah sakit ada seorang bapak-bapak menengahi. Dia adalah pemilik kedai yang kucuri. Bapakku itu berhasil menyuruh orang-orang untuk segera pergi. Dia bertanya tentang alasanku mencuri. Tentu aku bercerita kejadian pedih yang menimpaku. Bapak itu memberikanku uang bergambar proklamator negeri ini. Nampaknya dia iba.

Aku bersikeras tak mampu menerima uang pemberiannya, namun aku kalah setelah dia mengancam akan melaporkan ke polisi jika aku tak mau menerima uang pemberiannya. Uang merah berpindah tangan. Bapak itu tersenyum kemudian berkata

"Jangan tak enak hati, uang itu pinjaman kalau kau sudah sukses nanti tolong kembalikan." Dia tertawa dengan candaanya sendiri tapi tidak dengan aku. Kata-katanya cambuk sekaligus doa.

Puluhan tahun berselang, ternyata nasibku tak berubah masih saja sebagai pencuri.
Mencuri hati pelanggan agar membeli makanan daganganku. Lahang dan gorengan khas sunda beralih wujud dengan kemasan menarik. Ternyata tak semua kegiatan mencuri itu tercela, aku sekarang sudah menjadi pencuri positif. Jajanan khas Sunda buatanku sudah berkeliling dunia. Satu lagi terlupa, uang yang diberikannya sudah sejak lama dikembalikan. Tapi tetap saja bapak itu aku curi, kali ini mencuri hati anaknya. Iya aku adalah penerus usahanya sekaligus menantunya kini.

Friday, November 25, 2016

Simbol Setia

Aku buta
tak mampu melihat arti bahagia
aku tuli
tak bisa mendengar suara bidadari
bahkan aku bisu
tidak kuasa mengucap rindu

Aku lelaki tuna daksa
tidak mampu berbuat apa-apa
aku lelaki kurang ilmu
tak tahu makna dibalik senyummu

Namun itu dulu
aku berusaha mengenalmu
lewat buku yang kupegang kini
ini buku pertama yang mampu aku baca tuntas dari awal hingga akhir kata

Buku yang sama dengan yang kau punya
buku simbol setia

Tuesday, November 22, 2016

Seni Dalam Membenci

Suka dan benci hanya terhalang benang tipis
Ia jelma air dan minyak
dekat namun tak bisa menyatu

dulu aku menatapmu dengan merona
terpesona dengan cara Tuhan melukis wajahmu

Sekarang rasa itu menjadi buih
Ia menyusut menjelma benci
tak suka segala tentangmu
termasuk sekadar berbagi udara

Aku menyesali masa lalu
kenapa rasa suka tumbuh begitu liar
sehingga mata tak tahu siapa yang benar

Tak peka terhadap berbagai keadaan
bahkan ketika dia mulai berbagi rasa

Kini aku belajar seni dalam membenci
Suka, jangan berlebihan
benci tak boleh keterlaluan

Monday, November 21, 2016

Sebatas Abu

Aku berada di sebuah tempat sempit
tidurpun harus berhimpit
berjajar saling menindih
ini lebih dari sekadar sedih

Aku tak pernah berbicara
dengan penghuni ruangan yang sama
mereka sibuk dengan urusan masing-masing
Ah, aku jengah dan pusing

Ingin rasanya pergi dari ruangan ini
bosan dengan mereka yang diam saja
namun ku tak bisa bergerak
tak punya kaki dan tangan hanya sebatas badan

Satu per satu temanku hilang
lambat laun mereka jadi abu
sekarang tibalah giliranku
tubuh ini bergetar pertanda gentar

Sosok besar memegangku dengan kasar
Kepalaku terbakar bergesekan dengan tembok coklat pekat

Aku tiada, sebatas abu saja

Sunday, November 20, 2016

Mengeja Kata

Sejak kecil aku dilatih untuk memahami segala hal lebih dahulu bahkan mengenai keruntuhan orde baru. Kala itu masih belajar mengeja di koran bekas bungkus bala-bala, makanan khas Sunda yang melegenda.

Entah kenapa aku lebih suka mengeja daripada membaca. Seringkali ditegur guru karena di usia yang tak lagi muda hanya bisa mengeja kata. Teman sebayaku sudah pandai membaca, puluhan buku ia lahap dengan rakus sedangkan aku masih dalam kondisi terbata-bata.

Temanku paham betul undang-undang negara ini, ia hafal di luar kepala karena terlampau sering membaca. Lagi-lagi bertolak belakang dengan aku, selalu sama masih tahap mengeja.

Tahun demi tahun berlalu. Di halaman rumah, aku ditemani makanan khas Sunda, bala-bala. Sembari mengeja koran dengan headline operasi tangkap tangan oleh KPK. Sahabatku yang pandai membaca, bahkan undang-undangpun sudah diluar kepala ditetapkan tersangka. Aku heran kenapa bisa ?

Saturday, November 19, 2016

Kehilangan

Jantungku masih berdetak, mata ini sanggup melihat dengan jelas begitupun dengan kaki, berdiri tegak. Namun ada sesuatu yang tak lagi kupunya. Hal itu dulunya sangat berharga tak bisa nilai dengan uang merah di saku celana. Ia hilang entah kemana ?

Aku mencarinya ke sudut-sudut terkecil rumah ini. Menelusuri setiap bagian, dari pinggiran kursi hingga celah di antara lemari. Hasilnya selalu sama ia entah di mana. Aku sudah lelah mencari. Tenaga sepenuhnya terkuras hingga sebagian orang mengganggapku setengah waras.

Resah memang ketika mencari sesuatu yang hilang. Putus asa sempat terasa. Hingga aku menyimpulkan ia tak mungkin kembali, aku harus belajar mengikhlasnya kini. Saat aku menyerah, setitik sinar ada. Ternyata hal yang kucari tidak kemana-mana, ia bersembunyi di balik selimut bernama alasan.

Penaku berhasil ditemukan, tak ada alasan untuk malas menggoreskannya. Bukankah di mata Tuhan dan manusia menulis adalah pekerjaan mulia ?

Monday, November 14, 2016

Anggapan

Kenapa badanku tak bisa bergerak
tak punya tenaga untuk berontak
lelah dengan segala anggapan
hinaan katanya aku tak punya masa depan

Memang benar rumahku hanya langit
Tak salah lantaiku hanya tanah
Tapi ku tak pernah meminta belas kasihan
Sekalipun hanya untuk makan

Semua orang mengitariku
mengepal tangan menghakimi tanpa penjelasan

Tubuhku berdarah
lungkai tak tahu arah

Kata mereka aku pencopet
aku hanya penemu dompet

Sunday, November 13, 2016

Renda

Benang beragam rupa
akan kurajut menjadi kain istimewa
Merah, kuning, hijau hingga jingga
Bersatu membentuk ragam warna

Susah memang menyatukan beragam corak berbeda
Perlu tenggang rasa luarbiasa

Pada hakikatnya perbedaan itu indah
Bila dipadukan tanpa cela

Kuning tak boleh merasa paling bening
merah tak harus unjuk gigi paling cerah

Perbedaan itu menyatukan

Merenda kain bernama Indonesia

Thursday, November 10, 2016

Pahlawan bertongkat

Dengan pakaian serba orange, ia gagah berdiri menghadang setiap dedaunan yang jatuh. Tugasnya sangat berat menjadi garda terdepan penghilang segala sumber kematian. Tak pandang bulu ia membersihkan segala hal kecuali tikus-tikus istana yang tak bisa disentuhnya.

Sekolahnya tak tinggi, hanya lulus SD bahkan tidak sekolah sama sekali. Namun nasionalismenya tak bisa diragukan, meski gajihnya sering terhambat hingga tiga bulan. Semangatnya tak luntur walau perut memberontak minta jatah makan. Jamnya memang ekstra dari dini hari hingga hilangnya mentari.

Mereka bukan pemuda bahkan tergolong renta diusianya. Di akhir masa hidup, semangatnya tak pernah redup. Membara seperti tentara yang sedang memerangi Belanda. Terkadang orang memandangnya sebelah mata tapi tidak dengan Tuhan. Ia setara pahlawan, tak kenal keluh menyapu jalan. Engkau pahlawan bertongkat, membela negara dengan niat.

Tuesday, November 8, 2016

Suapan Maut

Bayi lugu digendong sang ibu
Ia terkantuk menelan pil pahit
Buaiannya palsu dengan modus tertentu
Ia dijadikan alat memanen rupiah

Belas kasihan ditebar
Tangisan pilu dijual
Berharap rupiah berpindah tangan
Menjadi alas pemuas nafsu

Bayi masih terkantuk
dengan napas terhela
buih dimulut menjadi pertanda
ada sesuatu yang mengancam jiwa

Sang ibu tak peduli
terfokus memanen pundi
akhirnya nyawa bayi
ditukar nafsunya kini

Monday, November 7, 2016

Kamu Jahat

Bagi seorang perempuan, penantian ialah hal paling mendebarkan. Terselip rasa takut bahwa yang dinanti tak menepati janji bahkan dia lupa dengan ikrarnya sendiri. Sudah empat tahun sejak peristiwa itu, pertama kali dia mengucapkan janji setia untuk selalu bersama, berbagi segala rasa dalam bahtera rumah tangga.

Kala itu terlalu dini bagi remaja yang baru lulus SMA untuk membicarakan pernikahan, tapi tidak dengan dia. Di akhir masa putih abu, raut wajahnya berubah serius. Tak biasanya dia memasang mimik seperti itu. Harus diakui sebenarnya diri ini menitipkan rasa pada sosoknya. dia lelaki humoris dengan bakat luarbiasa termasuk keahlian meluluhkan hatiku.

"Rida, sejujurnya sejak lama aku menaruh suka kepadamu," Wajahnya mantap berkata.

Aku hanya menampilkan pipi yang memerah dihadapannya.

"Tapi seminggu kedepan, kita tidak bertemu seleluasa ini. Sejak lama aku mempersiapkan diri agar diterima Al-Azhar, Mesir dan alhamdulilah cita-cita tergapai. Tinggal satu hal yang ingin aku pastikan. Menjadikanmu sebagai pelengkap kalbu. Namun sebelum itu kita harus sama-sama memantaskan diri salah satunya dengan pendidikan. Sepulang dari Mesir nanti aku akan menikahimu." Sembari diiring senyum.

Aku termenung setelah ia berkata itu, di sisi lain bahagia ternyata cintaku berbalas, tapi ada keraguan apakah diri ini kuat menahan berbagai jenis rindu di saat raga tak bisa bertemu.

"Jika di sela-sela penantian. Ada sosok pria yang Rida sukai. Silakan saja. " Wajahnya nampak bersedih.

"Tidak, aku ingin menanti kamu."

Kata yang kuucapkan selalu dijaga walau terpaan cobaan begitu dahsyat menghantam diri. Sempat datang beberapa lelaki ingin menjalin kasih denganku. Aku teguh menolak mereka. Menunggu seseorang yang sehari lagi akan kembali. Di masa penantian aku dengannya sibuk menata diri, tak terlalu sering komunikasi.

Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi sepasang manusia yang tak sabar untuk saling bertatap muka. Aku tak sabar ingin bertemu dia yang baru. Dia yang akan menjadi imamku. Sosok lelaki yang menenteng sesuatu melambaikan tangan kepadaku, ia tidak datang sendirian.

"Assalamu'alaikum Rida, kau tidak berubah tetap memesona." Katanya sembari menatapku.

Aku kembali membalas dengan wajah memerah persis seperti empat tahun lalu.

"Walaikumsalam, kamu datang bersama siapa ? Sembari melirik beberapa orang di dekatnya."

"Aku datang bersama anak."

Aku diam seribu bahasa. Mencerna kata yang baru saja ia lontarkan. Apakah ini mimpi ? begitu teganya dia mengkhianati janji.

"Eh jangan melamun, aku bawa anak kucing untuk kamu, kan kamu suka kucing anggora. Jangan khawatir aku akan menepati janji, seminggu dari sekarang kita menikah. Mereka teman-temanku, ngotot sekali ingin bertemu gadis yang selalu kuceritakan.

Bersamamu, aku selalu merasa menjadi Cleopatra. Diistimewakan dengan berbagai rasa cinta. Kamu jahat telah membuatku jatuh cinta sedalam ini.

Sunday, November 6, 2016

Khalifah

Tuhan berbaik hati menciptakan tempat layak huni
meski berulang kali hamba alfa memuja sang pencipta

Manusia memang tempat salah dan lupa
namun Tuhan tetap percaya mengutus kita sebagai khalifah dunia

Apakah kita sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya manusia ?

Mengutamakan perdamaian bagi sesama
bukan menepuk dada sembari berkata

"Aku paling benar di dunia, kalian penuh dosa."

Saturday, November 5, 2016

Penyangga

Langkah kaki menjejaki tangga
Seorang perempuan dengan baju senada nampak kesulitan menapakinya

Hempusan napas pertanda keluh
lelah membuatnya pasrah
berulang kali ia terjatuh
Diakhir perjuangan, cairan merah menyeruak darah

Tongkat penyangga badannya patah
Ia menghadapi masalah

dari jauh sana seorang pria berlari
membungkukan badan menjadi tumpuan
belasan tangga berhasil terlewati
pria itu menjelma menjadi penyangga tubuhnya

Friday, November 4, 2016

Menjual Cinta

Bangun tidur ku terus wudhu, tidak lupa salat subuh habis itu kubaca berita, tercengang membacanya.
Tepat sejam lalu, aku membaca berita yang cukup unik. Biasanya cinta menjadi pelengkap kehidupan manusia. Cinta ialah muara dari rasa menyayangi sesama.

Hal yang cukup unik terjadi di Tiongkok, seseorang perempuan sebut saja Xiaoli memilik pacar hingga 20 orang. Anda terkejut ? aku juga sama. Jomblo di bagian dunia sana akan merasa tidak memiliki keadilan karena ia tuna asmara, sedangkan Xiaoli bergelimbang cinta bahkan over love (Ini istilah baru tentang kelebihan rasa cinta.)

Tak hanya itu, Setiap pacarnya diminta memberikan Iphone 7 sebagai hadiah untuknya. 200 juta lebih terkumpul dari hasil penjualan iphone. Cerdiknya, 20 Iphone 7 yang terkumpul ia jual untuk dibelikan rumah. Tepatnya untuk mencicil sebuah rumah. Selidik punya selidik, Xiaoli adalah anak pertama yang secara tidak langsung mempunyai tanggungjawab lebih.

Di era modern ini, segala hal bisa dijual termasuk cinta. Menurutku begitu murah sekali cinta dihargai hanya dengan 20 Iphone 7. Sejatinya cinta ialah rasa tak ternilai. Sesuatu itu mahal jika uang takkan pernah mampu membelinya.

Tuesday, November 1, 2016

Tamu

Hei kamu, iya kamu yang sedang duduk cantik sembari ditemani novel serta teh manis. Apakah tahu di sudut ini aku sedang merindu. Merindu sosokmu yang diam-diam hadir di kepala. Ah, kau memang selalu ahli menembus hati.

Sejak pertama kali bertemu. Kau sudah memukauku, entah kenapa saat itu kau memesona dengan pakaian serba senada. Jika ada alat pengukur rasa suka, mungkin saat itu menunjukan angka tertinggi. Kau terlihat anggun dengan diammu. Tak banyak berkata namun pertemuan itu bermakna.

Kali kedua bertemu kamu, aku hadir dengan pakaian terbaikku. Kau juga sama begitu luarbiasa dengan balutan gaun pengantin. Ini peristiwa paling berharga dalam kehidupan kita berdua. Aku tahu kau sangat bahagia, aku pun memiliki perasaan yang sama. Aku hadir sebagai tamu undangan dalam pernikahanmu.