Saturday, November 26, 2016

Pencuri

Pukul 4 subuh tempat ini sudah ramai oleh ribuan orang dengan tujuan berbeda di kepala mereka. Sebagian besar ingin berniaga, sebagian lagi memanfaatkan celah keramaian untuk memuluskan perbuatan tercela. Aku berada di kubu negatif, sebagai pencuri kecil.

Selama karirku sebagai pencuri, aku mengharamkan diri untuk mencuri uang. Meski kutahu segala bentuk pencurian itu haram. Aku tidak mau mencuri uang, tepatnya tidak mau disamakan dengan para koruptor, mencuri uang rakyat hingga banyak orang sepertiku lahir.

Aku tidak punya orangtua. Ibu meregang nyawa di tangan bapakku yang doyan berjudi. Saat itu bapakku kalut karena kalah taruhan sehingga rumah harus direlakan. Ibuku tak terima, terjadi pertengkaran hebat. Hingga berujung pisau belati tertancap di rusuk ibuku.

Aku kaget melihat ibu tergelak penuh darah, bergegas membawanya ke rumah sakit. Nasib memang tak selalu baik, ibuku meregang nyawa setelah ditolak rumah sakit dengan alasan ruang UGD penuh. Kalau tidak ada koruptor mungkin saja ayahku tidak berjudi karena tersedianya lapangan kerja, kalau tidak karena koruptor telah dibangun rumah sakit lain untuk merawat ibuku.

Sehari berselang dari kejadian itu ayahku ditangkap. Tidak punya orangtua serta tempat berteduh mengajarkanku satu hal, tiada yang abadi di dunia ini. Begitupun keadaan ini, aku tak mau selamanya jadi pencuri. Sejujurnya terpaksa melakukan ini hanya sekadar memenuhi isi perut saja.

Sebagai pencuri tentu punya incaran favorit, air lahang yang terbuat dari perasan tebu menjadi barang curian paling aku suka. Kue putu berada diurutan kedua. Setelahnya combro dan cireng berada diurutan ketiga. Aku suka sekali mencuri makanan dan minuman khas Sunda.

Kenapa aku suka mencuri kudapan itu tentu ada alasannya, ibuku adalah penjual gula dan gorengan khas Sunda. Barang tentu selalu berurusan dengan tebu, air tebu dan gorengan khas Sunda seperti combro dan cireng meningatkanku kepada sosok Ibu. Tentu dia sedih melihatku menjadi pencuri.

Selama karirku sebagi pencuri, belum sekalipun aku tertangkap. Teman-teman sesama pencuri menjulukiku si gesit. Bergerak bagai ninja yang tak terlihat. Namun hari itu aku apes, gorengan dan air halang yang ku sembunyikan dibalik baju tumpah semuanya. Kakiku tersandung. Belasan orang menatapku dengan sinis, beberapa mengepalkan tangan bersiap menghantam tubuhku.

Berkali-kali pukulan membuatku merintih, sebelum bertambah sakit ada seorang bapak-bapak menengahi. Dia adalah pemilik kedai yang kucuri. Bapakku itu berhasil menyuruh orang-orang untuk segera pergi. Dia bertanya tentang alasanku mencuri. Tentu aku bercerita kejadian pedih yang menimpaku. Bapak itu memberikanku uang bergambar proklamator negeri ini. Nampaknya dia iba.

Aku bersikeras tak mampu menerima uang pemberiannya, namun aku kalah setelah dia mengancam akan melaporkan ke polisi jika aku tak mau menerima uang pemberiannya. Uang merah berpindah tangan. Bapak itu tersenyum kemudian berkata

"Jangan tak enak hati, uang itu pinjaman kalau kau sudah sukses nanti tolong kembalikan." Dia tertawa dengan candaanya sendiri tapi tidak dengan aku. Kata-katanya cambuk sekaligus doa.

Puluhan tahun berselang, ternyata nasibku tak berubah masih saja sebagai pencuri.
Mencuri hati pelanggan agar membeli makanan daganganku. Lahang dan gorengan khas sunda beralih wujud dengan kemasan menarik. Ternyata tak semua kegiatan mencuri itu tercela, aku sekarang sudah menjadi pencuri positif. Jajanan khas Sunda buatanku sudah berkeliling dunia. Satu lagi terlupa, uang yang diberikannya sudah sejak lama dikembalikan. Tapi tetap saja bapak itu aku curi, kali ini mencuri hati anaknya. Iya aku adalah penerus usahanya sekaligus menantunya kini.

Reactions:

2 comments:

Ciani L said...

Kereeeen.... Tetep aja ihh endingnya...

Wiwid Nurwidayati said...

Hahaha...selalu aja kocak endingnya