Thursday, December 29, 2016

Pesan Mamah

Mamah pernah berkata, bahwa sebaik-baiknya lelaki bukan yang berotot raksasa. Bukan pula yang memakai dasi serta kemeja. Tapi lelaki yang mampu menghargai kaum hawa seperti menghargai ibunya.

Mamah pernah berkata, pantang bagi lelaki menyakiti kaum Hawa. Setiap manusia yang lahir ke dunia berkat perlindungan rahimnya. Begitu pula surga terletak di telapak kakinya. Menyakitinya sama hal menyakiti pencipta.

Mamah pernah berkata, jangan sakiti hati kaum Hawa sebab dia takkan mudah melupakan kesakitan yang engkau berikan. Hatinya sangat peka, di saat kau mencoba berdusta dia akan tahu sekalipun tak pernah melihatnya.

Mamah pernah berkata, jika kelak kau punya seorang istri. Jangan biarkan airmatanya jatuh ke pipi, karena itu merupakan simbol kegagalan seorang lelaki.

Wednesday, December 28, 2016

Goresan Hitam

Berbagai kisah mewarnai kehidupan manusia selama hidup di dunia, pencapaian luarbiasa hingga kisah kelam penuh darah pernah terjadi. Salah satu catatan hitam ialah Genosida.

Istilah genosida atau pembunuhan massal terus terjadi hingga kini.Tetangga Indonesia, Kamboja pada tahun 1975-1978 pernah menggoreskan kisah kelam genosida. Pelaku utamanya ialah Khmer merah, 2 juta jiwa melayang. Di benua Eropa tepatnya Jerman, pada tahun 1939-1945 dilakukan genosida oleh Nazi dengan puncak pimpinan Adolf Hilter, diperkiraan 11 juta Yahudi jadi korban atas kekejamannya.

Tak kalah sadis yang terjadi di Tiongkok, Revolusi budaya yang dipelopori Mao Zedong memangsa 45-70 juta nyawa. Peristiwa itu menjadi catatan kelam di tahun 1966-1976. Di tanah air, Indonesia. Seolah tak mau kalah mencatatkan peristiwa genosida dengan jumlah korban luarbiasa. Hampir setengah juta warga menjadi korban. Dugaan anggota PKI melatarbelakangi peristiwa ini.

Genosida tak lekang oleh zaman. Banyak yang menduga genosida tengah berlangsung di Korea utara kini. Di belahan bumi lain seperti Gaza dan Aleppo, tengah terjadi perang yang berujung pada kejadian serupa, pemusnahan massal manusia.

Perebutan kekuasaan, politik serta gesekan agama menjadi percikan api paling panas untuk menyulut genosida. Nyawa manusia ibarat sampah yang dengan mudahnya dikorbankan untuk mencapai tujuan tertentu. Kedamaian yang disuarakan sejak dulu hanya menjadi wacana dalam kepala.

Nafsu meniadakan sifat lahiriah manusia. Sejatinya hati nurani menjadi benteng paling kokoh untuk meniadakan alasan menyakiti oranglain. Namun kesalahan di masa lalu tak cukup ampuh untuk menekan nafsu membunuh. Kejadian pembunuhan sadis di Pulomas menjadi goresan lain bahwa ketika manusia kehilangan rasa sayang, ia mampu berubah menjadi sesuatu yang lebih kejam dari binatang.

Sunday, December 25, 2016

Kepingan Rasa

Orang-orang sedang sibuk dengan seragam putih abu disertai dasi dan topi berwarna senada. Mereka berkejaran dengan waktu, karena jika kalah adalah sebuah musibah. Sebelum lagu Indonesia raya berkumandang mereka berupaya sudah berbaris rapi menghadap sang merah putih.

Di saat yang sama aku masih berkutat dengan mimpi. Kata orang mimpi adalah awal kesuksesan. Tak ada salahnya berkutat lama-lama dengan mimpi.

"Gilaaaaaaaaang bangun. Kamu mau sekolah nggak ? " Seru perempuan yang menenteng sapu. Siap memukulku kapan saja.

Namaku Gilang, huruf "A"nya hanya satu tidak seperti yang mamahku ucapkan tadi. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Keluargaku cukup bahagia. Kenapa cukup ? karena yang berlebihan itu tidak baik. Mamah selalu berteriak setiap pagi. Hal itu sudah seperti siklus dalam hidupnya. Mamah selalu berkilah itu semua karena aku malas bangun untuk pergi sekolah.

Sejujurnya aku tidak malas sekolah. Hanya saja di sekolah tidak ada hal yang membuatku bersemangat kecuali bunyi bel istirahat dan pulang. Meskipun tidak bersemangat sekolah aku akan tetap memaksakan diri. Tak mau dikutuk sebagai anak durhaka yang menentang perintah orangtua. Tidak lucu juga kalau aku jadi cerita pengantar tidur untuk menakut-nakuti anak yang malas sekolah.

Dengan keadaan belum mandi, aku memaksakan diri pergi ke sekolah meskipun sudah tahu akan telat. Bukankah lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Di tengah perjalanan bertemu teman lama yang satu profesi dalam segi bolos-membolos. Dia nampak sedang mengobrol di sebuah warung yang secara tidak resmi menjadi tempat nongkrong anak-anak satu ideologi.

"Lang, kamu bolos juga ?"

"Engga dong. Aku baru mau pergi sekolah."

"Yang bener aja. Jam pelajaran kedua udah mulai. Kamu baru datang."

"Biar aja Jhon, lebih baik telat daripada tidak sama sekali. " Aku menampilkan senyuman terbaik kemudian dibalas dengan tatapan aneh dari Jhon.

Jhon adalah teman satu kelasku. Dia terkenal karena dua hal. Yang pertama karena badannya yang tinggi. Yang kedua atas prestasinya sebagai siswa paling sering dipanggil guru BP. Bahkan dia pernah dipanggil 3 kali sehari persis seperti makan obat. Oh yah, nama aslinya bukan Jhon tapi Asep Suparlan, nama khas sunda. Dia ingin dipanggil Jhon agar terlihat seperti keturunan bule. Sekalipun dari struktur wajahnya kurang mendukung.

Aku melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Baru beberapa langkah kaki, disebrang jalan aku melihat Romeo sedang berbincang dengan penjaga apotek. Aku mendekati sekadar menyapa.

"Hai Rom, kamu sedang apa di sini ? "

"Beli obat untuk ibu ?"

"Kamu ngga sekolah ? "

"Engga Lang, aku lagi jagain Ibu. Kamu ngga sekolah juga ? "

"Ini mau loh. Akukan rajin sekalipun telat."

"Ini bukan telat Lang tapi..." Tiba-tiba suara seorang perempuan penjaga apotek menyela.

"Jadi mau beli ngga nih obat ?"

"Mau teh, tapi uang saya kurang."

Aku langsung mengambil uang di saku dan memberikan kepada Romi lalu berkata

"Ambil aja kembaliannya Rom. Aku jalan kaki aja ke sekolah."

Romi mematung sembari tersenyum dan berucap terimakasih sambil berteriak

"Lang, uangnya masih kurang."

Romeo adalah sahabat baikku selain Jhon. Dia paling pintar diantara kami bertiga. Jika aku dan Jhon mendapatkan nilai 3 pada ulangan matematika maka Romeo selalu dapat lebih tinggi yaitu 3,5. Aku pernah bertanya kenapa namanya Romeo. Dia bercerita bahwa Ayahnya penggemar karya William Shakespeare. Ayahnya berharap dia menjadi sejantan Romeo yang akan melakukan apapun untuk orang yang dicinta. Nyatanya benar, Dia rela menggantikanku dihukum hormat bendera. Di saat aku pura-pura pingsan padahal melipir ke kantin jajan es kelapa. Romeo, kau lelaki jantan.

Beberapa menit berlalu akhirnya sampai di sekolah. Ratusan siswa nampak menenteng tas namun berjalan berlawanan arah denganku.

"Pak Satpam ini kok udah pada pulang lagi ?"

"Memang ini sudah waktunya pulang. Belajar hanya setengah hari. Guru-guru sedang rapat."

"Ah sayang sekali. Padahal aku sedang semangat sekolah."

"Semangat apa ? kamu datang di saat orang lain pulang."

"Yaudah aku ikut pulang deh."

"Budak lieur."

Aku memutuskan kembali ke rumah dan berharap esok akan menjadi hari yang menyenangkan di sekolah.

Wednesday, December 21, 2016

Ingkar

Kamu paling ahli menitipkan perih di hati. Ada sesaat lalu pergi tak mengenal kembali.
Cinta bukan seperti bola yang bisa dengan mudahnya kau tendang jauh, lalu dibiarkan sendiri berteman dengan segala bentuk sepi.

Jika Tuhan mengijikan kita berbagi rasa, tentu kau akan paham dengan luka yang ada. Sering kali aku memegang dada, memang tak ada darah. namun perih ini nyata bukan cerita fiksi yang kebanyakan berakhir bahagia.

Kau berhak memilih pergi jika sudah tak lagi nyaman denganku, tapi bukan seperti ini caranya. Kau hilang laksana senja, begitu tiba-tiba. Aku belum sempat menata hati, menyiapkan diri di saat engkau pergi.

Seharusnya kau tak memberikan harapan itu. Aku mengira rasa ini memiliki getaran yang sama. Kau nampak memberikan percikan cinta di setiap pertemuan kita. Hingga aku memberanikan diri untuk mengikat perasaan ini.

Aku tak pernah bermain-main dengan cinta. Bila di suatu hari menemukan gadis yang disuka, sepenuh hati akan menjadikannya seorang istri. Aku datang bersama kedua orangtua, berniat menjadikanmu bagian dari keluarga. Kau menganggukan kepala pertanda setuju dengan semua rencana kita.

Keluarga kita mencari tanggal paling baik menurut mereka. Tanggal itu kelak menjadi saksi sejarah dalam babak baru kisah kita. Kau juga tak kalah sibuk memilih desain undangan paling menarik untuk mengabarkan berita bahagia ke seluruh orang yang kita kenal.

Aku sempat bercanda,

"Apakah kau akan mengundang seluruh mantanmu ?"

"Tentu," Kau jawab dengan lugas sembari mengguratkan senyum.

"Tentu aku akan mengundang mereka. Agar mereka iri."

"Iri karena kau menikah dengan seorang pangeran tampan nan rupawan seperti aku kan ?"

Kau menjawab dengan cubitan pelan di pipi. Saat itu akan ingin sekali memerintahkan waktu untuk berhenti.

Apa daya semua hal yang telah kita rancang berakhir percuma. Dia membawamu pergi dan tak pernah bisa kembali. Kenapa kau tega pergi dengannya, di saat cintaku tumbuh begitu lebat. Kau mengkhianati segala rasa yang kupunya. Bukankah dulu kau pernah berjanji hanya mau menjadi istriku.

KINI KAU INGKAR !!!

Kau lebih patuh kepada maut. Aku diduakan oleh kematian. Sekarang hanya bisa mencium nisan yang bertuliskan namamu.








Memang hakmu untuk memilih pergi

Monday, December 19, 2016

Sudut Ketiga

Sekarang tepat pukul 12 malam. Tidur belum berani menyapa. Ia masih asik berkelana dalam khayalku. Sudah beberapa kali berusaha menghitung domba dalam lamunan namun tidur belum juga menjadi kenyataan. Mencoba cara yang lebih islami, dengan melantunkan ayat suci, tapi bayangan gadis berkacamata itu menari dalam setiap ayat yang kubaca. Ah, apakah aku positif gila ?

Aku masih membayangkan senyummu di saat menanti rintik hujan. Entah kenapa kau begitu ahli menyamar menjadi bidadari. Tawamu hadir ketika ku mencoba menjadi stand comedy amatir. Senyum itu ada ketika ku berkata

"Mungkin bidadari di langit sana akan iri jika melihat kita saat ini."

Segera kau bertanya kenapa

"Mereka iri melihatmu bersama pangeran tertampan di alam mimpi."

Cubitan brutal melayang di pipiku.


**

Dia sering memanggilku gadis berkacamata. Tentu aku tahu alasannya, dua lensa ini selalu menemaniku. Ia berfungsi untuk melihat sesuatu agar lebih jelas, termasuk melihat ketulusan cinta kamu dan dia. Setiap kali bertemu dengannya selalu ada gelak tawa. Andai dia ikut kompetisi standup comedy. Aku yakin dia akan jadi juara pertama, kalau pun tidak dia tetap urutan pertama yang mampu membuatku tertawa.

Dia seorang pria yang sangat percaya diri. Sering kali menyebut dirinya sendiri sebagai sosok pangeran alam mimpi. Dia merasa paling tampan di dalam mimpinya. Aku tertawa, langka bertemu sosok pria seperti dia. Suatu waktu aku menunggu hujan reda bersamanya. Dia bercerita banyak hal. Saat itu aku pertama kalinya berharap hujan jangan dulu reda. Apakah aku jatuh cinta ?
Sulit memastikan, ada sosok lain yang sudah ditentukan.

***

Dari kejauhan aku melihat seorang lelaki dan perempuan sedang berbincang-bincang. Mereka begitu asyik melempar tawa. Aku berada dalam dua rasa, sedih dan bahagia. Bahagia karena seseorang yang nantinya akan menjadi istriku sedang tertawa di seberang sana. Sedih karena tawa itu bukan berasal dari diriku. Aku menyimpulkan bahwa mereka nampaknya saling cinta. Jujur aku tak mau menjadi benteng penghalang cinta mereka. Tapi aku juga tak punya kekuatan untuk menahan segala kesakitan.

Haruskah aku memilih mengikhlaskan ?

Saturday, December 17, 2016

Mampukah Kita ?

Indonesia kini hampir sama dengan Portugal di piala Eropa 2016. Ronaldo Cs tertatih-tatih di penyisihan grup bahkan lolos babak selanjutnya hanya faktor perubahan sistem perbandingan. Setelahnya Portugal menggila hingga masuk final melawan tuan rumah Perancis. Perjuangan Portugal ditutup manis dengan gelar juara untuk pertama kalinya.

Sang garuda bernasib hampir serupa. Tampil kurang gairah di babak awal namun melesat hingga final. Kini Indonesia bertarung di kandang Thailand. Jika kerja keras tanpa kenal lelah dilakukan, bukan tak mungkin Indonesia menjelma Portugal.

Tuhan, semoga Engkau tak keberatan memberi hiburan untuk negaraku. Ditengah situasi politik tak menentu.

Friday, December 16, 2016

Rintik Kala Itu

Andai manusia mampu hentikan waktu
Aku berharap rintik itu abadi
Menunggu reda bersama
Berbagi segala jenis cerita

Saat itu kau tertawa
mendengar cerita paus raksasa
yang mampu terbang di angkasa

Aku kagum dengan ciptaan Tuhan berwujud kamu
Senyumnya saja mampu bertahan belasan bulan di kepala


Sayang rintik itu sudah reda
tawamu ditikam waktu
kita harus berpisah
berjalan ke masing-masing arah

Aku kembali menjalani hidup yang sepi

Thursday, December 15, 2016

Mahasiswa Di Bawah Garis Kejombloan

Sulit mendapatkan dia. Perlu usaha ekstra keras untuk meluluhkan hatinya. Wajar saja, dari segi fisik aku jauh dari rupawan. Kelebihanku cuma hidung yang aerodinamis hanya memerlukan sedikit udara untuk hidup, itu kata halus untuk menyatakan pesek.

Berbicara mengenai harta, sulit diungkapkan lewat kata-kata. Aku makan sehari dua kali dengan nasi setengah porsi + bumbu daging. Kenapa bumbu daging ? karena itu gratis. Hanya perlu menghilangkan rasa malu disertai sedikit mengiba kepada Ibu Warteg.

Mengena IPK, aku termasuk mahasiswa paling konsisten dengan Indeks prestasi di bawah dua koma. Seolah nilai A adalah kemustahilan bagiku. Tiada alasan bagi dia untuk menyukai diri ini sekalipun dengan bantuan pelet dukun tingkat internasional.

Perempuan yang kusuka mahasiswa berprestasi tingkat provinsi. Wajahnya membuat pria enggan mengedipkan mata. Anak tunggal dari pemilik perusahaan terkemuka. Berjiwa humanis tinggi. Idaman semua lelaki untuk dijadikan istri. Dia seperti sisi lain dari diriku.

Suatu hari entah keajaiban datang darimana. Dia menepuk pundakku yang sedari tadi tertidur selama perkuliahan.

"Lang, yuk pulang ? anak-anak udah pada cabut dari tadi,"

Aku tertegun. Apakah diri ini sudah mati lalu masuk surga. Kenapa ada bidadari di depanku.

"Apakah aku sudah mati ? ini surga ?" Sembari berteriak.

"Kamu bukan mati, dari tadi tidur. Ini masih di kelas Lang. "

"Masa sih, aku masih ngantuk deh."

"Jangan tidur terus ini udah sore. Mendingan anterin aku pulang. Nggak ada temen nih."

Serasa dapat undian lotre. Airin mengajak pulang bersama kepada seorang pria itu peristiwa langka. Pernah ada gosip, seorang anak penjabat eksekutif mengajaknya pulang memakai Lamborgini, dia menolak. Sekarang kembang kampus itu mengikhlaskan diri untuk menaiki motor butut. Saking tuanya motorku mungkin ia diproduksi oleh kerajaan Majapahit.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang berbagai hal. Berbicara panjang lebar dengannya aku dapat menyimpulkan bahwa di balik semua kelebihan yang dia punya, Airin termasuk gadis ramah dan enak diajak ngobrol. Di ujung pembicaraan Airin mengajakku bergabung dengan dia untuk mengerjakan proyek penelitian. Tentu aku terkejut, mahasiswa yang sebagian besar kuliahnya dihabiskan dengan tidur siang bekerja sama dengan mahasiswa cantik, pintar nan berprestasi.

Wajahnya yang teduh tak mungkin bisa aku tolak. Dengan segala kegilaan yang kupunya untuk berapa minggu kedepan aku dan Airin akan selalu bersama. Meneliti pengelolaan home industri di suatu desa. Selama penelitian itu Airin menunjukan kapasitasnya sebagai gadis cerdas. Dia mampu merangkul masyarakat yang masih buta tentang keilmuan wirausaha. Peranku di sana hanya sebagai asisten sekaligus tukang ojeg bagi Airin.

Tak hanya masyarakat yang mengerti dengan penjelasannya. Akupun sama. Dia mahir sekali menjelaskan konsep rumit dengan bahasa sederhana. Mataku yang terbiasa ngantuk ketika kuliah berubah 180 derajat. Aku mampu menangkap inti dari penelitian yang kami berdua lakukan.

Di hari terakhir penelitian, aku berencana 
menyatakan cinta kepada Airin. Memang ini ide gila namun tetap harus dicoba. Aku rasa Airin juga suka dengan aku. Dia tak pernah lupa mengingatkanku membaca buku dan belajar. Kata-kata manis itu cukup menjadi landasanku untuk mengungkapkan perasaan, siapa tahu berbalas.

"Airin, aku boleh bicara ?"

"Itu bukan udah bicara, Lang ?"

"Bukan bicara itu."

" Lalu bicara apa ? Kamu mau bicara bahasa hewan ? "

"Iya, petok petok. Eh kenapa aku jadi ayam."

"Haha kamu lucu Lang. Yaudah serius. Kamu mau bicara tentang apa ?"

"Langsung saja yah Airin. Sejujurnya aku suka kamu. Aku ingin nanti kamu jadi istriku. Aku janji rela bekerja 24 jam agar bedak dan segala kosmetik yang kamu gunakan mampu aku belikan. Aku janji akan buatmu bahagia."

"Lang, kalau boleh jujur aku juga suka kamu..."

"Beneran Airin."

"Benar Lang, suka melihat semangatmu dengan proyek ini. Seperti yang diminta wali dosen kita. Agar aku berusaha menumbuhkan semangat belajar kamu. Karena kalau semester ini IPKmu di bawah dua koma terpaksa harus drop out. Aku nggak tega."

"Airin cara kamu itu jahat. Kau berikan harapan begitu tinggi namun dijatuhkan ke dasar bumi. Airin aku mengundurkan diri dari proyek ini."

"Kamu mau kemana Lang ? "

"Mau pulanglah, eh tapi aku minta ongkos deh. nggak punya uang untuk bayar angkot."

Monday, December 12, 2016

Tenda Biru

Janur kuning tampak gagah berdiri. Ia lebih tegak dari anak paskibra yang sedang latihan upacara bendera. Entah sejak kapan simbol ikatan cinta itu berdiri. Sedari tadi aku tertidur, bermimpi makan satai kemudian ngantuk kekenyangan. Aku bermimpi tidur. Aneh memang. Seaneh janur kuning di depan rumahku.

Janur itu ada seperti tukang parkir di minimarket. Di saat memulai parkir tiada, kala pulang meminta dua lembar kertas pattimura. Zaman sekarang banyak hal gaib seperti itu termasuk dengan benda ajaib di depanku. Aku tak tahu siapa yang menikah, tak ada undangan, tak pemberitahuan. Yang ada hanya janur kuning dan tenda biru.

Tenda biru itu bukan tenda pramuka. Tak ada kemping di depan rumahku. Mana mungkin anak pramuka mau tidur di samping kandang ayam. Aku sempat curiga, tenda biru dan janur kuning di depan rumah ialah sabotase mamahku untuk memotivasi anaknya agar segera nikah.

Mamah paling hobby menyuruh nikah. normalnya seorang ibu di pagi hari akan menanyakan sudah sarapan atau belum. Tapi beda dengan mamah, dia akan bertanya mau nikah kapan ?
Mamah punya alasan semakin kamu menundah nikah semakin mahal biayanya apalagi nikah dengan hiburan dangdut itu mahal.

Aku mencari mamah di setiap sudut rumah. Di atas loteng tak ada, di dapur juga sama. Di bawah tempat tidur nihil. Di dalam lemari apalagi. Kemana mamah ? apakah dia pergi karena rasa malu anaknya belum nikah di usia kepala tiga. Aku merasa berdosa.
Ingat film zaman dulu yang berbicara azab tentang anak durhaka. Aku tak mau dikutuk jadi batu apalagi batu akik.

Ternyata mamah sedang bersembunyi di balik pintu. Dia ketakutan melihat film hantu yang seolah-olah akan keluar dari TV.

"Mah, tenang TVnya aku matikan. Jadi hantunya nggak mungkin muncul."

"Syukurlah Lang, mamah takut hantu itu mencekik."

"Yaelah Mah. Itu cuman bohongan."

"Tetap saja menakutkan."

"Eh, Mah di depan siapa sih yang nikah."

"Masa kamu nggak tahu, yang mau nikah mantanmu."

"Masa ? mantan yang mana ?"

"Sombong banget. mantan kamu kan cuma satu itupun dia khilaf ketika nerima. Itu Dewi. Dia nikah dengan pengusaha sapi."

Aku bergegas memakai baju terbaik. Tak lupa mengolesi rambut dengan gel. Kutatap kaca. Sudah cukup rapi. Setibanya di sana, Aku makan sepuasnya. Melepaskan segala bentuk kesal dengan melahap apapun. Setelah itu menyerahkan amplop berisikan tulisan dan selembar uang pattimura sisa parkir. Surat itu berisi kalimat :

"Selamat atas pernikahanmu. Tapi tolong undanglah aku. Jangan sampai hanya tenda biru yang memberitahu. Aku hanya lelaki yang ingin tahu kau bahagia. Jadi tolong rekam malam pertamamu. Biar aku menjadi saksi setiap kebahagianmu. Di amplop ini juga ada uang seribu. Sebagai upah kerelaanmu merekam. Jangan dinilai dari nominalnya. Setidaknya dengan uang itu kamu bisa bayar parkir ilegal di minimarket"

Thursday, December 8, 2016

Langit Mata

Sudah sejak lama kehilangan semangat untuk tidur. Mata lupa akan tugasnya untuk memejamkan kelopak. Ia terjaga sepanjang waktu, mengenang berbagai hal termasuk masa lalu.

Di kehidupan terdahulu aku menjelma menjadi pengagummu, terpana dengan segala pesona cantiknya. Seperti Isaac Newton yang dijejali rasa ingin tahu kenapa apel jatuh ke bawah, dari hal itu hukum Newton pertama lahir. Aku pun melahirkan hukum cinta. Semakin jauh darimu semakin besar gaya untuk merindu.

Mata masih terjaga. Ia tetap amnesia dengan tugasnya. Kali ini ia menerawang jauh ke masa yang lain. Saat itu aku menghubungi seseorang, bertanya tentang persiapan momen bahagia. Dia menjawab dengan semangat. Pernikahan kita hanya menunggu hitungan waktu.

Mata masih dengan keadaan yang sama. Kali ini di langit-langitnya jatuh bulir-bulir bening bernama airmata. Kembali menjelajahi masa lalu. Ucapan penghulu menyatakan aku dan dirinya sah sebagai pasangan baru. Rona bahagia terpancar di wajahmu. Saat itu aku ingin sekali menghentikan waktu agar bahagia kita abadi.

Hujan di langit-langit mata semakin deras. Ia terpacu kenangan memilukan. Aku ingat ketika memberikanmu bunga, namun engkau tak berkata apapun. Bunga itu aku berikan di tempat terakhirmu.

Wednesday, December 7, 2016

Salah Pesan

Sudah tiga tahun hubungan ini terjalin. Suka dan duka mewarnai, bahkan beberapa kejadian berakhir memilukan. Seperti saat itu, aku berniat memberikan kejutan dengan mengajaknya ke restoran mewah. Memesan makanan dengan nama yang sulit kuucapkan.

"Mba, aku pesan menu ini untuk dua porsi. Jangan terlalu banyak esnya," Pelayan itu melongok kemudian mengangguk pelan.

"Aa Gilang, pesan apa ?" Tanya seseorang perempuan berjilbab pink di sebelahku.

"Pesan es krim yang terbuat dari bahan terpilih, pokoknya seger deh."

"Kalau gitu aku suka banget A. Makasih yah udah ngajak ade ke tempat yang mewah banget gini," Sembari tersenyum.

"Apa sih yang engga buat Ade. Cinta selalu perlu pengorbanan De. Zaman dulu aja ada yang permintaannya buat candi. Ade sih enteng cuma pengen es,"

Dia tersipu malu ditandai dengan pipinya yang mulai memerah. Memang ini kali pertama aku dan dirinya makan di restoran mewah. Biasanya hanya di tukang siomay pinggir jalam. Aku berjuang keras menabung untuk saat itu.

"Ade, sebentar lagi esnya datang."

"Iya A. Ade udah ngga sabar makan es. Terakhir kali makan es batu campur susu."

"Eh, itu nggak keras De gigit es batu ?

"Engga A. Es batunya udah ade jemur biar lunak," Aku berpikir keras dengan kekasihku yang pemikirannya sedikit istimewa.

Makananpun datang. Dengan tata letak begitu mewah. Kekasihku sudah tak sabar dengan hidangan spesial. Sedetik kemudian dia buka. Tanpa kuduga dia berteriak histeris kemudian berlari.

"Kenapa sayang ? "

"Aa jahat," Dia berlari meninggalkan aku.

Kubuka hidangan itu. Tersaji beberapa keong dengan bentuk aneh.

"Mba, kok saya pesan es malah dikasih keong ?

"Dicatatan saya, Anda pesan Escargot untuk dua porsi, ini benar escargot."

"Escargot kok keong sih. Kirai es spesial gitu."

"Coba Anda buka google lalu cari escargot."

Benar saja yang muncul adalah keong. Beberapa menit kemudian masuk pesan singkat dari kekasihku.

"A2, Aqyu maoe ptuz Aj4 4h. A2 3m4n9 74h4t. M454 aqyu d'K4sih K3On9."