Thursday, December 8, 2016

Langit Mata

Sudah sejak lama kehilangan semangat untuk tidur. Mata lupa akan tugasnya untuk memejamkan kelopak. Ia terjaga sepanjang waktu, mengenang berbagai hal termasuk masa lalu.

Di kehidupan terdahulu aku menjelma menjadi pengagummu, terpana dengan segala pesona cantiknya. Seperti Isaac Newton yang dijejali rasa ingin tahu kenapa apel jatuh ke bawah, dari hal itu hukum Newton pertama lahir. Aku pun melahirkan hukum cinta. Semakin jauh darimu semakin besar gaya untuk merindu.

Mata masih terjaga. Ia tetap amnesia dengan tugasnya. Kali ini ia menerawang jauh ke masa yang lain. Saat itu aku menghubungi seseorang, bertanya tentang persiapan momen bahagia. Dia menjawab dengan semangat. Pernikahan kita hanya menunggu hitungan waktu.

Mata masih dengan keadaan yang sama. Kali ini di langit-langitnya jatuh bulir-bulir bening bernama airmata. Kembali menjelajahi masa lalu. Ucapan penghulu menyatakan aku dan dirinya sah sebagai pasangan baru. Rona bahagia terpancar di wajahmu. Saat itu aku ingin sekali menghentikan waktu agar bahagia kita abadi.

Hujan di langit-langit mata semakin deras. Ia terpacu kenangan memilukan. Aku ingat ketika memberikanmu bunga, namun engkau tak berkata apapun. Bunga itu aku berikan di tempat terakhirmu.

Reactions: