Sunday, December 31, 2017

Resolusi 2018 : Tumbuh Lebih Kuat Dari Sebelumnya.

Bagi saya 2017 adalah tahun yang luarbiasa, di tahun itu memperoleh gelar sarjana dan alhamdulillah bisa melanjutkan S2 meski dengan segala keraguan yang menyertai.

Pada 2017 entah kenapa saya keracunan menulis. Ratusan tulisan di Nychken.com, beberapa di koran, dan ada juga beberapa buku bahkan Novel "Menuntaskan Rindu" mengantarkan saya untuk mengisi materi di berbagai tempat. Alhamdulillah, bisa sering makan nasi padang.

Ada juga momen pahit di tahun ini, rugi jutaan dari bisnis hingga lemes banget, dan yang paling menyakitkan adalah kisah tentang patah. Iya tahun ini patah hati terhebat saya rasakan. Terkesan lebay sih tapi beneran loh, dada terasa bolong.

Kisah pahit di tahun 2017 adalah cara agar saya tumbuh lebih kuat di tahun 2018. Alhamdulillah, terimakasih untuk tahun ini.

Saturday, December 30, 2017

Gadis Berkacamata

Duhai gadis berkacamata
rasaku lebih dari sekadar suka
tapi sayang ada seseorang yang lebih dahulu menggenggam tanganmu
lalu mengganti kacamatamu dengan softlans berwarna biru
yang jelas di dalamnya tidak ada lagi aku.

Friday, December 22, 2017

Menantu Untuk Mamah

Akhir-akhir ini mamah sering membahas tentang pernikahan, dari bahas anak tetangga hingga rencana pernikahan anaknya. Aku sadar itu secara tidak langsung bentuk sindiran. Mungkin beliau khawatir anaknya punya kelainan. Tenang Mah aku bukan LGBT (Amit-amit). Wajar saja sih kalau mamah khawatir dari brojol hinga sekarang yang sudah menginjak usia 20-an belum pernah sekalipun memperkenalkan seorang perempuan secara langsung kepadanya.

Pernah sih cerita naksir perempuan A,B,C tapi satu pun belum dipertemukan dengannya. Susah Mah, pernah sih ada yang tinggal di hati tapi dia pergi tak kembali 😂.

Walhasil untuk meredakan kekecewaan mamah dihadiahkanlah sebuah cincin. Cincin ini bukan pengganti kasih sayang hanya sekadar simbol rasa terimakasih seorang anak bandel.



"Mah, permintaan menantu dipending dulu yah ? sampai waktu yang belum ditentukan."

Friday, December 15, 2017

Download Mantu

Hari ini seketika aku sangat bahagia, di saat Uncle Achmad Ikhtiar membagikan undangan pernikahan digital dengan Kak Adriana. Meskipun bahagia aku hadir dalam keadaan baper parah. Cinta bagi mereka sangat sederhana, sekadar suka, cocok, lamar, dan menikah. Terlepas dari jauhnya jarak Jakarta dan Pontianak. Terlepas dari tak pernah bertatap mata di dunia nyata.

Mendadak aku menjadi seorang pria pecundang, memikirkan A-Z untuk melegalkan hubungan.

Aku masih sangat ingat, cinta mereka bersemi "hanya" dengan perantara grup WA komunitas menulis One Day One Post.

Hampir setiap hari aku menulis, tetapi tetap saja kalah oleh dua penulis keren yang akan segera menerbitkan buku nikah.

Sekali lagi bagi mereka cinta sangat sederhana sekadar beli cincin dan pasang dijarinya.

Selamat dua penulis panutanku 😉😉😉.
Doakan segera agar aku bisa menulis buku nikah yang diterbitkan KUA 😂😂.

Tuesday, December 5, 2017

Cinta di akhir senja

Ada hal yang menarik dalam kuliah kebahasaan tadi pagi. Bukan melulu belajar kaidah kebahasaan, kami belajar cinta. Asyik benar mata kuliah ini terutama bagi saya yang konsisten menyandang gelar tunaasmara.

Bermula dari dosen saya. Eh ini bukan inisial. Beliau bercerita tentang seorang Profesor yang jatuh cinta (kembali) ke mantannya yang sama-sama berada di usia senja. Cinta mereka bersemi lagi di saat sang mantan sudah sendiri (Suaminya meninggal). Sang profesor berniat menikahi mantannya, sayang dia kalah start oleh istri, anak, dan cucunya. Mereka lebih dahulu datang ke rumah sang mantan untuk menggagalkan pernikahannya.

Entah kenapa saya mendadak merasakan sensasi ditusuk-tusuk dada. Cinta yang disembunyikan selama puluhan tahun akhirnya kandas di tangan orang yang juga dicintainya (Istrinya).

Kegalauan mendera sang profesor selama berbulan-bulan. Tak ada yang logis bagi cinta, orang dengan tingkat intelektul tinggi dibuat terpuruk dalam kubangan patah hati.

Memang cinta laksana merajut benang, sekali terikat sulit dilepaskan. Kalau pun putus, rajutan masa lalu tetap ada. Cinta sang Profesor sudah berjarak puluhan tahun, tetapi tetap abdi sekalipun usia mereka sudah sama-sama senja.

Saya memang masih hijau dalam urusan cinta, hanya beberapa kali patah dan ditinggal nikah 😂😂. Mudah-mudah cerita ini ada dalam soal UAS. Niscaya saya sangat lancar mengisinya.

NB: Foto di bawah ini sekadar untuk melancarkan mual Anda.

Tuesday, November 28, 2017

Dari Menjual Buku Hingga Jualan Yang Tak Kasat Mata

Saya membaca sebuah artikel yang menakutkan, terutama untuk generasi muda usia 17 hingga 25 tahun. "90 % anak muda 10 tahun ke depan akan jadi gembel" Kurang lebih begitulah judul artikel yang saya baca. Gembel di sini memiliki arti sebagai tunaasmara, eh bukan deh tapi tunawisma. Prediksi yang menyakitkan, tetapi kalau dipikir-pikir benar juga. Sekarang harga rumah sederhana di daerah pedesaan sudah menyentuh 200 juta lebih sedangkan gaji UMR tertinggi sekitar Rp. 3.648.035 (Propinsi Jakarta).

Diasumsikan dengan gaji 3,6 juta/ bulan perlu berapa bulan untuk mencapai 200 juta ? bentar saya ambil kalkulator dulu. Taraaa untuk mencapai 200 juta perlu 56 bulan atau sekitar 4,5 tahun dengan catatan tanpa pengeluaran sedikitpun, bolehlah sebulan sekali makan micin 😂, eh itu belum termasuk inflasi selama 4,5 tahun mendatang 😭. Mendadak pusing, ngga biasa ngitung 😞

Lalu apa yang harus kita lakukan ? kalau kalian memiliki orang super kaya sih tenang saja. Minta rumah ibarat minta permen, dikasih sampai kenyang. Kalau kalian senasib dengan saya, hanyalah pemuda biasa pengendara roda dua, tetapi InsyaAllah tidak mendua 😂 bagaimana nasibnya ? ada beberapa cara

Pertama, ikutilah sebanyak mungkin kuis yang berhadiah rumah. Siapa tahu beruntung kalau tidak pernah menang, turut berduka cita berarti kalian tidak cocok kerja di air 😂. Ikutilah cara kedua.

Kedua, cocok sekali untuk berwajah tampan dan cantik. Menikahlah dengan orang kaya, dan otomatis kalian jadi kaya 😂😂 . Jika kalian memiliki wajah orangtua biasa aja seperti saya, lupakan cara ini 😂.

Ketiga, bisnis apapun selagi itu halal. Jujur saya tidak memiliki keahlian bisnis. Dulu sifat saya pemalu dan sekarang memalukan 😂. Jangankan bertemu orang, dekat dengan perempuan aja gemetar. Semenjak jualan Novel "Menuntaskan Rindu" skill bisnis sedikit terasah. Tidak malu lagi menawarkan dagangan bahkan pernah menunggu berjam-jam sambil hujan-hujan hanya untuk mencari untung 10-15 rb dari jualan novel.

Sekarang saya mencoba mendalami digital marketing, jualan sesuatu yang tak kasat mata. Jualan pulsa, token listik, tiket pesawat, dan jual-beli cryptocurrency atau apapun yang bisa dijual kecuali janji manis 😃. Sesekali masih menulis juga di web pribadi Nychken.com sebagai pelampiasan kalau rugi 😂.

Semoga kelak saya tidak menjadi penghuni pondok mertua indah kalau terpaksa menghuni cukup sebentar saja. Tujuan di dunia memang bukan untuk kaya, tetapi kemiskinan sangat dekat sekali dengan kekufuran.

Thursday, November 16, 2017

Jangan Kerja Keras

Zaman dulu kala kalau ingin sukses sebagian besar diberi nasihat "Kamu harus kerja keras agar jadi orang," waait berarti sekarang saya masih setengah orang, makhluk halus dong. Memang sih saya makhluk berhati halus *Pasang kaca mata*

Tidak dipungkiri di zaman now kadar kesuksesan seseorang diukur dari materi, seberapa banyak punya uang, mobil, dan rumah.
Sebenarnya definisi sukses ialah keberhasilan seseorang dalam meraih cita-citanya. Kalau merujuk ke definisi tersebut saya belumlah sukses karena cita-cita saya ingin menjadi penjual keripik, eh tahunya malah menjelma penjual kegalauan 😂.

Baiklah kita sepakati saja bahwa kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dipunya, meski bukan hanya itu saja sebenarnya. Lalu di zaman now kesuksesan harus diraih dengan kerja keras ? tidak sepenuhnya. Banyak orang yang sudah bekerja keras toh hanya begitu-begitu saja.
Ada yang kerja dari subuh hingga subuh lagi tapi hanya cukup untuk makan ? Ada bahkan untuk makan saja tidak cukup. Ada pula yang "hanya" memandangi layar bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan.

Sesungguhnya di zaman now kerja keras saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, melihat celah peluang usaha atau kerja pintar adalah keterampilan yang harus dimiliki agar hidup tidak hanya dihabiskan untuk mencari makan.

Tuesday, November 14, 2017

Purna

Selesai sudah tugas mengajar di sekolah tempat saya mengabdikan diri selama 3,5 tahun ini. Tentu ada haru dan pilu menyelinap kemudian ia menjelma air mata.

Sekuat tenaga saya berusaha tidak menangis, tetapi entah kenapa tangisan puluhan siswa seakan menular. Haru pecah dan akhirnya saya ingkar kepada janji seorang lelaki yang pantang mengeluarkan air mata.

Saya berkali-kali patah hati namun tak ada yang sepilu ini. Kita dipisahkan keadaan yang menuntut untuk tak bisa lagi belajar bersama.

Tetiba ada beberapa siswa yang yang selama 2 tahun diwali kelasi oleh saya.
Mereka minta berfoto untuk terakhir kalinya sebagai siswa. Memasang topeng bahagia diiring senyum padahal beberapa menit yang lalu kami sama-sama berduka.


Di akhir beberapa siswi mendadak memeluk, entah saya harus bahagia atau berduka ?

Monday, November 13, 2017

Engkau Adalah Puisi

Haloooooo semua. Rasanya sudah lama tidak bersua, dari saya belum menikah hingga sekarang masih belum menikah juga (?)

Selama rehat menulis di blog sebenarnya saya tetap menulis kok, paling tidak menulis di dinding WC umum. Tahu sendirikan dinding WC banyak memuat kata-kata bijak penuh makna. Siapa yang menulisnya ? tentu bukan saya, soalnya belum mencoba bawa alat tulis ke WC.

Maafkan saya jika baru menulis sudah membahas WC. Sebenarnya mau membahas sesuatu yang berat dan berbobot seperti batu misalnya, tetapi takut ghibah bahkan fitnah karena sebenarnya batu tidak bersalah.

Duh semakin ngawur saja tulisan saya. Efek dari semakin berat beban hidup. Berbicara beban selama saya rehat menulis "alay" seperti ini, kok beban hidup makin berat 😂😂. Butuh pelampiasan untuk mengeluarkan tumpukan beban di kepala.

Selama rehat menulis di blog, saya merasa tak sebebas dulu. Menulis di koran harus terpaku kepada gaya selingkung dan tema perminggunya. Menulis jurnal harus benar dalam sitasi sekaligus berlandaskan keilmuan.

Tak ada yang lebih enak dari menulis di blog. Seaneh apapun tulisan saya ini tetap bisa terbit. Salah satu keanehan dalam tulisan ini adalah judul dan isi tulisan jauh berbeda. Tak apalah saya ingin menerapkan teori sastra postmo, menobrak kaidah kebahasaan 😂😂.

Bingung dengan tulisan ini ? berarti kita sama.

Saturday, November 4, 2017

Wisuda 😂😂

Aku tipe orang yang tak suka ribet dengan acara wisuda. Awalnya mau datang sendirian saja biar gampang pulangnya sekaligus tidak menambah kemacetan jalan, Sudah jadi rahasia umum yang diwisudanya seorang, pendampingnya dua mobil 😂.

Tak diduga ternyata harus bawa pendamping wisuda, alasannya terpilih jadi lulusan dengan aktivitas terbaik padahal aktivitas yang paling sering aku lakukan ialah makan dan tidur 😂😂.

Akhirnya aku datang bersama adik. Eh lumayan bisa memanfaatkan dia sebagai tukang foto.

Ternyata enak juga hadir di acara wisuda, selain berhak mendapatkan snack, ada juga hadiah "Feminim" dari beberapa teman.

Kata mereka hadiah-hadiah itu ada filosofinya.

Botol minum agar irit dan sisa uangnya bisa ditabung di celengan hello kitty buat modal nikah (disimbolkan dengan bunga dan karakter perempuan berhijab) setelahnya hidup bahagia seperti beruang madu yang montok itu.

Saturday, September 23, 2017

Tak Peduli Dimuat atau Tidak

Ketika di kampus ada teman yang membawa koran, kebetulan saat itu mata kuliah analisis wacana kritis. Mahasiswa ditugaskan untuk menggali makna di balik kata dengan pisau bedah analisis wacana. Objek kajiannya diharuskan dari media cetak agar teruji kebenarannya. Sekalipun tak semua koran memberitakan hal yang benar 😂😂

Kali ini aku tidak akan menulis tentang mata kuliah itu karena sudah kenyang di kampus. Aku lebih terfokus pada satu halaman koran yang membutuhkan sebuah tulisan opini terkait pengedaran obat-obatan PCC. Nah, tentu aku tertarik menulis di koran lagi. Dulu banget tulisanku pernah dimuat juga, mungkin redakturnya aga pusing jadilah tulisan alay itu masuk 😂😂.

Walhasil setelah pulang kuliah, aku cari referensi terkait obat PCC. Mikir bentar lalu nulis. Tanpa diedit terlalu lama karena otak telah kelelahan dengan agenda kuliah pasca yang membuat pegel badan dan kepala, terutama soal jarak yang lumayan jauh. Eh jangan ngeluh 😃.

Dimuat atau tidak yang penting aku sudah berusaha. Kalau sampai dimuat mungkin redakturnya aga pusing untuk kali kedua. Maafkan aku redaktur 😂😂.

Friday, September 22, 2017

Kenangan Tentang Patah

Perjalanan pulang dari kampus ke rumah aku nikmati dengan menyumpal telinga, lalu diri ini tenggelam dalam lagu cinta yang mendayu-dayu. Setidaknya itu menjadi obat kejenuhan berkendara sekaligus pereda hati yang tergores luka.

Bagiku September adalah bulan penguji, perihal ketabahan hati. Berkali-kali aku mengusap dada, usapan pertama disebabkan Raisa. Dia tega mengirimkan undangan pernikahan tanpa nama. Wajar saat itu hari patah hati nasional ditetapkan karena ribuan pria kompak merasakan duka, termasuk aku di dalamnya.

Tak butuh waktu lama, aku kembali mengusap dada, dosen yang aku kagumi karena kelembutan dan tutur kata yang menyejukan telah menikah. Aku tak tahu harus bahagia atau kecewa, yang jelas saat itu sedikit susah bernapas 😂😂.

Nampaknya dada ini harus tergores lagi, tokoh utama dalam diary ketika SMP tetiba mengunggah foto pernikahan. Seperti makan nasi padang yang kebanyakan sambal, tubuh mendadak gerah.

Patah mengajarkan agar aku tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Setidaknya dengan patah aku bisa menulis lebih panjang. Terbukti sudah teori Gusdur yang berbunyi

"Kamu belum pernah disakiti perempuan. Pantas tulisanmu jelek,"

Tetapi untung saja Gusdur belum berkata

"Obat terbaik patah hati ialah menikah" Bisa mendadak terbawa perasaan.

Thursday, September 21, 2017

Aku Bingung

Andai saja aku menghitung sudah berapa kali resepsi yang telah kuhadiri
Jari-jariku takkan pernah cukup

Aku bingung ini adalah sebuah kebahagiaan
atau rentetan berita menyesakan
mataku sudah ahli dalam urusan melihat foto pernikahan yang dengan sopannya hadir di beranda Facebookku

Entah aku yang terlampau lambat atau mereka yang bergerak terlalu cepat

Harus diakui dalam urusan cinta
diri ini kurang berprestasi

Tuesday, September 19, 2017

Membeli Rindu

Sekoper uang sudah kubawa
niatnya untuk membeli sesuatu yang istimewa

Pintu minimarket yang katanya menjadi penggerus warung-warung kecil kumasuki
Seorang perempuan dengan senyuman yang dipaksakan mengucapkan selamat pagi

"Mba aku mau beli rindu "

"Kami tidak menjual rindu Mas, mohon maaf"

Lalu uang ini untuk apa ?

Sunday, September 17, 2017

Modal Nekat

Jujur saja aku sangat kesusahan menulis dengan genre non fiksi. Seakan pikiran liarku dikerangkeng dengan berbagai aturan yang membatasi. Seseorang dengan obsesi di luar normal, berharap bisa jualan nasi padang di Planet Mars "dipaksa" berpikir normal.

Zaman dahulu kala, eh baru beberapa bulan deh. Ketika menuntaskan skirpsi perlu perjuangan ekstra, di sana kebebasanku berimajinasi dibatasi. Aku tak bisa menuliskan pendapat Mang Odoy tentang arti pendidikan

"Ken, sekolah itu seperti main kelereng harus punya target. Jangan pergi ke sekolah hanya untuk jajan gorengan lima tapi ngaku satu,"

Tentu tulisan di atas tidak bisa aku masukan dalam skripsi. Mang Odoy belum pernah menulis buku apalagi jurnal, dia penulis bersahaja, menulis hanya di kamar mandi perempuan.

Berangkat dari kelemahanku menulis non fiksi akhirnya aku nekat untuk ditempa di kelas menulis non fiksi yang diselenggarakan ODOP, sebuah komunitas yang memiliki visi agar tiap hari anggotanya membiasakan diri menulis.

Tiga bulan di tempa di sana akhirnya aku memeroleh ijazah lulus. Sempat terlintas bahwa tak pantas mendapatkan sertifikat ini, wong aku hanya menyelesaikan 70% tugas dari keseluruhan tugas. Ini tak terlepas dari kebaikan admin 😂😂

Aku merasa mulai nyaman menulis non fiksi meski belum senyaman duduk berdua dengan Raisa, ah dia istri orang (Kenapa jadi bahas ini) sekalipun begitu aku masih merasa hijau dalam menulis non fiksi, masih perlu ditempa. Mungkin aku harus berguru kepada Kera Sakti, siapa tahu dia beralih profesi jadi menulis artikel.

Fiksi dan non fiksi adalah seni menyampaikan pesan. Keduanya sama saja hanya dibungkus dengan bentuk yang sedikit berbeda. Tak ada alasan untuk menghindari tulisan non fiksi.

Ajari Aku Jadi Maung

Ada hal menarik yang disampaikan dosen tadi siang
"Orang Sunda harus jadi maung," seketika pikiranku menjelajah, membayangkan diri ini menjadi sesosok macan tambun nan lucu. Baru sedetik dibayangkan, rasanya aku tak cocok jadi maung, terlalu berisi dan ditakutkan nanti tidak bisa mengejar mangsa.

Belajar dari kucingku di rumah yang tubuhnya berisi. Ia sulit untuk sekadar gerak, bahkan ketika tikus berada di depannya, ia acuh. Kucing itu terlalu dimanja, ia anti makan asin. Kalau saja kucingku diberi kemampuan berbicara pasti sudah pakai bahasa Inggris karena hanya mau makan roti.

Di tengah pikiran liarku yang membayangkan jadi maung, ternyata maung yang dimaksud tidak seperti yang dibayangkan padahal baru saja aku mau beli biskuat agar bisa jadi macan.
Maung itu adalah sebuah akronim, Maung = manusia unggul. Seorang maung harus siap ditempakan di mana saja, ia akan tumbuh di setiap tanah yang dipijaknya.

Orang Sunda memang harus jadi maung, hilangkan streotip "Orang Sunda jago kandang, tidak kuat untuk merantau jauh," Sterotip itu tidak sepenuhnya benar, tidak juga sepenuhnya salah. Paling tidak berlaku bagiku. Ketika aku izin untuk ikut program SM3T (Program sarjana mengajar di pedalaman) ke mamah. Mamah bilang "Kalau bisa mah Ken SM3Tnya di Bandung." Aku terdiam berpikir "Ah gagal nih jadi maung". Mamah berucap lagi "Emang kamu kuat ke pedalaman, naik angkot juga muntah."

Sebelum jadi maung, aku harus belajar naik angkot agar tidak muntah ketika naik kendaraan 😂😂.

Friday, September 15, 2017

Kenapa Kuliah Lagi ?

Ada beberapa teman yang bertanya "Nggak cape Ken baru lulus langsung kuliah lagi ?"
"Lebih cape ditanya kapan nikah daripada kuliah," aku jawab sembari nyengir kuda tapi bukan kuda lumping karena aku belum bisa makan beling.

Sebenarnya cape sih apalagi jika dihadapkan dengan biaya. Sejak lulus SMA beasiswa dari orangtua semakin menepis hingga sekarang yang tersisa hanya subsidi makan, ah setidaknya orangtuaku lebih baik dari pemerintah yang perlahan meniadakan semua.., nggak dilanjut ah takut ditahan 😂.

Ada dua alasan kenapa aku nekad memutuskan kuliah lagi sekalipun banyak sekali keterbatasan. Pertama, ingin keluar dari zona nyaman. Sejak merampungkan skripsi, kreatifitas mendadak terhenti. Otak lebih sering berkutat dengan sesuatu tak penting, misalkan mengingat mantan yang beramai-ramai menikah seperti Raisa dan Claudya Chintya Bella 😂.

Beda hal dengan sekarang, ide berbisnis muncul bahkan aku mencari juru tempa yang bisa mengajarkan diri menjadi wirausahawan muda.
Setali tiga uang, ide menulis berkeliaran dikepala meminta untuk segera diabadikan dalam bentuk buku.

"Seseorang dikatakan sukses jika sudah melampaui Bapaknya," kata tersebut terlontar 12 tahun lalu dari seorang pembina upacara sekaligus Bapakku sendiri, dan ucapan tersebut menjadi alasan kedua. Secara ukuran badan, sudah masuk kriteria. Aku lebih berat beberapa Kilogram darinya sekarang 😂😂. Dulu bapak bercita-cita melanjutkan ke S2, tetapi karena faktor kesehatannya yang semakin menurun, mimpi itu kandas. Sekarang tugasku menyelesaikan mimpinya.

Seseorang harus dikejar mantan agar bisa melompat lebih tinggi dari pagar, eh dikejar anjing deh. Aku juga harus melompat lebih tinggi, tidak mau tenggelam dalam zona nyaman.

Friday, September 8, 2017

Susahnya Hidup Dari Karya

Sering kali ada yang bertanya "Ken kerjaan kamu apa ?" butuh beberapa detik untuk menjawab, soalnya berbagai pekerjaan aku lakukan demi modal nikah, eh koreksi deh. Demi modal kuliah dan nikah juga 😂😂.

Saat ini pekerjaanku sebatas guru, penjual pulsa, dan juru ketik sekaligus sales novel "Menuntaskan Rindu." Semua pekerjaan yang aku lakukan menuntut kesabaran tingkat tinggi.

Menjadi seorang guru harus rajin puasa, terutama guru honorer. Gaji yang sangat sedikit dibayar dengan tempo tak menentu, bisa 1,3 bahkan hingga 6 bulan sekali. Bayangkan seberapa tinggi tingkat kesabaran guru honorer. Lebih sabar dari mantan yang ditinggal nikah 😭.

Tak beda jauh dengan penjual pulsa, Di saat modal yang sedikit harus ditimpa dengan deretan orang yang tega mengutang. Syukur-syukur kalau dibayar, tak jarang ada yang mengutang tapi pura-pura amnesia ketika membayar. Hayoo siapaa 😂😂 ?

Terakhir, yang paling menuntut kesabaran adalah pekerjaan sebagai penulis yang merangkap sebagai sales. Sering sekali novel "Menuntaskan Rindu" yang aku tulis dengan mengorbankan waktu tidur, diminta dengan gratis. Kertas, tinta, waktu bahkan idenya nggak gratis loh. Belum lagi banyaknya "Pemberi harapan palsu" awalnya memesan, eh pas jadi tak ada kabar. Sakit hati loh jadi korban harapan palsu apalagi harapan yang dikandaskan 😭.

Bagiku yang masih juru ketik amatir, jualan karya apalagi yang berwujud buku sangat sulit. Jauh lebih mudah jualan pulsa, ah aku lupa di negaraku tercinta lebih butuh pulsa untuk paket internet daripada buku. Jadi ingat sebuat Quote

"Negara maju terlihat dari seberapa besar warganya mencintai buku"

Andai saja buku selaris nasi padang, tentu takkan ada penulis yang susah cari makan dari karyanya.

Thursday, September 7, 2017

Akad

Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa

Itulah lirik lagu "Akad" yang sering aku putar selama seminggu ini. Lagu itu membawaku terbang ke dunia khayal, seolah sedang melamar seorang gadis berbaju putih, tentu dengan punggung yang tidak bolong.

Aku mengucapkan "Saya terima nikahnya" dengan satu tarikan napas, sayang itu hanya bayangan. Buktinya aku masih betah dalam sekoci mengarungi samudra kehidupan sendirian.

Berbicara samudra, kata mamah menikah itu ibarat berlayar berdua, eh ada yang berlima juga, Istrinya empat 😂 . Tentu akan ada ombak bahkan badai yang menerpa, kerjasama adalah kunci agar kapal tetap berlayar. lain hal ketika sesama "kru" berbeda tujuan, kapal akan koyak dan mereka kembali memakai sekoci dengan arah yang berbeda.

Nikah tidak cukup dengan ucapan "sayang" dan panggilan "Ayah, Bunda" Nikah itu perlu kesiapan, komitmen dan dana. Ah jadi ingat sebuah peribahasa bijak yang berbunyi "Nikah itu mahal apalagi pakai dangdut" pakai rendang dan gulai kambing juga deh biar kenyang. 😂😂

Sunday, September 3, 2017

Korban Patah Hati

Aku berkali-kali terluka, luka saat terjatuh dari pohon rambutan, luka saat memijit jerawat hingga luka karena kecelakaan, tetapi tak ada luka yang lebih dalam selain ketika namamu disebut oleh Hamish Daud dalam Akad.


Dalam foto ini engkau menatap lelaki yang sudah menjadi suamimu dengan rona bahagia.  Di sudut lain dunia, ada aku yang sedang mengusap dada karena didera luka tak kasat mata.

Oh Raisa, engkau memang Srikandi paling hebat. Hanya butuh beberapa detik saja untuk melepaskan panah, menghujam jutaan hati pria hingga patah.

Maafkan aku yang tak datang ke pernikahanmu, Raisa. Bukan tak kuat menahan kesakitan. Aku hanya trauma dengan peristiwa, memilih rendang  paling besar tapi ternyata itu jahe.

Selamat berbahagia Raisa, semoga engkau nyaman dengan pria selain aku. Kalau tidak, bukankah kau masih menyimpan nomor HPku.

Nychken Gilang, korban patah hati.

Monday, August 28, 2017

Proyektor Murah, Kualitas Mewah.

Unic Uc 46 ialah proyektor buatan orang Padang, eh salah itu mah Uni. Unic, sebuah proyektor made in China yang hampir setahun menemani saya dalam mengarungi dunia perfilman.

Tampilan sederhana namun tidak terkesan norak melekat dalam dirinya. Warna hitam dove hampir menghiasi seluruh badannya menambah kesan unik seperti namanya.

Secara spesifikasi Unic membawa lampu LED dengan kekuatan 1200 lumens, lumens itu semacam satuan cahaya, semakin besar lumensnya semakin jelas pula gambar yang ditampilkan.

Selain itu Unic membawa konektivitas berupa usb 2.0 yang berarti dapat memutar film melalui flashdisk, tak hanya itu di dalamnya sudah tersedia speaker bawaan. Kita tidak diharuskan membeli speaker tambahan.

Kekuatan Unic yang paling utama terletak pada kemampuan menghubungkan proyektor dengan smartphone sehingga tidak perlu repot-repot menyambungkan ke laptop untuk sekadar menonton film, plusnya lagi kita tidak perlu berkutat dengan kabel tinggal nyalakan wifi dan setting sesuai buku petunjuk, taraaa kita telah memiliki TV sebesar 70 inc lebih.

Tak ada gading yang tak martin, maksudnya retak. Unic Uc 46 memiliki kekurangan yaitu suara kipas yang terkadang terlalu bising serta kualitas speaker bawaan yang cenderung seadanya, akan tetapi hal itu bisa diatasi dengan menyambungkan speaker yang lebih berkualitas. Hal yang perlu diperhatikan Unic kurang cocok dijadikan proyektor untuk presentasi, tetapi sangat cocok jika sekadar dijadikan bioskop mini di rumah.

Masalah harga menjadi bagian yang kita tunggu. Di toko online Unic Uc 46 bisa ditebus dengan harga kisaran 1 juta rupiah, dulu saya membelinya sekitar 800 rb kebetulan ada diskon haha. Jika dibandingkan dengan merk lain, secara spesifikasi Unic Uc 46 layak unik dimiliki.

Lulus Kuliah Langsung PNS ?

Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tanpa ada cinta di hati, eh jadi baper begini. Tetiba teman saya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu menyapa dengan ungkapan tak biasa.

"Ken udah daftar PNS ?"

Entah sejak kapan ungkapan salam berubah menjadi pertanyaan mainstream. Topik daftar PNS menggeser pertanyaan sakral semacam "Kapan nikah ?"

Tak perlu waktu lama, saya segera menjawab pertanyaan itu.

"Belum Bro" Sedetik kemudian pesan yang saya ketik berbalas.

"Kenapa Bro ?"

"Nggak minat jadi PNS, maunya jadi Astronot," tentu jawaban yang saya tulis ini sekadar fiksi, jawaban sebenarnya lebih diplomatis.

Sudah sejak lama saya berpikir kenapa banyak orang ingin menjadi PNS, bahkan rela menukar puluhan juta agar anaknya menyandang status pegawai negara. Seolah menjadi PNS adalah tiket satu-satunya untuk menjadi orang kaya.

Ayah saya sudah hampir 30 tahun menyandang status abdi negara lalu apakah beliau sudah sekaya Raffi Ahmad ? dan saya sudah selucu Rafatar ? Jawabannya tentu belum. Bahkan sebelum ada program sertifikasi guru, saya harus menabung berminggu-minggu untuk sekadar membeli LKS seharga 10 rb.

Memang setelah ada program sertifikasi guru kesejahteraan keluarga saya sedikit meningkat tetapi belum cukup untuk makan nasi padang setiap minggu, setidaknya makan daging tidak harus menunggu Idul Adha.

"Lalu kamu mau nggak jadi PNS ?" tentu mau haha tapi tidak dengan menyogok puluhan juta. Lebih baik uang puluhan juta untuk modal jualan bubur, siapa tahu bisa naik haji seperti judul sinetron.

Wednesday, August 23, 2017

Menulis dan Bitcoin

Hampir sebulan tidak melatih jari untuk menulis, dan efeknya mulai terasa pegal serta hilangnya sentuhan menulis yang dulu sempat membara.

Layaknya seorang ksatria yang diusir dari kerajaan karena mencuri jemuran. Aku juga terusir dari aktifitas menulis, bukan karena mencuri jemuran, aku tak sehina itu. Kalau bajunya bagus sih boleh dipertimbangkan #eh. Aktifitas menulis terhenti karena satu hal, Bitcoin.

Apa itu bitcoin ? mau tahu ? tanyakan google deh. Nggak punya kouta ? baiklah aku jelaskan semampunya. Bitcoin adalah mata uang digital yang sedang hits karena bernilai hampir 60 juta perkepingnya ( 23 Agustus 2017) jadilah aku yang mudah tergoda ini memulai main bitcoin, dan hasilnya lumayan buat beli nasi padang.

Banyak hal yang tidak bisa dipilih secara bersamaan seperti halnya Raisa dan Isyana, tak bisa memilih mereka berdua karena itu tak mungkin, hehe. Menulis dan bermain bitcoin kurang cocok bersinergi. Aku harus memilih satu akhirnya diputuskan aku memilih menulis. Haha.

Sekalipun saat ini menulis belum cukup untuk mengatasi godaan nasi padang yang meminta dibeli tapi aku percaya jikalau menulis tidak bisa memperkaya harta setidaknya memperkaya ilmu, kalau bisa harta juga sih hehe.

Saturday, August 12, 2017

Negeri Para Penyingkat

Di negeri para penyingkat
anggaran E-KTP disunat
pantas jika generasi muda kehilangan identitas bangsa

Di negeri para penyingkat
tujuan sekolah hanya untuk ijazah
pantas saja diotaknya hanya ada kertas berwarna merah

Di negeri para penyingkat
yang penting bicara dulu
benar salah itu terserah

Di negeri para penyingkat
kebencian menutupi kebenaran dalam kepala
Hina saja dulu, minta maaf kemudian

Negeri para penyingkat memang hebat
ucapan salam saja disingkat Ass
pantas rahmat Tuhan disingkat pula

Negeri para penyingkat yang lahir dari perjuangan tak singkat

Negeri para penyingkat akankah berakhir singkat ?

Nychken Gilang.

Wednesday, August 9, 2017

Ini Tentang Kuota dan Kematian

Saat sisa kuota internet menunjukan batas merah, saat itu juga sebagian orang panik termasuk aku di dalamnya. Wajar bila internet beralih fungsi menjadi nyawa, hampir seluruh aktivitas manusia berubah ke dalam wujud digital.

Tak mustahil jika kejadian membunuh karena kuota internet semakin marak terjadi, ia sudah berubah menjadi candu yang lebih berbahaya daripada narkotika. Ah, aku so jadi Ustad, padahal baru seminggu lalu membunuh pemilik konter sebelah karena meniadakan kartu perdana murah.

Aku setia kepada banyak hal, setia tidak naik kelas, setia mencintai perempuan yang berulang kali menolak tapi untuk urusan nomor HP, kata setia sudah lama dihapus.
Pemilik konter yang sudah kubunuh adalah penyedia kartu murah namun keadaan berubah semenjak harga garam naik. Dia tak lagi menjual kartu perdana murah. Sontak aku kesal lalu melemparnya dengan HP Nokiyem tepat di kepala, tak disangka dia seketika tewas.

Saat itu sepi, aku berusaha tidak panik bahkan sempat mengisikan pulsa ke nomorku sendiri. Lumayan pulsa mencukupi untuk sebulan ke depan. Tenang rasanya bila kuota internet sudah terisi sekalipun mayat tergeletak di depanku.

Di tempat yang sulit ditemukan, aku tertawa melihat berita yang mendadak viral.

"Menggemparkan, pemilik konter tewas ditimpuk HP. Fakta kematian nomor 4 bisa membuat Anda pingsan."

Setidaknya itulah berita yang aku klik dan ternyata tidak ada isinya. Dunia ini lucu, sesuatu yang tidak punya isi mendadak viral. Pantaslah banyak orang yang tidak punya isi kepala menjadi bahan berita. Parahnya aku menjadi pembaca setia, lebih kacaunya lagi aku mengakses berita itu dengan kuota haram, hasil membunuh manusia. Banyak orang pandai berbicara sehingga lupa atas kesalahannya, itu aku banget.

Kurang asyik rasanya jika tidak membagikan foto pemilik konter yang sedang berdarah-darah. Sepuluh menit mengunggah, postinganku sudah ratusan kali dibagikan. Rasanya aku sudah seperti orang terkenal.

Sepuluh menit jadi orang terkenal membuatku lelah dan tertidur. Bayangkan mereka yang seumur hidupnya terkenal ? pasti lelah karena penyakit bisulnya saja bisa jadi berita heboh.

Kelelahan ini membuatku ngantuk dan tertidur dalam waktu cukup lama. Kenapa aku tahu tertidur lama ? karena tempat tinggalku berubah gelap dan lembab. Iya, sekarang aku tinggal dalam jeruji besi. Baru saja semenit lalu posting foto selfie dengan penjaga lapas. Mereka berpesan

"Hidup di penjara enak kok, asalkan ada uang dan kuota internet."

Friday, August 4, 2017

Rindu

Rindu tak kenal batas ruang dan waktu, ia mampu menyelinap melebihi kecepatan cahaya. Kali ini rindu menepi di negeri para pelaut, Celebes atau Makassar yang kita kenal kini. Hanya orang hebat yang mampu memikul kerinduan, pantaslah jika sosok Aira Zakirah yang Tuhan percaya untuk menuntaskan kerinduan yang dia punya.

Sedetik kemudian rindu melesat ke tempat yang berbeda, sebuah kota yang digadang-gadang menjadi pengganti Jakarta, Palangkaraya. Ibukota boleh saja diganti namun berbeda dengan kerinduan, ia tak boleh digantikan dengan sembarang rasa. Setidaknya itu yang diyakini Sasmitha A. Lia, seorang pengajar yang mengabadi di Pulau Borneo.

Dua tempat berbeda tapi memiliki sesuatu hal yang sama, rindu. Rindu laksana tukang parkir minimarket. Ia tiba-tiba ada untuk meminta sesuatu dari kita, rindu meminta untuk segera dituntaskan.

Sumber foto dari Ig @Aira @Sasmitha.

Sunday, July 30, 2017

Salah Profesi

Aku adalah seorang guru baru, baru dalam dua hal lebih tepatnya. Baru dipecat sebagai sales produk kecantikan karena tertukar antara pelembab dan balsam. Baru yang kedua ialah pekerjaanku saat ini.

Seolah menjadi sebuah sindiran, seorang pengganguran diangkat menjadi guru kewirausahaan. Rasanya ada yang salah dengan negeri ini, eh yang salah aku deh. So so-an menyalahkan negeri padahal diriku sendiri yang tidak mampu bersaing dalam dunia yang lebih keras dari batu bata.

Aku harus percaya diri, hari pertama mengajar adalah tolak ukur kesuksesan ke depan. Aku ingin mendidik mereka menjadi wirausahawan muda, setidaknya kelak tak ada lagi orang sepertiku. Seorang kutu loncat yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka harus bisa membuat lapangan pekerjaan.

Bel berbunyi, itu seolah genderang perang bagiku. Aku harus jadi guru terbaik, ini pekerjaan terakhirku. Niat sudah kuat, aku berjalan menuju kelas.

"Siap beri salam," seorang siswa berparas cantik memimpin teman-temannya.

Rasanya aku mulai nyaman menjadi guru, merasa dihargai. Dulu di saat jadi sales kosmetik baru berbicara dua kata saja sudah diusir.

Seperti kebanyakan guru baru, aku mulai memperkenalkan diri sekaligus memberikan siswa kesempatan bertanya. Ini adalah salah satu cara mengakrabkan diri dengan mereka.

Seorang siswi mengacungkan tangan pertanda bertanya.

"Siapa namamu ?" aku berucap sembari memberikan senyum terbaik.

"Putri Pak, Rasanya saya pernah bertemu bapak sebelumnya." Siswa itu bertanya sambil memamerkan wajah heran.

"Mungkin banyak yang mirip dengan saya," aku membayangkan dia bertemu Nicholas Saputra sebelumnya.

"Bapak mirip sekali dengan sales kosmetik yang jualan pelembab palsu, mamah saya mukanya terasa panas setelahnya bengkak gara-gara pakai pelembab itu. Ah mungkin saya salah orang, mana mungkin seorang guru jadi penipu."

Aku tertegun, kemudian izin ke luar dan tak pernah kembali ke sekolah itu .

Gaya menulis Boim Lebon dalam buku antologi cerpen memburu dhian.

Di Luar Prediksi



Tetiba Teteh J&T tersenyum karena sebulan terakhir saya sering mengunjunginya. 

"Maaf Teh, saya sudah ada yang punya," itulah dialog imajinatif yang saya buat ketika menunggu proses pengiriman di J&T.

Berbicara pengiriman, Alhamdulillah sebagian pulau besar di Nusantara sudah disinggahi novel menunantaskan rindu. Awalnya saya dan @ciani_limaran menulis novel ini sekadar pelepas lelah dari kegiatan sehari-hari. Terutama bagi saya yang saat itu sedang berkutat dengan skripsi, menulis novel ini seperti pereda pusing dari deretan revisian.

Dalam proses menulis novel ini hingga terbit hanya memakan waktu 3-4 bulan, efek terlalu sering mangkir dari revisian skripsi tapi sekarang sudah lulus 😅. Berbekal alasan tersebut saya tidak terlalu berharap novel ini laku sekadar dukumentasi pribadi saja. Kalau kata Asma Nadia "Setidaknya menulis satu buku sebelum kita tak lagi bernyawa" Saya berusaha merealisasikan itu.

Kenyataan melebihi harapan. Alhamdulillah teman-teman mengapresiasi novel ini dengan luarbiasa. Di tengah ekonomi yang sedang sulit teman-teman mau menyisihkan uangnya bahkan ada yang rela menanggung ongkos kirim yang lebih mahal dari pada harga novelnya sendiri. Tetiba saya ingin menangis haru 😭😭, siapa yang menaruh bawang di sini.

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah membeli, berniat membeli, dan yang sudah mendukung. Alhamdulillah, dalam tiga hari cetakan kedua novel menuntaskan rindu tinggal menyisakan lima buku lagi.
Berkat teman-teman, saya dan keluarga bisa makan nasi padang, eh baru ingat belum berkeluarga haha.

Iklan : Jika ingin memiliki novel menuntaskan rindu bisa transfer, ketemuan atau barter dengan dua bungkus nasi padang. Lebih jelasnya silakan kirim pesan pribadi 😅.

Saturday, July 29, 2017

Pertemuan Berharga

Di balik foto ini ada kebahagiaan luarbiasa karena bisa bertukar karya dengan penulis idola, siapa lagi kalau bukan Bunda Helvy Tiana Rosa. Siapa yang tidak tahu Bunda Helvy, apaaa kalian nggak tahu ? dasaar ndes, eh nggak jadi bilang ndeso takut dipidanakan.

Bunda Helvy adalah penulis tingkat dunia, pendiri FLP (Salah satu organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia) sekaligus dosen sastra UNJ. Pokoknya kalau diceritakan prestasi dan kiprah beliau di dunia kepenulisan dipastikan tangan saya pegal karena terlalu panjang.

Momen yang membuat saya tersipu malu di saat Bunda Helvy meminta tanda tangan saya di novel menuntaskan rindu, penulis kaliber dunia meminta tanda tangan juru ketik amatir. Ah beliau memang ahli membesarkan hati juru ketik yang masih hijau ini.

Dari Helvy Tiana Rosa, saya belajar kesederhanaan meski puluhan karya telah beliau lahirkan tak terlihat sedikit pun kesombongan.

NB :Abaikan pipi saya yang makin merekah.

Thursday, July 27, 2017

Masa Itu

Apakah saya pantas kembali memakai seragam putih abu ? tidak, lebih tepatnya tidak muat lagi.

Zaman SMA, saya termasuk siswa yang biasa-biasa saja, tidak pandai, tidak populer, tidak juga pendiam lalu tetiba bau. Sering kali dibully karena bawa bekal yang isinya nasi putih saja. Kenapa hanya nasi putih ? karena kalau jajan saya nggak bisa pulang, ditambah harus nabung untuk beli LKS.

Di sini saya tidak akan menjual kesedihan karena takkan laku pula, haha. Lebih baik jualan novel "menuntaskan rindu" minimal bisa jajan gorengan kalau laku.

Kembali lagi ke zaman SMA, ketika itu saya sudah suka menulis terutama di kertas ulangan yang pertanyaan sulit, istilah kekiniannya mengarang bebas tapi teknik "Mengarang" tidak berlaku untuk pelajaran eksak terutama matematika dan fisika, walhasil saya konsisten meraih nilai do, re, mi.
Waktu melesat cepat, saya masih suka menulis tapi bukan di kertas ulangan lagi. Menulis di catatan HP lalu digabungan dan jadilah novel "Menuntaskan Rindu"

Hingga saat ini saya masih merasa jadi anak SMA, entah ini efek tak tahu umur atau karena setiap hari gaul dengan mereka.
Di foto ini masihkah saya pantas jadi anak SMA ? elus-elus perut yang zaman SMA tak begini.

IKLAN : Jika berminat memiliki novel menuntaskan rindu bisa hubungi saya. Jualan terus agar tak makan dengan nasi putih saja. Haha.

Tuesday, July 25, 2017

Matikan Saja Dia

Judulnya sudah cukup seramkan ? tenang saja saya di sini tidak akan bercerita tentang sesuatu yang menyeramkan atau kisah hantu perempuan yang mati terpeleset karena mencari angel selfie yang pas. Kisah yang akan saya ceritakan lebih seram dari pada itu semua.

Di suatu hari yang lumayan cerah, kenapa lumayan ? karena kalau cerahnya berlebihan itu tidak baik hahaha. Ada seorang pria, dia duduk terpaku menatap laptop yang dia beli hasil kredit, kreditnya tinggal 30 bulan lagi. Selama berjam-jam dia hanya melakukan dua hal, ketik dan hapus. Sudah berbulan-bulan "Otak"nya tidak dipakai untuk menulis. Otaknya terkena virus writer block, bener nggak sih nulisnya ? kalau salah harap maklum, jarang makan roti.

Semakin lama berpikir semakin pusing terasa, akhirnya laptop yang dia tatap kembali dilipat tanpa satupun tulisan yang dihasilkan. Nah itulah kisah semi fiksi tentang writer block yang saya alami, kenapa semi fiksi ? karena saya jarang menulis di laptop dan yang perlu dicatat bahwa laptop saya sudah lunas #eh

Lalu apa yang saya lakukan untuk mengatasi writer block ? yah gampang tinggal nulis aja. Nulis apapun, lupakan dulu tentang EYD, lupakan dulu dengan gramatika kepenulisan. Pokoknya nulis apapun selagi itu positif. Gampangkan mengatasi writer block ? Matikan segera writer block sebelum writer block mematikan kita.

Friday, July 21, 2017

Kentut

Sudah tiga tahun mereka tidak bertemu. Anak pertama adalah pemilik perusahaan permen karet. Dia pencetus ide brilian tentang mengumpulkan huruf lalu disusun membentuk nama perusahaan yang dipimpinnya. Jika ada yang bisa mengumpulkan seluruh huruf maka hadiah menarik akan didapat. Sayang, huruf terakhir masih sebuah mitos. Sulit menemukan orang yang telah mendapatkan alfabet terakhir itu.

Anak kedua, peraih beasiswa S3 Fulbright scholarship. Sejak kecil dia kurang suka dengan kakaknya karena sering menjadi korban penipuan sang kakak. Salah satu alasan mengapa dia terus sekolah ialah agar tak mudah ditipu saudara tertuanya.

Anak terakhir ialah peraih prestasi mahasiswa abadi, enam tahun kuliah tak kunjung tuntas. Skripsinya selalu ditolak, wajar judul yang dia pilih diluar nalar. Analisis Daya Tahan Naruto Terhadap Benda Tajam, itulah judul yang menjadi bahan bully-an kedua saudaranya di dunia maya.

Mereka berkumpul atas desakan ibunya, ancaman dikutuk menjadi batu masih cukup ampuh di dunia semodern ini. Jika tanpa ancaman mungkin saja mereka tidak akan datang, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Di saat bersama pun pandangan tiga bersaudara itu masih terpaku pada layar smartphone.

"Tuuuuuut," gas liar menyeruak mengalihkan
tangan dari smartphone menuju hidung.

"Ah, Ini pasti perbuatan si peraih beasiswa. Sejak dulu dia doyan kentut," Anak pertama menatap adik pertamanya.

"Kau dari dulu emang tukang fitnah. Dulu kau suruh aku naik pohon mangga. Kau bilang di sana ada belalang langka, padahal aku dikorbankan atas perbuatanmu nyolong mangga Wa Engkos." Anak kedua tak kalah keras bersuara.

"Salah siapa bodoh?" anak pertama tersenyum ketus.

"Sekarang aku sudah berbeda, gelar PhD sebentar lagi ada di belakang nama. Yang bodoh itu dia." Jarinya menunjuk anak ketiga.

"Kau sedikit pintar sekarang. Akal licik yang membuat citra aku dan dia turun di mata ibu." Pandangan sinis kali ini tertuju kepada anak ketiga.

"Aku memang bodoh tapi tak securang kakak."

Mereka terus saling menunduh. Jabatan dan gelar tak berpengaruh dalam urusan mencari pelaku kentut. Di tengah perdebatan raut wajah berbeda ditunjukan oleh sang ibu, dia tersenyum.

"Akhirnya kalian bisa mengobrol akrab seperti dulu." Sang Ibu bersuara di tengah perdebatan.

Anak pertama dan kedua berpikir sejenak lalu memeluk sang ibu. Anak ketiga masih terheran-heran, situasi berubah begitu cepat.

"Cepat peluk ibu. Kau dari dulu lambat berpikir." Seru anak pertama disertai anggukan anak kedua.

"Lalu siapa yang kentut Kak ?" Seru si bungsu.

Tuesday, July 18, 2017

Konser Musik Paling Beda Hanya 8 Detik

Sumber Gambar : Jame-world.com

Konser musik identik dengan penampilan band atau penyanyi yang membawakan beberapa lagu bahkan ada juga yang sampai menyanyikan beberapa album. Konser musik normalnya berlangsung dalam durasi beberapa jam akan tetapi ada yang berbeda dari penampilan band asal Jepang. Band ini melakukan hal yang tak biasa dalam konsernya.

Seperti yang dilansir Merdeka.com, sebuah band asal Jepang bernama Golden Bomber baru-baru ini bikin sensasi, mengadakan konser dengan durasi terpendek. Konser tersebut hanya berlangsung delapan detik, dengan sebuah lagu berjudul 8 Second Encounter.
Pada tanggal 29 Juni, Golden Bomber tampil di Sunshine City Mall, Ikebukuro, Tokyo, Jepang. Dilansir Oddity Central, para fans yang sudah menanti selama enam jam diminta melakukan hitung mundur selama tiga menit. Dua detik menjelang akhir, para personel band mendadak berlari ke panggung dan menyabet instrumen masing-masing. Golden Bomber segera menampilkan lagu 8 Second Encounter sebelum turun panggung kembali.

Bisa jadi, konser yang diadakan oleh Golden Bomber merupakan pertunjukan musik teraneh yang pernah ada. Tetapi Golden Bomber sendiri memang band yang tergolong nyeleneh. Mereka adalah band indie yang memadukan konsep visual kei dan permainan musik ala air guitar. Jadi para personel hanya gaya-gayaan memainkan instrumen selagi pertunjukan berlangsung. Hanya sang vokalis, Sho Kiryuin yang benar-benar menyanyi secara langsung. Sho pula yang bertugas menciptakan lagu dan menulis lirik

Sebenarnya Sho bisa memainkan berbagai alat musik, termasuk biola. Sementara Kenji Darvish sang penabuh drum justru jadi gitaris sungguhan di band lain. Tetapi memang seperti itulah konsep yang sengaja diusung Golden Bomber. Mereka lebih mengedepankan unsur komedi dan aksi teatrikal. Dan meskipun terlihat main-main, band ini sudah menelurkan 11 album dan 12 single yang sangat populer di Jepang. Mereka sudah berkali-kali merajai tangga lagu dan mendapatkan tawaran kontrak dari berbagai label besar. Namun Golden Bomber menolak tawaran itu dan memilih untuk tetap menjadi band 'nggak guna', seperti yang mereka deskripsikan sendiri.

Hal-hal unik memang selalu menarik perhatian. Yuk kita ciptakan karya yang berbeda dari yang lain, tentu yang masih dalam kolidor positif.

Sunday, July 16, 2017

Ada Apa Dengan Cinta Dan Ikhlas ?

Ada Apa Dengan Cinta Dan Ikhlas ?

Judul: Cinta Dalam Ikhlas
Penulis: Bayu Adhitya (Kang Abay)
Penerbit: Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Februari 217
Tebal: 372 halaman
ISBN: 978-602-291-364-1
Progress :367/367


Cinta selalu menjadi tema yang menarik untuk diceritakan. Tak terbatas zaman dari sejak Adam dan Hawa merasakan, cinta terus berlanjut ke anak cucu mereka termasuk kita.

Kisah Athar, seorang pria yang terus merasakan kehilangan. "Kehilangan membuat hati tertusuk. Membuat dada terasa sesak mengimpit. Menyisakan perih yang berlaru-larut" ( Halaman Pertama )

Tuhan maha adil memasangkan setiap kehilangan dengan pertemuan yang baru. Pertemuan laksa oase, pengobat dari segala kesedihan. "Aurora Cinta Purnama, nama yang indah, seindah senyumannya."
(Halaman 18)

Aurora menjadi cahaya tersendiri bagi kehidupan Athar. Dia sudah laksana penerang. Perlahan cinta kepada Aurora menyelinap dalam tubuhnya. Sayang beberapa tahun setelah pertemuan ada kata yang menyakitkan yaitu perpisahan.

Cinta dan ikhlas kali ini bersatu, Athar harus ikhlas dengan segala perpisahan dan menyakini esok akan ada pertemuan lagi.

Masa putih abu telah usai, Athar dan Aurora memilih jalan kehidupan berbeda "Kita harus saling melepaskan"
(Halaman 148)

Perjuangan Athar baru dimulai, Ia harus mengejar cinta dan cita secara bersamaan. Apakah jalan kehidupan mempertemukan mereka kembali ?
Baca saja kisah lengkapnya.

Thursday, July 13, 2017

Euforia Telah Berakhir

Bulan lalu, bahagia menyelimuti wajah. Gelar yang diperjuangkan akhirnya direngkuh juga. Waktu, uang, dan tenaga seolah terbayar dengan tiga huruf dibelakang nama.

Semua euforia terhampar jelas lewat foto di sosial media, ada yang menangis tersedu, ada juga yang tertawa merdu. Aku berbeda, tak ada satupun foto yang diunggah sendiri, hanya teman-teman yang menandai. Bukan tak bahagia tapi ada kesedihan di baliknya.

Tak lagi merasakan susahnya berburu tanda tangan, tak ada sensasi meriang di saat coretan sakti menghiasi skripsi. ah, aku memang lelaki yang susah move on, ingin merasakan lagi sensasi itu.

Sahabat seperjuangan kini menjelma ilalang, menyebar ditiup angin untuk tumbuh di tempat lain. Aku tak seberuntung mereka yang telah siap ditempa di tempat berbeda. Aku tetap di sini, gagal untuk move on, masih ingin berpusing-pusing ria.
Euforia telah berakhir dalam diriku bahkan sedetik setelah gelar itu.

Bismillah, tahapan baru.

Tuesday, July 11, 2017

Tebak



Coba tebak aku yang mana ? aku bukan perempuan paling kiri. Bukan juga pengantin pria yang memasang rona bahagia. Sekali lagi kalian salah mengira, pria paling kanan yang berpura-pura bahagia ? jelas tebakan kalian meleset.

Aku bukan manusia yang bisa berwajah ganda, memasang senyum paling ikhlas seolah berganti rupa padahal hati berwajah jauh berbeda. Dalam hati mengutuk penyesalan, kenapa bukan aku yang menjadi pengantin pria. Selalu saja menyandang status sama meski tahun sudah berulang kali berganti. Tamu undangan, status yang telah disandang beberapa tahun kebelakang.

Kalian masih belum tahu aku yang mana ? menyerah ? Ah manusia selalu saja menyerah di saat usaha masih sebatas kotoran kuku. Aku berulang kali menyaksikan manusia yang menyerah sebelum menuntaskan rindunya. Rindu akan pasangan yang telah Tuhan janjikan.

Saat ini kalian masih belum tahu aku yang mana ? parah sekali, andai aku seorang guru pasti sudah memberikan remedial dari pagi hingga sore hari. Mencari sosok aku di foto saja kalian kebingungan ? tapi setidaknya kalian tidak menyerah dan terus berusaha mencariku dalam foto itu. Bukankah banyak cerita masyarakat atau bahkan siaran TV yang menceritakan orang yang menyerah dalam perjuangan cintanya bahkan ada yang rela menukar nyawa demi menghilangkan rasa kecewa.

Aku sudahi tebak-tebakan ini. Nampaknya kalian tak ahli dalam menerka. Sudahlah aku mau mandi karena sehari setelah foto itu, tubuhku berlumuran darah, digunakan untuk menusuk pengantin pria.

Saturday, July 8, 2017

Penuntas Rindu Sebenarnya

Terdapat dua hal yang spesial dalam foto ini. Pertama, dia adalah sahabatku yang termasuk generasi pertama "penikmat rindu" sebutan untuk yang pembeli novel "Menuntaskan Rindu". Kedua, besok dia akan melangsungkan pernikahan, lebih spesialnya lagi calon suaminya adalah teman sebangku aku zaman SMP
.
Sungguh beruntung sahabatku ini, baru dua minggu bersama novel "Menuntaskan Rindu" tetiba melangsungkan pernikahan. Jujur aku bahagia bercampur bingung. Bahagia karena sahabat-sahabatku akan memasuki fase baru bernama pernikahan. Bingung karena berpikir keras harus datang dengan siapa ? terlalu menyeramkan jika datang sendiri, takut ada yang iseng nanya kapan nikah.

Yuk beli dan baca novel "Menuntaskan Rindu" siapa tahu seperti sahabatku ini, segera menemukan penawar rindu. Eh itu pun jika beruntung kalau masih belum coba ikhtiar dan doanya dikencangkan lagi (Menasehati diri sendiri) Haha.

Sunday, July 2, 2017

Tentang Menuntaskan Rindu

Dulu pernah berjualan keripik tapi gagal karena habis dimakan sendiri. Sekarang berjualan "Menuntaskan Rindu", sebuah novel karya saya dan Ciani Limaran. Saya menulis novel ini sepenuhnya di HP karena jika menulisnya di laptop bawaannya ingat skripsi, alhamdulillah sekarang sudah lulus.

Menulis novel "Menuntaskan Rindu" menjadi pelampiasan di saat buntu mengerjakan skripsi hasil revisi-an dosen tercinta Bu Wikanengsih Wika. Seakan sudah berjodoh, wujud sempurna "Menuntaskan Rindu" hadir bertepatan dengan sidang skripsi.

Alhamdulillah, kurang dari seminggu cetakan pertama novel menuntaskan rindu habis bahkan beberapa teman yang sudah pesan terpaksa belum bisa menikmati "rindu".

Cetakan kedua novel "Menuntaskan Rindu" hadir di pertengahan bulan ini. Siapa tahu teman-teman ingin menjadi penikmat rindu selanjutnya. Jika berminat bisa dipesan sekarang juga.

"Eh Kok jadi jualan sih Lang ?"

"Ini bentuk mengamalkan mata kuliah kewirausahaan zaman kuliah dulu, haha"

Catatan : Foto gadis berhijab di tulisan ini adalah Diaz Agyana Setyanti Dheiz, sebelumnya belum pernah kenal dan bertemu tetapi tetiba membeli novel menuntaskan rindu. Masa yang pernah kenal dan sering bertemu tidak membeli, eh kalimat terakhir bercanda kok hehe.

Saturday, July 1, 2017

Patah Hati Terhebat


Saya pernah patah tulang, saya juga pernah patah hati. Keduanya memang menyakitkan tetapi patah hati sakitnya lebih tahan lama. Hampir setahun lalu tulang kaki patah karena kecelakaan, hingga saat ini sakitnya masih sedikit terasa namun mendadak sembuh ketika memakan nasi padang dan momen gajihan. Berbeda hal dengan patah hati, nasi padang dan gajihan tak cukup ampuh untuk mengobati.

Di Indonesia, hukuman paling berat ialah hukuman mati tetapi bagi saya itu bukan yang terberat. Hukuman paling berat ialah hukuman patah hati berkali-kali. Andai koruptor diberikan hukuman patah hati ribuan kali, saya yakin tak akan ada yang berani korupsi. Kenapa seyakin itu ? semua terjawab oleh beberapa kisah patah hati terhebat.

Meliodas, tokoh utama dalam manga (Komik Jepang) Nanatzu No Taizai. Dia adalah pangeran pewaris tahta Raja Iblis, Cinta terlarangnya kepada Elizabeth (Seorang Malaikat) membuat Raja Iblis murka. Dia menjatuhkan hukuman paling menyakitkan kepada anaknya. Meliodas dikutuk hidup abadi untuk melihat Elizabeth mati berkali-kali dipelukannya.

Kisah Meliodas sudah tentu sebuah rekaan tetapi bukan berarti kisah patah hati terhebat adalah mitos. Di dunia nyata, Beethoven adalah bagian yang pernah merasakan sensasi menyesakan di dada. Pencinta musik sejati sudah pasti tahu siapa Beethoven. Di luar kisahnya sebagai musisi legendaris, Beethoven pun sama seperti manusia biasa yang pernah jatuh cinta. Dia 8 kali jatuh cinta dan 8 kali pula menerima penolakan. Patah hati terhebatnya terjadi ketika mencintai muridnya, Giulietta. Beethoven menciptakan
lagu "Moonlight Sonata" untuknya. Sayang, Giulietta memilih musisi yang lebih kaya dari Beethoven.

Kisah patah hati lainnya di alami oleh Pahlawan perempuan Indonesia, Cut Meutia. Dia bersama suaminya, Teuku Muhammad bertempur di garis depan melawan penjajah. Setelah beberapa pertempuran suami Cut Meutia ditangkap oleh Belanda dan dijatuhi hukuman mati. Diakhir hayat sang suami, Cut Meutia bersama anaknya yang masih bayi menemui Teuku Muhammad di penjara. Sembari memegang tangan Cut Meutia, Teuku Muhammad berpesan untuk meneruskan perjuangannya. Bulir bening menetes dari kelopak mata kedua Pahlawan, kisah cinta mereka dipisahkan maut.

Tak hanya tokoh-tokoh di atas yang pernah merasakan patah hati. Sebagian dari kita pernah merasakan hal yang sama. Berkali-kali datang ke pernikahan mantan, mantan orang disuka tapi dia-nya engga. Berkali-kali juga makan di resepsi mereka, memilih daging paling besar tapi ternyata itu jahe. Hal itu semua menyakitkan, lebih menyakitkan lagi bila tenggelam dalam lautan patah hati lalu tak berbuat sesuatu yang berarti.

Kali ini saya pun merasakan patah hati terhebat tapi tenggelam dalam lautan kesedihan bukan pilihan tepat. Patah hati ibarat mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang agar bisa melesat lebih cepat.

Friday, June 30, 2017

Masih Adakah Hari Esok ?



Aku adalah manusia sombong yang selalu merasa masih hidup esok. Merencanakan segala urusan dunia secara mendetail tanpa sadar Izrail mengetuk pintu berkali-kali.

70 kali dalam sehari, dia datang untuk memastikan apakah jatah umurku sudah sampai batasnya ?

Dia datang di saatku tertawa
Dia datang di saatku berkeluh-kesah urusan dunia
Dia datang di saatku merasa masih akan hidup seribu tahun lagi.

Izrail menatap pohon Sidratul Muntaha, daunnya sama dengan jumlah manusia. Sedetik berlalu, beberapa daun Sidratul Muntaha mulai berjatuhan. Itu pertanda sebagian manusia sudah menunaikan tugasnya di dunia. Izrail segera melihat nama siapa yang tertera di daun itu, dia bergegas mengunjunginya.

Apakah daun yang jatuh itu aku ?

(Terilhami dari sebuah hadist yang diriwayatkan  kepada Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu anhu )

Wednesday, June 28, 2017

Judul Anti Mainstream



Awalnya saya akan menulis judul "Berkunjung Ke Rumah Nenek" akan tetapi judul tulisan seperti itu mengingatkan kepada pelajaran bahasa Indonesia ketika SD. Entah kenapa sebagian besar anak SD bahkan SMP masih mengangkat judul seragam, rasanya berbanding lurus dengan cara menggambar gunung yang itu-itu saja.

Pernah terbersit untuk mengangkat judul "Berkunjung Ke Rumah Mantan," tetapi itu terlalu menyeramkan. Judul "Berkunjung Ke Rumah Mertua," ah ini tidak sesuai realita, akhirnya saya kebingungan menentukan judul, jadilah "Judul Anti Mainstream" eh terlampau banyak kata judul dituliskan ini. Kita fokus kembali.

Sudah dua tahun lamanya tidak mengunjungi keluarga dari garis ibu, ada dua sisi yang berlawanan ketika mengunjungi nenek. Di sisi lain bahagia karena lama tak berjumpa, di sisi lain juga takut pernyataan menyeramkan keluar "Ken, sekarang makin gendut."
Ah apalah dayaku yang semakin gendut ketika bertemu.

Ternyata pernyataan yang ditakutkan itu terlontar juga tetapi karena sudah biasa tidak terlalu sakit dirasa. Seorang lelaki harus kuat dengan berbagai perkataan menyakitkan karena nanti dia akan menjadi nahkoda dalam kapal bernama rumah tangga #eh.

Berbicara rumah tangga, pasti berkorelasi dengan buah hati. Foto di atas adalah keponakan saya, Salwa namanya. Dia sangat aktif meski jarang isi pulsa, eh ketuker dengan handphone. Awa panggilan untuk Salwa, dia sering berakting dengan berbagai profesi. Terkadang jadi tukang baso, pekerja bengkel, Bu guru. Nah kali ini berperan sebagai supir angkot yang nyambi pengantar paket. Terlihat dari handuk di lehernya.

Tingkahnya selalu bisa menarik perhatian. Suasana rumah selalu ramai dengan tawa atau tangisannya, Dia sering menangis karena orang-orang yang mengajaknya main kelelahan. Entah baterai jenis apa yang ada di dalam tubuhnya, saya tidak pernah melihat dia cape. Andai saja membuat anak semudah mencampurkan terigu dan telur sudah dipastikan saya akan membuatnya.

Sunday, June 25, 2017

Di Balik Lebaran

Ramadan sudah menunaikan tugasnya, perjuangan 30 hari menahan lapar, dahaga, dan segala perbuatan yang bermuara pada dosa di akhiri gema takbir, memuja Sang Pencipta. Semua orang bersuka cita termasuk yang tidak berpuasa. Masjid-Masjid mendadak penuh, ini peristiwa langka.

Saya memerhatikan keadaan sekitar, seorang bapak menangis sembari bertakbir dengan suara lirih. Di sudut lain, seorang pemuda kisaran umurnya hampir sebaya dengan saya. Dia menangis sembari mengadahkan tangan, meminta agar jodohnya disegerakan (Ini sekadar dugaan)
Soalnya pemuda diumur 20 tahun awal, masalahnya hampir serupa berkisar jodoh dan kerja.

Ritual salaman menjadi penutup Salat Ied di momen ini kita bisa bertemu teman lama, mantan yang sudah punya anak bahkan mantan calon mertua yang pernah menolak kita, eh bukan kita deh soalnya saya belum pernah mengalami. Pulang ke rumah, keluarga dekat menyambut, sungkem dengan orangtua beraroma pilu. Ada kesedihan merasuk, betapa berdosanya kita kepada kedua orangtua.

Tibalah saatnya berziarah, mendoakan keluarga yang mendahului kita ke alam sana. Ini momen paling menyeramkan, bukan perihal ke kuburan tapi bertemu keluarga "jahil" yang tetiba mengeluarkan kalimat menyesakan dada.

"Ken, sekarang kelihatan gendut dan pendek."

"Ken kapan nikah ?"

"Ken kapan punya anak ?" eh punya anak gimana, nikah aja belum. Emang ada yah anak instan ? tinggal nyeduh langsung jadi.

Andai saya jahat pasti mereka sudah dilaporkan dengan pelanggaran pasal 335 ayat 1, dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, tetapi itu adalah hal yang wajar ketika momen lebaran. Semoga saya kuat menghadapi pertanyaan yang bernada bully-an. Sesungguhnya Allah berada di dekat kita yang teraniaya. Merdekaa.

Teruntuk sahabat dunia maya, saya meminta maaf jika ada status, komentar, dan pesan pribadi yang meyakiti. Kita mulai dari nol yah ? #MeniruPegawaiPomBensin.

Friday, June 23, 2017

Idul Fitri dan Adu Gengsi

Bulan suci Ramadan sudah berada di ujung jalan. Tak terasa 30 hari berpuasa hampir terlewati apalagi bagi saya yang baru mampu menahan haus dan dahaga, godaan artis dangdut belum mampu diatasi.

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, aroma puasa kerap kali dikombinasikan banyak hal. Sebagian besar Ibu-Ibu sudah sibuk dengan urusan kue dan segala pernak-perniknya. Para Orangtua mulai resah menunggu tunjangan hari raya, Anak-Anaknya sudah merengek ingin dibelikan baju baru.

Jomblo-Jomblo pun mulai sibuk mencari alasan, ketika di hari fitri ditanya mana jodohnya kini ? (Ah, aku termasuk golongan ini) Di antara beragam pernak-pernik di pengujung Ramadan, ada sebagian orang yang mencintai bulan suci lebih dari dunia dan isinya. Mereka itikaf di Masjid, lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Sejenak melupakan urusan dunia yang memang hanya sementara.

Bagiku Ramadan ini terasa belum maksimal, sibuk dengan urusan duniawi termasuk di dalamnya gengsi. Salahku terlalu akrab dengan skripsi karena ada tuntutan dalam diri untuk sidang sebelum Idul Fitri, agar nanti ketika ditanya "Sudah beres kuliahnya ?" dengan bangga menjawab "Sudah," lalu disusul pertanyaan lainnya "Lalu kapan nikahnya ?" pertanyaan yang membuat sebagian orang (Termasuk saya) mendadak mengheningkan cipta.

Entah sejak kapan Idul Fitri dan adu gengsi menjadi kesatuan yang berlawanan arti. Di sisi lain Idul Fitri ialah hari kemenangan, umat Islam menyambutnya dengan sukacita dan airmata karena seolah terlahir kembali. Di sisi lainnya Idul Fitri menjadi sarana adu gengsi terselebung, tak jarang saya dapati Idul Fitri seperti karnawal pamer duniawi.

Dengan mudah kita dapati seseorang yang memakai perhiasan seolah toko emas berjalan, bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa toko emas mainan kebanjiran pelanggan. Entah saya yang terlalu berpikiran negatif atau memang Idul Fitri dan adu gengsi sudah menjadi budaya.

Idul Fitri ialah momen di mana kita terlahir kembali sebagai manusia. Manusia yang lekat dengan keinginan selalu disanjung, manusia yang belum bisa seperti malaikat yang tanpa dosa. Saya sebagai manusia merasa bermandikan dosa, Tuhan berbaik hati menyucikan kita melalui rahmatNya.

Wednesday, June 21, 2017

Kecewa

Mereka hanya berbicara
tak pernah ada buktinya
niat awal memang manis
tetapi akhirnya tragis

Orang-orang yang dekat
nyatanya tak jadi membuat hebat
mereka ada ketika butuhnya saja
Kecewa dengan semua sikapnya

Ah, andai aku boleh berkata kasar
sudah sejak lama kukatakan
mereka tak pantas jadi teman

Monday, June 19, 2017

Ijazah Alat Mencari Nafkah ?

Ketika mengikuti seminar kepenulisan kreatif dengan pembicara Pidi Baiq, penulis novel "Dilan" yang meraup miliaran rupiah dari hasil tulisannya pernah berkata "Hingga hari ini aku belum ngambil ijazah dari ITB, aku nggak mau sombong memamerkan ijazah ke setiap perusahaan," Semua peserta tertawa tapi saya merenung.

"Ini sindiran kelas atas."

Sebagian orang (termasuk saya) menyandarkan hidupnya dari secarik kertas berisi nilai. Jika dipikirkan secara logika, kuliah 4 tahun bahkan ada yang 8 tahun ( Inimahasiswa atau donatur kampus, upss) menukarkan rupiah, waktu, dan tenaga hanya untuk secarik kertas ialah pemborosan waktu. Beda hal dengan menukarkan rupiah dengan ilmu, tentu sebanding dengan diangkatnya derajat orang yang berilmu di mata Tuhan.

Tentu saya tidak memosisikan diri sebagai orang yang berkata "Kuliah itu harus lama agar ilmunya matang, yang menyelesaikan kuliah tepat waktu nantinya jadi babu," menyelesaikan yang kita awali merupakan bentuk tanggungjawab kepada keluarga, terutama orangtua yang telah sukarela memberikan "beasiswa penuh". Jangan sampai ada anggapan calon mertua "Kuliah aja lama apalagi meminang anak gadisnya."

Ijazah memang penting tapi bukan sandaran utama untuk mencari nafkah. Jangan beranggapan ketika memeroleh gelar akademik, dunia lebih mudah dan uang akan berputar hanya untuk kita. Di balik ijazah dan gelar akademik yang melekat, ada tanggungjawab sosial yang besar.

Friday, June 16, 2017

Naruto

Seorang ninja yang mampu melewati segala batas sekalipun hidup tanpa sosok orang yang sebagai tempat menumpahkan segala bentuk keresahan. Orang-orang menjauhinya, tak mau berteman dengan monster yang bersemayam dari dirinya.

Hidup penuh kesendirian bahkan tak jarang orang menatapnya penuh rasa benci. Dia tetap percaya diri, selalu mengucapkan akan menjadi pemimpin desa sekali tak ada yang percaya.

Waktu berputar cepat, anak yang dibuang sekarang jadi tumpuan semua orang. Dia menjadi simbol semangat yang tak akan pernah padam. Naruto mengajarkan banyak hal, salah satunya jangan menyerah dengan keadaan. Seburuk apapun masalah yang menimpa kita, semua akan berlalu jika dihadapi tanpa keluhan.

Kenyang

Perut sudah terisi penuh
tak ada ruang untuk bernapas
nafsu mengendalikan mulut untuk melahap segalanya

Susah bergerak
badan tak enak
memang benar yang berlebihan itu tak baik
termasuk berlebihan dalam menguyah

Sudah berulang kali janji
tak akan mengulang perbuatab ini lagi
tapi apalah daya selalu sama

Ambigu

Kata yang sulit dipahami
sekalipun menggunakan seluruh kosakata dalam KBBI

Pemikiran yang sulit dimengerti
sekalipun keilmuan sudah tinggi

Ambigu
Bermakna atau tidak hanyalah sebuah persepsi semata

bermakna atau tidak hanyalah sebuah nilai

Gejolak

Kehidupan di dunia tak selalu lurus saja
Kadang menanjak kadang pula melalui jalan menurun
itulah kehidupan

Muda beranjak tua
pagi beranjak senja
gejolak manusia tetap ada

ingin segalanya
ingin semuanya
nafsu harus dikendalikan
jangan sampai termakan gejolak

Adzan Magrib

Semua menunggu
semua berharap
kumandang adzan segera datang

menunaikan segala dahaga
menunaikan segala rasa
puasa adalah seni menahan godaan diri

Adzan segera berkumandang
Sebagian manusia ikut berbuka sekalipun mereka tak berpuasa

Menahan Dahaga

Apa itu lapar ?
apa itu haus ?
Seluruh umat muslim di dunia sedang merasa itu semua

Dahaga mengajarkan kita bahwa rezeki dari Tuhan sangat berharga sehingga harus diiringi rasa syukur

Lapar menjadikan pembelajaran bahwa sebagian dari saudara kita merasa itu semua dalam kesehariannya.

Menulis Dalam Sepi

Dia sedang unjuk gigi
pamer tulisan yang kata asli
orang-orang banyak memuji
Tulisannya langka dan berisi

Presiden menyambutnya dengan karpet merah
Pemujanya mengelu-elukan laksana pemenang nobel sastra

Eh akhirnya busuknya tercium juga
tulisannya yang membahana ternyata hasil salin tempel
orang-orang berbalik menghujat

Ia kecewa, pujian berganti hujatan dengan seketika

dari itu semua aku lebih memilih menulis dalam sepi agar terhindar dari rasa ingin dipuji.

Facebook

Ini sajak bukan sembarang sajak
ini sajak bukan dari orang bijak
sajak dari pengguna facebook
sajak yang menggebuk

Facebook, kau sekarang beda
penuh caki dan maki
Facebook, kau sekarang beda
penuh muatan kebencian

Facebook yang dulu
mempererat persaudaraan
Facebook yang sekarang
penuh status bertebar kebencian

Lukisan

Di sudut-sudut tembok tua
goresan-goresan tinta nampak jelas
Ia ada sebagai pelengkap
pelengkap kerapuhan tersembunyi

Di sudut tembok lain
sebelah kiri kulihat sebuah lukisan
entah tulisan tentang apa
goresan kelam mewarnai salah satu sisinya

Semakin ke tengah warna tulisannya semakin cerah
di sudut terakhir aku lihat diriku sendiri

Thursday, June 15, 2017

Karena Suka

Bukan untuk memajukan dunia
bukan juga menyalakan api literasi
apa lagi mengubah paradigma berpikir
Saya menulis karena suka

Bukan untuk kepentingan bangsa
bukan juga untuk kepentingan manusia
saya menulis hanya karena suka

Suka lebih dari semua
suka lebih dari sekadar kata
sula adalah tindakan nyata

Ganteng Maksimal

Pria dengan Mercy sebagai tunggangannya
apakah dia pria dengan ganteng maksimal ?

Pria dengan dompet tebal
apakah dia pria dengan ganteng maksimal ?

Pria dengan paras rupawan
apakah dia pria dengan ganteng maksimal ?

Bagi sebagian orang mungkin itu ciri pria idaman tapi bagi Tuhan semua itu hanya hiasan

Pria dengan ganteng maksimal selalu mengingat pencipta lebih dari semua

Wednesday, June 14, 2017

Sisa kuota

Kehidupan sudah dikendalikan dunia maya
segala sesuatu tinggal sentuh

Butuh makanan
tinggal sentuh

Butuh kendaraan
tinggal sentuh

Butuh pendamping hidup
Ah, kuota habis

Risau

Kepala bertambah berat saja
di dalamnya tak hanya berisi otak
tapi beban hidup yang semakin bertambah tiap harinya

Di kepala tak hanya menyimpan kenangan tentang si dia yang pernah singgah
tersimpan juga beragam masalah

Risau,
Terkadang bibir tetiba meracau
Risau
Terkadang merasa galau

Goresan terakhir

Sudah lama aku menunggu
ditemani tumpukan kertas
terlalu banyak sampai menjulang hingga atas

Putaran waktu sudah berputar lama
aku masih menunggu dengan posisi yang sama

Seseorang memanggilku
dia mengangguk lalu meminta kertas yang kubawa

Goresan terakhir yang kutunggu akhirnya tiba

Mencoba Patuh

Sudah jelas aku bukan malaikat
tak mampu sepenuhnya taat
bahkan terkadang tak patuh
atas semua perintahMu

Aku tak juga tak mau dianggap iblis
sekalipun lebih berdosa dari padanya
Sering kali membangkang tapi tak sanggup abadi dalam murkaMu

Aku hanya manusia akhir zaman
tak mampu menanggung beratnya siksaan
Aku hanya manusia akhir zaman
mencoba patuh meski tak utuh

Tuesday, June 13, 2017

Aku Seorang Pembunuh

Hanya penyesalan yang tersisa
Kuda besi yang kukendarai menelan korban jiwa
Ia tergelatak tak bernyawa

Aku jahat telah membunuh ia yang tak berdosa
sembunyi, aku hilangkan semua jejak
Induknya tak tahu anaknya telah kubunuh

Monday, June 12, 2017

Kaum Individualis

Aku manusia
katanya makhluk paling berakal
Aku manusia
katanya makhluk paling sempurna

Nyatanya tidak
aku egois
berdiri di dunia laksana raja

Tak penting mereka
yang penting aku saja

Manusia

Tuhan mengutusnya sebagai Khalifah
memimpin dunia agar lebih baik nantinya
Tuhan memberikan ogar
agar mereka senantiasa berpikir

Nyatanya, mereka lupa
bahkan berdiri dengan penuh kesombongan
Nyatanya, mereka angkuh
Mengaku Tuhan dengan ucapan

Sunday, June 11, 2017

Maung

Maung yang tengah tertatih
Ia letih dengan hujatan
Ia lelah dengan cacian

Dulu, ketika makhota dalam rengkuhan
Segala penjuru memuji
Dulu, ketika masa keemasan
Semua orang mendewakan

Sekarang maung tertatih
Ia butuh kita sebagai pengobat perih

Saturday, June 10, 2017

Utopis

Bisikan-bisikan menjalar ke telinga
Ia menyampaikan pesan dari Surga
sebuah undangan untuk jadi penghuninya

"Utopis," teriak temannya
"Tiket Surga " tak pernah ada

Utopis menggelengkan kepala
Ia menyakini tiket surga untuknya

"Aku orang baik hanya terkadang sombong, tamak, dengki,"

Utupis melamun kembali rasanya tiket surga salah alamat.

Serisau

Daun-daun kering mulai jatuh
berganti daun muda yang perlahan tumbuh
lingkaran kehidupan terus berganti

lama diganti baru
tua diganti muda
risau diganti apa ?
Bahagia
senyuman
atau diganti risau yang baru

Thursday, June 8, 2017

Goresan

Kata orang kehidupan itu ibarat menggambar
Goresan-goresannya membentuk makna
Maka yang aku yakini penuh arti

Goresan tebal bernama amarah
goresan tak berbentuk itu lelah
goresan halus berupa kelembutan
itu semua dibingkai dalam umur yang berbatas

Wednesday, June 7, 2017

Cahaya Litera

Di sudut negeri sana
ada orang-orang yang berjuang
raut lelah di wajahnya
takkan membuat menyerah

Di sudut negeri sana
mereka dihujat sebagai orang tak punya kerja
perbuatan yang dilakukan mereka percuma

Di sudut negeri sana
cahaya litera terus dijaga
agar tak padam nantinya

Tuesday, June 6, 2017

Jurus Seorang Guru

Pendidikan adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Mustahil tanpa peran pendidikan suatu bangsa dapat melesat maju. Saya percaya Indonesia sedang melangkah ke arah sana sekalipun tertatih.

Jika berbicara pendidikan tak lepas dari peran guru. Pada pemaparan di atas pendidikan laksana ujung tombak kemajuan bangsa, dengan itu guru ialah seorang ksatria yang mengarahkan tombak agar tepat sasaran. Andai tombak bernama pendidikan salah sasaran maka hanya menghasilkan siswa yang cerdas tanpa karakter. Kecerdasan yang dipakai untuk menipu, kecerdasan yang digunakan untuk menindas. Tentu hal itu tidak pernah diharapkan.

Guru harus berlatih memainkan tombak sehingga mampu menguasai beberapa jurus mengajar bernama pendekatan, strategi, metode,teknik, dan taktik pembelajaran. Ketika seorang guru sudah menguasai dan menerapkan semua jurus itu dalam proses pembelajaran, menghasilkan siswa yang cerdas dalam segala aspek bukan sekadar impian.

Yuk kita bahas jurus-jurus seorang guru.
Pertama pendekatan, pendekatan di sini tidak bersinonim dengan pendekatan yang sering dilakukan anak muda ke lawan jenisnya. Pendekatan pembelajaran adalah titik tolak pembelajaran yang melatari suatu metode. Secara garis besar pendekatan ada dua yaitu terpusat pada guru dan terpusat pada siswa, tidak ada yang terpusat pada mantan karena itu akan berefek pada kegalauan #eh.

Di era kekinian pembelajaran menekankan terpusat pada siswa atau bahasa kerennya student centered approach. Mengapa demikian ? karena hakikat pembelajaran di era kekinian adalah menumbuhkan potensi siswa bukan mencekoki siswa dengan potongan informasi.

Pada dasarnya pendekatan pembelajaran beragam jenisnya, ada yang tipe sport, matic, dan bebek (eh salah itu jenis motor). Pendekatan yang paling ngehits ada tiga yaitu kontekstual, konstrutivisme, dan yang paling baru pendekatan saintifik.

Pendekatan kontekstual ialah konsep belajar yang mengaitkan materi dengan dunia nyata. Misalkan penerapkan teks negosiasi dalam belanja daging ayam sehingga didapat harga yang paling murah. Biasanya ibu-ibu ahli menerapkan hal ini.
Alur pembelajaran konstekstual diawali dari mengaitkan, mengalami, menerapkan, kerjasama dan mentransfer.

Pendekatan Konstrutivisme merupakan pendekatan lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.

Pendekatan Saintifik ialah ruh dari kurikulum 2013 yang menghendaki siswa untuk berpesan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memeroleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.

Selain jurus pendekatan ada juga strategi, metode, teknik, dan taktik. Menurut Prof Wina, strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Lain hal dengan metode yang lebih bersifat pengaplikasian strategi dalam bentuk nyata. Metode pembelajaran sebenarnya ada banyak namun disayangkan kebanyakan guru menerapkan metode cermah. Sama hal dengan kita yang dipaksakan makan daging tiap hari meskipun enak pada titik tertentu akan bosan. Diskusi, demonstrasi, problem solving adalah metode lain yang bisa dijadikan pilihan.

Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik, misalkan teknik menggunakan metode diksusi dengan jumlah siswa yang relatif banyak. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. 

Jurus-jurus tersebut perlu dipelajari seorang guru sehingga mampu membentuk siswa yang tak hanya cerdas tetapi memiliki karakter tangguh, tangguh dan tak mudah berkeluh-kesah di media sosial. Eh menyindir diri sendiri.

Adzan terakhir

Ajakan untuk sembahyang berkumandang
Adzan yang tak biasa karena dibubuhi kata yang bermakna salat lebih baik dari pada tidur

10 menit berlalu hanya ada kakek tua sekaligus muadzin

30 menit berlalu keadaan masih sama

Satu jam berlalu tak ada orang yang datang.

Sang kakek nampak sendu di akhir napasnya.

Sajak Kematian

Gelap
pekat
malaikat

Terbaring
sendiri dengan sepi
Teman sejati hanya kain kafan
serta amalan semasa hidup di dunia

Monday, June 5, 2017

Belajar Dari Pendahulu

Kehidupan manusia tak pernah lepas dari pengaruh sastra, dari sastra berdasi hingga sastra jalanan (dalam arti sebenarnya) yang dipelopori para pengemudi. Sering kita temui truk-truk dengan kata-kata nyentrik yang menarik untuk dibaca misalnya

"Pulang malu nggak pulang rindu"

"Putus cinta sudah biasa, putus rem mati kita"

"Beratnya rindu tak seberat muatanku"

"Cinta bersemi saat dompetku berisi"

Berdasarkan etimologis sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti teks yang mengandung intruksi, jadi ketika ibumu menyuruh ngutang ke warung harus dituruti karena itu adalah sebuah sastra lisan, eh ini sesat jangan dibawa serius.

Bidang kajian sastra secara garis besar terbagi atas tiga yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra.

Teori sastra adalah suatu sistem ilmu atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum untuk suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Nggak ngertikan ? sama, tapi pada hakikatnya teori sastra bukan hanya dimengerti karena yang mengerti terkadang mengkhianati (Lirik pejabat yang korupsi)

Secara hierarki pembelajaran sastra sebenarnya kritik sastra terletak di akhir pembelajaran, tapi karena saya orangnya nggak tegaan maka kritik sastra ditempatkan pada posisi kedua agar ia tidak merasa terdzalimi.
Menurut Om Wellek, Kritik sastra adalah studi karya sastra yang konkret dengan penekanan pada penilaiannya. Kritikus sastra seyogyanya harus menguasai teori dan sejarah sastra secara menyeluruh sebagai landasan dalam melalukan kritik. Jangan sampai seperti zaman sekarang banyak yang mengkritik tanpa tahu duduk permasalahannya #Ups

Sukarno pernah berkata "Jasmerah" yang berarti jangan lupakan mantan, eh sejarah maksudnya. Duh mantan dan sejarah memiliki keterkaitan jadi sering tertukar.
Sejarah sastra adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra. Sebenarnya pondasi sastra sudah sejak lama ada. Pada abad ketiga sebelum masehi, Aristoteles menulis buku berjudul "Poetica" yang memuat tentang teori drama tragedi. Aristoteles yang lahir di era sebelum masehi sudah menulis buku, eh saya masih menulis status facebook.

Sejarah sastra di Indonesia sebenarnya dimulai sejak zaman kerajaan seperti yang ditemukan di beberapa prasasti, tetapi periodisasi sastra di Indonesia dipelopori Balai pustaka (1920) dengan ciri khas syair dan pantun yang kaya akan makna kehidupan, tokoh balai pustaka salah satunya adalah Abdul Muis.

Angkatan Pujangga Baru (1933)
Sebelum memaparkan ini jadi inget lagu dangdut "Aduhai begitulah kata para pujangga".
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut. Tokoh Pujangga baru ialah Armijn Pane, Amir Hamzah.

Angkatan 45 identik dengan Chairil Anwar. Berbeda dengan angkatan baru yang memiliki gaya romantis-idealis, angkatan 45 bernafaskan perjuangan. Seperti yang kita ketahui bersama tahun 1945 masa paling gencar memperjuangkan si dia, eh kemerdekaan maksudnya.

Angkatan 1950, Pada masa ini jumlah buku yang terbit sedikit. Saat itu aktivitas sastra didominasi media cetak seperti majalah dan koran. Berdasarkan faktor tersebut karya sastra pendek seperti cerpen dan puisi. H.B. Jassin menjadi tokoh sentral angkatan 50 berkat pendiri majalah sastra kisah

Angkatan 1960-1970, pada angkatan ini sastra mulai membawa nuansa politik ditandai dua lembaga kebudayaan yang saling bersebrangan antara Lekra dan Manikebu. Meskipun begitu pada angkatan ini lahir sastrawan hebat seperti Pramoedya Ananta dan Taufik Ismail.

Angkatan 1980-1990, pada angkatan ditandai dengan kemunculan kaum Hawa sebagai pahlawan pena seperti Marga T, NH Dini, Pipiet Senja. Sastrawan Adam sekaliber Seno Gumira, Hilman (Lupus) pun muncul pada angkatan ini.

Angkatan reformasi, pada masa ini gaya sosalis reformasi amat laku ditandai dengan tokoh Widji Thukul, Soe Hok Gie.

Angkatan 2000, pada masa ini sastra mulai menjadi industri yang menghasilkan pundi-pundi rupiah luarbiasa. Ditandai dengan kemunculan "Laskar Pelangi," dan "Negeri lima menara" yang laris di pasaran.

Cyber Sastra, angkatan ini adalah angkatan kekinian yang bisa menulis di mana saja. Blog, Facebook, Kompasiana bahkan tembok WC bisa dijadikan media untuk menulis, eh tapi tembok WC bukan termasuk cyber sastra karena kebiasaan itu sudah ada sejak dahulu kala. Pada angkatan cyber sastra muncul penulis-penulis facebook. Pada angkatan ini ada beberapa penulis yang menghasilkan karya melalui cara copy paste. Contoh nyata yang wara-wiri di TV beberapa waktu yang lalu. Duh jadi ngomongin orang.

Teori, sejarah, dan kritik sastra memberikan pelajaran langsung dari pendahulu bagi masa sekarang. Dengannya kita belajar bahwa sastra adalah ciri peradaban, dan menulis adalah ujung tintanya untuk melukisnya

Saturday, June 3, 2017

PDKT Dengan Linguistik

Ada sebuah peribahasa yang mengatakan

"Cara seseorang berbicara mencerminkan siapa dia.
Tidak mungkin seorang perampok menggunakan bahasa yang halus ketika melancarkan aksinya, eh ada deh perampok uang rakyat #Upsss

Saking pentingnya bahasa bahkan ada ilmu yang menjadikan bahasa sebagai bidang kajiannya, linguistik namanya. Tetiba ada yang bertanya

"Lang apa itu linguistik ? sama nggak dengan gincu di bibir kaum Hawa?"

Tentu sama, lipstik dan linguistik sama-sama menarik untuk dipelajari kaum Adam.
Seorang pria yang paham dengan ilmu berbahasa biasanya lebih mudah meluluhkan hati kaum Hawa, apalagi jika dia rajin beribadah dan punya rumah serta mobil mewah. Dijamin calon mertua kesulitan menolaknya.

Om Ferdinan Dee Sanssure adalah tokoh paling ngehits dalam ilmu linguistik modern. Om Ferdinan ialah seorang linguis (sebutan untuk pakar linguistik) asal negeri pizza, tahu kan negeri pizza itu negara mana ?
Yap betul Zimbabwe, eh Prancis deh. Om Ferdinan menulis buku yang hingga saat ini menjadi referensi wajib untuk mempelajari linguistik, Cours de linguistique generale nama bukunya. Kebayangkan isinya seperti apa ? baca judulnya aja susah.

"Lang arti Cours de linguistique generale apa sih rumit banget ?"

Kurang lebih artinya "Buanglah sampah pada tempatnya" Bagi yang tidak percaya silakan buka google terjemahan bahasa Prancis. Saya juga ngasal menerjemahkannya.
Dalam buku itu Om Ferdinan menggunakan beberapa bahasa gaul ala Linguis di antaranya :

1) Language adalah satu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan.

2) Langue adalah mengacu pada suatu sistem bahasa tertentu yang ada dalam benak seseorang.

3) Parole adalah ujaran yang di ucapkan atau di dengar oleh kita.

Dari ketiga bahasa gaul ala Linguis itu saya menyimpulkan bahwa janji manis mantan termasuk Parole.

Layaknya martabak yang banyak jenisnya dari martabak keju hingga martabak spesial pakai telur, linguistik pun terbagi atas beberapa jenis. Dilihat dari telaahnya linguistik dibagi dua yaitu :

1. Linguistik Mikro adalah struktur internal bahasa itu sendiri, mencakup struktur fonologi, morpologi, dan sintaksis (Kita bahas nanti ini asyik deh)

2. Linguistik Makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolilinguistik dan dialektologi ( Ini juga asyik)

Nah ternyata belajar bahasa itu asyik. Dengan belajar bahasa kita bisa tahu isi hati si dia. Eh luruskan niat belajarnya.