Monday, January 30, 2017

Teteh Gemes

Tulisan ini adalah jawaban dari tantangan yang diberikan Teh Dew (Panggilan spesial untuk Dewi DeAn). Teh Dew ialah salah satu anggota dari power rangers tepatnya dia berperan sebagai rangers kuning. Dia bertugas membasmi kejahatan, membela kebenaran persis Wiro Sableng, duh jadi gagal fokus. Okey, kita kembali ke jalan yang benar.

Dewi DeAn alias Awie alias Teh Dew alias Dewi Mariyani alias Dewi Mari Pulang (Kode agar cepat balik ke tanah air) binti Abah, telah aku anggap sebagai kakak sendiri. Kenapa Teh Dew kuanggap kakak ? ada alasan tersembunyi sebenarnya. Alasan ini aku ungkap untuk pertama kali di blog, sebelumnya belum pernah diungkap di media manapun, baik itu layar kaca maupun grup WhatsApp ODOP.

Sebenarnya aku sering chat-chat secara pribadi dengan Teh Dew, banyak hal yang dibicarakan dari tulisan hingga percintaan. Tepatnya sih aku sering curhat. Mengenai percurhatan jangan dibahas di sini, soalnya ini private banget hahaha. Intinya Teh Dew itu enak di ajak ngobrol sekalipun aku belum pernah melihat wujud nyatanya, tapi aku percaya Teh Dew bukan makhluk astral sama seperti yang Kak Kifa yakini ditulisannya.

Selain enak diajak ngobrol, Teh Dew juga enak diajak makan. Iya bener, enak diajak makan karena dia ahli memasak. Jadi kita tinggal duduk manis lalu bimsalabim makanan pun jadi. Aku curiga dia belajar masak dari Chef Juna karena nggak mungkin dari Pak Tarno. Pokoknya Teh Dew memenuhi syarat-syarat yang buat suami betah di rumah.

Ada beberapa hal yang kukagumi dari Teh Dew. Pertama, jaringan yang dia miliki luas. Bukan jaringan internet tapi jejaring pertemanan. Grup apapun dia ikuti dari parenting hingga teknik makan beling (Ini ngasal cuma ngejar rima). Setiap berbicara apapun dengannya pasti nyambung, entah punya berapa kabel di otaknya. Kedua, Dia itu menguasai beberapa bahasa. Aku heran, Orang Medan tapi menguasai bahasa Jawa, Sunda padahal aku sendiri yang orang Sunda tulen tidak tahu satu katapun selain "Horas" dalam bahasa Medan, Selain itu dia juga ahli dalam bahasa cinta, #Eaaaa. Ketiga, dia itu seperti Avatar, doyan banget travelling. Kalau Avatar menjelajah dunia untuk menguasai beberapa elemen tapi dia menjelajah entah untuk apa ? mungkin untuk cari ilmu atau bahkan cari jodoh #Ups.

Ada beberapa hal yang harus segera disampaikan kepada Teh Dew. Pertama, jangan dibanyakin begadang, lebih baik banyakin uang aja untuk teraktir aku. Kedua, segera pulang, jangan main jauh-jauh mulu dih, Abah udah kangen mantu hahaha. Ketiga, tetap menulis walau kesibukan mendera (Ini amanat untuk aku juga). Terakhir Teteh gemes, jangan lupa foto yang aku pesan di KL. Hahaha. Udah ah cape ngetik.

Kepingan Rasa Puzzle 11

Puzzle sebelumnya baca di sini

Lampu kamarku masih menyala. Aku tidak sedang belajar, bukan juga sedang mengerjakan sesuatu hal. Yang aku lakukan hanya melamun, melamunkan dia yang akan kutemui esok. Sebenarnya belum tahu apa yang mesti dilakukan ketika bertemu dengannya. Misi rahasia itupun hanya sekadar kedok untuk bertemu gadis itu.

Di saat sibuk melamun, suara-suara aneh kudengar dari dapur, seperti orang yang sedang memasak. Pikiranku langsung saja tertuju pada makhluk halus, seperti yang mamah bahas tadi.

"Masa makhluk halus doyan masak, kalau benar-benar dia masak, kira-kira masak apa ?" Aku berbicara sendiri, ingin berbicara berdua tapi rasanya sudah tidur semua.

Masih penasaran dengan suara aneh yang berasal dari dapur. seperti presenter-presenter acara horor aku beranikan diri mendekati sumber suara. Perlahan kubuka pintu dapur, aku terkejut melihat sesuatu tak terduga. Nasi goreng ekstra telur tampil menawan di piring. Tanpa diperintah dalam tempo sesingkat-singkatnya piring itu kembali ke bentuk semula, bersih tanpa nasi sedikitpun.

Perutku membuncit pertanda kenyang. Rasanya pas sekali untuk tidur. Aku kembali ke kamar sembari memikirkan rencana besok. Tergagas dengan nasi goreng yang tadi. Aku akan bawa Cili ke tempat nasi goreng ekstra pedas ala Ceu Oyom. Di sana nasi gorengnya enak banget, rasanya luarbiasa dan lagi ekstra pedasnya membuat ketagihan.

"Whaaaaaa,"

"Suara apa itu," seruku dalam hati.

Mamah, Bapak dan adikku pun keluar kamar. Mereka juga sama terbangun karena suara itu. Aku rasa suara itu berasal dari dapur. Kami sekeluarga menuju dapur, di sana melihat adik pertamaku, Dika sedang kebingungan.

"Kunaon Dik, " Bapak bertanya kenapa alasan Dika berteriak sekencang itu.

"Ieu Pak sangu goreng jol-jol leungit," Ternyata penyebab Dika berteriak karena nasi goreng yang dia buat tiba-tiba menghilang.

Aku tertawa dalam hati. Nasi gorengnya sudah dihabiskan tadi.

"Mah, sangu gorengna dituang ku jurig," Dika merajuk ke mamah bahwa nasi gorengnya sudah dimakan hantu.

"Sudah-sudah paling kamu ngigo, masak nasi gorengnya dalam mimpi kali. Sekarang kita tidur lagi besok sekolah," Ayah berkata tegas.

Dika masih dengan muka murungnya meninggalkan kamar. Aku ingin sekali tertawa sekencang-kencangnya tapi takut ketahuan bahwa aku pelakunya. Akhirnya semua keluarga pun termasuk Dika kembali ke kamarnya masing-masing. Aku juga kembali ke kamar kemudian terlelap sembari memikirkan gadis itu.

Tak terasa matahari sudah menunjukan sinarnya. Seolah dia berkata

"Ayo Lang bangun, hari inikan mau ketemu seseorang yang spesial."

Aku bergegas bangun lalu mandi dengan kecepatan cahaya kemudian memakai seragam dan parfum. Malu, jika bau busuk tercium olehnya. Sempat aku lihat wajah heran mamah dengan prilaku anaknya yang begitu semangat berangkat sekolah. Tidak seperti hari-hari biasanya yang perlu suara petir untuk menyuruhku bangun. Demi dia aku telah berhasil melawan gravitasi kasur.

Pukul 6 kurang sudah berada di samping gerbang sekolah.

"Ini Gilang ? " Pak satpam menyapa dengan heran.

"Bukan Pak, aku Nicholas Saputra." Wajahku tersenyum penuh arti.

"Nicholas Saputra kok item ?" Pak Satpam tertawa puas setelah meledekku.

"Kamu tumben datang pagi gini ?"

"Ada misi rahasia Pak."

"Misi apa ? misi yang tak boleh Pak Satpam tahu."

Aku memalingkan wajah dari Pak Satpam, kesal saja dia sudah menghinaku item. Memang sih item tapi jangan jujur banget begitu. Di lain arah seseorang yang telah aku tunggu tiba. Aku berlari menjemputnya.

"Assalamu'alaikum Gilang," Suara merdua menyapaku dengan lembut.

"Walaikumsalam Cili," Aku mencoba memasang wajah seimut mungkin.

"Misi rahasianya apa Lang ?"

"Sini ikut aku saja."

Aku mengajaknya ke warung Ceu Oyom. Awalnya dia tidak mau karena misi yang dilakukan ini berada di luar kelas. Dia sangat takut sekali jika nantinya telat masuk kelas. Dengan berbagai usaha aku yakinkan dia.

Warung Ceu Oyom cukup sederhana tapi masakan seperti hotel bintang lima apalagi nasi goreng ekstra pedasnya.

"Jang Gilang itu saha ? Ceu Oyom bertanya orang yang berada di sebelahku.

"Kabogoh, Ceu," Aku mengaku bahwa Cili adalah pacarku.

"Aduh hebat meni geulis pisan," Ceu Oyom memuji Cili yang katanya cantik sekali.

"Muhun Ceu, Eh nasi goreng dua cing lada." Aku memesan dua nasi goreng ekstra pedas."

Cili keheranan dengan bahasa Sunda yang aku dan Ceu Oyom ucapkan.

"Kok kamu ajak aku ke sini Lang, mana misi rahasianya ?"

"Misi rahasianya ini makan nasi goreng, aku sebagai ketua kelas harus memastikan semua siswa di kelas kita sarapan dulu jadi aku ajak kamu kesini."

"Tapi aku udah sarapan Lang,"

"Sarapan aja lagi, ini enak loh."

Cili memakan nasi goreng yang telah disajikan Ceu Oyom. Awalnya dia merasa kepedasan tapi aku meyakinkan bahwa semakin lam semakin tidak pedas. Ternyata beda hal dengan yang Cili rasakan. Wajahnya semakin memerah setelah memakan beberapa suap. Dia memegang perut lalu mengeluh sakit. Aku mengantarkannya ke toilet, beberapa menit kemudian perutnya kembali sakit. Aku panik.

"Kumaha ieu Ceu," Aku bertanya apa yang harus dilakukan.

"Pasihan teh manis," Ceu Oyom menyarankan untuk memberikan teh manis.

Setelah sakitnya berangsur reda, dia tampak lungai sembari bersandar ke pundakku.

"Lang, Eceu ke belakang dulu," Ceu Oyom pergi ke belakang.

Aku menatap wajah Cili yang tampaknya masih sayu.

Beberapa menit kemudian derap langkah menghampiri warung Ceu Oyom.

"Gilang, bukannya masuk sekolah malah pacaran di sini." Seru seseorang yang ternyata paling aku takuti.

Saturday, January 28, 2017

Bu, Jangan Ajari Aku Membunuh

Ketika aku lahir ke dunia disambut dengan penuh kelembutan orangtua. Dia mengajarkan banyak hal, termasuk seni bertahan hidup. Di tempatku lahir hanya ada dua pilihan membunuh dan dibunuh. Terkadang berpikir bahwa aku salah tempat lahir.

Para pembunuh berkeliaran mengincar siapa saja yang lemah. Tadi pagi, aku baru melihat ibuku sendiri berjibaku melindungiku. Dia melakukan apa saja untuk bertahan hidup sekalipun harus membunuh.

"Nak, di tempat ini tak ada pilihan yang menyenangkan. Kamu hanya dihadapkan pada dua pilihan, membunuh atau dibunuh," Sembari mengelus kepalaku.

"Tapi Bu," aku tak mau membunuh.

"Jangan ada tapi, keraguan hanya mengantarkanmu pada kematian." Ibuku berkata tegas.

Suara gerombolan pembunuh terdengar dari luar. Ibuku berlari sembari mengucapkan kata.

"Nak, kali ini ibu akan ajarkanmu cara membunuh."

Dia berlari secepat kilat, menghantam gerombolan pembunuh itu tampa ampun. Sekali langkah, satu pembunuh tewas. 20 menit berlalu 7 pembunuh itu sudah meregang nyawa. Ibuku nampak berdarah diberbagai tubuhnya. Terlihat sekali gurat lelah hadir di wajahnya.

Tapi pertarungan belum selesai, komplotan pembunuh lainnya berdatangan dalam jumlah lebih banyak. Dia menerjang ibuku namun dengan sigap ibuku menghindar dan berbalik menyerang. Tapi sayang dia sudah dibatas lelah. Dua pembunuh masih bertahan menikam tubuh ibuku yang kelelahan. Ibuku meregang nyawa.

Aku memberanikam diri menghampiri mereka, meniru berbagai teknik ibuku. Emosi yang mengakar melipatgandakan kekuatan. Hanya perlu lima menit untuk menghabisi pembunuh ibuku. Di samping jasadnya, aku berkata.

"Bu, aku sudah jadi pembunuh di Padang Savana."

Negeri Tanda Tanya

Di negeri tanda tanya, orang sibuk bertanya

Kenapa mereka yang berkata
"Katakan tidak pada korupsi," akhirnya di bui

Di negeri tanda tanya, orang sibuk bertanya

"Kenapa mantan menteri agama, tersangkut korupsi dana haji. Bukankah dia tahu mencuri itu dosa ?"

Di negeri tanda tanya, orang sibuk bertanya

"Kenapa hakim yang harusnya menegakkan keadilan malah diadili ?"

Di negeri tanda tanya, aku menyimpulkan tanya

"Apakah itu Indonesia ?"

Wednesday, January 25, 2017

Terisak

"Cinta," Seru seseorang yang sedang berbicara sendiri, sembari memandang langit.

"Cinta, kau hanya terdiri dari lima huruf tapi punya peran besar bagi manusia," Kali ini dia memegang perutnya yang membuncit.

"Akupun lahir karena cinta kedua orangtua, mereka berbagi rasa hingga lahirlah aku," Dia menunduk.

"Tapi aku harus tumpas habis cinta darinya,"
Perlahan dia menitik airmata.

Dia terlihat berjalan sendirian meski sebenarnya berdua dengan anak di dalam kandungannya. Calon ibu itu terus melangkah hingga tiba di sebuah gubuk tua.

Seorang nenek yang seakan sudah tahu kedatangnya menyambutnya diluar.

"Neng geulis yakin ? "

"Yakin, Mak," Sekalipun dia berkata yakin namun goresan keraguan nampak sekali di wajahnya.

Sudah 30 menit berlalu, jeritannya mengalahkan suara-suara makhluk lain. Seolah di setiap tarikan nafasnya adalah sebuah kesakitan luarbiasa.

Baginya kesakitan itu hanya noktah kecil dibanding harga dirinya yang telah hancur. Dia selalu mengingat malam itu, di mana seorang lelaki memaksakan cinta berlumur nafsunya.

Sejak itu dia tak percaya lagi dengan cinta, bahkan ingin menumpaskan setiap cinta, termasuk buah cinta dalam kandungannya.

Sayang, dia keliru. Tuhan menjaga buah cintanya. Dia hanya mampu terisak di alam yang berbeda, melihat bayinya lahir ke dunia.

Saturday, January 21, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 9

Puzzle sebelumnya di sini

"Gilang, kenapa sih dari tadi kamu senyum-senyum sendiri ? " Mamah memasang wajah curiga.

"Biarin atuh Mah, senyum itu nggak dilarang undang-undang juga."

"Emang sih nggak dilarang tapi mamah takut kamu kerasukan roh halus."

"Eh kok roh halus ? " Aku kebingungan dengan perkataan mamah.

"Gini loh Lang, kemarin mamah nonton film horor. Ada seorang anak yang ketawa-ketawa sendiri, udah itu dia berubah jadi harimau. Katanya dia kerasukan roh harimau." Mamah tiba-tiba memasang wajah penuh kengerian.

"Aku nggak mau berubah jadi harimau Mah, terlalu mainstream. Mau jadi power rangers aja," Diiringi tawa kecil.

"Kamu jangan main-main Lang, mamah serius. Jangan ketawa-ketawa sendirian nanti dirasukin roh halus," nampaknya mamah mulai terkontaminasi film-film horor Indonesia.

"Iya deh Mah, aku nggak ketawa sendirian. Nanti cari temen agar ketawa bareng-bareng," Akupun kabur ke kamar, meninggalkan mamah yang cemberut.

Sejak pulang sekolah, pikiranku melayang pada anak baru itu. Senyumnya manis sekali seperti gulali. Dengan menatapnya saja setiap hari, mungkin aku bisa terserang penyakit diabetes. Siapa sih orangtuamu ? ahli sekali menciptakan anak yang manisnya keterlaluan.

Mamah memang benar, tertawa sendiri memberikan peluang untuk dirasuki makhluk halus. Aku contoh nyatanya, diri ini dirasuki kamu yang secara fisik tak ada dihadapanku, tapi bayanganmu begitu mahir menari-nari di kepala.

Ada sesuatu yang terlupa. Aku sudah memiliki peluang untuk dekat dengannya. Setidaknya tadi sempat menuliskan nomor Hape siswi manis itu. Tinggal pura-pura menghubungi membahas sesuatu hal. Dengan tangan gemetar kucoba menghubungi nomornya.

Aku lembutkan suara agar dia tak ketakutan ketika mengangkat telepon.

"Tuuuut, tuuuut, tuuut," Itu bukan bunyi kereta api tapi sambungan telepon yang belum diangkat.

"Hai, aku Gilang,"

"Halo, Mas Gilang. Mau pesan apa ? " Aku kaget ternyata gadis baru itu nyambi jadi custumer service.

"Ini Cili ? " Aku masih ragu.

"Oh, jadi pesanan Mas Gilang pakai ekstra cili. tapi pesan daging paha atau dada ? "

"Pesan paha aja dua," eh kok dia jadi pedagang ayam gini.

Aku cek kembali nomor yang dihubungi, ah ternyata salah pencet. Kali ini aku pastikan nomornya benar.

"Ini bukan pedagang ayam goreng ?" Aku tak mau keliru lagi.

"Pedagang ayam goreng ?" Suara seorang gadis yang sedang kaget karena difitnah sebagai pedagang ayam goreng.

"Lalu ini siapa ?"

"Aku Ciani limaran, ada perlu apa ?" Suaranya masih menunjukan rasa heran

"Aku Gilang, ketua kelas XI IPA 3," Yes, kali ini benar yang aku telepon gadis itu.

"Eh Gilang, kok tadi nanyain ayam goreng ?" Dia masih nampak kebingungan denganku yang tiba-tiba menghubunginya.

"Oh itu jangan dibahas. Aku langsung saja keintinya. Sebagai ketua kelas aku punya misi rahasia untukmu sebagai murid baru," Aku berkata dengan intonasi serius

"Misi apa ? kok sekolah ini aga aneh yah pakai misi rahasia segala."

"Karena kamu sudah mengangkat telepon, tak ada kesempatan menolak misi rahasia ini. Intinya besok kita harus ketemu pukul 6 pagi sebelum bel masuk sekolah. Aku tunggu di gerbang.

"Aku belum bilang iya,"

Aku matikan teleponnya supaya lebih dramatis ala film agen-agen rahasia. Tak sabar untuk menunggu esok hari. Baru kali ini merasakan semangat sekolah. Mungkin karena cinta monyet ini, eh tapi aku bukan monyet.

Aku Ingin Indonesia

Jika kita mempunyai mesin penjelajah waktu lalu kembali ke masa lima tahun lalu. Dunia maya masih dipenuhi euforia, kesenangan untuk selalu menengoknya.
Facebook menjadi tempat paling asyik untuk menemukan teman lama yang sudah bertahun-tahun tak bersua, bisa juga mencari teman baru untuk berbagi hal seru. Tak jarang ada yang menemukan pendamping hidup di dunia maya tersebut.

Sekarang facebook berubah wujud menjadi sarana memecah belah bangsa. Ujaran-ujaran kebencian kian marak. Pecahlah Indonesia menjadi dua bagian, pro pemerintah dan mereka yang sudah jengah. Saling hujat di kolom komentar seolah sudah menjadi budaya. Teman lama yang berbeda pendapat bisa jadi musuh seketika, orang-orang yang tidak dikenal sekalipun sibuk beradu mulut untuk sesuatu yang tak perlu.

Generasi muda seolah disajikan drama, kelompok A memuja pemerintah setengah gila, kelompok B mencari celah kesalahan pemimpin negara. Negara asing tertawa sembari berkata "Begitu mudahnya memecah belah Indonesia," persis seperti zaman Belanda dengan politik adu domba.

Bhinneka Tunggal Ika sekarang sekadar mimpi belaka, tenggelam dalam khayal orang-orang yang sibuk berdebat siapa yang benar. Seyogyanya bergandengan tangan bukan saling melancarkan pukulan kepada saudara satu susuan. Aku ingin menceritakan Indonesia yang digdaya kepada anak cucu kita.

Thursday, January 19, 2017

Mendaki Bersama

Burung-burung bernyanyi lagu sendu
mereka rindu terhadap senyumu
tak berbeda jauh dengan diriku
merindu lengkung bibirmu

Kita pernah mendaki bersama
menapaki setiap tangga
kau sempat berkata lelah
tak kuat lagi melangkah

Aku punya jurus ajaib
untuk membuatmu kembali berlari
menyiapkan tangan seperti kepiting
arahkan ke pipimu, sedetik berlalu kau mengejarku

Kini aku mendaki sendiri
berniat menemuimu di puncak tertinggi
membawa setangkai bunga yang kau suka
sembari memanjatkan doa
semoga kau bahagia dia alam sana

Monday, January 16, 2017

Teruntuk Sahabatku Yang Bertemu Tuhan Lebih Dahulu


Tahukah engkau kawan, sekarang banyak yang berduka di saat engkau tiada. Aku adalah salah satunya.

Engkau, sahabat yang pertama kali kukenal di kampus. Saat itu kau bercerita ingin jadi sarjana pertama di keluargamu, ingin membuat orangtuamu menangis bahagia ketika kau memakai toga.

Perkataan itu kau wujudkan dengan tindakan, dipenghujung kuliah semangatmu mengejar gelar sarjana semakin membara. Sekalipun tak mudah mengwujudkannya. Engkau figur mandiri, membiayai kuliah dari keringatmu sendiri.


Aku masih ingat ketika kau bercucuran keringkat, masuk kelas telat karena harus bekerja. Kau meminta maaf diselingi raut bersalah kepada dosen saat itu.

Aku tahu engkau lelah, beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan. Biarkan aku yang menuntaskan mimpimu.

Teruntuk sahabatku yang bertemu Tuhan lebih dahulu. Di sudut terjauh Bandung aku rindu kau, Abdull Azis

Sunday, January 15, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 7

Puzzle 6

Sebenarnya sedang meragu dengan sesuatu yang ingin aku lakukan hari ini, tetapi sebagai lelaki sejati pantang bimbang dengan rencanya sendiri. Kali ini akan memberi salam perkenalan kepada gadis baru itu. Dia harus tahu aku lelaki keren yang bisa lakukan hal-hal diluar kebiasaan.

Bel istirahat telah berbunyi. Anak-anak lain bergegas mengisi perut mereka dengan segala macam jenis makanan. Aku melakukan hal berbeda, masih di bangku sambil menatap anak baru itu. Dia tetap duduk di tempatnya seolah tak berniat untuk latah mengisi perutnya. Di kelas ini tinggal aku berdua dengannya. Pertama kali merasakan gugup untuk mengawali kejahilan, ah aku tak boleh lemah.

Dengan kekuatan tak kenal malu, aku mendekati anak baru itu.

" Hai Cili, "

Dia masih diam saja sembari memasang wajah acuhnya.

" Hai Cili, kamu bisa lihat aku kan ? "

Dia tetap saja acuh seolah tak melihat apapun.

"Jangan-jangan aku udah jadi hantu, masa dia nggak bisa lihat."

"Aku bisa lihat kamu kok."

"Syukur deh, aku nggak jadi hantu beneran. eh kenapa sih kamu diam terus tadi ? "

"Aku lagi males bicara sama kamu ? " Menampilkan raut wajah juteknya.

"Eh, jangan males loh nggak baik. Sebagai pelajar jauhi rasa malas. Nanti bagaimana nasib bangsa Indonesia jika pelajarnya malas terus seperti kamu. "

"Kamu ini siapa sih ? bicaranya aneh terus."

"Cie mau kenalan. Okey kalau maksa aku kasih tahu. Namaku Gilang, ketua kelas di sini."

"Oh."

"Kok cuma oh sih, harusnya kamu bangga bisa kenalan langsung dengan orang keren seperti aku."

"Cape ah ngomong dengan kamu. Aku makan dulu mau ? "

"Kalau kamu maksa lagi aku sih mau-mau aja."

"Perasaan aku nggak maksa."

"Yaudah sini aku cicipin."

Makanan yang dia bawa sungguh enak. Tingkat enaknya berada pada tingkat yang sama dengan masakan ibuku. Tak terasa niat awalnya mencicipi tapi kenyataannya bekal makan dia habis dilahap olehku. Niat awal ingin menjahili sedikit berkurang karena dia sudah berbaik hati memberikanku makan. Aku juga masih memiliki rasa kemanusiaan, tak mungkin tega berbuat jahil kepada orang yang telah membuat perutku kenyang.

"Bekal makanmu lumayan enak."

"Lumayan kok sampai habis."

"Udah ah jangan bahas masalalu. Sekarang hampir bel masuk. Oh iya, Aku sebagai ketua kelas minta nomor kamu deh. Siapa tahu nanti ada informasi penting mengenai sekolah."

Nomornya HPnya sudah kudapat dengan siasat pura-pura menjadi ketua kelas. Tak apa misi jahilku gagal yang penting perut kenyang, hati senang karena punya nomor HP dia. Ah apakah aku suka ke anak baru itu ?

Saturday, January 14, 2017

Di Balik Doa

Allah maha mengetahui isi hati hambanya. Sedih, bahagia maupun berbagai rasa lainnya sudah bukan rahasia bagi pencipta. Ia tahu berbagai keresahan yang bersarang dihati makhluknya.

Wajar ketika keresahan hadir di dada. Ia ada karena berbagai ketidakpastian di dunia. Pekerjaan yang masih jauh dari kata mapan, sosok si dia yang masih abu-abu saja, belum memberi kepastian kemana muara hubungan.

Allah berbaik hati menyediakan minimal lima waktu untuk kita berkeluh kesah mengenai urusan dunia dan kehidupan setelahnya. Ia maha baik mendengarkan dengan saksama, apa yang dimau hambanya. Di sisi lain sangat bijak mengwujudkan apa yang dibutuh bukan apa yang dimau.

Ketika kita berharap didampingi peri namun setiap sayapnya selalu menusuk hati maka Allah akan mengutus bidadari sebagai penyempurna mimpi. Ketika kita meminta mobil Mercy namun Allah memberikan mobil tua penuh karat, sesungguhnya Ia sedang menjauhkan kita dari sifat sombong.

Allah maha tahu apa yang baik untuk hambanya.

Tuesday, January 10, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 5

Baca bagian sebelumnya Puzzle 4

Semestinya sebagai anak muda, aku harus haus dengan ilmu pengetahuan, namun sayang karena terlalu sering minum es kelapa muda rasa haus itu entah kemana. Berganti dengan ide-ide kejahilan yang selalu gila. Terakhir kali kejahilanku menelan korban jiwa seseorang bernama Arman. Dia selalu tampil gaya dengan style anak muda kekinian. Tidak pernah kelihatan dekil sedikitpun, bila ada kotoran walau hanya sedikit dibajunya. Dia akan teriak seperti orang kerasukan jin penunggu WC, histeris.

Saat itu aku punya rencana jahat. Arman yang baru masuk kelas mulai melakukan kebiasaannya, dia memamerkan handphone barunya.

"Lang, tahu nggak harga HP ini berapa ?"

"Palingan 2 ribu perak dapat 3 biji."

"Enak aja kamu. Harga HP ini sama dengan jatah jajan kamu tiga tahun Lang."

" Ya udah aku jual aja HP kamu untuk jatah aku jajan," Sembari merebut HPnya.

Arman mengejar-ejar dari kantin hingga lapangan basket. Dia tampak beringas sekali seperti macan yang berebut jatah makan. Aku masuk ke kamar mandi perempuan, dia pun mengikuti tanpa ragu. Di sana nampak beberapa siswi sedang ganti baju. Aku berlari lagi keluar namun malang dengan Arman. Dia mendapatkan sentuhan mematikan dipipinya. Tamparan dan cubitan datang silih berganti dari siswi penghuni kamar mandi.

Aku tertawa puas melihat Arman menjadi sasaran kemarahan.

"Nih, Man HP kamu. Ngga jadi aku jual. Jatah uang jajan aku masih banyak," Dia memasang wajah kesal.

Hari ini rasanya sudah tidak tahan untuk berbuat jahil. Semangat jahilku meningkat berlipat-lipat, Apalagi menurut desas-desus akan ada siswa baru di kelasku. Kejahilan sebagai ucapan selamat datang rasanya tidak berlebihan.

Pak Dito, guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelasku memasuki ruangan. Dia bersama seorang gadis. Aku menatapnya cukup lama. Sejujurnya gadis itu manis, jilbab dengan kacamata paduan pas untuk menumbuhkan cinta. Ah, jangan sampai rasa aneh di dada menjadi penghalang niat untuk berbuat jahil padanya.

"Silahkan perkenalkan diri," Perintah Pak Dito kepada gadis itu.

"Izin memperkenalkan diri, Nama saya Ciani Limaran. Pindahan dari Solo. Terimakasih,"
Diakhir senyuman.

Aku dengan tak tahu malu. Mengacungkan tangan.

"Aku mau bertanya dong. Ciani Limaran disingkat Cili yah ? duh pedes banget dong. Lebih pedas dari seblak," Seisi kelas tertawa namun hanya sekejap setelah Pak Dito melirik tajam.

"Ciani, Silahkan duduk di samping Agni."

Rasanya aku sudah tahu kejahilan yang harus kuperbuat.

Tuesday, January 3, 2017

Hanya Pembaca

Kehidupan selalu menghadapkan kita pada persimpangan. Persimpangan bernama pilihan. Menentukan sesuatu selalu berdampingan dengan risiko akan kehilangan sesuatu yang tidak kita pilih. Pilihan tak hanya hadir dalam urusan pekerjaan bahkan dalam cinta selalu terdapat pilihan di dalamnya.

Sama halnya dengan aku. Kali ini dihadapkan kepada pilihan yang menentukan masa depan. Masa depan dengan atau tanpamu. Dari hati terdalam tak pernah bisa berbohong bahwa rasa suka tumbuh begitu cepat, berbuah cinta dengan warna merah merona.

Sempat terbayang memanggilmu bunda dihadapan anak-anak kita nantinya. Engkau tak jemu menampilkan senyuman, saat ku pulang bekerja. Memikirkannya saja sudah bahagia bukan kepalang. Mimpi-mimpi indah itu aku rajut dengan benang-benang perjuangan. Tak jemu menjadikanmu salah satu impian yang harus segera dituntaskan.

Sayang aku bukan pilihan yang engkau tentukan. Hanya sebatas benalu, tumbuh subur dalam kisah cintamu. Aku tak mau menjadi Brutus dalam cerita indah Romeo dan Juliet. Bukan berarti menyerah pada keadaaan, Aku hanya ingin menjadi pembaca dalam kisah indahmu bersama dia.

Monday, January 2, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 3

Bagi yang belum membaca bagian sebelumnya silakan klik ini
Puzzle 1

Puzzle 2 

"Lang, kok kamu sudah pulang lagi ? " mamah nampak kebingungan.

"Iya nih Mah. Sekolahnya lagi nggak asyik. Aku semangat, guru-gurunya malahan rapat."

"Bukanyah kebalik Lang ? Kamu berangkat aja pukul 9. Untung nggak diusir satpam sekolah juga. "

"Cowok ganteng dilarang diusir Mah. Nanti kualat tuh satpam."


"Bicara apa sih kamu Lang ? Pokoknya mamah nggak mau tahu, kamu harus tepat waktu sekolahnya. Kalau nggak nurut nanti mamah kutuk jadi anak katak."

"Tega benar sih Mah. Siap aku usahakan."

"Tiru deh adik kamu, Dika. Pukul 5 sudah ada di sekolah. Dia rajin banget."

"Dia itu mau pergi ke pasar, Mah. Generasi muda harus rajin bermimpi. Salah satu cara terbaik bermimpi dengan tidur."

"Mamah sudah ratusan kali dengar ini. Sudah gih daripada ngoceh terus makan dulu agar diam."

"Siap 86 laksanakan."

"Disuruh makan baru cepat."

Aku hanya bisa menampilkan lekukan pipi sembari mengambil beberapa lauk. Memang benar masakan seorang ibu paling enak sedunia. Tak perlu bayar, tinggal makan sepuasnya.

Hari begitu cepat berlalu. Ia berputar seperti roda motor balap, melesat tak terkira. Aku yang sedang terlelap sudah harus bangun untuk pergi sekolah. Entah kenapa gravitasi kasur begitu besar sehingga aku tak mampu beranjak darinya. Apalagi hari minggu, gravitasi kasur meningkat cukup tajam. Fenomena tersebut harus segera diteliti oleh para ahli karena dampaknya akan berbahaya.

Di tengah bergelut dengan niat untuk bangun, tetiba gelombang air menghantam tubuhku. Jangan-jangan ini tsunami, pikirku dalam hati, tapi tidak mungkin ada tsunami. Aku tinggal di dataran tinggi jauh dari laut.

"Lang bangun," Mamah sudah menenteng ember dengan gayung disertai raut wajah penuh amarah.

Aku bangun kemudian setengah berlari menuju kamar mandi. Tidak mau memperpanjang masalah dengan mamah di pagi hari. Mandi bak kadal di sungai hanya perlu beberapa detik hingga selesai. Mamah sempat heran dengan kecepatan mandiku. Dia mengamati dari ujung kepala hingga kaki.

"Gilang, di rambutmu masih ada sabun. Mandi lagi sana. Sudah SMA kelas 2 masih belum bisa mandi. Mamah heran deh. Mau mamah mandikan ? "

"Jangaaaan Mah, malu."

Nampaknya kini aku sudah siap berangkat ke sekolah. Ini rekor tersendiri bagi diriku. Hari ini rasanya tidak akan telat masuk sekolah.

Sunday, January 1, 2017

Tak Ada Tahun Baru

Langit menampilkan kilau warna-warni
Percikan cahaya yang mereka sebut kembang api
Semua orang bersuka cita merayakan tahun berganti

Di sudut lain dunia
Kilau cahaya adalah tanda kematian
Tak ada senyuman
hanya gores kesedihan

Mereka tak tahu tahun berganti
Mereka tak tahu indahnya kembang api
Yang mereka tahu ialah teriakan
Yang mereka tahu ialah kematian

Di tanah jauh
Tak ada tahun baru